Tiga Tanda Kebahagiaan Hidup

June 17th 2015 by Abu Muawiah |

بسم الله الرحمن الرحيم

Sesungguhnya segala pujian hanya untuk Allah. Kami memuji kepada-Nya, meminta pertolongan hanya kepada-Nya dan meminta ampunan hanya kepada-Nya. Kita berlindung kepada-Nya dari kejelekan jiwa-jiwa kita dan kejelekan amalan-amalan kita. Barangsiapa yang diberi hidayah oleh Allah, niscaya tidak ada yang sanggup menyesatkannya. Barangsiapa yang disesatkan oleh Allah, maka tidak ada yang mampu memberi hidayah kepadanya. Saya bersaksi bahwa sesungguhnya tidak ada sembahan yang berhak disembah selain Allah semata, tidak ada sekutu bagi-Nya dan saya bersaksi bahwa sesungguhnya Muhammad adalah hamba dan Rasul-Nya. amma ba’du:

 

Pengantar:

Berikut ini adalah syarah Al-Qawa’id Al-Arba’ oleh Asy-Syaikh Saleh bin Abdil Aziz Alu Asy-Syaikh hafizhahullah. Sebuah risalah yang ditulis oleh Imam dakwah ini, Asy-Syaikh Muhammad bin Abdil Wahhab rahimahullah. Kami mulai dengan risalah ini karena selain dia ringkas, dia juga termasuk risalah dasar dalam tauhid uluhiah dan sanggahan kepada pelaku kesyirikan. Dan kami memilih syarah dari Asy-Syaikh Saleh karena menurut pengamatan kami -wallahu A’lam- syarah beliau adalah syarah yang terbaik dari semua syarah yang pernah kami baca.

Perlu diketahui bahwa syarah Asy-Syaikh hafizhahullah asalnya adalah transkrip dari kaset rekaman sehingga bahasanya adalah bahasa kaset (bukan bahasa buku). Terkadang beliau mengulangi kalimat yang sudah diucapkan sebelumnya. Karenanya untuk mempersingkat, kalimat-kalimat yang diulangi itu tidak lagi kami terjemahkan. Dan juga perlu diketahui bahwa semua catatan kaki dalam syarah ini adalah dari kami, bukan dari transkrip aslinya.

Saya rasa hanya ini yang butuh kami sampaikan sebagai pengantar, selamat membaca:

Asy-Syaikh Muhammad bin Abdil Wahhab rahimahullah berkata:

أَسْأَلُ اللهَ الكَرِيْمَ ربَّ العَرْشِ العَظِيْمِ أنْ يَتَوَلاّكَ في الدُّنْيا وَالآخِرَةِ، وَأنْ يَجْعَلَكَ مُبَارَكـًا أَيْنَمَا كُنْتَ، وَأَنْ يَجْعلك مِمَّنْ إِذَا أُعْطِيَ شَكَرَ، وَإذا ابْتُلِيَ صَبَرَ، وَإذا أَذْنَبَ اسْتَغْفَرَ، فَإنَّ هَؤُلاءِ الثَّلاثَ عُنْوَانُ السَّعادَةِ

[Terjemahan]

“Saya meminta kepada Allah yang Maha Pemurah Rabbnya arsy yang besar, agar Dia berkenan menjadikanmu sebagai wali-Nya di dunia dan akhirat, menjadikanmu berberkah dimanapun kamu berada[1], serta menjadikanmu termasuk orang yang: Jika diberi maka dia bersyukur, jika dia diuji maka dia bersabar, dan jika dia berdosa maka dia segera meminta ampun, karena ketiga sifat ini adalah tanda kebahagiaan.”

 

[Syarh]

بسم الله الرحمن الرحيم, الحمد لله رب العالمين, وأشهد أن لا إله إلا الله وحده لا شريك له, وأشهد أن محمدا عبد الله ورسوله, صلى الله عليه وعلى آله وصحبه تسليما كثيرا إلى يوم الدين. أما بعد:

Risalah ringkas ini -Al-Qawa’id Al-Arba’- termasuk di antara risalah-risalah penting yang pernah dikarang oleh imam dakwah ini (Asy-Syaikh Muhammad bin Abdil Wahhab) rahimahullahu Ta’ala. Sisi pentingnya adalah:

  1. Risalah ini memperkenalkan kebalikan dari keempat kaidah itu.
  2. Kerancuan atau ketidakpahaman mengenai keempat kaidah ini akan menyebabkan kesamaran dalam mengetahui (baca: membedakan antara) keadaan kaum musyrikin dengan keadaan para ahli tauhid, ujian yang diterima oleh ahli tauhid dengan siksaan yang menimpa pelaku kesyirikan.

Allah Jalla wa Ala -dengan Al-Qur`an- telah menjelaskan hak-Nya yang wajib dalam tauhid dan juga telah menjelaskan kesyirikan dengan penjelasan yang gamblang.

