Tidak Ada Bid’ah Hasanah

November 26th 2008 by Abu Muawiah |

Tidak Ada Bid’ah Hasanah

Pendapat yang mengatakan adanya bid’ah hasanah (yang baik) dalam Islam termasuk fitnah dan musibah terbesar dari berbagai macam fitnah dan musibah yang menimpa ummat ini. Bagaimana tidak, perkataan ini pada akhirnya akan menghalalkan semua bentuk bid’ah dalam agama yang pada gilirannya akan merubah syari’at-syari’at agama Allah Subhanahu wa Ta’ala yang telah dibakukan tatkala Dia mewafatkan NabiNya Shollallahu ‘alaihi wa ‘ala alihi wasallam. Yang lebih celaka lagi, fitnah ini telah memakan banyak korban tanpa pandang bulu, mulai dari orang awwam yang tidak paham tentang agama sampai seorang yang dianggap tokoh agama yang telah meraih berbagai macam gelar –baik yang resmi maupun yang tidak- dalam ilmu agama Islam, semuanya berpendapat akan adanya bid’ah yang baik dalam Islam. Maka betapa buruknya nasib umat ini bila orang-orang yang membimbing mereka, yang mereka anggap tokoh agama berpendapat dengan pendapat ‘aneh’ seperti ini, inna lillahi wa inna ilaihi raji’un.

A.    Dalil-Dalil Tentang Buruk dan Tercelanya Semua Bentuk Bid’ah Tanpa Terkecuali.
Berikut beberapa dalil sam’iy (Al-Kitab dan AS-Sunnah) dan dalil akal yang menunjukkan akan jelek, tercela dan tertolaknya semua bentuk bid’ah :
1.    Hadits Jabir riwayat Muslim :
وَشَرُّ الْأُمُورِ مُحْدَثَاتُهَا وَكُلُّ بِدْعَةٍ ضَلَالَةٌ
“Dan sejelek-jelek perkara adalah yang diada-adakan dan setiap bid’ah adalah sesat”.
2.    Hadits ‘Irbadh bin Sariyah :
وَإِيَّاكُمْ وَمُحْدَثَاتِ الْأُمُورِ فَإِنَّ كُلَّ مُحْدَثَةٍ بِدْعَةٌ وَكُلَّ بِدْعَةٍ ضَلَالَةٌ
“Dan hati-hati kalian dari perkara yang diada-adakan karena setiap yang diada-adakan adalah bid’ah dan setiap bid’ah adalah kesesatan”. (HR. Ashhabus Sunan kecuali An-Nasa`i)
Berkata Imam Ibnu Rajab rahimahullah dalam Jami’ul ‘Ulum wal Hikam : “Maka sabda beliau “semua bid’ah adalah kesesatan”, termasuk dari jawami’ul kalim yang tidak ada sesuatupun (bid’ah) yang terkecualikan darinya, dan hadits ini merupakan pokok yang sangat agung dalam agama”.
Dan berkata Al-Imam Asy-Syathiby rahimahullah dalam Al-I’tishom (1/187), “Sesungguhnya dalil-dalil –bersamaan dengan banyaknya jumlahnya- datang secara mutlak dan umum, tidak ada sedikitpun perkecualian padanya selama-lamanya, dan tidaklah datang dalam dalil-dalil tersebut satu lafadzpun yang mengharuskan adanya di antara bid’ah-bid’ah itu yang merupakan petunjuk (hasanah), dan tidak ada dalam dalil-dalil tersebut penyebutan “semua bid’ah adalah kesesatan kecuali bid’ah ini, bid’ah ini, …”, dan tidak ada sedikitpun dari dalil-dalil tersebut yang menunjukan akan makna-makna ini (pengecualian)”.
3.    Hadits ‘A`isyah radhiallahu ‘anha:
مَنْ أَحْدَثَ فِي أَمْرِنَا هَذَا مَا لَيْسَ فِيهِ فَهُوَ رَدٌّ
“Siapa saja yang mengadakan perkara baru dalam urusan kami ini apa-apa yang bukan darinya maka dia tertolak”. (HR. Al-Bukhari dan Muslim dari Aisyah)
Berkata Imam Asy-Syaukany dalam Nailul Author (2/69) : “Hadits ini termasuk dari kaidah-kaidah agama karena masuk didalamnya hukum-hukum tanpa ada pengecualian. Betapa jelas dan betapa menunjukkan akan batilnya pendapat sebagian fuqoha` (para ahli fiqhi) yang membagi bid’ah menjadi beberapa jenis dan mengkhususkan tertolaknya bid’ah hanya pada sebagian bentuknya tanpa ada dalil naql (Al-Kitab dan As-Sunnah) yang mengkhususkannya dan tidak pula dalil akal”.
4.    Ijma’ para ulama Salaf dari kalangan Shahabat, tabi’in dan para pengikut mereka dengan baik akan tercela dan jeleknya semua bid’ah serta wajibnya memperingatkan kaum muslimin darinya dan dari para pelakunya.

B.    Penyebutan Syubhat-Syubhat Orang Yang Berpendapat Akan Adanya Bid’ah Hasanah Dalam Islam Beserta Bantahannya.
Di sini saya akan menyebutkan tujuh syubhat terbesar yang biasa di gembar-gemborkan oleh orang-orang yang menyatakan adanya bid’ah hasanah dalam Islam, yang hakikat dari semua syubhat mereka adalah lebih lemah dari sarang laba-laba karena syubhat-syubhat ini tidak lepas dari dua keadaan: Apakah dalilnya shohih tapi salah memahami ataukah sekedar perkataan para ulama yang telah diketahui bersama bahwa perkataan mereka bukanlah hujjah ketika menyelisihi dalil. Berikut penyebutan syubhat-syubhat mereka :

1.    Surah Al-Hadid ayat 27 :
وَرَهْبَانِيَّةً ابْتَدَعُوهَا مَا كَتَبْنَاهَا عَلَيْهِمْ إِلَّا ابْتِغَاءَ رِضْوَانِ اللَّهِ فَمَا رَعَوْهَا حَقَّ رِعَايَتِهَا
“Dan mereka mengada-adakan rahbaniyyah padahal Kami tidak mewajibkannya kepada mereka tetapi untuk mencari keridhaan Allah, lalu mereka tidak memeliharanya dengan pemeliharaan yang semestinya”.
Bantahan :
FirmanNya “tetapi untuk mencari keridhaan Allah” ada dua kemungkinan :
1.    Bila kembalinya kepada firmanNya “Dan mereka mengada-adakan rahbaniyyah”, maka ini berarti celaan buat mereka karena mereka berbuat bid’ah dan memunculkan suatu peribadatan yang tidak pernah diwajibkan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala atas mereka, kemudian bersamaan dengan itu mereka tidak memeliharanya dengan pemeliharaan yang semestinya.
2.    Bila kembalinya kepada firmanNya “padahal Kami tidak mewajibkannya kepada mereka”, maka menunjukkan bahwa mereka memunculkan suatu peribadatan baru yang disetujui oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala atas mereka. Akan tetapi ayat ini bercerita tentang syari’at umat sebelum kita (Nashara) dan syari’at umat sebelum kita –menurut pendapat yang paling kuat- bukanlah menjadi syari’at kita jika bertentangan dengan dalil yang datang dalam syari’at kita. Dan telah berlalu dalil-dalil yang sangat banyak akan larangan dan ancaman berbuat bid’ah dalam agama kita dan bahwa semua bentuk bid’ah adalah tertolak.

