Tidak Boleh Ada Gharar Dalam Muamalat

November 3rd 2008 by Abu Muawiah |

Tidak Boleh Ada Gharar Dalam Muamalat

Dhabit ketiga : Tidak boleh ada gharor dalam mu’amalat.
Dhabit ketiga ini merupakan salah satu dasar pokok dalam bab mu’amalat dan perkara yang sangat diperhatikan dalam syari’at Islam untuk mewujudkan kemaslahatan di tengah manusia dan mencegah terjadinya bahaya dan mafsadat dalam kehidupan mereka.

Definisi Gharor:
Gharor secara bahasa berputar di atas makna : kurang, bahaya, menghadapkan diri pada kebinasaan atau perkara yang tidak diketahui.
Dan secara istilah, para ulama meberikan definisi yang tidak jauh berbeda, mungkin bisa disimpulkan bahwa gharor adalah apa yang belum diketahui akan diperoleh atau apa yang tidak diketahui hakikat dan kadarnya.

Dalil-dalil haramnya gharor:
Diriwayatkan oleh Imam Muslim dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu :
نَهَى رسولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَعَلَى آلِهِ وَسَلَّمَ عَنْ بَيْعِ الْغَرَرِ
“Rasulullah shollallahu ‘alaihi wa ‘ala alihi wa sallam melarang dari jual beli (dengan cara) gharor”.
Larangan gharor ini juga dikuatkan dalam riwayat-riwayat yang semakna dengannya, seperti :
1.    Hadits Hakim bin Hizam secara marfu’ :
لاَ تَبِعْ مَا لَيْسَ عِنْدَكَ
“Jangan kamu jual apa yang tidak ada disisimu (padamu)”.
Maksudnya : Jangan kamu menjual apa yang bukan milikmu, belum kamu pegang atau di luar kemampuanmu. Masuk juga didalamnya seperti menjual burung yang berada di angkasa atau ikan yang berada di laut dan yang semisalnya
2.    Larangan tentang ‘Asbil Fahl yaitu menyewakan hewan jantan baik dari jenis onta, kuda, sapi, kambing, ayam dan selainnya untuk mengawini hewan betina. Larangan tersebut tertera dalam hadits Jabir radhiyallahu ‘anhuma riwayat Muslim dan hadits Ibnu ‘Umar radhiyallahu ‘anhuma riwayat Al-Bukhari.
Diharamkannya ’Asbil Fahl ini karena air hewan jantan tidak diketahui kadar dan ukurannya, menghasilkan buah atau tidak sehingga semua ini masuk ke dalam kategori gharor.
3.    Hadits Ibnu ‘Umar radhiyallahu ‘anhuma riwayat Al-Bukhary dan Muslim:
نَهَى النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَعَلَى آلِهِ وَسَلَّمَ عَنْ بَيْعِ حَبَلِ الْحَبَلَةِ
“Nabi shollallahu ‘alaihi wa ‘ala alihi wa sallam melarang dari menjual anak dari anak yang berada dalam perut onta”.
Larangan ini tentunya karena ada gharor dalam mu’amalat seperti ini, tidak diketahui dalam perut onta ini jantan atau betina, hidup atau mati, kembar atau tidak dan lebih-lebih anaknya kelak.
4.    Hadits Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu riwayat Muslim tentang larangan menjual dengan lemparan kerikil. Dan larangan tersebut pada dua bentuknya:
Satu : Penjual berkata kepada pembeli : “Lemparlah kerikil, kerikil jatuh di atas barang apa saja maka harga barangnya Rp. 10.000,-“, dan penjual memiliki aneka ragam barang dari harga di bawah Rp. 10.000,- sampai harga lipat ganda di atas Rp. 10.000,-. Maka andaikata kerikilnya jatuh di atas kotak korek api yang kosong maka harganya juga Rp. 10.000,-. Ini tentunya masuk dalam bentuk gharor.
Dua : Penjual tanah berkata kepada pembeli : “Lemparlah kerikil, sejauh mana kerikil itu jatuh maka itu adalah tanah milikmu dengan harga sekian (harga yang telah ia tentukan)”.
Bentuk gharor dalam bentuk kedua ini juga jelas, sebab orang-orang berbeda dalam kekuatan melempar dan kencangnya hembusan angin juga berbeda. Wallahu a’lam.
5.    Hadits Abu Sa’id Al-Khudry radhiyallahu ‘anhu :
أَنَّ رَسُوْلَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَعَلَى آلِهِ وَسَلَّمَ نَهَى عَنِ الْمُنَابَذَةِ وَالْمُلاَمَسَةِ
“Sesungguhnya Rasulullah shollallahu ‘alaihi wa ‘ala alihi wa sallam melarang dari Al-Munabadzah dan Al-Mulamasah”.
Al-Munabadzah adalah seorang penjual berkata kepada pembeli : “Kalau saya lempar barang ini kepadamu maka wajib untuk dibeli”, walaupun barangnya belum dibuka atau diperiksa.
Al-Mulamasah adalah seorang penjual berkata kepada pembeli : “Apa saja yang kamu sentuh maka harus dibeli”, walaupun belum dilihat dan diperiksa.
Bentuk gharor dalam Al-Munabadzah dan Al-Mulamasah ini tentunya jelas. Karena itu wajar ada larangan dari perbuatan ini.
6.    Hadits Ibnu ‘Umar dan lainnya riwayat Al-Bukhary dan Muslim :
أَنَّ رَسُوْلَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَعَلَى آلِهِ وَسَلَّمَ نَهَى عَنْ بَيْعِ الثَّمَرَةِ حَتَّى يَبْدُوْ صَلاَحُهَا, نَهَى الْبَائِعَ وَالْمُشْتَرِيْ
“Sesungguhnya Rasulullah shollallahu ‘alaihi wa ‘ala alihi wa sallam melarang  jual beli buah pohon sampai nampak baiknya, beliau melarang penjual dan pembeli”.
Pohon yang baru berbuah dan belum nampak apakah hasilnya nanti baik atau tidak, penjualannya masuk ke dalam gharor. Karena itu syari’at Islam hanya membolehkan menjual buah di pohon kalau hasil sudah jelas nampak baik.

