Wajibnya Shalat Berjamaah

February 24th 2010 by Abu Muawiah |

10 Rabiul Awal

Wajibnya Shalat Berjamaah

Dari Abu Hurairah  dia berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:
إِنَّ أَثْقَلَ صَلَاةٍ عَلَى الْمُنَافِقِينَ صَلَاةُ الْعِشَاءِ وَصَلَاةُ الْفَجْرِ وَلَوْ يَعْلَمُونَ مَا فِيهِمَا لَأَتَوْهُمَا وَلَوْ حَبْوًا وَلَقَدْ هَمَمْتُ أَنْ آمُرَ بِالصَّلَاةِ فَتُقَامَ ثُمَّ آمُرَ رَجُلًا فَيُصَلِّيَ بِالنَّاسِ ثُمَّ أَنْطَلِقَ مَعِي بِرِجَالٍ مَعَهُمْ حُزَمٌ مِنْ حَطَبٍ إِلَى قَوْمٍ لَا يَشْهَدُونَ الصَّلَاةَ فَأُحَرِّقَ عَلَيْهِمْ بُيُوتَهُمْ بِالنَّارِ
“Shalat yang dirasakan paling berat bagi orang-orang munafik adalah shalat isya dan shalat subuh. Sekiranya mereka mengetahui keutamaannya, niscaya mereka akan mendatanginya sekalipun dengan merangkak. Sungguh aku berkeinginan untuk menyuruh seseorang sehingga shalat didirikan, kemudian kusuruh seseorang mengimami manusia, lalu aku bersama beberapa orang membawa kayu bakar mendatangi suatu kaum yang tidak menghadiri shalat, lantas aku bakar rumah-rumah mereka.” (HR. Al-Bukhari no. 141 dan Muslim no. 651)
Dari Abu Hurairah -radhiallahu anhu- dia berkata:
أَتَى النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ رَجُلٌ أَعْمَى فَقَالَ يَا رَسُولَ اللَّهِ إِنَّهُ لَيْسَ لِي قَائِدٌ يَقُودُنِي إِلَى الْمَسْجِدِ فَسَأَلَ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنْ يُرَخِّصَ لَهُ فَيُصَلِّيَ فِي بَيْتِهِ فَرَخَّصَ لَهُ فَلَمَّا وَلَّى دَعَاهُ فَقَالَ هَلْ تَسْمَعُ النِّدَاءَ بِالصَّلَاةِ قَالَ نَعَمْ قَالَ فَأَجِبْ
“Seorang buta pernah menemui Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam dan berujar, “Wahai Rasulullah, saya tidak memiliki seseorang yang akan menuntunku ke masjid.” Lalu dia meminta keringanan kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam untuk shalat di rumah, maka beliaupun memberikan keringanan kepadanya. Ketika orang itu beranjak pulang, beliau kembali bertanya, “Apakah engkau mendengar panggilan shalat (azan)?” laki-laki itu menjawab, “Ia.” Beliau bersabda, “Penuhilah seruan tersebut (hadiri jamaah shalat).” (HR. Muslim no. 653)
Dari Abdullah bin Mas’ud -radhiallahu anhu- dia berkata:
مَنْ سَرَّهُ أَنْ يَلْقَى اللَّهَ غَدًا مُسْلِمًا فَلْيُحَافِظْ عَلَى هَؤُلَاءِ الصَّلَوَاتِ حَيْثُ يُنَادَى بِهِنَّ فَإِنَّ اللَّهَ شَرَعَ لِنَبِيِّكُمْ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ سُنَنَ الْهُدَى وَإِنَّهُنَّ مِنْ سُنَنِ الْهُدَى وَلَوْ أَنَّكُمْ صَلَّيْتُمْ فِي بُيُوتِكُمْ كَمَا يُصَلِّي هَذَا الْمُتَخَلِّفُ فِي بَيْتِهِ لَتَرَكْتُمْ سُنَّةَ نَبِيِّكُمْ وَلَوْ تَرَكْتُمْ سُنَّةَ نَبِيِّكُمْ لَضَلَلْتُمْ وَمَا مِنْ رَجُلٍ يَتَطَهَّرُ فَيُحْسِنُ الطُّهُورَ ثُمَّ يَعْمِدُ إِلَى مَسْجِدٍ مِنْ هَذِهِ الْمَسَاجِدِ إِلَّا كَتَبَ اللَّهُ لَهُ بِكُلِّ خَطْوَةٍ يَخْطُوهَا حَسَنَةً وَيَرْفَعُهُ بِهَا دَرَجَةً وَيَحُطُّ عَنْهُ بِهَا سَيِّئَةً وَلَقَدْ رَأَيْتُنَا وَمَا يَتَخَلَّفُ عَنْهَا إِلَّا مُنَافِقٌ مَعْلُومُ النِّفَاقِ وَلَقَدْ كَانَ الرَّجُلُ يُؤْتَى بِهِ يُهَادَى بَيْنَ الرَّجُلَيْنِ حَتَّى يُقَامَ فِي الصَّفِّ
“Siapa yang berkehendak menjumpai Allah besok (hari kiamat) sebagai seorang muslim, hendaklah dia menjaga shalat wajib yang lima ini, dimanapun dia mendengar panggilan shalat itu. Karena sesungguhnya Allah telah mensyariatkan kepada Nabi kalian sunnah-sunnah petunjuk, dan sesungguhnya semua shalat di antara sunnah-sunnah petunjuk itu. Kalau seandainya kalian shalat di rumah-rumah kalian sebagaimana shalatnya orang yang tidak hadir (shalat jamaah) karena dia berada di rumahnya, berarti kalian telah meninggalkan sunnah Nabi kalian. Dan sekiranya kalian meninggalkan sunnah-sunnah nabi kalian, niscaya kalian akan tersesat. Tidaklah seseorang bersuci dengan baik, kemudian dia menuju salah satu masjid yang ada, melainkan Allah akan menulis kebaikan baginya dari setiap langkah kakinya, dan dengannya Allah mengangkat derajatnya, dan menghapus kesalahan karenanya. Menurut pendapat kami (para sahabat), tidaklah seseorang itu tidak hadir shalat jamaah, melainkan dia seorang munafik yang sudah jelas kemunafikannya. Sungguh dahulu seseorang dari kami harus dipapah di antara dua orang hingga diberdirikan si shaff (barisan) shalat yang ada.” (HR. Muslim no. 654)

