Tidak Ada Diskriminasi dalam Kesyirikan

July 15th 2015 by Abu Muawiah |

Kaidah Ketiga

Tidak Ada Diskriminasi dalam Kesyirikan

 

Asy-Syaikh Muhammad bin Abdil Wahhab rahimahullah berkata:

          اَلْقَاعِدَةُ الثَّالِثَةُ: أَنّ النَّبِيَّ r ظَهَرَ عَلَى أُناسٍ مُتَفَرِّقِيْنِ فَي عِباداتِهِمْ: مِنْهُمْ مَنْ يَعْبُدُ الْمَلائِكَةَ، وَمِنْهُمْ مَنْ يَعْبُدُ الْأَنْبِياءَ وَالصّالِحِيْنَ، ومنهم من يعبد الْأَحْجارَ وَالْأَشْجارَ، ومنهم مَن يعبد الشَّمْسَ وَالْقَمَرَ. وَقاتَلَهُمْ رَسُوْلُ الله r وَلَمْ يُفَرِّقْ بَيْنَهُمْ. وَالدَّلِيْلُ قَوْلُهُ تَعالَى: ﴿وَقَاتِلُوهُمْ حَتَّى لَا تَكُونَ فِتْنَةٌ وَيَكُونَ الدِّينُ لِلَّهِ﴾

          وَدَلِيْلُ الشَّمْسِ والْقَمَرِ قَوْلُهُ تَعالَى: ﴿وَمِنْ آيَاتِهِ اللَّيْلُ وَالنَّهَارُ وَالشَّمْسُ وَالْقَمَرُ لَا تَسْجُدُوا لِلشَّمْسِ وَلَا لِلْقَمَرِ﴾

          ودليل الملائكةِ قوله تعالى: ﴿وَلَا يَأْمُرَكُمْ أَنْ تَتَّخِذُوا الْمَلَائِكَةَ وَالنَّبِيِّينَ أَرْبَابًا﴾

          ودليل الأنبياءِ قوله تعالى: ﴿وَإِذْ قَالَ اللَّهُ يَا عِيسَى ابْنَ مَرْيَمَ أَأَنتَ قُلْتَ لِلنَّاسِ اتَّخِذُونِي وَأُمِّي إِلَهَيْنِ مِنْ دُونِ اللَّهِ قَالَ سُبْحَانَكَ مَا يَكُونُ لِي أَنْ أَقُولَ مَا لَيْسَ لِي بِحَقٍّ إِنْ كُنتُ قُلْتُهُ فَقَدْ عَلِمْتَهُ تَعْلَمُ مَا فِي نَفْسِي وَلَا أَعْلَمُ مَا فِي نَفْسِكَ إِنَّكَ أَنْتَ عَلَّامُ الْغُيُوبِ﴾

          ودليل الصَّالِحِيْنَ قوله تعالى: ﴿أُوْلَئِكَ الَّذِينَ يَدْعُونَ يَبْتَغُونَ إِلَى رَبِّهِمْ الْوَسِيلَةَ أَيُّهُمْ أَقْرَبُ وَيَرْجُونَ رَحْمَتَهُ وَيَخَافُونَ عَذَابَهُ﴾ الآيةَ

          ودليل الأحجارِ والأشجارِ قوله تعالى: ﴿أَفَرَأَيْتُمْ اللَّاتَ وَالْعُزَّى. وَمَنَاةَ الثَّالِثَةَ الْأُخْرَى﴾

وَحَدِيْثُ أَبِي واقِدٍ اللَّيْثِي t قالَ: خَرَجْنا مَعَ النَّبِيِّ r إِلَى حُنَيْنٍ, وَنَحْنُ حُدَثاءِ عَهْدٍ بِكُفْرٍ. وَلِلْمُشْرِكِيْنَ سِدْرَةٌ, يَعْكُفُوْنَ عِنْدَها وَيَنُوْطُوْنَ بِهَا أَسْلِحَتَهُمْ, يُقالُ لَها: ذاتُ أَنْواطٍ. فَمَرَرْنا بِسِدْرَةٍ, فَقُلْنا: يا رسولَ اللهِ, اِجْعَلْ لَنا ذَاتَ أَنْواطٍ كَما لَهُمْ ذَاتُ أَنْواطٍ… اَلْحَدِيْثَ