Syarat-syarat gharor terlarang:
Para ‘ulama mensyaratkan beberapa perkara yang harus terpenuhi sehingga suatu mu’amalah dianggap terlarang karena gharar :
Satu: Hendaknya jumlah ghararnya banyak dan mendominasi akad mu’amalah.
Karena itu para ulama sepakat bahwa gharor yang sedikit tidak menghalangi syahnya akad mu’amalah apabila tidak mungkin untuk lepas dari gharor tersebut secara keseluruhan.
Para ulama memberi contoh seperti masuk ke dalam WC dengan upah. Telah dimaklumi bahwa orang-orang yang masuk ke dalam WC memiliki perbedaan dalam banyaknya menggunakan air dan lamanya berdiam di WC tersebut. Tapi karena gharornya sedikit, tidak mendominasi akad mu’amalah dan tidak mungkin gharor dihindari secara keseluruhan maka para ulama membolehkannya.
Dua: Mungkin terhindar dari gharor tanpa kesulitan.
Para ulama sepakat bahwa gharor yang tidak mungkin terhindar darinya kecuali dengan kesulitan dan berat, maka hal tersebut bisa dimaafkan.
Para ulama memberi contoh seperti pondasi bangunan. Orang membeli rumah tidak mengetahui bagaimana pondasinya dan kekuatannya. Ini terhitung gharor namun kebanyakan orang yang membeli rumah tidak tahu kondisi pondasinya dan sangatsulit untuk mengetahui hal tersebut tapi gharor seperti ini dimaafkan karena susah untuk dihindari.
Demikian pula seperti membeli buah di pohon yang sudah nampak baiknya, tidak diketahui bagaimana akhir dari buah tersebut ketika dipanen, apakah tetap baik atau berubah. Ini juga terhitung gharor tapi dimaafkan karena susah untuk dihindari.
Tiga: Tidak adanya kepentingan umum yang mengharuskan dimaafkannya gharor tersebut.
Kepentingan-kepentingan umum terhitung kondisi darurat menurut keterangan Al-Juwainy dan Ibnu Rusyd.
Berkata Ibnu Taimiyah dalam Majmu’ Al-Fatawa 29/227 : “Syari’at tidaklah mengharamkan apa yang dibutuhkan oleh manusia berupa jual beli (hanya) karenanya ada bentuk gharar, bahkan syari’at membolehkan apa yang dibutuhkan darinya (keperluan umum,-pent.)”. Lihat juga 32/236, 29/25-26.
Dalil yang dipakai untuk syarat yang ketiga ini adalah hadits-hadits tentang larangan menjual buah pohon sampai nampak baik.
Sisi pendalilannya adalah Nabi shollallahu ‘alaihi wa ‘ala alihi wa sallam memberi keringanan bolehnya buah dijual setelah nampak baiknya walaupun buahnya belum sempurna. Maka ini menunjukkan bolehnya menjalani gharor saat ada keperluan umum untuk hal tersebut. Lihat Majmu’  Al-Fatawa : 20/341 dan I’lamul Muwaqqi’in : 2/6-7.
Empat: Hendaknya gharor tersebut adalah hanya sekedar cabang pengikut bukan asal/pokok.
Berkata Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah : “Dan Nabi shollallahu ‘alaihi wa ‘ala alihi wa sallam membolehkan apabila pohon korma yang telah dita`bir (dikawinkan,-pent.) dijual, si pembeli mensyaratkan buahnya (untuk dirinya), maka berarti dia telah membeli buah sebelum nampak baiknya. Tapi (pensyaratan tersebut -pent.) hanya sekedar cabang yang ikut kepada asalnya. Maka nampaklah bahwa diperbolehkan gharor yang sedikit sebagai bagian dan cabang dari apa yang tidak diperbolehkan pada selainnya”. Lihat Majmu’  Al-Fatawa : 29/26.