2.    Hadits Jarir bin ‘Abdillah Al-Bajaly radhiallahu ‘anhu, Rasulullah Shollallahu ‘alaihi wa ‘ala alihi wasallam bersabda :
مَنْ سَنَّ فِي الْإِسْلَامِ سُنَّةً حَسَنَةً فَلَهُ أَجْرُهَا وَأَجْرُ مَنْ عَمِلَ بِهَا بَعْدَهُ مِنْ غَيْرِ أَنْ يَنْقُصَ مِنْ أُجُورِهِمْ شَيْءٌ وَمَنْ سَنَّ فِي الْإِسْلَامِ سُنَّةً سَيِّئَةً كَانَ عَلَيْهِ وِزْرُهَا وَوِزْرُ مَنْ عَمِلَ بِهَا مِنْ بَعْدِهِ مِنْ غَيْرِ أَنْ يَنْقُصَ مِنْ أَوْزَارِهِمْ شَيْءٌ
“Barangsiapa yang membuat sunnah dalam Islam sunnah yang baik maka baginya pahalanya dan pahala semua orang yang mengamalkannya setelahnya tanpa mengurangi dari pahala mereka sedikitpun, dan barangsiapa yang membuat sunnah dalam Islam sunnah yang jelek maka atasnya dosanya dan dosa semua orang yang mengamalkannya setelahnya tanpa mengurangi dari dosa mereka sedikitpun”. (HR. Muslim)
Dari hadits di atas mereka mengeluarkan pendalilan, kalau begitu bid’ah –sebagaimana sunnah- juga terbagi menjadi dua ; ada yang baik dan ada yang jelek.
Bantahan:
1.    Sesungguhnya makna sabda beliau “Barangsiapa yang membuat sunnah” adalah “barangsiapa yang mengamalkan sunnah” bukan maknanya “barangsiapa yang membuat syari’at (sunnah) yang baru”, hal ini sebagaimana ditunjukkan oleh sababul wurud  (sebab terucapkannya) hadits ini dalam riwayat Muslim (no. 1017), yang ringkasnya : Bahwa sekelompok orang dari Bani Mudhor datang ke Medinah dan nampak dari kondisi mereka kemiskinan dan kesusahan, lalu Rasulullah Shollallahu ‘alaihi wa ‘ala alihi wasallam memberikan motovasi kepada para shahabat untuk bersedekah. Maka datanglah seorang lelaki dari Al-Anshor dengan membawa makanan yang hampir-hampir tangannya tidak mampu untuk mengangkatnya, setelah itu beruntunlah para shahabat yang lain mengikutinya juga untuk memberikan sedekah lalu beliaupun mengucapkan hadits di atas.
Maka dari kisah ini jelas menunjukkan bahwa yang diinginkan dalam hadits adalah “Barangsiapa yang beramal dengan amalan yang tsabit dari sunnah Nabi Shollallahu ‘alaihi wa ‘ala alihi wasallam …”, karena sedekah bukanlah perkara bid’ah akan tetapi sunnah dari sunnah beliau Shollallahu ‘alaihi wa ‘ala alihi wasallam.
2.    Beliau Shollallahu ‘alaihi wa ‘ala alihi wasallam mensifati “sunnah” dalam hadits ini dengan “yang baik” dan “yang jelek”, dan sifat seperti ini (baik dan jelek) tidak mungkin diketahui kecuali dari sisi syari’at. Maka hal ini mengharuskan bahwa kata “sunnah” dalam hadits maksudnya adalah amalan yang punya asal dari sisi syari’at, apakah baik ataupun buruk, sedangkan bid’ah adalah amalan yang sama sekali tidak memiliki asal dalam syari’at.
3.    Tidak dinukil dari seorangpun dari kalangan para ulama Salaf yang menafsirkan sunnah yang hasanah dalam hadits ini adalah bid’ah yang dimunculkan oleh manusia.

3.    Hadits ‘Abdullah bin Mas’ud radhiallahu ‘anhu bahwa Nabi Shollallahu ‘alaihi wa ‘ala alihi wasallam –menurut sangkaan mereka- bersabda :
فَمَا رَأَى الْمُسْلِمُونَ حَسَنًا فَهُوَ عِنْدَ اللَّهِ حَسَنٌ وَمَا رَأَوْا سَيِّئًا فَهُوَ عِنْدَ اللَّهِ سَيِّئٌ
“Maka perkara apa saja yang kaum muslimin menganggapnya baik maka itu juga baik di sisi Allah dan perkara apa saja yang mereka anggap jelek maka itu jelek di sisi Allah”.
Mereka mengatakan : “Maka bila suatu bid’ah dianggap baik oleh kaum muslimin di zaman ini maka berarti bid’ah itu baik juga di sisi Allah”.
Bantahan:
1.    Hadits ini tidak shohih secara marfu’ dari Nabi Shollallahu ‘alaihi wa ‘ala alihi wasallam, akan tetapi yang benarnya ini adalah mauquf dari perkataan Ibnu Mas’ud radhiallahu ‘anhu. Berikut perkataan sebagian ulama tentang hal ini :
·    Berkata Ibnul Qoyyim rahimahullah dalam kitab Al-Farusiah (hal. 167) : “Sesungguhnya atsar ini bukan dari sabda Rasullah Shollallahu ‘alaihi wa ‘ala alihi wasallam, dan tidak ada seorangpun yang menjadikan perkataan ini sebagai sabda Nabi Shollallahu ‘alaihi wa ‘ala alihi wasallam kecuali orang yang tidak memiliki ilmu tentang hadits, yang benarnya perkataan ini hanya tsabit dari perkataan Ibnu Mas’ud radhiallahu ‘anhu”.
·    Berkata Ibnu ‘Abdil Hadi sebagaimana dalam Kasyful Khofa` (2/245) : “Diriwayatkan secara marfu’ dari hadits Anas dengan sanad yang saqit (jatuh/sangat lemah) dan yang benarnya ini adalah mauquf dari perkataan Ibnu Mas’ud radhiallahu ‘anhu”.
2.    Yang diinginkan oleh Ibnu Mas’ud radhiallahu ‘anhu dengan perkataan beliau “kaum muslimin” dalam hadits ini adalah mereka para sahabat radhiallahu ‘anhum, karena “Al” dalam kata “al-muslimun” hadits ini bermakna lil ‘ahd adz-dzihni (yang langsung terpahami oleh fikiran ketika membaca hadits ini), sehingga makna haditsnya adalah “Perkara apa saja yang kaum muslimin yang ada di zaman itu …”. Hal ini ditunjukkan oleh potongan awal hadits ini :
إِنَّ اللَّهَ نَظَرَ فِي قُلُوبِ الْعِبَادِ فَوَجَدَ قَلْبَ مُحَمَّدٍ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ خَيْرَ قُلُوبِ الْعِبَادِ فَاصْطَفَاهُ لِنَفْسِهِ فَابْتَعَثَهُ بِرِسَالَتِهِ ثُمَّ نَظَرَ فِي قُلُوبِ الْعِبَادِ بَعْدَ قَلْبِ مُحَمَّدٍ فَوَجَدَ قُلُوبَ أَصْحَابِهِ خَيْرَ قُلُوبِ الْعِبَادِ فَجَعَلَهُمْ وُزَرَاءَ نَبِيِّهِ يُقَاتِلُونَ عَلَى دِينِهِ
“Sesungguhnya Allah melihat ke hati para hambaNya dan Dia mendapati hati Muhammad Shollallahu ‘alaihi wa ‘ala alihi wasallam adalah sebaik-baik di antara hati-hati para hamba maka Diapun memilihnya untuk diriNya dan mengutusnya dengan risalahNya. Kemudian Allah melihat lagi ke  hati para hamba setelah hati Muhammad dan Dia mendapati hati para shahabat adalah sebaik-baik hati para hamba maka Diapun menjadikan mereka sebagai pembantu-pembantu NabiNya yang mereka itu berperang dalam agamaNya. Maka apa-apa yang dianggap baik oleh kaum muslimin maka hal itu baik di sisi Allah dan apa-apa yang jelek menurut kaum muslimin maka hal itu jelek di sisi Allah”.
Ini menunjukkan bahwa kaum muslimin yang diinginkan di akhir hadits adalah mereka yang disebutkan di awal hadits.
3.    Bagaimana bisa mereka berdalil dengan perkataan shahabat yang mulia ini untuk menganggap suatu bid’ah, padahal beliau radhiallahu ‘anhu adalah termasuk dari para shahabat yang paling keras melarang dan mentahdzir dari semua bentuk bid’ah?!, dan telah berlalu sebagian dari perkataan beliau radhiallahu ‘anhu.
4.    Kalau hadits ini diterima dan maknanya seperti apa yang hawa nafsu kalian inginkan, maka ini akan membuka pintu yang sangat berbahaya untuk berubahnya agama. Karena setiap pelaku bid’ah akan bersegera membuat bid’ah yang bentuknya disukai dan sesuai dengan selera manusia, dan ketika dilarang diapun berdalilkan dengan hadits di atas, Wallahul musta’an.

