Studi Kritis Perayaan Maulid Nabi -shallallahu alaihi wasallam-

January 20th 2010 by Abu Muawiah |

بسم الله الرحمن الرحيم

Studi Kritis Perayaan Maulid Nabi
-shallallahu alaihi wasallam-

Cover depan

Sinopsis:
Perayaan Maulid Nabi  bisa dikatakan sebagai ritual tahunan yang telah dilaksanakan turun temurun, generasi ke generasi di hampir seluruh negeri kaum muslimin. Dia dijadikan lambang oleh kebanyakan mereka dari kecintaan terhadap Rasulullah Muhammad . Akan tetapi, pernahkah terbetik di dalam hati kita untuk mengadakan studi dan penelitian tentang asal muasal munculnya perayaan ini? Pernahkah kita mempertimbangkan ucapan sebagian orang yang menyatakan bid’ahnya maulid? Ataukah kita serta merta langsung menyalahkan ucapan tersebut tanpa melihat dalil-dalil dari pihak yang pro dan kontra terhadapnya? Tentunya sikap yang kedua ini bukanlah sikap yang adil bahkan merupakan kecurangan, baik dari sisi akal, terlebih lagi dari sisi syariat.

Buku ini insya Allah diharapkan bisa menjadi penuntun bagi setiap orang yang menginginkan kebenaran dalam masalah hukum perayaan maulid. Insya Allah akan menjadi bahan studi bagi setiap orang yang mau bersikap adil dan obyektif dalam menilai perayaan ini. Akan menjadi hujjah yang kuat bagi yang kontra terhadapnya dan akan menjadi penentang yang tegas bagi yang pro terhadapnya.

Isi buku secara umum terbagi menjadi dua bahagian besar, yaitu: Pendahuluan dan Inti Pembahasan. Dalam Pendahuluan dibahas beberapa dasar masalah penting, yang sebenarnya setiap bab dalam pendahuluan ini merupakan bantahan bagi dalil-dalil pihak yang pro kepada perayaan maulid. Sebut saja di antaranya: Taklid kepada mayoritas umat Islam, adanya bid’ah hasanah, maulid merupakan sarana untuk bershalawat dan mencintai Nabi , dan seterusnya. Adapun inti pembahasan, maka disini merupakan tempat beradu argumen antara pihak yang pro dan yang kontra, serta tempat untuk memisahkan antara yang hak dan yang batil.

Kesimpulan dari bab-bab dalam inti pembahasan ini antara lain: Maulid pertama kali dirayakan oleh kelompok yang lebih kafir daripada Yahudi dan Nashara, membantah secara lengkap dan meluas 22 dalil pihak yang pro kepadanya serta 24 kemungkaran besar yang terjadi di tengah-tengah perayaan maulid, dan juga tentu saja nukilan dari sekitar 50 ulama salaf baik yang dahulu maupun yang belakangan yang memvonis perayaan ini sebagai amalan yang melenceng dari tuntunan Rasulullah .

Keterangan Buku:
Judul: Studi Kritis Perayaan Maulid Nabi 
Penulis: Abu Muawiah Hammad bin Amir Al-Makassari
Editor: Ust. Abu Faizah Abdul Qadir Lc
Setting & Lay Out: Abu Aliyah
Desain Sampul: Abu Yahya At-Tambuni
Penerbit: Al-Maktabah Al-Atsariyyah
Cetakan: I, Jumad Ats-Tsani 1418 H/Agustus 2007
II, Shafar 1431 H/Januari 2010
Ukuran: 14 x 20 cm
Tebal: 244 Halaman
Harga: Rp. 35.000,
Beli Sekarang

Daftar Isi:
Bagian Pertama: Pendahuluan yang terdiri dari delapan bab sebagai berikut:
1. Bab Pertama: Wajibnya Mengembalikan Semua Perkara yang Diperselisihkan Kepada Al-Kitab dan As-Sunnah Sesuai dengan Pemahaman Para Ulama As-Salaf
a.    Dalil Naqli
b.    Dalil Ijma
c.    Dalil Akal
d.    Syubhat dan Bantahannya.

2. Bab Kedua: Kesempurnaan Islam dan Bahaya Bid’ah
a.    Kesempurnaan Islam
b.    Syarh Definisi Bid’ah
c.    Dalil-dalil Tercelanya Bid’ah serta Akibat Buruk yang Akan Menimpa Pelakunya
d.    Perkataan Para Ulama Salaf dalam Mencela Bid’ah

3. Bab Ketiga: Tidak Ada Bid’ah Hasanah dalam Islam
a.    Dalil-dalil Tercelanya Semua Bentuk Bid’ah
b.    Tujuh Syubhat Para Penyeru Bid’ah Hasanah serta Bantahannya

4. Bab Keempat: Syarat Diterimanya Amalan
a.    Syarat Pertama: Pemurnian Keikhlasan
b.    Syarat Kedua: Pemurnian Ittiba`

5. Bab Kelima: Terlarangnya Taqlid Dalam Agama
a.    Definisi Taqlid
b.    Pembagian dan Hukum Taqlid
c.    Perkataan Imam Empat dalam Melarang Taqlid

6. Bab Keenam: Haramnya Tasyabbuh Kepada Orang-Orang Kafir
a.    Definisi dan Bentuk-bentuk Tasyabbuh.
b.    Hukum Tasyabbuh
c.    Hikmah Diharamkannya Tasyabbuh
d.    Dalil-dalil Umum Pengharaman Tasyabbuh
e.    Dalil-dalil Khusus Pengharaman Tasyabbuh

7. Bab Ketujuh: Hakikat Kecintaan Kepada Nabi Muhammad -Shollallahu ‘alaihi wa ‘ala alihi wasallam-
a.    Hakikat Kecintaan kepada Nabi -Shallallahu alaihi wasallam-
b.    Tanda-tanda Kecintaan kepada Beliau.
c.    Beberapa Kisah Sahabat Seputar Kecintaan Mereka kepada Nabi -Shallallahu alaihi wasallam-

8. Bab Kedelapan: Tuntunan Nabi -Shallallahu ‘Alaihi Wasallam- Dalam Bersholawat
a.    Tafsir Ayat Shalawat (Al-Ahzab: 56)
b.    Keutamaan Shalawat dan Taslim.
c.    Kaifiat Shalawat dan Taslim
d.    Waktu dan Tempat Disyariatkan Membaca Shalawat dan Taslim.
e.    Beberapa Contoh Shalawat Bid’ah (Badar, Nariyah, Qashidah Al-Burdah, Maulidul Barzanji, dan dua shalawat lainnya)

Bagian Kedua : Inti Pembahasan, yang terdiri dari enam bab, yaitu:
9. Bab Kesembilan: Definisi dan Sejarah Munculnya Perayaan Maulid
a.    Definisi Maulid
b.    Perselisihan Ulama Tentang Hari Lahirnya Nabi -Shallallahu alaihi wasallam-
c.    Yang Pertama Kali Merayakannya.
d.    Sekilas tentang Al-Bathiniyah, Sebagai Pencetus Perayaan Maulid.

10. Bab Kesepuluh: Penetapan bahwa Orang-Orang yang Merayakan Maulid Menganggap Perayaaan Itu Bagian dari Agama

11. Bab Kesebelas: Syubhat dan Argumen yang Dijadikan Sandaran oleh Orang-Orang yang Membolehkan Maulid Beserta Bantahannya
22 dalil yang sering dipakai untuk membolehkan perayaan maulid lengkap dengan bantahannya satu persatu.

12. Bab Keduabelas: Kemungkaran-Kemungkaran dalam Perayaan Maulid
a.    Bentuk-bentuk Perayaan Maulid
b.    18 Dosa Besar dalam Perayaan Maulid -dari sisi aqidah dan yang lainnya- serta bantahannya.

13. Bab Ketiga belas: Perkataan dan Fatwa Para Ulama Tentang Bid’ahnya Perayaan Maulid
a.    Perkataan 53 Ulama Salaf (Terdahulu dan Zaman ini) Akan Bid’ahnya Perayaan Maulid.
b.    Apakah Para Ulama Mengkafirkan Para Pelaku Maulid?

14. Bab Keempat belas: Kumpulan Fatwa Seputar Perayaan Maulid
Fatwa Para Ulama Seputar Beberapa Kejadian Dalam Perayaan Maulid (Hukum menghadiri, menyumbang uang, menerima dan memakan makanannya, hukum orang yang membelanya, sikap terhadap perayaannya, dan selainnya)

Bagian Ketiga : Penutup

Sirkulasi dan Peragenan:
Bagi yang berminat membeli (on line) atau menjadi agen penjualan buku ini, silakan menghubungi:
HP: 0813 5544 1994 atau (021) 937 55 664
Email: abumuawiah@yahoo.com atau atsariyyah_06@yahoo.co.id atau attambuny@gmail.com
YM: abumuawiah@yahoo.com (jika online) dan jika tidak online maka silakan meninggalkan pesan offline.
Atau melalui kolom komentar pada artikel ini.

Incoming search terms:

  • maulid nabi
  • perayaan maulid nabi
Share and Enjoy:
  • Print
  • Digg
  • StumbleUpon
  • del.icio.us
  • Facebook
  • Yahoo! Buzz
  • Twitter
  • Google Bookmarks

This entry was posted on Wednesday, January 20th, 2010 at 1:18 pm and is filed under Info Kegiatan. You can follow any responses to this entry through the RSS 2.0 feed. Both comments and pings are currently closed.

70 responses about “Studi Kritis Perayaan Maulid Nabi -shallallahu alaihi wasallam-”

  1. Problema Muslim said:

    Bismillah,

    ana izin copy ke blog ana ustadz.

    http://problemamuslim.wordpress.com/2010/01/21/studi-kritis-perayaan-maulid-nabi-shallallahu-alaihi-wasallam/

    Masya Allah, barakallahu fikum. Kan untuk postingan ini antum dah dapat izin lisan sebelumnya, jadi tidak perlu minta izin lagi. Ala kulli hal, jazakallahu khairan atas bantuannya.

  2. KUPAS TUNTAS HUKUM PERAYAAN MAULID NABI : Pro dan Kontra, Bantahan serta Argumen yang Rinci serta Ilmiah « ‎ ‎طبيب الطب النبوي | Dokter Pengobatan Nabawi | said:

    [...] SUMBER :  http://al-atsariyyah.com/?p=1718 [...]

  3. abu tanisha said:

    ijin copy ustadz, untuk blog ana

    Tafadhdhal, barakallahu fikum

  4. Abu Abdil Halim said:

    Assalamu’alaikum ustadz,

    Ana melihat bab keenam berbicara tentang hukum tasyabbuh. Mohon penjelasan tentang kriteria tasyabbuh yang harom (sebab ana membaca ada yang mubah, benarkah ini?). Apa hukum perbuatan “bermain bola” yang asalnya memang dari orang-orang kafir? Baarokallaahu fiikum.

    Waalaikumussalam warahmatullah.
    Tasyabbuh ini kata umum yang bermakna penyerupaan. Jangankan mubah, tasyabbuh dalam artian inipun ada yang wajib, misalnya tasyabbuh dengan para ulama dan orang-orang saleh.
    Adapun bermain bola maka dia adalah masalah dunia, sehingga hukum asalnya adalah mubah selama tidak menyeret kepada sesuatu yang dilarang oleh syariat, misalnya:
    1. Terjadi perjudian di dalamnya.
    2. Meniggalkan atau mengundurkan shalat lima waktu.
    3. Menghabiskan banyak waktu padanya sehingga luput dari berbagai amalan utama.
    4. Kebencian dan permusuhan sesama pemain.
    Ala kulli hal, jika semua pelanggaran di atas dan pelanggaran syar’i lainnya tidak terdapat dalam sepakbola dan hanya dikerjakan sesekali sehingga tidak membuang-buang waktu padanya, maka insya Allah hal tersebut diperbolehkan dan tidak termasuk tasyabbuh kepada orang kafir. Wallahu a’lam
    Pembahasan lengkap tentang tasyabbuh, bisa anda baca pada buku di atas.

  5. Problema Muslim said:

    Bismillah,

    Assalamu’alaykum,

    masalah tasyabbuh ustadz. Apakah orang yg memakai jam tangan di tgn kiri, memakai topi, memakai celana jeans, atau mengikuti model rambut bisa disebut juga tasyabbuh dgn org kafir ?

