Shalat Witir

April 2nd 2010 by Abu Muawiah |

17 Rabiul Akhir

Shalat Witir

Dari Abdullah bin Umar radhiallahu anhuma dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam beliau bersabda:
اجْعَلُوا آخِرَ صَلَاتِكُمْ بِاللَّيْلِ وِتْرًا
“Jadikanlah akhir shalat malam kalian dengan ganjil (witir).” (HR. Al-Bukhari no. 998 dan Muslim no. 751)
Dari Ibnu Umar radhiallahu anhuma dia berkata: Ada seseorang yang bertanya kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam tentang shalat malam. Maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:
صَلَاةُ اللَّيْلِ مَثْنَى مَثْنَى فَإِذَا خَشِيَ أَحَدُكُمْ الصُّبْحَ صَلَّى رَكْعَةً وَاحِدَةً تُوتِرُ لَهُ مَا قَدْ صَلَّى
“Shalat malam itu dua rakaat dua rakaat. Jika salah seorang dari kalian khawatir akan masuk waktu shubuh, hendaklah dia shalat satu rakaat sebagai witir (penutup) bagi shalat yang telah dilaksanakan sebelumnya.” (HR. Al-Bukhari no. 990 dan Muslim no. 749)
Dari Aisyah radhiallahu anha dia berkata:
كُلَّ اللَّيْلِ أَوْتَرَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَانْتَهَى وِتْرُهُ إِلَى السَّحَرِ
“Setiap malam Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam melaksanakan shalat witir dan selesai pada waktu sahur.” (HR. Al-Bukhari no. 996 dan Muslim no. 745)
Dari Jabir radhiallahu anhu dia berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:
مَنْ خَافَ أَنْ لَا يَقُومَ مِنْ آخِرِ اللَّيْلِ فَلْيُوتِرْ أَوَّلَهُ وَمَنْ طَمِعَ أَنْ يَقُومَ آخِرَهُ فَلْيُوتِرْ آخِرَ اللَّيْلِ فَإِنَّ صَلَاةَ آخِرِ اللَّيْلِ مَشْهُودَةٌ وَذَلِكَ أَفْضَلُ
“Barangsiapa yang khawatir tidak bisa bangun di akhir malam, maka hendaklah dia melakukan witir di awal malam. Dan barangsiapa yang merasa mampu bangun di akhir malam, maka hendaklah dia witir di akhir malam, karena shalat di akhir malam disaksikan (oleh para malaikat) dan hal itu adalah lebih utama.” (HR. Muslim no. 755)

Penjelasan ringkas:
Secara umum, ada beberapa perkara yang butuh dijelaskan berkenaan dengan shalat witir, yaitu:
1.    Hukum shalat witir
Hadits Ibnu Umar yang pertama dijadikan dalil oleh sebagian ulama yang berpendapat wajibnya shalat witir, baik secara mutlak maupun bagi yang shalat lail sebelumnya. Dan ada beberapa dalil lain yang lahiriahnya menunjukkan wajibnya shalat witir. Hanya saja semua dalil yang menunjukkan wajibnya, dipalingkan hukumnya oleh beberapa dalil, di antaranya:
a.    Nabi shallallahu alaihi wasallam telah menganjurkan untuk shalat lail (termasuk witir) di rumah, sebagaimana dalam hadits Zaid bin Tsabit riwayat Al-Bukhari dan Muslim. Kemudian beliau mengabarkan bahwa shalat yang paling utama adalah yang dikerjakan di rumah kecuali shalat wajib. Maka ini tegas menunjukkan shalat witir bukanlah shalat wajib karena dianjurkan dikerjakan di rumah.
b.    Dalam hadits Ibnu Umar riwayat Al-Bukhari no. 1000 disebutkan bahwa Nabi shallallahu alaihi wasallam shalat di atas kendaraannya kecuali shalat wajib, sementara beliau pernah shalat witir di atas kendaraan. Maka ini menunjukkan bahwa shalat witir bukanlah shalat yang wajib.
Karenanya, shalat witir adalah sunnah mu’akkadah. Syaikhul Islam Ibnu Taimiah berkata sebagaimana dalam Majmu’ Al-Fatawa (23/88), “Witir adalah sunnah mu’akkadah berdasarkan kesepakatan kaum muslimin, dan barangsiapa yang meninggalkannya terus-menerus maka persaksiannya tidak diterima.”

