Shalat Istikharah

April 21st 2010 by Abu Muawiah |

6 Jumadil Ula

Shalat Istikharah

Dari Jabir bin Abdillah radhiallahu anhu berkata:
كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يُعَلِّمُنَا الِاسْتِخَارَةَ فِي الْأُمُورِ كُلِّهَا كَمَا يُعَلِّمُنَا السُّورَةَ مِنْ الْقُرْآنِ يَقُولُ إِذَا هَمَّ أَحَدُكُمْ بِالْأَمْرِ فَلْيَرْكَعْ رَكْعَتَيْنِ مِنْ غَيْرِ الْفَرِيضَةِ ثُمَّ لِيَقُلْ اللَّهُمَّ إِنِّي أَسْتَخِيرُكَ بِعِلْمِكَ وَأَسْتَقْدِرُكَ بِقُدْرَتِكَ وَأَسْأَلُكَ مِنْ فَضْلِكَ الْعَظِيمِ فَإِنَّكَ تَقْدِرُ وَلَا أَقْدِرُ وَتَعْلَمُ وَلَا أَعْلَمُ وَأَنْتَ عَلَّامُ الْغُيُوبِ اللَّهُمَّ إِنْ كُنْتَ تَعْلَمُ أَنَّ هَذَا الْأَمْرَ خَيْرٌ لِي فِي دِينِي وَمَعَاشِي وَعَاقِبَةِ أَمْرِي أَوْ قَالَ عَاجِلِ أَمْرِي وَآجِلِهِ فَاقْدُرْهُ لِي وَيَسِّرْهُ لِي ثُمَّ بَارِكْ لِي فِيهِ وَإِنْ كُنْتَ تَعْلَمُ أَنَّ هَذَا الْأَمْرَ شَرٌّ لِي فِي دِينِي وَمَعَاشِي وَعَاقِبَةِ أَمْرِي أَوْ قَالَ فِي عَاجِلِ أَمْرِي وَآجِلِهِ فَاصْرِفْهُ عَنِّي وَاصْرِفْنِي عَنْهُ وَاقْدُرْ لِي الْخَيْرَ حَيْثُ كَانَ ثُمَّ أَرْضِنِي قَالَ وَيُسَمِّي حَاجَتَهُ
“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam mengajari kami istikharah dalam setiap urusan yan kami hadapi sebagaimana beliau mengajarkan kami suatu surah dari Al-Qur’an. Beliau shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Jika seorang dari kalian menghadapi masalah maka ruku’lah (shalat) dua raka’at yang bukan shalat wajib kemudian berdo’alah: Allahumma inniy astakhiiruka bi ‘ilmika wa astaqdiruka biqudratika wa as-aluka min fadhlikal ‘azhim, fainnaka taqdiru wa laa aqdiru wa ta’lamu wa laa ‘Abdullah’lamu wa anta ‘allaamul ghuyuub. Allahumma in kunta ta’lamu anna haadzal amru khairul liy fiy diiniy wa aku ma’aasyiy wa ‘aafiyati amriy” atau; ‘Aajili amriy wa aajilihi faqdurhu liy wa yassirhu liy tsumma baarik liy fiihi. Wa in kunta ta’lamu anna haadzal amru syarrul liy fiy diiniy wa ma’aasyiy wa ‘aafiyati amriy” aw qaola; fiy ‘aajili amriy wa aajilihi fashrifhu ‘anniy washrifniy ‘anhu waqdurliyl khaira haitsu kaana tsummar dhiniy.” (Ya Allah aku memohon pilihan kepada-Mu dengan ilmuMu dan memohon kemampuan dengan kekuasaan-Mu dan aku memohon karunia-Mu yang Agung. Karena Engkau Maha Mampu sedang aku tidak mampu, Engkau Maha Mengetahui sedang aku tidak mengetahui, Engkaulah yang Maha Mengetahui perkara yang gaib. Ya Allah bila Engkau mengetahui bahwa urusan ini baik untukku, bagi agamaku, kehidupanku dan kesudahan urusanku ini -atau beliau bersabda: di waktu dekat atau di masa nanti- maka takdirkanlah buatku dan mudahkanlah kemudian berikanlah berkah padanya. Namun sebaliknya ya Allah, bila Engkau mengetahui bahwa urusan ini buruk untukku, bagi agamaku, kehidupanku dan kesudahan urusanku ini -atau beliau bersabda: di waktu dekat atau di masa nanti- maka jauhkanlah urusan dariku dan jauhkanlah aku darinya. Dan tetapkanlah buatku urusan yang baik saja dimanapun adanya kemudian jadikanlah aku ridha dengan ketetapan-Mu itu”. Beliau bersabda: “Dia sebutkan urusan yang sedang diminta pilihannya itu”. (HR. Al-Bukhari no. 1162)
Cara menyebutkan urusannya misalnya: Ya Allah, jika engkau mengetahui bahwa safar ini atau pernikahan ini atau usaha ini atau mobil ini baik bagiku …, dan seterusnya.

