Taqiyyah

May 4th 2012 by Abu Muawiah |

Taqiyyah[1]

Di antara kesesatan mereka adalah: Mereka mewajibkan taqiyyah. Mereka meriwayatkan dari Ash-Shadiq radhiallahu anhu bahwa dia berkata, “Taqiyyah adalah agamaku dan agama nenek moyangku.[2]” Padahal tidak mungkin beliau mengucapkan ucapan seperti ini. Dan sebagian dari mereka ada yang menafsirkan firman Allah Ta’ala:

إِنَّ أَكْرَمَكُمْ عِنْدَ اللَّهِ أَتْقَاكُمْ

“Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling taqwa di antara kamu” (QS. Al-Hujurat: 13)

Maksudnya: Siapa di antara kalian yang paling banyak taqiyyahnya dan yang paling takut kepada orang-orang. Padahal Nabi shallallahu alaihi wasallam telah bersabda, “Barangsiapa yang menafsirkan Al-Qur`an dengan pendapatnya maka sungguh dia telah kafir.[3]

Para ulama mereka telah menukil dari salah orang yang terpercaya di antara mereka bahwa dia berkata, “Ja’far Ash-Shadiq radhiallahu anhu pernah tidur pada suatu malam bersama kami di tempat ‘menyendiri’ khusus miliknya, dan tidak ada seorangpun yang bersama beliau pada malam itu kecuali orang-orang yang sudah tidak kami ragukan akan syi’ah (pertolongan) nya. Lalu beliau bangun untuk shalat tahajjud, beliau berwudhu seraya mengusap kedua telinga beliau dan mencuci kaki beliau. Lalu beliau shalat dengan bersujudkan hamparan yang kusut dengan menyimpul kedua tangannya. Kami mengatakan, “Mungin kebenaran adalah ini,” sampai kami mendengar suara teriakan. Lalu kami melihat seorang lelaki yang merebahkan dirinya pada kedua kaki beliau seraya menciumi keduanya sambil menangis dan meminta maaf. Maka dia ditanya tentang keadaannya, dan dia menjawab, “Khalifah dan anggota pemerintahannya meragukan anda, dan saya dahulu termasuk anggota mereka. Maka saya pun berjanji untuk mencari tahu mazhab anda. Saya menunggu kesempatan beberapa lama hingga akhirnya saya berhasil untuk memasuki rumah anda malam ini, saya bersembunyi sehingga tidak ada seorang pun yang tahu saya di sini. Maka alhamdulillah yang telah menghilangkan keraguan dariku, memberikan kepadaku keyakinan yang baik tentangmu wahai anak putri Rasulullah shallallahu alaihi wasallam, dan Dia tidak membiarkan saya di atas prasangka buruk terhadapmu.” Asy-Syaikh berkata, “Maka kita meyakini kalau Allah tidak menyembunyikan apa pun dari Al-Ma’shum (Ash-Shadiq, pent.), dan kita meyakini kalau ini merupakan taqiyyah dari beliau.” Selesai

Makna tersirat dari ucapan mereka adalah bahwa makna taqiyyah menurut mereka adalah menyembunyikan kebenaran atau meninggalkan sesuatu yang wajib atau mengamalkan sesuatu yang dilarang karena takut kepada orang-orang, wallahu A’lam.

Maka perhatikanlah pada kebodohan para pendusta ini. Dan berdasarkan taqiyyah yang buruk inilah mereka membangun aqidah mereka bahwa Ali sengaja menyembunyikan wasiat kekhalifahannya, beliau sengaja membaiat ketiga khalifah sebelumnya, beliau tidak mengizinkan Fathimah radhiallahu anha mendapatkan hak warisannya -menurut sangkaan mereka-, beliau tidak mencela Umar ketika dia merampas putri beliau dari Fathimah radhiallahu anha, dan selainnya. Mereka mengatakan kalau Ali radhiallahu anhu sengaja melakukan semua itu sebagai bentuk taqiyyah, semoga Allah membinasakan mereka. Ada banyak nash tentang Ali dan keluarganya yang menunjukkan bersihnya mereka dari taqiyyah. Taqiyyah ini hanya diada-adakan secara dusta oleh Rafidhah atas nama mereka, guna melariskan mazhab mereka yang batil. Aqidah mereka ini mengharuskan kita tidak boleh percaya pada ucapan dan perbuatan para imam ahlil bait, karena ada kemungkinan mereka mengucapkan atau melakukan hal itu sebagai bentuk taqiyyah.

