Solusi Menghadapi Terorisme (Solusi 11-18)

April 11th 2011 by Abu Muawiah |

Solusi Menghadapi Terorisme (Solusi 11-18)

Sebelas : Meluruskan istilah-istilah syari’at yang kerap disalahpahami, seperti pengertian Imamah, ‘Imarah, Bai’at, negeri Islam, negeri kafir, ‘Uhud (perjanjian) dan yang semisalnya.

Istilah-istilah di atas termasuk istilah yang banyak digunakan oleh orang-orang yang terjerumus dalam garis ekstrim. Dan tidak diragukan bahwa menyelewengkan istilah-istilah tersebut dari hakikatnya akan melahirkan berbagai macam kerusakan dan kehancuran bagi umat.

Perhatikan kalimat “Imamah” yang bermakna kepemimpinan. Adalah suatu hal yang sangat penting untuk mengetahui siapa yang dikatakan sebagai Imam (Pemimpin/penguasa) dalam suatu negara, bagaimana ketentuan syahnya sebagai penguasa, konsekwensi yang harus dijalankan oleh rakyat di belakang hal tersebut, dan lain-lainnya. Karena itu wajarlah bila kita menyaksikan sekelompok orang yang tidak mengakui keberadaan penguasa di negaranya, atau mengangkat pimpinan tersendiri dalam kelompok atau jama’ahnya dengan berbagai konsekwensi yang hanya dimiliki oleh seorang pemimpin yang syar’iy menurut timbangan Islam. Kesalahan-kesalahan tersebut muncul karena kurang atau tidak memahami prinsip-prinsip Islam dalam masalah ini.

Dan perhatikan kalimat “Bai’at” yang bermakna sumpah setia atau janji. Bai’at adalah suatu hal yang hanya diperuntukkan terhadap seorang penguasa yang syah dan dibangun dibelakang bai’at itu berbagai hukum. Termasuk kesalahan yang banyak terjadi pada kelompok-kelompok yang menganggap dirinya memperjuangkan Islam adanya bai’at-bai’at kepada para pemimpin mereka, di mana hal tersebut tergolong membentuk jama’ah dalam tubuh Jama’ah kaum muslimin dan hal tersebut terhitung memecah belah Jama’ah kaum muslimin dan siapa yang meninggal di atas hal tersebut maka ia dianggap mati jahiliyah.

Demikian pula menjatuhkan hukum kepada suatu negeri, bahwa ia adalah negeri Islam atau negeri Kafir, dibelakang hukum tersebut ada sejumlah masalah yang hanya diketahui kedetailannya oleh para ulama.

Demikian pula sejumlah istilah syar’iy lainnya.

Maka meluruskan istilah-istilah ini termasuk titik-titik penting dalam menyelesaikan sikap ekstrim atau terorisme. Wallahu A’lam.

Dua Belas : Mendukung kegiatan-kegiatan dakwah yang haq dalam mendekatkan agama yang benar kepada manusia.

Tidak diragukan bahwa menyeru manusia ke jalan Allah termasuk solusi yang sangat bermanfaat dalam menanggulangi segala problematika yang dihadapi oleh manusia dan menciptakan kebaikan untuk mereka dibelakang hal tersebut.

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,

“Siapakah yang lebih baik perkataannya daripada orang yang menyeru kepada Allah, mengerjakan amal yang saleh dan berkata, “Sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang berserah diri?”.” (QS. Fushshilat : 33)

Dan dakwah di jalan Allah adalah lambang keberuntungan untuk manusia,

“Dan hendaklah ada di antara kalian segolongan umat yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh kepada yang ma`ruf dan mencegah dari yang munkar; merekalah orang-orang yang beruntung.” (QS. ali-‘Imran : 104)

Maka sangatlah dibutuhkan upaya-upaya untuk menegakkan dakwah yang hak di tengah manusia sesuai dengan tuntunan Al-Qur`an dan As-Sunnah sebagaimana yang dipahami dan diamalkan oleh para ulama salaf dari kalangan shahabat, tabi’in dan tabi’ut tabi’in dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik.

Seluruh pihak hendaknya punya andil dalam menyebarkan dakwah tersebut, setiap orang sesuai dengan kemampuannya dalam segala bentuk dukungan yang dibutuhkan dalam penyebaran dakwah. Wallahul Muwaffiq.

Tiga Belas : Memberikan peluang dan kedudukan kepada orang-orang yang berilmu dalam mengadakan upaya-upaya perbaikan di tengah umat.

Rasulullah shollallahu ‘alaihi wa ‘ala alihi wa sallam pernah bersabda,

سَيَأْتِيْ عَلَى النَّاسِ سَنَوَاتٌ خَدَّاعَاتٌ يُصَدَّقُ فِيْهَا الْكَاذِبُ وَيُكَذَّبُ فِيْهَا الصَّادِقُ وَيُؤْتَمَنُ فِيْهَا الْخَائِنُ وَيُخَوَّنُ فِيْهَا الْأَمِيْنُ وَيَنْطِقُ فِيْهَا الرُّوَيْبِضَةُ قِيْلَ وَمَا الرُّوَيْبِضَةُ قَالَ الرَّجُلُ التَّافِهُ يَتَكَلَّمُ فِيْ أَمْرِ الْعَامَّةِ

“Akan datang kepada manusia tahun-tahun yang menipu, (dimana) akan dibenarkan padanya orang yang berdusta dan dianggap dusta orang yang jujur, orang yang berkhianat dianggap amanah dan orang yang amanah dianggap berkhianat dan akan berbicara Ar-Ruwaibidhoh. Ditanyakan : “Siapakah Ar-Ruwaibidhoh itu?” Beliau berkata : “Orang dungu yang berbicara tentang perkara umum.[1]

Dan Rasulullah shollallahu ‘alaihi wa ‘ala alihi wa sallam juga mengingatkan,

إِنَّ اللهَ لاَ يَقْبِضُ الْعِلْمَ اِنْتِزَاعًا يَنْتَزِعُهُ مِنَ الْعِبَادِ وَلَكِنْ يَقْبِضُ الْعِلْمَ بِقَبْضِ الْعُلَمَاءِ حَتَّى إِذَا لَمْ يُبْقَ عَالِمًا اتَّخَذَ النَّاسُ رُؤُوْسًا جُهَّالاً فَسُئِلُوْا فَأَفْتَوْا بِغَيْرِ عِلْمٍ فَضَلُّوْا وَأَضَلُّوْا

“Sesungguhnya Allah tidak mencabut ilmu dengan mencabutnya dari para hamba akan tetapi Allah mencabutnya dengan mencabut (mewafatkan) para ulama sampai bila tidak tersisa lagi seorang alim maka manusiapun mengambil para pemimpin yang bodoh maka merekapun ditanya lalu mereka memberi fatwa tanpa ilmu maka sesatlah mereka lagi menyesatkan.[2]

Dua nash hadits di atas sangatlah jelas menunjukkan pentingnya keberadaan para ulama di tengah umat dan hal tersebut merupakan keselamatan dan kesejahteraan mereka, sekaligus menunjukkan bahaya akan menimpa umat ini bila mereka menjadikan orang-orang yang jahil terhadap urusan agama sebagai rujukan.

Empat Belas : Tidak mencampuradukkan antara masalah yang mempunyai dasar-dasar syar’iy seperti Jihad, Amar Ma’ruf Nahi Mungkar, Al-Wala` wal Barô`, dan lain-lainnya dengan masalah yang merupakan pelanggaran dalam syari’at, seperti pengkafiran tanpa dalil jelas, ekstrim, terorisme dan lain-lainnya.