Penjelasan ringkas:
Shalat berjamaah termasuk dari syiar-syiar Islam yang paling nampak, yang Allah Ta’ala telah wajibkan kepada segenap lelaki balig dari kalangan kaum muslimin, karena padanya terkandung manfaat yang sangat besar. Dalil-dalil yang menunjukkan wajibnya mengerjakan shalat secara berjamaah sangatlah banyak, karenanya yang wajib atas seorang muslim adalah menaruh perhatian besar mengenai urusan shalat berjamaah dan hendaknya dia bersegera dalam menunaikannya, sebagai realisasi dari perintah Allah dan Rasul-Nya dan agar dia terhindar dari penyerupaan kepada orang-orang munafik.
Di antara dalil-dalil yang menunjukkan wajibnya shalat berjamaah adalah:
1.    Perintah Allah Ta’ala dalam surah Al-Baqarah, “Dan dirikanlah shalat, tunaikanlah zakat, dan ruku’lah bersama orang-orang yang ruku’.” (QS. Al-Baqarah: 43)
Imam Al-Kasani berkata dalam Al-Badai’ Ash-Shana’i (1/155), “Allah Ta’ala memerintahkan ruku’ bersama-sama orang-orang yang ruku’, dan yang demikian itu dengan cara bergabung dalam ruku’. Maka ini merupakan perintah menegakkan shalat berjama’ah.”

2.    Adapun perintah Nabi -alaihishshalatu wassalam-, maka disebutkan dalam hadits Malik bin Al-Huwairits dimana beliau bersabda, “Apabila telah datang waktu shalat hendaklah salah seorang di antara kalian adzan dan hendaklah orang yang paling tua di antara kalian mengimami kalian.” (HR. Al-Bukhari no. 628 dan Muslim no. 674)
Maka di sini beliau memerintahkan mereka untuk berjamaah dimana salah seorang di antara mereka menjadi imam.

3.    Juga perintah beliau kepada orang buta yang terdapat dalam hadits Abu Hurairah di atas. Dimana dia kesulitan untuk tidak hadir berjamaah, akan tetapi berhubung dia mendengar azan maka Nabi -alaihishshalatu wassalam- tetap memerintahkannya. Maka bagaimana lagi yang bisa dengan mudah mendatangi shalat berjamaah???

4.    Dan cukuplah yang menunjukkan wajibnya shalat berjamaah adalah tatkala Allah Ta’ala menurunkan satu syariat khusus yaitu shalat berjamaah dalam keadaan khauf (takut/perang). Allah Ta’ala berfirman, “Dan apabila kamu berada di tengah-tengah mereka (shahabatmu) lalu kamu hendak mendirikan shalat bersama-sama mereka, maka hendaklah segolongan dari mereka berdiri (shalat) besertamu dan menyandang senjata”. (QS. An-Nisa`:102)
Al-Imam Ibnul Mundzir -rahimahullah- berkata dalam Al-Ausath (4/135), “Tatkala Allah memerintahkan shalat berjamaah dalam keadaan takut, maka ini menunjukkan shalat berjamaah dalam keadaan aman lebih wajib lagi.”
Sekali lagi hukum wajib ini berlaku bagi setiap lelaki yang sudah balig.

Adapun bagi kaum wanita, maka disunnahkan baginya untuk shalat di rumahnya berdasarkan beberapa hadits yang ada. Hanya saja dibolehkan -bukan disunnahkan- baginya untuk keluar shalat di masjid dengan beberapa persyaratan yang tersebut dalam hadits-hadits yang shahih. Insya Allah hukum shalat di masjid bagi wanita akan kami jelaskan pada tempatnya, wallahul musta’an.

Incoming search terms:

  • wajib berjamaah
Share and Enjoy:
  • Print
  • Digg
  • StumbleUpon
  • del.icio.us
  • Facebook
  • Yahoo! Buzz
  • Twitter
  • Google Bookmarks

This entry was posted on Wednesday, February 24th, 2010 at 11:23 pm and is filed under Fiqh, Quote of the Day. You can follow any responses to this entry through the RSS 2.0 feed. Both comments and pings are currently closed.

