TAFSIR SURAH AL-INFITHAR

January 29th 2012 by Abu Muawiah |

TAFSIR SURAH AL-INFITHAR

Makiyyah

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَٰنِ الرَّحِيمِ

إِذَا السَّمَاءُ انْفَطَرَتْ. وَإِذَا الْكَوَاكِبُ انْتَثَرَتْ. وَإِذَا الْبِحَارُ فُجِّرَتْ. وَإِذَا الْقُبُورُ بُعْثِرَتْ. عَلِمَتْ نَفْسٌ مَا قَدَّمَتْ وَأَخَّرَتْ. يَا أَيُّهَا الْإِنْسَانُ مَا غَرَّكَ بِرَبِّكَ الْكَرِيمِ. الَّذِي خَلَقَكَ فَسَوَّاكَ فَعَدَلَكَ. فِي أَيِّ صُورَةٍ مَا شَاءَ رَكَّبَكَ. كَلَّا بَلْ تُكَذِّبُونَ بِالدِّينِ. وَإِنَّ عَلَيْكُمْ لَحَافِظِينَ. كِرَامًا كَاتِبِينَ. يَعْلَمُونَ مَا تَفْعَلُونَ.

Dengan nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang

“Apabila langit terbelah, dan apabila bintang-bintang jatuh berserakan, dan apabila lautan dijadikan meluap, dan apabila kuburan-kuburan dibongkar, maka tiap-tiap jiwa akan mengetahui apa yang telah dikerjakan dan yang dilalaikannya. Hai manusia, apakah yang telah memperdayakan kamu (berbuat durhaka) terhadap Rabb-mu Yang Maha Pemurah. Yang telah menciptakan kamu lalu menyempurnakan kejadianmu dan menjadikan (susunan tubuh) mu seimbang, dalam bentuk apa saja yang Dia kehendaki, Dia menyusun tubuh-mu. Bukan hanya durhaka saja, bahkan kamu mendustakan hari pembalasan. Padahal sesungguhnya bagi kamu ada (malaikat-malaikat) yang mengawasi (pekerjaanmu), yang mulia (di sisi Allah) dan yang mencatat (pekerjaan-pekerjaanmu itu), mereka mengetahui apa yang kalian kerjakan.”

Allah Ta’ala berfirman: “Apabila langit terbelah.” Yakni: Terpecah. “Dan apabila bintang-bintang jatuh berserakan.” Yakni: Berjatuhan. “Dan apabila lautan meluap.” Sejumlah para ulama berkata: Allah Ta’ala pancarkan sebahagiannya kepada sebahagian yang lain. Dan Qatadah berkata: Air tawar dan asinnya bercampur. “Dan apabila kuburan-kuburan dibongkar.” Ibnu Abbas berkata: Dihilangkan. Dan As-Suddi berkata: Digerakan sehingga siapa saja yang ada didalamnya keluar.

Dan firman-Nya: “Maka tiap-tiap jiwa akan mengetahui apa yang telah dikerjakan dan yang dilalaikannya.” Yakni: Jika hal tersebut diatas terjadi, maka terjadilah hal ini.

Dan firman-Nya: “Wahai manusia, apakah yang telah memperdayakan kamu (berbuat durhaka) terhadap Rabbmu Yang Maha Mulia.” Ini adalah ancaman. Dan makna ayat ini adalah: Apa yang membuat engkau terpedaya wahai anak Adam terhadap Rabbmu Yang Maha Mulia. Yakni: Maha Agung. Sampai engkau mendahulukan kemaksiatan dan engkau datangi apa-apa yang tidak pantas?

Sejumlah ulama berkata: “Terpedayanya dia adalah -demi Allah- kebodohannya.” Dan Qatadah berkata: “Apa yang membuat kamu terpedaya terhadap Rabbmu Yang Maha Mulia.” Sesuatu yang menipu (memperdaya) anak Adam ini adalah musuh yaitu: Syaithan. Dan Fudhail bin Iyadh berkata: Seandainya ada yang berkata kepadaku apa yang membuat kamu terpedaya padaku??? Dan Abu Bakr Al-Warraq berkata: Seandainya ada yang berkata kepadaku, “Apa yang membuat kamu terpedaya terhadap Rabbmu Yang Maha Mulia.” Maka pasti aku menjawab: Kemuliannya Allah Yang Mahamulia telah membuat saya terperdaya.” Al-Baghawy berkata: Sebagian pakar tentang isyarat berkata: Allah Ta’ala hanya berfirman: “Terhadap Rabbmu Yang Mahamulia.” Tanpa menyebutkan nama-namaNya dan sifat-sifatNya yang lain, seakan-akan Allah telah memberitahukan jawaban dari pertanyaan ini.” Akan tetapi apa yang dikhayalkan oleh pembicaranya ini tidak teranggap sama sekali, sebab Allah hanya mendatangkan satu nama-Nya “Yang Mahamulia,” untuk memberikan peringatan bahwa tidak pantas kemuliaan dibalas dengan perbuatan-perbuatan yang kotor dan amalan-amalan yang jelek.