[Terjemah]

Kaidah Ketiga: Bahwa Nabi shallallahu alaihi wasallam diutus kepada umat manusia yang beraneka ragam dalam ibadahnya: Di anatar mereka ada yang menyembah para malaikat, di antara mereka ada yang menyembah para nabi dan orang-orang saleh, di antara mereka ada yang menyembah bebatuan dan pepohonan, dan di antara mereka ada yang menyembah matahari dan bulan. Akan tetapi Rasulullah shallallahu alaihi wasallam

memerangi mereka seluruhnya tanpa membeda-bedakan di antara mereka. Dalil akan hal ini adalah firman Allah Ta’ala, “Dan Perangilah mereka hingga tidak ada lagi fitnah (kesyirikan), dan semua amalan (ibadah) itu hanya milik Allah.” (QS. Al-Baqarah: 193)

Dalil adanya penyembahan kepada matahari dan bulan adalah firman Allah Ta’ala, “Dan sebagian dari tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah malam, siang, matahari dan bulan. Janganlah bersujud kepada matahari dan janganlah [pula] kepada bulan.[1] (QS. Fushilat : 37).

Dalil adanya penyembahan kepada para malaikat adalah firman Allah Ta’ala, “Dan dia (Muhammad) tidaklah pernah memerintah kalian untuk menjadikan para malaikat dan para nabi sebagai sembahan.[2] (QS. Ali Imran: 80)

Dalil adanya penyembahan kepada para Nabi adalah firman Allah Ta’ala, “Dan [ingatlah] ketika Allah berfirman:”Hai ‘Isa putera Maryam, adakah kamu mengatakan kepada manusia:”Jadikanlah aku dan ibuku dua orang Ilah selain Allah”. ‘Isa menjawab:”Maha Suci Engkau, tidaklah patut bagiku mengatakan apa yang bukan hakku [mengatakannya]. Jika aku pernah mengatakannya maka tentulah Engkau telah mengetahui apa yang ada pada diriku dan aku tidak mengetahui apa yang ada pada diri-Mu. Sesungguhnya Engkau Maha Mengetahui perkara yang ghaib-ghaib.” (QS. Al-Maidah : 116).

Dalil akan adanya penyembahan kepada orang-orang saleh adalah firman Allah Ta’ala, “Mereka yang mereka menyembah kepada mereka, sembahan mereka tersebut senantiasa mencari wasilah kepada Rabb mereka, siapa di antara mereka yang paling dekat, mereka mengharapkan rahmat-Nya, dan khawatir akan siksaan-Nya.[3]” (QS. Al-Isra`: 57) sampai akhir ayat.

Dalil akan adanya penyembahan kepada pepohonan dan bebatuan adalah firman Allah Ta’ala, “Bagaimana pendapat kalian tentang Al-Lata dan Uzza, serta Manat (sebagai sembahan) yang ketiga.” (QS. An-Najm: 19-20)

Dan juga hadits Abi Waqid Al-Laitsi radhiallahu anhu dia berkata, “Kami pernah keluar bersama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menuju (perang) Hunain, dan ketika itu kami baru saja lepas dari kesyirikan. Sementara itu, kaum musyrikin mempunyai sebuah pohon bidara yang mereka biasa berdiam di sisinya dan mereka menggantungkan pedang-pedang mereka di situ. Pohon tersebut bernama Dzatu Anwath (yang mempunyai gantungan-gantungan). Lalu kami melalui pohon bidara tersebut dan sebagian kami mengatakan: “Wahai Rasulullah, buatlah bagi kami Dzatu Anwath seperti yang mereka (musyrikin) miliki ….” sampai akhir hadits.