31 responses about “Wajibnya Shalat Berjamaah”

  1. Ahmad said:

    Assalamu’alaikum..ada seorang kerabat ana yg melaksanakan sholat fardlu berjama’ah dirumah bersama anak dan istrinya..apa hukumnya ya ustadz?mohon penjelasannya.

    Waalaikumussalam warahmatullah.
    Shalat berjamaah yang dimaksudkan di atas adalah dikerjakan di masjid. Karenanya Nabi -alaihishshalatu wassalam- mengancam setiap lelaki balig yang tidak shalat berjamaah di masjid, kecuali jika ada uzur.
    Hanya saja shalatnya syah karena bukan syarat syah shalat seorang lelaki, dia harus berjamaah.

  2. fahrul said:

    1. Perintah Allah Ta’ala dalam surah Al-Baqarah, “Dan dirikanlah shalat, tunaikanlah zakat, dan ruku’lah bersama orang-orang yang ruku’.” (QS. Al-Baqarah: 43)

    Assalamu ‘alaikum
    Ustadz,mohon jelaskan tafsir Al-Baqarah: 43 ini karena ada menafsirkan tunduk bersama-sama dengan orang uang tunduk dan patuh kepada Allah?

    Waalaikumussalam warahmatullah.
    Penafsiran itu juga benar. Dan tidak ada masalah menafsirkan satu ayat dengan beberapa penafsiran, selama penafsiran tersebut tercakup dalam keumuman lafazh ayat tersebut atau ada ulama salaf yang menafsirkannya demikian. Selengkapnya antum bisa membacanya dalam tafsir Ibnu Katsir dan yang semacanya. Terjemahannya sudah banyak jika -maaf- antum belum bisa membaca kitab gundul.

  3. cahyo said:

    as salamu ‘alaika ya ustadz,

    bagaimana dengan sutroh jamaah wanita yang di belakang bila seutama – utama shof mereka di shof yang paling belakang , yang mungkin saja ada wanita yang berlalu lalang di depannya sebelum ditegakkannya shalat berjamaah ?. mohon penjelasannya. jazakallahu khoir

    Waalaikumussalam warahmatullah.
    Yang dimaksud shaf terbaik di sini adalah ketika si wanita ikut shalat berjamaah, karenanya dikatakan ‘sebaik-baik shaf’, karena dalam shalat sendiri itu tidak ada shaf. Jadi jika dia shalat sunnah maka hendaknya dia mencari sutrah, apakah hijabnya di depan atau memasang tasnya di depannya atau orang yang shalat di depannya, dst. Tapi ketika shalat berjamaah dimulai maka hendaknya dia mundur ke belakang. Wallahu a’lam

  4. Roni said:

    Assalamu’alaikum.
    Ada beberapa syubhat dari kalangan yang meremehkan shalat berjama’ah.
    1. Enggan shalat berjama’ah di masjid karena khawatir riya
    2. Tidak diperbolehkan oleh pimpinan, guru/dosen, bahkan Orang tua.
    3. Meninggalkan shalat berjama’ah di masjid kemudian berjama’ah di rumah dengan Istri dan Anak demi pengajaran.
    4. Bacaan sholat Imam di Masjid kurang bagus, mending sholat sendirian di rumah.
    5. Rumah jauh.
    6. Sibuk mencari nafkah.
    mohon pencerahannya. Jazakumullahu khairan.

    Waalaikumussalam warahmatullah.
    1. Takut seperti ini tergolong takut maksiat, karena rasa takutnya membuat dia meninggalkan kewajiban.
    2. Tidak boleh menaati seorang makhlukpun dalam bermaksiat kepada Allah.
    3. Untuk pengajaran, maka cara sebaliknya lebih bagus, yaitu membawa istri dan anak ke masjid.
    4. Ini alasannya orang yang malas, belum tentu bacaan dia lebih baik daripada imam itu. Kan bisa mencari masjid lain yang bacaan imamnya bagus??
    5. Beli motor saja, biar tidak jalan kaki.
    6. Ini lebih parah, karena mendahulukan kecintaan dunia dibandingkan kecintaan akhirat. Kecintaan seperti ini adalah cinta maksiat.

  5. Roni said:

    Bismillah
    1. Bagaimana pendapat ulama dari kalangan shahabat nabi tentang hukum shalat berjama’ah di Masjid? sehingga kita mengetahui sejak kapan ulama berbeda pendapat tentang wajib atau sunnahnya shalat berjama’ah.
    2. Bagaimana sikap kita terhadap orang-orang yang menghukumi shalat berjamaa’ah hanya sekedar sunnah muakkad. Toleran atau di nasehati atau bagaimana?
    Jazakumullahu khairan.

    1. Sebenarnya memang ada silang pendapat di kalangan ulama mengenai hukum shalat berjamaah. Insya Allah akan kami paparkan pada kesempatan lain.
    2. Berhubung ini adalah masalah khilafiah biasa, maka hendaknya seseorang tidak bersikap keras kepada yang menyelisihi pendapatnya. Hanya saja dia dibolehkan memberikan nasehat dan arahan mengenai pendapat yang paling kuat dalam masalah ini. Wallahu a’lam

  6. Roni said:

    Bismillah
    Kapan seseorang dikatakan mendapati shalat berjama’ah? Apabila ia datang ke masjid, mendapatkan Imam bertasyahud akhir, lalu bertakbiratul ihram. Apakah masbuq tersebut dikatakan mendapatkan pahala berjama’ah bersama imam ataukah dianggap sebagai shalat sendirian (munfarid).