Penjelasan ringkas:
Sesungguhnya manusia adalah makhluk yang sangat lemah, mereka sangat membutuhkan bantuan dari Allah Ta’ala dalam semua urusan mereka. Hal itu karena dia tidak mengetahui hal yang ghaib sehingga dia tidak bisa mengetahui mana amalan yang akan mendatangkan kebaikan dan mana yang akan mendatangkan kejelekan bagi dirinya. Karenanya, terkadang seseorang hendak mengerjakan suatu perkara dalam keadaan dia tidak mengetahui akibat yang akan lahir dari perkara tersebut atau hasilnya mungkin akan meleset dari perkiraannya. Oleh karena itulah Rasulullah shallallahu alaihi wasallam mensyariatkan adanya istikharah, yaitu permintaan kepada Allah agar Dia berkenan memberikan hidayah kepadanya menuju kepada kebaikan. Yang mana doa istikharah ini dipanjatkan kepada Allah setelah dia mengerjakan shalat sunnah dua rakaat.
Allah Ta’ala berfirman:
وَرَبُّكَ يَخْلُقُ مَا يَشَاءُ وَيَخْتَارُ مَا كَانَ لَهُمُ الْخِيَرَةُ سُبْحَانَ اللَّهِ وَتَعَالَى عَمَّا يُشْرِكُونَ. وَرَبُّكَ يَعْلَمُ مَا تُكِنُّ صُدُورُهُمْ وَمَا يُعْلِنُونَ.  وَهُوَ اللَّهُ لا إِلَهَ إِلَّا هُوَ لَهُ الْحَمْدُ فِي الْأُولَى وَالْآخِرَةِ وَلَهُ الْحُكْمُ وَإِلَيْهِ تُرْجَعُونَ
“Dan Rabbmu menciptakan apa yang Dia kehendaki dan memilihnya. Sekali-kali tidak ada pilihan bagi mereka. Maha Suci Allah dan Maha Tinggi dari apa yang mereka persekutukan (dengan Dia). Dan Tuhanmu mengetahui apa yang disembunyikan (dalam) dada mereka dan apa yang mereka nyatakan. Dan Dialah Allah, tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) melainkan Dia, bagi-Nyalah segala puji di dunia dan di akhirat, dan bagi-Nyalah segala penentuan dan hanya kepada-Nyalah kalian dikembalikan.” (QS. Al-Qashash: 68-70)
Imam Muhammad bin Ahmad Al-Qurthuby rahimahullah berkata, “Sebagian ulama mengatakan: Tidak sepantasnya bagi seseorang untuk mengerjakan suatu urusan dari urusan-urusan dunia kecuali setelah dia meminta pilihan kepada Allah dalam urusan tersebut. Yaitu dengan dia shalat dua rakaat shalat istikharah.” (Al-Jami’ li Ahkam Al-Qur`an: 13/202)

Shalat istikharah termasuk dari shalat-shalat sunnah berdasarkan kesepakatan para ulama. Al-Hafizh Al-Iraqi berkata -sebagaimana dalam Fath Al-Bari (11/221-222), “Saya tidak mengetahui ada ulama yang berpendapat wajibnya shalat istikharah.”