    Bagaimanakah kaidah penentuan ini tasyabbuh atau bukan secara syar’i ustadz ? Jazaakallaahu khairan ustadz.

    Berikut beberapa faidah yang pernah kami dapatkan dari Al-Ust. Dzulqarnain -hafizhahullah- dalam masalah tasyabbuh, ketika beliau mensyarh kitab Asy-Syariah Al-Ajurri pada bab keempat: Bab Penyebutan kekhawatiran Nabi -shallallahu alaihi wasallam- atas umat beliau dan peringatan beliau kepada mereka jangan sampai mengikuti sunnah umat-umat sebelum mereka. Berikut beberapa kaidah dalam masalah ini:
    1. Larangan tasyabbuh kepada orang kafir sifatnya sadd adz-dzariah (tindakan preventif), dan sesuatu yang dilarang dalam rangka sadd adz-dzariah terkadang boleh dikerjakan jika ada maslahat atas kaum muslimin. Hal ini sebagaimana beliau mengikuti taktik perang bangsa Persia ketika beliau membuat parit di sekitar madinah pada perang khandaq.

    2. Larangan tasyabbuh kepada orang kafir tidaklah diamalkan kecuali ketika syiar Islam nampak. Adapun ketika Islam dalam keadaan lemah, maka tidak disyariatkan untuk menyelisihi orang kafir kecuali apa yang ditunjukkan oleh dalil akan haramnya mengikuti mereka, seperti memakai salib. Ini disebutkan oleh Syaikhul Islam Ibnu Taimiah. Karena itulah nash-nash yang memerintahkan untuk tasyabbuh kepada orang kafir nanti turunnya di Madinah dan tidak turun di Makkah, karena ketika itu Islam masih lemah di Makkah.

    3. Tasyabbuh hanyalah terjadi jika sesuatu yang dilakukan itu merupakan kekhususan milik orang kafir. Hal ini diingatkan oleh Ibnu Taimiah dalam Iqtidha` dan Al-Fatawa. Karenanya, kapan sesuatu itu sudah tersebar merata pelaksanaannya di kalangan kaum muslimin maka hilanglah larangan tasyabbuh darinya kecuali jika dia meniatkannya untuk tasyabbuh.
    [Contoh: Celana levis, asalnya adalah tasyabbuh kepada orang kafir. Tapi tatkala penggunaannya telah tersebar merata di kalangan kaum muslimin, maka pemakaian levispun tidak bisa dikatakan tasyabbuh, kecuali kalau dia niatkan untuk tasyabbuh kepada orang kafir. Tapi levis tetap terlarang karena dia ketat dan membentuk aurat, tapi bukan lagi teranggap tasyabbuh. Karenanya jika ada orang yang membuat sirwal dari kain levis maka insya Allah itu tidak mengapa.]

    4. Perintah menyelisihi orang kafir lebih luas cakupannya dibandingkan larangan tasyabbuh. Menyelisihi orang kafir mencakup larangan menyerupai mereka dan juga mencakup meninggalkan semua perbuatan yang bersekutu padanya antara muslim dan kafir.
    [Penjelasan dan contoh kaidah yang keempat ini kami jelaskan dalam buku maulid]
    Demikian yang kami pernah dapatkan, dan apa yang ada di dalam kurung adalah tambahan dari kami. Wallahu a’lam

  6. Abu Abdil Halim said:

    Ahsanallaahu ilaykum..

    Berkaitan dengan dhowabith yang disebutkan, apakah kalau dhowabith yang sama juga diterapkan pada demonstrasi, apakah dhowabith tersebut juga dapat mengeluarkan demonstrasi dari bertasyabbuh dengan orang kafir?

    Jazaakumullaah khoyron.

    Dhawabith yang mana?? Kami tidak pernah menyebutkan dhawabith tasyabbuh.
    Apa yang kami sebutkan itu adalah beberapa kemungkaran dari pertandingan sepakbola, yang jika semuanya dihindari maka tidak ada masalah seseorang itu bermain bola.
    Jadi kami tidak menganggap bermain sepakbola itu adalah tasyabbuh kepada orang kafir, karena seandainya dia tasyabbuh maka tentunya dia dilarang secara mutlak walaupun tidak ada maksiat lain di dalamnya. Sementara kami menyatakan bolehnya bermain bola jika bisa menghindari semua maksiat dan hal yang makruh dalam pelaksanaannya.
    Selanjutnya, demo dilarang bukan karena semata-mata dia adalah tasyabbuh. Akan tetapi demo ini, selain dia tasyabbuh, dia juga mengandung beberapa dosa besar di antaranya:
    1. Merendahkan penguasa.
    2. Menyulut fitnah.
    3. Wasilah pemberontakan.
    4. Mengganggu kaum muslimin lainnya.
    5. Ikhthilat antara lelaki dan wanita.
    dan selainnya dari bentuk pelanggaran syar’i.

  7. Abu Abdil Halim said:

    Baarokallaahu fiikum wa nafa’a bikum..

    Allahumma amin walaka bimitslih

  8. Abu Abdil Halim said:

    Baarokallaahu fiikum wa nafa’a bikum..

    I’dzaruuniy,fadhiilata l ustaadz,

    Pernyataan antum:

    [jika semua pelanggaran di atas dan pelanggaran syar’i lainnya tidak terdapat dalam sepakbola dan hanya dikerjakan sesekali sehingga tidak membuang-buang waktu padanya, maka insya Allah hal tersebut diperbolehkan dan tidak termasuk tasyabbuh kepada orang kafir.]

    Pernyataan di ataslah yang kami anggap sebagai “dhowaabith”. Apalagi di akhir pernyataan itu disebutkan “dan tidak termasuk tasyabbuh kepada orang kafir”

    Berkenaan dengan tasyabbuh bil kuffar dalam sepak bola, Syaikh Hamuud At Tuwaijiry menyatakan bahwa bermain bola dengan cara yang digunakan oleh “orang-orang bodoh” di zaman ini, adalah termasuk tasyabbuh bi a’daa`illaah:

    http://www.sahab.net/forums/showthread.php?t=348582

    Sedangkan untuk demonstrasi, setelah membaca jawaban antum, ana terpikir: kalaulah semua pelanggaran syar’iy yang terdapat dalam demonstrasi tidak ada, maka tidak ada lagi hal yang tersisa yang membuat aktifitas tersebut masih bisa dinamakan dengan “demonstrasi”.

    “Demonstrasi” – “Pelanggaran syar’iy” = “Konferensi”.

    Demonstrasi yang tanpa pelanggaran syar’iy itu sudah tidak lagi dinamakan demonstrasi, tapi sekedar pertemuan. Konferensi.

    Mohon koreksi.

    Jazakallahu khairan atas info linknya.
    1. Ala kulli hal, kami tidak akan memperpanjang masalah. Hanya saja perlu diketahui bahwa dalam masalah sepak bola itu sendiri ada khilaf di kalangan ulama: Apakah sepak bola terlarang secara mutlak ataukah dia dibolehkan dengan syarat tidak mengandung dan tidak mengantarkan kepada maksiat dan tidak membuang-buang waktu?
    Pendapat pertama dipegang oleh Asy-Syaikh Hamud bin Abdillah At-Tuwaijiri, dan mungkin ada ulama lain yang sependapat dengan beliau, wallahu a’lam.
    Pendapat kedua (yaitu boleh dengan beberapa persyaratan) adalah pendapat Asy-Syaikh Ibnu Baz, Asy-Syaikh Al-Albani, Asy-Syaikh Ibnu Al-Utsaimin, Asy-Syaikh Ubaid Al-Jabiri, dan mungkin juga ada ulama lain yang sependapat dengan mereka. Fatwa keempat ulama ini yang membolehkan sepak boleh dengan beberapa syarat bisa dilihat pada link yang sama di atas.
    Karenanya perbedaan pendapat dalam masalah hukum bermain bola adalah perbedaan pendapat yang bisa menerima toleransi atau khilaf al-afham, dimana pihak yang membolehkan tidak boleh bersikap keras kepada yang tidak membolehkan dan demikian pula sebaliknya. Barangsiapa yang memaksakan kehendak dalam masalah seperti ini maka dialah yang melampaui batas.

    2. Kemudian masalah demonstrasi, demo hanyalah sekedar nama dan hakihatnya adalah membicarakan kejelekan penguasa di depan umum. Karenanya apapun namanya -mau disebut forum atau aksi dama atau seminar, dll- selama hakikatnya sama maka hukumnya sama, karena hakikat tidak akan berubah dengan berubahnya nama. Karenanya antum jangan terlalu sibuk di sekitar penamaan ‘demonstrasi’ karena penamaan itu bisa berubah kapan saja.
    Jadi, ucapan antum [Demonstrasi yang tanpa pelanggaran syar'iy itu sudah tidak lagi dinamakan demonstrasi, tapi sekedar pertemuan. Konferensi.] kami katakan: Jika dalam pertemuan atau konferensi itu ada perbuatan menjelekkan penguasa maka dia sama saja dengan demo dan itulah pelanggaran syar’inya. Wallahu a’lam

  9. Problema Muslim said:

    Subhaanallah. ana mendapatkan ilmu lagi yg bermanfaat.

    Jazaakumullaahu khairan ya ustadz. Semoga Allah selalu menjaga antum.

  10. abu hisyam said:

    Subhanallah, Jazakallah ustadz

  11. ummu 'aisyah said:

    assalamu’alaikum,, bukunya dah keluar ya???ana di lombok

    waalaikumussalam warahmatullah
    alhamdulillah sudah, silakan hubungi kami untu pemesanan.

  12. abdoerrohim said:

    Assalamu’alaikum.
    Cetakan Pertama dan Kedua ada perbedannya nggak ya Ustadz. Revisi mungkin. Kalau Ada mohon dibuat PDF saja biar bisa diunduh.

    Syukron.

    Waalaikumussalam warahmatullah.
    Na’am, semua pembahasan pada cet. I ada pada cet. II, bahkan pada cetakan II ada tambahan pembahasan di awal buku. Afwan, mungkin untuk saat ini kami belum bisa memenuhi permintaan antum. Jazakallahu khairan atas sarannya.

  13. Rahmat Abdullah said:

    asslamu alaikum wr.wb .
    sy ingin menanyakan tentang perayaan maulid nabi. karena ada dikalangan umat islam yang memperbolehkan merayakanya hari maulid nabi berdasarkan dalil:

    مَنْ سَنَّ فِى اْلاِسْلاَمِ سُنَّةً فَلَهُ أَجْرُهَا وَأَجْرُ مَنْ عَمِلَ بِهَا مِنْ غَيْرِ اَنْ يَنْقُصَ مِنْ أُجُوْرِهِمْ شَيْئًا وَمَنْ سَنَّ فِى اْلاِسْلاَمِ سُنَّةً سَيِئَةً فَعَلَيْهِ وِزْرُهَاوَوِزْرُ مَنْ عَمِلَ بِهَا مِنْ غَيْرِاَنْ يَنْقُصَ مِنْ أَوْزَارِهِمْ شَيْئًا. القائى, ج: 5ص: 76.
    “Barang siapa yang mengada-adakan satu cara yang baik dalam Islam maka ia akan mendapatkan pahala orang yang turut mengerjakannya dengan tidak mengurangi dari pahala mereka sedikit pun, dan barang siapa yang mengada-adakan suatu cara yang jelek maka ia akan mendapat dosa dan dosa-dosa orang yang ikut mengerjakan dengan tidak mengurangi dosa-dosa mereka sedikit pun”.

    Dan ada juga yang mengatakan bahwa merayakan maulid nabi adalah hal yang diada-adakan/Bid’ah.
    sebagai mana dalam sabda rasulullah saw
    Barangsiapa memunculkan perkara baru dalam urusan kami (agama) yang tidak merupakan bagian dari agama itu, maka perkara tersebut tertolak”. Nabi juga bersabda,”Setiap perkara baru adalah bid’ah”.

    saya suda dalam keadaan bingung ust, karena argumen mereka masing2 kuat.

    mohon penjelasanya ust

    1.apakah dibolehkan dalam syariah islam atau termasuk bid’ah?
    2.mohom penjelasanya maksud dari pada hadit tersebut yang membeolehkan mengada-adakan dalam hal yang baik???

