Shalat Tahiyatul Masjid

February 28th 2010 by Abu Muawiah |

14 Rabiul Awal

Shalat Tahiyatul Masjid

Dari Abu Qatadah  dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bahwa beliau bersabda:
إِذَا دَخَلَ أَحَدُكُمْ الْمَسْجِدَ فَلْيَرْكَعْ رَكْعَتَيْنِ قَبْلَ أَنْ يَجْلِسَ
“Jika salah seorang dari kalian masuk masjid, maka hendaklah dia shalat dua rakaat sebelum dia duduk.” (HR. Al-Bukhari no. 537 dan Muslim no. 714)
Dari Jabir bin Abdullah -radhiallahu anhu- dia berkata:
جَاءَ سُلَيْكٌ الْغَطَفَانِيُّ يَوْمَ الْجُمُعَةِ وَرَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَخْطُبُ, فَجَلَسَ. فَقَالَ لَهُ: يَا سُلَيْكُ قُمْ فَارْكَعْ رَكْعَتَيْنِ وَتَجَوَّزْ فِيهِمَا! ثُمَّ قَالَ: إِذَا جَاءَ أَحَدُكُمْ يَوْمَ الْجُمُعَةِ وَالْإِمَامُ يَخْطُبُ فَلْيَرْكَعْ رَكْعَتَيْنِ وَلْيَتَجَوَّزْ فِيهِمَا
“Sulaik Al-Ghathafani datang pada hari Jum’at, sementara Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam sedang berkhutbah, dia pun duduk. Maka beliau pun bertanya padanya, “Wahai Sulaik, bangun dan shalatlah dua raka’at, kerjakanlah dengan ringan.” Kemudian beliau bersabda, “Jika salah seorang dari kalian datang pada hari Jum’at, sedangkan imam sedang berkhutbah, maka hendaklah dia shalat dua raka’at, dan hendaknya dia mengerjakannya dengan ringan.” (HR. Al-Bukhari no. 49 dan Muslim no. 875)

Penjelasan ringkas:
Berikut beberapa masalah berkenaan dengan shalat tahiyatul masjid secara ringkas:
1.    Para ulama bersepakat akan disyariatkannya shalat 2 rakaat bagi siapa saja yang masuk masjid dan mau duduk di dalamnya. Hanya saja mereka berbeda pendapat mengenai hukumnya: Mayoritas ulama berpendapat sunnahnya dan sebagian lainnya berpendapat wajibnya. Yang jelas tidak sepatutnya seorang muslim meninggalkan syariat ini.
2.    Syariat ini berlaku untuk siapa saja, lelaki dan wanita. Hanya saja para ulama mengecualikan darinya khatib jumat, dimana tidak ada satupun dalil yang menunjukkan bahwa Nabi -alaihishshalatu wassalam- shalat tahiyatul masjid sebelum khutbah. Akan tetapi beliau datang dan langsung naik ke mimbar. (Al-Majmu’: 4/448)
3.    Syariat ini berlaku untuk semua masjid, termasuk masjidil haram. Sehingga orang yang masuk masjidil haram tetap disyariatkan baginya untuk melakukan tahiyatul masjid jika dia ingin duduk. Adapun hadits yang masyhur di lisan manusia, “Tahiyat bagi Al-Bait (Ka’bah) adalah tawaf,” maka tidak ada asalnya. (Lihat Adh-Dhaifah no. 1012 karya Al-Albani -rahimahullah-)
4.    Yang dimaksud dengan tahiyatul masjid adalah shalat dua rakaat sebelum duduk di dalam masjid. Karenanya maksud ini sudah tercapai dengan shalat apa saja yang dikerjakan sebelum duduk. Karenanya, shalat sunnah wudhu, shalat sunnah rawatib, bahkan shalat wajib, semuanya merupakan tahiyatul masjid jika dikerjakan sebelum duduk.
Karenanya suatu hal yang keliru jika tahiyatul masjid diniatkan tersendiri, karena pada hakikatnya tidak ada dalam hadits ada shalat yang namanya ‘tahiyatul masjid’, akan tetapi ini hanyalah penamaan ulama untuk shalat 2 rakaat sebelum duduk. Karenanya jika seorang masuk masjid setelah azan lalu shalat qabliah atau sunnah wudhu, maka itulah tahiyatul masjid baginya.
5.    Tahiyatul masjid disyariatkan pada setiap waktu seseorang itu masuk masjid dan ingin duduk di dalamnya. Termasuk di dalamnya waktu-waktu yang terlarang untuk shalat, menurut pendapat yang paling kuat di kalangan ulama. Ini adalah pendapat Imam Asy-Syafi’i dan selainnya, dan yang dikuatkan oleh Ibnu Taimiah, Asy-Syaikh Ibnu Baz, dan Ibnu Al-Utsaimin -rahimahumullah-.
6.    Orang yang duduk sebelum mengerjakan tahiyatul masjid ada dua keadaan:
a.    Sengaja tidak tahiyatul masjid. Maka yang seperti ini tidak disyariatkan baginya untuk berdiri kembali guna mengerjakan tahiyatul masjid, hal itu karena waktu pengerjaannya telah lewat.
b.    Dia lupa atau belum tahu ada shalat tahiyatul masjid. Maka yang seperti ini disyariatkan bagi dia untuk segera berdiri dan shalat tahiyatul masjid, berdasarkan kisah Sulaik pada hadits Jabir di atas. Akan tetapi ini dengan catatan, selang waktu antara duduk dan shalatnya (setelah ingat/tahu) tidak terlalu lama. (Fathul Bari: 2/408)
7.    Jika seorang masuk masjid ketika azan dikumandangkan maka:
a.    Jika hari itu adalah hari jumat dan imam sudah di atas mimbar, hendaknya dia shalat tahiyatul masjid dan tidak menunggu sampai muazzin selesai. Hal itu karena mendengar khutbah adalah wajib. Hanya saja hendaknya dia memperpendek shalatnya, sebagaimana yang tersebut dalam hadits Jabir di atas.
b.    Jika selain dari itu maka hendaknya dia menjawab azan terlebih dahulu baru kemudian shalat tahiyatul masjid, agar dia bisa mendapatkan kedua keutamaan tersebut.
Wallahu a’lam bishshawab

