Tafsir Ta’awudz dan Basmalah

February 3rd 2015 by Abu Muawiah |

Pembahasan Seputar Ta’awudz dan Hukum-Hukumnya

Allah Ta’ala berfirman, “Jadilah engkau pema’af dan suruhlah orang mengerjakan yang ma’ruf, serta berpalinglah dari pada orang-orang yang bodoh. Dan jika kamu ditimpa sesuatu godaan syaitan maka berlindunglah kepada Allah.” (QS. al A’raf: 199-200)
Allah Ta’ala berfirman, “Tolaklah perbuatan buruk mereka dengan yang lebih baik. Kami lebih mengetahui apa yang mereka sifatkan. Dan katakanlah: “Ya Tuhanku aku berlindung kepada Engkau dari bisikan-bisikan syaitan. Dan aku berlindung (pula) kepada Engkau ya Tuhanku, dari kedatangan mereka kepadaku.” (QS. al Mukminun: 96-98)
Dan Allah Ta’ala berfirman, “Tolaklah (kejahatan itu) dengan cara yang lebih baik, maka tiba-tiba orang yang antaramu dan antara dia ada permusuhan seolah-olah telah menjadi teman yang sangat setia. Sifat-sifat yang baik itu tidak dianugerahkan melainkan kepada orang-orang yang sabar dan tidak dianugerahkan melainkan kepada orang-orang yang mempunyai keuntungan yang besar. Dan jika syetan mengganggumu dengan suatu gangguan, maka mohonlah perlindungan kepada Allah. Sesungguhnya Dia-lah yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.” (QS. Fushshilat: 34-36)
Ini adalah 3 ayat yang semakna, tidak ada ayat lain yang semakna dengannya. Semuanya menunjukkan perintah Allah Ta’ala untuk membalas musuh dari kalangan manusia dengan kebaikan dan berbuat baik kepadanya, agar tabiat aslinya yang baik bisa mengembalikan dirinya kepada kasih sayang dan kelembutan. Sementara Allah memerintahkan untuk berlindung dari musuh yang berupa setan, tidak ada jalan lain kecuali itu. Hal itu karena setan tidak bisa menerima perlakuan baik dan tidak pula kebaikan, dan dia tidak menghendaki selain kebinasaan anak Adam, karena sengitnya permusuhan antara dirinya dengan nenek moyang mereka dahulu, Adam.

Pendapat yang masyhur, yang merupakan pendapat mayoritas ulama adalah: Ta’awudz dibaca sebelum memulai membaca al Qur`an, untuk mencegah was-was ketika membaca. Makna ayat berikut menurut mereka, “Apabila kamu membaca Al Quran hendaklah kamu meminta perlindungan kepada Allah dari syaitan yang terkutuk.” (QS. an Nahl: 98) Yakni: Jika kamu ingin membaca.

Di antara manfaat ta’awudz yang jarang diketahui adalah: Ta’awudz itu menyucikan mulut dari ucapan lalai dan keji yang pernah dia ucapkan, memperbaiki ucapannya, dan mempersiapkan mulutnya sebelum membaca al Qur`an. Ta’awudz juga merupakan pernyataan minta tolong kepada kepada Allah dan pengakuan akan kemampuan Allah, sekaligus pengakuan akan kelemahan dan ketidakberdayaan hamba dalam menghadapi musuh yang nyata lagi tersembunyi ini, dimana tidak ada yang mampu menahan dan mencegahnya kecuali Allah yang telah menciptakannya, dan musuh ini tidak bisa menerima kebaikan dan tidak perduli dengan perlakuan baik.