Faidah:
Al-Hafizh Ibnu Hajar berkata dalam Al-Fath (11/220), “Ibnu Abi Hamzah berkata: Amalan yang wajib dan yang sunnah tidak perlu melakukan istikharah dalam melakukannya, sebagaiman yang haram dan makruh tidak perlu melakukan istikharah dalam meninggalkannya. Maka urusan yang butuh istikharah hanya terbatas pada perkara yang mubah dan dalam urusan yang sunnah jika di depannya ada dua amalan sunnah yang hanya bisa dikerjakan salah satunya, mana yang dia kerjakan lebih dahulu dan yang dia mencukupkan diri dengannya.” Maka janganlah sekali-kali kamu meremehkan suatu urusan, akan tetapi hendaknya kamu beristikharah kepada Allah dalam urusan yang kecil dan yang besar, yang mulia atau yang rendah, dan pada semua amalan yang disyariatkan istikharah padanya. Karena terkadang ada amalan yang dianggap remeh akan tetapi lahir darinya perkara yang mulia.”

Berikut beberapa permasalahan yang sering ditanyakan berkenaan dengan istikharah:
1.    Apakah boleh istikharah dengan doa selain doa di atas atau dengan bahasa Indonesia?
Jawab: Jabir bin Abdillah radhiallahu anhu berkata dalam hadits di atas, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam mengajari kami istikharah dalam setiap urusan yan kami hadapi sebagaimana beliau mengajarkan kami suatu surah dari Al-Qur’an.”
Ucapan ini menunjukkan bahwa dalam istikharah seseorang hanya boleh membaca doa di atas sesuai dengan konteks aslinya, tidak boleh ada penambahan dan tidak boleh juga ada pengurangan. Hal itu karena Nabi shallallahu alaihi wasallam menyerupakan pengajaran istikharah seperti pengajaran surah Al-Qur`an. Maka sebagaimana suatu ayat dalam Al-Qur`an tidak boleh ditambah atau dikurangi atau dirubah maka demikian halnya dengan doa istikharah. Karenanya tidak boleh berdoa dengan membaca terjemahannya semata, tapi dia harus membacanya sebagaimana Nabi mengajarkannya.
Barangsiapa yang berdoa dengan terjemahannya maka dia tidak teranggap melakukan istikharah, akan tetapi dia hanya dianggap sedang berdoa kepada Allah. Hal ini telah diisyaratkan oleh Muhammad bin Abdillah bin Al-Haaj Al-Maliki rahimahullah dalam Al-Madkhal (4/37-38)

2.    Apakah boleh langsung berdoa dengan doa di atas tanpa melakukan shalat sebelumnya?
Jawab: Wallahu a’lam, yang nampak bahwa 2 rakaat dengan doa ini merupakan satu kesatuan dalam istikharah. Karenanya barangsiapa yang hanya berdoa tanpa mengerjakan shalat maka dia tidak dianggap mengerjakan istikharah yang tersebut dalam hadits ini. Walaupun dia tetap dianggap sebagai orang yang berdoa kepada Allah.
Akan tetapi jika dia ada uzur dalam mengerjakan shalat -misalnya wanita yang tengah haid atau nifas-, maka dia boleh langsung berdoa dan itu sudah dianggap sebagai istikharah karenanya adanya uzur untuk tidak mengerjakan shalat. Ini merupakan mazhab Al-Hanafiah, Al-Malikiah, dan Asy-Syafi’iyah.
Imam An-Nawawi berkata dalam Al-Adzkar hal. 112, “Jika dia tidak bisa mengerjakan shalat karena ada uzur, maka hendaknya dia cukup beristikharah dengan doa.”

3.    Apakah dua rakaat ini merupakan shalat khusus, ataukah berlaku untuk semua shalat sunnah dua rakaat?
Jawab: Lahiriah hadits menunjukkan ini merupakan shalat dua rakaat khusus dengan niat untuk istikharah. Hanya saja jika seseorang shalat sunnah rawatib dengan niat rawatib sekaligus niat istikharah (menggabungkan niat), maka itu sudah cukup baginya dan dia sudah boleh langsung berdoa setelahnya.
Al-Hafizh Ibnu Hajar berkata, “Jika dia meniatkan shalat itu dengan niatnya dan dengan niat shalat istikharah secara bersamaan (menggabungkan niatnya, pent.) maka shalatnya itu sudah syah dianggap sebagai istikharah, berbeda halnya jika dia tidak meniatkannya (sebagai shalat istikharah).” (Fath Al-Bari: 11/221)
Sekedar menguatkan isi hadits, bahwa dua rakaat yang dimaksud haruslah merupakan shalat sunnah. Karenanya shalat subuh tidak bisa diniatkan sebagai shalat istikharah karena dia merupakan shalat wajib.