Incoming search terms:

  • shalat tahiyatul masjid
  • sholat tahiyatul masjid
  • shalat sunnah tahiyatul masjid
  • tahiyatul masjid
  • solat tahiyatul masjid
Share and Enjoy:
  • Print
  • Digg
  • StumbleUpon
  • del.icio.us
  • Facebook
  • Yahoo! Buzz
  • Twitter
  • Google Bookmarks

This entry was posted on Sunday, February 28th, 2010 at 5:17 pm and is filed under Fiqh, Quote of the Day. You can follow any responses to this entry through the RSS 2.0 feed. Both comments and pings are currently closed.

16 responses about “Shalat Tahiyatul Masjid”

  1. Roni said:

    Assalamu’alaikum Ustadz,
    ketika sudah shalat sunnah dua raka’at seseorang duduk di masjid kemudian ingin ke wc untuk buang air kecil lalu ia berwudhu kembali. Pertanyaannya apakah ia di sunnahkan shalat sunnah dua raka’at lagi ketika kembali masuk masjid?

    Waalaikumussalam warahmatullah.
    Ia, dia tetap disyariatkan shalat tahiyatul masjid walaupun beberapa kali keluar masuk masjid.

  2. Deni Rinaldi said:

    Assalamualaikum Ustad,

    saya ingin menanyakan seputar shalat,
    1. Jika kita masuk mesjid muazin sedang azan kita boleh shalat attahiyatul mesjid langsung atau mesti menunggu sampai muazin selesai azan kemudian shalat attahiyatul mesjid?

    2. apakah di mushalla ada shalat attahiyatul mesjid juga atau tidak ada?

    3. Jika kita berwudu di mesjid kemudian ingin melaksanakan shalat, shalat mana yang di dahulukan shalat attahiyatul mesjid atau shalat wudhu?

    4. Shalat mana yang kita lakukan, jika waktu Qamat sudah hampir tiba (waktu nya sempit cuma bisa untuk satu shalat sunat saja), kita lakukan shalat sunat qabliatan rawatib atau shalat attahiyatul mesjid,?

    5. Jika kita terlambat dalam shalat berjamaah kemudian imam salam, apakah kita mundur menjadi makmum terhadap orang yang disamping kita?

    6. Jika kita melakukan shalat sunat badiyah rawatib Magrib atau isya kemudian orang datang dan menjadi makmum, apakah bacaan kita kita keraskan atau tetap di sirkan saja?

    mohon maaf banyak pertanyaan saya, karena tidak tau untuk bertanya yang tepat sesuai dengan manhaj salaf.