Sejumlah permasalahan yang banyak dibicarakan pada hari-hari ini adalah tergolong masalah yang mempunyai dasar syar’iy dalam tuntunan agama kita seperti Jihad, Amar Ma’ruf Nahi Mungkar, Al-Wala` wal Barô` dan lain-lainnya.

Dan ada sejumlah masalah yang sama sekali tidak mempunyai dasar dalam syari’at kita, bahkan tergolong suatu hal yang diharamkan dan amat tercela dalam timbangan agama seperti sikap ekstrim, terorisme, pengkafiran tanpa dalil dan sebagainya.

Maka termasuk kesalahan di kalangan sebagian kaum muslimin yang mencampur adukkan antara dua kutub permasalahan tersebut sehingga kita melihat sebagian dari kaum muslimin menjelekkan sebagian tuntunan agama mereka lantara hal ini.

Jadi membedakan dan mendudukkan antara masalah yang mempunyai dasar syar’iy dengan masalah yang tidak mempunyai dasar syar’iy termasuk hal yang sangat penting dalam menyelesaikan sejumlah problematika yang tengah kita hadapi saat ini.

Lima Belas : Mengadakan pelatihan khusus, seminar, pelajaran terprogram, pesantren kilat dan lain-lainnya, kepada seluruh lapisan masyarakat dari kalangan pemerintah, militer, dan rakyat umum untuk mendalami atau mempertajam prinsip-prinsip agama dan kaidah-kaidahnya atau sejumlah pembahasan penting berkaitan dengan sebab-sebab terciptanya keamanan, kemulian dan kejayaan umat dalam pandangan syari’at, ketaatan kepada para penguasa, hukum-hukum penting dalam agama, bentuk-bentuk ekstrim dan dasar-dasar pemikirannya dan masalah-masalah lainnya yang merupakan tonggak tegaknya suatu negara dan masyarakat.

Enam Belas : Mengadakan upaya maksimal dalam memperbaiki keadaan kehidupan masyarakat dan memenuhi kebutuhan darurat mereka serta menyelesaikan masalah-masalah mereka agar hubungan antara rakyat dan pemerintah semakin erat dan terjalin kepercayaan yang sangat besar antara keduanya.

Tujuh Belas : Melarang tersebarnya buku-buku yang memuat pemikiran menyimpang dan mengawasi ruang lingkup para penganut pemikiran tersebut.

Delapan Belas : Mengarahkan media massa kepada hal yang terbaik dalam pemberitaan.

Termasuk hak dan kewajiban pemerintah untuk mengawasi bidang pemberitaan, karena pemberitaan bukanlah urusan setiap orang, bahkan ia adalah urusan pihak-pihak tertentu yang telah diatur oleh penguasa dan orang-orang yang berilmu di antara mereka.

Maka harus ada langkah yang baik dalam memperbaiki kerusakan pemberitaan dan mengarahkannya kepada hal yang terbaik sehingga tidak menjadi penyebab terjadinya berbagai macam kerusakan dan bahaya yang telah diterangkan. Wallahu Musta’an.


[1] Telah berlalu takhrijnya.

[2] Telah berlalu takhrijnya.

[sumber: http://jihadbukankenistaan.com/terorisme/solusi-menghadapi-terorisme-solusi-11-18.html]

Share and Enjoy:
  • Print
  • Digg
  • StumbleUpon
  • del.icio.us
  • Facebook
  • Yahoo! Buzz
  • Twitter
  • Google Bookmarks

This entry was posted on Monday, April 11th, 2011 at 11:36 am and is filed under Jihad dan Terorisme. You can follow any responses to this entry through the RSS 2.0 feed. Both comments and pings are currently closed.

7 responses about “Solusi Menghadapi Terorisme (Solusi 11-18)”

  1. Randy said:

    Assalamu ‘Alaykum,

    Penjelasan diatas cukup menarik dan cukup berhati-hati.
    Terus terang saya juga belum banyak mengerti dan saya butuh menggali lebih dalam.

    Namun saya juga melihat, bagaimana negeri ini dengan kondisinya yang sangat memprihatinkan, terlebih dengan tidak digunakannya Al-Qur’an dan Sunnah sebagai dasar aturan maka dari itulah kita semua menyaksikan banyak keburukan dan kecurangan yang terjadi.
    Banyak orang menyatakan bahwa kita tetap berpedoman kepada Al-Qur’an dan Sunnah, tapi saya mendapatkan banyak kenyataan dan saya juga menemukan sendiri betapa banyaknya kejahilan yang saya temukan.
    semoga ini menjadi forum untuk menuju kepada yang Haq.
    Jazakallahu Khairan Katsir.

    Wassalamu ‘Alaykum.

  2. alfaqir.abdullah said:

    Berikut ini adalah kumpulan fatwa yang kami nukil dari para masyayikh yang sangat dihormati dan dijadikan rujukan oleh kaum muslimin yang bermanhaj Salaf, lebih-lebih mereka yang mengaku sebagai SALAFY.

    1. SYAIKHUL ISLAM MUHAMMAD BIN ABDUL WAHHAB

    2. Makna Thoghut menurut Syaikhul Islam Muhammad Bin Abdul Wahhab adalah :

    “Segala sesuatu yang diibadahi selain Allah, diikuti dan ditaati dalam perkara-perkara yang bukan ketaatan kepada Allah dan Rasul-Nya , sedang ia ridha dengan peribadatan tersebut”.

    Syaikh Muhammad Bin Abdul Wahhab menjelaskan: “Thaghut itu sangat banyak, akan tetapi para pembesarnya ada lima, yaitu :

    · Setan yang mengajak untuk beribadah kepada selain Allah.

    · Penguasa dzalim yang merubah hukum-hukum Allah.

    · Orang-orang yang berhukum dengan selain hukum yang diturunkan Allah.

    · Sesuatu selain Allah yang mengaku mengetahui ilmu ghaib.

    · Sesuatu selain Allah yang diibadahi dan dia ridha dengan peribadatan tersebut.

    3. FATWA SYAIKH AL ALLAMAH IMAM MUHAMMAD AL AMIN ASY SYANQITI –RAHIMAHULLAH- , SYAIKH NYA PARA MASYAYIKH DAN MUFTI KERAJAAN SAUDI :

    وبهذه النصوص السماوية التي ذكرنا يظهر غاية الظهور أن الذين يتّبعون القوانين الوضعية التي شرعها الشيطان على لسان أوليائه مخالفة لما شرعه الله جل وعلا على ألسنة رسله [عليهم الصلاة والسلام] أنه لا يشك في كفرهم وشركهم إلاّ من طمس الله بصيرته وأعماه عن نور الوحي… فتحكيم هذا النظام في أنفس المجتمع وأموالهم وأعراضهم وأنسابهم وعقولهم وأديانهم، كفر بخالق السموات والأرض وتمرّد على نظام السماء الذي وضعه من خلق الخلائق كلها وهو أعلم بمصالحها سبحانه وتعالى (أضواء البيان جـ4 صـ 83- 84)

    “Berdasar nash-nash yang diwahyukan Allah dari langit yg telah kami sebutkan di atas, telah nyata senyata-nyatanya bahwasanya orang-orang yang mengikuti undang-undang buatan manusiayang disyari’atkan oleh setan melalui mulut para pengikutnya yang bertentangan dengan syari’ah Allah Azza Wa Jalla yang diturunkan melalui lisan para Rasul-Nya –alaihimus sholaatu wat tasliem- BAHWA SESUNGGUHNYA TIDAK DIRAGUKAN LAGI TENTANG TELAH KAFIR DAN SYIRIK NYA ORANG-ORANG ITU, kecuali bagi orang yang mata hatinya telah tertutup dan buta dari cahaya wahyu Allah.