4.    Adakah surah khusus yang disunnahkan untuk dibaca dalam shalat istikharah?
Jawab: Al-Hafizh Al-Iraqi rahimahullah berkata, “Saya tidak menemukan sedikitpun dalam jalan-jalan hadits istikharah adanya penentuan surah tertentu yang dibaca di dalamnya.” (Umdah Al-Qari`: 7/235)
Inilah pendapat yang benar karena tidak ada satupun dalil yang menunjukkan adanya surah tertentu yang lebih utama dibaca dalam shalat istikharah. Sementara tidak boleh menentukan lebih utamanya suatu surah dibandingkan yang lainnya dari sisi bacaan kecuali dengan dalil yang shahih.

5.    Bagi yang tidak menghafal doanya, apakah dia bisa membacanya dari sebuah buku?
Jawab: Yang jelas, yang pertama kita katakan: Hendaknya dia berusaha semaksimal mungkin untuk menghafalnya.
Jika dia tidak sanggup, maka Allah tidak membebani seseorang kecuali dengan kemampuannya. Dalam keadaan seperti ini dia diperbolehkan membaca doa ini dengan melihat kepada kitab atau catatannya. Al-Lajnah Ad-Da`imah menjawab ketika diajukan pertanyaan yang senada dengan di atas, “Jika engkau menghafal doa istikharah atau engkau membacanya dari kitab, maka tidak ada masalah. Hanya saja kamu wajib bersungguh-sungguh dalam berkonsentrasi dan khusyu’ kepada Allah serta jujur dalam berdoa.” (Fatawa Al-Lajnah Ad-Da`imah: 8/161)

6.    Bolehkah shalat istikharah pada waktu yang terlarang shalat?
Jawab: Jika shalat istikharahnya masih bisa ditunda hingga keluar dari waktu yang terlarang maka inilah yang lebih utama dia kerjakan. Akan tetapi shalat istikharah ini tidak bisa diundur atau dia butuhkan saat itu juga, maka dia boleh mengerjakannya saat itu juga walaupun pada waktu yang terlarang. Karena jika shalat istikharah itu dibutuhkan secepatnya, maka jadilah dia shalat sunnah yang disyariatkan karena adanya sebab, sementara sudah dimaklumi bahwa waktu-waktu terlarang shalat ini tidak berlaku pada shalat-shalat sunnah yang mempunyai sebab, seperti tahiyatul masjid, shalat sunnah wudhu, dan semacamnya.
Bolehnya shalat sunnah yang mempunyai sebab dikerjakan pada waktu-waktu terlarang merupakan mazhab Imam Asy-Syafi’i dan sebuah riwayat dari Imam Ahmad, serta pendapat yang dikuatkan oleh Syaikhul Islam Ibnu Taimiah. (Lihat Majmu’ Al-Fatawa: 23/210-215)