Dan firman-Nya: “Yang telah menciptakan kamu lalu menyempurnakan kejadianmu dan menjadikan (susunan tubuh)mu seimbang.” Yakni: Apa yang membuat kamu terpedaya terhadap Rabbmu Yang Mahamulia, “Yang telah menciptakan kamu lalu menyempurnakan kejadianmu dan menjadikan (susunan tubuh)mu seimbang.” Yakni: Menjadikanmu seimbang, selaras tegak dalam berdiri yang penyandarannya kepada sebaik-baik keadaan dan permisalan.

Dari Busr bin Jihasy Al-Qurasyi berkata, bahwa Rasulullah r suatu hari meludah ke telapak tangannya, lalu beliau meletakkan sebuah jarinya di atasnya. Kemudian beliau bersabda, “Allah U berfirman, “Wahai anak Adam, bagaimana mungkin kamu membuat Saya lemah sementara Saya yang telah menciptakan kamu dari air yang semisal ini. Sampai ketika Saya sudah menyempurnakan dan memperbaiki penciptaanmu, kamu pun berjalan di antara dua pakaian dan bumi merasa berat memikulmu. Maka kamu pun mengumpulkan harta dan menahan dari bersedekah, sampai ketika ruh sudah sampai di tenggorokan, kamu baru berkata, “Saya akan bersedekah,” padahal bukan lagi saatnya bersedekah.?[1]

Dan firman-Nya: “Dalam bentuk apa saja yang Dia kehendaki, Dia menyusun tubuhmu.” Mujahid berkata: Pada segala penyerupaan dari ayah atau ibu atau paman dari pihak ayah atau paman dari pihak ibu. Dalam Ash-Shahihain[2] dari Abu Hurairah: Bahwasannya seorang laki-laki bertanya kepada Rasulullah: Sesungguhnya istriku melahirkan seorang anak laki-laki hitam. Beliau bersabda: apakah kamu mempunyai unta? Laki-laki itu menjawab: Ya. Beliau bersabda: Apa warnanya? Dia menjawab: merah. Beliau bersabda: apakah padanya ada yang berwarna putih? Dia menjawab: Iya. Beliau bersabda: bagaimana dia bisa melahirkan yang berwarna hitam?! Dia berkata: Mungkin itu factor keturunan,” maka beliau bersabda, “Kalau begitu, ini pun mungkin factor keturunan.”

Ikrimah berkata pada firman Allah Ta’ala: “Dalam bentuk apa saja yang Dia kehendaki, Dia menyusunmu.” Jika Dia kehendaki pada bentuk monyet, maka engkau akan berbentuk pada bentuk monyet. Dia jika kehendaki pada bentuk babi, maka engkau akan dalam bentuk babi juga. Demikian pula dikatakan oleh Abu Shalih: Dalam bentuk anjing jika Dia kehendaki, dalam bentuk keledai dan jika Dia kehendaki, dalam bentuk babi. Dan Qatadah berkata: “Dalam bentuk apa saja yang Dia kehendaki, Dia menyusun tubuhmu.” Beliau berkata: Allah Rabb kita Mahamampu atas hal yang demikian.

Dan makna perkataan ini disisi mereka: Sesungguhnya Allah Ta’ala Mahamampu pada pembentukan yang jelek dari hewan-hewan yang tergabung kedalam hewan-hewan yang asing, akan tetapi karena keMahamampun-Nya dan kelembutan-Nya, Dia menciptamu diatas bentuk yang paling baik yang tegak dan sempurna, paling baik dipandang dan paling baik keadaannya.

Dan firman-Nya: “Bahkan kamu mendustakan hari pembalasan.” Yakni: Tidak ada yang membuat kalian menghadapi dan membalas Yang Mahamulia dengan kemaksiatan kecuali pendustaan terhadap hari kebangkitan, pembalasan, dan hisab yang bercokol di dalam hati-hati kalia.

Dan firman-Nya: “Padahal sesungguhnya bagi kamu ada (malaikat-malaikat) yang mengawasi (pekerjaanmu), yang mulia (di sisi Allah) dan yang mencatat (pekerjaan-pekerjaanmu itu), mereka mengetahui apa yang kamu kerjakan.” Yakni: Sesungguhnya pada kalian ada malaikat penjaga yang mulia lagi mencatat. Maka jangan kalian hadapkan mereka dengan kekejian sehingga mereka menulis seluruh amalan-amalan kalian.

