Wasiat Dalam Islam

October 6th 2010 by Abu Muawiah |

27 Syawal

Wasiat Dalam Islam

Dari ‘Abdullah bin ‘Umar radhiallahu ‘anhuma bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:
مَا حَقُّ امْرِئٍ مُسْلِمٍ لَهُ شَيْءٌ يُوصِي فِيهِ يَبِيتُ لَيْلَتَيْنِ إِلَّا وَوَصِيَّتُهُ مَكْتُوبَةٌ عِنْدَهُ
“Tidaklah seseorang mewasiatkan suatu hak untuk seorang muslim, lalu wasiatnya belum ditunaikan hingga dua malam, kecuali wasiatnya itu diwajibkan di sisinya”. (HR. Al-Bukhari no. 2738 dan Muslim no. 1627)
Dari Sa’ad bin Abi Waqqash radhiallahu ‘anhu dia berkata:
قُلْتُ يَا رَسُولَ اللَّهِ أُوصِي بِمَالِي كُلِّهِ قَالَ لَا قُلْتُ فَالشَّطْرُ قَالَ لَا قُلْتُ الثُّلُثُ قَالَ فَالثُّلُثُ وَالثُّلُثُ كَثِيرٌ إِنَّكَ أَنْ تَدَعَ وَرَثَتَكَ أَغْنِيَاءَ خَيْرٌ مِنْ أَنْ تَدَعَهُمْ عَالَةً يَتَكَفَّفُونَ النَّاسَ فِي أَيْدِيهِمْ
“Aku berkata, “Wahai Rasulullah, aku mau berwasiat untuk menyerahkan seluruh hartaku (kepada putrid tunggalku, pent.)”. Beliau bersabda, “Tidak boleh”. Aku berkata, “Kalau setengahnya?” Beliau bersabda, “Tidak boleh”. Aku berkata, “Kalau sepertiganya?” Beliau bersabda: “Ia sepertiganya dan sepertiga itu sudah banyak. Sesungguhnya jika kamu meninggalkan ahli warismu dalam keadaan kaya itu lebih baik daripada kamu meninggalkan mereka dalam keadaan miskin lalu mengemis kepada manusia dengan menengadahkan tangan-tangan mereka.” (HR. Al-Bukhari no. 2742 dan Muslim no. 1628)
Abu Umamah Al Bahili radhiallahu anhu berkata: Aku mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda pada saat khutbah haji wada':
إِنَّ اللَّهَ قَدْ أَعْطَى كُلَّ ذِي حَقٍّ حَقَّهُ فَلَا وَصِيَّةَ لِوَارِثٍ
“Sesungguhnya Allah Ta’ala telah memberi masing-masing orang haknya, karenanya tidak ada wasiat bagi ahli waris.” (HR. Abu Daud no. 3565, At-Tirmizi no. 2120, Ibnu Majah no. 2704, dan dinyatakan shahih oleh Al-Albani dalam Irwa` Al-Ghalil no. 1655)
Dari ‘Aisyah radhiallahu ‘anha bahwa ada seorang laki-laki berkata kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam:
أَنَّ رَجُلًا قَالَ لِلنَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِنَّ أُمِّي افْتُلِتَتْ نَفْسُهَا وَأَظُنُّهَا لَوْ تَكَلَّمَتْ تَصَدَّقَتْ فَهَلْ لَهَا أَجْرٌ إِنْ تَصَدَّقْتُ عَنْهَا قَالَ نَعَمْ
“Ibuku meninggal dunia secara mendadak, dan aku menduga seandainya dia sempat berbicara maka dia akan bersedekah. Apakah dia akan memperoleh pahala jika aku bersedekah untuknya (atas namanya)?”. Beliau menjawab, “Ya”. (HR. Al-Bukhari no. 2960 dan Muslim no. 1004)

Penjelasan ringkas:
Terkadang seorang mempunyai kewajiban yang wajib dia tunaikan kepada orang lain, sementara dia tidak tahu kapan dia akan meninggal. Karenanya Rasulullah shallallahu alaihi wasallam memerintahkan untuk menuliskan wasiat dan memberikan batasan-batasan yang harus diperhatikan oleh setiap orang yang berwasiat.

Di antaranya:
1.    Wasiat paling banyak hanya dengan 1/3 harta, tidak boleh lebih dari itu.
2.    Keluarga yang mendapatkan warisan tidak berhak mendapatkan wasiat.
3.    Boleh menyedekahkan sebagian harta orang yang telah meninggal atas namanya (mayit) walaupun si mayit tidak mewasiatkan untuk itu.

Incoming search terms:

  • wasiat dalam islam
  • hukum wasiat dalam islam
  • wasiat menurut islam
  • aturan wasiat
  • Penjelasan dari hadits tentang tidaklah seseorang mewasiatkan suatu hak untuk seseorang muslim lalu wasiatnya belum di tunaikan hingga dua malam kecuali wasiatnya itu diwajibkan disisinya
Share and Enjoy:
  • Print
  • Digg
  • StumbleUpon
  • del.icio.us
  • Facebook
  • Yahoo! Buzz
  • Twitter
  • Google Bookmarks

This entry was posted on Wednesday, October 6th, 2010 at 11:26 am and is filed under Fiqh, Quote of the Day. You can follow any responses to this entry through the RSS 2.0 feed. Both comments and pings are currently closed.

1 response about “Wasiat Dalam Islam”

  1. abu_salman said:

    Saya tiga bersaudara. Kakak saya yg pertama sedang dibuatkan rumah oleh kedua orang tua saya. Sedangkan saya, dijanjikan menempati rumah orang tua yg ditinggali sekarang. Sedangkan kakak kedua saya, perempuan, akan dijanjikan sesuatu nanti jika ada rizki.. Masyarakat kami awam dgn sebagian kebiasaan anak bungsu mendapat jatah rumah tinggalan orang tua. Bagaimana menurut ustadz yg demikian ini, apakah warisan atau wasiat atau hibah?

    Wallahu A’lam itu sifatnya hibah.