    Wassalam

    Waalaikumussalam warahmatullah
    1. Keduanya boleh dilakukan, hanya saja yang lebih utama kalau dia mendengarkan azan dulu agar dia bisa menjawab azan (mengikuti ucapan muazzin membaca doa setelah azan) baru setelah itu dia shalat. Jadi ketika seorang masuk masjid sementara imam sedang azan lalu dia tidak shalat, maka tidak shalatnya ini bukan karena dilarang shalat ketika azan, akan tetapi karena dia menjawab azan, karena tidak ada dalil yang melarang shalat sunnah ketika azan berkumandang.

    2. Mushalla dalam artian masjid kecil yang tidak dipakai shalat jumat, juga termasuk masjid dalam istilah syariat. Karenanya tetap berlaku padanya hukum-hukum masjid, berupa: Shalat 2 rakaat sebelum duduk, larangan jual beli di situ, boleh i’tikaf di situ, dan seterusnya.

    3. Dalam hal ini dia mengerjakan shalat sunnah wudhu 2 rakaat dan itu juga sekaligus sebagai tahiyatul masjid baginya. Perlu diketahui bahwa shalat tahiyatul masjid bukanlah shalat sunnah yang berdiri sendiri, akan tetapi dia adalah shalat 2 rakaat yang dikerjakan sebelum duduk di dalam masjid. Maka shalat 2 rakaat apa saja yang kita kerjakan sebelum duduk, baik dia rawatib maupun sunnah wudhu maka itulah shalat tahiyatul masjid, sehingga tidak perlu mengerjakan shalat tahiyatul masjid lagi.
    Bahkan sebagian ustadz mengabarkan kepada kami bahwa Imam An-Nawawi dan Asy-Syaikh Al-Albani menyatakan bid’ahnya menyendirikan shalat tahiyatul masjid, wallahu a’lam.

    4. Demikian pula kami katakan untuk pertanyaan yang keempat.

    5. Tidak boleh seperti itu, yang benarnya semua makmum yang sama-sama masbuk harus menyelesaikan shalatnya sendiri-sendiri.
    dari Abu Hurairah dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:
    إِذَا سَمِعْتُمْ الْإِقَامَةَ فَامْشُوا إِلَى الصَّلَاةِ وَعَلَيْكُمْ بِالسَّكِينَةِ وَالْوَقَارِ وَلَا تُسْرِعُوا فَمَا أَدْرَكْتُمْ فَصَلُّوا وَمَا فَاتَكُمْ فَأَتِمُّوا
    “Jika kalian mendengar iqamat dikumandangkan, maka berjalanlah menuju shalat dan hendaklah kalian berjalan dengan tenang berwibawa dan jangan tergesa-gesa. Apa yang kalian dapatkan dari shalat maka ikutilah, dan apa yang kalian tertinggal maka sempurnakanlah.” (HR. Al-Bukhari dan Muslim dari Abu Hurairah )
    Yakni: Kalian sempurnakanlah kekurang kalian sendiri-sendiri, dan beliau tidak menyatakan: Jika kalian tertinggal maka angkatlah salah seorang di antara kalian menjadi imam.

    6. Wallahu a’lam, yang nampak dia tetap membacanya dengan sir, karena itu merupakan shalat sunnah baginya. Hendaknya dia memperhatikan shalat yang tengah dia kerjakan dan tidak menoleh kepada orang yang bermakmum kepadanya. Maksudnya: Walaupun makmumnya sedang shalat wajib yang seharusnya dijahrkan, akan tetapi dia tengah shalat sunnah yang tidak seharusnya dijahrkan, maka hendaknya dia mengikut apa yang menjadi keharusan baginya.

  3. Roni said:

    Assalamu’alaikum
    terkait jawaban ustadz pada pertanyaan Akh Deni Rinaldi, khususnya point 2, ustadz menyebutkan boleh itikaf di mushalla. lalu bagaimana dengan ucapan Aisyah “tidak ada I’tikaf kecuali di masjid jami’” (Riwayat al-Baihaqi dari Ibnu Abbas)

    Waalaikumussalam warahmatullah.
    Itu adalah pendapat beliau, dan telah diselisihi oleh para sahabat lainnya. Penjelasan fiqhiah masalah i’tiqaf insya Allah akan kami bawakan pada tempatnya.