2.    Jumlah rakaatnya.
Minimalnya satu rakaat berdasarkan hadits Ibnu Umar yang kedua di atas. Bisa juga 3 rakaat, 5 rakaat, 7 rakaat, 9 rakaat, dan 11 rakaat. Semua ini ditunjukkan oleh hadits Abu Hurairah riwayat Al-Hakim (1/314) dan dinyatakan shahih oleh Al-Albani dalam Shalat At-Tarawih hal. 85.

3.    Waktu pelaksanaannya.
Dimulai setelah shalat isya (walaupun dia dikerjakan secara jama’ taqdim ke maghrib) dan berakhir saat azan subuh yang kedua. Ibnu Nashr berkata dalam Mukhtashar Qiyam Al-Lail hal. 119, “Yang disepakati oleh para ulama adalah: Antara shalat isya hingga terbitnya fajar (shadiq/kedua) adalah waktu untuk mengerjakan witir.”
Walaupun waktunya terpampang luas, akan tetapi lebih utama mengerjakannya di akhir malam jika dia merasa sanggup. Dan jika dia tidak yakin bisa bangun di akhir malam, maka yang lebih utama adalah dia shalat witir di awal malam. Hal ini jelas ditunjukkan oleh hadits Jabir radhiallahu anhu.

4. Kaifiat pelaksanaannya.
Untuk shalat witir 3 rakaat, maka pelasanaannya tidak boleh serupa dengan shalat maghrib. Karenanya, bisa langsung dikerjakan 3 rakaat dengan satu kali tasyahurdi rakaat ketiga lalu salam, dan bisa dikerjakan dengan 2 kali salam, yaitu dikerjakan 2 rakaat dahulu baru satu rakaat. Ini berdasarkan hadits Abu Hurairah riwayat Al-Hakim yang diisyaratkan di atas.
Adapun shalat witir 5 raka’at, maka pengerjaannya dapat dilakukan dengan shalat dua raka’at-dua raka’at sebanyak 4 raka’at kemudian ditutup dengan shalat satu raka’at atau pun sekaligus mengerjakan 5 raka’at secara bersambung tanpa duduk tahiyyat kecuali di akhir raka’at saja. Ini berdasarkan hadits Aisyah riwayat Abu Awanah (2/135)
Witir 7 raka’at dapat dikerjakan dua raka’at-dua raka’at sebanyak 6 raka’at dan ditutup dengan shalat satu raka’at. Atau bisa juga langsung dikerjakan 7 raka’at secara bersambung dan duduk tahiyyat pada raka’at keenam lalu membaca tahiyyat sampai akhir akan tetapi tidak salam, setelah tahiyat dia berdiri untuk selanjutnya mengerjakan raka’at ketujuh dan kemudian salam. Ini juga berdasarkan hadits Aisyah radhiallahu anha riwayat Muslim no. 746
Witir 9 raka’at dapat dikerjakan dengan dua raka’at-dua raka’at hingga delapan raka’at dan kemudian diakhiri dengan satu raka’at sebagai witir. Atau dikerjakan bersambung sampai dengan 8 raka’at dengan duduk tahiyyat pada raka’at kedelapan tapi tidak salam, kemudian berdiri ke rakaat 9 lalu duduk tahiyyat lagi (tahiyyat akhir) dan diakhiri dengan salam. Ini berdasarkan hadits ‘Aisyah radhiallahu ‘anha riwayat Muslim no. 746.
Adapun witir dengan 11 raka’at, maka dia dapat dikerjakan dua raka’at-dua raka’at hingga sepuluh raka’at kemudian diakhiri dengan satu raka’at. Ataukah dikerjakan empat raka’at-empat raka’at dan kemudian witir tiga raka’at.
Semua kaifiat ini disebutkan oleh Asy-Syaikh Muhammad bin Umar Bazmul dalam Bughyah Al-Mutathawwi’ hal. 55-62

