Teruntuk Para Pencela

April 7th 2018 by Arvan |

Teruntuk Para Pencela

Teruntuk para pencela, kupersembahkan kepadamu nasehat dari al-Faqih al-Ilbiri rahimahullah -seorang ulama dari Andalus, Spanyol-, ketika beliau menasehati putranya yang memiliki kun-yah Abu Bakar:

 

“Wahai Abu Bakar, engkau hanya menyingkap sedikit aibku, namun sebagian besarnya justru kamu tutupi.
Karenanya silakan kamu cela diriku sesuka hatimu, bahkan silakan tambah celaannya berkali-kali lipat, karena sungguh semua celaanmu itu benar adanya.
Betapa pun banyaknya aibku yang engkau beberkan, aku menganggap semua itu sebagai pujian karena aku sangat mengetahui siapa diriku.”

Ketiga bait di atas adalah penggalan dari 112 bait syair beliau, yang dikenal di kalangan penuntut ilmu dengan judul Manzhumah Abi Ishaq al-Ilbiri. Nama lengkap beliau adalah Ibrahim bin Mas’ud al-Tujibi al-IlbiriĀ (375-460 H).

Maksud ketiga bait di atas adalah beliau mengingatkan putranya bahwa ketika seseorang mencela kita, maka sebenarnya aib yang dia sebutkan itu hanyalah sedikit dari aib kita yang begitu banyak. Dia menutupi (baca: tidak menyebutkan) sebagian besar aib kita karena dia memang tidak mengetahuinya. Karenanya, silakan yang mencela, sebutkan aibku sebanyak yang engkau tahu sampai kamu puas, karena semua aib itu benar adanya. Yakni karena kita selaku manusia yang bergelimang dengan dosa memanglah makhluk yang penuh dengan aib dan kekurangan. Semua aib yang kamu sebutkan itu justru kuanggap sebagai pujian, karena yang kamu sebutkan hanya sedikit. Aku lebih tahu tentang diriku sendiri, bahwa sebenarnya aibku jauh lebih banyak daripada yang kamu sebutkan. Karenanya ketika aib yang kamu sebut hanya sedikit dari aibku yang sangat banyak, maka itu kuanggap sebagai pujian darimu.

Subhanallah, betapa indahnya nasehat ini

Sebuah ucapan yang keluar dari hati yang tulus lagi mengetahui kadar dirinya sendiri

Membaca ketiga bait ini mengingatkan kami akan ucapan Syaikh Muqbil rahimahullah, yang dahulu sangat sering diulang oleh guru kami Ustadz Dzulqarnain hafizhahullah, yang maknanya, “Adapun kami (jika ada yang mencela) maka diri kami ini tidak layak untuk dibela.”

Share and Enjoy:
  • Print
  • Digg
  • StumbleUpon
  • del.icio.us
  • Facebook
  • Yahoo! Buzz
  • Twitter
  • Google Bookmarks

This entry was posted on Saturday, April 7th, 2018 at 8:28 pm and is filed under Akhlak dan Adab. You can follow any responses to this entry through the RSS 2.0 feed. You can skip to the end and leave a response. Pinging is currently not allowed.

Tafadhdhal komentari artikel
Teruntuk Para Pencela