Syiah Mengingkari Keabsahan Khilafah Abu Bakar

April 20th 2012 by Abu Muawiah |

Syiah Mengingkari Keabsahan Khilafah Abu Bakar

Di antara kesesatan Syiah adalah mereka mengingkari keabsahan khilafah Ash-Shiddiq radhiallahu anhu[1], dan pengingkaran ini melazimkan mereka menghukumi fasik semua orang yang membaiat beliau dan yang meyakini keabsahan khilafah beliau. Padahal beliau telah dibaiat oleh para sahabat radhiallahu anhum, termasuk di dalamnya para sahabat ahlul bait seperti Ali radhiallahu anhu, dan mayoritas umat ini meyakini keabsahan khilafah beliau[2]. Keyakinan bahwa para sahabat ini adalah orang-orang yang fasik bertentangan dengan firman Allah Ta’ala:

كُنْتُمْ خَيْرَ أُمَّةٍ أُخْرِجَتْ لِلنَّاسِ

“Kalian adalah umat terbaik yang pernah terlahir untuk umat manusia.” (QS. Ali Imran: 110)

Hal itu karena kebaikan macam apa yang ada pada suatu umat yang para sahabat nabi mereka menyelisihi nabi mereka sendiri, yang menzhalimi ahli baitnya dengan kebencian hanya karena masalah kedudukan, mengganggu mereka, dan mayoritas mereka meyakini kebatilan sebagai suatu kebenaran? Maha Suci Engkau ya Allah, ini adalah suatu kedustaan yang besar. Sementara siapa saja yang meyakini sesuatu yang bertentangan dengan kitab Allah maka sungguh dia telah kafir.

Hadits-hadits serta ijma’ para sahabat dan mayoritas umat ini yang menunjukkan keabsahan khilafah Ash-Shiddiq sangat banyak sekali. Dan siapa saja yang menghukumi mayoritas sahabat Nabi shallallahu alaihi wasallam adalah fasik dan zhalim dan menyatakan bahwa kesepakatan mereka adalah kesepakatan di atas kebatilan, maka sungguh dia telah menghina Nabi shallallahu alaihi wasallam, sementara menghina beliau adalah kekafiran. Betapa sia-sianya[3] amalan kaum yang meyakini mayoritas[4] Nabi shallallahu alaihi wasallam sebagai orang-orang yang fasik, pelaku maksiat, dan melampaui batas. Padahal akal yang sehat telah menetapkan bahwa Allah Ta’ala tidaklah memilihkan sahabat untuk manusia pilihannya dan tidaklah memilih kaum yang menolong agama-Nya kecuali juga merupakan makhluk pilihan-Nya[5]. Dan penukilan yang mutawatir juga menunjukkan hal tersebut. Seandainya terdapat kebaikan pada mereka (Syiah), niscaya mereka tidak akan berkomentar tentang sahabat Nabi shallallahu alaihi wasallam dan penolong agama-Nya kecuali dengan komentar yang baik. Akan tetapi Allah telah menetapkan mereka sebagai kaum yang celaka, sehingga Diapun menghinakan mereka dengan mereka mencela para penolong agama ini. Setiap orang dimudahkan untuk menjalani apa yang dia diciptakan untuknya.

Dari Jubair bin Muth’im dia berkata:

أَتَتْ امْرَأَةٌ إلىَ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَأَمَرَهَا أَنْ تَرْجِعَ إِلَيْهِ. فَقَالَتْ: إِنْ جِئْتُ وَلَمْ أَجِدْكَ – كَأَنَّهَا تَقُولُ الْمَوْتَ – قَالَ: إِنْ لَمْ تَجِدِينِي فَأْتِي أَبَا بَكْرٍ

“Ada seorang wanita yang mendatangi Nabi shallallahu alaihi wasallam, tapi beliau menyuruhnya untuk kembali lain waktu. Maka wanita itu berkata, “Jika saya datang kembali tapi tidak lagi menjumpai anda –kelihatannya yang dia maksud adalah meninggal-?” Beliau bersabda, “Jika kamu tidak menjumpai aku lagi maka datangilah Abu Bakar.” (HR. Al-Bukhari dan Muslim[6])

Dari Aisyah radhiallahu anha dia berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam berkata ketika beliau sakit yang berujung pada wafatnya beliau:

ادْعِي لِي أَبَاكِ وَأَخَاكِ حَتَّى أَكْتُبَ كِتَابًا فَإِنِّي أَخَافُ أَنْ يَتَمَنَّى مُتَمَنٍّ وَيَقُولُ قَائِلٌ أَنَا أَوْلَى وَيَأْبَى اللَّهُ وَالْمُؤْمِنُونَ إِلَّا أَبَا بَكْرٍ

“Panggillah ayahmu dan saudara laki-lakimu ke sini, agar aku buatkan sebuah surat (keputusan khalifah). Karena aku khawatir jika kelak ada orang yang ambisius dan mengatakan, “Akulah yang lebih berhak menjadi khalifah.” Sementara Allah dan orang-orang yang beriman tidak menyetujuinya selain Abu Bakar.” (HR. Muslim dan Ahmad[7])

Maka hadits ini menyatakan bahwa siapa saja yang tidak setuju dengan khilafah Abu Bakar maka dia bukanlah orang-orang yang beriman.

