Syirik Kecil

September 15th 2014 by Abu Muawiah |

Jenis Kedua: Syirik Ashghar (Kecil)

Syirik ini ada 2 bentuk:

Bentuk Pertama: Syirik Ashghar yang Zahir (Nampak)

Ini terjadi pada 3 perkara:

Hal Pertama: Syirik Dalam Rububiah

Syirik ini mencakup 3 perkara:

Satu: Syirik Dalam Keyakinan.
Seperti meyakini sesuatu sebagai sebab dalam menolak mudarat atau dalam meraih manfaat, padahal sebenarnya sesuatu itu bukanlah sebab.
Ibnu Utsaimin berkata, “Barangsiapa yang meyakini sesuatu sebagai sebab (padahal bukan, penj.) -walaupun dia meyakini bukan sesuatu itu yang mewujudkan keinginan- maka dia telah berbuat syirik kecil. Hal itu karena tatkala dia meyakini sesuatu sebagai sebab padahal sebenarnya dia bukanlah sebab, maka sungguh dia telah menyekutukan Allah Ta’ala dalam menghukumi sesuatu itu sebagai sebab, karena Allah Ta’ala tidak pernah menetapkan sesuatu itu sebagai sebab.” (al Qaul al Mufid: 1/208)

Dua: Syirik Dalam Amalan.
Seperti orang yang mengenakan jimat atau mengenakan gelang atau benang atau yang semacamnya guna mengangkat atau mencegah bala bencana. Hal itu karena siapa saja yang menetapkan sesuatu sebagai sebab, padahal Allah tidak pernah menjadikannya sebagai sebab, baik menurut syar’i maupun menurut kauni, maka sungguh dia telah menyekutukan Allah.

Tiga: Syirik Dalam Ucapan.
Semisal menyandarkan turunnya hujan kepada (rotasi) bintang-bintang, walaupun dia masih meyakini bahwa yang menurunkan hujan sebenarnya adalah Allah Azza wa Jalla. Seperti mengatakan: Jika bintang ini sudah terbenam, maka hujan akan turun. Jika bintang ini sudah terbit, maka hujan akan turun. Sehingga mereka menisbatkan turunnya hujan kepada bintang sebagai sebab, padahal Allah tidak pernah menetapkannya sebagai sebab.
Hal Kedua: Syirik Dalam Uluhiah

Ini terjadi pada 3 perkara:

Satu: Syirik Dalam Keyakinan.
Seperti meyakini suatu benda berberkah, padahal Allah tidak pernah menetapkan adanya keberkahan padanya. Hal itu karena tabarruk tidak boleh dicari kecuali dari sesuatu yg syar’i, seperti al Quran, karena di antara keberkahannya adalah 1 huruf setara dengan 10 kebaikan. Atau dengan sesuatu yang bisa ditangkap oleh panca indera dan sudah dimaklumi, seperti ilmu, karena di antara keberkahannya adalah pemiliknya bisa meraih kebaikan yang banyak dan pahala yang besar darinya.
Dari sini diketahui bahwa tabarruk adalah ibadah, karena manusia tidak melakukannya kecuali guna meraih pahala, ganjaran, dan kebaikan dari Allah. Sementara ibadah itu harus dibangun di atas dalil dan ittiba’.

Dua: Syirik Dalam Amalan.
Seperti menggosokkan tangan pada suatu benda (sebagai tabarruk, penj.) yang Allah tidak pernah menetapkan keberkahan padanya. Seperti mencium pintu-pintu masjid, menggosokkan tubuh ke tiang-tiangnya, dan berobat dengan tanahnya. Dan semisal dengannya, menggosokkan tubuh ke dinding Ka’bah atau maqam Ibrahim.
Di antara bentuknya adalah mendatangi kuburan namun bukan dengan tujuan ziarah, melainkan untuk berdoa di sisinya karena meyakini keberkahan kubur tersebut dan meyakini bahwa berdoa di sisinya lebih utama.
Ibnu Taimiah berkata, “Adapun jika seseorang meniatkan untuk shalat di sisi kubur para nabi atau orang-orang saleh sebagai bentuk tabarruk dengan mengerjakan shalat di tempat itu, maka ini murni perbuatan penentangan kepada Allah dan RasulNya, penyelisihan terhadap agamaNya, dan memunculkan ibadah baru yang Allah tidak pernah izinkan.” (Iqtidha’ ash Shirath al Mustaqim: 1/334)

Tiga: Syirik Dalam Ucapan.
Seperti bersumpah dengan selain nama Allah, seperti bersumpah dengan Ka’bah atau dengan ar Rasul shallallahu alaihi wasallam atau dengan langit atau dengan kehidupan atau dengan kemuliaan atau selainnya. Hal itu karena sumpah, tidak boleh dilakukan kecuali dengan menggunakan nama-nama Allah atau sifat-sifatNya, dan tidak boleh bersumpah dengan selainNya.
Namun, jika dia meyakini bahwa keagungan makhluk yang namanya dipakai bersumpah itu, sama dengan keagungan Allah, maka itu adalah syirik akbar. Dan jika dia tidak meyakini seperti itu, maka itu adalah syirik kecil.
Hal Ketiga: Syirik Dalam Nama-Nama dan Sifat-Sifat Allah

Ini terjadi pada 3 perkara:

Satu: Syirik Dalam Keyakinan.
Seperti bersandar pada sesuatu yang bukan sebab secara syar’i dan bukan pula sebab secara kauni. Karena menetapkan sesuatu yang seperti ini sifatnya sebagai sebab merupakan bentuk bersekutu dengan Allah dalam menghukumi sesuatu sebagai sebab.