4.    Dalil mereka selanjutnya adalah perkataan ‘Umar bin Khoththob radhiallahu ‘anhu yang masyhur tentang sholat Tarwih secara berjama’ah di malam bulan Ramadhan :
نِعْمَتِ الْبِدْعَةُ هَذِهِ
“Sebaik-baik bid’ah adalah ini”. (HR. Al-Bukhari)
Mereka berkata : “Kalau begitu ada bid’ah yang baik dalam Islam”.
Bantahan:
1.    Perbuatan ‘Umar radhiallahu ‘anhu dengan cara mengumpulkan manusia untuk melaksanakan Tarwih dengan dipimpin oleh imam bukanlah bid’ah, akan tetapi sebagai bentuk menampakkan dan menghidupkan sunnah. Karena Rasulullah Shollallahu ‘alaihi wa ‘ala alihi wasallam telah melaksanakan Tarwih ini dengan mengimami manusia pada malam 23, 25 dan 27 Ramadhan, tapi tatkala banyak manusia yang ikut sholat di belakang beliau, beliaupun meninggalkan pelaksanaannya karena takut turun wahyu yang mewajibkan sholat Tarwih sehingga akan menyusahkan umatnya sebagaimana yang disebutkan kisahnya oleh Imam Al-Buhkari dalam Shohihnya (no. 1129). Maka tatkala Nabi Shollallahu ‘alaihi wa ‘ala alihi wasallam wafat dan hilang kemungkinan sholat Tarwih menjadi wajib dengan terputusnya wahyu sehingga sholat Tarwih ini tetap pada hukum asalnya yaitu sunnah, maka ‘Umar radhiallahu ‘anhu lalu mengumpulkan manusia untuk melaksanakan sholat Tarwih secara berjama’ah.
2.    Sesungguhnya ‘Umar radhiallahu ‘anhu tidak memaksudkan dengan perkataan beliau ini akan adanya bid’ah yang baik, karena yang beliau inginkan dengan “bid’ah” di sini adalah makna secara bahasa bukan makna secara syari’at, dan ini beliau katakan karena melihat keadaan zhohir dari sholat tarwih tersebut yaitu Rasulullah Shollallahu ‘alaihi wa ‘ala alihi wasallam meninggalkan pelaksanaan sholat tarwih setelah sebelumnya beliau melaksanakannya karena takut akan diwajibkannya sholat Tarwih ini atas umatnya.
Kalau ada yang bertanya : “Kalau memang beliau Shollallahu ‘alaihi wa ‘ala alihi wasallam tinggalkan karena takut diwajibkan, lantas kenapa Abu Bakar radhiallahu ‘anhu tidak melakukan apa yang dilakukan ‘Umar radhiallahu ‘anhu, padahal kemungkinan jadi wajibnya sholat Tarwih juga telah terputus di zaman Abu Bakar radhiallahu ‘anhu dengan wafatnya Nabi Shollallahu ‘alaihi wa ‘ala alihi wasallam?”.
Maka kami jawab : “Tidak adanya pelaksanaan Tarwih berjama’ah di zaman Abu Bakar radhiallahu ‘anhu tidak keluar dari dua alasan berikut :
a.    Karena beliau radhiallahu ‘anhu berpendapat bahwa sholatnya manusia di akhir malam dengan keadaan mereka ketika itu lebih afdhol daripada mengumpulkan mereka di belakang satu imam (berjama’ah) di awal malam, ini disebutkan oleh Imam Ath-Thurthusy rahimahullah.
b.    Karena sempitnya masa pemerintahan beliau (hanya 2 tahun) untuk melihat kepada perkara furu’ (cabang) seperti ini, bersamaan sibuknya beliau mengurus masalah banyaknya orang yang  murtad dan ingin menyerang Medinah ketika Nabi Shollallahu ‘alaihi wa ‘ala alihi wasallam wafat dan masalah-masalah yang lain yang lebih penting dan lebih darurat dilaksanakan dibandingkan sholat tarwih, ini disebutkan oleh Asy-Syathiby rahimahullah.
Maka tatkala sholat Tarwih berjama’ah satu bulan penuh tidak pernah dilakukan di zaman Nabi Shollallahu ‘alaihi wa ‘ala alihi wasallam, tidak pula di zaman Abu Bakar radhiallahu ‘anhu dan tidak pula di awal pemerintahan ‘Umar radhiallahu ‘anhu, maka sholat Tarwih dengan model seperti ini (berjama’ah satu bulan penuh) dianggap bid’ah tapi dari sisi bahasa, yakni tidak ada contoh yang mendahuluinya. Adapun kalau dikatakan bid’ah secara syari’at maka tidak, karena sholat Tarwih dengan model seperti ini mempunyai asal landasan dalam syari’at yaitu beliau Shollallahu ‘alaihi wa ‘ala alihi wasallam pernah sholat Tarwih secara berjama’ah pada malam 23, 25 dan 27 Ramadhan, dan beliau meninggalkannya hanya karena takut akan diwajibkan atas umatnya, bukan karena alasan yang lain, Wallahu a’lam.
·    Berkata Imam Asy-Syathiby dalam Al-I’tishom (1/250) : “Maka siapa yang menamakannya (sholat Tarwih berjama’ah satu bulan penuh) sebagai bid’ah karena dilihat dari sisi ini (yakni tidak pernah dilakukan oleh Nabi Shollallahu ‘alaihi wa ‘ala alihi wasallam walaupun memiliki asal dalam syari’at) maka tidak ada paksaan dalam masalah penamaan. Akan tetapi dalam keadaan seperti itu, maka tidak boleh berdalilkan dengannya (perkataan ‘Umar ini) akan bolehnya berbuat bid’ah dengan makna versi sang pembicara (yakni ‘Umar radhiallahu ‘anhu), karena ini adalah suatu bentuk pemalingan makna perkataan dari tempat sebenarnya”.
·    Berkata Syaikhul Islam rahimahullah dalam Al-Iqthidho` Ash-Shirothol Mustaqim (hal. 276 –Darul Fikr) : “Dan yang paling banyak (didengang-dengungkan) dalam masalah ini adalah kisah penamaan ‘Umar radhiallahu ‘anhu terhadap sholat Tarwih bahwa itu adalah bid’ah bersamaan dengan baiknya amalan tersebut. Ini adalah penamaan secara bahasa bukan penamaan secara syari’at, hal itu dikarenakan bid’ah secara bahasa adalah mencakup semua perkara yang diperbuat pertama kali dan tidak ada contoh yang mendahuluinya sedangkan bid’ah secara syari’at adalah semua amalan yang tidak ditunjukkan oleh dalil syar’iy.
Maka jika Rasulullah Shollallahu ‘alaihi wa ‘ala alihi wasallam memberikan pernyataan yang beliau telah menunjukkan akan sunnahnya atau wajibnya suatu amalan setelah wafatnya beliau atau ada dalil yang menunjukkannya secara mutlak dan amalan tersebut tidak pernah diamalkan kecuali setelah wafatnya beliau, seperti pengadaan buku sedekah yang dikeluarkan oleh Abu Bakar radhiallahu ‘anhu, maka jika seseorang mengamalkan amalan tersebut setelah wafatnya beliau maka syah kalau dikatakan bid’ah tapi secara bahasa karena itu adalah amalan yang belum pernah dilakukan”.
3.    Sesungguhnya para shahabat Nabi Shollallahu ‘alaihi wa ‘ala alihi wasallam dan para ulama salaf setelah mereka telah bersepakat menerima dan mengamalkan apa yang dilakukan oleh ‘Umar radhiallahu ‘anhu dan tidak pernah dinukil dari seorangpun di antara mereka ada yang menyelisihinya. Ini artinya perbuatan beliau adalah kebenaran dan termasuk syari’at, karena Rasulullah Shollallahu ‘alaihi wa ‘ala alihi wasallam telah menegaskan :
لَنْ تَجْتَمِعَ أُمَّتِيْ عَلَى ضَلاَلَةٍ
“Ummatku tidak akan bersepakat di atas suatu kesesatan”. (HR. At-Tirmizi)
Dan masih ada beberapa dalil yang lain yang tidak kami sebutkan di sini karena dalil-dalil tersebut hanyalah berupa perkataan dan ijtihad seorang ulama, yang kalaupun dianggap bahwa para ulama tersebut menyatakan seperti apa yang mereka katakan berupa adanya bid’ah yang baik dalam Islam, maka ucapan dan ijtihad mereka harus dibuang jauh-jauh karena menyelisihi hadits-hadits Nabi Shollallahu ‘alaihi wa ‘ala alihi wasallam, wallahu A’lam.
Kesimpulan dari masalah ini adalah bahwa setiap perkara yang dianggap oleh sebagian ulama ataupun orang-orang yang jahil bahwa itu adalah bid’ah hasanah maka perkara tersebut tidak lepas dari dua keadaan :
1.    Perkara itu bukanlah suatu bid’ah akan tetapi disangka bid’ah.
2.    Perkara itu adalah bid’ah dan kesesatan akan tetapi dia tidak mengetahui akan kesesatan dan kejelekannya.

