Tafsir Surah Al-Falaq

August 19th 2013 by Abu Muawiah |

Tafsir Surah Al-Falaq

Bismillahirrahmanirrahim

Katakanlah, “Aku berlindung kepada Rabb Yang Menguasai al-falaq, dari kejahatan makhluk-Nya, dan dari kejahatan malam apabila telah gelap gulita, dan dari kejahatan wanita-wanita tukang sihir yang menghembus pada buhul-buhul, dan dari kejahatan pendengki bila dia dengki.”

Sejumlah ulama mengatakan, “Al-falaq” adalah subuh, ini seperti firman Allah Ta’ala, “Dia menyingsingkan waktu subuh.” (Al-An’am: 96) Ada yang mengatakan, “Al-falaq” adalah makhluk,” dan ada yang mengatakan, “Al-falaq” adalah sebuah rumah di dalam Jahannam. Jika pintu rumah ini dibuka, maka semua penghuni neraka akan berteriak karena sangat panasnya.” Ibnu Jarir berkata, “Yang paling benar adalah pendapat yang pertama, bahwa al-falaq adalah subuh.” Inilah pendapat yang paling benar.

Firman Allah Ta’ala, “Dari kejahatan makhluk-Nya,” yakni: Dari kejelekan seluruh makhluk.

Firman Allah Ta’ala, “Dan dari kejahatan malam apabila telah gelap gulita.” Ada yang mengatakan, “Kejahatan malam jika telah gelap gulita.” Az-Zuhri berkata, “Dan dari kejahatan malam apabila telah gelap gulita,” yaitu matahari jika dia tenggelam.

Dari Abu Salamah dia berkata, “Aisyah -radhiallahu anha- berkata, “Rasulullah shallallahu alaihi wasallam pernah memegang tanganku, lalu beliau memperlihatkan kepadaku bulan ketika munculnya. Kemudian beliau bersabda, “Berlindunglah kamu kepada Allah dari kejelekan bulan ini jika dia terbenam.”

Ulama yang berpendapat dengan pendapat pertama mengatakan, “Yaitu tanda masuknya malam adalah jika bulan sudah muncul.” Pendapat ini tidak bertentangan dengan pendapat kami, karena bulan adalah tanda masuknya malam. Bulan tidak mempunyai peranan apa-apa kecuali di malam hari, sebagaimana bintang-bintang juga tidak bisa bersinar kecuali di malam hari, sehingga hal ini kembalinya kepada apa yang telah kami jelaskan, wallahu a’lam.

Firman Allah Ta’ala, “Dan dari kejahatan wanita-wanita tukang sihir yang menghembus pada buhul-buhul,” yakni: Para penyihir wanita jika mereka membaca mantra dan meniup pada buhul-buhul. Dalam sebuah hadits[1], bahwa Jibril pernah datang kepada Nabi shallallahu alaihi wasallam lalu berkata, “Apakah kamu merasa sakit ya Muhammad?” beliau menjawab, “Ya.” Maka Jibril berkata, “Bismillah, aku meruqyah kamu dari setiap penyakit yang mengganggumu, serta dari kejelekan semua orang yang hasad dan mata yang dengki. Semoga Allah menyembuhkanmu.” Mungkin saja hal ini akibat dari keluhan yang beliau u rasakan tatkala beliau disihir, kemudian Allah Ta’ala memberikan kesehatan dan menyembuhkan beliau, dan mempermalukan mereka (orang-orang Yahudi). Akan tetapi bersamaan dengan itu, Rasulullah shallallahu alaihi wasallam tidak pernah sekali pun menghardiknya, bahkan cukuplah Allah yang menyembuhkan dan yang memberikan kesehatan.

Dari Aisyah[2] dia berkata, “Dulu Rasulullah shallallahu alaihi wasallam pernah tersihir sampai-sampai beliau mengira diri beliau mendatangi istri-istri beliau padahal beliau tidak pernah mendatangi mereka. Maka beliau bersabda, “Wahai Aisyah, apakah kamu mengetahui bahwa Allah telah memberitahuku apa yang saya bertanya tentangnya kepada-Nya? Ada dua orang yang mendatangiku, lalu salah satunya duduk di atas kepalaku dan yang lainnya duduk di kakiku. Maka yang berada di atas kepalaku berkata kepada yang lainnya, “Ada apa dengan laki-laki ini?” dia menjawab, “Terkena sihir.” Dia berkata, “Siapa yang menyihirnya?” dia menjawab, “Labid bin A’sham -salah seorang dari Bani Zuraiq, sekutu Yahudi, dia adalah seorang munafiq- Dia berkata, “Dengan apa?” dia menjawab, “Pada sihir dan rambut yang rontok.” Dia berkata, “Dimana?” dia menjawab, “Di dalam kulit mayang korma jantan di dalam sumur Dzarwan.” Aisyah berkata, “Nabi shallallahu alaihi wasallam kemudian mendatangi sumur tersebut sampai akhirnya beliau mengeluarkannya dari sumur. Beliau berkata, “Inilah sumur yang diperlihatkan kepadaku. Airnya seperti celupan pacar, dan kormanya seperti kepala-kepala setan.” Aisyah berkata, “Maka benda itupun dikeluarkan.” Saya (Aisyah) berkata, “Tidakkah engkau …?” maksudnya: Apakah engkau melakukan nusyrah? Beliau menjawab, “Sungguh Allah telah menyembuhkan aku, dan saya tidak senang untuk memberikan kejelekan kepada seorang pun dari manusia.”

[Shahih Tafsir Ibnu Katsir, karya Musthafa Al-Adawi hafizhahullah]


[1] HR. Muslim (14/170 –Syarh An-Nawawi)

[2] HR. Al-Bukhari (5765)

Share and Enjoy:
  • Print
  • Digg
  • StumbleUpon
  • del.icio.us
  • Facebook
  • Yahoo! Buzz
  • Twitter
  • Google Bookmarks

This entry was posted on Monday, August 19th, 2013 at 2:30 pm and is filed under Ilmu al-Qur`an. You can follow any responses to this entry through the RSS 2.0 feed. Both comments and pings are currently closed.

Comments are closed.