Keempat kaidah ini terambil dari nash-nash Al-Kitab dan As-Sunnah, dan juga dari pengetahuan terhadap keadaan orang-orang Arab (jahiliah) sebagaimana yang akan datang keterangannya. Ini adalah kaidah-kaidah agung, yang sangat penting untuk dihafalkan dan diketahui maknanya oleh setiap orang yang mempunyai keragu-raguan dalam masalah menghukumi pelaku kesyirikan dan dalam masalah wajibnya mengikhlaskan semua amalan hanya untuk Allah Jalla wa Ala dan bagaimana cara mengikhlaskannya.

Imam dakwah rahimahullah -sebagaimana kebiasaan beliau pada banyak karya tulisnya- memulai risalah ini dengan doa untuk siapa saja yang membaca risalah ini atau untuk siapa saja yang risalah ini ditujukan kepadanya. Doa ini -sebagaimana yang sudah diketahui- padanya ada isyarat bahwa landasan ilmu dan dakwah adalah sifat kasih sayang dan saling menyayangi antara pengajar dan yang belajar, sifat kasih sayang dan saling menyayangi antara dai dan umat. Karena kasih sayang dalam ilmu dan dakwah merupakan sebab persatuan. Allah Jalla wa Ala berfirman:

فَبِمَا رَحْمَةٍ مِنْ اللَّهِ لِنْتَ لَهُمْ

“Maka disebabkan rahmat dari Allah kamu berlaku lemah lembut terhadap mereka.” (QS. Ali Imran: 159)

Maksudnya: Maka disebabkan rahmat dari Allah kamu berlaku lemah lembut terhadap mereka, maka disebabkan rahmat dari Allah kamu berlaku lemah lembut terhadap mereka. Karena huruf ما dalam ayat ini ada yang mengatakan dia sebagai penguat kalimat[2], dan huruf ini dinamakan ما tambahan karena dia menambah kekuatan kalimat. Jadi, doa ini lahir dari sifat kasih sayang. Dan demikianlah yang sepantasnya atas setiap pengajar, setiap dai, setiap orang memerintahkan kebaikan, dan setiap orang yang melarang dari kemungkaran, hendaknya dia merahmati dan menyayangi sesama makhluk. Sebagaimana yang Allah Jalla wa Ala menyifati Nabi-Nya alaihishshalatu wassalam dalam firman-Nya:

وَمَا أَرْسَلْنَاكَ إِلَّا رَحْمَةً لِلْعَالَمِينَ

“Dan tiadalah Kami mengutus kamu, melainkan untuk (menjadi) rahmat bagi semesta alam.” (QS. Al-Anbiya`: 107)

Dan Allah berfirman:

بِالْمُؤْمِنِينَ رَءُوفٌ رَحِيمٌ

“Amat belas kasihan lagi penyayang terhadap orang-orang mukmin.” (QS. At-Taubah: 128)

Ibnu Al-Qayyim rahimahullah berkata menyifati keadaan dai kepada Allah bersama pelaku maksiat dan yang membuat orang menjauh dari kebenaran. Beliau berkata, “Jadikanlah di dalam hatimu dua perkara yang keduanya adalah takut kepada Ar-Rahman sambil menangis. Seandainya Rabbmu menghendaki niscaya kamu juga akan seperti mereka (pelaku maksiat), karena hati itu di antara jari-jemari Ar-Rahman.”

Sampai walaupun dalam keadaan menjatuhkan dan menerapkan hukum had, hukum had ini tetap dijatuhkan atas dasar kasih sayang kepadanya, bukan atas dasar balas dendam. Kita mengasihani orang yang pantas mendapatkan hukuman ini, karena dia telah dikuasai oleh Iblis dan setan yang menyebabkan dia berhak menerima hukuman ini. Ibarat orang yang kamu cintai dijadikan tawanan perang oleh musuhmu.

Maka pembukaan risalah ini dengan doa mengandung isyarat dari sang Imam rahimahullah akan hal ini. Doa beliau adalah beliau berdoa kepada Allah Jalla wa Ala agar Dia menjadikan kita termasuk orang yang: Jika diberi maka dia bersyukur, jika dia diuji maka dia bersabar, dan jika dia berdosa maka dia segera meminta ampun, karena ketiga sifat ini adalah tanda kebahagiaan.

  1. Jika diberi dia bersyukur.

Karena pemberian dari Allah Jalla wa Ala adalah nikmat dan Allah mencintai hamba-hambaNya yang bersyukur. Kesyukuran itu diwujudkan dengan ucapan dan juga amalan. “Bersyukurlah kepada-Ku dan kepada dua orang ibu bapakmu,” (QS. Luqman: 14) yakni dengan ucapan dan amalanmu. “Bekerjalah hai keluarga Daud untuk bersyukur (kepada Allah),” (QS. Saba`: 13) ini dengan cara beramal. “Dan bersyukurlah kepada-Ku dan janganlah kamu mengingkari (nikmat)-Ku,” (QS. Al-Baqarah: 152) ini dalam hal ucapan dan amalan.