{Lihat : Al-Luma’ fir Roddi ‘ala Muhassinil Bida’ (hal. 8-54), Al-I’tishom (1/187-188 dan 228-270), Mauqif Ahlis Sunnah wal Jama’ah (1/106-117), Iqthidho` Ash-Shirothol Mustaqim (hal. 270-278), Al-Hatstsu ‘ala Ittiba’is Sunnah (hal. 42-44), dan Tuhfatul Murid Syarh Al-Qaulul Mufid (hal. 133-142)}
[Diringkas dari buku Studi Kritis Perayaan Maulid Nabi bab ketiga, karya Abu Muawiah Hammad -hafizhahullah-]

Incoming search terms:

  • bidah hasanah
  • tidak ada bidah hasanah
Share and Enjoy:
  • Print
  • Digg
  • StumbleUpon
  • del.icio.us
  • Facebook
  • Yahoo! Buzz
  • Twitter
  • Google Bookmarks

This entry was posted on Wednesday, November 26th, 2008 at 1:33 pm and is filed under Manhaj, Syubhat & Jawabannya. You can follow any responses to this entry through the RSS 2.0 feed. Both comments and pings are currently closed.

21 responses about “Tidak Ada Bid’ah Hasanah”

  1. Tidak Ada Bid said:

    [...] Sumber: http://al-atsariyyah.com/ [...]

  2. Tidak Ada Bid said:

    [...] http://al-atsariyyah.com/ [...]

  3. Tidak Ada Bid said:

    [...] Sumber: http://al-atsariyyah.com/ [...]

  4. Aldo said:

    Apakah kita ingin 100% seperti zaman Nabi Muhammad SAW, apapun yang ada di sekeliling kita, jelas tidak ada di zaman Nabi. Yang menjadi prinsip kita adalah esensi. Esensi dari suatu kegiatan itulah yang harus kita utamakan. Nabi Muhammad SAW bersabda : ‘Barang siapa yang melahirkan aktifitas yang baik, maka baginya adalah pahala dan [juga mendapatkan] pahala orang yang turut melakukannya’ (Muslim dll). Makna ‘aktifitas yang baik’ –secara sederhananya–adalah aktifitas yang menjadikan kita bertambah iman kepada Allah SWT dan Nabi-Nabi-Nya.

