Zakat Fithrah

August 29th 2011 by Abu Muawiah |

29 Ramadhan

Zakat Fithrah

Setelah selesai berpuasa, maka setiap muslim dan muslimah diwajibkan untuk mengeluarkan zakat fithrah. Dan waktu turunnya kewajiban zakat fithrah ini bersamaan dengan puasa yaitu pada tahun II H.

Di antara dalil dari Al-Qur`an yang mewajibkan zakat fithrah adalah firman Allah Ta’ala:
قد أفلح من تزكى وذكر اسم ربه فصلى
“Sungguh telah beruntung orang yang menyucikan dirinya, menyebut nama Rabbnya, lalu mengerjakan shalat.” (QS. Al-A’la: 14-15)
Sebagian ulama salaf menafsirkan ayat di atas dengan: Menyucikan diri adalah dengan mengeluarkan zakat fitrah, menyebut nama Allah adalah bertakbir di hari raya, dan mengerjakan shalat adalah shalat idul fithri. Karenanya Umar bin Abdil Aziz rahimahullah membaca ayat ini seraya memerintahkan kaum muslimin untuk mengeluarkan zakat fithrah mereka.

Adapun dari sunnah, maka Nabi shallallahu alaihi wasallam telah merinci mengenai zakat fithrah ini. Dari ‘Abdullah bin ‘Umar radhiallahu ‘anhuma dia berkata:
فَرَضَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ زَكَاةَ الْفِطْرِ صَاعًا مِنْ تَمْرٍ أَوْ صَاعًا مِنْ شَعِيرٍ عَلَى الْعَبْدِ وَالْحُرِّ وَالذَّكَرِ وَالْأُنْثَى وَالصَّغِيرِ وَالْكَبِيرِ مِنْ الْمُسْلِمِينَ وَأَمَرَ بِهَا أَنْ تُؤَدَّى قَبْلَ خُرُوجِ النَّاسِ إِلَى الصَّلَاةِ
“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam mewajibkan zakat fithri satu sha’ dari kurma atau satu sha’ dari gandum bagi setiap hamba sahaya (budak) maupun yang merdeka, laki-laki maupun perempuan, anak-anak maupun dewasa dari kaum Muslimin. Dan beliau memerintahkan agar dia dikeluarkan sebelum orang-orang berangkat untuk shalat (id).” (HR. Al-Bukhari no. 1407)
Ada beberapa masalah yang terdapat dalam hadits di atas, yaitu:
a.    Hukum zakat fithrah adalah wajib.
Dan hukum wajib ini merupakan ijma’ di kalangan ulama.

b.    Besarnya zakat fitrah.
Disebutkan dalam hadits di atas adalah 1sha’, dimana 1 sha’ itu setara dengan 4 mudd, sementara 1 mudd itu seukuran dua telapak tangan normal dari lelaki dewasa. Dan kebanyakan ulama mengkonversinya menjadi 2.5 kg atau 3 kg di zaman ini. Karenanya hendaklah tidak mengeluarkan zakat yang lebih sedikit dari itu dan dianjurkan untuk mengeluarkannya lebih banyak daripada itu.

c.    Bentuk zakat yang dikeluarkan.
Yaitu bahan makanan pokok yang biasa dimakan di daerah masing-masing. Nabi shallallahu alaihi wasallam menyebutkan korma dan gandum karena itu termasuk makanan pokok di Madinah saat itu.
Karenanya tidak dibenarkan mengeluarkan zakat fitrah dalam bentuk uang karena hal itu bertentangan dengan perintah Nabi shallallahu alaihi wasallam di atas. Allahumma kecuali jika ada alasan dan maslahat yang lebih besar, maka ketika itu diperbolehkan dengan uang. Wallahu a’lam.

d.    Orang yang wajib mengeluarkannya.
Setiap muslim dan muslimah yang mampu, apapun status social mereka dan berapapun usia mereka. Kapan mereka hidup di malam 1 syawal maka mereka wajib mengeluarkannya.
Karenanya orang kafir, janin dalam kandungan, dan muslim yang telah meninggal sebelum malam itu, tidak wajib mengeluarkan atau dikeluarkan zakat fithrah untuknya.
Adapun ukuran mampu, maka para ulama memberikan pembatasan: Jika seseorang mempunyai kelebihan makanan untuk dirinya dan keluarganya untuk malam itu (1 syawal) dan keesokan harinya, dan kelebihannya minimal 1 sha’. Contoh jika seseorang mempunyai kebutuhan makan untuk malam takbiran dan lebaran besoknya sebanyak 3 kg, namun di malam itu dia hanya mempunyai beras sebanyak 4 kg. Maka orang seperti ini dianggap tidak mampu dan tidak wajib membayar zakat fithrah. Namun jika dia mempunyai beras 6 kg maka dia dianggap mampu dan wajib mengeluarkan untuk dirinya. Jika dia mempunyai 9 kg beras, maka yang wajib mengeluarkan adalah dia dan istrinya, dan demikian seterusnya. Semakin banyak kelebihannya maka dia ikutkan anak-anaknya dan orang yang tinggal di rumahnya yang berada dalam tanggungannya.
Dan bagi orang yang tidak mampu, tidak diwajibkan bagi dia untuk berhutang atau menjual barang-barangnya hanya agar dia bisa membayar zakat fithrah.