 

[Syarh]

Kaidah di atas, di dalamnya terdapat pendahuluan dan hasilnya. Adapun pendahuluannya, maka kembalinya kepada mengetahui keadaan orang-orang Arab dahulu, berupa apa yang Allah Jalla wa Ala kabarkan tentang bagaimana penyembahan mereka dan apa-apa saja yang menjadi sembahan mereka, bahwasanya bentuk-bentuknya sangat beraneka ragam. Di antara mereka ada yang menyembah matahari dan bulan, dan beliau menyebutkan dalilnya yaitu firman Allah Ta’ala:

﴿لَا تَسْجُدُوا لِلشَّمْسِ وَلَا لِلْقَمَرِ. وَاسْجُدُوا ِللهِ الَّذِي خَلَقَهُنَّ إِنْ كُنْتُمْ إِيّاهُ تُعْبُدُوْنَ﴾

“Janganlah bersujud kepada matahari dan janganlah [pula] kepada bulan, tetapi bersujudlah kepada Allah Yang menciptakannya, jika kamu hanya kepada-Nya saja menyembah.” (QS. Fushilat : 37).

Ini adalah salah satu bentuk penyembahan orang-orang Arab. Kemudian, di antara mereka -dan juga selain mereka (orang-orang Arab)- ada yang menyembah pohon dan batu. Dan di antara mereka ada yang menyembah para malaikat. Sebagaimana pada firman Allah Jalla wa Ala:

﴿وَيَوْمَ يَحْشُرُهُمْ جَمِيعًا ثُمَّ يَقُولُ لِلْمَلَائِكَةِ أَهَؤُلَاءِ إِيَّاكُمْ كَانُوا يَعْبُدُونَ. قَالُوا سُبْحَانَكَ أَنْتَ وَلِيُّنَا مِنْ دُونِهِمْ

“Dan [ingatlah] hari [yang di waktu itu] Allah mengumpulkan mereka semuanya kemudian Allah berfirman kepada malaikat:”Apakah mereka ini dahulu menyembah kamu?” Malaikat-malaikat itu menjawab:”Maha Suci Engkau.Engkaulah pelindung kami, bukan mereka.” (QS. Saba`: 40-41)

Di antara manusia -orang-orang Arab dan selain mereka- ada yang menyekutukan Allah dengan para malaikat dan di antara mereka ada yang menyekutukan Allah dengan para nabi seperti Isa alaihissalam. Allah Jalla wa Ala berfirman tentang beliau:

﴿وَإِذْ قَالَ اللَّهُ يَا عِيسَى ابْنَ مَرْيَمَ أَأَنتَ قُلْتَ لِلنَّاسِ اتَّخِذُونِي وَأُمِّي إِلَهَيْنِ مِنْ دُونِ اللَّهِ قَالَ سُبْحَانَكَ مَا يَكُونُ لِي أَنْ أَقُولَ مَا لَيْسَ لِي بِحَقٍّ إِنْ كُنتُ قُلْتُهُ فَقَدْ عَلِمْتَهُ تَعْلَمُ مَا فِي نَفْسِي وَلَا أَعْلَمُ مَا فِي نَفْسِكَ إِنَّكَ أَنْتَ عَلَّامُ الْغُيُوبِ﴾

“Dan [ingatlah] ketika Allah berfirman:”Hai ‘Isa putera Maryam, adakah kamu mengatakan kepada manusia:”Jadikanlah aku dan ibuku dua orang Ilah selain Allah”. ‘Isa menjawab:”Maha Suci Engkau, tidaklah patut bagiku mengatakan apa yang bukan hakku [mengatakannya]. Jika aku pernah mengatakannya maka tentulah Engkau telah mengetahui apa yang ada pada diriku dan aku tidak mengetahui apa yang ada pada diri-Mu. Sesungguhnya Engkau Maha Mengetahui perkara yang ghaib-ghaib.” (QS. Al-Maidah : 116)

Maka ayat ini menjelaskan bahwa Allah telah disekutukan dengan Isa alaihissalam. Allah Ta’ala juga telah disekutukan dengan orang-orang saleh. Allah Jalla wa Ala berfirman:

﴿إِنَّ الَّذِينَ سَبَقَتْ لَهُمْ مِنَّا الْحُسْنَى أُوْلَئِكَ عَنْهَا مُبْعَدُونَ. لَا يَسْمَعُونَ حَسِيسَهَا

“Sesungguhnya orang-orang yang telah tetap bagi mereka kebaikan dari sisi Kami, mereka itulah orang-orang yang dijauhkan (dari neraka). Mereka tidak mendengar suaranya.” (QS. Al-Anbiya`: 101-102)

Disebutkan dalam sebab turunnya ayat ini bahwa tatkala turunnya firman Allah Jalla wa Ala:

﴿إِنَّكُمْ وَمَا تَعْبُدُونَ مِنْ دُونِ اللَّهِ حَصَبُ جَهَنَّمَ أَنْتُمْ لَهَا وَارِدُونَ. لَوْ كَانَ هَؤُلَاءِ آلِهَةً مَا وَرَدُوهَا

“Sesungguhnya kalian dan apa yang kalian sembah selain Allah, adalah umpan Jahannam, kalian pasti masuk ke dalamnya. Andaikata mereka-mereka itu adalah sembahan-sembahan (yang benar), tentulah mereka tidak akan masuk neraka.” (QS. Al-Anbiya`: 98-99)

Orang-orang Arab bergembira karenanya. Mereka berkata, “Kelak kami akan bersama Isa, kami akan bersama Uzair (sembahan Yahudi, pent.), kami akan bersama si anu dan si itu.” Maka kemudian turunlah firman Allah Jalla wa Ala:

﴿إِنَّ الَّذِينَ سَبَقَتْ لَهُمْ مِنَّا الْحُسْنَى أُوْلَئِكَ عَنْهَا مُبْعَدُونَ. لَا يَسْمَعُونَ حَسِيسَهَا

“Sesungguhnya orang-orang yang telah tetap bagi mereka kebaikan dari sisi Kami, mereka itulah orang-orang yang dijauhkan (dari neraka). Mereka tidak mendengar suaranya.” (QS. Al-Anbiya`: 101-102)

Maka kaum musyrikin ini, mereka mendekatkan diri kepada orang-orang saleh dengan menyerahkan berbagai bentuk ibadah kepada mereka. Mereka menyerahkan ibadah kepada para nabi, para rasul, dan orang-orang saleh. Mereka juga mendekatkan diri kepada pepohonan dan bebatuan. Allah Ta’ala berfirman:

﴿أَفَرَأَيْتُمْ اللَّاتَ وَالْعُزَّى. وَمَنَاةَ الثَّالِثَةَ الْأُخْرَى﴾

“Bagaimana pendapat kalian tentang Al-Lata dan Uzza, serta Manat (sebagai sembahan) yang ketiga.” (QS. An-Najm: 19-20)

Mereka juga mendekatkan diri kepada setan-setan dan jin-jin. Allah Ta’ala berfirman:

بَلْ كَانُوا يَعْبُدُونَ الْجِنَّ أَكْثَرُهُمْ بِهِمْ مُؤْمِنُونَ

“Bahkan mereka telah menyembah jin, kebanyakan mereka beriman kepada jin-jin itu.” (QS. Saba`: 41)

Allah Ta’ala berfirman:

وَأَنَّهُ كَانَ رِجَالٌ مِنْ الْإِنسِ يَعُوذُونَ بِرِجَالٍ مِنْ الْجِنِّ فَزَادُوهُمْ رَهَقًا

“Dan bahwasanya ada beberapa orang laki-laki dari kalangan manusia yang meminta perlindungan kepada beberapa laki-laki dari kalangan jin, maka jin-jin itu menambah bagi mereka dosa dan kesalahan.” (QS. Al-Jin: 6)