    Silakan baca kembali artikelnya dengan seksama dan sikap inshaf. Tidak ada hadits Nabi -shallallahu alaihi wasallam- dengan terjemahan seperti itu, yang ada, “Barangsiapa yang memberi jalan (contoh) dalam Islam jalan (contoh) yang baik …,” sampai akhir hadits, bukan ‘melahirkan aktifitas yang baik’. Kami setuju akan harusnya seseorang mengerjakan ‘aktifitas’ yang bisa menambah keimanan, dan sudah jelas-jelas semua bid’ah adalah pengurang keimanan dan merupakan ‘aktifitas’ yang sangat jelek. Wallahul muwaffiq

  5. abu salman said:

    Assalamu’alaykum. Ustadz hafizhokallohu, afwan, ana mau bertanya tntg perkataan dari sahabat mu’adz bin jabal berikut ini :
    Dari Mu’adz bin Jabal,bhwasany Rasulullah Saw.ktika mngutusny ke Yaman brtnya kpd Mu’adz:”bgmn caramu memutuskn prkra yg dibawa khadapanmu?”Mua’dz menjwb:”sya akn memutuskn mnrt yg tsbt sesuai dg kitabulloh. Nabi brtny lg:”klau engkau tdk mnemuknny dlm Kitabullah,bgmn?”jwb Mua’dz : sya akn mmutuskn mnurut sunnah Rasul.Nabi brtny lg:klau engkau tdk mnemui it dlm sunnah Rasul,bgmn?jwb Mua’dz:ktika it sya akn berijtihad tnpa bimbng sdktpun. Mendgr jwbn it Nabi Muhammad Saw.meletakn tnganny kedadany&brkata:smua puji bagi Allah yg tlah membri taufik utusn Rasulullah shg menyenangkn hati RasulNy.(HR.Tirmidzi&Abu Daud-Sahih Tirmidzi juz II,hal 68-69)

    Bagaimana penjelasan hadits tsb ustadz? mohon penjelasannya, karena hadits ini sering digunakan oleh orang2 yg membela adanya bid’ah hasanah, dengan ijtihad mrk jk tdk terdapat dlm al qur’an dan sunnah.
    Jazaakumullohu khairan katsira

    Waalaikumussalam warahmatullah.
    Singkatnya, hadits di atas adalah hadits yang lemah. Dinyatakan lemah oleh Imam Al-Bukhari, At-Tirmizi, Al-Uqaili, Ad-Daraquthni, Ibnu Hazm, Ibnu Thahir, Ibnu Al-Jauzi, Adz-Dzahabi, As-Subki, Al-Hafizh Ibnu Hajar, dan selainnya. Lihat penjelasan lemahnya dalam Adh-Dhaifah karya Al-Albani no. 881

  6. Bgs said:

    Assalamualaikum.Wr.Wb.

    saya mau tny ustadz,apakah berarti semua hal-hal baru itu bid’ah dholalah?
    begini saya pernah belajar ilmu ushul fiqh. tentang ijtihad “Istihsan”-nya Imam Abu Hanifah dimana beliau menyandarkankan kpd hadits muadz tersebut,dimana ijtihad tsb dihasilkan bukan dari Al-Qur’an dan Hadits,tapi ra’yi.Tanggapan antm??

    Waalaikumussalam warahmatullah.
    Bid’ah yang dhalalah hanyalah bid’ah dalam masalah agama, adapun bid’ah (perkara baru) dalam masalah dunia maka hukumnya sesuai penggunaannya, bisa jadi dia wajib, atau sunnah, atau mubah, atau makruh atau haram.
    Adapun hadits Muadz tentang ar-ra`yu itu sendiri, maka dia adalah hadits yang lemah, telah dinyatakan lemah oleh para ulama besar seperti: Imam Al-Bukhari, At-Tirmizi, Al-Uqaili, Ad-Daraquthni, Ibnu Hazm, Ibn Thahir, Ibn Al-Jauzi, Adz-Dzahabi, As-Subki, Ibnu Hajar rahimahumullah. Jadi, tidak boleh berdalil dengannya akan pembolehan berijtihad tanpa keterangan dalil dari Al-Kitab dan As-Sunnah. Karena semua ijtihad yang tidak ada dalilnya adalah ijtihad yang tertolak, siapapun yang mengeluarkan ijtihad tersebut.

  7. Abidin said:

    Kafirkah bila meyakini bahwa sebagian ustadz/kyai dan simpatisannya boleh keluar dari syariat Nabi Muhammad shalallahu ‘alaihi wasallam, misalnya Ust, “A” boleh berkreasi membuat dzikir berjamaa’ah, Ust. “B” tidak apa – apa membuat sholat dua bahasa, Ust. “C” boleh-boleh saja membuka pelatihan sholat khusyu ala semedi dan semisalnya. Alasannya ust./kyai tersebut telah mendapat hidayah khusus dari Allah. Dan Si pelakunya sendiri bukan menjadi simpatisan dari ust./kyai nyeleneh tersebut?

    Secara umum, orang yang meyakini bahwa ada manusia yang boleh keluar dari syariat Nabi Muhammad shallallahu alaihi wasallam maka itu adalah keyakinan yang mengkafirkan.

  8. al-aziz said:

    Mas, kalo Anda memilih pengertian sunnah itu sebagai segala ucapan dan perbuatan nabi. Maka ga ada sunnah nabi yg sayyi’ah. Lalu Anda tafsirkan bahwa sunnah sayyi’ah adalah apa2 yg dilarang Nabi? ya ga bisa gitu mas. Sunnah Nabi itu hasanah semua mas. Misalnya Nabi melarang kita untuk buang air di air yg tidak mengalir, maka itu termasuk sunnah nabi, dan itu hasanah, itu ga bisa disebut sunnah sayyi’ah.

    Anda menafsirkan bahwa sunnah sayyi’ah seperti itu dari mana sumbernya?

    Memang benar bahwa Allah melarang sunnah sayyi’ah, yaitu kebiasaan yang buruk. Tetapi mengartikan sunnah sayyi’ah sebagai apa2 yg dilarang Allah dan Rasul dan sunnah hasanah sebagai apa2 yg diperintahkan Allah dan Rasul, itu jauh dari tepat, bahkan keliru.

    Dan lagi, Anda mengartikan sanna dengan mengamalkan atau menghidupkan, itu juga keliru. Dalam kamus bahasa Arab, mana ada makna sanna itu mengamalkan?

    Sunnah di sini artinya kebiasaan. sanna artinya membiasakan, membuat kebiasaan. man artinya siapa. Lah, kalo Anda artikan sunnah itu sebagai syari’at, lalu dimasukkan ke hadits tersebut, maka maknanya menjadi: Barang siapa membuat dalam Islam suatu syari’at yg hasanah….. Barang siapa membuat dalam Islam suatu syari’at yg sayyi’ah. Apa ga rancu pemahaman seperti itu. Udah jelas yg membuat syari’at itu Allah, disampaikan oleh Rasul, terus kenapa ada kata “man”? Eamngnya semua orang boleh bikin syari’at?

    Sunnah dalam hadits tersebut adalah kebiasaan. Imam Syafi’i, mujtahid asli, bukan mujtahid gadungan seperti Anda, membagi bid’ah itu kepada 2 macam, yaitu bid’ah mahmudah dan bid’ah madzmumah. Apa itu bid’ah mahmudah? Pekerjaan keagamaan yang baru yang baik, yang tidak menentang Al-Qur`an, sunnah, atsar dan ijma. Apa itu bid’ah mahmudah? Pekerjaan yang baru yang menentang atau berlainan dengan Al-Qur`an, sunnah, atsar dan ijma. Atas dasar apa Imam Syafi’i membagi bid’ah kepada 2 macam ini? Hadits man sanna fil Islam.