e.    Waktu pengeluarannya.
Batas akhir pengeluarannya adalah sebelum shalat id didirikan, sebagaimana dalam hadits di atas. Hanya saja waktu dimulainya kewajiban membayar zakat fithrah adalah malam tanggal 1 syawal (malam takbiran). Dan dibolehkan juga membayar 2 hari sebelumnya.
Karenanya para ulama menyebutkan bahwa waktu mengeluarkan zakat fithrah ada 3:
1.    Waktu mubah (boleh): Yaitu 2 hari sebelum ramadhan berakhir. Ini berdasarkan amalan Ibnu Umar radhiallahu anhuma. Nafi’ rahimahullah berkata:
وَكَانَ ابْنُ عُمَرَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا يُعْطِيهَا الَّذِينَ يَقْبَلُونَهَا وَكَانُوا يُعْطُونَ قَبْلَ الْفِطْرِ بِيَوْمٍ أَوْ يَوْمَيْنِ
“Ibnu ‘Umar radhiallahu ‘anhuma memberikannya kepada orang-orang yang berhak menerimanya dan dia mengeluarkan zakatnya itu sehari atau dua hari sebelum hari Raya ‘Idul Fithri.” (Riwayat Al-Bukhari no. 1415)
2.    Waktu wajib: Yaitu malam 1 syawal.
3.    Waktu sunnah (lebih dianjurkan): Setelah shalat subuh tanggal 1 syawal sampai sebelum shalat id.
Karenanya tidak syah zakat fithri yang dikeluarkan setelah shalat id walaupun khutbah masih berlangsung. Kecuali bagi yang mempunyai udzur yang bisa diterima maka insya Allah zakatnya syah.

Hukum-hukum lain seputar zakat fithrah adalah:
f.    Boleh mewakilkan pemberian zakat fitrah kepada seseorang atau lembaga yang terpercaya. Namun tidak diragukan bahwa menyerahkannya secara langsung itu jauh lebih utama dan lebih besar pahalanya.

g.    Boleh memberikan zakat fithrah beberapa orang atau beberapa keluarga kepada satu orang miskin.

h.    Penerima zakat fithrah tidak sama seperti penerima zakat lainnya. Penerima zakat fithrah hanyalah orang miskin berdasarkan hadits Ibnu Abbas radhiallahu anhuma dia berkata
فَرَضَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ زَكَاةَ الْفِطْرِ طُهْرَةً لِلصَّائِمِ مِنْ اللَّغْوِ وَالرَّفَثِ وَطُعْمَةً لِلْمَسَاكِينِ مَنْ أَدَّاهَا قَبْلَ الصَّلَاةِ فَهِيَ زَكَاةٌ مَقْبُولَةٌ وَمَنْ أَدَّاهَا بَعْدَ الصَّلَاةِ فَهِيَ صَدَقَةٌ مِنْ الصَّدَقَاتِ
“Rasulullah shallallahu alaihi wasallam mewajibkan zakat fitrah untuk mensucikan orang yang berpuasa dari bersenda gurau dan kata-kata keji, dan juga untuk memberi makan miskin. Barangsiapa yang menunaikannya sebelum shalat maka zakatnya diterima dan barangsiapa yang menunaikannya setelah shalat maka itu hanya sedekah diantara berbagai sedekah.” (HR. Abu Daud no. 1371 dan Ibnu Majah no. 1817)

Share and Enjoy:
  • Print
  • Digg
  • StumbleUpon
  • del.icio.us
  • Facebook
  • Yahoo! Buzz
  • Twitter
  • Google Bookmarks

This entry was posted on Monday, August 29th, 2011 at 11:30 am and is filed under Fiqh, Quote of the Day. You can follow any responses to this entry through the RSS 2.0 feed. Both comments and pings are currently closed.

7 responses about “Zakat Fithrah”

  1. Ibnu Anwar said:

    Bismillah. Assalamualaikum warohmatulloh.

    Afwan, ada pertanyaan tentang, APAKAH HUKUMNYA TENTANG MEMBAYAR ZAKAT FITRAH BAGI ORANG YANG TELAH MENINGGAL??

    Syukran katsir atas jawabannya.
    Barakallahu fiikum

    Waalaikumussalam warohmatulloh.
    Tidak wajib dibayarkan. Kecuali jika meninggalnya pada malam 1 syawal, maka tetap wajib dibayarkan zakat fithrah untuknya.

