Syarat Hadits Shahih: Perawi yang adil

September 9th 2014 by Abu Muawiah |

Syarat Kedua: ‘Adalah perawi.

‘Adalah (عدالة).
Sebagian ulama mendefinisikan ‘adalah dengan: Pembawaan yang membuat pemiliknya senantiasa di atas ketakwaan dan menjauhi semua hal yang merusak kehormatannya.
Karenanya, mereka mendefinisikan adil (عدل) dengan: Muslim, balig, berakal, yang terbebas dari sebab-sebab kefasikan dan hal-hal yang merusak kehormatannya.

Sebagian lainnya mendefinisikan ‘adalah dengan: Istiqamah dalam perjalanan hidup dan perjalanan keagamaannya, dimana keistiqamahan ini akan mencegah dia untuk mengamalkan dosa-dosa besar dan untuk terus-menerus melakukan dosa-dosa kecil, serta mengantarkan dia untuk konsisten di atas ketakwaan dan menjaga kehormatannya.
Karenanya, adil (menurut pendapat ini, penj.) adalah: Orang yang kebanyakan keadaannya di atas ketaatan kepada Allah dan keistiqamahan, serta terbebas dari semua sebab yang bisa menjadikannya sebagai orang yang fasik.
Ini adalah pendapat banyak ulama, di antaranya: Said bin al Musayyab, Ibrahim an Nakhai, Abdullah bin al Mubarak, asy Syafii, Ibnu Hibban, dan adz Dzahabi.

Ash Shan’ani berkata dalam Taudhih al Afkar (2/284), “Inilah pendapat yang paling tepat.”

Karenanya, sifat ‘adalah adalah sifat yang lebih dari sekedar muslim, dimana untuk mengetahuinya, dibutuhkan pengetahuan tentang keadaan perawi dan penelusuran terhadap semua riwayatnya.

al Hafizh al Khathib al Baghdadi dalam al Kifayah (2/141-143) membantah ulama yang memandang bahwa yang dimaksud dengan ‘adalah adalah sekedar menampakkan islam secara lahiriah dan terbebas dari kefasikan yang zahir. Dalam kitab itu, beliau menjelaskan bahwa pandangan seperti itu tidaklah benar, dan beliau membawakan beberapa argumen akan hal itu. Beliau juga membawakan pendapat dari banyak orang -maksudnya: para ulama- yang berpendapat harusnya mencari tahu secara detil ‘adalah seorang periwayat hadits, melebihi apa yang dilakukan dalam mencari tahu ‘adalah seorang saksi (dalam pengadilan, penj.). Kemudian al Khathib berkata, “Maka dengan ini sudah jelas bahwa ‘adalah merupakan sifat yang lebih dari sekedar menampakkan keislaman. Dia hanya bisa diketahui dengan menelusuri secara detil perbuatan dan keadaan perawi.”

Dan di antara ulama yg mendukung pendapat al Khathib ini adalah al Hafizh Ibnu al Atsir rahimahullah dalam Muqaddimah Jami’ al Ushul (1/75). Beliau berkata, “‘Adalah tidak bisa diketahui kecuali dengan pengetahuan yang mendalam tentang pribadi perawi dan mencari tahu tentang perjalanan hidupnya.”

Karenanya, kita tdk boleh mengatakan: Fulan adil, kecuali setelah pengetahuan yang mendalam tentang keadaannya. Demikian halnya kurang tepat mengatakan bahwa perawi itu adil, jika hanya berdasar pada ucapan (sebagian ulama, penj.): Perawi yang tidak diketahui ada jarh padanya, maka asalnya dia adalah perawi yg adil. Hal itu karena ucapan ini bertentangan dengan pendapat para ulama yang menjadi pakar dalam ilmu ini, sebagaimana yg telah dijelaskan.

Karena itulah, kita melihat para ulama mengkritisi al Hafizh Ibnu Hibbàn tatkala beliau memasukkan banyak perawi yg maj-hul (tdk dikenal, penj.) ke dalam kitab beliau ats Tsiqàt atau beliau menshahihkan hadits-hadits mereka. Dan kaidah yang beliau gunakan dalam permbahasan ini adalah apa yang sudah kami sebut di atas. Maka para ulama mengkritisi metode beliau ini.

As Suyuthi berkata dalam kitabnya Alfiah:

ما ساهل البستي في كتابه                   بل شرطه خف وقد وفى به

“Al Busti tidaklah mutasahil (bergampangan) di dalam menulis kitabnya. Bahkan persyaratan dia yang ringan, dan beliau telah memenuhi persyaratannya.”

Maksudnya: al Hafizh Ibnu Hibban al Busti tidaklah mutasahil (bergampangan) dalam menerapkan kaidahnya yang tersebut di atas. Namun sebenarnya kaidah yang beliau gunakan itulah yang ringan (baca: lemah) lagi dikritik, karena ada bentuk tasahul dalam kaidah itu, dan itu menyebabkan disahihkannya hadits yg tidak patut disahihkan. Namun walaupun demikian, Ibnu Hibban telah memenuhi apa yg beliau persyaratkan dgn kaidah itu.

Dan siapa saja yang ingin perincian lebih jauh, silakan dia merujuk ke kitab-kitab muthawwal (yang membahas panjang lebar, penj.) dan ucapan-ucapan para ulama yang membahas seputar kaidah Ibnu Hibban ini. Dan jangan lupa juga membaca kitab-kitab yg kami kutip di sini.

Demikian halnya butuh diingatkan dalam pembahasan ‘adalah ini adalah:
‘Adalah tidak bisa ditetapkan berdasarkan penampilan luar.
Dari Ya’qub bin Sufyan berkata: Aku mendengar seseorang bertanya kepada Ahmad bin Yunus, “Apakah Abdullah al Umari adalah perawi yg dha’if?” Beliau menjawab, “Yang mengatakan bahwa dia adalah perawi yang dha’if hanyalah seorang Rafidhah yang membenci nenek moyang beliau (Umar bin al Khaththab, penj.). Seandainya kamu melihat janggutnya, cat rambutnya, dan penampilannya, niscaya kamu akan tahu kalau dia adalah perawi yang tsiqah.” (Al Kifayah hal. 165)
Al Hafizh al Khathib al Baghdadi berkata mengomentari, “Ahmad bin Yunus beralasan bahwa Abdullah al Umari adalah perawi yang tsiqah, dengan alasan yang tidak bisa diterima. Hal itu karena baiknya penampilan luar, bisa dimiliki oleh siapa saja, baik perawi yang adil maupun yg majruh (dikritik, penj.)”

Incoming search terms:

  • perawi adalah orang yang
Share and Enjoy:
  • Print
  • Digg
  • StumbleUpon
  • del.icio.us
  • Facebook
  • Yahoo! Buzz
  • Twitter
  • Google Bookmarks

This entry was posted on Tuesday, September 9th, 2014 at 1:32 pm and is filed under al Manzhumah al Baiquniah, Terjemah Kitab. You can follow any responses to this entry through the RSS 2.0 feed. Both comments and pings are currently closed.

Comments are closed.