Dua: Syirik Dalam Amalan.
Seperti mengenakan jimat dan kalung yang katanya bisa mencegah terjadinya penyakit ain dan semacamnya. Menisbatkan pencegahan dari penyakit kepada sesuatu yang bukan sebab secara syar’i dan bukan pula secara kauni adalah bentuk syirik kecil, krn dia telah menetapkan sesuatu sebagai sebab padahal Allah tidak pernah menetapkan itu sebagai sebab. Sehingga bisa dikatakan dia bersekutu dengan Allah dalam penetapan sesuatu sebagai sebab.

Tiga: Syirik Dalam Ucapan.
Seperti ucapan: ‘Apa yg Allah dan anda kehendaki’, karena ucapan ini mengandung penggandengan selain Allah bersama Allah dengan kata ‘dan’ (yg menunjukkan penyetaraan, penj.)
Ibnu Utsaimin berkata, “Jika dia meyakini bahwa selain Allah itu setara dengan Allah Azza wa Jalla dalam pengaturan dan kehendak, maka itu adalah syirik akbar. Namun jika dia tidak sampai meyakini hal itu, dan tetap meyakini bahwa Allah Subhanahu wa Ta’ala di atas segala sesuatu, maka itu adalah syirik kecil.” (Al Qaul al Mufid: 2/389)
Ibnu al Qayyim berkata, “Termasuk syirik kepada Allah Subhanah adalah menyekutukan-Nya dalam ucapan. Seperti ucapan seseorang kepada orang lain, “Apa yang Allah dan anda kehendaki.” Sebagaimana yang telah shahih dari Nabi shallallahu alaihi wasallam, bahwa ada seorang lelaki yang berkata kepada beliau, “Apa yg Allah dan anda kehendaki.” Maka beliau bersabda:

أجعلتني لله ندا؟! قل: ما شاء الله وحده

“Apakah kamu menjadikan saya sbg tandingan bagi Allah?! Cukup katakan: “Apa yg Allah kehendaki semata.” (HR. Ahmad dgn sanad hasan)
Ini tetap merupakan ucapan yang terlarang, padahal Allah juga menetapkan kalau hamba juga memang mempunyai kehendak. Seperti pada firmanNya:

لمن شاء منكم أن يستقيم

“Bagi siapa di antara kalian yang hendak istiqamah.” (QS. at Takwir: 28)
Maka bagaimana lagi dengan orang yang berkata, “Saya bertawakkal kepada Allah dan kepada anda,” “Saya sdh merasa cukup dengan Allah dan anda,” “Saya tidak punya siapa-siapa lagi kecuali Allah dan anda,” “Anugerah ini berasal dari Allah dan dari anda,” “Ini adalah keberkahan dari Allah dan dari anda,” “Allah bagiku di langit dan anda bagiku di bumi,” atau ucapan, “Demi Allah dan demi kehidupan si fulan,” atau mengatakan, “Ini adalah nazar untuk Allah dan untuk si fulan,” “Aku bertaubat kepada Allah dan kepada anda,” “Aku berharap kepada Allah dan kepada fulan,” dan ucapan-ucapan lain yang semakna dengannya.
Maka coba bandingkan antara semua ucapan di atas dengan ucapan: “Apa yang Allah dan anda kehendaki,” kemudian perhatikanlah, mana dari kedua jenis ucapan ini yg lebih buruk?! Niscaya akan jelas bagimu, bahwa jawaban Nabi shallallahu alaihi wasallam di atas lebih pantas lagi ditujukan kepada orang yang mengucapkan ucapan jenis pertama di atas. Dan bahwa jika sahabat tadi telah menjadikan Nabi sebagai tandingan bagi Allah hanya dengan ucapan seperti itu, maka orang yag mengucapkan semua ucapan di atas telah menjadikan orang yang tidak ada apa-apanya dibandingkan Rasulullah shallallahu alaihi wasallam -bahkan bisa jadi dia termasuk musuh-musuh beliau-, sebagai tandingan bagi Rabb alam semesta.” (al Jawab al Kafi hal. 199)

Share and Enjoy:
  • Print
  • Digg
  • StumbleUpon
  • del.icio.us
  • Facebook
  • Yahoo! Buzz
  • Twitter
  • Google Bookmarks

This entry was posted on Monday, September 15th, 2014 at 1:20 pm and is filed under Nawaqidh al Islam, Terjemah Kitab. You can follow any responses to this entry through the RSS 2.0 feed. Both comments and pings are currently closed.

Comments are closed.