  2. Ridho Amrullah said:

    Assalammu’alaikum,

    Pak Ustadz, bolehkah saya bersedekah (bukan zakat) dengan niat agar bisa sembuh dari penyakit (tawasul amal sholeh) ? Apakah jika saya berniat begitu, tetap akan dapat pahala dan ridho Allah ?
    Syukron,

    Waalaikumussalam.
    Tawassul dengan amal soleh bukan seperti itu caranya. Akan tetapi dia berniat sedekah ikhlas karena mengharap pahala dan ridha Allah. Setelah itu dia berdoa kepada Allah meminta kesembuhan dengan menyebutkan sedekah yang ikhlas tadi. Misalnya dia mengucapkan’ Ya Allah sesungguhnya saya bersedekah dengan ikhlas, karena itu sembuhkanlah penyakitku,’ atau ucapan yang semisalnya.

  3. Abu Humam said:

    Bismillah,
    Assalamualaikum warohmatulloh.
    1. Mohon penjelasan tetang kriteria miskin yg ada dalam syariat?
    2. h. Penerima zakat fithrah tidak sama seperti penerima zakat lainnya. Maksud penerima zakat lainnya
    seperti apa mohon penjelasanya?
    3. Ada keponakan saya yg ditinggal mati ayahnya dan setiap tahun dia mendapatkan pembagian zakat (kurang jelas apakah zakat fitra atau mal)secara materi keponakan saya tidak kekurangan alias tercukupi, orang2 dikampung saya berpendapat setiap anak yatim/yatim piatu berhak mendapatkan zakat(walaupun secara materi mereka tidak kekurangan). bagaimana hukum dengan keadaan yg demikian?

    Demikian Ustad, semoga Allah Ta’allah memberikan antum kekuatan dan baroqah didalam berdakwa di atas Al hak ini.

    Waalaikumussalam warahmatullah.
    1. Miskin adalah orang yang penghasilan bulanannya tidak mencukupi kebutuhan bulanannya. Fakir lebih kurang daripada itu.
    2. Penerima zakat lainnya maksudnya zakat mal. Zakat mal berhak diterima oleh 8 ashnaf yang tersebut dalam surah At-Taubah: 60. Sementara zakat fithrah hanya berhak diterima oleh orang miskin.
    3. Tidak ada dalil yang menjelaskan bahwa anak yatim itu berhak menerima zakat, kecuali jika dia termasuk ke dalam salah satu dari 8 golongan yang tersebut di atas, maka dia berhak menerima zakat. Karenanya memberikan zakat kepada anak yatim yang kaya adalah hal yang keliru. Akan tetapi memberikan sedekah (bukan zakat) kepada mereka adalah kebaikan yang besar, walaupun mereka kaya.

  4. Adi said:

    Assalamu’alaikum…
    Afwan, jika fulan telah mempunyai pekerjaan dan mampu untuk membayar zakat namun orangtuanyalah yang membayarkan zakat fulan, istri fulan dan anak fulan. Apakah hal itu boleh dan sah? Dan untuk si fulan, apakah dia wajib membayar zakat untuk dirinya dan keluarganya atau membiarkan orangtuanya yang membayarnya?

    Waalaikumussalam.
    Zakat apa yang dimaksud di sini. Kalau zakat fithrah, maka syah dan boleh.
    Tapi jika zakat mal maka zakat yang dikeluarkan harus dari harta di anak sendiri.

  5. Adi said:

    Iya, yang saya maksud dari pertanyaan ialah zakat fithrah. Afwan kurang lengkap. Jazakallahu khairan ustadz. Tapi mana yang afdhal, apakah ia bayar zakat fithrah sendiri atau orang tuanya yang membayarnya? Dan untuk zakatnya, apakah boleh berupa uang?dan mana yang afdhal, uang atau makanan?
    Jazakallahu khairan…wabarakallahufik…

    Lebih utama dia bayar sendiri jika sudah mampu. Sebaiknya tidak menggunakan uang, makanan jauh lebih utama.

  6. Rafah said:

    Assalamu’alaikum,,,
    1.Dikampung saya pengumpulan zakat fitrah dilakukan dimasjid dan itu sudah berlaku secara bertahun tahun dikoordinir takmir masjid dan dicatat tetapi pembagian zakat fitrah kpd org miskin dilakukan 1 hari sebelum 1 syawal (30 Ramadhan) biasanya siang hari,itu hukumnya gimana ustad?
    2.haruskah pembagian zakat fitrah keluarga sy dibagikan sendiri kpd orang miskin?
    3.kalau hal tsb menimbulkan fitnah bgm ustad,misalkan takmir masjid menganggap keluarga kami tidak mengeluarkan zakat kmd menagih,ataukah hal tsb harus kami bicarakan kepada takmir masjid bahwa zakat kami bagikan sendiri atau tidak usah dibicarakan?
    Wassalamu’alaikum,,,

    Waalaikumussalam.
    1. Memang itu waktu pengeluarannya, di akhir ramadhan.
    2. Tidak harus, tapi itu lebih utama.

  7. syafrizal said:

    Asslmkm pak uztad. Di atas sdh djelaskan tidak wajib zakat fitrah bagi org yg sudah meninggal, tp kalo sianak ign memayarkan zakat fitrah bagi org tua nya yg sudah meninggal, apakah boleh2 saja? Atau bgmn hukum ny itu pak ustadz? Trmksh.

    Tidak perlu dan tidak ada contohnya.