    Menurut riwayat Abu Nu’im, Imam Syafi’i pernah berkata, ““Bid’ah itu dua macam, satu bid’ah terpuji dan yang lain bid’ah tercela. Bid’ah terpuji ialah (pekerjaan keagamaan yang tidak dikenal pada zaman Rasulullah) yang sesuai dengan sunnah, sedangkan bid’ah yang tercela ialah (pekerjaan keagamaan yang tidak dikenal pada zaman Rasulullah) yang tidak sesuai dengan sunnah atau menentang sunnah.” [Fathul Bari juz' 17 hlm. 10]

    Menurut riwayat Abu Nu’im pula, bahwa Imam Baihaqi menjelaskan bahwa Imam Syafi’i pernah berkata, “Pekerjaan yang baru itu ada pekerjaan yang menentang atau berlainan dengan Al-Qur`an, sunnah, atsar dan ijma, ini dinamakan bid’ah dholalah; dan ada pula pekerjaan keagamaan yang baru yang baik, yang tidak menentang salah satu yg disebutkan di atas, adalah bid’ah juga, tetapi tidak tercela.” [Fathul Bari juz' 17 hlm. 10]

    Menurut Imam Nawawi, Imam Syafi’i membagi bid’ah kepada dua macam itu berdasarkan hadits yang diriwayatkan Imam Muslim : “Barang siapa yang mengadakan dalam Islam suatu sunnah hasanah lalu diamalkan orang sunnahnya itu, maka diberikan kepadanya pahala sebagai pahala orang yang mengerjakan kemudian dengan tidak mengurangkan sedikit juga dari pahala orang yg mengerjakan kemudian itu. Dan barangsiapa yang mengadakan dalam Islam suatu sunnah sayyi’ah, lalu diamalkan orang sunnah sayyi’ah itu, diberikan dosa kepadanya seperti dosa orang yang mengerjakan kemudian dengan tidak dikurangi sedikitpun juga dari dosa orang yang mengerjakan kemudian itu.” [Syarah Nawawi juz' 14 hlm. 226]

    Imam Syafi’i, seorang Arab yg jenius yg menghafal lebih dari 1 juta hadits beserta sanadnya dan paham tentang tafsir Al-Qur`an dan Hadits telah membagi bid’ah sedemikian rupa dan memaknai sunnah dalam hadits man sanna itu dengan kebiasaan. Tetapi Anda, orang Indonesia yg ga ngerti bahasa Arab, ga paham Al-Qur`an dan Hadits dan tidak juga menghafalnya, menafsirkan hadits man sanna itu semau Anda.

    Kelihatannya anda tidak paham dengan penjelasan kami dalam bantahan syubhat kedua di atas, karenanya ucapan anda tidak nyambung dengan apa yang kami jelaskan di atas. Adapun pembagian bid’ah oleh Imam Asy-Syafi’i dan juga An-Nawawi maka kami telah jelaskan maksudnya dengan menggunakan ucapan Imam Asy-Syafi’i sendiri, bahwa bukan maksud beliau dengan ucapannya membagi bid’ah secara syar’i menjadi baik dan jelek. Akan tetapi bid’ah yang beliau maksud adalah bid’ah secara bahasa.

  9. Abu Taimiyyah Arif bin Suhadi Al Kalasany said:

    Bismillah. Suka dengan artikel ini ustadz.
    Setahu saya bid’ah itu lawan dari As Sunnah, sehingga jelas sekali ucapan Al Imam Asy Syafi’i Rahimahullah :

    Menurut riwayat Abu Nu’im, Imam Syafi’i pernah berkata, ““Bid’ah itu dua macam, satu bid’ah terpuji dan yang lain bid’ah tercela. Bid’ah terpuji ialah (pekerjaan keagamaan yang tidak dikenal pada zaman Rasulullah) yang sesuai dengan sunnah, sedangkan bid’ah yang tercela ialah (pekerjaan keagamaan yang tidak dikenal pada zaman Rasulullah) yang tidak sesuai dengan sunnah atau menentang sunnah.” [Fathul Bari juz' 17 hlm. 10]

    Beliau mengatakan : “Bid’ah terpuji ialah yang sesuai dengan sunnah, sedangkan bid’ah yang tercela ialah yang tidak sesuai dengan sunnah atau menentang sunnah.”
    Padahal bid’ah itu lawannya As Sunnah, sehingga sesuatu yang sesuai dengan As Sunnah itu bukan bid’ah, sedangkan beliau menyebutkan sebagai bid’ah ini sebagai dalil bahwa beliu berbicara dari sisi bahasa.
    Wallahu a’lam.

    ??? Ana nggak paham arah ucapan antum

  10. prasmono said:

    Assalamualaikam ustadz:
    Nampaknya yang bertanya banyak yang tidak memahami makna bid’ah.

  11. risang said:

    assalamualaikum
    ustadz tolong jelaskan perbedaan bid’ah, istihsan, dan maslahah almursalah

    Waalaikumussalam
    Insya Allah pada artikel tersendiri

  12. Andi Pangerang said:

    kalo ane boleh terang2an disini….

    Dedeh Rasyidah (Mamah Dedeh) berpendapat ada bid’ah yg su’iyah dan hasanah…

    menurut antum gimana??

    Terus terang, kami sangat tidak sependapat dengannya.

  13. Anto said:

    Abdullah bin Umar ra. adalah sahabat Nabi yang paling keras dalam menentang segala macam bid’ah dan beliau sangat senang dalam mengikuti As-Sunnah. Dari Nafi’, pada suatu saat mendengar seseorang bersin dan berkata: ”Alhamdulillah was sholatu was salamu’ala Rasulillah.” Berkatalah Abdullah bin Umar ra.: ”Bukan demikian Rasulullah shollallahu ’alaihi wasalam mengajari kita, tetapi beliau bersabda: ’Jika salah satu di antara kamu bersin, pujilah Allah (dengan mengucapkan): Alhamdulillah’, tetapi beliau tidak mengatakan: ’Lalu bacalah sholawat kepada Rasulullah!” (Diriwayatkan oleh At-Tirmidzi dalam Kitab Sunan-nya no. 2738 dengan sanad yang hasan dan Hakim 4/265-266)

    Sa’id bin Musayyab (tabi’in) melihat seseorang mengerjakan lebih dari 2 rakaat shalat setelah terbit fajar. Lalu beliau melarangnya. Maka orang itu berkata, “Wahai Sa’id, apakah Allah akan menyiksa saya karena shalat?”, lalu Sa’id menjawab :”Tidak, tetapi Allah akan menyiksamu karena menyalahi sunnah” (Shahih, diriwayatkan oleh Baihaqi dalam As Sunan Al Kubra II/466, Khatib Al Baghdadi dalam Al Faqih wal mutafaqqih I/147, Ad Darimi I/116)

    Sufyan bin Uyainah (tabiut tabi’in) mengatakan: Saya mendengar Malik bin Anas (imam mazab/tabiut tabi’in/guru imam Syafi’i) didatangi seseorang yang bertanya: Wahai Abu Abdillah dari mana saya harus melaksanakan ihram (untuk haji/umrah)? Imam Malik mengatakan: Dari Dzul Hulaifah, dari tempat Rasulullah shollallahu ’alaihi wasallam berihram. Orang itu berkata: Saya ingin berihram dari masjid dekat kuburan beliau. Imam Malik mengatakan: Jangan, saya khawatir kamu tertimpa fitnah. Orang itu berkata pula: Fitnah apa? Bukankah SAYA HANYA SEKEDAR MENAMBAH BEBERAPA MIL SAJA? Imam Malik menegaskan: Fitnah apalagi yang lebih hebat dari sikapmu yang menganggap engkau telah mengungguli Rasulullah shollallahu ’alaihi wasallam mendapatkan keutamaan di mana beliau telah menetapkan demikian sementara kamu MENAMBAHNYA? Dan saya mendengar firman Allah Ta’ala: ”Maka hendaklah orang-orang yang menyalahi perintah Rasul takut akan ditimpa cobaan atau ditimpa azab yang pedih.” (Diriwayatkan oleh Baihaqi dan Abu Nu’aim)