7.    Apa yang dia lakukan setelah istikharah?
Jawab: Sebelumnya butuh diingatkan bahwa sebelum melakukan istikharah hendaknya dia mengosongkan hatinya dari kecondongan kepada salah satu urusan dari dua urusan yang dia akan mintai pilihan (tidak berpihak kepada satu pilihan). Akan tetapi hendaknya dia melepaskan diri dari semua pilihan tersebut dan betul-betul pasrah menyerahkan nasibnya dan pilihannya kepada Allah Ta’ala.
Imam Al-Qurthuby berkata, “Para ulama menyatakan: Hendaknya dia mengosongkan hatinya dari semua pikiran (berkenaan dengan urusan yang akan dia hadapi) agar hatinya tidak condong kepada salah satu urusan (sebelum dia istikharah).” (Al-Jami’ li Ahkam Al-Qur`an: 13/206)
Kemudian, setelah dia melakukan istikharah, maka hendaknya dia memilih untuk mengerjakan apa yang hendak dia lakukan dari urusan yang tadinya dia minta pilihan padanya. Jika urusan itu merupakan kebaikan maka insya Allah Allah akan memudahkannya dan jika itu merupakan kejelekan maka insya Allah Allah akan memalingkannya dari urusan tersebut.
Muhammad bin Ali Az-Zamlakani rahimahullah berkata, “Jika seseorang sudah shalat istikharah dua rakaat untuk suatu urusan, maka setelah itu hendaknya dia mengerjakan urusan yang dia ingin kerjakan, baik hatinya lapang/tenang dalam mengerjakan urusan itu ataukah tidak, karena pada urusan tersebut terdapat kebaikan walaupun mungkin hatinya tidak tenang dalam mengerjakannya.” Dan beliau juga berkata, “Karena dalam hadits (Jabir) tersebut tidak disebutkan adanya kelapangan/ketenangan jiwa.” (Thabaqat Asy-Syafi’iah Al-Kubra: 9/206) Maksudnya: Dalam hadits Jabir di atas tidak disebutkan bahwa hendaknya dia mengerjakan apa yang hatinya tenang dalam mengerjakannya, wallahu a’lam.
Karenanya, termasuk khurafat adalah apa yang diyakini oleh sebagian orang bahwa: Siapa yang sudah melakukan istikharah maka dia tidak melakukan apa-apa hingga mendapatkan mimpi yang baik atau mimpi yang akan mengarahkannya dan seterusnya. Ini sungguh merupakan perbuatan orang yang jahil tatkala dia menyandarkan urusannya pada sebuah mimpi, wallahul musta’an.

8.    Jika hatinya masih ragu-ragu atau hatinya belum mantap dalam mengerjakan urusan yang tadinya dia sudah beristikharah untuknya. Apakah dia boleh mengulangi shalat istikharahnya?
Jawab: Boleh berdasarkan beberapa dalil di antaranya:
1.    Istikharah merupakan doa, dan di antara kebiasaan Nabi shallallahu alaihi wasallam dalam berdoa adalah mengulanginya sebanyak tiga kali.
Hadits ini kami bawakan bukan untuk menunjukkan shalat istikharah diulang sebanyak tiga kali, akan tetapi hanya untuk menunjukkan bolehnya mengulangi doa.
2.    Shalat istikharah adalah shalat yang disyariatkan karena adanya sebab. Karenanya, selama sebab itu masih ada dan belum hilang maka tetap disyariatkan mengerjakan shalat ini.
Inilah yang dipilih oleh sejumlah ulama di antanya: Imam Badruddin Al-Aini dalam Umdah Al-Qari` (7/235), Ali Al-Qari dalam Mirqah Al-Mafatih (3/406), dan Imam Asy-Syaukani dalam Nailul Authar (3/89).

9.    Haruskah shalat istikharah dikerjakan di malam hari?
Jawab: Dalam hadits di atas tidak ada keterangan waktu pengerjaannya. Karena shalat ini bisa dikerjakan kapan saja baik siang maupun malam hari. Barangsiapa yang meyakini shalat ini hanya bisa dikerjakan di malam hari maka keyakinannya ini keliru. Walaupun tentunya jika dia mengerjakannya pada waktu-waktu dimana doa mustajabah -seperti antara azan dan iqamah, sepertiga malam terakhir, dan seterusnya-, maka itu lebih utama.

Demikian beberapa pertanyaan yang sempat hadir dalam ingatan kami, jika ada pertanyaan lain silakan dituliskan pada kolom komentar.

[Rujukan utama: Kasyf As-Sitarah 'an Shalah Al-Istikharah]

Incoming search terms:

  • shalat istikharah
  • sholat istikharah
  • doa istikharah
  • istikharah
  • setelah istikhoroh hati masih ragu
Share and Enjoy:
  • Print
  • Digg
  • StumbleUpon
  • del.icio.us
  • Facebook
  • Yahoo! Buzz
  • Twitter
  • Google Bookmarks

This entry was posted on Wednesday, April 21st, 2010 at 4:27 pm and is filed under Fiqh, Quote of the Day. You can follow any responses to this entry through the RSS 2.0 feed. Both comments and pings are currently closed.