    Waalaikumussalam warahmatullah.
    Afwan jiddan, jawabannya hadits itu butuh diuraikan lebih luas. Selengkapnya silakan baca pada buku yang kami tulis di atas.

  14. Abu Abdurrahman Ali Al-Barrawy said:

    Assalamu ‘alaikum warahmatullaahi wabarakatuh.

    Ustadz, tolong dijelaskan hukum duduk bersila, karena seorang anggota JT mengatakan bahwa duduk bersila adalah duduknya orang Hindu/Budha, sedangkan duduk orang islam katanya iftirasy. jadi duduk bersila dianggapnya tasyabbuh dengan mereka.

    Waalaikumussalam warahmatullaahi wabarakatuh.
    Pernyataan seperti itu tidaklah benar. Karena duduk bersila sudah diamalkan turun-temurun dari dahulu oleh kaum muslimin dan juga selain mereka. Karenanya dia bukanlah tasyabbuh karena duduk seperti ini bukanlah kekhususan orang kafir. Wallahu a’lam.

  15. faizah said:

    Assalamu’alaikum.
    Afwan ustadz,sy ingin menanyakan:
    1.Bagaimanakah hukumnya bagi wanita yang haid u/ masuk masjid?
    2.Begitu pula hukum bagi wanita haid untuk menyentuh/memegang Al-qur’an & bagaimana pula untuk menghafalkannya?.
    Syukran jazilan

    Waalaikumussalam warahmatullah
    Silakan lihat jawaban kedua pertanyaan anti di sini: http://al-atsariyyah.com/?p=1116 dan di sini: http://al-atsariyyah.com/?p=1008

  16. hamba Allah said:

    Allohuma Sholli Alaa Sayyidina Muhammad wa alaa aliy Sayyidina Muhammad. Makasih buat infonya.
    ^_^

  17. kohar said:

    bukannya Imam Syafi’i yang membagi bid’ah itu ada yang hasanah? kalau memang salah, berarti para pengikut Imam Syafi’i selama ini mengikuti imam yang salah dong ust?
    yang menjadi dasar permaslahan adalah masyarakat menganggap peringatan maulid itu adalah bagian dari syariat. berarti yang harus diberi pemahaman adalah masyarakatnya bukan peringatannya itu.

    Imam Asy-Syafi’i tidak pernah membagi bid’ah menjadi dua: Hasanah dan sayyiah. Beliau sendiri yang mengatakan, “Barangsiapa yang menganggap baik (hasanah) suatu bid’ah maka sungguh dia telah membuat syariat (baru).”
    Hanya saja sebagian orang salah paham dengan ucapan imam Asy-Syafi’i yang dimaksud. Dan semuanya telah kami luruskan dalam buku ‘studi kritis perayaan maulid Nabi’, alhamdulillah.
    Sama saja, masyarakatnya bermasalah karena merayakan peringatan yang salah. Karenanya untuk memperbaiki masyarakatnya maka peringatannya dulu yang harus diperbaiki atau dengan kata lain dilarang.
    Lagi pula yang menganggap peringatan maulid bagian dari syariat bukan hanya masyarakat indonesia, akan tetapi semua masyarakat dunia yang merayakannya, bahkan bukan hanya orang awamnya tapi para ulama yg membolehkan maulid juga menganggapnya bagian dari agama. Jadi, semua yang merayakan maulid tapi tidak menganggap perayaan itu bagian dari agama maka dia telah keliru dan menyelisihi para ulama sebelumnya yang telah menetapkan bahwa perayaan maulid bagian dari agama. Alhamdulillah semuanya telah kami paparkan dan jelaskan kesalahannya dalam buku studi kritis maulid di atas.

  18. Jie_alathfal@yahoo.co.id said:

    Memang dmn salahny sh memperingati maulid, toh ddlam acara maulid tsb tdk satu pun mengerjkan hal-hal yg dilarang agama,

    Bagaimana bisa dalam acara maulid itu di dalamnya tidak ada pelanggaran agama, sementara perayaan itu sendiri sudah merupakan pelanggaran agama, karena dia merupakan perbuatan bid’ah dalam agama. Bukan hanya itu, masih ada beberapa dosa besar lain yang terdapat dalam perayaan maulid. Silakan baca bukunya agar lebih jelas.

  19. abu ibrahim said:

    Izin copas ya ustadz

    jazakallah khoir

    Tafadhdhal, jazakallahu khairan

  20. Jefri said:

    Jazakallah ustad. Ustad, ana mau nanya, sebagian kaum muslimin menganggap maulid Nabi adlh sebagian dari syiar islam, apakah maulid Nabi itu trmasuk syiar atau bukan? Syukran.-ustad, ana mau pesan bukunya. Ana skrg lg di Aceh. Gmn caranya ustad?

    Dia bukanlah syiar Islam, jawaban selengkapnya ada di dalam buku. Silakan sms alamat lengkap antum ke nomor admin

  21. Musa Daud said:

    Informasi yang sangat bermanfaat Ustadz ^_^

    Mengenai peringatan 7, 40, 100 hari dst setelah kematian bagaimana dalilnya ?

    Tidak ada dalilnya, karenanya tidak sepantasnya hal itu diamalkan

  22. cah demak said:

    ass..ustadz..jika tidak ada bid’ah hasanah, dan smua di sebut bid’ah dholalah, apakah bangunan masjid sekarang ini tidak disebut bid’ah..karena pada zaman nabi bentuk bangunan masjid tidak seindah ini, dan apakah memakai pengeras suara ketika adzan juga tidak disebut bid’ah, karena pada zaman sahabat bilal tidak ada. apakah salah jika kita mengingat cerita nabi, kelahiran nabi, keistimewaan nabi, mu’jizat nabi dan meniru amal perbuatan nabi Muhammad SAW dengan membaca kitab simtudduror…jika semua bid’ah dholalah maka mohon petunjuk dalil nabi mengajarkan ketika mendengar Nama beliau memakai sholawat kepada nabi dengan shollahu ‘alaihi wassalm?karena setahu itu adalah reatifitas dari para ulama…dan begitu indahnya khilafiyah diantara para ulama..Wass

    Sebaiknya anda membaca terlebih dahulu artikel ‘meluruskan pemahaman tentang bid’ah’ dan ‘tidak ada bid’ah hasanah’ dalam situs ini, silakan disearch. Setelah anda membaca kedua artikel tersebut insya Allah jawabannya pertanyaannya jelas, atau kalau tetap tidak jelas, baru kemudian bertanya kembali

  23. Dian Hidayat said:

    Assalamu’alaikum warohmatullahi wabarokatuh..Ustadz,ana mau bertanya. Menurut Undang-Undang resmi dari pemerintah Indonesia,setiap perusahan diwajibkan memberikan tunjangan hari raya(THR) kepada karyawannya karena itu adalah hak karyawan. Dalam pelaksanaannya di perusahaan tempat ana bekerja,THR itu diberikan dua kali,saat hari raya ‘Iedul Fithri dan natal,dan pemberiannya bersifat global,baik karyawan itu muslim atau kristen,mendapatkan THR baik saat ‘Iedul Fithri maupun natal. THR tersebut langsung dimasukkan ke rekening,dan karyawan hanya tinggal menerima tanda bukti pemberian THRnya. Apa hukum karyawan muslim menerima tunjangan hari natal tersebut? Jazakallah khair ustadz atas jawabannya..

    Waalaikumussalam warahmatullahi wabarakatuh. Insya Allah tidak mengapa, itu lebih mirip sebagai hibah dari perusahaan kepada karyawan, yang kebetulan diberikan saat kedua moment tersebut. Tatkala pemberian itu bersifat umum, maka tidak timbul darinya kesan membenarkan atau merayakan natal. Wallahu a’lam.

  24. abdillah said:

    assalamualaikum,
    afwan ustadz, ana mnt tolong dijelaskan tentang hukum mengucapkan “selamat ulang tahun pd hari kelahiran, serta memberikan ucapan selamat(met milad)”
    kepada orang lain yang pada saat itu sedang ulang tahun.
    karna setau ana merayakan ulang tahun itu haram, lantas bagaimana dengan mengucapkannya?
    barokallohufiykum

    Waalaikumussalam warahmatullah.
    Itu tidak diperbolehkan karena mengandung persetujuan terhadap perayaan ulang tahun yang merupakan adat orang kafir.

  25. Hamba Allah said:

    Assalamu’alaikum warohmatullahi wabarokatuh,
    Apakah hukumnya jika sesuatu yang disebutkan sebagai Bidah tetapi sebenarnya itu benar dihadapan Allah dan Rasullullah…
    Seandainya ternyata Maulid itu benar dihadapan Allah dan Rasullullah…apa hukumnya sesuatu yang benar tapi dikatakan salah…karena yang mengetahui sesuatu itu benar dan salah hanya Allah dan Rasullullah…

    Buat orang-orang yang mengatakan Maulid adalah bidah pernahkah kalian berdoa ditengah malam dengan khusu dan penuh harap kepada Allah: Yaa..Allah…Yang Maha Mengetahui dan Maha memberi petunjuk jika Maulid itu benar maka bukakanlah hati hamba untuk melihat kebenaran itu…dan jika Maulid itu salah maka jauhkanlah hamba dari perbuatan yang sia-sia… Amiin.

    Bagi orang-orang yang mengatakan Maulid adalah Bidah…
    pernahkan kalian melakukan penelitian kepada Mereka yang sering mengamalkan Maulid atau Shalawat lainya…lihatlah prilaku dan kehidupan mereka, dihati mereka penuh dengan Cinta dan Rindu kepada Allah dan Rasullullah…setiap hari mereka senantiasa memperbaiki hati dan perbuatannya untuk mengikuti petunjuk Allah dan Rasullullah…lihatlah wajah-wajah mereka penuh dengan senyum dan kegembiraan kepada Allah…

    Pernahkan kalian bertanya kepada mereka yang sering mengamalkan Maulid apakah yang mereka dapatkan? Pasti diantara mereka ada yang menjawab seandainya Allah memberikan dua pilihan kepada mereka yaitu duduk di Majelis Maulid atau Masuk kedalam Surga mereka pasti akan memilih duduk di Majelis Maulid. Itulah perumpamaan untuk mereka yang senantiasa mengamalkan Maulid. Karena hati mereka senantiasa dipenuhi oleh Allah kerinduan kepada-Nya dan kepada kekasih-Nya.

    Ilmu yang benar adalah ilmu yang MANFAAT…ilmu yang MANFAAT adalah semakin kita mengamalkannya kita semakin berusaha mendekatkan diri kepada Allah…kita semakin Rindu kepada Allah dan Rasullullah.

    Bagi orang-orang yang sudah membenarkan Maulid adalah Bidah saya ingin bertanya satu hal “Apakah kalian sudah mendapat MANFAAT (semakin kita mengamalkannya kita semakin berusaha mendekatkan diri kepada Allah…kita semakin Rindu kepada Allah dan Rasullullah) dari Ilmu yang kalian yakini kebenarannya itu?

    Waalaikumussalam warahmatullahi wabarakatuh
    Kalau memang maulid itu baru sekedar ‘seandainya’ benar, belum ‘memang’ benar, maka sebaiknya anda mempelajari dengan seksama sisi-sisi alasan orang yang mengkritisi perayaan maulid. Karena, bagaimana nasib anda kalau ‘seandainya’ maulid itu salah di sisi Allah dan Rasul-Nya shallallahu alaihi wasallam lantas anda mengatakan benar. Apakah anda akan ikut bersama golongan Rasulullah shallallahu alaihi wasallam pada hari kiamat?
    Lagipula, ucapan anda ‘karena yang mengetahui sesuatu itu benar dan salah hanya Allah dan Rasullullah’, adalah ucapan yang batil. Kami tidak menerima ucapan seperti ini, karena kami yakin para sahabat dan para ulama ahlussunnah adalah orang-orang yang berilmu. Kalau anda meyakini ucapan anda di atas, berarti tidak ada seorangpun yang mengetahui mana yang benar dan salah di dunia ini, termasuk ustadz-ustadz anda sendiri. Kalau ustadz anda sendiri tidak tahu mana yang benar dan yang salah, kenapa anda mempertaruhkan nasib anda di hari kiamat dengan mengikuti mereka?
    Masih ada beberapa tanggapan saya terhadap ucapan anda di atas, tapi saya rasa ini sudah cukup.