    MAKA PENERAPAN UNDANG-UNDANG INI DALAM MENGATUR URUSAN JIWA, HARTA, KEHORMATAN KETURUNAN (NASAB), AKAL DAN AGAMA SUATU MASYARAKAT ADALAH KEKUFURAN TERHADAP SANG PENCIPTA LANGIT DAN BUMI dan pengkhianatan terhadap nizham (undang-undang/syari’ah) dari langit yang berasal dari Pencipta seluruh makhluk, dan Dia lah Yang Maha Mengetahui mashlahah bagi seluruh makhluk-Nya”. (Tafsir Adhwa’ul Bayan juz 4 hal 83 – 84)

    4. FATWA SYAIKH MUHAMMAD SHALIH IBN UTSAIMIN (KIBAR ULAMA SAUDI) TENTANG PENGUASA NEGARA-NEGARA DI DUNIA YANG TIDAK MENERAPKAN SYARI’AH ISLAM

    من لم يحكم بما أنزل الله استخفافاً به أو احتقاراً له أو اعتقاداً أن غيره أصلح منه وأنفع للخلق فهو كافرٌ كفراً مخرجاً من الملة، ومن هؤلاء من يصنعون للناس تشريعات تخالف التشريعات الإسلامية، لتكون منهاجاً يسير عليه الناس، فإنهم لم يصنعوا تلك التشريعات المخالفة للشريعة إلاّ وهم يعتقدون أنها أصلح وأنفع للخلق، إذ من المعلوم بالضرورة العقلية والجبلة الفطرية أن الإنسان لا يعدل عن منهاج إلى منهاج يخالفه إلاّ وهو يعتقد فضل ما عدل إليه ونقص ما عدل عنه

    “Barangsiapa yang tidak menetapkan hukum dengan syari’ah Allah, disebabkan meremehkan, menganggap enteng, atau berkeyakinan bahwa undang-undang lain lebih baik dibanding syari’at Islam maka orang itu TELAH KAFIR KELUAR DARI ISLAM. Dan di antara mereka itu adalah orang-orang yang menyusun dan membuat undang-undang yang bertentangan dengan syari’at Islam, undang-undangitu mereka buat agar menjadi aturan dan tata nilai dalam kehidupan manusia. Mereka itu tidak membuat menyusun undang-undang dan aturan hukum yang adalah mereka yang menyusun dan membuat undang-undang yang bertentangan dengan syari’at Islam kecuali karena mereka berkeyakinan bahwa undang-undang itu lebih baik dan lebih bermanfaat bagi manusia. Dengan demikian sudah menjadi sesuatu yang diketahui secara pasti baik oleh logika maupun naluri akal manusia bahwa manakala seseorang berpaling dari sebuah manhaj lalu pindah ke manhaj yang lain kecuali karena dia meyakini bahwa manhaj barunya itu lebih baik dibanding manhaj yang lama” (Majmu’atul Fatwa wa Rosail Syaikh Utsaimin juz 2 hal 143)

    5. FATWA SYAIKH ABDUL AZIZ BIN BAZ

    ولا إيمان لمن اعتقد أن أحكام الناس وآراءهم خير من حكم الله تعالى ورسوله أو تماثلها وتشابهها أو تَرَكَهَا وأحلّ محلّها الأحكام الوضعية والأنظمة البشرية وإن كان معتقداً أن أحكام الله خيرٌ وأكمل وأعدل

    “Dan tidak ada lagi iman bagi orang yang berkeyakinan bahwa hukum-hukum buatan manusia dan pendapat mereka lebih baik dibanding hukum allah, atau menganggap sama, atau menyerupainya, atau meninggalkan hukum Allah dan Rasul-Nya tu kemudian menggantinya dengan undang-undang buatan manusia walaupun ia meyakini bahwa hukum allah lebih baik dan lebih adil” (Risalah Ibn Baz “Wujub Tahkim Syari’a Allah wa nabdzi ma khaalafahu, Syaikh Bin Baz)

    6. FATWA SYAIKH ABU BAKAR JABIR AL JAZAIRY (PENULIS KITAB MINHAJUL MUSLIM)

    من مظاهر الشرك في الربوبيّة : الخنوع للحكّام غير المسلمين، والخضوع التامّ لهم، وطاعتهم بدون إكراه منهم لهم، حيث حكموهم بالباطل، وساسوهم بقانون الكفر والكافرين فأحلّوا لهم الحرام وحرّموا عليهم الحلال.

    “Di antara tanda-tanda kemusyrikan yang nampak jelas adalah ketundukan kepada para pemimpin yang bukan dari golongan kaum muslimin serta kepatuhan yg mutlak kepada mereka dan ketaatan sepenuhnya kepada mereka tanpa adanya unsur paksaan di saat mana mereka menerapkan hukum yang bathil serta mengatur negara mereka dengan undang-undang kufur, mereka menghalalkan bagi rakyat mereka apa-apa yg diharamkan Allah dan mengharamkan yg dihalalkan Allah” (Minhajul Muslim)

    7. FATWA SYAIKH SHALIH FAUZAN AL FAUZAN :

    فمن احتكم إلى غير شرع الله من سائر الأنظمة والقوانين البشرية فقد اتخذ واضعي تلك القوانين والحاكمين بها شركاء لله في تشريعه قال تعالى

    “Barangsiapa yang menetapkan hukum dengan selain syari’at Allah, yaitu dengan Undang-undang dan aturan manusia maka mereka telah menjadikan para pembuat hukum itu sebagai Ilah tandingan selain allah dalam tasyri’ (Wafaqat ma’a Asy Syaikh Al Albany 46)

    8. FATWA SYAIKH AL ALLAMAH ABDULLAH AL JIBRIN :

    وقال تعالى {ما فرّطنا في الكتاب من شيء}… فنقول: معلومٌ أن القوانين الوضعية التي فيها مخالفةٌ للشريعة أن اعتقادها والديانة بها خروجٌ عن الملة ونبذٌ للشريعة وحكمٌ بحكم الجاهلية، وقد قال الله تعالى {أَفَحُكْمَ الجاهليّةِ يبغون ومن أحسنُ من الله حُكماً لقومٍ يُوقنونَ} فحكم الله أحسنُ الأحكام وأولاها، وليس لأحدٍ تغييره وتبديله، فإذا جاء الإسلام بإيجاب عبادةٍ من العبادات فليس لأحدٍ أن يغيرها كائناً من كان، أميراً أو وزيراً أو ملكاً أو قائداً… فإذا حَكَمَ الله في أمرٍ من الأمور فليس لأحدٍ أن يتعدى حكم الله تعالى{ومن لم يحكم بما أنزل الله فأولئك هم الكافرون} كما أخبر بذلك

    Allah Ta’ala Berfirman : “Tiadalah Kami alpakan sesuatupun dalam Al-Kitab” (QS Al An’am 38)

    (Beliau menjelaskan ayat ini ) : “Maka kami katakan : “Sudah diketahui secara pasti bahwasanya undang-undang buatan manusia yang di dalamnya terdapat (aturan-aturan hukum) yang bertentangan dengan Syari’ah Allah, BAHWASANYA MEYAKININYA DAN MENJADIKANNYA ATURAN HIDUP ADALAH PERBUATAN YG MENGELUARKAN PELAKUNYA DARI ISLAM, SERTA MENGHANCURKAN SYARI’AH ALLAH SERTA BERHUKUM DENGAN HUKUM JAHILIYYAH”.