    Abdullah bin Umar berkata: “Setiap bid’ah itu sesat meskipun DIANGGAP BAIK oleh manusia.” (Diriwayatkan oleh Al-Baihaqi dalam Al-Madkhal ilas Sunan Al-Kubra I/180 no.191, Ibnu Baththah dalam Al-Ibaanah no. 205, dan Al-Lalika-i dalam Syarh Ushuul I’tiqaad Ahlis Sunnah wal Jamaah no. 126)

    Imam Malik (Imam Mazhab/Tabiut Tabi’in/guru Imam Syafi’i) rahimahullahu berkata: “Barangsiapa yang mengada-adakan suatu bid’ah di dalam Islam dan MENGANGGAPNYA BAIK, maka ia telah menuduh bahwa Muhammad telah mengkhianati Risalah beliau. Karena Alloh berfirman: “Pada hari ini telah Aku sempurnakan untuk kalian agama kalian”, maka segala sesuatu yang pada hari itu bukan merupakan agama maka tidak pula menjadi agama pada hari ini.” Al-‘I’tisham (1/28).

    Di dalam Sunan Ad-Darimi (210) dengan sanad yang shahih bahwa ‘Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu ‘anhu mendatangi manusia yang sedang berhalaqoh (duduk melingkar) di dalam Masjid. Di tangan mereka terdapat kerikil dan di antara mereka ada seorang pria yang mengatakan: “bertakbirlah seratus kali” maka orang-orang pun ikut bertakbir seratus kali dan menghitungnya dengan kerikil. Pria itu mengatakan: “bertahlil-lah seratus kali, bertasbihlah seratus kali” dan mereka pun melakukan perintahnya. Abdullah bin Mas’ud pun menemui mereka dan mengatakan : “Apa yang aku lihat kalian sedang mengerjakannya ini?” mereka mengatakan: “Wahai Abu ‘Abdirrahman! Ini kerikil yang kami menghitung dengannya takbir, tahlil dan tasbih.” Ibnu Mas’ud menukas: “Hitunglah kesalahan-kesalahan kalian, dan aku akan menjamin bahwa kebaikan kalian tidak akan tersia-siakan sedikitpun. Sungguh celaka kalian wahai umat Muhammad! Begitu cepatnya kebinasaan kalian! Lihatlah mereka, para sahabat Nabi kalian Shallallahu ‘alaihi wa Salam masihlah banyak, baju beliau belumlah usang dan bejana beliau belumlah pecah. Demi Dzat yang jiwaku berada di Tangan-Nya, apakah kalian merasa bahwa kalian berada di atas millah (agama) yang lebih memberikan petunjuk dibandingkan millah Muhammad? Ataukah kalian ingin membuka pintu fitnah?” Mereka mengatakan: “Demi Alloh wahai Abu ‘Abdurrahman! KAMI TIDAKLAH MENGINGINKAN MELAINKAN KEBAIKAN.” Abdullah bin Mas’ud menjawab: “BETAPA BANYAK ORANG YANG MENGINGINKAN KEBAIKAN NAMUN TIDAK MEMPEROLEHNYA…” Lihat as-Silsilah ash-Shahihah.

    Imam Syafi’i berkata: ”Barangsiapa yg MENGANGGAP BAIK suatu perbuatan berarti telah menetapkan suatu syari’at.” (Al-Mankhuul oleh Imam Ghozali hal. 374)
    Imam Syafi’i berkata: ”Sesungguhnya ANGGAPAN BAIK hanyalah menuruti selera hawa nafsu.” (Ar-Risalah hal. 507)

  14. didy said:

    yups benar ga ada bid’ah hasanah yang ada jg sunnah khasanah.

    knapa mreka ga habis pikir dari pada mengerjakan bid’ah hasanah (menurut mreka) mengapa tidak mengerjakan sunnah khasanah…!!!

  15. uswatun hasanah said:

    mohon dijelaskan ^_^ , pendapa t ulama Hanafiyah berikut :
    قال الشيخ ابن عابدين الحنفي في حاشيته (1/376) [فقد تكون البدعة واجبة كنصب الأدلة للرد على أهل الفرق الضالة، وتعلّم النحو المفهم للكتاب والسنة، ومندوبة كإحداث نحو رباط ومدرسة، وكل إحسان لم يكن في الصدر الأول، ومكروهة كزخرفة المساجد، ومباحة كالتوسع بلذيذ المآكل والمشارب والثياب] انتهى

    قال بدر الدين العيني في شرحه لصحيح البخاري (ج11/126) عند شرحه لقول عمر ابن الخطاب رضي اللّه عنه [نعمت البدعة] وذلك عندما جمع الناس في التراويح خلف قارىءٍ وكانوا قبل ذلك يصلون أوزاعًا متفرقين [والبدعة في الأصل إحداث أمر لم يكن في زمن رسول الله صلى الله عليه وسلم، ثم البدعة على نوعين، إن كانت مما تندرج تحت مستحسن في الشرع فهي بدعة حسنة وإن كانت مما يندرج تحت مستقبح في الشرع فهي بدعة مستقبحة] انتهى.

    dan iam syafii dan ulama syafiiyah berikut :

    قال الشافعي رضي الله عنه [المحدثات من الأمور ضربان أحدهما ما أحدث يخالف كتابا أو سنة أو أثرا أو إجماعا فهذه البدعة الضلالة، والثاني ما أحدث من الخير لا خلاف فيه لواحد من هذا، فهذه محدثة غير مذمومة]. رواه البيهقي في (مناقب الشافعي) (ج1/469)، وذكره الحافظ ابن حجر في (فتح الباري (13/267)

    روى الحافظ أبو نعيم في كتابه حلية الأولياء ج 9 ص76 عن إبراهيم بن الجنيد قال: حدثنا حرملة بن يحيى قال: سمعت محمد بن إدريس الشافعي رضي الله عنه يقول [البدعة بدعتان، بدعة محمودة، وبدعة مذمومة. فما وافق السنة فهو محمود، وما خالف السنة فهو مذموم، واحتج بقول عمر بن الخطاب في قيام رمضان: نعمت البدعة هي] اهـ

    apakah ulama seleting mereka , tidak sefaham dengan pendapat penulis ?? ^_^

    atau penulis lebih pintar dari kedua imam Salaf tersebut ?? ^_^

    Alhamdulillah kami sepaham dengan para ulama yang tersebut di atas. Karenanya kami sudah jelaskan secara gamblang dalam buku ‘studi kritis perayaan maulid nabi’ mengenai maksud dari ucapan imam Asy-Syafi’i di atas. Bahwa yang beliau maksudkan di situ adalah bid’ah secara bahasa, bukan menurut istilah. Sementara yang kami bahas dalam artikel di atas adalah bid’ah secara istilah. Adapun bid’ah menurut bahasa, maka itu betul terbagi menjadi 5: wajib, sunnah, mubah, makruh, dan haram. Hanya saja dalil-dalil yang mencela bid’ah tidak ditujukan kepada bid’ah menurut bahasa.