    Wallahu a’lam, yang jelas jika dia ikut dengan imam maka insya Allah dia tetap mendapatkan pahala yang lebih daripada dia shalat sendirian.

  7. Abu Humaam said:

    Assalamu’alaikum
    ustadz, apakah sholat berjamaah untuk sholat wajib harus ditegakkan di masjid atau boleh dirumah?

    sebagian menyatakan bahwa masjid bukan syarat sholat berjamaah dengan berargumen dengan beberapa hadits dan atsar berikut

    Dari Humaid dari Anas dari Ummu Fadhl binti Al-Harist, ia berkata :”Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasalam pernah mengimami kami shalat maghrib di rumahnya dan membaca surat Al-Mursalat.Setelah itu beliau tidak pernah melakukannya hingga beliau wafat (Dishahihkan Al-Imam Al-Albani dalam kitab Shahih Sunan An-Nasai (I/213))

    3.Dari Malik bin Al-Huwairist ia berkata :”Dua orang laki-laki yang akan bersafar pergi mendatangi Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasalam.Kemudian Nabi berkata :”Apabila nanti kalian safar hendaklah kumandangkan adzan lalu yang paling tua diantara kalian berdua maju menjadi imam” (Hadist Al-Bukhari dan Muslim)

    4Dari Ibn Syihab ia berkata :” Mahmud bin Ar-Rabi Al-Anshari pernah mengatakan kepadaku bahwa ia teringat ketika Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasalam membasuh wajahnya dengan air yang berasal dari sumur yang terdapat di kampung mereka.Mahmud mengatakan bahwa ia pernah mendengar Itban bin Malik Al-Anshari,seorang sahabat veteran perang badar ,berkata “Aku bertugas mengimami shalat kaumku Bani Salim.Antara tempat tinggalku dan tempat mereka dipisahkan oleh sebuah lembah.Apabila hujan turun sulit bagiku untuk menyeberangi lembah menuju masjid mereka”.Lantas aku mendatangi Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasalam kemudian aku berkata “Mataku sudah kabur dan lembah yang memisahkan ku tersebut menjadi aliran air jika hujan turun sehingga sulit menyeberanginya.Aku ingin sekali anda datang ke rumahku dan shalat di tempat yang sudah aku sediakan sebagai mushalla.Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasalam menjawab :”Aku Akan lakukan”

    Di siang terik, Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasalam dan Abu Bakar radhiallahu ‘anhu datang ke tempatku ,lalu beliau meminta izin untuk masuk dan akupun mengizinkannya.Sebelum duduk beliau bertanya,”Di sebelah mana aku dapat mengerjakan shalat?” .Lalu aku menunjukkan ke tempat yang selalu aku pergunakan sebagai tempat shalat.Lantas Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasalam berdiri lalu bertakbir dan kami menyusun shaf dibelakang beliau.Beliau mengerjakan shalat dua rakaat dan ketika beliau mengucapkan salam ,kami pun ikut mengucapkan salam (Riwayat Al-Bukhari & Muslim)

    5.Dari Abu Hurairoh ia berkata Rasulullah berkata :”Shalat seseorang dengan berjamaah lebih berlipat pahalanya 25 derajat daripada shalatnya di rumahnya atau di kedai pasarnya…..”(HR.Bukhari)

    Tambahan atsar salafushalih:

    1.Dari Musa Ash-Shagir dari Habib bin Abi Tsabit bahwa ia pernah memasak makanan lalu ia mengundang Ibrahim An-Nakhoi,Ibrahim At-Taimi,Salamah bin Kuhail dll yang berasal dari berbagai kampung.Lalu ia meminta kepada Ibrahim At-Taimi untuk berbagi kisah dengan mereka.Ketika waktu shalat masuk,mereka tidak keluar untuk shalat ke masjid,tetapi shalat dirumah Musa As-Shaghir.Setelah itu barulah barulah makanan dihidangkan (Sanadnya Hasan,riwayat Al-Bayhaqi dalam As-sunanul Kabir (III/67) dari jalur Isma’il bin Muhammad dari Sa’dan bin Nashr dari Abu Muawiyah Adh-Dharir dari Musa As-Shaghir.Musa As-Shaghir dan Ibn Muslim di tsiqohkan oleh Ibn Ma’in.Imam Ahmad berkata “Menurutku tidak ada masalah”.Adz-Dzahabi juga mentsiqohkan dalam Al-Akaasyif (II/308).Ibn Hajar berkata :”Tidak ada masalah”)

    2.Abu Muhammad Ibn Abi Hatim berkata:”Telah mengkhabarkan kepada kami Shalih bin Ahmad bin Hambal ia berkata :”Ayahku menceritakan kepadaku bahwa ia pernah datang ke tempat Ibrahim bin Abi Laits dan disana saat itu ada hadir Ali bin Al-Madini,Abbas Al-Ambari dan sejumlah lainnya.Ketika waktu shalat dzuhur masuk, Ali Al-Madini berkata ,”Akankah kita keluar shalat di masjid atau disini saja?”
    Ahmad berkata :”Sekarang ini kita sekelompok jama’ah,maka kita sholat disini saja”.Lalu merekapun shalat.
    Abu Muhammad bin Abi Hatim berkata :”Sekelompok jama’ah yang hadir tersebut merujuk kepada perkataan Ahmad bin Hambal untuk tidak shalat berjamaah ke masjid menunjukkan posisi dan perkataan Imam Ahmad mendapat tempat yang terhormat dimata mereka (Al-Jarh wat Ta’dil (I/298-299))