5. Bolehkah shalat sunnah lagi setelah shalat witir?
Ada dua pendapat di kalangan ulama, hanya saja pendapat yang lebih tepat dalam masalah ini adalah pendapat mayoritas ulama yang menyatakan: Bolehnya melakukan shalat sunnah lagi sesukanya walaupun dia telah mengerjakan shalat witir, hanya saja tidak boleh lagi dia mengerjakan shalat witir, karena tidak boleh ada dua shalat witir dalam satu malam.
Dalil-dalil pendapat ini adalah:
a.    Dari Jabir bin ‘Abdillah, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
مَنْ خَافَ مِنْكُمْ أَنْ لاَ يَسْتَيْقِظَ مِنْ آخِرِ اللَّيْلِ فَلْيُوتِرْ مِنْ أَوَّلِ اللَّيْلِ ثُمَّ لْيَرْقُدْ
“Barangsiapa di antara kalian yang khawatir tidak bisa bangun di akhir malam, maka hendanya dia shalat witir di awal malam lalu dia tidur.” (HR. At-Tirmizi no. 1187 dan dinyatakan shahih oleh Al-Albani rahimahullah).
Dari hadits ini bisa dipetik pendalilan bahwa jika orang tersebut bangun di malam hari -padahal sebelumnya dia sudah witir sebelum tidur-, maka dia masih diperbolehkan untuk shalat.
b.    Hadits Ummu Salamah radhiallahu anha yang menyebutkan bahwa Nabi shallallahu alaihi wasallam pernah melakukan shalat dua rakaat sambil duduk setelah melakukan witir. Diriwayatkan oleh At-Tirmizi no. 471 dan dinyatakan shahih oleh Al-Albani rahimahullah.
c.    Dari Aisyah radhiallahu anha dia berkata tentang sifat shalat lail Nabi shallallahu alaihi wasallam:
كَانَ يُصَلِّى ثَلاَثَ عَشْرَةَ رَكْعَةً يُصَلِّى ثَمَانَ رَكَعَاتٍ ثُمَّ يُوتِرُ ثُمَّ يُصَلِّى رَكْعَتَيْنِ وَهُوَ جَالِسٌ
“Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam biasa melaksanakan shalat (lail) 13 raka’at. Beliau memulai dengan shalat 8 raka’at kemudian beliau berwitir (satu raka’at). Kemudian setelah itu beliau melaksanakan shalat dua raka’at sambil duduk.” (HR. Muslim no. 738)
Adapun sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam:
اجْعَلُوا آخِرَ صَلَاتِكُمْ بِاللَّيْلِ وِتْرًا
“Jadikanlah akhir shalat malam kalian dengan ganjil (witir).” (HR. Al-Bukhari no. 998 dan Muslim no. 751)
Maka perintah di sini hukumnya adalah sunnah dan bukan wajib. Wallahu a’lam

4.    Bolehkah shalat sunnah lagi setelah shalat witir?
Ada dua pendapat di kalangan ulama, hanya saja pendapat yang lebih tepat dalam masalah ini adalah pendapat mayoritas ulama yang menyatakan: Bolehnya melakukan shalat sunnah lagi sesukanya walaupun dia telah mengerjakan shalat witir, hanya saja tidak boleh lagi dia mengerjakan shalat witir, karena tidak boleh ada dua shalat witir dalam satu malam.
Dalil-dalil pendapat ini adalah:
a.    Dari Jabir bin ‘Abdillah, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
مَنْ خَافَ مِنْكُمْ أَنْ لاَ يَسْتَيْقِظَ مِنْ آخِرِ اللَّيْلِ فَلْيُوتِرْ مِنْ أَوَّلِ اللَّيْلِ ثُمَّ لْيَرْقُدْ
“Barangsiapa di antara kalian yang khawatir tidak bisa bangun di akhir malam, maka hendanya dia shalat witir di awal malam lalu dia tidur.” (HR. At-Tirmizi no. 1187 dan dinyatakan shahih oleh Al-Albani rahimahullah).
Dari hadits ini bisa dipetik pendalilan bahwa jika orang tersebut bangun di malam hari -padahal sebelumnya dia sudah witir sebelum tidur-, maka dia masih diperbolehkan untuk shalat.
b.    Hadits Ummu Salamah radhiallahu anha yang menyebutkan bahwa Nabi shallallahu alaihi wasallam pernah melakukan shalat dua rakaat sambil duduk setelah melakukan witir. Diriwayatkan oleh At-Tirmizi no. 471 dan dinyatakan shahih oleh Al-Albani rahimahullah.
c.    Dari Aisyah radhiallahu anha dia berkata tentang sifat shalat lail Nabi shallallahu alaihi wasallam:
كَانَ يُصَلِّى ثَلاَثَ عَشْرَةَ رَكْعَةً يُصَلِّى ثَمَانَ رَكَعَاتٍ ثُمَّ يُوتِرُ ثُمَّ يُصَلِّى رَكْعَتَيْنِ وَهُوَ جَالِسٌ
“Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam biasa melaksanakan shalat (lail) 13 raka’at. Beliau memulai dengan shalat 8 raka’at kemudian beliau berwitir (satu raka’at). Kemudian setelah itu beliau melaksanakan shalat dua raka’at sambil duduk.” (HR. Muslim no. 738)
Adapun sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam:
اجْعَلُوا آخِرَ صَلَاتِكُمْ بِاللَّيْلِ وِتْرًا
“Jadikanlah akhir shalat malam kalian dengan ganjil (witir).” (HR. Al-Bukhari no. 998 dan Muslim no. 751)
Maka perintah di sini hukumnya adalah sunnah dan bukan wajib. Wallahu a’lam