  4. idam said:

    assalamualaikum ustad..
    saya mau bertanya, adakah keutamaan dari shalat tahiyatul masjid?
    maaf pertanyaannya dangkal.
    terimakasih atas jawabannya ustad

    Waalaikumussalam.
    Setiap ibadah pasti berpahala, hanya saja tidak ada dalil yang menyebutkan apa bentuk keutamaan dan pahala dari tahiyatul masjid, tapi yang jelas pasti berpahala.

  5. m.chamis said:

    Kamis:
    Oktober 2011

    Assalamualaikum Ustad.
    saya masuk kemesjid sewaktu magrib,lalu saya shalat Takhiyatul masjid sebelum shalat farzu magrib, lalu menjelang Shalat Insya apakah ada shalat Takhiyatul masjid lagi.
    Terimakasih ustad sebelumnya.

    Waalaikumussalam.
    Ya, jika dia mau duduk di dalam masjid sebelum shalat isya maka dia disyariatkan shalat tahiyatul masjid lagi.

  6. achmad said:

    assalamualaikum ustadz,
    Saya mau tanya. Ketika shalat jumat, biasanya masjid di tempat saya shalat selalu penuh sehingga ke serambi dan gedung disebelah masjid juga dijadikan tempat sholat jumat. Yang saya mau tanyakan, apakah kita perlu solat tahiyyatul masjid juga kalau kebagian tempatnya diluar masjid (di serambi atau digedung diluar masjid tersebut). jzk

    Waalaikumussalam.
    Tidak perlu, karena bagian itu bukanlah masjid.

  7. achmad said:

    assalamualaikum, ada pertanyaan lagi ustadz, di artikel diatas dijelaskan bahwa sholat tahiyyatul masjid menjadi satu dengan sholat 2 rekaat apapun dan bid’ah jika menyendirikannya.
    1. Berarti misalkan kita mau sholat sunnah rawatib niatnya dalam hati adalah shalat sunnah rawatib dan tahiyyatul masjid dibarengkan?
    2. Jika karena suatu keperluan kita bolak-balik keluar masjid dan opsi solat sunnah ternyata sudah kita kerjakan semua (sunnah wudhu,rawatib,dhuha,dll)berarti agar tidak menjadi bid’ah apakah kita harus menggabungkan sholat tahiyyatul msjd dengan solat mutlak atau bisa berdiri sendiri?
    jazakallah ustadz

    Waalaikumussalam.
    Pernyataan bid’ah itu bukan terdapat dalam artikel akan tetapi dalam salah satu komentar. Itupun kami bawakan dari sebagian asatidz, walaupun sebenarnya kami sendiri belum bisa memastikan hal itu dari keduanya alim yang tersebut, wallahu a’lam.
    1. Ya, niatnya seperti itu.
    2. Tidak perlu, dia cukup meniatkan shalat 2 rakaat sebelum duduk.

  8. Iskandar said:

    Assalamualaikum wr. wbr.
    Saya mau bertanya Ustad
    Bahwa tidak ada shalat sunat sesudah shalat ashar, dan adanya waktu terlarang shalat.
    Kita ke masjid sebelum waktu maghrib tiba.
    Pertanyaan :
    Apakah kita boleh duduk didalam masjid padahal kita belum shalat tahiyyatul masjid karena disamping waktu terlarang dan juga sesudah waktu ashar ? Terima kasih atas perhatian dan jawabannya.

    Waalaikumussalam.
    Waktu terlarang shalat itu hanya berlaku bagi shalat sunnah mutlak. Adapun shalat sunnah yang punya sebab seperti tahiyatul masjid atau shalat sunnah wudhu, maka itu tidak masuk dalam larangan.

  9. naim radin ahmad said:

    APAKAH HUKOM ORANG MEINGGALKAN MASJID DI WAKTU AZAN DI KUMANDANGKAN?

    Dia berdosa kecuali kalau memang ada udzur mendesak.

  10. syahru said:

    Assalamualaikum wr. wbr.
    1. Saya pernah melihat beberapa kali, seseorang sholat sunnah (sebelum duduk di masjid), 2 rekaat salam, terus sholat lagi 2 rekaat salam. Bagaimana pendapat uztads?
    2. Bolehkah saya sholat sunnah (sebelum duduk di masjid): 2 rekaat salam, terus 2 rekaat salam (dst sesuai keinginan kita)?
    Terima kasih..