Makna ‘a’udzu billaahi minasysyaithonirrojiim’ adalah: Aku memohon perlindungan di sisi Allah dari setan yang terkutuk, jangan sampai dia membahayakan agama dan duniaku, atau menghalangiku dari perintah Allah, atau mendorongku untuk melakukan yang dilarangNya. Karena setan, tidak ada yang mampu mencegahnya dari berbuat jahat kepada manusia selain Allah. Karenanya, Allah Ta’ala memerintahkan untuk memperlakukan musuh dari kalangan manusia dengan kebaikan, dan bergaul dengannya dengan sifat dermawan, agar tabiat aslinya bisa mengembalikan dirinya dari perbuatan buruk yang selama ini dia lakukan. Sebaliknya, Allah memerintahkan untuk berlindung kepadaNya dari setan jin, karena dia tidak bisa disogok dan tidak akan terpengaruh dengan kebaikan. Hal itu karena tabiat aslinya adalah keburukan, sementara tidak ada yang bisa menghalanginya darimu selain Yang telah menciptakannya.

Kata ‘syaithoon’ dalam bahasa Arab, berasal dari kata ‘syathona’, yang bermakna ‘menjauh’. Dikatakan demikian karena tabiat setan itu jauh dari tabiat manusia, dan dengan kefasikannya dia jauh dari semua kebaikan. Ada yang berpendapat: Dia berasal dari kata ‘syaatho’ karena dia diciptakan dari api.
Kata ‘ar rojiim’ berwazan fa’iil yang bermakna maf’uul. Maksudnya: Dia dilemparkan dan diusir dari semua kebaikan.

Bismillaahirrohmaanirrohiim

Para sahabat membuka penulisan kitab Allah dengannya. Para ulama sepakat bahwa ‘bismillaahirrohmaanirrohiim’ merupakan salah satu ayat dalam surah an Naml. Kemudian mereka berbeda pendapat: Apakah ia merupakan ayat yang berdiri sendiri di awal setiap surah atau di awal setiap surah yang awalnya dibuka dengannya, atau ia termasuk ayat dari semua surah, atau dia hanya menjadi awal ayat pada surah al Fatihah dan tidak pada surah lainnya, atau ia hanya ditulis sebagai pemisah (antara surah satu dengan yang lainnya) dan bukan merupakan ayat. Ada banyak pendapat di kalangan ulama terdahulu dan belakangan, dan pembahasannya dipaparkan pada selain buku ini.

Dari orang yang pernah dibonceng oleh Nabi shallallahu alaihi wasallam dia berkata: Keledai Nabi shallallahu alaihi wasallam pernah mengamuk, lalu aku berkata, “Celakalah setan.” Maka Nabi shallallahu alaihi wasallam bersabda, ”Kamu jangan berkata ‘celakalah setan’. Karena jika kamu berkata ‘celakalah setan’, setan akan membesar seraya berkata, “Demi kekuatanku, aku akan mengalahkan dia.” Namun jika kamu berkata ‘bismillohirrohmaanirrohiiim’, maka setan akan menyusut sampai menjadi sekecil lalat.”
Ini adalah salah satu bentuk keberkahan ‘bismillah’, dan karenanya disunnahkan untuk membacanya pada setiap amalan dan ucapan. Disunnahkan membacanya di awal wudhu, ketika makan, dan ketika jima’. Maka yang disyariatkan adalah menyebut nama Allah ketika akan mulai melakukan semua amalan di atas, guna mengharapkan berkah, kebaikan, serta pertolongan agar amalannya bisa sempurna dan diterima. Wallahu a’lam.