    3.Dari Murrah Al-Mudzani ia berkata :”Aku berkunjung ke rumah Ibn Mas’ud dan ternyata ia sedang berada di rumah Abu Musa Al-Asy’ari.Lantas akupun pergi kesana dan ternyata disana ada juga Abdullah dan Hudzaifah.Abdullah berkata kepada Hudzaifah:”Apakah kamu yang berkata demikian?”.Hudzaifah menjawab :”Wallahi memang benar aku yang berkata demikian.Aku tidak suka telah dikatakan oleh fulan atau si fulan telah membacakannya sebagaimana terpecahnya Bani Israil.
    Murrah berkata :”Setelah iqomah shalat dikumandangkan,Abu Musa maju ke depan untuk mengimami mereka shalat,sebab mereka sedang berada dirumah Abu Musa” (Atsar shahih, oleh Abdur Razaq dalam Al-Mushannaf (II/392) dari Ma’mar dari Ibn Uyainah dari Hushain bin Abd.Rahman dari Murrah.Ini adalah sanad uang shahih)

    4.Ibn Hajar dalam Fathul Baari (II/35) ketika memberikan komentar terhadap hadist keutamaan pergi ke mesjid (Hadist No.5 diatas), menuliskan :”Diriwayatkan dari Sa’id bin Manshur dengan sanad yang hasan dari Aus Al-Ma’arifi bahwa dia pernah bertanya kepada Abdullah bin Amr bin Ash,”Bagaimana pendapat anda jika seseorang berwudhu dengan sempurna lantas ia shalat di rumahnya ?”
    Abdullah bin Amr menjawab :”Bagus”.Aus bertanya lagi “Jika ia shalat di mesjid keluarganya ?” Dijawab :”Berarti ia dapat pahala 15 kali lipat”.Diatanya lagi ,”Bagaimana jika berjalan ke masjid?”Abdullah bin Amr menjawab “Berarti ia mendapat 25 kali lipat”

    bagaimana penjelasannya dengan hadits2 di atas? Bagaimana perbedaan pendapat para ulama dalam masalah ini?

    Waalaikumussalam warahmatullah
    Wallahu A’lam, kami sendiri berpendapat bahwa shalat berjamaah lima waktu tidak disyaratkan keabsahannya dikerjakan di masjid. Dalam artian shalat berjamaahnya tetap syah walaupun tidak dikerjakan di masjid. Selain dengan dalil-dalil di atas, sepengetahuan kami tidak ada satupun dalil yang tegas memerintahkan shalat berjamaah itu harus di masjid, walaupun tentunya di masjid itu lebih utama. Wallahu A’lam

  8. Wajibnya Shalat Berjamaah « The Life Cycle said:

    [...] http://al-atsariyyah.com/wajibnya-shalat-berjamaah.html LikeBe the first to like this [...]

  9. khaulah bintu basyri said:

    Bismillah. Assalamu’alaikum warohmatulloh wabarakatuh. Bagaimana bila seorang suami tidur 1 jam sebelum waktu sholat datang dan ketika dibangunkan susah untuk bangun dan berjamaah di masjid sehingga dia sering tidak sholat berjamaah di masjid, apakah yang seperti ini termasuk udzur? Mohon penjelasannya. Jazakumullohu khoyron katsiron.

    Waalaikumussalam warohmatulloh wabarakatuh
    Ia, insya Allah itu termasuk uzur.

  10. abu zaky said:

    Assalamu’alaikum…
    Ustadz, bolehkah membaca mushaf dalam sholat sendirian dan apakah boleh di setiap sholat baik fardhu maupun sunnah?? Afwan pertanyaan agak melenceng tadz….
    jazakumulloh khoiron ustadz

    Waalaikumussalam
    Sebaiknya dia tidak membaca dari mushaf ketika dia shalat karena itu bisa membuat dia banyak bergerak, dan hukumnya minimal adalah makruh. Hendaknya setiap muslim tidak membebani dirinya dengan sesuatu yang Allah tidak bebankan kepada dirinya. Cukup dia membaca ayat yang dia hafal walaupun satu ayat dan itu sudah mencukupi dalam shalatnya.

  11. bip said:

    assalamu’alaikum
    hukum sholat tidak di masjid apa?

    Waalaikumussalam
    ???

  12. Fahri said:

    Bismillah
    Assalamu’alaykum
    Ustadz, bolehkah qt meninggalkan berjama’ah di masjid dalam keadaan shalat jama’ah tengah berlangsung, sementara qt dalam keadaan belum siap untuk ikut jama’ah. Dan qt yakin meski berusaha untuk cepat ikut jama’ah, qt akan tetap ketinggalan jama’ah (tidak dapat 1 raka’at bersama imam)?