Incoming search terms:

  • sholat witir
  • shalat witir
  • dzikir setelah tahajud salaf nabi
Share and Enjoy:
  • Print
  • Digg
  • StumbleUpon
  • del.icio.us
  • Facebook
  • Yahoo! Buzz
  • Twitter
  • Google Bookmarks

This entry was posted on Friday, April 2nd, 2010 at 8:10 pm and is filed under Fiqh, Quote of the Day. You can follow any responses to this entry through the RSS 2.0 feed. Both comments and pings are currently closed.

17 responses about “Shalat Witir”

  1. Ummahat said:

    Bismillah,
    Assalamu’alaykum warohmatullah
    ustadz afwan mohon djelaskan ttg sholat tahajjud..
    adakah bacaan setelah selesai sholat tahajjud seperti dzikir ba’da shalat wajib?
    Jazakallah khoir

    Waalaikumussalam warahmatullahi wabarakatuh.
    Wallahu a’lam kami tida mengetahui ada doa khusus. Tapi jika itu sudah masuk 1/3 malam terakhir, maka itu adalah waktu mustajabah untuk berdoa, silakan dia berdoa sesukanya setelah shalat.

  2. Ahmad said:

    Bismillah..
    Ustadz,apa maksud dari perkataan syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullah bhw persaksiannya tdk diterima? Mohon penjelasannya..jazakallahu khairan

    Maksudnya kalau dia bersaksi atas suatu kejadian maka persaksiannya ditolak, demikian pendapat Ibnu Taimiah rahimahullah. Kami membawakannya di sini hanya untuk menegaskan ditekankannya shalat witir. Adapun permasalahan apakah persaksiannya betul tertolak? Maka butuh dibahas secara tersendiri, wallahu a’lam

  3. Emily said:

    Bismillah,
    Assalamu’alaykum warohmatullah
    ustadz afwan mohon djelaskan ttg sholat tahajjud..
    adakah bacaan setelah selesai sholat tahajjud seperti dzikir ba’da shalat wajib?
    Jazakallah khoir

    Waalaikumussalam warahmatullahi wabarakatuh.
    Wallahu a’lam kami tida mengetahui ada doa khusus. Tapi jika itu sudah masuk 1/3 malam terakhir, maka itu adalah waktu mustajabah untuk berdoa, silakan dia berdoa sesukanya setelah shalat.

  4. abu_salman said:

    Ustadz, jika kita shalat witir di awal malam sebelum tidur, apakah juga boleh didahului dengan shalat malam atau tahajjud sebagaimana biasanya jika bangun di malam hari, atau witir tersebut bediri sendiri saja, atau bagaimana.. Jazakallahu khairan…

    Shalat witir bisa dikerjakan sendiri dan bisa juga dilakukan setelah shalat lail, baik itu dikerjakan di awal malam maupun akhir malam, yang jelas dia sudah mengerjakan shalat isya.

  5. Eka said:

    Assalamualaikum pak ustaz..Kapan waktu shalat sunat fajar bisa dilakukan,mengingat pahalanya yg sangat besar…sebelum azan subuh ataw diantara azan dan iqamat ,jazakillah ummulkhair…

    Waalaikumussalam warahmatullah
    Waktunya antara azan dan iqamah, bukan sebelum azan. Lihat penjelasannya dalam artikel: Seputar Shalat Sunnah fajar

  6. Nasrullah said:

    ustadz,adakah dalilnya bahwa shalat witir di barengi doa qunut setiap melakukannya?
    jazakumullah khoir.

    Ia ada, silakan baca di sini: http://al-atsariyyah.com/?p=2082

  7. Rizky said:

    Assalamu’alaikum,
    Ustadz,bacaan apakah yang diucapkan setelah shalat witir? sebenarnya dulu waktu kecil ana sudah diajarkan,tp ana khawatir tercampur dngan dzikir-dzikir yg bid’ah berhubung dulu ana msh blm mengenal dakwah salaf.
    Jazakallahu khairan.

    Waalaikumussalam warahmatullah.
    Ia ada bacaan setelah zikir, silakan baca di sini: http://al-atsariyyah.com/?p=2082

  8. Abu Zakiy said:

    Assalamu’alaykum….
    Afwan ustadz, mana yang lebih baik? meninggalkan jama’ah tarawih untuk mendapatkan keutamaan witir di akhir waktu ataukah mengikuti witir dgn imam kemudian menambahkan sholat sunnah kemudian??
    jazakumullohu khoiron..