  26. abdullah said:

    Asalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.Saran untuk hamba Allah.Ilmu dahulu sebelum berbicara dan beramal.Silahkan antum baca dan teliti sejarah tentang maulid,siapa yang menciptakan?kapan dan dimana mulai dirayakan?semua perkataan orang dimuka bumi ini bisa diterima/ditolak,kecuali perkataan Muhammad bin Abdillah.Jazzakallah

  27. agus said:

    assalamu’alaikum ya akhi..
    sesungguhnya perayaan maulid tidaklah dilakukan oeh Rasulullah shalallahu’alaihi wassalam dan para sahabatnya. jika hal itu baik menurut Rasulullah shalallahu’alaihi wassalam dan para sahabat maka sudah pasti Allah akan menyuruh nabi kita yang mulia shalallahu’alaihi wassalam lebih dahulu untuk merayakannya. tidaklah kita jumpai para sahabat dan yang mengikutinya merayakan maulid nabi. sedangkan merekalah yang mengenal Rasulullah, lebih dekat dan lebih mencintainya lebih dari jiwanya dan segala yang ada di dunia, tapi para sahabat tidak merayakan maulid. apakah anda lebih merasa mencintai Rasulullah Shalallahu’alaihi wassalam dari pada para sahabat??? sedangkan telah jelaz dalil bahwa jelaslah setiap bid’ah adalah sesat. inagtlah perkataan Ibnu Mas’ud Radliyallahuan yaitu sahabat Nabi dengan kata-katanya yang sangan masyhur : sederhana dalam sunnah itu lebih baik daripada bersungguh-sungguh dalam bid’ah. wahai saudaraku cukuplah bagi kita agama yang dibawa oleh Rasulullah shalallahu’alaihi wasssalam dan jauhilah perkara-perkara yang muhdast.. agama ini telah sempurna wahai saudaraku. kalau kita membuat perkara-perkara yang baru dalam agama ini berarti kita telah menuduh bahwa Nabi kita yang mulia Shalallahu’alaihi wassalam belum menyempurnakan agama ini untuk kita. ingatlah ketika haji wada’ ketika rasulullah shalallahu’alaihi wassalam bertanya kepada para sahabat apakah beliau telah menyampaikan semua syariat kepada para sahabat? maka para sahabatpun menjawab,.engkau telah menyampaikan semuanya wahai Rasulullah kemudian beliau menunjuk kepada langit dan berkata yaAllah saksikanlah 3x…. semoga hati kita tergerak setelah membaca tulisan ini untuk kembali pada Alqur’an dan Sunnah yang dibawa oleh Rasulullah shalallahu’alaihi wassalam yang diikuti oleh para sahabat serta kepada para imam imam kita.. sesungguhnya mereka adalah pejuang sunnah semoga senantiasa dirahmati oleh Allah..

  28. Fahrul said:

    Assalamu ‘alaikum
    Ustadz,apakah perayaan itu sudah termasuk syari’at ya?

    Waalaikumussalam warahmatullah.
    Ia, perayaan/hari raya (id) merupakan syariat, bahkan termasuk syariat yang terbesar karena setiap umat Allah jadikan bagi mereka syariat id.

  29. Muslim-awam said:

    Assalamu’alaykum,

    Jazakallahu khoiron,
    Afwan Ustadz, Mohon izin copy link ke blog ana…

    Waalaikumussalam warahmatullah.
    Tafadhdhal, wajazakallahu khairan

  30. Awi said:

    assalamu’alaikum
    …bagaimana dg peringatan isra’ mi’raj..
    apakah hal ini di perbolehkan atw tidak..???
    ana dlm bulan rajab bbrpa kali mengikuti perayaan ini, krn yg menyampaikan adalah seorang ustad yg menjadi rujukan ana buat belajar,
    karena di lihat dari tujuan nya, sangat bermanfaat sekali terutama dari segi uraian hikmah tentang di syariatkanny sholat 5 waktu,..
    sepertinya banyak para peserta yg awalnya kurang memahami masalah ini, jadi mengerti dan termotivasi buat melaksanakan sholat 5 waktu & berjamaah di mesjid.
    > Mohon tanggapanya…

    Waalaikumussalam warahmatullah.
    Kita tidak mempermasalahkan isi ceramah dan tidak mengingkari manfaat yang terkadang lahir darinya. Akan tetapi yang keliru adalah caranya karena disampaikan dalam perayaan seperti itu. Butuh diketahui bahwa perayaan itu merupakan masalah agama, karenanya tidak boleh merayakan hari tertentu dalam agama kecuali jika Nabi dan para sahabatnya pernah mengerjakannya. Sementara tidak ada satupun keterangan yang menunjukkan Nabi shallallahu alaihi wasallam serta para sahabatnya mengerjakan perayaan tersebut.
    Dalam Islam, bukan hanya hasil yang diperhatikan akan tetapi tidak kalah penting adalah cara untuk mencapai hasil tersebut. Karenanya, walaupun hasilnya baik tapi caranya keliru maka tetap saja keliru. Alangkah baiknya jika ceramah seputar shalat itu disampaikan di majelis taklim atau khutbah jumat, maka itu tentu jauh lebih berberkah dan lebih baik.

  31. bin hasan said:

    assalamualaikum ya ustad, masaksih memperingati maulud itu haram , kalau ustad katakan bahwa annabiy saw tdak pernah menyuruh ummatnya memperingati harei kelahirannya, tolong carikan hadist annabiy saw yang melarang ummatnya memperingati maulud. walafu wassalam

    Waalaikumussalam warahmatullah
    Para ulama sepakat bahwa hukum asal dari ibadah adalah tidak boleh dikerjakan sampai ada dalil yang memerintahkannya. Karenanya dalam hal ini, yang diminta untuk mendatangkan dalil adalah yang membolehkannya dan bukan yang melarangnya. Karena jika memang maulid dianggap ibadah, maka asalnya tidak boleh dikerjakan hingga ada dalil yang memerintahkannya.

  32. nabawea said:

    Ustadz ..
    Bagaimana hukum peringatan isro’ mi’roj ? maulid Nabi ? hijrah Rasul 1 Muharrom ?
    Bukan hukum perayaan lho.. sekedar peringatan saja??? Sebab Mungkin hal ini karena faktor bahasa saja ..
    Terimakasih

    Maaf, terangkan dulu perbedaan antara perayaan dengan peringatan.

  33. cybermuslim said:

    “==
    Lagipula, ucapan anda ‘karena yang mengetahui sesuatu itu benar dan salah hanya Allah dan Rasullullah’, adalah ucapan yang batil. Kami tidak menerima ucapan seperti ini, karena kami yakin para sahabat dan para ulama ahlussunnah adalah orang-orang yang berilmu.
    ==”
    Assalamu’alaikum..
    Afwan,.
    Bukankah Rasul pernah melakukan kesalahan?
    bukankah Sahabat pernah melakukan kesalahan?
    >Rasul tak menghiraukan seorang laki-laki tua buta yg hendak belajar islam ke pada beliau. dan beliau lebih mengutamakan orang lain. sehingga Allah menegurnya dalam Al-Qur’an.

    >di Antara Sahabat pernah terjadi pertikaian. sehingga terbunuhnya cucu rasul Hasan dan Husein.

    Afwan, bukannya ana tidak percaya dengan Rasul dan para sahabat. ana berusaha mengikuti gerak gerik mereka! Karna Agama Allah sudah di sempurnakan kepada mereKA.

    yg jadi pertanyaan dengan kalimat antum di atas, apakah orang yg berilmu sudah terjamin apa yg dia lakukan adalah benar semua tanpa sedikit kesalahan?

    Betul kami sependapat dengan anda. Orang yang berilmu belum tentu lepas dari kesalahan. Kami hanya mengatakan: ‘karena kami yakin para sahabat dan para ulama ahlussunnah adalah orang-orang yang berilmu’, dan kami tidak mengatakan: para sahabat dan ulama ahlussunnah terjaga dari kesalahan.
    Karena keilmuan dan lepas dari kesalahan adalah dua hal yang berbeda dan tidak saling melazimkan.

  34. Yasman said:

    - bila telah umum dikalangan umat maka tdk dpt dikatakan tasysyabbuh, seperti: pengguna levis.
    _ Lalu Mauliddan kan sudah umum kenapa tdk dikatan telah boleh, sementara Rasulullah n para ulama yg mengikuti dg baik mereka sangat kental dn istiqomah terhdp pelarangan tasyabbuh. MUI kita bebrp th kebelakangan mencabut fatwa haram tt dasi. Begitukah caranya mempertahankan kemurnian agama ini atau antum memulai membuka celah dg dimulai yg sepele-sepele msihkah ingat nasehat imam malik?

    Betul tidak lagi dikatakan tasyabbuh, hanya saja dia haram jika levisnya ketat dan membentuk auratnya.
    Maulid, kalaupun kita katangan illat (sebab) tasyabbuhnya sudah hilang maka masih ada sebab-sebab lain yang menyebabkan maulid dilarang dalam agama. Jadi jangan sampai diyakini bahwa maulid dilarang hanya karena dia tasyabbuh, akan tetapi banyak dosa-dosa besar yang terjadi di dalamnya. Maulid adalah bid’ah dalam agama, terserah dia dianggap tasyabbuh atau bukan. Maka ‘tasyabbuh’ adalah hukum tersendiri dan ‘bid’ah’ adalah hukum tersendiri, tidak ada korelasi di antara keduanya.

  35. Tommi said:

    @akhi hamba Allah dan org2 yg sependapat dengannya…

    Mungkin klo bisa lebih simpel, tolong pikirkan pertanyaan saya ini :
    “kenapa para imam madzhab dan org2 sholeh tabi’in disebut para imam besar dan para imam panutan padahal mereka tidak merayakan maulid Nabi?”

    “Mengapa para sahabat tidak merayakan maulid padahal mereka adalah org2 yg sudah pasti lebih mencintai Rasul daripada kita? di hati mereka sudah pasti penuh cinta pada Allah dan RasulNya.”

    Segitu dulu pertanyaan saya, silakan untuk dikritisi.

  36. YUSUF SIGI said:

    Assalamualaikum wr.wb. USTAT SAYA MAU TANYA HUKUM BAGI ORANG YG SEDANG SOLAT TAPI DLAM KEADAAN MABUK.. WASSALAMUALAIKUM.WR.WB

    Waalaikumussalam warahmatullah
    Shalatnya tidak syah. Allah Ta’ala berfirman dalam surah An-Nisa` ayat 43 yang artinya, “Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu shalat, sedang kamu dalam keadaan mabuk, sehingga kamu mengerti apa yang kamu ucapkan.”

  37. YUSUF SIGI said:

    asslm. Ustat saya mau brtx apakh boleh mempercayai tabir mimpi yg kbanyakan dijual di pasaran. Mohon penjelasannya ustat wasslm

    Tidak boleh, hampir seluruh ta’bir mimpi yang adalah adalah kedustaan ataukah mungkin bisa dianggap ramalan. Dan mempercayai kedustaan atau ramalan adalah hal yang terlarang dalam agama Islam.

  38. hamba Allah said:

    assalam..
    jwbannya d buku mulu..
    komersil bgt

    Wajarlah akh, namanya juga jualan buku. Masa jualan buku isinya ditampilin semua, kan nggak lucu.
    Lagi pula, sebagian bab dari buku di atas ada yang telah kami muat di situs ini, dan inipun yang dipromosikan cuma satu buku, jadi nggak komersil-komersil banget lah.

  39. abu_salman said:

    ustadz, terkat pertanyaan tentang tabir mimpi pada poin 38, barangkali perlu lebih diterangkan atau diperinci, karena memang bukankah sebagian dari mimpi itu ada tafsirnya, yang ini bukanlah sebuah khurafat karena memang diakui di agama kita…?