    Waalaikumussalam
    Ia boleh insya Allah

  13. nikokepri said:

    ada bbrp prtanyaan:
    1.apa hukum sseorng yg mmukul pundak orng yg sdng sholat sendirian dg mksd ingin sholat berjamaah?
    2.apa hukum seorang yg mmukul pundak makmum yg berdiri d smping kanan imam(krn sholat jamaah ber2),dgn mksd mnyuruh makmum trsbut mundur k blkang?
    3.bgaimana sikap qta jika dlm kndisi sholat sendrian atw sbg makmum pd kasus ke-2,tiba2 ada orang yg mmukul pundak qta,saat sholat brlangsung?
    4.bgaimana jg sikap qta sbgai orang yg bru hadir smntra sdg brlngsung sholat berjamaah ber-2(dg artian makmum berada d smping kanan imam),apakah qta pukul pundak makmum trsbut,atw qta lgsng ambil posisi aja d blkang imam?

    mhon sgera jawabannya..
    jazakumullahu khoiron,,,

    Tidak mengapa memberi tanda dengan memukul punggung agar diketahui ada yang mau ikut shalat. Kalau ada yang mau ikut berjamaah dengannya maka tidak ada masalah, tetap dia lanjut dengan shalat dia sendiri dan biarkan orang itu mengikutinya.

  14. wardani said:

    Assalamu’alaikum..

    Ustadz,

    Seandainya suatu ketika ada pengajian di suatu rumah/kantor dan selainnya, selain di masjid, kemudian tiba waktunya sholat wajib. apakah hukumnya ketika orang yang dalam pengajian itu mengerjakan sholat berjama’ah di rumah/atau kantor tersebut? apakah sama hukumnya dengan sholat berjama’ah di mesjid?

    mohon jawabannya..
    jazakummullahu…

    Waalaikumussalam.
    Seharusnya mereka shalat di masjid. Tapi jika tidak maka shalat jamaahnya tetap syah. Tidak sama antara jamaah di masjid dengan di tempat lain. Karena di masjid ada tambahan pahala melangkah pulang pergi masjid, dan pahala lainnya. Silakan baca ‘keutamaan mendatangi masjid’ dalam blog ini.

  15. Dian said:

    Bismillah,
    Assalaamu’alaykum,
    ana ingin bertanya tentang pembatas antara shof wanita dan shof pria, apakah disyariatkan dibuat pembatas atau hanya dipisahkan dengan jarak yang cukup jauh? bila ada pembatas, misalnya kain, apakah kain tersebut harus dibuka saat sholat, agar makmum wanita dapat melihat gerakan imam?
    Jazaakallohu khoyr atas penjelasannya.
    Waalaikumussalam.

    Tidak diharuskan, jika jaraknya sudah jauh maka itu sudah cukup.
    Untuk mengikuti gerakan imam tidak perlu kain dibuka, cukup mendengarkan suara takbir dan seterusnya. Karena walaupun kain itu dibuka, dia tetap tidak bisa melihat imam karena adanya shaf laki-laki di depannya.

  16. Andy said:

    Assalamualaikum ustadz,
    bagaimana sikap kita seharusnya kalau seandainya, kita kedatangan tamu (baru saja tiba), tetapi kita masih belum bersiap utk sholat berjamaah ke masjid padahal tidak lama kemudian ada adzan. rasanya ingin sekali ke masjid untuk berjamaah, tetapi tidak enak hati kepada tamu tersebut. apa yg lebih baik dilakukan?
    jazakalloh khoiron ustadz atas penjelasannya.

    Waalaikumussalam.
    Anda bisa mengajaknya ikut shalat dan itu lebih baik ataukah meminta izin sebentar untuk pergi shalat.

  17. Muhammad Fauzy Saad said:

    Assalamu Alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh
    Ustadz…. Saya ingin tanyakan hal apa saja yang dikategorikan sebagai “udzur” hingga dibolehkan meninggalkan sholat berjamaah..? soalnya suatu waktu saya meninggalkan sholat berjamaah sementara saya sedang berada di luar kota dan singgah makan malam, tetapi saya mendengar adzan isya dan waktu itu saya telah selesai makan dan lagi menunggu teman yang lain selesai makannya… apakh keadaan seperti itu boleh tidak menjawab panggilan adzan utk sholat berjamaah…?

    Waalaikumussalam Warahmatullahi Wabarakatuh
    Musafir ada keringanan untuk menjamak shalat, karenanya jika memang dia tidak memungkinkan untuk shalat pada waktu itu maka dia boleh menjamak shalatnya dengan shalat yang sebelum atau sesudahnya.

  18. Pribadi bin Supardi said:

    pak ustad, maaf atas kebodohan saya. Menyambung pert. nikokepri yg no.4,yaitu “bgaimana jg sikap qta sbgai orang yg bru hadir smntra sdg brlngsung sholat berjamaah ber-2(dg artian makmum berada d smping kanan imam),apakah qta pukul pundak makmum trsbut,atw qta lgsng ambil posisi aja d blkang imam?”
    Mohon jawaban yg lebih detail, apakah saya sbg makmum yg dipukul punggungnya langsung mundur atau tetap pada posisi disamping imam?
    Karena pernah saya alami ketika saya sedang jamaah berdua ada yg menyusul dg cara td memukul tapi berdiri disblh kanan saya lalu saya mundur bersama penyusul. Bgmn yg seharusnya? Syukron.

    Ya, anda mundur ke belakang bersama makmum yang baru datang tadi.

