Wajibnya Menjaga Persatuan

October 18th 2010 by Abu Muawiah |

10 Dzulqa’dah

Wajibnya Menjaga Persatuan

Allah Ta’ala berfirman:
وَاعْتَصِمُواْ بِحَبْلِ اللّهِ جَمِيعًا وَلاَ تَفَرَّقُواْ
“Dan berpegang teguhlah kalian semua kepada tali (agama) Allah dan janganlah kalian berpecah belah.” (QS. Ali Imran: 103)
Dari ‘Arfajah radhiallahu anhu dia berkata: Saya mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:
إِنَّهُ سَتَكُونُ هَنَاتٌ وَهَنَاتٌ فَمَنْ أَرَادَ أَنْ يُفَرِّقَ أَمْرَ هَذِهِ الْأُمَّةِ وَهِيَ جَمِيعٌ فَاضْرِبُوهُ بِالسَّيْفِ كَائِنًا مَنْ كَانَ
“Suatu saat nanti akan terjadi bencana dan kekacauan, maka siapa saja yang hendak memecah belah persatuan ummat ini penggallah ia dengan pedang kalian, siapa pun orangnya.” (HR. Muslim no. 1852)
Dari Abu Hurairah radhiallahu anhu dia berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:
إِنَّ اللَّهَ يَرْضَى لَكُمْ ثَلَاثًا وَيَكْرَهُ لَكُمْ ثَلَاثًا فَيَرْضَى لَكُمْ أَنْ تَعْبُدُوهُ وَلَا تُشْرِكُوا بِهِ شَيْئًا وَأَنْ تَعْتَصِمُوا بِحَبْلِ اللَّهِ جَمِيعًا وَلَا تَفَرَّقُوا وَيَكْرَهُ لَكُمْ قِيلَ وَقَالَ وَكَثْرَةَ السُّؤَالِ وَإِضَاعَةِ الْمَالِ
“Sesungguhnya Allah menyukai bagi kalian tiga perkara dan membenci tiga perkara. Dia menyukai kalian supaya beribadah hanya kepada-Nya dan tidak menyekutukan-Nya dengan sesuatu apapun, kalian berpegang teguh dengan agama-Nya, dan jangan kalian berpecah belah. Dan Allah membenci kalian dari mengatakan sesuatu yang tidak jelas sumbernya, banyak bertanya, dan menyia-nyiakan harta.” (HR. Muslim no. 1715)
Dari Al-Irbadh bin Sariyah radhiallahu anhu dia berkata: Suatu hari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam memberi wejangan kepada kami setelah shalat subuh dengan sebuah wejangan yang sangat menyentuh sehingga membuat air mata mengalir dan hati menjadi gemetar. Maka seorang sahabat berkata, “Seakan-akan ini merupakan wejangan perpisahan, lalu apa yang engkau wasiatkan kepada kami ya Rasulullah?” Maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:
أُوصِيكُمْ بِتَقْوَى اللَّهِ وَالسَّمْعِ وَالطَّاعَةِ وَإِنْ عَبْدٌ حَبَشِيٌّ فَإِنَّهُ مَنْ يَعِشْ مِنْكُمْ يَرَى اخْتِلَافًا كَثِيرًا وَإِيَّاكُمْ وَمُحْدَثَاتِ الْأُمُورِ فَإِنَّهَا ضَلَالَةٌ فَمَنْ أَدْرَكَ ذَلِكَ مِنْكُمْ فَعَلَيْهِ بِسُنَّتِي وَسُنَّةِ الْخُلَفَاءِ الرَّاشِدِينَ الْمَهْدِيِّينَ عَضُّوا عَلَيْهَا بِالنَّوَاجِذِ
“Aku wasiatkan kepada kalian untuk (selalu) bertakwa kepada Allah, mendengar dan taat (kepada pemimpin) meskipun (yang mempimpin kalian adalah) seorang budak habasyi. Sesungguhnya siapa saja diantara kalian yang hidup (sepeninggalku) niscaya dia akan melihat perselisihan yang sangat banyak, maka jauhilah oleh kalian perkara-perkara yang dibuat-buat, karena sesungguhnya hal itu merupakan kesesatan. Barangsiapa di antara kalian yang menjumpai hal itu maka hendaknya dia berpegang teguh dengan sunnahku dan sunnah para Khulafaur Rasyidin yang mendapat petunjuk, gigitlah sunnah-sunnah itu dengan gigi geraham.” (HR. Abu Daud no. 4607 dan At-Tirmizi no. 2676)