Allah Ta’ala berfirman:

وَمَنْ يَرْتَدِدْ مِنْكُمْ عَنْ دِينِهِ فَيَمُتْ وَهُوَ كَافِرٌ فَأُولَٰئِكَ حَبِطَتْ أَعْمَالُهُمْ فِي الدُّنْيَا وَالْآخِرَةِ ۖ وَأُولَٰئِكَ أَصْحَابُ النَّارِ ۖ هُمْ فِيهَا خَالِدُونَ

“Barangsiapa yang murtad di antara kamu dari agamanya, lalu dia mati dalam kekafiran, maka mereka itulah yang sia-sia amalannya di dunia dan di akhirat, dan mereka itulah penghuni neraka, mereka kekal di dalamnya.” (QS. Al-Baqarah: 217)

Karena Abu Bakar lah yang berjihad memerangi orang-orang yang murtad.

Allah Ta’ala berfirman:

قُلْ لِلْمُخَلَّفِينَ مِنَ الْأَعْرَابِ سَتُدْعَوْنَ إِلَىٰ قَوْمٍ أُولِي بَأْسٍ شَدِيدٍ تُقَاتِلُونَهُمْ أَوْ يُسْلِمُونَ

“Katakanlah kepada orang-orang Badwi yang tertinggal: “Kamu akan diajak untuk (memerangi) kaum yang mempunyai kekuatan yang besar, kamu akan memerangi mereka atau mereka menyerah (masuk Islam).” (QS. Al-Fath: 16)

Karena Abu Bakar sendiri lah yang langsung memerangi Bani Hanifah[8], yang merupakan kabilah yang paling keras pembangkangannya ketika mereka murtad.

Dan Allah Ta’ala berfirman:

وَعَدَ اللَّهُ الَّذِينَ آمَنُوا مِنْكُمْ وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ لَيَسْتَخْلِفَنَّهُمْ فِي الْأَرْضِ كَمَا اسْتَخْلَفَ الَّذِينَ مِنْ قَبْلِهِمْ وَلَيُمَكِّنَنَّ لَهُمْ دِينَهُمُ الَّذِي ارْتَضَىٰ لَهُمْ

“Dan Allah telah berjanji kepada orang-orang yang beriman di antara kamu dan mengerjakan amal-amal yang saleh bahwa Dia sungguh-sungguh akan menjadikan mereka berkuasa dimuka bumi, sebagaimana Dia telah menjadikan orang-orang sebelum mereka berkuasa, dan sungguh Dia akan meneguhkan bagi mereka agama yang telah diridhai-Nya untuk mereka.” (QS. An-Nur: 55)

Dan Allah telah mengokohkan Islam dengan Abu Bakar dan Umar. Karenanya keduanya adalah khalifah yang hak karena adanya janji yang benar dari Allah.

Dan telah shahih dari sabda Nabi shallallahu alaihi wasallam:

اَلْخِلافَةُ بَعْدِي ثَلاثُوْنَ

 “Kekhalifahan setelahku berlangsung selama 30 tahun.”

Dalam riwayat lainnya, “Kekhilafahan nubuwah.[9]

Dan juga telah shahih adanya perintah beliau shallallahu alaihi wasallam kepada Abu Bakar agar dia mengimami para sahabat ketika beliau sakit yang berujung pada wafatnya beliau[10]. Dan perintah beliau untuk memajukan Abu Bakar menjadi imam ini adalah di antara tanda terkuat yang menunjukkan kekhilafahan Ash-Shiddiq. Dan kisah ini telah dijadikan dalil dalam masalah ini oleh sejumlah sahabat yang mulia seperti: Umar, Abu Ubaidah, dan Ali radhiallahu anhu.

Maka semua dalil di atas dan semacamnya membuat hitam wajah-wajah Syiah Rafidhah dan orang-orang fasik yang mengingkari kekhilafahan Ash-Shiddiq radhiallahu anhu.