    “Allah Ta’ala Berfirman :

    Apakah hukum Jahiliyah yang mereka kehendaki, dan (hukum) siapakah yang lebih baik daripada (hukum) Allah bagi orang-orang yang yakin ?” (QS Al Maidah 50)

    Hukum Allah adalah sebaik-baik hukum serta yang paling utama dan tidak ada seorang pun yang diperbolehkan untuk merubah atau menggantinya. Maka tatkala Islam datang dengan mewajibkan suatu ibadah, tidak ada seorang pun yang merubahnya, siapa pun dia. Baik dia seorang Amir (pemimpin), menteri, raja atau panglima. Manakla Allah telah menetapkan sebuah aturan hukum dalam suatu masalah di antara masalah-masalah kehidupan manusia, maka tidak ada satu pun yang boleh menentang aturan Allah itu : “Barangsiapa yang tidak memutuskan menurut apa yang diturunkan Allah, maka mereka itu adalah orang-orang yang kafir[1].” (Ceramah Syaikh Jibrin tentang Hukum masuk dalam Parlemen side B)

    9. FATWA SYAIKH ABDURRAHMAN AS SA’DY

    قال في تفسير قوله تعالى {ألم تر إلى الذين يزعمون أنهم آمنوا بما أنزل إليك} أن: (الرد إلى الكتاب والسنة شرط في الإيمان، فدل ذلك على أن من لم يرد إليهما مسائلَ النزاع فليس بمؤمن حقيقة، بل مؤمن بالطاغوت … فإن الإيمان يقتضي الإنقياد لشرع الله وتحكيمه، في كل أمر من الأمور، فمن زعم أنه مؤمن، واختار حكم الطاغوت على حكم الله فهو كاذب في ذلك

    Beliau menafsirkan ayat :

    “Apakah kamu tidak memperhatikan orang-orang yang mengaku dirinya telah beriman kepada apa yang diturunkan kepadamu dan kepada apa yang diturunkan sebelum kamu ? Mereka hendak berhakim kepada thaghut, padahal mereka telah diperintah mengingkari thaghut itu. Dan syaitan bermaksud menyesatkan mereka (dengan) penyesatan yang sejauh-jauhnya”. (QS An Nisa’ 60)

    “Bahwasanya mengembalikan semua urusan kepada Al Qur’an dan Sunnah adalah syarat keimanan. Ini menunujukkan bahwa barangsiapa yg menolak untuk mengembalikan urusan yang dipertentangkan kepada Al Qur’an dan Sunnah ia tidak beriman secara sungguh-sungguh, BAHKAN IA TELAH BERIMAN KEPADA THOGHUT. Karena sesungguhnya iman menuntut adanya ketundukan kepada Syari’ah Allahdan bertahkim kepadanya dalam setiap urusan MAKA BARANGSIAPA YG MENGAKU MUKMIN, TETAPI IA MEMILIH HUKUM THOGHUT DIBANDING HUKUM ALLAH SUNGGUH IA TELAH DUSTA DALAM IMANNYA” (Tafsir As Sa’dy hal 148)

    10. FATWA SYAIKH HAMUD AT TUWAIJRY

    قال: «من أعظمها شراً [أي من أعظم المكفرات شراً] وأسوأها عاقبة ما ابتلي به كثيرون من اطراح الأحكام الشرعية والاعتياض عنها بحكم الطاغوت من القوانين والنظامات الإفرنجية أو الشبيهة بالإفرنجية المخالف كلٌ منها للشريعة المحمدية» ثمّ أورد بعض الآيات القرآنيّة وتابع: «وقد انحرف عن الدين بسبب هذه المشابهة فئاتٌ من الناس، فمستقل من الانحراف ومستكثر، وآل الأمر بكثير منهم إلى الردة والخروج من دين الإسلام بالكلية ولا حول ولا قوة إلاّ بالله العلي العظيم. والتحاكم إلى غير الشريعة المحمدية من الضلال البعيد والنفاق الأكبر… وما أكثرُ المعرضين عن أحكام الشريعة المحمدية من أهل زماننا… من الطواغيت الذين ينتسبون إلى الإسلام وهم عنه بمعزل

    “Di antara yang paling besar kekufurannya, yang paling buruk azab yang akan diterima oleh banyak orang di akhirat kelak adalah menentang hukum-hukum Syari’ah Allah serta menggantinya dengan undang-undang Thaghut berupa undang-undang yang mereka adopsi dari Barat atau yang mirip dengannya yang bertentangan dengan syari’ah yang dibawa oleh Rasulullah Muhhamad Shollallohu ‘alaihi wasallam.

    Kemudian beliau mengutip beberapa ayat Al Qur’an lalu melanjutkan :

    Disebabkan tindakan mengadopsi dan meniru undang-undang seperti inilah, banyak sekali kalangan umat Islam yang tersesat dari Dienullah, ada yang kesesatannya hanya sedikit namun ada pula yang banyak. Dan puncak dari kesesatan yang terjadi pada sebagian besar dari mereka adalah MURTAD dan keluar dari Islam secara keseluruhan, walaa hawla walaa quwwata illa billahil ‘aliyyil azhim.

    “Menetapkan hukum dengan aturan yang bukan Syari’ah Muhammad Shollallohu ‘alaihi wasallam adalah salah satu di antara kesesatan yang amat jauh, dan nifaq Akbar (Murtad keluar dari Islam). Dan mayoritas dari mereka yang menentang Syari’ah Muhammad Shollallohu ‘alaihi wasallam di zaman ini adalah para penguasa Thaghut yang mengaku dirinya muslim serta mengatasnamakan tindakan mereka dengan Islam padahal sesungguhnya mereka telah membuang jauh-jauh Islam dari diri mereka”.

    (Al Idhah wat Tabyiin Limaa Waqo’a Fiehi Al Aktsaruun Min Musyabahat Al Musyrikin Hal 28 – 29 : Syaikh Hamud At Tuwaijry)

    11. FATWA AL ALLAMAH SYAIKH MUHAMMAD BIN IBRAHIM ALU SYAIKH (MUFTI KERAJAAN SAUDI SEBELUM SYAIKH BIN BAZ)

    Berikut adalah Fatwa Al Allamah Muhammad Bin Ibrahim Alu Syaikh (Mufti Saudi sebelum Syaikh Bin Baz). Beliau membagi beberapa kelompok orang-orang yang berhukum dengan hukum selain syari’ah Allah,SEMUANYA KAFIR MURTAD

    أن يجحد الحاكمُ بغير ما أنزل الله تعالى أحقيَّةَ حُكمِ الله تعالى وحكم رسوله

    Barangsiapa yang berhukum dengan hukum selain syari’ah Allah dan ia juhud (menentang) akan kewajiban menerapkan syari’ah itu maka ia telah KAFIR MURTAD.

