Tipuan Setan: Batu dan Kubur yang Berbicara

October 15th 2014 by Abu Muawiah |

Ucapan penulis: Beristighatsah kepada mereka.

Maksudnya: Termasuk syirik adalah seseorang beristighatsah kepada selain Allah.

Istighatsah adalah memohon bantuan dalam meraih suatu kebaikan atau mencegah terjadinya suatu keburukan. Dan istighatsah ini adalah ibadah yang tidak boleh diserahkan kepada selain Allah.

Namun harus dibatasi bahwa istighatsah nanti menjadi kesyirikan jika permohonannya adalah sesuatu yang selain Allah itu tidak mampu untuk memenuhinya, baik karena selain Allah itu sudah wafat atau karena dia tidak berada di dekat orang yang beristighatsah atau memang pertolongan yang diharapkan tidak ada yang bisa mewujudkannya selain Allah.

Ibnu Taimiah berkata:
“Setelah kita mengetahui agama yang dibawa oleh ar Rasul, kita tentu mengetahui secara pasti bahwa ar Rasul tidak pernah mensyariatkan kepada umatnya agar mereka berdoa kepada orang yang telah wafat atau kepada para nabi atau kepada orang-orang saleh atau selainnya. Beliau tdak pernah mensyariatkan kepada mereka untuk berdoa, baik dengan lafazh istighatsah atau selainnya, maupun dengan lafazh isti’adzah atau selainnya. Demikian halnya beliau tidak pernah mensyariatkan kepada umatnya untuk sujud kepada orang yang telah wafat maupun kepada orang yang masih hidup, dan amalan kesyirikian semacamnya.
Bahkan kita mengetahui secara pasti bahwa beliau telah melarang semua perbuatan di atas. Dan beliau menjelaskan bahwa semua itu termasuk kesyirikan yang telah diharamkan oleh Allah Ta’ala dan RasulNya. Hanya saja, tatkala banyak kaum muslimin belakangan yang dikuasi oleh kebodohan dan minim dalam ilmu risalah (agama), maka mereka tidak boleh divonis kafir kecuali setelah jelas bagi mereka ajaran ar Rasul shallallahu alaihi wasallam dalam amalan yang mereka selisihi (baca: penegakan hujjah). Karenanya, tidaklah permasalahan ini dijelaskan kepada orang yang telah mengetahui dasar-dasar agama Islam, kecuali dia akan menyadarinya dan akan berkata: Ini adalah dasar dari agama Islam.” (Ar Radd ‘ala al Bakri hal. 387)

Beliau juga berkata:
“Tidak boleh bagi seorg pun untuk beristighatsah kepada siapa pun dari para syaikh yang gaib (tidak ada di sisinya, penj.) atau yang telah wafat. Semisal mengatakan: ‘Wahai sayyidku, lindungilah aku, bantulah aku, belalah aku, aku dalam jaminanmu, dan ucapan semacamnya.’ Semua ucapan ini adalah kesyirikan yang telah diharamkan oleh Allah dan RasulNya, dan pengharamannya sudah diketahui secara pasti dalam agama Islam. Mereka yang beristighatsah kepada orang-orang yang gaib, atau kepada yang telah wafat di sisi kubur-kubur mereka atau di tempat lain, tatkala mereka serupa dengan para penyembah berhala, jadilah setan menyesatkan dan menipu mereka sebagaimana setan telah menyesatkan dan menipu para penyembah berhala. Setan merubah wujudnya menjadi orang saleh yang mereka beristighatsah kepadanya, lalu setan berbicara kepada mereka dengan hal-hal yang bersifat mukasyafah (kabar gaib, penj.), sebagaimana setan berbicara kepada dukun-dukun. Memang sebagian dari ucapan setan itu benar, tapi pasti banyak kedustaan di dalamnya. Bahkan kedustaan itulah yang jauh lebih mendominasi dibandingkan kebenarannya. Terkadang setan memenuhi sebagian keinginan mereka dan mencegah terjadinya hal-hal yang mereka benci. Sehingga mereka berpikir bahwa syaikh yang datang dari alam gaib itu lah yang melakukan semuanya. Atau Allah Ta’ala mengutus malaikat yang berwujud seperti syaikh itu lalu melakukan semuanya. Mereka lalu berkata: ‘Inilah kemampuan dan keadaan syaikh yang selama ini tersembunyi.’ Padahal itu adalah setan yang berwujud menyerupai syaikh untuk menyesatkan mereka yang menyekutukan dan beristighatsah kepadanya (bersama Allah, penj.). Sebagaimana setan-setan masuk ke dalam patung-patung berhala lalu berbicara kepada para penyembahnya dan memenuhi sebagian kebutuhan mereka. Inilah yang terjadi pada berhala-berhala kaum musyrikin Arab dahulu.” (Majmù’ al Fatàwa: 1/359)

Share and Enjoy:
  • Print
  • Digg
  • StumbleUpon
  • del.icio.us
  • Facebook
  • Yahoo! Buzz
  • Twitter
  • Google Bookmarks

This entry was posted on Wednesday, October 15th, 2014 at 1:23 pm and is filed under Nawaqidh al Islam, Terjemah Kitab. You can follow any responses to this entry through the RSS 2.0 feed. Both comments and pings are currently closed.

Comments are closed.