‘Allah’ adalah nama bagi Rabb Tabaraka wa Ta’ala. Ada yang berpendapat bahwa ‘Allah’ adalah nama Allah yang terbesar, karena nama inilah yang disifati dengan semua sifat. Sebagaimana firman Allah Ta’ala, “Dialah Allah Yang tiada Tuhan selain Dia, Yang Mengetahui yang ghaib dan yang nyata, Dia-lah Yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang. Dialah Allah Yang tiada Tuhan selain Dia, Raja, Yang Maha Suci, Yang Maha Sejahtera, Yang Mengaruniakan Keamanan, Yang Maha Memelihara, Yang Maha Perkasa, Yang Maha Kuasa, Yang Memiliki segala Keagungan, Maha Suci Allah dari apa yang mereka persekutukan. Dialah Allah Yang Menciptakan, Yang Mengadakan, Yang Membentuk Rupa, Yang Mempunyai Asmaaul Husna. Bertasbih kepadaNya apa yang di langit dan bumi. Dan Dialah Yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.” (QS. al Hasyr: 22-24)
Pada ayat di atas, Allah menjadikan semua nama yang lain sebagai sifat bagi nama ‘Allah’.
Dari Abu Hurairah radhiallahu anhu bahwa Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda, “Sungguh hanya milik Allah 99 nama, 100 kurang 1. Siapa saja yang menghafalnya, maka akan masuk surga.”

Dan nama ‘Allah’ ini adalah nama yang tidak boleh dipakai bernama oleh selain Allah Tabaraka wa Ta’ala.

‘ar Rohmaan ar Rohiim’, dua nama yang berasal dari kata ‘rohmah’ dalam bentuk yang mubaalaghah (sangat berlebih dalam makna), namun ‘ar Rohmaan’ lebih mubalaghah daripada ‘ar Rohiim’. Hal itu karena sifat rahmat pada ‘ar Rohmaan’ lebih umum untuk kedua negeri (dunia dan akhirat) dan untuk semua makhlukNya, sementara ‘ar Rohiim’ khusus untuk kaum mukminin. Tatkala Musailamah al Kadzdzab (sang pendusta) dengan lancang bergelar ‘Rohmaan al Yamaamah’ (Rohmaan dari Yamaamah), Allah mengenakan padanya ‘jilbab’ kedustaan dan menjadikan dia terkenal dengannya. Karena itu, namanya tidaklah disebut kecuali sebagai Musailamah al Kadzdzab.
Adapun ‘ar Rohiim’, maka Allah Ta’ala telah menyifati selain diriNya dengan nama ini. Allah berfirman, “Sungguh telah datang kepadamu seorang Rasul dari kaummu sendiri, berat terasa olehnya penderitaanmu, sangat menginginkan (keimanan dan keselamatan) bagimu, amat belas kasihan (Ro`uuf) lagi penyayang (Rohiim) terhadap orang-orang mukmin.” (QS. at Taubah: 128)
Sebagaimana Allah juga telah menyifati selain diriNya dengan nama-namaNya yang lain.

Kesimpulannya: Di antara nama-nama Allah Ta’ala ada yang boleh dipakai bernama oleh selain dirinya dan ada yang tidak boleh dipakai bernama oleh selain diriNya, seperti nama ‘Allah’, ‘ar Rohmaan’, ‘al Khooliq’, ‘ar Rozzaaq’, dan semacamnya. Karenanya Allah memulai kalimat basmalah ini dengan nama ‘Allah’ lalu menyifati nama itu dengan ‘ar Rohmaan’, karena nama ‘ar Rohmaan’ lebih khusus dan lebih eksklusif daripada nama ‘ar Rohiim’. Karena dalam penamaan, yang pertama kali disebut adalah nama yang paling mulia, karena itu Allah memulai dengan nama yang lebih khusus lalu nama yang kurang khusus.

(Diterjemah dari Mukhtashar Shahih Tafsir Ibnu Katsir, tafsir surah al Fatihah)

Incoming search terms:

  • tafsir ra awudz
Share and Enjoy:
  • Print
  • Digg
  • StumbleUpon
  • del.icio.us
  • Facebook
  • Yahoo! Buzz
  • Twitter
  • Google Bookmarks

This entry was posted on Tuesday, February 3rd, 2015 at 6:18 pm and is filed under Ilmu al-Qur`an. You can follow any responses to this entry through the RSS 2.0 feed. Both comments and pings are currently closed.

Comments are closed.