  16. Samsul said:

    Assalamu’alaikum pak ustad

    Banyak juga yang beranggapan bahwa pembuatan kitab alquran (buku)yang dilakukan oleh sahabat nabi Ustman bin Affan itu bid’ah hasana atau saat ini banyaknya qur’an digital. Mohon penjelasannya pak Ustad
    Wassalam

    Waalaikumussalam.
    Memang banyak, namun kami tidak sependapat dengan itu. Pembukuan mushaf bukanlah bid’ah akan tetapi termasuk dari syariat Islam. Silakan baca artikel: Meluruskan Pemahaman Tentang Bid’ah.

  17. cahyo said:

    assalamualaikum..
    tadz mau tanya klo adan pake mic itu termasuk bid’ah ato ga??? cz di jaman rosul kan lom ada mic…
    kalo memakai mic berarti kita mengada-ngadakan toh… seperti halnya kita memakai internet untuk berdakwah itu kan juga mengada-ngadakan… bararti itu termasuk sesat dung…
    mohon keteranganya dan tolong jwabanya jangan muter2/….
    maksih….
    wassalamualaikum…

    Waalaikumussalam.
    Mic dan internet adalah masalah dunia, dan asalnya pada masalah dunia boleh kerjakan apa saja sampai ada dalil yang melarang. Dan tentunya tidak ada satupun keterangan yang melarang menggunakan mic atau internet.
    Nggak muter2 kan?

  18. bambang murdafa said:

    bukan jawaban bukan pula bantahan ataupun nasehat krn yg jelas sy bukan ahli ilmu. Sy hanya cerita yg saya alami selama hampir 60 thn. Tetapi 7th yl sy katakan pd tetangga: *Masa ustadz Fulan bilang bhw tahlilan, yasinan itu bid.ah td boleh kita lakukan. Kalo kita blh ikut tahlilan&yasinan berarti kita td blh silaturrahim dong* Sy katakan itu krn sy sdh k.l. 50 thn mengadakan acara2 dmk tms maulid juga. Jadi sy td setuju perb yg sdh puluhan thn itu dihentikan.
    Entah krn hidayah Allah mungkin, lalu sy ikuti terus setiap hari ceramah2 pr ustadz salafi dgn penuh perhatian dan PEMAHAMAN YANG BAIK, maka skrg saya rujuk kpd manhaj salaf insya Allah. Mudah2an hingga akhir hayat yg sdh dekat.
    Dan setiap membaca artikel yg ditulis oleh pr salafiyun say anggap petujnuk kpd kebenaran krn berdasarkan dalil2 shahih dan mengikuti salafusshalih.Lalu stiap permsalahan ibadah selalu bertanya kpd mereka, insya Allah jwbny sesuai dg alquran dan sunnah nabi shalallahu alaihi wasallam yg shahih. Jadi tenang dg manhaj salaf. Mohon ust perbaiki jika slah.
    Dmk komen saya smg bermanfaat bagi saya sekeluarga. Hormat sy mbah Pri.

  19. salafeyoon said:

    jazakumulloh khoir

  20. muslimabdullah said:

    saya sangat setuju dengan artikel ini

    mohon untuk penulis menanggapi tulisan saya

    saya masih SMA dan mengikuti ekskul rohis
    hingga pada suatu acara buka puasa bersama, sambil menunggu berbuka, alumni yg datang memberikan ceramah tentang bid’ah

    salah satu alumni dalam ceramah mengatakan bid’ah ada dua, bid’ah dolala dan bid’ah hasanah

    mereka melogikakan seperti
    zaman Nabi Muhammad saw jika berangkat kemana mana menaiki unta
    sedangkan pada masa kita, kemana mana naik mobil

    pada saat itu jg saya bertanya mengenai kejelasan bid’ah ini,tetapi alumni malah sekedar meninggikan suara, saya mengerti dan saya berhenti bertanya

    didalam hati saya berfikir

    ini bukan bid’ah

    jika melihat niatan Rasulullah menaiki unta saat perjalanan kan tujuan baginda untuk mempermudah perjalanan

    nah, tujuan kita sama dengan Rasulullah, sama sama untuk mempermudah perjalanan

    saya pun berfikir

    kenapa naik mobil dikatakan bid’ah

    pertama,, Allah SWT dan Rasulullah saw memerintahkan kita untuk menuntut ilmu, seperti kita tau, ilmu pengetahuan pasti berkembang, dan segala sesuatu dalam sisi ilmu pengetahuan yg blm ada di zaman Rasulullah bukan berarti bid’ah, hanya saja memang ilmu itu blm waktunya diturunkan oleh Allah SWT
    jadi masa iya sih ilmu yg kita dapat adalah bid’ah sementara hal itu sudah ada, bahkan sebelum zaman Rasulullah, hanya saja belum diturunkan oleh Allah SWT

    kedua,,, Allah SWT dan Rasulullah saw memerintahkan untuk mengamalkan ilmu kita dengan baik,,
    nah kita mendapatkan ilmu untuk membuat mobil, membuat pesawat, lalu kita mengamalkannya
    masa iya sih bid’ah

    sedangkan itu sudah diperintah oleh Allah SWT dan juga Rasul nya
    yaitu setelah mendapatkan ilmu, maka diamalkan

    lalu menggunakan mobil tersebut, masa iya sih bid’ah

    jadi kesimpulan saya

    ILMU PENGETAHUAN DAN TEKNOLOGI BUKAN BID’AH

    MASIH BERANIKAH ORANG ORANG MENGATAKAN ILMU YG DATANGNYA DARI ALLAH SWT ADALAH BID’AH???

    jadi menurut saya
    kita sebagai muslim harus berfikiran luas

    jangan misalkan Rasulullah menaiki unta lalu kita naik mobil artinya bid’ah

    MENURUT SAYA BUKAN BID’AH

    seharusnya kita sebagai muslim mengerti maksud dari Rasulullah saw bahwa tujuan dari baginda naik unta adalah mempermudah perjalanan

    saya rasa permasalahan Muslim zaman sekarang hanya melihat sesuatu hanya secara kasat mata dan mereka tidak mau berfikir apa makna yg tersirat dibalik hal tersebut

    **** kepada penulis artikel ini mohon tanggapannya ^_^

    INGAT, SAYA MASIH PELAJAR SMA
    MOHON BIMBINGANNYA ^_^

    Apa yang anda katakan di atas insya Allah sudah tepat. Intinya, semua perkara baru dalam masalah duniawiah bukanlah bid’ah.

  21. humairah said:

    Afwan. ana mau bertanya tentang syubhat orang2 yang menganggap bid’ah hasanah itu ada dan mereka berdalil dengan adanya pengumpulan al qur’an dalam 1 mushaf setelah zaman rasulullah. bagaimana membantahnya? ana berharap jawabannya bisa dikirim melalui email. syukran

    Itu bukanlah bid’ah, justru dia merupakan bentuk pengamalan dari firman Allah, “Dan Kamilah yang akan menjaganya (Al-Qur`an).” Ditambah lagi bahwa amalan ini disepakati oleh para sahabat ketika itu, dan ijma’ sahabat adalah dalil yang syah. Karenanya dia bukan bid’ah karena mempunyai dalil.