Lima: Hendaknya gharor tersebut pada Ahkamul Mu’awadhat (hukum-hukum pergantian/pertukaran) dan yang semakna dengannya seperti Nikah.
Para ulama sepakat akan bolehnya gharor pada wasiat. Adapun selain wasiat dari Ahkamut Tabarru’at (hukum-hukum Derma) seperti : hibah, shadaqah, pemberian dan lain-lainnya, para ulama berselisih apakah diharuskan terhindar dari gharor atau tidak, ada dua pendapat :
1.    Tidak mengapa ada gharor dalam Tabarru’at. Ini adalah madzhab Malikiyah dan dikuatkan oleh Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah, Ibnul Qoyyim dan Al-Haritsy dari kalangan Hanbaliyah.
2.    Dalam Tabarru’at juga harus terhindar dari gharor. Ini adalah madzhab Hanafiyah, Syafi’iyah, Hanbaliyah dan Ibnu Hazm dari madzhab Zhohiriyah.

Tarjih:
Yang kuat adalah pendapat yang pertama berdasarkan hadits ‘Abdullah bin ‘Amr bin ‘Ash radhiyallahu ‘anhuma, Nabi shollallahu ‘alaihi wa ‘ala alihi wa sallam bersabda kepada orang yang meminta dari beliau sesuatu dari ghanimah (harta rampasan perang) :
أَمَّا مَا كَانَ لِيْ وَلِبَنِيْ عَبْدِ الْمُطَّلِبِ فَهُوَ لَكَ
“Adapun yang merupakan bagianku dan bagian Bani ‘Abdil Muththolib, maka itu adalah untukmu”. (Dihasankan oleh Al-Albany dalam Al-Irwa`: 5/36-37).
Hadits ini menunjukkan bahwa gharor dalam Tabarru’at itu dimaafkan karena Nabi shollallahu ‘alaihi wa ‘ala alihi wa sallam menghibahkan bagiannya dan bagian Bani ‘Abdul Muththolib sedangkan tidak diketahui kadar dan jumlah bagian tersebut.