Penjelasan ringkas:
Agama Islam adalah agama yang dibangun di atas persatuan dan kesatuan para pemeluknya. Dan sebagaimana Islam bisa menyatukan hati-hati para pemeluknya, maka Islam juga mampu untuk menyatukan tubuh-tubuh para pemiliknya untuk bersatu. Karenanya Allah Ta’ala berfirman memerintahkan seluruh kaum muslimin untuk bersatu dan Dia meridhai jika mereka semua bersatu. Dan Allah Ta’ala mengabarkan bahwasanya persatuan merupakan salah satu nikmat yang terbesar dari Allah Ta’ala:
واذْكُرُوا نِعْمَتَ اللهِ عَلَيْكُمْ إِذْ كُنتُمْ أَعْدَآءً فَأَلَّفَ بَيْنَ قُلُوبِكُمْ فَأَصْبَحْتُم بِنِعْمَتِهِ إِخْوَانًا وَكُنتُمْ عَلَى شَفَا حُفْرَةٍ مِّنَ النَّارِ فَأَنقَذَكُم مِّنْهَا كَذَلِكَ يُبَيِّنُ اللهُ لَكُمْ ءَايَاتِهِ لَعَلَّكُمْ تَهْتَدُونَ
“Dan ingatlah akan nikmat Allah kepada kalian ketika dulunya kalian bermusuh-musuhan, maka Allah mempersatukan hati-hati kalian, lalu menjadilah kalian berkat nikmat Allah sebagai orang-orang yang bersaudara. Dan kalian dulu telah berada di tepi jurang neraka, lalu Allah menyelamatkan kalian daripadanya. Demikianlah Allah menerangkan ayat-ayatNya kepada kalian, agar kalian mendapat petunjuk”. (QS. Ali Imran:103)
Maka dalam ayat ini Allah Ta’ala menjelaskan bahwa perpecahan baik dalam masalah dunia apalagi dalam masalah agama akan mengantarkan pelakunya ke dalam neraka. Dan Allah Ta’ala mengabarkan bahwa orang-orang yang mendapatkan petunjuk adalah mereka yang mengetahui bagaimana tingginya kedudukan persatuan sehingga mereka mengusahakanya dan betapa ngerinya akibat dari perpecahan sehingga mereka menjauhinya.

Di ayat yang lain Allah Ta’ala menyebutkan kejelekan yang lain dari perpecahan:
وَلاَتَنَازَعُوا فَتَفْشَلُوا وَتَذْهَبَ رِيحُكُمْ
“Dan janganlah kalian berselisih, yang menyebabkan kalian menjadi gentar dan hilang kekuatan kalian”. (QS. Al-Anfal: 46)
Maka perpecahan akan mengantarkan pada kelemahan barisan kaum muslimin sehingga mereka dengan mudah bisa dikalahkan oleh musuh-musuh mereka.

Di ayat yang lain Allah Ta’ala berfirman:
وَأَنَّ هَذَا صِرَاطِي مُسْتَقِيمًا فَاتَّبِعُوهُ وَلاَتَتَّبِعُوا السُّبُلَ فَتَفَرَّقَ بِكُمْ عَنْ سَبِيلِهِ
“Dan bahwa ini adalah jalan-Ku yang lurus maka ikutilah dia. Dan janganlah kalian mengikuti jalan-jalan (yang lain), karena jalan-jalan itu akan mencerai-beraikan kalian dari jalan-Nya”. (QS. Al An’am: 153)

Syaikhul Islam Ibnu Taimiah rahimahullah berkata dalam Al-Istiqamah (1/2), “Perkara bid’ah itu diiringi oleh perpecahan, sebagaimana perkara sunnah pasti beriringan dengan persatuan.” Karenanya dalam hadits Irbadh bin Sariah di atas, Nabi shallallahu alaihi wasallam menggandengkan antara perintah bersatu di bawah penguasa dengan larangan mengamalkan bid’ah, hal itu karena kedua perkara ini tidak akan bertemu. Sebagaimana ahlu (pengikut) sunnah dikenal dengan al-jamaah (persatuan) sehingga mereka dinamakan ahlussunnah wal jamaah, maka demikian halnya ahlu bid’ah dikenal dengan al-furqah (perpecahan) sehingga mereka dinamakan ahlul bid’ah wal furqah.

Dalam hadits Irbadh di atas, Nabi shallallahu alaihi wasallam menyebutkan satu kewajiban terbesar dalam masalah persatuan, yang mana kewajiban ini merupakan jalan tercepat dan terampuh untuk meraih persatuan kaum muslimin, yaitu kewajiban agar mereka semua taat kepada penguasa mereka. Selengkapnya tentang kewajiban taat kepada penguasa bisa dibaca di sini: http://al-atsariyyah.com/wajibnya-taat-kepada-penguasa.html

Kemudian satu hal yang perlu diingat bahwasanya persatuan kaum muslimin adalah murni merupakan rahmat dan keutamaan dari Allah. Hal itu karena hanya Allah Ta’ala yang sanggup menyatukan hati-hati manusia sehingga tubuh-tubuh mereka juga ikut bersatu. Dan penyatuan hati ini tidak akan mungkin dilakukan oleh makhluk sebesar apapun usaha yang dia kerahkan. Allah Ta’ala berfirman:
وَأَلَّفَ بَيْنَ قُلُوبِهِمْ لَوْ أَنفَقْتَ مَافِي اْلأَرْضِ جَمِيعًا مَّآأَلَّفْتَ بَيْنَ قُلُوبِهِمْ وَلَكِنَّ اللهَ أَلَّفَ بَيْنَهُمْ
“Dan Yang mempersatukan hati mereka (orang-orang yang beriman). Walaupun kamu membelanjakan (kekayaan) yang berada di bumi, niscaya kamu tidak dapat mempersatukan hati mereka, akan tetapi Allah yang telah mempersatukan hati mereka”. (QS. Al-Anfal:63)

Share and Enjoy:
  • Print
  • Digg
  • StumbleUpon
  • del.icio.us
  • Facebook
  • Yahoo! Buzz
  • Twitter
  • Google Bookmarks

This entry was posted on Monday, October 18th, 2010 at 4:03 pm and is filed under Manhaj, Quote of the Day. You can follow any responses to this entry through the RSS 2.0 feed. Both comments and pings are currently closed.

Comments are closed.