Karenanya bersyukur itu berbeda dengan memuji (حَمْدٌ):

  1. Kesyukuran itu dilakukan karena mendapatkan nikmat, sementara memuji Allah dilakukan baik karena mendapat nikmat atau mendapatkan sebaliknya atau tidak mendapatkan apa-apa dan hanya sekedar ingin memuji Allah.
  2. Kesyukuran itu terwujud dengan ucapan dan amalan, sementara memuji Allah telah terwujud dengan ucapan walaupun belum diamalkan.

Masih ada banyak perbedaan lainnya yang sudah diketahui di kalangan ulama. Ini termasuk perkara yang harus diperhatikan, yaitu bahwa jika seorang hamba diberikan pemberian maka dia harus mensyukuri pemberian Allah Jalla wa Ala tersebut.

Mensyukuri pemberian Allah itu -sebagaimana yang telah kita sebutkan- dengan ucapan dan amalan:

  1. Ucapan dengan cara menyandarkan pemberian itu kepada Yang memberikannya, memuji-Nya dengan pemberian itu, dan tidak menyandarkannya kepada selain-Nya. “Dan apa saja nikmat yang ada pada kamu, maka dari Allah-lah (datangnya).” (QS. An-Nahl: 53) “Mereka mengetahui nikmat Allah, kemudian mereka mengingkarinya.” (QS. An-Nahl: 83)
  2. Dari sisi amalan, kesyukuran itu dengan cara menggunakan semua nikmat itu pada perkara yang dicintai oleh Yang memberikan dan menyediakannya.

Inilah ibadah yang Allah Jalla wa Ala cintai bahkan di antara ibadah terbesar yang Allah cintai, yaitu seorang hamba bersyukur kepadanya-Nya. Karenanya Allah berfirman:

وَقَلِيلٌ مِنْ عِبَادِي الشَّكُورُ

“Dan sedikit sekali dari hamba-hambaKu yang berterima kasih.” (QS. Saba`: 13)

ذُرِّيَّةَ مَنْ حَمَلْنَا مَعَ نُوحٍ إِنَّهُ كَانَ عَبْدًا شَكُورًا

“Anak cucu dari orang-orang yang Kami bawa bersama-sama Nuh. Sesungguhnya dia adalah hamba (Allah) yang banyak bersyukur.” (QS. Al-Isra`: 3)

Yakni: Wahai anak cucu orang-orang yang Kami bawa bersama-sama Nuh, sungguh dia adalah hamba yang banyak bersyukur kepada Allah Jalla wa Ala. Ulama tafsir berkata, “Jika beliau (Nuh) makan makanan maka beliau bersyukur kepada Allah atasnya, jika beliau minum minuman maka beliau bersyukur kepada Allah atasnya, dan jika beliau memakai pakaian maka beliau bersyukur kepada Allah atasnya.[3]” Maksudnya hendaknya dia berlepas dari semua daya dan kekuatan dalam hal nikmat yang datang kepadanya atau yang dimudahkan untuknya, serta dia mengakui bahwa semuanya itu dari Allah Jalla wa Ala.

Kesyukuran mempunyai hubungan yang erat dengan tauhid. Al-Imam rahimahullah ketika menyebutkan kesyukuran atas pemberian, kesabaran atas musibah, dan istighfar dari dosa, ketika beliau menyebutkannya kelihatannya beliau memperhatikan keadaan orang yang bertauhid. Allah memerintahkannya untuk bersifat dengan sifat yang Dia senang kalau hamba senantiasa bersifat dengannya. Karena orang yang bertauhid ini telah diberikan sebuah nikmat yang tidak sebanding dengan nikmat manapun, yaitu bahwa dia berada di atas Islam yang benar dan di atas tauhid yang murni, yang Allah menjanjikan pemeluknya dengan kebahagiaan di dunia dan akhirat.

Tatkala orang yang bertauhid pasti mendapatkan ujian berupa musibah, beliau meminta kepada Allah agar:

  1. Jika dia diuji maka dia bersabar.

Ujian bisa dalam bentuk ucapan yang ditujukan kepadanya, bisa dalam ujian yang mengenai tubuhnya, dan bisa juga mengenai hartanya atau selainnya.