  19. Qashar Shalat Bagi Muasafir « Belajar Praktis: Aqidah, Fikih dan Akhlak Islam said:

    [...] Catatan penting: Sebagian manusia ada yang sengaja meninggalkan shalat berjamaah saat safar dengan alasan karena dia ingin melakukan qashar. Ini adalah kesalahan, karena shalat berjamaah tetap diwajibkan bagi setiap lelaki balig, baik dalam keadaan mukim maupun safar. Dalil akan wajibnya shalat berjamaah bagi musafir adalah hadits Malik bin Al-Huwairits dia berkata: Ada 2 lelaki yang mendatangi Nabi shallallahu alaihi wasallam, yang mana mereka berdua ini akan melakukan safar. Maka Nabi shallallahu alaihi wasallam bersabda kepada keduanya: إِذَا أَنتُمَا خَرَجتُمَا فَأَذِّنَا، ثُمَّ أَقِيمَا، ثُمَّ لِيَؤُمَّكُمَا أَكبَرُكُمَا “Jika kalian berdua telah keluar (dan waktu shalat telah masuk), maka kumandangkanlah azan dan iqamah, kemudian hendanya yang paling tua di antara kalian yang menjadi imam.” (HR. Al-Bukhari no. 628 dan Muslim no. 674) Juga telah warid dari hadits Abu Dzar, Abu Qatadah, Abu Hurairah, dan Imran bin Hushain bahwa Nabi shallallahu alaihi wasallam tetap mendirikan shalat berjamaah dalam safar. Lihat dalil-dalil lain akan wajibnya shalat berjamaah di sini: http://al-atsariyyah.com/?p=1914 [...]

  20. Wajibnya Shalat Berjamaah « pondasi islami said:

    [...] http://al-atsariyyah.com/wajibnya-shalat-berjamaah.html Like this:SukaBe the first to like this post. [...]

  21. Hukum shalat berjamaah « fakhrial31 said:

    [...] : http://al-atsariyyah.com/wajibnya-shalat-berjamaah.html Share this:TwitterFacebookLike this:LikeBe the first to like this [...]

  22. abu luqman said:

    Bismillah,
    Assalaamu’alaykum
    ustad bagaimana hukumnya jika seseorang sengaja meninggalkan sholat berjamaah, tetapi dia sholat sendirian dirumahnya, apakah dia tetap berdosa dikarenakan hukum sholat berjamaah itu wajib?
    dan apakah dia tidak mendapatkan pahala?
    jazakummullohu khoiron…

    Waalaikumussalam.
    Jika dia meyakini shalat berjamaah itu wajib maka jelas dia berdosa. Hanya saja dia tetap mendapatkan pahala dari shalatnya walaupun sendirian.

  23. adi said:

    assalamuallaikum
    pa ustad saya mau tanya, bacaan sholat berjamaah dengan sholat sendirian apakah ada perbedaan? Saya pernah membaca artikel di internet kalo sholat berjamaah imam nya membaca al-fatihah lalu mammuman harus diam saja tak membaca do’a. Oia kalo sholat berjamaah juga imam nya biasanya langsung al-fatihah ko ga da tahbiratul ihram nya? Apakah ketika sholat mammuman harus membaca tahbiratul ihram dulu menyusul mengikuti al-fatihah imam pa ustad?? Saya masih bingung dengan ini. Tolong jawabannya pa ustad…

    Waalaikumussalam.
    Beda. Kalau sendirian harus baca al-fatihah dan surah pendek setelahnya. Tapi kalau berjamaah dan jadi makmum, maka hanya membaca al-fatihah dan tidak membaca surah pendek setelahnya.
    Masa sih ada imam yang gak bertakbir takbiratul ihram?! Mungkin maksud anda yang lain?
    Ya, makmum takbir dulu baru mengikuti al-fatihah imam tapi jangan sampai mendahuluinya.

  24. Hamba Allah said:

    Assalamualaikum, ustadz.

    Saya seorang wanita dan sering sholat berjamaah diimami oleh ibu saya di rumah. Di rumah juga ada bapak saya, tapi beliau shalat sendiri. Kadang saya dan ibu sholat berjamaah tidak tepat setelah adzan berkumandang, tapi -sekitar- satu jam setelah azan karena makan dulu dan ada pekerjaan yg harus dikerjakan. Apa ini diperbolehkan?

    Waalaikumussalam.
    Ya boleh, selama waktunya belum habis.

  25. zahra arifin said:

    assalamualaikum, maaf sblmx, saya mau tanya. waktu saya mau shalat ashar dan mau jamaah brdua ma teman saya, tiba2 seorang nenek mau ikut bRjamaah dngan saya, dan nenek trsbt brtanya boleh ga saya ikut jamaah, sendang nenek tsb bru saja melaksanakan shalat sndri. dan saya mengiyakan, lalu teman saya melarang. krn nenek uda shalat sndri barusan. yg benar yg mana.? apakah nenek boleh shalat lg atau dilarang.

    Waalaikumussalam.
    BOleh saja, tidak ada masalah.