    أن لا يجحد الحاكم بغير ما أنزل الله تعالى كونَ حكم الله ورسوله حقاً، لكن اعتقد أن حكمَ غير الرسول أحسنُ من حكمه وأتم وأشمل

    Barangsiapa yang berhukum dengan hukum selain syari’ah Allah dan ia tidak juhud (tidak menentang) akan kewajiban menerapkan syari’ah itu, TETAPI IA BERKEYAKINAN BAHWA HUKUM BUATAN MANUSIA LEBIH BAIK, LEBIH TEPAT, RELEVAN DAN LEBIH SEMPURNA DIBANDING SYARI’AH ALLAH, MAKA IA KAFIR MURTAD.

    أن لا يعتقد كونَه أحسنَ من حكم الله تعالى ورسوله لكن اعتقد أنه مثله

    Jika ia tidak berkeyakinan bahwa hukum selain Syari’ah Allah lebih baik TETAPI MENYATAKAN BAHWA HUKUM BUATAN MANUSIA SAMA BAIKNYA DENGAN SYARI’AH ALLAH, MAKA IA KAFIR MURTAD.

    أن لا يعتقد كونَ حُكمِ الحاكم بغير ما أنزل الله تعالى مماثلاً لحكم الله تعالى ورسوله لكن اعتقد جواز الحُكم بما يُخالف حُكمَ الله تعالى ورسوله

    Ia tidak berkeyakinan bahwa hukum selain Syari’ah Allah sama atau lebih baik dibanding hukum buatan manusia, TETAPI IA BERKEYAKINAN BAHWA DIBOLEHKAN MENERAPKAN UNDANG-UNDANG SELAIN SYARI’AH ALLAH, MAKA IA KAFIR MURTAD.

    وهو أعظمها وأشملها وأظهرها معاندة للشرع، ومكابرة لأحكامه، ومشاقة لله تعالى ولرسوله ومضاهاة بالمحاكم الشرعية، إعداداً وإمداداً وإرصاداً وتأصيلاً وتفريعاً وتشكيلاً وتنويعاً وحكماً وإلزاماً… فهذه المحاكم في كثير من أمصار الإسلام مهيّأة مكملة، مفتوحةُ الأبواب، والناسُ إليها أسرابٌ إثر أسراب، يحكم حكّامها بينهم بما يخالف حُكم السنة والكتاب، من أحكام ذلك القانون، وتلزمهم به وتقرّهم عليه، وتُحتِّمُهُ عليهم، فأيُّ كُفرٍ فوق هذا الكفر، وأي مناقضة للشهادة بأن محمداً رسولُ الله بعد هذه المناقضة…. فيجب على العقلاء أن يربأوا بنفوسهم عنه لما فيه من الاستعباد لهم، والتحكم فيهم بالأهواء والأغراض، والأغلاط، والأخطاء، فضلاً عن كونه كفراً بنص قوله تعالى: {ومن لم يحكم بما أنزل الله فأولئك هم الكافرون}.

    Ini adalah yang paling jelas-jelas kekafirannya, paling nyata penentangannya terhadap Syari’ah Allah, paling besar kesombongannya terhadap hukum Allah dan paling keras penentangan dan penolakannya terhadap lembaga-lembaga (mahkamah) hukum Syari’ah.

    Semua itu dilakukan dengan terecana, sistematis didukung dana yang besar, diterapkan dengan pengawasan penuh, dengan penanaman dan indoktrinasi kepada rakyatnya, yang pada akhirnya akan membuat umat Islam terpecah belah dan terkotak-kotak, lalu menanamkan keragu-raguan dalam diri terhadap Syari’ah Allah dan mereka juga mewajibkan umat Islam untuk mematuhi hukum buatan mereka itu serta menerapkan sanksi hukum bagi yang melanggarnya.

    Berbagai bentuk lembaga hukum dan perundang-undangan ini dalam kurun waktu yang amat panjang telah dipersiapkan melalui perencanaan yang matang dan dengan pintu terbuka siap menangani berbagai masalah hukum umat Islam. Umat Islam pun berbondong-bondong mendatangi lembaga-lembaga ini, sedangkan para penegak hukumnya menetapkan hukum terhadap permasalahan mereka itu dengan keputusan-keputusan yang bertentangan dengan Al Qur’an dan Sunnah Rasul Shollallohu ‘alaihi wasallam dengan merujuk kepada hukum-hukum yang berasal dari aturan dan undang-undang yang mereka buat itu seraya mewajibkan rakyatnya untuk melaksanakan hukum-hukum itu, mematuhi keputusan mereka itu dan tidak memberi celah sedikit pun untuk memilih hukum selain undang-undang mereka itu.

    KEKAFIRAN MANALAGI YANG LEBIH BESAR DIBANDINGKAN KEKUFURAN INI, PENENTANGAN TERHADAP PERSAKSIAN “WA ASYHADU ANNA MUHAMMADAN RASUULULLAH” MANALAGI YANG LEBIH BESAR YANG DIBANDINGKAN PENENTANGAN INI ?

    Sehingga bagi mereka yang menggunakan akalnya semestinya mereka menolak aturan hukum itu dengan penuh kesadaran dan ketundukan hati mengingat di dalam Undang-undang itu terdapat penghambaan kepada para penguasa pembuat undang-undang itu, serta hanya memperturutkan hawa nafsu, kepentingan duniawi dan kerancuan-kerancuan berpikir dan bertindak. Penolakan ini harus mereka lakukan atau mereka jatuh pada kekufuran sebagaimana disebutkan dalam firman Allah (artinya) :

    “Barangsiapa yang tidak menetapkan hukum menurut apa yang diturunkan Allah, maka mereka itu adalah orang-orang yang kafir”. (QS Al Maidah 44)

    ما يحكم به كثيرٌ من رؤساء العشائر والقبائل من البوادي ونحوهم، من حكايات آبائهم وأجدادهم وعاداتهم التي يسمونها “سلومهم” يتوارثون ذلك منهم، ويحكمون به ويحضون على التحاكم إليه عند النزاع، بقاءً على أحكام الجاهلية، وإعراضاً ورغبةً عن حكم الله تعالى ورسوله r فلا حول ولا قوة إلاّ بالله تعالى

    Aturan hukum yang biasa diterapkan oleh sebagian besar kepala suku dan kabilah pada masyakat dan suku-suku pedalaman atau yang semisal dengan itu. Yang berupa hukum peninggalan nenek moyang mereka dan adat istiadat yang diterapkan secara turun temurun, yang dalam istilah Arab biasa disebut : “Tanyakan kepada nenek moyang”. Mereka mewariska hukum adat ini kepada anak cucu mereka sekaligus mewajibkan mereka untuk mematuhi hukum adat itu serta menjadikannya sebagai rjukan dan pedoman saat terjadi perselisihan di antara mereka. Ini semua mereka lakukan sebagai upaya melestarikan adat istiadan dan aturan aturan jahiliyyah dengan disertai ketidaksukaan dan keengganan untuk menerima hukum Allah dan Rasul-Nya Shollallohu ‘alaihi wasallam. Maka sungguh tidak ada daya upaya dan kekuatan kecuali hanya dengan bersandar kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala

    (Tahkiem Al Qawaaniin karangan Al Allamah Muhammad Bin Ibrahim Alu Syaikh hal 14 – 20 Terbitan Daar Al Muslim)

    CATATAN

    Semua Syaikh yang kami nukil fatwanya di atas adalah para masyayikh yang sangat dihormati dan dijadikan rujukan oleh kaum muslimin yang bermanhaj Salaf, lebih-lebih mereka yang mengaku sebagai SALAFY.

    Fakta telah kami buka lebar-lebar, yang semuanya kami sertakan sumber nukilan kami, baik kaset, video maupun kitab karangan mereka. Jika anda masih belum yakin, silahkan anda buka kitab mereka.

