Ucapan ‘Peristirahatan Terakhir’

November 30th 2011 by Abu Muawiah |

Ucapan ‘Peristirahatan Terakhir’

Pertanyaan:
Bolehkan orang yang dikubur disifati dengan kalimat: ‘Memasuki tempat peristirahatan terakhirnya’ atau kalimat-kalimat semacamnya?

Jawab:
Kita baru saja mendengar kabar-kabar orang yang meninggal yang disiarkan oleh sebagian radio-radio Arab, yaitu dengan menyebutkan nama-nama orang yang meninggal tersebut. Misalnya dalam hal ini dikatakan: Telah meninggal fulan bin fulan dan seterusnya, dan dia akan dibaringkan di tempat peristirahatan terakhirnya pada jam sekian pada hari sekian.
Sudah dari dahulu saya sudah memberikan catatan terhadap ucapan ini dan terkadang saya mengingatkan bahwa ungkapan semacam ini ‘peristirahatan terakhir’ bukanlah termasuk dari ungkapan-ungkapan syar’iyah. Hal itu karena ungkapan seperti ini bisa keluar dari mulut seorang mukmin yang beriman akan adanya kebangkitan dan bisa juga keluar dari mulut seorang mulhid (kafir) yang tidak mengimani adanya kebangkitan.

Hanya saja jika ungkapan seperti ini diucapkan oleh seorang mukmin, maka ungkapan ini sangat kurang. Berbeda halnya jika diucapkan oleh seorang mulhid, maka dia sebenarnya tengah mengungkapkan sendiri penyimpangannya, karena dia tidak mengimani bahwa setelah tempat peristirahatan atau tempat kembali terakhir ini masih ada kehidupan yang lain. Tatkala sudah dipahami bersama bahwa seorang muslim itu harus berbeda dalam seluruh ucapan dan amalannya dari orang-orang yang bertentangan dengannya dalam hal pemikiran dan akidah, maka sudah sepantasnya juga dia wajib untuk menjauhi ungkapan-ungkapan semacam ini, yang mana ungkapan ini mengesankan pengingkaran kepada kebangkitan. Maka sepatutnya dikatakan -misalnya-: ‘Tempat peristirahatan terakhirnya di dalam kubur’ atau ‘di alam barzakh’ atau ungkapan-ungkapan semacamnya, yang jelas harus diberikan pembatasan.

Hanya saja pembatasan seperti ini dan semacamnya biasa saya namakan dengan istilah tarqi’ (pencangkokan) dalam ucapan (baca: kalimat bersayap, pent.). Dan tarqi’ dalam ucapan ini bukanlah termasuk adab-adab Islami. Hal itu karena telah datang beberapa hadits nabawi yang shahih, yang memerintahkan dan mengajari kita agar kita tidak mengucapkan ucapan yang mengharuskan kita untuk mentakwilnya (menafsirkannya) setelah kita mengucapkannya. Di antara hadits-hadits tersebut adalah:
إِيّـاكَ وَما يُعْتَذرُ مِنْهُ
“Waspadalah dari apa-apa yang akan dicarikan udzur darinya.”
Dan sabda beliau yang lain:
لاَ تُكَلِّمَنَّ بِكَلامٍ تَعْتَذِرُ بِهِ عِنْدَ النّاسِ
“Janganlah kamu berbicara dengan ucapan yang kamu akan meminta udzur (alasan) dengannya di hadapan orang-orang.”

Karenanya, di antara kesalahan buruk yang lahir dari taqild kaum muslimin kepada orang-orang kafir, sampai dalam hal penerjemahan ungkapan-ungkapan mereka yang tidak menunjukkan bahwa mereka ini beriman kepada hari kebangkitan. Di antara bentuk taqlid tersebut adalah ucapan sebagian radio Arab ketika memberitakan orang-orang yang meninggal: Dia akan dipindahkan ke tempat peristirahatan terakhirnya.

Padahal kubur ini bukanlah tempat peristirahatan terakhir bagi orang-orang yang telah meninggal, akan tetapi tempat peristirahatan terakhir mereka adalah sebagaimana firman Rabb kita Azza wa Jalla dalam Al-Qur`an Al-Karim:
فَرِيقٌ فِي الْجَنَّةِ وَفَرِيقٌ فِي السَّعِيرِ
“Sekelompok masuk ke dalam surga dan sekelompok masuk ke dalam neraka.” (QS. Asy-Syura: 7)
Maka ucapan ‘peristirahatan terakhir’ ini sama sekali tidak mengungkapkan akidah Islamiah. Karenanya sebagaimana dalam sebuah pribahasa dikatakan: Seandainya sesuatu itu ditaati atau didengarkan maka akal akan menjadi pendek.

Maka saya betul-betul menasehati mereka agar mereka meninggalkan ungkapan-ungkapan seperti ini yang merupakan hasil terjemahan dari ungkapan-ungkapan orang asing yang kafir, dan beralih kepada ungkapan Islami yang tidak mengesankan sedikitpun sesuatu yang bertentangan dengan Islam dan aqidah Islamiah. Berdasarkan sabda-sabda Nabi shallallahu alaihi wasallam yang telah berlalu:
إِيّـاكَ وَما يُعْتَذرُ مِنْهُ
“Waspadalah dari apa-apa yang akan dicarikan udzur darinya.”
Ini adalah peringatan dan peringatan itu bermanfaat bagi orang-orang yang beriman.

[Diterjemahkan dari jawaban Asy-Syaikh Al-Albani dalam kaset Silsilah Al-Huda wa An-Nur no. 222, menit 36 detik 03]

Ucapan ‘Peristirahatan Terakhir’

Share and Enjoy:
  • Print
  • Digg
  • StumbleUpon
  • del.icio.us
  • Facebook
  • Yahoo! Buzz
  • Twitter
  • Google Bookmarks

This entry was posted on Wednesday, November 30th, 2011 at 9:10 am and is filed under Aqidah, Tahukah Anda?. You can follow any responses to this entry through the RSS 2.0 feed. Both comments and pings are currently closed.

2 responses about “Ucapan ‘Peristirahatan Terakhir’”

  1. ibnusunni said:

    “peristirahatan” lha wong kita nggak tau apa disana ia bisa istirahat atau justru disiksa. “terakhir” lha wong ada hari kebangkitan…

  2. ibnusunni said:

    ustadz, bagaimana dengan ucapan “selamat menempuh hidup baru”?

    Tidak mengapa insya Allah, karena hidup baru yang dimaksud di sini adalah kehidupan baru setelah menikah. Jadi asal kalimatnya insya Allah tidak menunjukkan makna yang batil.
    Walaupun tentunya ucapan yang lebih utama adalah mendoakan kedua mempelai sesuai dengan doa yang diajarkan oleh Nabi shallallahu alaihi wasallam.