إِنَّ الْأَبْرَارَ لَفِي نَعِيمٍ. وَإِنَّ الْفُجَّارَ لَفِي جَحِيمٍ. يَصْلَوْنَهَا يَوْمَ الدِّينِ. وَمَا هُمْ عَنْهَا بِغَائِبِينَ. وَمَا أَدْرَاكَ مَا يَوْمُ الدِّينِ. ثُمَّ مَا أَدْرَاكَ مَا يَوْمُ الدِّينِ. يَوْمَ لَا تَمْلِكُ نَفْسٌ لِنَفْسٍ شَيْئًا ۖ وَالْأَمْرُ يَوْمَئِذٍ لِلَّهِ.

“Sesungguhnya orang-orang yang banyak berbakti benar-benar berada dalam Surga yang penuh keni’matan, dan sesungguhnya orang-orang yang durhaka benar-benar berada dalam Neraka. Mereka masuk ke dalamnya pada hari pembalasan. Dan mereka sekali-kali tidak dapat keluar dari Neraka itu. Tahukah kamu apakah hari pembalasan itu? Sekali lagi, tahukah kamu apakah hari pembalasan itu? (Yaitu) hari (ketika) seseorang tidak berdaya sedikitpun untuk menolong orang lain. Dan segala urusan pada hari itu dalam kekuasaan Allah.”

Allah Ta’ala menghabarkan tentang apa-apa terjadi pada orang-orang yang berbuat baik berupa kenikmatan, dan mereka adalah orang-orang yang taat kepada Allah dan tidak melakukan maksiat. Kemudian Allah Ta’ala menyebutkan apa yang terjadi pada orang-orang bejat berupa Nekara Jahim dan siksaan yang terus menerus. Oleh karena itu Allah Ta’ala berfirman: “Mereka masuk ke dalamnya pada hari pembalasan.” Yakni: Hari perhitungan, hari pembalasan, dan hari Kiamat. “Dan mereka sekali-kali tidak dapat menghindar itu.” Yakni: Mereka tidak bisa menghindar dari siksaan sesaatpun, dan siksaannya tidak akan diringankan kepada mereka dan segala yang mereka minta berupa kematian atau istirahat tidak akan dipenuhi walaupun hanya sehari.

Dan firman-Nya: “Tahukah kamu apakah hari pembalasan tersebut.” Ini adalah penggambaran tentang keadaan hari Kiamat. Kemudian Allah kuatkan dengan firman-Nya: “Kemudian, tahukah kamu apakah hari pembalasan itu.” Kemudian Allah menafsirkannya dengan firman-Nya: “Hari yang  jiwa tidak mempunyai pemilikan pada jiwa manapun juga sedikitpun.” Yakni: Seseorang tidak mampu untuk memberikan manfaat pada orang lain, dan tidak mampu untuk melepaskannya dari apa-apa yang dia berada padanya, kecuali bagi orang-orang yang Allah Ta’ala izinkan dan yang Dia Ridhai dan kami sebutkan padanya hadits, “Wahai bani Hasyim selamatkan diri-diri kalian dari Nekara, sungguh saya tidak mempunyai kemampuan kepada kalian dihadapan Allah sedikitpun.[3]Dan telah berlalu pada akhir tafsir surah Asy-Syu’araa oleh karena itu Allah Ta’ala berfirman “Dan segala urusan pada hari itu dalam kekuasaan Allah.” Sebagaimana firman-Nya: “Kepunyaan siapakah kerajaan pada hari ini?” Kepunyaan Allah Yang Maha Esa lagi Maha Mengalahkan.” (Ghafir: 16) dan firman-Nya: “Kerajaan yang hak pada hari itu adalah kepunyaan Rabb Yang Maha Pemurah.” (Al-Furqan: 26) dan firman-Nya: “Yang menguasai hari pembalasan.” (Al-Fatihah: 4)

Qatadah berkata: “Hari yang jiwa tidak mempunyai pemilikan pada jiwa manapun juga sedikitpun juga. Dan segala urusan pada hari itu dalam kekuasaan Allah.”

[Diterjemah dari Shahih Tafsir Ibnu Katsir jilid 2, karya Asy-Syaikh Musthafa Al-Adawi]

[1] Shahih, dan haditsnya telah berlalu dalam surah An-Nahl.

[2] HR. Bukhari no. 5305 dan Muslim no. 1500

[3] Hadits shahih, telah berlalu penyebutannya.

Share and Enjoy:
  • Print
  • Digg
  • StumbleUpon
  • del.icio.us
  • Facebook
  • Yahoo! Buzz
  • Twitter
  • Google Bookmarks

This entry was posted on Sunday, January 29th, 2012 at 9:32 am and is filed under Ilmu Al-Qur`an. You can follow any responses to this entry through the RSS 2.0 feed. Both comments and pings are currently closed.

1 response about “TAFSIR SURAH AL-INFITHAR”

  1. Tafsir Surat Al-Infithar « Abu Ubaidah Rifqul Fendi said:

    [...] tenggorokan, kamu baru berkata, “Saya akan bersedekah,” padahal bukan lagi saatnya bersedekah.?[1] [...]