    Pertanyaannya adalah :

    “Mungkinkah dari sekian banyak fatwa ini, tidak ada satu pun orang yang terkena fatwa dari para ulama ini dengan alasan : “MEREKA MASIH SHOLAT ?”

    Apakah masih kurang jelas fatwa Syaikh Hamud At Tuwaijry berikut ini ?

    “Menetapkan hukum dengan aturan yang bukan Syari’ah Muhammad Shollallohu ‘alaihi wasallam adalah salah satu di antara kesesatan yang amat jauh, Muhammad Shollallohu ‘alaihi wasallam di zaman ini adalah para penguasa Thaghut yang mengaku dirinya muslim serta mengatasnamakan tindakan mereka dengan Islam padahal sesungguhnya mereka telah membuang jauh-jauh Islam dari diri mereka”. ?

    Apalah artinya Sholat bagi mereka yang telah MURTAD sebagaimana fatwa Syaikh Shalih Fauzan ini :

    “Barangsiapa yang menetapkan hukum dengan selain syari’at Allah, yaitu dengan Undang-undang dan aturan buatan manusia maka mereka telah menjadikan para pembuat hukum itu sebagai Ilah tandingan selain Allah dalam tasyri’ (Wafaqat ma’a Asy Syaikh Al Albany 46)

    Atau Fatwa Syaikh Utsaimin ini ;

    “Barangsiapa yang tidak menetapkan hukum dengan syari’ah Allah, disebabkan meremehkan, menganggap enteng, atau berkeyakinan bahwa undang-undang lain lebih baik dibanding syari’at Islam maka orang itu TELAH KAFIR KELUAR DARI ISLAM”.

    Atau masih kah kurang jelas Fatwa Al Allamah Syaikh Muhammad Bin Ibrahim Alu Syaikh di atas yang lebih terang benderang dibanding matahari di siang hari ?

    Wallohu A’lam Bish Showab

    Al Faqir Ilaa Maghfirati Rabbihil Qadir

    Abu Izzuddin Al Hazimi

    [1] Nawaqidhul Iman Al Qauliyyah wal Amaliyyah. Dr Abdul Aziz Al-Abdul Lathif hlm. 52-53.

    [2] Majmu’ Fatawa jil. III hlm. 267.

    Apa maksud anda membawakan semua fatawa di atas? Apa anda bermaksud mengarahkan semua fatawa di atas untuk menyatakan hukum: Bahwa orang yang berhukum dengan selain hukum Allah itu kafir secara mutlak?
    Jika ya, maka anda telah melakukan kesalahan besar dan terjatuh ke dalam fikrah al-khawarij. Sungguh anda hanya menukil dan memahami fatawa para ulama di atas setengah-setengah dan belum mengetahui secara keseluruhan mauqif para ulama di atas dalam masalah ini.
    Jika anda ingin melihat fatawa mereka yang lainnya, maka alhamdulillah kami sudah kumpulkan banyak sekali fatawa dalam hal ini. Dan sebagian dari apa yang kami kumpulkan ini telah kami posting dalam situs ini. Silakan anda baca dengan seksama di sini: http://al-atsariyyah.com/fatawa-seputar-orang-yang-berhukum-dengan-selain-hukum-allah.html

  3. gladis said:

    assalamua’alaikum

    pak ustad saya mau tanya , menurut saya kenapa kebanyakan teroris ini mengatas namakan islam ? dan pada fakta yang kita lihat saat ini kebanyakan dari teroris itu adalah orang2 yang sudah menguasai ilmu agama islam yang lebih tinggi atau fanatik. apakah memang seperti itu pak ustad?

    Waalaikumussalam.
    Karena memang pendahulu para teroris ini memang seperti itu, yakni kaum khawarij. Khawarij ini adalah kaum yang rajin mengerjakan shalat dan puasa. Maka demikian halnya sekarang, teroris jarang kita temukan sebagai penjudi atau peminum khamar, akan tetapi mereka adalah orang-orang yang rajin ke masjid, menghafal Al-Qur`an, dan seterusnya.

  4. gladis said:

    assalamu’alaikum

    kalau penjelasan pak ustad seperti itu, saya ingin bertanya lagi, jadi sebenarnya benar bahwa sosok teroris itu selama ini seperti itu? apa dasar mereka hingga menjadi teroris ? sebenarnya kita tidak boleh su’udzon jika orang2 yang rajin ke masjid , rajin sholat, ikut organisasi islam tapi pada akhirnya memang mereka itu adalah teroris, bagaimana kita menyikapinya pak ustad? sudah lama muncul kecurigaan dibenak saya, jika orang2 yang sudah mendalami islam lebih jauh atau bahkan ulama atau kiayi besar khususnya di indonesia bisa saya pelaku teroris baik di balik layar? apakah benar pendapat saya pak ustad ?

    Waalaikumussalam.
    Kalau masalah pendapat/dugaan maka harus disertakan bukti. Adapun sebab-sebab munculnya pemahaman terorisme, maka bisa dibaca dalam kategori ‘Jihad dan Terorisme’.

  5. Abu Zaid said:

    kpd sdara pemilik website, saya sarankan dlm membawakan penjelasan ttg BAB TEORIS, jgn berangkat dr qoul” ustad jaman sekarang, jd saran saya, bawakan Qoul” Ulama salaf yg jauh lbh mumpuni dan akurat..!!

    kpd sdara gladis> dan sdara penanya/ pendebat, saya salut dgn cara anda mendebat dgn cara itu, tapi sayang, anda hanya membawa satu poin dr qoul” ulama tsb, sdg kan satu point lg tdk antum bawakan,
    perlu diketahui PENTING..!!!!
    saat ini yg terjadi pada sebagian umat islam adalah byk mengikuti dan membaca kitab” dari 3 ulama ahli kalam, mereka adalah:

    Abu hamuud al Uqaala
    Abu muhamad asim al-maqdisi
    Syekh Abdul qodir bin abdul aziz
    Abu sulaiman abdurrahman

    Nah saran saya, tinggalkan kitab” dan pemahaman dari ke 4 ulama ahli kalam tsb, krn saya sdh membaca semua kitab mrk dan merujuk ke kitab” besar yg menjadi sumber dr mereka, ternyata MEREKA TIDAK MEMBAWA QOUL ULAMA SALAF DGN SEPENUHNYA. DAN MRK HANYA MENGAMBIL POTONGAN” QOUL SYAIKUL ISLAM DLL LALU MENAMBAHKAN RINCIAN” YG TELAH DI IJMA’KAN OLEH ULAMA SALAF DLM HAL ” HUKMU ” tsb.

  6. Abu Zaid said:

    adapun saya pribadi dgn mengikuti qoul ulama salaf mengatakan,:
    kafirlah penguasa negri” sekuler saat ini yg berlandaskan hukum thogud dan azaz demokrasi.(presiden).
    kedua) kafirlah anggota dpr dan mpr di negri” sekuler yg berazaz Hukum adalah dari Rakyat..!! ini adalah pemahaman sesat yg mampu mengeluarkan pelakunya dari ad_dienul Islam..!!

    3)kita tdk boleh mengkafirkan rakyat yg hidup di negri sekuler yg berazaz demokrasi, dgn CATATAN:
    1) tabayyun
    2)Iqomatul hujjah
    Nah segala sesuatu di kembalikan kpd Al_qur’an wa sunnah. dan kita bisa memahami Al_qur’an wa sunnah melalui: Ulama” Muta’awwalin wa akhiriin…!! jadi jgn langsung memahami dhohir ayat dan hadits dgn akal kita yg penuh dgn dosa kemaksiatan ini..!
    kpd sdara penanya: HARAP DI PERHATIKAN HAL INI..!! JAZAAKALLAH..