Beliau berkata selanjutnya:

  1. Jika dia berdosa maka dia segera meminta ampun.

Karena orang yang bertauhid pasti suatu ketika pernah berpaling dan pernah terjatuh ke dalam dosa, baik dosa-dosa kecil maupun dosa-dosa besar. Di antara nama-nama Allah Jalla wa Ala adalah Al-Ghafur (Maha Pengampun) dan pastinya pengaruh nama ini akan nampak pada makhluk dan kekuasaan-Nya. Karenanya Allah mencintai hamba-Nya yang bertauhid lagi ikhlas agar dia senantiasa meminta ampun kepada-Nya. Jika hamba meninggalkan istighfar maka kesombongan akan mendatanginya, padahal kesombongan itu bisa menghapuskan banyak amalan.

Karenanya di sini beliau berkata, “Dan jika dia berdosa maka dia segera meminta ampun, karena ketiga sifat ini adalah tanda kebahagiaan.” Jadi, ketiga sifat ini mempunyai hubungan saling mengharuskan dalam kehidupan setiap orang yang bertauhid yaitu: Mensyukuri pemberian, bersabar atas ujian, dan meminta ampun dari dosa dan maksiat. Setiap kali tauhid bertambah besar di dalam hati maka ketiga sifat ini juga semakin besar, sampai si hamba berjalan dalam keadaan tidak menganggap selain Allah berhak mendapatkan amalan dan perbuatannya. Dan jika dia lalai darinya maka istighfarnya adalah istighfar yang tidak berhak. Karenanya Nabi alaihishshalatu wassalam meminta ampun sehari semalam lebih dari 100 kali[4]. Dan dalam riwayat Ash-Shahih disebutkan, “Beliau meminta ampun dalam satu majelis sebanyak 70 kali.[5]

Orang yang bertauhid mempunyai ancaman yang serius, yaitu ancaman tertipu dan berbangga. Tertipu karena merasa dirinya termasuk orang yang bertauhid atau orang yang mewujudkan ittiba’ kepada ulama salaf atau orang berilmu, sehingga di dalam hatinya tidak ada sifat tunduk dan merendah yang Allah telah haramkan dia mendapatkannya. Padahal kedua sifat ini merupakan sebab dia mendapatkan wasilah ini yaitu wasilah tauhid kepada Allah Jalla Jalaluh. Kedudukan Allah sangat besar tapi bersamaan dengan itu Dia hanya meminta sesuatu yang ringan dari hamba-hambaNya. Karenanya masalah tauhid sangat besar kedudukannya sedangkan kesyirikan dan wasilahnya sangat buruk kedudukannya.

__________________

[1] Karena lafazh doa ini tidak dijelaskan oleh Asy-Syaikh Saleh, maka kami mengutip syarah berikut dari syarah Asy-Syaikh Ahmad An-Najmi rahimahullah. Beliau berkata:

“Betapa indah dan hebatnya doa ini. Karenanya siapa saja yang Allah jadikan sebagai wali-Nya di dunia dan akhirat maka sungguh dia telah beruntung. Dia selamat dan meraih semua derajat tertinggi dan Allah memuliakannya dengan surga yang barangsiapa yang memasukinya maka dia akan selalu hidup dan tidak akan mati, selalu sehat dan tidak akan pernah sakit, selalu muda dan tidak akan tua. Jika Allah menjadikanmu sebagai wali-Nya di dunia, maka kamu akan mudah mendapatkan ilmu yang benar yang terambil dari Al-Kitab dan As-Sunnah serta Dia akan memberikan taufik kepadamu untuk mengamalkannya. Jika Dia menjadikanmu sebagai wali-Nya di akhirat, maka Dia akan menjauhkan semua siksaan darimu dan memudahkan untukmu semua sebab kebahagiaan. Sehingga alam barzakh bagimu adalah kenikmatan dan setelah itu kamu menang dengan mendapatkan surga.

Jika Dia menjadikanmu berberkah dimanapun kamu berada maka kamu telah mendapatkan semua yang diidam-idamkan oleh orang-orang saleh berupa amalan saleh yang ikhlas untuk Allah Jalla wa Ala. Semua amalan saleh lagi ikhlas ini akan menghasilkan kebaikan pada ketika tempat: Dunia, barzakh, dan akhirat.” (At-Ta’liqat Al-Bahiyyah ‘ala Al-Qawa’id Al-Arba’ Al-Aqdiyah)

[2] Yaitu dengan cara mengulangi kalimatnya.

[3] Tafsir Ibni Katsir: 3/28

[4] HR. Muslim no. 4870 dari Al-Aghar Al-Muzani.

[5] HR. Al-Bukhari no. 5832 dari Abu Hurairah.

Share and Enjoy:
  • Print
  • Digg
  • StumbleUpon
  • del.icio.us
  • Facebook
  • Yahoo! Buzz
  • Twitter
  • Google Bookmarks

This entry was posted on Wednesday, June 17th, 2015 at 6:06 pm and is filed under Syarh al-Qawaid al-Arba'. You can follow any responses to this entry through the RSS 2.0 feed. Both comments and pings are currently closed.

Comments are closed.