    Di sini ada 2 perkara yang butuh antum perhatikan:
    1. Penanya poin 38 tidak mempertanyakan hukum ta’bir mimpi seperti ini, akan tetapi dia membatasinya pada ‘tabir mimpi yg kbanyakan dijual di pasaran’. Dan sudah dimaklumi bahwa ta’bir mimpin yang tersebar di pasaran kebanyakannya tidak bersandar pada argumen yang jelas. Sampai-sampai tafsir mimpi karya Ibnu Sirin yang diperjualbelikan di sebagian toko, tidaklah shahih sanadnya sampai ke Ibnu Sirin rahimahullah.
    2. Penanya poin 38 menanyakan: ‘apakh boleh mempercayai tabir mimpi’. Maka jawabannya jelas tidak boleh, karena mempercayai mengharuskan dia meyakininya dan memastikan kebenarannya. Sementara dalam Islam, mimpi hanya dijadikan sebagai tanda baik atau tanda jelek, dan sama sekali bukan kepastian yang harus diyakini dan dipercaya akan terjadi. Wallahu a’lam

  40. abu_salman said:

    Masya Allah… jazakallah khairan

  41. abu_khodijah said:

    barokallahufiik Ustadz.

    wafiika barakallahu

  42. Alan Syeba said:

    Assalamu’alikum Wr.Wb.

    Astagfirullahal adzhim..

    Rasulullah SAW adalah makhluk Allah yang paling bijaksana dalam dakwahnya,..tidak pernah menyakiti hati orang yang didakwahinya,selalu menjaga perasaan hati…itu adab dan akhlak yang kita teladani dan kita gali…hendaknya dalam melontarkan nash dan logika tidaklah sekali-kali nafsu kita untuk menunggagi nash tersebut sehinga menimbulkan rasa diri akulah yang paling benar, padahal rasulullah ketika berdakwah menceritakan sesuatu kepada sahabat-sahabat beliau mereka merasa seolah-olah ada didalamnya apakah itu tentang kesalahn atau kebenran(neraka&surga) ayat & hadits adalah cahaya yang membawa ketenangan jiwa(nur) yang terjadi sekarang malah menjadi nar, perdebatan.,permusuhan.pertanyaan dimanakah letak kekeliruan semua ini ? nash dalil ataukah yang menggunakan dalil ? semua golongan, kelompok mengaku ahlu sunnah wal jamaa’ah mereka tidak rela dikatakan bukan ahlussunnah.sedangkan maksud rasulullah tentang ahlus sunnah wal jama’ah belum sempurna kita jalani. rasulullah SAW adalah makhluk Allah yang paling benar dan maksum, akan tetapi beliau tetap meminta ampun, seolah-olah beliau bersalah, tapi itulah teladan bagi umat supaya mau menggali maksud semua ini. bukan saling menyalahkan….kalian semua punya dalil & nash. lana ‘a’maluna lakum a’malukum. berdirilah ditengah dengan bijaksana dengan penuh adab seperti rasulullah SAW contohkan..galilah kebijaksanaan rasulullah SAW smpai kalian menjadi orang yang adil dan bijaksana..akhirnya kita kembali dengan ketawadhuan hati kita. maka yang benar berdakwah karena Allah dan rasull-Nya bukan karena yang lainnya akan selalu istiqomah dan yang bathil baik cara dalam dakwahnya akan terhenti dikarenakan bukan karena Allah dan Rasul-Nya. bukankah fitnah dajjal dan prilaku dajjal adalah mengaku dirinya paling benar (bermata satu) maka saya pribadi dan kalian semua berlindung kpd Allah dari fitnah dajjal. bersitigfar dan bershalawat karena itulah yang sekarang dan selamanya yang hati dan jasmani kita lakukan agar dpat mencapai taqwa. tafakkurlah dan berbuatlah kita untuk dapat pengakuan orang yang benar dihadirat Allah SWT dan Rasul-Nya bukan dihadapan manusia.letakkan nafsu kita sesudah Allah dan Rasul-Nya bukan sebaliknya.
    wassalamu’alaikum Wr.Wb

    Waalaikumussalam warahmatullah
    Maaf saja tapi menurut kami anda belum bisa berkomentar seenaknya dan menasehati dengan nasehat yang menurut anda paling bijaksana sebelum anda mengetahui alasan mereka yang mengkritisi perayaan maulid dan apa jawaban mereka terhadap mereka yang membolehkannya.
    Lagipula mana bukti kecintaan anda kepada Nabi shallallahu alaihi wasallam pada ucapan anda di atas. Anda menyebutkan nama ‘Rasulullah’ dan anda sekalipun tidak pernah bershalawat kepada beliau kecuali dengan singkatan, bukankah shalawat itu doa untuk Nabi shallallahu alaihi wasallam? Kenapa anda begitu pelit kepada beliau sampai doa untuk beliaupun anda singkat sehingga menjadi bukan doa (SAW).

  43. abu khodijah said:

    Bismillah.
    Jika berniat menjual kembali kitab tersebut u/ dijual kepada masyarakat, dapat diskonkah? yang tentunya dengan pembelian minimal dalam eksemplar. Juga untuk memudahkan dari sisi harga dan sebagai hadiah u/ kalangan keluarga.

    Jazakallahukhairan Ustadz.
    Abu Khodijah PondokGede

    Tentu saja ada discount. Antum langsung saja hubungi no. 0813 5544 1994. Ditunggu ya.

  44. Adhy said:

    Asslm…
    Ijin copy ustd buat bahan ilmu n share. ijin dwakilkan buat artikel lainnya ya. Jazakumullah khair.

  45. syahrijie said:

    Assalamu’alikum warahmatullahi wabarakatuh

    semua ingin tahu dibolehkan atau tidak maulid itu…Insyaallooh, khuruz fisabilillaah bersama kami…da’wah dr masjid kemasjid u/mmbelajar agama dan mmperbaiki diri..nanti Allooh ksh kita faham tentang yg dibahas diatas…

    Waalaikumussalam warahmatullahi wabarakatuh.
    Pemahaman terhadap agama itu datang karena kita membaca dan memahami, pemahaman tidak akan datang dengan khuruj.

  46. cool man said:

    Komentar saya yg banyak kemaren kok malah dihapus?
    Kalo anda mengaku Ustad yaa diresponlah komen saya itu, bukan malah dihapus.
    Biarkan orang2 pada membaca komentar saya itu, biar mereka tau dalil2 dan alibi yg kuat yg diperbolehkannya merayakan kelahiran Nabi Muhammad Saw.

    O ya , saya menghimbau kepada anda, kalo anda tidak suka sama peringatan kelahiran Nabi Muhammad Shallallaahu’alaihiwasallam (Maulid)ya sudah itu hak anda, tapi jangan anda pake acara mengarang buku segala yg isinya mendiskreditkan Maulid (Na’uzubillah), seolah-olah anda ini penghasut. Kami punya dalil dan alibi yg kuat bahwa merayakan kelahiran Rasulullah Saw itu dibolehkan.

    Udah lah gini aja, anda urus sendiri pendapat anda dan kami urus sendiri pendapat kami. Jangan mengganggu satu sama lain.

    Maaf, semua komentar anda sengaja kami hapus karena menurut kami hanya memakan tempat, karena manfaatnya kurang. Soalnya semua dalil dan alibi yang anda sebutkan telah kami jelaskan secara lengkap bantahannya dalam buku yang dimaksud. Karenanya kalaupun ditampilkan, insya Allah tidak ada manfaatnya.
    Masalah memunculkan amalan baru dalam agama yang Nabi shallallahu alaihi wasallam tidak pernah amalkan bukan urusan saya pribadi, akan tetapi menjadi semua urusan orang yang tidak ingin agama nabi mereka terkotori dengan bid’ah semacam perayaan maulid. Karenanya jangan sekali-kali menjadikan masalah ini sebagai masalah golongan dan kelompok.

  47. cool man said:

    O ya satu lagi ketinggalan, anda selalu ngomong hal2 yg tidak pernah dilakukan oleh Rasulullah Saw adalah Bid’ah dan itu adalah dosa besar.

    Ok, saya ingin tau jawaban dari mulut anda bagaimana kehidupan kita sehari-hari?apa semuanya harus berdasarkan yg Rasulullah Saw lakukan?
    Bagaimana kalau Rasulullah Saw tidak pernah melakukan perbuatan sehari-hari kita tapi kita MELAKUKAN PERBUATAN ITU????Berarti BID’AH dan itu adalah DOSA BESAR, ya khan?

    Saya tidak perlu memberi contoh perbuatan kita sehari-hari yg sama sekali tidak pernah dilakukan oleh Rasulullah Saw,terlalu banyak. anda sudah tau sendiri.

    Sebaiknya anda baca dulu buku yang dimaksud di atas sebelum berkomentar, karena kalau tidak, anda hanya akan membuang-buang waktu dan tenaga.
    Semua dalil yang anda sebutkan beserta dalil lain yang mungkin anda tidak pernah dengar, semuanya telah kami jelaskan kekeliruannya dalam buku tersebut. Trima kasih

  48. abu Namira Hasna Al-Jauziyah said:

    bismillah. cool men: antum tahu pengertian bid`ah menurut bahasa dan istilah?antum tahu perbedaan bid`ah dan maslahat? antara sarana dan tujuan? antum tahu perbedaan antara adat dan ibadah?kalau antum faham dan mengerti pergertian dan perbedaan yang ana sebutkan di atas dengan baik, pastilah antum tidak berkomentar seperti di atas. lebih jelasnya baca ini : Kerancuan Pertama: Antara Adat dan Ibadah

    Dalam pembahasan tentang bid’ah, terdapat kerancuan (syubhat) yang sering dilontarkan oleh orang-orang yang kurang jeli semacam kata-kata, “Kalau begitu, Nabi naik onta, kamu naik onta juga saja.” atau kata-kata “Ini bid’ah, itu bid’ah, kalau begitu makan nasi juga bid’ah, soalnya gak ada perintahnya dari nabi”, dan komentar-komentar senada lainnya.

    Jawaban
    Saudariku… perlulah engkau membedakan, antara sebuah ibadah dan sebuah adat. Sebuah amalan ibadah, hukum asalnya adalah haram, sampai ada dalil syar’i yang memerintahkan seseorang untuk mengerjakan. Sedangkan sebaliknya, hukum asal dalam perkara adat adalah boleh, sampai ada dalil yang menyatakan keharamannya.

    Contoh dalam masalah ibadah adalah ibadah puasa. Hukum asalnya adalah haram. Namun, karena telah ada dalil yang mewajibkan kita wajib puasa Ramadhan, atau dianjurkan puasa sunnah senin kamis maka ibadah puasa ini menjadi disyari’atkan. Namun, coba lihat puasa mutih (puasa hanya makan nasi tanpa lauk) yang sering dilakukan orang untuk tujuan tertentu. Karena tidak ada dalil syar’i yang memerintahkannya, maka seseorang tidak boleh untuk melakukan puasa ini. Jika ia tetap melaksanakan, berarti ia membuat syari’at baru atau dengan kata lain membuat perkara baru dalam agama (bid’ah).

    Contoh masalah adat adalah makan. Hukum asalnya makan adalah halal. Kita diperbolehkan (dihalalkan) memakan berbagai jenis makanan, misalnya nasi, sayuran, hewan yang disembelih dengan menyebut nama Allah. Di sisi lain, ternyata syari’at menjelaskan bahwa kita diharamkan untuk memakan bangkai, darah atau binatang yang menggunakan kukunya untuk memangsa. Jadi, meskipun misalnya Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam tidak makan nasi, bukan berarti orang yang makan nasi mengadakan bid’ah. Karena hukum asal dari makan itu sendiri boleh.

    Catatan Penting!
    Akan tetapi di sisi lain, ada orang yang mengkhususkan perkara adat ini menjadi ibadah tersendiri. Ini adalah terlarang. Maka, harus dilihat kembali penerapan dari kaedah bahwa hukum asal sebuah ibadah adalah haram sampai ada dalil yang mensyari’atkannya.