Inilah bentuk-bentuk ibadah yang dilakukan oleh orang-orang Arab yang terdapat dalam Al-Qur`an, dan keadaan orang-orang Arab sangat nampak dalam hal ini. Akan tetapi, apakah Allah Jalla wa Ala membeda-bedakan perintah-Nya kepada Nabi-Nya, antara satu kelompok kaum musyrikin dengan kelompok lainnya?! Apakah Allah berfirman kepada para nabi-Nya, “Siapa di antara mereka yang menyembah pepohonan, bebatuan, berhala, matahari, dan bulan, maka perangilah mereka. Adapun mereka yang hanya menjadikan orang-orang saleh dan para nabi sebagai pemberi syafaat[4], atau yang menjadikan orang-orang saleh dan para nabi sebagai wasilah untuk mendapatkan kedekatan dengan Allah Jalla wa Ala, maka mereka ini jangan kalian perangi.” Apakah Allah memerintahkan demikian?! Tidak, Allah tidak membeda-bedakan. Bahkan perintah yang datang dari-Nya adalah satu dan Dia menghukumi mereka seluruhnya sebagai orang-orang kafir lagi musyrik. Mereka diperangi seluruhnya, dan Allah Jalla wa Ala memerintahkan untuk memerangi semua kelompok-kelompok kaum musyrikin tersebut. Perintah memerangi mereka datang tanpa disertai adanya pembeda-bedaan. Allah Ta’ala berfirman:

﴿وَقَاتِلُوا الْمُشْرِكِينَ كَافَّةً كَمَا يُقَاتِلُونَكُمْ كَافَّةً

“Dan perangilah kaum musyrikin itu semuanya sebagaimana merekapun memerangi kalian semuanya.” (QS. At-Taubah: 36)

Perintah ini berlaku untum untuk seluruhnya.

Inilah hasil (yang diisyaratkan di atas, pent.), dimana sebelumnya merupakan pendahuluan. Jadi, tidak ada perbedaan jika dia menyembah seorang nabi, atau menyembah sebuah batu, atau menyembah sebuah pohon, atau menyembah jin, atau menyembah malaikat, semua hukumnya sama.

Karenanya, siapa saja orang yang ada di zaman ini yang hendak membeda-bedakan, yang berkata, “Orang-orang saleh adalah para wali, mereka mempunyai kedudukan yang dekat dengan Allah. Para nabi juga mempunyai kedudukan dan posisi yang tinggi di sisi Allah. Karenanya jika meminta syafaat kepada mereka, maka itu boleh saja dikarenakan mereka mempunyai kedudukan di sisi Allah Jalla wa Ala.”

Maka kita katakan kepadanya: “Apa bedanya antara penyembahan dan peribadatan kepada orang-orang saleh tersebut dengan peribadatan orang yang menyembah Isa atau menyembah Uzair atau menyembah orang-orang saleh?! Apa perbedaan antara yang ini dengan yang itu?!” Tidak diragukan bahwa hukum semuanya adalah sama. Ini adalah kaidah pasti bahwa tidak ada perbedaan antara yang ini dengan yang itu. Hal itu karena poros dari masalah ini adalah penyembahan hati. Jika hati itu telah menyembah selain Allah, maka tidak ada perbedaan baik yang disembah itu adalah orang yang saleh atau orang yang fasik, nabi atau bukan nabi, baik itu pohon, atau dia malaikat, semua hukumnya sama. Karena penyembahan hati itu wajib hanya untuk Allah semata, dan amalan hati itu hanya milik Allah semata. Allah Ta’ala berfirman:

﴿أَلَا لِلَّهِ الدِّينُ الْخَالِصُ

“Katakanlah: Hanya milik Allah amalan yang murni (dari kesyirikan).” (QS. Az-Zumar: 3)

Allah Ta’ala berfirman:

﴿قُلْ اللَّهَ أَعْبُدُ مُخْلِصًا لَهُ دِينِي

“Katakanlah: Hanya Allah yang aku sembah, dengan memurnikan semua amalanku kepada-Nya.” (QS. Az-Zumar:  14)

Penyembahan ini adalah dari sudut tinjauan orang yang menyembah (kepada Allah, pent.), tanpa memperhatikan kepada siapa dia menyembah (selain Allah, pent.). Karenanya jika dia menyembah hanya kepada Allah Yang Maha Esa Lagi Maha Tunggal, maka dia adalah orang yang ikhlas lagi bertauhid. Namun jika dia menyembah kepada selain-Nya, maka dia adalah orang yang musyrik, siapapun sembahannya selain Allah itu. Karenanya Allah Jalla wa Ala berfirman:

﴿وَأَنَّ الْمَسَاجِدَ لِلَّهِ فَلَا تَدْعُوا مَعَ اللَّهِ أَحَدًا

“Sesungguhnya masjid-masjid itu adalah hanya milik Allah, maka janganlah sekali-kali kalian beribadah kepada siapapun bersama Allah.” (QS. Al-Jin: 18)

Firman-Nya, “Siapapun,” mencakup seluruhnya, sebagaimana yang telah kami sebutkan berulang kali.

Juga sebagaimana pada firman Allah Jalla wa Ala:

﴿وَمَنْ يَدْعُ مَعَ اللَّهِ إِلَهًا آخَرَ لَا بُرْهَانَ لَهُ بِهِ فَإِنَّمَا حِسَابُهُ عِنْدَ رَبِّهِ إِنَّهُ لَا يُفْلِحُ الْكَافِرُونَ

“Dan barangsiapa menyembah sembahan yang lain selain Allah, padahal tidak ada suatu dalilpun baginya tentang itu, maka sesungguhnya perhitungannya di sisi Tuhannya. Sesungguhnya orang-orang yang kafir itu tiada beruntung.” (QS. Al-Mu`minun: 117)

Firman Allah Ta’ala di sini,  “Tidak ada suatu dalilpun baginya tentang itu.” Ini adalah sifat semua yang menyembah selain Allah Jalla wa Ala, karena dia tidak mempunyai satupun argumen untuk apa yang dia sembah tersebut. Makna ayat ini tidak mempunyai pemahaman (kebalikan), dalam artian di sana ada sembahan selain Allah yang disembah dan dia mempunyai argumen padanya. Bahkan semua orang yang menyembah selain Allah atau berdoa kepada selain Allah, maka dia tidak mempunyai satupun argumen akan keberhakan selain Allah itu untuk disembah atau diibadahi.

Dan jika kita memperhatikan di zaman ini, mereka yang menyembah para wali, menyembah kuburan, dan tempat-tempat keramat. Mereka mendekatkan diri kepadanya, serta kepada para nabi dan rasul. Dan mereka mengatakan bahwa mereka semua ini mempunyai kedudukan di sisi Allah. Dan semisalnya mereka juga yakini terhadap para sahabat. Mereka juga meyakini bahwa pada setiap negeri ada orang saleh yang dijadikan jalan oleh orang-orang sebagai tempat mendekatkan diri. Mereka mengatakan, “Ini tidaklah seperti ibadahnya kaum musyrikin terdahulu.” Kenapa? Mereka mengatakan, “Karena ini adalah penyembahan kepada orang-orang saleh, sementara mereka (musyrikin terdahulu) menyembah patung-patung berhala, mereka menyembah bebatuan.”

Bagaimana bisa ucapan mereka ini diterima sementara Allah Jalla wa Ala telah berfirman dalam menyifati sembahan kaum musyrikin:

﴿أَمْوَاتٌ غَيْرُ أَحْيَاءٍ وَمَا يَشْعُرُونَ أَيَّانَ يُبْعَثُونَ

“Mereka ini orang-orang yang sudah mati, tidak hidup. Dan mereka tidak mengetahui kapan mereka akan dibangkitkan.” (QS. An-Nahl: 21)

Sebagian ulama tafsir -seperti Abu Hayyan dalam tafsirnya Al-Bahru Al-Muhith dan selainnya- menjelaskan bahwa ayat ini berkenaan dengan makhluk yang akan dibangkitkan. KarenaAllah berfirman, “Mereka ini orang-orang yang sudah mati, tidak hidup.” Sementara makhluk yang disifati mati hanyalah makhluk yang sebelumnya dia hidup. Karenanya berhala yang terbuat dari bebatuan, pepohonan, dan semacamnya tidaklah benar jika disifati dengan sifat mati dan tidak hidup. Yang bisa disifati seperti ini hanyalah makhluk yang di dalamnya ada kehidupan, kemudian dia mati. Makhluk seperti inilah yang disifati (dalam ayat ini) sebagai ‘mati lagi tidak hidup’. Hal ini Allah perjelas dengan firman-Nya, “Dan mereka tidak mengetahui kapan mereka akan dibangkitkan.” Karena sifat ini hanya bagi makhluk yang akan dibangkitkan pada hari kiamat untuk berjumpa dengan Allah Jalla wa Ala.