Dan jika yang mereka maksudkan dengan ucapan Ash-Shadiq, “Dan agama nenek moyangku,” adalah Nabi shallallahu alaihi wasallam dan sepeninggal beliau, maka itu berarti mereka menyatakan bisa saja kalau beliau shallallahu alaihi wasallam tidak menyampaikan apa yang Allah perintahkan kepada beliau untuk disampaikan karena takut kepada orang-orang dan bisa saja beliau sengaja menentang perintah Allah dengan ucapan dan perbuatan beliau karena takut kepada mereka. Dan ini melazimkan kita tidak boleh percaya pada kenabian beliau, padahal tidak mungkin beliau melakukan hal seperti itu. Dan siapa saja yang menyatakan mungkin saja hal itu terjadi pada diri beliau maka sungguh dia telah menghina beliau, sementara menghina para nabi alaihimus salam adalah kekafiran. Betapa buruknya ucapan suatu kaum yang berisi celaan terhadap para imam mereka, padahal mereka bersih darinya.

[Risalah fi Ar-Radd ‘ala Ar-Rafidhah hal. 64-66]



[1] Taqiyyah di sisi Syiah adalah murni kedustaan dan kemunafikan yang nyata. Sebagaimana yang didefinisikan oleh Al-Mufid dalam Syarh ‘Aqa`id Ash-Shuduq hal. 261 dengan ucapannya, “Taqiyyah adalah menyembunyikan kebenaran, menutupi keyakinan tentangnya, menyembunyikannya dari para penentang dan tidak menampakkannya kepada mereka, pada semua perkara yang bisa mendatangkan mudharat pada agama dan dunia.”

[2] Al-Kafi karya Al-Kulaini (2/228) cet. Daar Al-Adhwa` dan Syarh ‘Aqa`id Ash-Shuduq hal. 115 karya Ibnu Mufid.

[3] Lafazh haditsnya, “Barangsiapa yang menafsirkan Al-Qur`an dengan pendapatnya maka hendaknya dia menyiapkan tempat duduknya did alam neraka.” Hadits ini dha’if, Asy-Syaukani menyebutkannya dalam Al-Fawa`id Al-Majmu’ah hal. 317

Share and Enjoy:
  • Print
  • Digg
  • StumbleUpon
  • del.icio.us
  • Facebook
  • Yahoo! Buzz
  • Twitter
  • Google Bookmarks

This entry was posted on Friday, May 4th, 2012 at 8:15 am and is filed under Mengenal Syi'ah Rafidhah, Syubhat & Jawabannya. You can follow any responses to this entry through the RSS 2.0 feed. Both comments and pings are currently closed.

2 responses about “Taqiyyah”

  1. Bang Ayip said:

    Ustadz, Bagiaman dengan hukum NIKAH MUT’AH ?

    Adakah dalil – dalilnya tadz ?

    Haram. Tidak ada dalilnya yang benar.

  2. Bang Ayip said:

    Pertanyaan ke 2 ustadz !

    Saya punya teman. Dia pengikut syi’ah. Dia sempat mengajak saya untuk BELAJAR SYI’AH dengan ustadz nya. Dia mengatakan, semenjak dia ikut syi’ah , dia mengalami banyak perubahan dalam kehidupannya. Apalagi dengan adanya BUNDA ZAHRA A.S (Putri Nabi) dia semakin semangat dalam menjalani hari-harinya dikarenakan dia selalu bertawasul kepada BUNDA ZAHRA A.S. saya sempat bertanya kepada nya kenapa dia bertawasul kepada BUNDA ZAHRA A.S, kenapa nggak kepada ALLAH saja. Dia menjawab karena BUNDA ZAHRA A.S adalah wanita penghulu alam semesta, wanita penghulu di surga. Bunda Zahra itu adalah bidadari berwujud manusia(haura insyiyah), beliau adalah ummal bathul, putri tercinta Rasulullah SAW yang menjadi panutan muslimah tasyayu’. Bunda Zahra akan selalu mendengar rintihan dan aduan pecintanya apabila pecintanya di dzalimi.

    Yang ingin saya tanyakan ustadz :
    1. Apakah benar yang dikatakannya itu ?
    2. Bolehkah kita bertwasul kepada orang yang sudah tiada walaupun titel nya NABI / SAHABAT / KELUARGA NABI ?

    Untuk jawabannya saya ucapkan Jazaklhr .

    1. Semua itu merupakan kebatilan.
    2. Bertawassul dengan makhluk adalah kesyirikan.