    Contoh dalam masalah ini adalah masalah pakaian. Pakaian termasuk perkara adat, dimana orang diberi kebebasan dalam berpakaian (tentu saja dengan batasan yang telah dijelaskan dalam Islam). Namun, ada orang-orang yang mengkhususkan cara berpakaian dengan alasan bahwa cara berpakaian tersebut diatur dalam Islam, sehingga meyakininya sebagai ibadah. Contohnya adalah harus menggunakan pakaian terusan bagi wanita atau harus menggunakan pakaian wol (biasa dilakukan orang-orang sufi). Karena perkara adat ini dijadikan perkara ibadah tanpa didukung oleh dalil-dalil syar’i, maka cara berpakaian dengan keyakinan semacam ini menjadi terlarang.

    Berbeda dengan orang yang menjadikan perkara adat atau perkara mubah lainnya menjadi bernilai ibadah dan menjadikannya sebagai perantara bagi sebuah ibadah yang disyari’atkan atau melakukan perkara adat tersebut sesuai dengan tuntunan dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Maka ini diperbolehkan. Contoh dalam masalah ini adalah makan. Makan adalah perkara adat. Hukum asalnya adalah diperbolehkan. Namun perkara adat ini dapat menjadi ibadah ketika seseorang makan dengan cara-cara yang diajarkan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaih wa sallam (baca artikel Adab Makan di muslimah.or.id) atau makan ini dapat menjadi ibadah ketika seseorang niatkan untuk melakukan ibadah lain yang memang telah disyari’atkan. Misalnya, seseorang makan agar kuat melakukan sholat dzuhur, atau seorang bapak sarapan pagi dengan niat kuat bekerja dalam rangka memenuhi tanggung jawabnya sebagai kepala rumah tangga. Contoh lainnya adalah tidur. Tidur memang dapat menjadi ibadah ketika seseorang tidur sesuai tuntunan dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam (lihat artikel Adab Tidur di muslimah.or.id) atau ketika diniatkan tidur itu untuk melakukan ibadah lain yang memang telah ada tuntunannya dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Misalnya tidur di awal malam agar kuat sholat tahajjud di sepertiga malam yang terakhir.

    Semoga Allah mempermudah kita untuk memahami dua hal yang berbeda ini! Sungguh indah perkataan Abul Ahwash ketika ia berkata kepada dirinya sendiri,

    “Wahai Sallam, tidurlah kamu menurut sunnah. Itu lebih baik
    daripada kamu bangun malam untuk melakukan bid’ah.”
    (Al Ibanah no. 251, Lihat Membedah Akar Bid’ah).

    Kerancuan Kedua: Antara Bid’ah dan Mashalih Mursalah

    Kerancuan lain yang sering muncul adalah berkaitan dengan hal-hal yang biasa dipergunakan dalam agama, semacam mikrofon, mushaf al-Qur’an, sekolah Islam dan lain sebagainya. Seakan-akan perkara-perkara tersebut sesuai dengan ciri-ciri bid’ah, terutama karena perkara tersebut disandarkan pada agama. Sehingga ada orang yang berkata, “Berarti pake mik sewaktu adzan ga boleh dong. Kan zaman nabi ga pake mik..”

    Jawaban
    Pada poin ini, perlu bahasan yang lebih rinci lagi berkaitan dengan mashalih mursalah. Syathibi dalam kitabnya al I’tishom telah menjelaskan perbedaan antara mashalih mursalah dengan bid’ah yang akan dapat dimengerti oleh orang yang mau memahami. Berikut ini perbedaan tersebut dengan penyesuaian dari penulis.

    Pertama,
    Ketentuan mashalih mursalah sesuai dengan maksud-maksud syari’at, sehingga dalam penetapannya tetap memperhatikan dalil-dalil syari’at.

    Misalnya: pengumpulan mushaf Al Qur’an. Karena pengumpulan ini sifatnaya sesuai dengan maksud syari’at dan sesuai dengan dalil-dalil syari’at maka pengumpulan mushaf Al-Qur’an bukanlah bid’ah walaupun Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak memerintahkan untuk mengumpulkannya. Karena pengumpulan mushaf Al-Qur’an bertujuan untuk menjaga sumber syari’at. Allah ta’ala berfirman,

    إِنَّا نَحْنُ نَزَّلْنَا الذِّكْرَ وَإِنَّا لَهُ لَحَافِظُونَ

    “Sesungguhnya Kami-lah yang menurunkan Al Quran, dan sesungguhnya Kami benar-benar memeliharanya.” (Al Hijr [15]: 9)

    Namun coba perhatikan, terdapat perkara yang dibuat-buat, dimana seseorang mulai menyebutkan ‘khasiat-khasiat’ baru dari baris-baris yang ada dalam lembaran Al Qur’an. Sehingga orang mencetak dalam satu lembar harus ada 18 baris atau 16 baris dengan keyakinan-keyakinan yang tidak ada dalilnya dalam syari’at. Maka yang seperti ini tidak termasuk dalam mashalih mursalah.

    Kedua,
    Mashalih mursalah lingkupnya adalah pada perkara-perkara yang dapat dipahami oleh akal.

    Contohnya adalah penggunaan mikrofon di masjid-masjid. Kita ketahui mikrofon berguna untuk memperjelas suara sehingga dapat didengar sampai jarak yang jauh. Hal ini termasuk perkara adat dimana kita boleh mempergunakannya. Hal ini semisal kacamata yang dapat memperjelas huruf-huruf yang kurang jelas bagi orang-orang tertentu. Sebagaimana perkataan Syaikh As Sa’di rahimahullah kepada orang berkacamata yang mengatakan bahwa pengeras suara adalah bid’ah, beliau berkata, “Wahai saudaraku, bukankah kamu tahu bahwa kaca mata dapat membuat sesuatu yang jauh menjadi dekat dan memperjelas pandangan. Demikian juga halnya pengeras suara, dia memperjelas suara, sehingga seorang yang jauh dapat mendengar, para wanita di rumah juga bisa mendengar dzikrullah dan majlis-majlis ilmu. Jadi mikrofon merupakan keikmatan Allah Subhanahu wa Ta’ala kepada kita, maka hendaknya kita menggunakannya untuk menyebarkan kebenaran.” (Mawaqif Ijtima’iyyah min Hayatis Syaikh Abdurrahman As-Sa’di, Muhammad As Sa’di dan Musa’id As Sa’di. Lihat Majalah Al Furqon edisi 5 tahun 7)

    Berbeda halnya dengan bid’ah. Amalan-amalan bid’ah tidak dapat dipahami oleh akal. Hal ini dikarenakan bid’ah merupakan amalan ibadah yang berdiri sendiri. Padahal tidaklah amalan ibadah dapat dipahami oleh akal. Semisal, mengapa sholat fardhu ada lima, dan mengapa jumlah raka’aatnya berbeda-beda. Atau mengapa ada dzikir yang berjumlah 33. Maka semua ibadah ini tidak dapat dipahami maksudnya oleh akal.

    Ketiga,
    Mashalih mursalah diadakan untuk menjaga perkara yang sifatnya vital (dharuri), serta menghilangkan permasalahan berat yang biasanya muncul dalam perkara agama.

    Perkara dharuri yang dimaksud misalnya adalah agama. Sebagaimana contoh pertama, maka penyusunan mushaf Al Qur’an kita dapat pahami berkaitan untuk menjaga agama agar kemurnian Al Qur’an tetap terjaga.

    Coba bedakan dengan bid’ah. Sebagaimana penulis sebutkan pada artikel sebelumnya, bahwa bid’ah dibuat untuk berlebih-lebihan dalam beribadah kepada Allah sehingga bid’ah justru menambah beban bagi seorang muslim. Contohnya adalah mengadakan peringatan isra mi’raj, maulid atau yang semacamnya sehingga menambah beban seseorang untuk mengeluarkan dana dan tenaga untuk mengadakan acara tersebut. Padahal Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak pernah memerintahkan untuk merayakan hal-hal tersebut.Kerancuan Ketiga: Antara Bid’ah dan Niat Baik

    Setelah melihat contoh-contoh mashalih mursalah di atas, mungkin saja terbersit kembali di benak seseorang: “Tapi kan aku niatnya baik…”

    Jawaban:
    Saudariku…perlulah kita ketahui berbagai macam dalih dan kedurhakaan Yahudi dikarenakan dalih niat baik, namun mereka menghalalkan segala cara untuk niat baiknya itu. Sungguh banyak hadits yang menjelaskan bahwa sekedar niat baik itu tidaklah cukup. Niat baik (ikhlas) itu harus dibarengi dengan cara-cara yang sesuai dengan tuntunan yang diajarkan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Salah satu contohnya adalah dalam hadits berikut.

    Dari Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu, ia berkata: Datang tiga orang ke rumah istri-istri Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, mereka bertanya tentang ibadah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Tatkala mereka diberitahu tentang ibadah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, seakan-akan mereka merasa bahwa ibadah tersebut sedikit, maka mereka berkata, “Dimana kita jika dibanding dengan Nabi shalalllahu ‘alahi wa sallam? Ia telah dimaafkan dosa-dosanya oleh Allah baik yang telah lalu maupun yang akan datang.”

    Seorang di antara mereka berkata, “Adapun aku, maka aku akan sholat malam selama-lamanya.”

    Yang lainnya berkata, “Saya akan puasa dahr(setiap hari) dan aku tidak akan pernah buka.”

    Dan berkata yang lainnya, “Aku akan menjauhi para wanita, dan aku tidak akan menikah selama-lamanya.”

    Lalu datanglah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam lalu berkata, “Apakah kalian yang telah berkata demikian dan demikian? Ketahuilah demi Allah sesungguhnya aku adalah orang yang paling takut dan paling bertakwa kepada Allah daripada kalian, namun aku berpuasa dan berbuka, aku sholat dan tidur, dan aku menikahi para wanita. Barangsiapa yang benci terhadap sunnahku, maka dia bukan dari golonganku.” (HR. Bukhari no 5063 & Muslim 1401)

    Lihatlah kesungguhan dan niat baik ketiga orang tersebut dalam beribadah. Namun, niat mereka langsung dibantah oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Bahkan jika mereka tetap melakukan niatan tersebut, maka sama saja mereka membenci sunnah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Karena niat baik mereka tidak diikuti dengan cara yang benar yang telah diajarkan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.

    Maka yang benar dalam sebuah ibadah adalah tidak sekedar memperhatikan niat semata, namun juga cara melakukannya. Sebagaimana dikatakan oleh Fudhail bin ‘Iyad ketika menafsirkan firman Allah,

    “Supaya Dia menguji kamu, siapa di antara kamu yang lebih baik amalnya.” (Al Mulk. 2)

    Beliau rahimahullah berkata, “Maksudnya, ikhlas dan benar dalam melakukannya. Sebab amal yang dilakukan dengan ikhlas tetapi tidak benar maka tidak akan diterima. Dan jika benar, tetapi tidak ikhlas maka amalnya juga tidak diterima. Adapun amal yang ikhlas adalah amal yang dilakukan karena Allah, sedang amal yang benar adalah bila dia sesuai dengan sunnah Rasulullah.” (Hilyatul Auliya’ : VIII/95. Lihat Membedah Akar Bid’ah)

    Kerancuan Keempat: Antara Bid’ah dan Maksiat

    Banyak orang menganggap seseorang melakukan bid’ah lebih baik daripada seseorang melakukan maksiat. Mereka menganggap bahwa orang yang melakukan bid’ah itu sudah dekat dengan agama, jadi tidak perlu dipermasalahkan dengan amalan-amalannya. “Daripada mencuri atau minum minuman keras”, kata mereka.