  7. Abu Zaid said:

    BEBERAPA QOUL DAN IJMA’ ULAMA SALAF:

    Al-Imam Ibnu Baththah Al-‘Ukbariy rahimahullah.

    Dalam kitab beliau yang berjudul Al-Ibaanah 2/723 disebutkan { باب ذكر الذنوب التي تصير بصاحبها إلى كفر غير خارج به من الملّة } ”Bab : Sejumlah dosa yang mengantarkan pelakunya kepada kekufuran yang tidak mengeluarkan dari agama”.

    Di antara yang disebutkan dalam bahasan bab ini adalah : { الحكم بغير ما أنزل الله} ”Berhukum dengan selain apa-apa yang diturunkan Allah”. Kemudian beliau menyebutkan atsar-atsar dari para shahabat dan tabi’in[4] bahwa (yang dimaksud kekufuran tersebut adalah) kufur ashghar yang tidak mengeluarkan (pelakunya) dari agama”……

    2). Al-Haafidh Ibnu ‘Abdil-Barr Al-Andalusiy rahimahullah.

    Beliau berkata :

    وأجمع العلماء على أن الجور في الحكم من الكبائر لمن تعمد ذلك عالما به، رويت في ذلك آثار شديدة عن السلف، وقال الله عز وجل: ﴿ وَمَن لَّمْ يَحْكُم بِمَا أَنزَلَ اللّهُ فَأُوْلَـئِكَ هُمُ الْكَافِرُونَ ﴾،﴿ الظَّالِمُونَ ﴾،﴿ الْفَاسِقُونَ ﴾ نزلت في أهل الكتاب، قال حذيفة وابن عباس: وهي عامة فينا؛ قالوا ليس بكفر ينقل عن الملة إذا فعل ذلك رجل من أهل هذه الأمة حتى يكفر بالله وملائكته وكتبه ورسله واليوم الآخر روي هذا المعنى عن جماعة من العلماء بتأويل القرآن منهم ابن عباس وطاووس وعطاء

    ”Para ulama telah bersepakat bahwa kecurangan dalam hukum termasuk dosa besar bagi yang sengaja berbuat demikian dalam keadaan mengetahui akan hal itu. Diriwayatkan atsar-atsar yang banyak dari salaf tentang perkara ini. Allah ta’ala berfirman : (Barangsiapa yang tidak berhukum dengan apa-apa yang diturunkan Allah, maka mereka itu adalah orang-orang yang kafir) , (orang-orang yang dhalim), dan (orang-orang yang fasiq) ; ayat ini turun kepada Ahli Kitab. Hudzaifah dan Ibnu ’Abbas radliyallaahu ’anhum telah berkata : ”Ayat ini juga umum berlaku bagi kita”. Mereka berkata : ”Bukan kekafiran yang mengeluarkan dari agama apabila seseorang dari umat ini (kaum muslimin) melakukan hal tersebut hingga ia kafir kepada Allah, malaikat-malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, Rasul-Rasul-Nya, dan hari akhir. Diriwayatkan makna ini oleh sejumlah ulama ahli tafsir, diantaranya : Ibnu ’Abbas, Thawus, dan ’Atha’” [At-Tamhiid, 5/74].

    وقد ضلت جماعة من أهل البدع من الخوارج والمعتزلة في هذا الباب فاحتجوا بهذه الآثار ومثلها في تكفير المذنبين، واحتجوا من كتاب الله بآيات ليست على ظاهرها مثل قوله عزّ وجل: ﴿ وَمَن لَّمْ يَحْكُم بِمَا أَنزَلَ اللّهُ فَأُوْلَـئِكَ هُمُ الْكَافِرُونَ ﴾

    ”Dan sungguh telah sesat sekelompok ahlul-bida’ dari Khawarij dan Mu’tazillah dalam bab ini. Mereka berhujjah dengan atsar-atsar ini dan yang semisal dengannya untuk mengkafirkan orang-orang yang berbuat dosa. Mereka juga berhujjah dengan ayat-ayat Kitabullah tidak sebagaimana dhahirnya seperti firman Allah ’azza wa jalla :”Barangsiapa yang tidak berhukum dengan apa-apa yang diturunkan Allah, maka mereka itu adalah orang-orang yang kafir” [At-Tamhiid, 17/16].,,,,,,,

    3). Al-Imam Ibnul-Jauziy rahimahulah.

    Beliau berkata :

    أن من لم يحكم بما أنزل الله جاحداً له، وهو يعلم أن الله أنزله؛ كما فعلت اليهود؛ فهو كافر، ومن لم يحكم به ميلاً إلى الهوى من غير جحود؛ فهو ظالم فاسق، وقد روى علي بن أبي طلحة عن ابن عباس؛ أنه قال: من جحد ما أنزل الله؛ فقد كفر، ومن أقرّبه؛ ولم يحكم به؛ فهو ظالم فاسق

    “(Kesimpulannya), bahwa barangsiapa yang tidak berhukum dengan apa-apa yang diturunkan Allah dalam keadaan mengingkari akan kewajiban (berhukum) dengannya padahal dia mengetahui bahwa Allah-lah yang menurunkannya – seperti orang Yahudi – maka orang ini kafir. Dan barangsiapa yang tidak berhukum dengan apa-apa yang diturunkan Allah karena condong pada hawa nafsunya – tanpa adanya pengingkaran – maka dia itu dhalim dan fasiq. Dan telah diriwayatkan oleh Ali bin Abi Thalhah dari Ibnu ‘Abbas bahwa dia berkata : ‘Barangsiapa yang mengingkari apa-apa yang diturunkan Allah maka dia kafir. Dan barangsiapa yang masih mengikrarkannya tapi tidak berhukum dengannya, maka dia itu dhalim dan fasiq” [Zaadul-Masiir, 2/366]…..!!!

    4). Asy-Syaikh ‘Abdurrahman bin Naashir As-Sa’diy rahimahullah.

    Beliau berkata :

    فالحكم بغير ما أنزل الله من أعمال أهل الكفر، وقد يكون كفرً ينقل عن الملة، وذلك إذا اعتقد حله وجوازه، وقد يكون كبيرة من كبائر الذنوب، ومن أعمال الكفر قد استحق من فعله العذاب الشديد .. ﴿ وَمَن لَّمْ يَحْكُم بِمَا أَنزَلَ اللّهُ فَأُوْلَـئِكَ هُمُ الْكَافِرُونَ ﴾ قال ابن عباس: كفر دون كفر، وظلم دون ظلم، وفسق دون فسق، فهو ظلم أكبر عند استحلاله، وعظيمة كبيرة عند فعله غير مستحل له

    ”Berhukum dengan selain yang diturunkan Allah termasuk perbuatan orang-orang kafir, kadangkala hal itu bisa mengeluarkannya dari Islam. Yang demikian itu apabila ia meyakini tentang kebolehannya. Dan kadangkala ia merupakan dosa besar, dan hal ini termasuk perbuatan orang-orang kafir yang berhak atas perbuatannya adzab yang keras….. {Barangsiapa yang tidak berhukum menurut apa yang diturunkan Allah, maka mereka itu adalah orang-orang yang kafir}, telah berkata Ibnu ’Abbas : Kekufuran di bawah kekufuran (kufur ashghar), kedhaliman di bawah kedhaliman, dan kefasiqan di bawah kefasiqan. Hal iu menjadi kedhaliman yang besar apabila menghalalkannya, dan menjadi dosa besar apabila tidak menghalalkannya” [Taisir Kariimir-Rahman, 2/296-297].,,,

    5)Asy-Syaikh Muhammad bin Shaalih Al-‘Utsaimin rahimahullah.