19 responses about “Shalat Istikharah”

  1. Abu Muawiyah abu_muawiyah_amw@yahoo.co.id said:

    Bismillah bgmnJka stlh doaIstikharah(dlm bhs arab) trs doaPemintahan pilihan dlmBhs indonesia?apa boleh ust mohon penjlsn jazakallahukhairan

    Permintaan pilihannya itu yang disebutkan dalam doa istikharahnya, jadi tidak perlu disebutkan tersendiri.

  2. Abu Muawiyah abu_muawiyah_amw@yahoo.co.id said:

    Bismillah bgmn jka Utk doa Pilihan/keinginany dlm Bhs indonesia mohon Pnjlsny ust jazakallahukhairan

    Kalau dia berdoa dengan terjemahan dari doa istikharah di atas maka itu bukan teranggap istikharah yang syar’i, walaupun itu diperbolehkan. Jika dia ingin istikharah yang sesuai syariat maka hendaknya dia membaca teks arabnya walaupun melalui buku.

  3. Donny said:

    Ustadz mohon penjelasannya di mana saya meletakkan “urusan” yang saya ingin masukkan dalam do’a istikharah?

    Di antara atau sesudah kalimat apa dalam do’a istikharah tersebut?

    Ana masih sangat dho’if dalam Bahasa Arab. Takut nanti main nyelipin ‘aja jadinya salah dan maksud do’a istikharahnya gak kesampaian.
    Jazakallahu khairan

    Diletakkan sebagai pengganti ‘amra’, pada kalimat ‘haadzal amra’ jika urusan itu dalam bahasa arab adalah kata mudzakkar, atau ‘hadzihil ???’ jika urusan itu dalam bahasa arab dianggap sebagai kata mu`annats.

  4. imam said:

    Ustadz, ana masih kurang paham, ketika bacaan sampai ” haadzal amra ” kalo kita ganti dengan bahasa indonesia gmn ustadz, padahal doa itu di ucapkan ketika sebelum salam dalam sholat sunnat 2 rakaat setelah doa terhindar dari fitnah dajjal.
    Ato bgmn ustadz? karena ana tidak bisa bahasa Arab.
    Misal saya ingin membeli handphone, atau memulai usaha, apakah boleh saya ganti dengan bahasa Indonesia pada lafadz ” hadzal amra ” mengingat ana tidak bisa bahasa arab?Atau cukup kita tetap bilang “hadzal amra” dan keperluan kita tidak dilafazkan hanya di batin saja, mengingat Allah Maha Tahu apa yang ada di dalam pikiran hamba -Nya.
    Syukron wa jazaakumullahu khoiro…

    Tidak boleh berbahasa selain arab di dalam shalat karena bisa membatalkan shalatnya.
    Doa istikharah ini dibaca setelah shalat sunnah 2 rakaat, karenanya jika dia tidak bisa bahasa arab maka dia boleh berdoa dengan terjemahannya.

  5. imam said:

    Ada pertanyaan lagi ustadz,
    1.Bolehkah menggabungkan 2 keperluan ato bahkan lebih dalam satu doa.
    Misal ana akan membeli mobil , pada saat yang bersamaan ana akan munjual motor , boleh kah menggabungkannya dlm satu doa ?
    2.’Afwn, masih ada musykilah,jadi ana hafal untuk doa istikharah namun ketika lafadz ” hadzal amra ” boleh kah ana ganti dengan bahasa indo ? mengingat ana kesulitan untuk mentranslate keperluan ana tadi ke bhs arab ?
    misal “Allahumma in kunta ta’lamu anna MEMBELI HANDPHONE khairul liy fiy diiniy ….” .
    Boleh kah ustadz?
    3. Cara berdoa istikharoh sesuai sunnah bgmn ustdz? Apakah dibenarkan mengangkat tangan dan kepala menengadahkan keatas ?
    Mohon jawabannya…, Syukron wa jazaakumullah khoiro

    1. Boleh saja jika dia sanggup menggabungkannya dalam bahasa arab dengan tidak mengakibatkan rusaknya struktur kalimat.
    2. Kalau dia tidak bisa bahasa arab, maka dia berdoa saja dengan bahasa Indonesia (terjemahannya), karena makna doanya juga tetap mengandung permintaan pilihan kepada Allah
    3. Disunnahkan mengangkat kedua tangan ketika berdoa, dan dalil-dalil masalah ini mencapai taraf mutawatir. Adapun menengadahkan kepala ke langit, maka wallahu a’lam apakah hal itu disunnahkan.