    Jawaban:
    Sungguh pemikiran seperti ini harus dikoreksi dengan beberapa alasan:

    Pertama, karena telah banyak hadits yang menjelaskan bahayan bid’ah, padahal orang yang melakukan bid’ah tersebut menanggap mereka melakukan ibadah dengan penuh kesungguhan yang sangat. Akan tetapi amat disayangkan, amalan mereka tidak diterima bahkan mendapat adzab dari Allah Subhanhu wa Ta’ala. Sebagaimana Rasulullah shalallahu’alaihi wa sallam jelaskan tentang kelompok khawarij yang salah satu ciri mereka adalah sangat banyak beribadah,

    “Salah seorang dari kalian merasa shalatnya lebih rendah nilainya daripada shalat mereka (kelompok khawarij), puasanya lebih rendah nilainya daripada puasa mereka, tilawahnya lebih rendah nilainya daripada tilawah mereka. Mereka membaca Al Qur’an tetapi tidak melewati kerongkongan mereka (tidak memahaminya). Mereka telah melesat keluar dari Islam sebagaimana anak panah melesat dari busurnya…” (HR. Bukhari)

    Kedua, kita ketahui orang yang melakukan maksiat menyadari bahwa kegiatan yang dilakukannya terlarang dalam agama dan berdosa, sehingga ketika diingatkan mereka mengakui kesalahannya tersebut walau belum mampu meninggalkan maksiat yang dilakukannya. Berbeda dengan pelaku bid’ah, mereka menganggap bahwa amalan yang mereka lakukan adalah ibadah, apalagi mereka menjalankannya dengan penuh kesungguhan. Sehingga jika diperingatkan, mereka akan sulit meninggalkannya karena menganggap itu adalah sebuah kebenaran. Atau ketika menyadari bahwa itu adalah perkara yang baru dalam agama maka mereka mengatakan bahwa amalan (bid’ah) yang mereka lakukan adalah bid’ah hasanah, padahal tidaklah maksud dari kata-kata tersebut melainkan mengatakan semua bid’ah adalah hasanah.

    Contoh dalam masalah ini adalah ketika orang melakukan kemaksiatan mencuri, ia menyadari ada larangannya dalam Islam. Maka, ia menyadari sedang melakukan dosa. Namun, jika seseorang diperingatkan untuk tidak melakukan yasinan, maka serta merta kerenyit muka tak senang muncul dan mengatakan, “Masa baca Qur’an dilarang.”Padahal maksud dari orang yang memberikan nasihat, bukan melarang seseorang membaca Al-Qur’an. Namun yang terlarang adalah mengkhususkan membaca surat Yasin pada hari-hari tertentu dengan keyakinan itu adalah ibadah. Benarlah ucapan Imam Sufyan Ats Tsauri,

    “Bid’ah lebih disukai iblis daripada maksiat.
    Sebab maksiat orang mudah untuk meninggakannya, sedang bid’ah orang sulit untuk meninggalkannya.” (dinukil dari Musnad Ibnul Ja’d oleh syaikh Ali Hasan)

    Kerancuan Kelima: Bid’ah Tarawih?

    Satu lagi kerancuan yang sering kali muncul ketika membahas tentang bid’ah adalah ibadah sholat tarawih. Banyak orang mengira, tarawih tidak pernah dilakukan di masa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Mereka berkeyakinan demikian, apalagi dengan adanya perkataan Umar radhiyallahu ‘anhu ketika melihat orang-orang beribadah sholat tarawih berjama’ah, ia berkata, “Sebaik-baik bid’ah adalah ini.”

    Jawaban:
    Sesungguhnya wahai saudariku… Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah melakukan ibadah sholat malam di bulan Ramadhan, baik sendirian maupun berjama’ah. Sebagaimana dalam hadits berikut,

    عن عائشة رضي الله عنها أن رسول الله صلى الله عليه و سلم صلى في المسجد ذات ليلة، فصلى بصلاته ناس، ثم صلى من القابلة فكثر الناس، ثم اجتمعوا من الليلة الثالثة أو الرابعة فلم يخرج إليهم رسول الله الله صلى الله عليه و سلم ، فلما أصبح قال: (قد رأيت الذي صنعتم، فلم يمنعني من الخروج إليكم إلا أني خشيت أن تفرض عليكم) قال وذلك في رمضان.

    “Dari sahabat ‘Aisyah -radhiallahu ‘anha- bahwasannya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pada suatu malam menjalankan sholat di m asjid, maka ada beberapa orang yang mengikuti shalat beliau, kemudian pada malam selanjutnya beliau shalat lagi, dan orang-orang yang mengikuti shalat beliau-pun bertambah banyak. Kemudian mereka berkumpul pada malam ketiga atau keempat, dan beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak keluar menemui mereka, pada pagi harinya beliau bersabda: “Sungguh aku telah mengetahui apa yang kalian lakukan (yaitu berkumpul menanti shalat berjamaah ) dan tidaklah ada yang menghalangiku untuk keluar menemui kalian, melainkan karena aku khawatir bila (shalat tarawih) diwajibkan atas kalian.” Dan itu terjadi pada bulan Ramadhan.” (HR. Bukhari dan Muslim)

    Sebenarnya dalil ini sudah cukup untuk menunjukkan bahwa tarawih bukanlah bid’ah. Namun, untuk menjawab kerancuan yang timbul dari perkataan Umar radhiyallahu ‘anhu, maka jawabannya bisa dari dua sisi:

    Maksud Umar adalah bid’ah dengan makna secara bahasa, yaitu mengadakan sesuatu tanpa ada contoh sebelumnya. Hal ini disebabkan sejak wafatnya Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam, sholat tarawih berjama’ah tersebut belum pernah dilakukan kembali ketika masa kekhalifahan Abu Bakar radhiyallahu ‘anhu.
    Jika pun maksud perkataan Umar radhiyallahu ‘anhu tersebut bid’ah secara istilah, maka perkataan tersebut tidaklah dapat diterima karena bertentangan dengan hadits Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

    كل بدعة ضلالة

    “Seluruh bid’ah sesat…” (HR. Muslim 2/592)

    Sungguh tidak akan habis kerancuan yang dilontarkan ketika seseorang lebih mengikuti hawa nafsunya daripada kebenaran yang telah dijelaskan oleh Nabi kita shallallahu ‘alaihi wa sallam. Semoga dengan kaedah-kaedah yang disebutkan pada artikel ini dapat membentengi kita dari kerancuan lain yang menyambar-nyambar hati. Allah Ta’ala berfirman,

    “Pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kamu agamamu, dan telah Ku-cukupkan kepadamu nikmat-Ku, dan telah Ku-ridhai Islam itu jadi agama bagimu.” (Al Maidah: 3).

    Ingatlah pula, bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam telah bersabda bersabda,

    “Tidak tersisa sesuatu pun yang mendekatkan ke surga dan menjauhkan dari neraka melainkan telah dijelaskan kepadamu.” (HR. Thabrani, sanadnya shahih).

    Maka cukupkanlah dengan apa yang diajarkan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, karena yang demikian juga sudah sangat menyibukkan jika kita telah mengetahui dan mengamalkannya. Ataupun jika baru sedikit sunnah Nabi yang kita ketahui, maka istiqomahlah menjalankannya, karena yang demikian adalah amal yang paling dicintai Allah (HR. Bukhari dan Muslim). Ya Allah, berikanlah ketakwaan pada diri kami, bersihkanlah jiwa kami dari hawa nafsu karena Engkau-lah sebaik-baik pembersih jiwa.

    Maraji’:

    Kajian kitab Ushulus Sunnah karya Imam Ahmad oleh Al Ustadz Aris Munandar
    Membedah Akar Bid’ah. Syaikh Ali Hasan Al Halabi Al Atsari. Pustaka Al Kautsar cet ke-4 2005
    Ringkasan Al I’tisham Imam Asy Syathibi, Syaikh Abdul Qadir As Saqqaf. Media Hidayah cet ke-1 2003. coba cool man klik link ini :
    http://kaahil.wordpress.com/2010/02/27/bidahkah-motor-%E2%80%9Cdikit-dikit-bid%E2%80%99ah-dikit-dikit-bid%E2%80%99ah%E2%80%9D-%E2%80%9Capa-semua-yang-ada-sekarang-itu-bid%E2%80%99ah%E2%80%9D-%E2%80%9Ckalau-memang-maulidan-bid/, malah ada yang berpendapat ; ini bid`ah itu bid`ah adalah pendapat bid`ahnya bid`ah.(http:ummati…word…com. (sebuah blog yang ngaku ahlussunnah wal jamaah, tapi hakikatnya adalah blog asy`ariyah) sungguh yang berpendapat ini tidak dibenarkan, karena di bangun dari dasar kebodohan dan kejahilan.karena yang mengatakan ini tidak faham dan jahil dalam membedakan antara bid`ah dan maslahat, sarana dan tujuan juga adat dan ibadah serta tidak bisa membedakan pengertian bid`ah menurut bahasa dan istilah(syar`i).

  49. Ibnu Mahmud Sulawesi said:

    Bismillàh..
    Assalàmu ‘Alaikum..
    Buat saudara2ku yang masih menganggap/meyakini adanya bid’ah hasanah, maka camkanlah satu kaidah emas dari para ulama Ahlus-Sunnah: “LAU KÄNA KHAIRAN, LASABAQÜNA ILAIHI” = Sekiranya perbuatan (amalan) itu baik, maka tentulah mereka (para sahabat Nabi) telah mendahului kita dalam mengamalkannya”.
    Bàrokallòhu fiykum..

  50. sayap2 patah said:

    Pembukuan mushaf al-qur’an itu juga bid’ah, tetapi tidak apa-apa kan ?

    Tidak ada yang mengatakan pembukuan mushaf Al-Qur`an itu bid’ah secara syariat. Kami tidak setuju kalau ada yang mengatakan itu sebagai bid’ah, siapapun orangnya.

  51. Insighter said:

    Assalamu’alaikum,
    wahai ahlul bid’ah jk kalian tetap dgn pndirian kalian pdahal tlh jelas Hujjah yg dtang dr Alqur’an & Assunnah,namun ttap ingkar & menyombongkan diri ,mk kalian tdk jauh beda dgn kaum quraisy & kaum ibnu hanifah yg tlh dperangi rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam mereka jg syahadat,& ibdh namun menyelisihi rasulullah & & bpak pendahulu mereka yakni ibrahim ‘alaihissallam,niscaya kalian jg akn binasa seperti mereka kelak baek dunia / akherat krna menyelesihi nabi & para sahabat!,sejauh mana ilmu kalian shngga berani melakukan hal tersebut..Rasulullah adl uswatun khasanah apakah itu tdk cukup bagimu?mk jika tdk cukup carilah wasilah selain beliau,jika itu bisa menyelamatkanmu kelak,& ingat !amal tdk dterima jk tdk memenuhi 2 syarat utama:
    1)ikhlas krna Allah ta’ala
    2)ittiba'(mgikut tuntunan rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam baek dgn prktaan / prbuatan beliau)

    Manusia trbagi mjdi 4 macam:
    1)Org yg Tau dan tau bhwa dia tau,
    2)org yg tau namun dy tdk tau bhwa dia tau,
    3)org yg tdk tau & tau bhwa dy tdk tau,
    4)org yg tdk tau namun dy tdk tau bhwa dy tdk tau..

    “Ahlussunnah a’lamunnasi bilhaq,wa arhamuhum bilkhalq”,
    “ahlussunnah mereka mengerti yg haq,syang trhdp makhluk”
    Ahlussunnah akn senantiasa mjaga umat dgn menasehati yg haq yg datang dari sumbernya(Nabi,parasahabat,& generasi penerus asshaleh)

    kenapa bid’ah lbh disukai syetan dr bentuk maksiat/dosa laen dlm mggoda manusia??
    *pelakunya tdk merasa melakukannya.
    *bid’ah adl sarana empuk & lbh sukses dlm mnjerat kdalam lembah kekufuran /kesyirikan utk org awam trmsuk a’bidh wa ‘alim(ahli ibdah & ahli ‘ilmu)skalipun.
    *trkadang biasanya ddlmnya trdpt nilae kbaekan akn ttpi jauh dr Alqur’an & assunnah,shngga tanpa mgetahui mudharat2nya enggan utk dtinggalkannya,
    *sbagian mereka menilae bhwa bid’ah ada yg baek & buruk,bid’ah yg baek tak mengapa diamalkan..apkah amalan risalah2 yg diajarkan oleh rasululloh msh krg sempurna?bknkah beliau suri tauladan yg paling baek & mulia,na’udzubillahi mindzalik..!sungguh hnya org jahil yg berani brpaling dr risalah yg dbawanya.
    *pd dasarnya smua bid’ah adl munkar,& tlh dsbtkan jlas dlm kitabNYA bhwa stiap yg munkar tmptnya adl dineraka.
    *amalan bid’ah adl trtolak(tdk dtrima).sesuai yg disabdakan oleh beliau rasululloh.wallohu a’lam..