    Waalaikumussalam.
    1. Boleh saja. Mungkin 2 rakaat pertama adalah untuk duduk dan dua rakaat setelahnya adalah sunnah mutlak sambil menunggu imam datang.
    2. Ya boleh, kalau dua rakaat selanjutnya adalah sifatnya mutlak, sampai imam datang.

  11. Luthfi said:

    Assalamualaikum Warakhmatullah Wabarakatuh.

    “Karenanya suatu hal yang keliru jika tahiyatul masjid diniatkan tersendiri, karena pada hakikatnya tidak ada dalam hadits ada shalat yang namanya ‘tahiyatul masjid’, akan tetapi ini hanyalah penamaan ulama untuk shalat 2 rakaat sebelum duduk.”

    Dari komentar Ustadz di urutan ke 9 di atas,
    “Waktu terlarang shalat itu hanya berlaku bagi shalat sunnah mutlak. Adapun shalat sunnah yang punya sebab seperti tahiyatul masjid atau shalat sunnah wudhu, maka itu tidak masuk dalam larangan.”. Jika di renungkan antara komentar pertama yang mengatakan sholat tahiyatul masjid bukan sholat sendiri. Berarti pada komentar ke dua menjelaskan bahwa satu-satunya sholat sunnah tidak mutlak(bisa di kerjakan pada waktu terlarang) hanya ada satu, yaitu sunnah wudlu. Apakah benar, Ustadz? Mohon pencerahanya. Terima kasih.

    Waalaikumussalam warahmatullahi wabarakatuh.
    Maksud kami bahwa ketika masuk masjid lalu shalat 2 rakaat, maka diniatkan sebagai shalat sunnah sebelum duduk, bukan tahiyatul masjid, karena tidak ada shalat yang namanya tahiyatul masjid.
    Jadi selain sunnah wudhu, shalat sunnah sebelum duduk di dalam masjid juga termasuk boleh dilakukan.

  12. bila said:

    oh,thaank you

  13. penuntut ilmu said:

    Assalamualaikum ustadz,
    pertanyaan saya:
    1. Ana belum mendapat kesimpulan, apakah shalat
    tahiyatul masjid itu hukumnya sunnah atau
    wajib? (Karena dari zhahir haditsnya maka
    shalat tahiyatul masjid hukumnya wajib.)
    2. Kalau misalnya saya datang antara adzan dan
    iqomah shalat dzuhur, lalu shalat sunnah
    rawatib 4 rakaat di masjid, apa dia sudah
    mewakili tahiyatul masjid?
    3. Kalau ana wudhu lalu shalat subuh, bisakah
    shalat subuhnya itu diniatkan juga sebagai
    shalat sunnah wudhu dan tahiyatul masjid?
    (atau kata lainnya mengabungkan niat amalan
    sunnah dengan fardhu)

    Jazzakumllahu khoiron katsir.

    Waalaikumussalam.
    1. Tahiyatul masjid hukumnya wajib berdasarkan lahiriah dalil yang ada.
    2. Ya, dia sudah mewakili tahiyatul masjid.
    3. Insya Allah boleh. Wallahu a’lam.

  14. Nento Luki said:

    Ass wwb Pak Ustaz

    Sekarang ini banyak pesta yang diadakan di masjid termauk peringatan hari hari bersejarah atau bahkan pernikahan, biasanya jauh dari waktu Sholat, seperti Sebelum Duhur atau sesudah Isa.
    Pertanyaan apakah perintah sholat sebelum duduk masuk masjid tetap berlaku?

    Terima kasih
    Wassalam

    Kalau memang bangunan itu adalah tempat dimana biasa orang2 shalat jamaah, maka tetap berlaku tahiyatul masjid.
    Tapi jika yang biasa dipakai shalat hanya lantai 2, sementara acaranya di lantai 1 yang notabene memang biasa disewakan, maka lantai 1 itu bukan termasuk masjid, dan tidak berlaku tahiyatul masjid di situ.

  15. muhammad hardiansyah said:

    ass.

    bagaimana jika tidak sempat untuk sholat tahiyatul masjid??

    terima kasih.
    wass.

    Maksudnya tidak sempat karena sudah iqomat? Kalau ya, maka tidak ada masalah.

  16. suroso said:

    jakallah khoir.