Incoming search terms:

  • gharar dalam islam
  • pendapat madzhab tentang gharar dalam wasiat
Share and Enjoy:
  • Print
  • Digg
  • StumbleUpon
  • del.icio.us
  • Facebook
  • Yahoo! Buzz
  • Twitter
  • Google Bookmarks

This entry was posted on Monday, November 3rd, 2008 at 9:58 pm and is filed under Ekonomi Islam. You can follow any responses to this entry through the RSS 2.0 feed. Both comments and pings are currently closed.

3 responses about “Tidak Boleh Ada Gharar Dalam Muamalat”

  1. budi said:

    bagaimana kalau kita mmesan motor dr sbuah dealer. krn jaraknya jauh,
    kita hanya memesan jenis yg kita inginkan,
    kmudian barang dikirim stlh ana transfer uang,…
    & bila tdpt ca2t, kita bs menukarnya

    apakah ada bntuk gharar d dlmx?
    Jazaakumullaahu khair

    Kalau langsung beli cash ke dealer insya Allah tidak masalah, selama barang yang diantar sesuai dengan yang kita pesan. Tapi kalau belinya kredit dari dealer dengan perantaraan perusahaan pembiayaan atau bank, maka di sini ada pembahasan tersendiri.

  2. Abu Hafshah singkep said:

    Bismillah, apakah termasuk gharor kalau kita membeli sejumlah mata uang asing dgn spekulasi suatu waktu nanti nilai mata uang asing tsb bakal naik, ternyata setelah sekian lama mata uang asing tsb tdk naik malah turun ? Jazakallahu khairan

    Ini termasuk dari bentuk maysir (sejenis perjudian) yang terlarang, dimana seseorang mengeluarkan sejumlah uang lalu dengan apa yang dia beli tersebut, dia mungkin akan untung dan mungkin juga akan rugi.

  3. mustafa said:

    minta hadits tentang gharar yang lengkap dengan sanadnya dari yang terakhir sampai rasulullah saw.

    Berikut adalah sanadnya dalam shahih muslim no. 2783:
    و حَدَّثَنَا أَبُو بَكْرِ بْنُ أَبِي شَيْبَةَ حَدَّثَنَا عَبْدُ اللَّهِ بْنُ إِدْرِيسَ وَيَحْيَى بْنُ سَعِيدٍ وَأَبُو أُسَامَةَ عَنْ عُبَيْدِ اللَّهِ ح و حَدَّثَنِي زُهَيْرُ بْنُ حَرْبٍ وَاللَّفْظُ لَهُ حَدَّثَنَا يَحْيَى بْنُ سَعِيدٍ عَنْ عُبَيْدِ اللَّهِ حَدَّثَنِي أَبُو الزِّنَادِ عَنْ الْأَعْرَجِ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ
    نَهَى رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَنْ بَيْعِ الْحَصَاةِ وَعَنْ بَيْعِ الْغَرَرِ
    Dan telah menceritakan kepada kami Abu Bakar bin Abi Syaibah telah menceritakan kepada kami Abdullah bin Idris dan Yahya bin Sa’id serta Abu Usamah dari Ubaidillah. Dan diriwayatkan dari jalur lain, telah menceritakan kepadaku Zuhair bin Harb sedangkan lafazh darinya, telah menceritakan kepada kami Yahya bin Sa’id dari ‘Ubaidillah telah menceritakan kepadaku Abu Az Zinad dari Al A’raj dari Abu Hurairah dia berkata; Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam melarang jual beli dengan cara hashah (yaitu: jual beli dengan melempar kerikil) dan cara lain yang mengandung unsur penipuan.”