  6. jalal said:

    ustadz tanya bolehkah sholat istkharoh di wakilkan atau dikerjakan oleh orang lain untuk kita?

    Tidak boleh, shalat termasuk ibadah yang tidak boleh diwakilkan kepada siapapun.

  7. ahmad said:

    1)ustadz, ana masih kurang jelas, doa istikharah di atas di baca selepas memberi salam ato sebelum salam, iaitu sebaik sahaja bacaan tasyahud habis di baca? kalo sebelum salam, apa pantas ana memegang buku untuk membaca doa tersebut dalam bahasa arab karena ana masih ga mampu menghafal doa tersebut dalam bahasa arab, sedangkan saat itu ana belum habis sholat?

    2)”Sebelumnya butuh diingatkan bahwa sebelum melakukan istikharah hendaknya dia mengosongkan hatinya dari kecondongan kepada salah satu urusan dari dua urusan yang dia akan mintai pilihan (tidak berpihak kepada satu pilihan). Akan tetapi hendaknya dia melepaskan diri dari semua pilihan tersebut dan betul-betul pasrah menyerahkan nasibnya dan pilihannya kepada Allah Ta’ala.” gimana ustadz kalo selepas istikharah kok ana masih sulit dalam membuat pilihan?

    jazaakumullohu khairan

    1. Doa dibaca setelah shalat.
    2. Jika dia masih bimbang, dia boleh mengulangi shalat istikharahnya sampai dia merasa yakin.

  8. afriandi said:

    bismillah, ustadz mohon dikoreksi
    Allahumma inniy astakhiiruka bi ‘ilmika wa astaqdiruka biqudratika wa as-aluka min fadhlikal ‘azhim, fainnaka taqdiru wa laa aqdiru wa ta’lamu wa laa (‘Abdullah ’lamu DG a’lamu) wa anta ‘allaamul ghuyuub. Allahumma in kunta ta’lamu anna haadzal amru khairul liy fiy diiniy wa (aku DG dihapus) ma’aasyiy wa (‘aafiyati DG ‘Aaqibati) amriy” atau; ‘Aajili amriy wa aajilihi faqdurhu liy wa yassirhu liy tsumma baarik liy fiihi. Wa in kunta ta’lamu anna haadzal amru syarrul liy fiy diiniy wa ma’aasyiy wa (‘aafiyati DG ‘Aaqibati) amriy” aw qaola; fiy ‘aajili amriy wa aajilihi fashrifhu ‘anniy washrifniy ‘anhu waqdurliyl khaira haitsu kaana tsummar dhiniy

    ??? ana nggak paham

  9. Nurul said:

    asalamualaikum wr wbt

    Ustaz, saya ingin bertanya. Jika seseorang itu telah solat istikharah dan kemudian telah membuat keputusan berkenaan perkara yang ingin dipohon itu adakah dia perlu terus menerus melaksanakan solat sunat istikarah itu?

    misalnya si A telah mengambil keputusan untuk bertunang dengan B, setelah bertunang, dalam tempoh pertunangan itu perlukah dia melaksanakan istikharah?

    Waalaikumussalam warahmatullah.
    Selama dia masih ragu dan belum yakin, maka dia boleh mengulangi shalat istikharahnya sampai dia yakin.

  10. Asep said:

    Assalamualaikum Ustadz,

    saya ingin bertanya, apabila kita sedang ditimpa masalah (tentang perjodohan) sedangkan kita telah melakukan shalat Istikharah namun hati kita masih tetap saja condong pada keputusan seperti sebelum melakukan shalat.

    Bagaimana kita tahu bahwa itu adalah petunjuk dari Allah (hasil dari shalat Istikharah)atau bukan??

    Waalaikumussalam.
    Kalau dia sudah yakin pada suatu keputusan maka dia jalani dengan tawakkal dan penuh percaya kepada Allah. Tanpa harus memikirkan apakan ini sudah betul petunjuk dari Allah atau tidak. Yakinlah bahwa Allah Ta’ala tidak menghendaki kesusahan bagi hamba-hambaNya.