[Diterjemahkan secara ringkas dari kitab Risalah fi Ar-Radd ‘ala Ar-Rafidhah karya Asy-Syaikh Muhammad bin Abdil Wahhab hal. 45-52]



[1] Rijal Al-Kisysyi (61) dan Minhaj Al-Karamah (194-202)

[2] Bahkan ijma’ umat ini telah mendahulukan Abu Bakar dan Umar dalam masalah khilafah. Asy-Syaikh Ibnu Al-Utsaimin berkata dalam Syarh Al-Wasithiah (2/72), “Hal itu karena ahlussunnah mengimani bahwa khalifah setelah Rasulullah shallallahu alaihi wasallam adalah Abu Bakar, kemudian Umar, kemudian Utsman, kemudian Ali. Inilah yang disepakati oleh ahlussunnah dalam masalah khilafah.”

[3] Kelihatannya yang lebih tepat adalah: ‘buruknya’.

[4] Mungkin yang dimaksud adalah: Mayoritas sahabat Nabi.

[5] Betapa indahnya hadits yang diriwayatkan oleh Ahmad no. 3600 dalam masalah ini dari Abdullah bin Mas’ud dia berkata:

إِنَّ اللَّهَ نَظَرَ فِي قُلُوبِ الْعِبَادِ فَوَجَدَ قَلْبَ مُحَمَّدٍ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ خَيْرَ قُلُوبِ الْعِبَادِ فَاصْطَفَاهُ لِنَفْسِهِ فَابْتَعَثَهُ بِرِسَالَتِهِ ثُمَّ نَظَرَ فِي قُلُوبِ الْعِبَادِ بَعْدَ قَلْبِ مُحَمَّدٍ فَوَجَدَ قُلُوبَ أَصْحَابِهِ خَيْرَ قُلُوبِ الْعِبَادِ فَجَعَلَهُمْ وُزَرَاءَ نَبِيِّهِ يُقَاتِلُونَ عَلَى دِينِهِ فَمَا رَأَى الْمُسْلِمُونَ حَسَنًا فَهُوَ عِنْدَ اللَّهِ حَسَنٌ وَمَا رَأَوْا سَيِّئًا فَهُوَ عِنْدَ اللَّهِ سَيِّئٌ

Sesungguhnya Allah melihat ke hati para hamba-Nya, lalu Dia mendapati hati Muhammad shallallahu alaihi wasallam adalah sebaik-baik hati para hamba, maka Diapun memilihnya untuk diri-Nya dan mengutusnya bersama risalah-Nya. Kemudian Allah melihat lagi ke hati-hati para hamba setelah hati Muhammad dan Dia mendapati hati para sahabat adalah sebaik-baik hati para hamba, maka Diapun menjadikan mereka sebagai pembantu-pembantu Nabi-Nya. Mereka itu berperang dalam (membela) agama-Nya. Maka perkara apa saja yang dianggap baik oleh kaum muslimin, maka hal itu baik di sisi Allah. Apa saja yang jelek menurut kaum muslimin maka hal itu jelek di sisi Allah.”

[6] Al-Bukhari no. 3659 dan Muslim no. 2386

[7] HR. Al-Bukhari no. 5666 tapi tanpa lafazh ‘Kecuali Abu Bakar’. Lafazh ini hanya terdapat dalam riwayat Muslim (2387)

[8]  Ini adalah salah satu tafsirannya sebagaimana dalam Tafsir Ibnu Katsir.

[9]  Diriwayatkan oleh Abu Daud (4646), At-Tirmizi (2231), dan Ahmad (22264) dari Safinah maula Rasulullah shallallahu alaihi wasallam. Hadits ini dinyatakan shahih oleh Al-Wadi’i rahimahullah dalam Ash-Shahih Al-Musnad (1/315)

[10] Beliau mengisyaratkan kepada hadits Abu Musa Al-Asy’ari radhiallahu anhu yang diriwayatkan oleh Al-Bukhari (678) dan Muslim (420), “Perintahkanlah Abu Bakar agar dia shalat mengimami orang-orang.”

Share and Enjoy:
  • Print
  • Digg
  • StumbleUpon
  • del.icio.us
  • Facebook
  • Yahoo! Buzz
  • Twitter
  • Google Bookmarks

This entry was posted on Friday, April 20th, 2012 at 2:45 pm and is filed under Mengenal Syi'ah Rafidhah. You can follow any responses to this entry through the RSS 2.0 feed. Both comments and pings are currently closed.

1 response about “Syiah Mengingkari Keabsahan Khilafah Abu Bakar”

  1. Syiah Mengingkari Keabsahan Khilafah Abu Bakar « said:

    […] antara kesesatan Syiah adalah mereka mengingkari keabsahan khilafah Ash-Shiddiq radhiallahu anhu[1], dan pengingkaran ini melazimkan mereka menghukumi fasik semua orang yang membaiat beliau dan yang […]