  52. abi alif fauzan said:

    Alhamdulillah, semoga hati kita dibukakan oleh Allah untuk menerima hidayah-Nya. Mohon penjelasan tentang sejarah dan hukum mempernati/merayakan malam nisfu sya’ban, misalnya dengan membaca surat yasin 3x, memberi makanana, dll. Wasalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh

    Waalaikumussalam warahmatullahi wabarakatuh
    Insya Allah akan dibahas dalam artikel tersendiri.

  53. Bilal said:

    Assalamualaikum,apakah sholat tarawih yg 23/39 bid’ah ?

    Waalaikumussalam.
    Bukan bid’ah, hal itu dibolehkan.

  54. tata said:

    kalau semua yang baru disebut bid’ah bagaimana dengan alQuran yang asalnya tidak di bukukan

    Silakan baca artikel ‘Tidak Ada Bid’ah Hasanah Dalam Islam’

  55. arif said:

    Assalamualaikum. Ustadz mohon artikel/bahasan kupas tuntas tentang sunnah dan bid’ah.(pengertian,apa saja yg termasuk sunnah/bid’ah(contoh2nya khususnya yg di Indonesia))Sebagian org berpendapat kalo pakai gamis/jubah itu berlebihan krn itu adalah adat org arab jd bukan sunnah tp adat, ada jg yg bilang tdk semua sunnah Nabi untuk umatnya seperti Nabi beristri 9 kita umatnya maksimal 4, Nabi puasa wishol kt dilarang…Mohon pencerahannya Ustadz.Jazakallohu khoiron.

    Waalaikumussalam.
    Silakan baca artilkel ‘meluruskan pemahaman tentang bid’ah’ dan ‘tidak ada bid’ah hasanah dalam Islam’ dalam situs ini.

  56. arif said:

    Ma’af Ustadz satu lg pertanyaan keluar dari tema..mumpung ingat krn srg jd ganjalan dihati…Amalan apa saja yg bisa dilakukan org hidup terhdap orang yg sudah meninggal..contoh: Jika kita shodaqoh jariyah atas nama org yg sdh meninggal apakah pahalanya sampai? apakah do’a-do’a untuk si mayit sampai ? Bilamana Haji Badal? Baca’an Al Qur’an (seringnya Alfatihah) akan sampai ke si mayit ? Jazakallohu Khoiron..

    Semua amalan di atas sampai kecuali haji badal dan membaca Al-Qur`an. Insya Allah kami akan membawakan pembahasan khusus tentang ini.

  57. Bilal said:

    Kalau sholat tarowih yg 23/39 bukan bid’ah kenapa rosulullah tdk pernah melakukan yg 23 apalagi yg 39?,tlg standard bid’ahnya yg jelas

    Standar bid’ah itu jelas. Silakan baca penjelasannya dalam artikel ‘meluruskan pemahaman tentang bid’ah’ di situs ini.
    Shalat tarawih 23/29 rakaat memang tidak pernah beliau lakukan tapi beliau membolehkannya.
    Sama seperti membukukan mushaf, shalat tarawih berjamaah 30 sebulan penuh, mengusir non muslim dari jazirah arab, dan selainnya sangat banyak. Semua amalan ini beliau tidak pernah lakukan tapi beliau bolehkan, karenanya semua itu bukan bid’ah.

  58. abi daffa said:

    co dong ingatkan pemerintah.kalau pemerintah yang melarang kan enak. rakyat juga otomatis akan patuh (walaupun tidak semuanya)

  59. Bang Nur said:

    Jika doa-doa bisa sampai kepada orang yg sdh meninggal, kenapa Al-Qur’an yg notabene didalamnya banyak terdapat doa tapi tidak bisa sampai.

    Jika Perayaan Ulang Tahun (Milad) tidak dibenarkan karena mengikuti adat orang Kafir, bagaimana dengan Perayaan Milad Ormas/Partai. Padahal PKS banyak memiliki kader2 yg berfaham SALAFY…??? Dan bagaimana pula hukumnya Perayaan HUT Kemerdekaan RI yg dilaksanakan setiap tahun.

    Kalau sekedar baca ayat yang berupa doa, insya Allah sampai. Tapi isi Al-Qur`an kan bukan hanya doa, ada kisah-kisah, ada hukum-hukum, ada penjelasan aqidah.
    Kayaknya itu bukan salafy deh, soalnya dalam akidah ahlissunnah, mereka meyakini diharamkannya berpecah belah dalam agama dan dunia, dan termasuk bentuk berpecah belah adalah mendirikan partai dan ormas. Jadi siapa yang ikut ke partai/ormas maka kami yakin dia bukan ahlussunnah.

  60. anang dwicahyo said:

    ….maka kami yakin dia bukan ahlussunnah.

    mohon untuk menjaga lesan dari hal-hal yang dapat menjerumuskan kepada kebinasaan.

    Jangan bermudah-mudah menghukumi saudaranya bukan ahlus sunnah dikarenakan salah satu kesalahan yang dilakukannya.

    Mohon maaf kalau tidak berkenan.

    Kami sangat berkenan dengan nasehatnya, dan insya Allah kami tidak akan bergampangan dalam hal ini. Karena kami yakin bahwa ahlussunnah merupakan milik Allah dan Rasul-Nya, sehingga tidak ada seorangpun yang boleh mengeluarkan orang lain dari ahlussunnah kecuali dengan argumen yang jelas dari Allah dan Rasul-Nya.
    Hanya saja, ahlussunnah itu sama seperti Islam. Islam punya aturan yang jelas kapan seseorang keluar darinya, demikian halnya dengan ahlussunnah. Karenanya kapan aturan ini jelas dilanggar maka insya Allah kami tidak ragu untuk memberikan hukum terhadap orangnya, selama hujjah telah ditegakkan.

  61. Abu Dhiya said:

    Assalaamu’alaikum Ustadz,

    Adakah batas kesabaran utk menyampaikan bahwa sebaiknya perayaan2 spt maulid, tahun baru agar tidak dilakukan? Atau sebaiknya dibiarkan saja bagi mereka yg penting kita dan keluarga tidak ikut dan kt berlepas diri krn sdh menyampaikan?

    Bagaimana kalau malah menimbulkan perpecahan?

    Mohon jawabannya.
    Syukron katsiran

    Wassalam,

    Waalaikumussalam.
    Yang jelas orang yang ingin merubah kemungkaran wajib menguasai ilmu tentang apa yang dia ingkari berdasarkan dalil yang benar, bukan sekedar berdasarkan pada ucapan alim ini dan itu. Serta dia wajib mempertimbangkan maslahat dan mafsadat. Jika hal ini tidak terpenuhi pada diri seseorang, maka dia tidak wajib untuk merubah kemungkaran.

  62. dyah said:

    Assalamualaikum ustadz.. Sy mau tanya. Ustadz bilang di tulisan di atas, bhw ibadah yg tdk ada dalilnya adalah bid’ah. Meskipun hanya krn niat baik saja. Jd menurut ustadz niat baik untuk melakukan suatu ibadah tdk cukup bila tdk ada dalilnya. Bagaimana yg dilakukan oleh sahabat Nabi Saw, Bilal yg melakukan shalat dua raka’at setiap habis wudhu..padahal beliau melakukannya tanpa melihat dalil dulu..tp atas dasar kecintaan beliau kpd Allah Swt semata.

    Waalaikumussalam.
    Maaf, darimana anda tahu bahwa Bilal mengerjakannya tanpa melihat dalil. Karena masalah shalat sunnah wudhu ini jelas pensyariatannya dari Nabi shallallahu alaihi wasallam dan kemungkinan besar Bilal telah mengetahuinya, karenanya beliau mengerjakannya.

  63. dyah said:

    Oh ya ustadz, agak melenceng…
    Tp mengapa dzikir berjama’ah dikatakan bid’ah jg?

    Yang dikritisi dari amalan di atas bukanlah dzikirnya, akan tetapi caranya yang dipimpin oleh satu orang lalu diikuti secara bersamaan oleh jamaah. Cara zikir seperti ini tidak pernah dicontohkan oleh Nabi shallallahu alaihi wasallam, bahkan telah diingkari secara langsung oleh sahabat Ibnu Mas’ud radhiallahu ‘anhu.

  64. mulyadi said:

    untuk kota jambi, dimana y saya bisa mendapatkan bukunya..

    Maaf, belum ada yang menjual buku ini di kota Jambi. Jadi sementara harus pesan langsung.

  65. Abu Rayhan said:

    Tadz, ana izin copas, untuk di posting di web ana boleh tidak ???
    Syukron…..

  66. edy said:

    kenapa tanggapan2 saya tidak ditampilkan??

    Soalnya tanggapan dan pertanyaan anda tidak berbobot dan tidak layak ditampilkan.

  67. ummu ibrohim said:

    Assalaamu’alaikum
    Alhamdulillah ,lalu bagaimanakah dengan mengkhususkan hari libur dihari Minggu untuk para santri di Mahad Salafi sebagai pengganti hari Jum’at?hal ini terjadi di tempat ana dan membuat kami resah,apakah ini termasuk tasyabuh bil kuffar atau tidak?karena kaum Nasrani memuliakan hari Minggu?apa nasihat ustadz untuk kami yang hanya wali santri yang awam dan kurang ilmu ini….?atas perhatiaanya jazakumullah khoiron ….

    Waalaikumussalam.
    Saya pikir tidak ada masalah insya Allah, selama itu tidak diniatkan tasyabbuh. Karena libur di hari minggu sekarang bukan lagi menjadi kekhususan kaum nashrani, akan tetapi telah tersebar di seantero dunia dan menjadi kebiasaan mereka, baik muslim maupun kafir. Wallahu a’lam.

  68. anshorussunnah said:

    BISMILLAAH….
    MAJU TERUS WAHAI SAUDARAKU…
    TERUSLAH BERJIHAD DG PENA ILMIYAH DAN HUJJAH YANG TERANG BERDASAR ALQUR’AN WAS SUNNAH DG PEMAHAMN SALAF, KARENA ITULAH TANGGUNG JAWAB KITA…MENERANGKAN KEPADA UMMAT INI MANA YANG HALAL, MANA YANG HAROM, MANA BID’AH DAN MANA SUNNAH..AGAR KECINTAAN KITA BERIBADAH TIDAKLAH SIA-SIA HANYA KARENA AMALAN TSB TIDAK BERDASAR HUJJAH YG QOTH’IE
    SEMOGA ALLOH TABAROKA WA TA’AALA SENANTIASA MENGUATKAN DAN MENJAGA ANTUM SEMUA..WAHAI DU’AAT ILALLOOH
    YAA ALLOH, BERILAH KEKUATAN DIATAS KESABARAN KPD HAMBA-HAMBA MU INI YANG SENANTIASA MENGINGATKAN SAUDARA2NYA DARI TIPUDAYA AHLUL AHWA DAN PARA RUWAYBIDHOH AGAR KELAK DI AKHIRAT NANTI MEREKA DAPAT BERKUMPUL DG HAMBA2 MU DARI KALANGAN PARA NABI DAN ROSUL ‘ALAYHI SHOLATU WASALLAM, PARA SHIDDIQQIEN, PARA SYUHADAA DAN ORANG2 YANG BERIMAN DG BENAR
    AAMIENN
    ALLOOHUMMAA AAMIEN
    JAZAKALLOHUKHOIRON WABAROKALLOHUFIEKUM

    akhuukumfilaah

    anshorussunnah

  69. dymas said:

    Assalamualaikum, ustadz…
    Mo nnya, maaf klw agak mnyimpang^^
    Apa pndapat ustadz soal sholawat nariyyah…sya dl sring mngamlkanny, tp ad yg bilang klw itu bi’ah ustadz…mohon pnjlasannya^^
    Trima ksih, asslamualaikum

    Waalaikumussalam.
    Shalawat nariyah bukan hanya bid’ah, tapi mengandung kesyirikan di dalamnya. Di antaranya: Meyakini bahwa Nabi Muhammad dhallallahu alaihi wasallam juga bisa menghilangkan kesulitan.

  70. sulaeman said:

    apakah imam syafii bersalah karna nembagi bidah
    jai hasanah dan sayiah

    Tidak salah, karena yang beliau bagi seperti itu adalah bid’ah secara bahasa, bukan bid’ah secara istilah.