  11. nurdiyon said:

    Assalamu’alaykum wr wb

    Mohon maaf ustadz, ana mohon izin untuk meng-copy paste-nya

    Jazakumullah khayr

  12. momo said:

    ustad saya perna melakukan istikhara dan hasilnya ya saya setuju dengan ajakan si cowo untuk menikahi saya tapi lama-kelamaan saya ragu trus saya istikhara lagi sampai berulang ulang hasilnya malah saya bingung apa lagi sekarang kami ada masalah dan jarang sekali saling menghubungi sehabis istikhara saya perna mimpi manggilin dia trus dia nggak perna jawab malah dia asyik dengan cewek lain tapi saya pasrah aja apa jadinya saya terus aja istikhara tapi yang ada di pikiran saya sekarang ini kalau dia mau ayo kalau tidak jga nggak apa-apa tapi saya pengen bangat tau apa kah dia jodoh saya atau tidak ?

    Tidak ada seorangpun manusia yang bisa mengetahui siapa jodohnya sampai semua itu terjadi, karena itu termasuk takdir yang Allah rahasiakan. Maka setelah istikharah, tinggal dia jalani apa yang membuatnya yakin. Insya Allah itulah yang terbaik baginya.

  13. Shalat Istikharah « HF's Site said:

    [...] al-atsariyyah.com Share this / Bagikan:FacebookTwitterEmailPrintLike this:SukaBe the first to like this post. Tinggalkan sebuah Komentar [...]

  14. Ruina said:

    aslkm wr wb ustad..
    sblmnya di atas ustad menyebutkan bahwa solat istikharah tidak boleh diwakilkan atau dikerjakan oleh orang lain untuk kita karena solat termasuk ibadah yang tidak boleh diwakilkan kepada siapapun, apakah it berarti klo misalnya orang tua saya ingin melihat apakah saya nanti bisa berjodoh dg pasangan saya itu juga tidak boleh melakukan solat istikharah?? lalu apabila hasil solat istikharah yang dilihat oleh orang tua saya adalah buruk karena mimpi yang digambarkan bukan tafsir yang baik, bagaimana?? apakah memang ada tafsir mimpi dari solat istikharah, yg dicritakan orang tua saya adalah yang bagus itu bila ditunjukkan dengan matahari atau bulan?? mohon jawabannya…
    trima kasih
    wass wr wb

    Wallahu a’lam, dibutuhkan dalil dalam masalah penafsiran mimpi, itupun ditafsirkan oleh seorang alim yang memang ahli dalam hal ini.

  15. opickaza said:

    makasih infonya tapi ttg pandangan ulama serta do’a do’anya gmn nih ustadz

    Maksudnya yang mana?

  16. Shalat Istikharah « catatanmms said:

    [...] http://al-atsariyyah.com/shalat-istikharah.html Share this:TwitterFacebookLike this:LikeBe the first to like this post. [...]

  17. Abu M. Pamungkas said:

    Yang dimaksud penanya #8 itu mungkin koreksi do’a yang dalam tulisan latinnya Ustadz, yakni:
    – ‘Abdullah’lamu padahal tulisan arabnya: ‘a’lamu
    – ma aku ma’aasyiy, dlm tulisan arabnya tdk ada kata aku
    – wa ‘aafiyati amriy, dlm tulisan arabnya: wa ‘aaqibati amriy
    Demikian yang saya tangkap Ustadz.

  18. aryasnawati said:

    aslkm wr wb ustad..
    saya sedang ada masalah,,,saya melakukan shalat Istikharah,tapi saya tidak bisa membacanya dengan arab,,apakah boleh saya ganti berdoa dengan terjemahannya.
    mohon jawabannya…
    trima kasih
    wass wr wb.

    Tidak mengapa insya Allah, karena doanya ini dilakukan setelah shalat, jadi tidak mengapa dengan menggunakan bahasa non arab.

  19. Yudha said:

    Assalamu’alaikum..
    Ustadz Doa apa saja yang harus di baca ketika setelah bacaan Al-Fatihah???
    Berapa lamakah ALLAH SWT memeberikan Isyarat melalui mimpi kpd Hamba-Nya yg melakukan Istikharah??

    Waalaikumussalam.
    Tidak ada tuntunan khusus, surah apa saja boleh.
    Wallahu a’lam. Tapi tidak selalu hal itu melalui mimpi.