    Waalaikumussalam warahmatullah
    Sebaiknya dia ikut witir bersama imamnya, dan jika dia mau shalat lail lagi setelah itu maka silakan dia mengerjakan sesukanya, hanya saja dia tidak boleh mengulangi witir.

  9. Ridho Amrullah said:

    Assalammu’alaikum, Pak Ustadz,

    Witir 9 raka’at dapat dikerjakan dengan dua raka’at-dua raka’at hingga delapan raka’at dan kemudian diakhiri dengan satu raka’at sebagai witir. Atau dikerjakan bersambung sampai dengan 8 raka’at dengan duduk tahiyyat pada raka’at kedelapan tapi tidak salam, kemudian berdiri ke rakaat 9 lalu duduk tahiyyat lagi (tahiyyat akhir) dan diakhiri dengan salam. Ini berdasarkan hadits ‘Aisyah radhiallahu ‘anha riwayat Muslim no. 746.
    Ini artinya duduk tahiyat pada rakaat delapan itu baca bacaan tasyahudnya dengan solawatnya ? Juga duduk tahiyat lagi (akhir) rakaat ke 9, juga baca tasyahud dan solawatnya lagi juga ?
    Syukron,

    Waalaikumussalam.
    Ia, lahiriah haditsnya seperti itu, dibaca lengkap dengan shalawat.

  10. Abu Zaid said:

    Bismillah, apakah wanita juga di syariatkan shalat tarawih bersama Imam di mesjid di bulan ramadhan atau wanita lebih baik shalat tarawih saja di rumah?

    Jazakumullahu Khairan

    Wanita lebih utama shalat di rumah, baik shalat wajib maupun shalat sunnah.

  11. As-Sukuharjuy said:

    Bismillaah,

    ‘afwan ustadz, bagaimana dengan kasus seorang yang terbangun diakhir malam dalam keadaan junub sementara ia berada di penghujung malam dan belum shalat witr.
    Apakah boleh jika ia mandi lantas masuk waktu shubuh, ia melaksanakan sholat witr bersamaan / tidak lama setelah ‘adzan shubuh?

    Jazaakumullaah khoyron

    Tidak boleh karena waktu witir sudah habis dengan adzan subuh.

  12. rully said:

    ustadz, saya masih bingung dengan perbedaan sholat tahajud dengan sholat witir selain dari jumlah rakaatnya (witir jumlahnya ganjil). Kalau dilihat dari cara sholat keduanya hampir sama (2 rakaat – 2 rakaat). Apakah benar bila cara membedakannya hanya dari niatnya saja?

    Jazakallahu khairan

    Witir bisa dengan 1 rakaat, jadi tidak harus 2 rakaat. Akan tetapi secara umum memang keduanya cukup dibedakan dengan niat saja.

  13. Andi said:

    Assalamu’alaikum warrahmatullahi wabarakatuh
    Jadi shalat witir itu bisa menjahrkan kan atau mensirrkan ya pak ustadz atau yang lebih utama sebenarnya yang mana pak ustadz mensirrkan atau menjahrkan?

    Waalaikumussalam warrahmatullahi wabarakatuh
    Boleh keduanya, yang lebih utama adalah sesuaikan dengan keadaan dia. Dia lebih khusyu’ yang mana.

  14. umar said:

    ustadz,bolehkah kita sholat tahajjud akan tetapi belum ada tidur sebelumnya?

    Ya, boleh

  15. umar said:

    apakah mmg ada doa khusus untuk shalat dhuha?
    haruskah iqomah saat setiap hendak sholat(wajib) walaupun dia shalat sendirian?
    apa hukum membaca bismillah sebelum alfatihah dlm shalat di stp rakaat shalat?
    jazakaLLAH khairan ustadz

    Wallahu a’lam, setahu kami tidak ada doa khusus.
    Tidak harus, tapi disunnahkan.
    Disunnahkan membaca basmalah setiap rakaat.

  16. nur said:

    bismillah…
    jazakumulloh khoir…
    bljr n trus bljr,smangt!!

  17. Sugianto Soekma said:

    afwan ustadz,
    bagaimana hukumnya sholat malam yang disengaja tidak ditutup dengan witir?(tolong lengkapkan dengan dalil2nya)

    Tidak mengapa. Witir bukan kewajiban, tapi sunnah muakkadah. Silakan dicari pembahasan shalat witir d blog ini.