Jadi, apa yang dijadikan argumen oleh kaum musyrikin di zaman ini, di zaman Asy-Syaikh rahimahullah -dan ini terjadi di setiap tempat-, dimana mereka mengatakan, “Kami hanya mendekatkan diri kepada orang-orang saleh.” Kita katakan, “Kaum musyrikin terdahulu juga mendekatkan diri kepada orang-orang saleh.” Mereka berkata, “Kami hanya menjadikan mereka sebagai perantaran dan tidak meminta kepada mereka.” Kita katakan, “Kaum musyrikin terdahulu juga sama, mereka hanya menjadikan sembahan mereka sebagai perantara guna mendapatkan kedekatan dan syafaat (di sisi Allah), dan mereka sama sekali tidak meminta kepada sembahannya.” Maka keadaan kaum musyrikin sekarang sama persis dengan keadaan kaum musyrikin terdahulu, walaupun nama dan ungkapannya berubah. Keadaannya sama. Betapa miripnya malam ini dengan malam kemarin[5].

___________

[1]Di sebagian manuskrip ada yang menyebutkan ayat ini secara lengkap sampai akhir ayat.

[2]Di sebagian manuskrip, yang disebutkan sebagai dalilnya adalah firman Allah Ta’ala:

﴿وَإِذْ قَالَ اللَّهُ يَا عِيسَى ابْنَ مَرْيَمَ أَأَنتَ قُلْتَ لِلنَّاسِ اتَّخِذُونِي وَأُمِّي إِلَهَيْنِ مِنْ دُونِ اللَّهِ قَالَ سُبْحَانَكَ مَا يَكُونُ لِي أَنْ أَقُولَ مَا لَيْسَ لِي بِحَقٍّ إِنْ كُنتُ قُلْتُهُ فَقَدْ عَلِمْتَهُ تَعْلَمُ مَا فِي نَفْسِي وَلَا أَعْلَمُ مَا فِي نَفْسِكَ إِنَّكَ أَنْتَ عَلَّامُ الْغُيُوبِ﴾

“Dan [ingatlah] hari [yang di waktu itu] Allah mengumpulkan mereka semuanya kemudian Allah berfirman kepada malaikat:”Apakah mereka ini dahulu menyembah kamu?” Malaikat-malaikat itu menjawab:”Maha Suci Engkau.Engkaulah pelindung kami, bukan mereka; bahkan mereka telah menyembah jin; kebanyakan mereka beriman kepada jin itu”.Maka pada hari ini sebahagian kamu tidak berkuasa [untuk memberikan] kemanfaatan dan tidak pula kemudharatan kepada sebahagian yang lain.Dan Kami katakan kepada orang-orang yang zalim:”Rasakanlah olehmu azab neraka yang dahulunya kamu dustakan itu”. (QS. Saba’ : 40-42).

[3]Di sebagian manuskrip ada yang menyebutkan ayat ini sampai terakhir.

[4]Yakni: Mereka yang meminta syafaat kepada orang-orang saleh dan para nabi.

[5]Ini adalah pribahasa Arab yang bermakna menyamakan dua perkara yang lahiriahnya berbeda.

Share and Enjoy:
  • Print
  • Digg
  • StumbleUpon
  • del.icio.us
  • Facebook
  • Yahoo! Buzz
  • Twitter
  • Google Bookmarks

This entry was posted on Wednesday, July 15th, 2015 at 7:13 pm and is filed under Syarh al-Qawaid al-Arba'. You can follow any responses to this entry through the RSS 2.0 feed. Both comments and pings are currently closed.

Comments are closed.