  26. abel_cusack said:

    assalamu ‘alaikum ustadz alkariim,
    afwan mau tanya bbrp hal :
    1. saya sering tertinggal sholat berjamaah di masjid, malah terkadang tidak dapat sama sekali karena repot ngurusin anak2 yg rewel dalam rangka ikut meringankan beban istri, kebetulan anak 3 balita semua. Apakah saya berdosa?
    2. Jika diperkirakan pulang dari melakukan safar sampai rumah lewat waktu isya maka kapan harus melakukan jama’ (takhir)? apakah ketika datang waktu isya’ turun dari kendaraan atau setelah sampai di rumah dg pertimbangan kalo singgah dulu bakal merepotkan
    Jazakumullah khoiron atas bantuannya.

    wa’alaikum salam warahmatullah
    1. Iya antum berdosa jika melakukannya dengan sengaja.
    2. Boleh di rumah.

    wa jazaakumullah khairan. (MT)

  27. sepatu kulit said:

    ustad.. ana izin copas…
    mau ane sebar ke teman” ana..

    jazakumulloh khoiron katsiron..

  28. Ibnu Abdillah said:

    Rasuulullaah shallallaahu ‘alayhi wa sallam bersabda:

    إذا صلى أحدكم في رحله ثم أدرك الإمام ولم يصل فليصل معه فإنها له نافلة

    Sekiranya salah seorang dari kalian TELAH SHALAT di RUMAHNYA, kemudian ia mendapati imam sedang shalat, maka hendaklah ia shalat bersamanya, karena ia menjadi nafilah (shalat sunnah) baginya.”

    (Shahiih, HR. Abu Dawud, at-Tirmidizi, dan lain-lain.)

    Dijelaskan Imam ash-Shan’aniy dalam subulus salaam: “beliau MENETAPKAN shalat orang-orang di rumah mereka. dan tidak disyaratkan bahwa shalat dirumahnya tersebut apakah sendirian atau berjama’ah.”

    Bahkan (jika ia hendak shalat bersama imam), maka shalatnya bersama imaam tersebut adalah shalat sunnah (nafilah).. maka hukum mendatanginya pun nafilah, bukan wajib.

    Bahkan yang menarik adlaah atsar ‘abdullaah ibn ‘amr ibnul ‘ash berikut:

    Diriwayatkan dari Sa’id bin Manshur dengan sanad yang HASAN dari Aus Al-Ma’arifi bahwa dia pernah bertanya kepada Abdullah bin Amr bin Ash,

    أَرَأَيْتَ مَنْ تَوَضَّأَ فَأَحْسَنَ الْوُضُوءَ ثُمَّ صَلَّى فِي بَيْتِهِ ؟

    ”Bagaimana pendapat anda jika seseorang berwudhu dengan sempurna lantas ia shalat di rumahnya?

    قَالَ : حَسَنٌ جَمِيلٌ

    ”Abdullah bin Amr menjawab :”Sangat baik”.

    قَالَ : فَإِنْ صَلَّى فِي مَسْجِدِ عَشِيرَتِهِ ؟

    Aus bertanya lagi “Jika ia shalat di mesjid keluarganya ?”

    قَالَ : خَمْسَ عَشْرَةَ صَلَاةً

    Dijawab :”Berarti ia dapat pahala 15 kali lipat”.

    قَالَ : فَإِنْ مَشَى إِلَى مَسْجِدِ جَمَاعَةٍ فَصَلَّى فِيهِ ؟

    Diatanya lagi ,”Bagaimana jika berjalan ke masjid (yang ditegakkan jama’ah) kemudian ia shalat disana?”

    قَالَ : خَمْسٌ وَعِشْرُونَ

    Abdullah bin Amr menjawab “Berarti ia mendapat 25 kali lipat”

    (Atsar Hasan, diriwayatkan Ibnu Manshuur; Lihat Fathul Baari (II/35))

    Atsar diatas sedang membicarakan “masalah pahala” sedangkan kita tahu, pembicaraan masalah pahala tidaklah ditetapkan dengan ijtihad shahabat. maka dihukumilah hadits diatas sebagai marfu’ (berasal dari nabi).

    Semoga bermanfa’at…

  29. Farid said:

    assalamu ‘alaikum ustadz

    ada yang sy yang tanyakan:
    Profesi saya seorang pengajar di sekolah smk, pernah suatu hari waktu jam masuk mengajar bersamaan dengan shalat dzuhur, yang sy tanyakan mendahulukan shalat berjamaah dzuhur dimasjid atau mengajar?… Ada berpendapat mengajar juga merupakan kewajiban, jadi utk shalat dhuhur dikerjakan sendiri aja agar tidak terlambat pada saat mengajarnya…

    Terima kasih, Jazakumullah khoiron

    Waalaikumussalam.
    Jelas yang lebih utama, dia shalat berjamaah di masjid. Lagipula pelaksanaan shalat berjamaah itu sebentar. Dia boleh mendatangi masjid pas ketika shalat berjamaah akan didirikan agar dia tidak terlalu lama meninggalkan kelasnya.

  30. Reza said:

    Aslm.ustd saya mau tanya.ketika imam membaca surat al-fatihah dan qur’an.apakah makmum mengikutinya/mendengarkannya saja ?
    Wa’al.terimakasih.

    Sebaiknya didengarkan saja dulu. Setelah membaca amin, baru makmum membaca alfatihah.

  31. muhammad ridho said:

    Asallam..
    Saya mau tanya.. Kalau kita shalat berjama’ah dirumah atau dimasjid.. pahalanya besaran mana ya?

    Terimakasih & Wassalam..

    Jelas di masjid lah.