    Beliau berkata :

    هذه الآية قيل إنها نزلت في اليهود وأستدل هؤلاء بأنها كانت في سياق توبيخ اليهود قال الله تعالى (إِنَّا أَنْزَلْنَا التَّوْرَاةَ فِيهَا هُدىً وَنُورٌ يَحْكُمُ بِهَا النَّبِيُّونَ الَّذِينَ أَسْلَمُوا لِلَّذِينَ هَادُوا وَالرَّبَّانِيُّونَ وَالْأَحْبَارُ بِمَا اسْتُحْفِظُوا مِنْ كِتَابِ اللَّهِ وَكَانُوا عَلَيْهِ شُهَدَاءَ فَلا تَخْشَوُا النَّاسَ وَاخْشَوْنِ وَلا تَشْتَرُوا بِآيَاتِي ثَمَناً قَلِيلاً وَمَنْ لَمْ يَحْكُمْ بِمَا أَنْزَلَ اللَّهُ فَأُولَئِكَ هُمُ الْكَافِرُونَ) وقيل إنها عامة لليهود وغيرهم وهو الصحيح لأن العبرة بعموم اللفظ لا بخصوص السبب ولكن ما نوع هذا الكفر قال بعضهم إنه كفر دون كفر ويروى هذا عن ابن عباس رضي الله عنهما وهو كقوله صلى الله عليه وعلى آله وسلم (سباب المسلم فسوق وقتاله كفر) وهذا كفر دون كفر بدليل قول الله تعالى (وَإِنْ طَائِفَتَانِ مِنَ الْمُؤْمِنِينَ اقْتَتَلُوا فَأَصْلِحُوا بَيْنَهُمَا فَإِنْ بَغَتْ إِحْدَاهُمَا عَلَى الْأُخْرَى فَقَاتِلُوا الَّتِي تَبْغِي حَتَّى تَفِيءَ إِلَى أَمْرِ اللَّهِ فَإِنْ فَاءَتْ فَأَصْلِحُوا بَيْنَهُمَا بِالْعَدْلِ وَأَقْسِطُوا إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ الْمُقْسِطِينَ إنما المؤمنون أخوة) فجعل الله تعالى الطائفتين المقتتلتين أخوة للطائفة الثالثة المصلحة وهذا قتال مؤمن لمؤمن فهو كفر لكنه كفر دون كفر وقيل إن هذا يعني قوله تعالى (وَمَنْ لَمْ يَحْكُمْ بِمَا أَنْزَلَ اللَّهُ فَأُولَئِكَ هُمُ الْكَافِرُونَ) ينطبق على رجل حكم بغير ما أنزل الله بدون تأويل مع علمه بحكم الله عز وجل لكنه حكم بغير ما أنزل الله معتقدا أنه مثل ما أنزل الله أو خير منه وهذا كفر لأنه أستبدل دين الله بغيره.

    “Ayat ini dikatakan (oleh sebagian ulama) turun kepada Yahudi. Mereka berdalil bahwa ayat tersebut siyaq-nya adalah teguran/celaan kepada Yahudi. Allah ta’alaberfirman : ‘Sesungguhnya Kami telah menurunkan Kitab Taurat di dalamnya (ada) petunjuk dan cahaya (yang menerangi), yang dengan Kitab itu diputuskan perkara orang-orang Yahudi oleh nabi-nabi yang menyerah diri kepada Allah, oleh orang-orang alim mereka dan pendeta-pendeta mereka, disebabkan mereka diperintahkan memelihara kitab-kitab Allah dan mereka menjadi saksi terhadapnya. Karena itu janganlah kamu takut kepada manusia, (tetapi) takutlah kepada-Ku. Dan janganlah kamu menukar ayat-ayat-Ku dengan harga yang sedikit. Barangsiapa yang tidak memutuskan menurut apa yang diturunkan Allah, maka mereka itu adalah orang-orang yang kafir’. Dikatakan pula bahwa ayat tersebut umum, yaitu (turun) kepada Yahudi dan selain mereka. Inilah yang benar, karena pelajaran itu diambil dari keumuman lafadh bukan dari kekhususan sebab. Namun, macam apakah kekufuran yang dimaksudkan di sini ? Sebagian mereka mengatakan bahwa itu adalah kekufuran di bawah kekufuran (kufrun duuna kufrin). Telah diriwayatkan hal itu dari Ibnu ‘Abbasradliyallaahu ‘anhuma. Hal itu seperti sabda Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam :‘Mencaci seorang muslim adalah kefasiqan, dan memeranginya adalah kekufuran’. Ini adalah kekufuran di bawah kekufuran (kufrun duuna kufrin) dengan dalil firman Allahta’ala : ‘Dan jika ada dua golongan dari orang-orang mukmin berperang maka damaikanlah antara keduanya. Jika salah satu dari kedua golongan itu berbuat aniaya terhadap golongan yang lain maka perangilah golongan yang berbuat aniaya itu sehingga golongan itu kembali kepada perintah Allah; jika golongan itu telah kembali (kepada perintah Allah), maka damaikanlah antara keduanya dengan adil dan berlaku adillah. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berlaku adil. Sesungguhnya orang-orang mukmin adalah bersaudara’ (QS. Al-Hujuraat : 9-10). Allah ta’ala menjadikan dua golongan yang saling berperang sebagai saudara bagi golongan ketiga yang mendamaikan. Peperangan seorang mukmin kepada mukmin lainnya adalah kekufuran, namun kekufuran di bawah kekufuran (kufrun duuna kufrin). Dikatakan pula, yaitu ayat : ‘Barangsiapa yang tidak memutuskan menurut apa yang diturunkan Allah, maka mereka itu adalah orang-orang yang kafir’ ditujukan kepada seseorang yang berhukum dengan selain yang diturunkan Allah tanpa adanya ta’wil; yang bersamaan dengan itu ia mengetahui kewajiban berhukum dengan hukum Alah‘azza wa jalla; namun ia malah berhukum dengan selain yang diturunkan Allah dengan keyakinan bahwa hal itu seperti hukum yang diturunkan Allah, atau lebih baik dari hukm Allah; maka ini adalah kufur (akbar). Karena ia telah mengganti agama Allah dengan selainnya” [Fataawaa Nuur ‘alad-Darb, juz 2 – Maktabah Ruuhul-Islaam].

    Itulah yang dapat dituliskan atas sebagian penjelasan keshahihan atsar Ibnu ‘Abbasradliyallaahu ‘anhuma dan pemahaman para ulama salaf yang menyertainya. Banyak hal yang belum disinggung dalam tulisan ini – khususnya mengenai beberapa syubhattakfiriyyuun terkait bahasan berhukum dengan selain hukum Allah. Namun, semoga yang sedikit ini dapat menjadi saham kecil dalam rangka nasihat kepada Allah, kitab-Nya, Rasul-Nya, para pemimpin, dan kaum muslimin pada umumnya. Dan semoga dapat berguna bagi Penulisnya dan bagi Pembaca semuanya.

    Wallaahu a’lam bish-shawwaab.