Shalat di Kendaraan

December 20th 2009 by Abu Muawiah |

Shalat di Kendaraan

Tanya:
Assalamualaikum Wr.wb.
Saya kerja di Jl. Rs. Fatmawati Jaksel sedangkan rumah di Cakung Jaktim.
Pulang dari kantor naik angkutan (lebak bulus – Bekasi Timur-Cakung) sampai dirumah sekitar waktu shalat Isya, kadang lewat waktu Isya dan kadang sebelum Isya (jika bis tidak terlalu lama ngetem),
Saya biasanya shalat Magrib sambil duduk di angkutan kota dengan bertayamum, jika seandainya saya sampai dirumah 10 menit sebelum waktu Isya apakah saya harus ulangi lagi shalat Magrib dirumah?

“Indra Hadi” <indrahadi2000@yahoo.com>

Jawab:
Waalaikumussalam warahmatullah.
Sebelumnya kami katakan: Jika memungkinkan untuk antum turun dan mengerjakan shalat maghrib di masjid maka itu yang paling utama, karena dalam hadits riwayat Al-Bukhari dan Muslim disebutkan bahwa Rasulullah -shallallahu alaihi wasallam- tidak pernah mengerjakan shalat wajib di atas kendaraan.
Tapi jika tidak memungkinkan untuk turun -misalnya angkutannya lewat jalan tol atau faktor lainnya-, maka apa yang antum lakukan itu insya Allah sudah tepat yaitu shalat di dalam kendaraan sambil menghadap kiblat (jika memungkinkan) dan dalam keadaan duduk, dimana ruku’ dan sujudnya hanya dengan menundukkan kepala, sujud lebih rendah daripada ruku’.
Kemudian, jika antum sudah shalat maghrib di kendaraan dan ternyata bisa tiba di rumah sebelum isya maka shalatnya tidak perlu diulang insya Allah, karena antum sudah mengerjakannya beserta semua rukun dan wajib shalat (walaupun ada yang tidak sempurna), dan tidak ada dalil yang memerintahkan untuk mengulanginya.
Satu hal yang butuh diingatkan, sebaiknya antum berwudhu terlebih dahulu sebelum naik kendaraan baik di tempat kerja sebelum pulang atau yang lainnya, agar antum tidak bertayammum di dalam angkutan. Karena tayammum hanya boleh dilakukan ketika tidak ada air atau antum tidak bisa membeli air, sementara mungkin antum bawa air minum atau ada pedagang kaki lima yang menjual air minum di tempat ngetem. Kalau antum tidak berwudhu terlebih dahulu maka akan merepotkan antum karena harus membeli air untuk berwudhu, terlebih lagi kalau harus berwudhu di dalam angkutan. Ala kulli hal, tidak boleh bertayammum ketika masih ada air.
Jika antum sudah berwudhu sebelum naik tapi tiba-tiba di tengah perjalanan (ketika mobil sudah berjalan) wudhu antum batal dan antum tidak mempunyai air, maka kembali ke masalah asal: Jika antum bisa turun untuk berwudhu maka itu yang ditempuh dan jika tidak maka silakan shalat dengan tayammum di atas mobil, insya Allah itu tidak mengapa. Wallahu Ta’ala a’lam.

Incoming search terms:

  • shalat di kendaraan
  • tayammum di mobil
Share and Enjoy:
  • Print
  • Digg
  • StumbleUpon
  • del.icio.us
  • Facebook
  • Yahoo! Buzz
  • Twitter
  • Google Bookmarks

This entry was posted on Sunday, December 20th, 2009 at 8:32 am and is filed under Fiqh, Jawaban Pertanyaan. You can follow any responses to this entry through the RSS 2.0 feed. Both comments and pings are currently closed.

11 responses about “Shalat di Kendaraan”

  1. abidin said:

    Assalamualaikum
    Ustadz tolong dibahas tentang pro kontra waktu adzan subuh. Ada yang menyatakan : “semua Negara Islam tanpa terkecuali, ternyata tidak melaksanakan sholat subuh tepat pada waktunya”?!
    Waktu kumandang subuh sekarang ini lebih cepat 20-30 menit. ini menyalahi syariat, kata mereka.

    wa’alaikumussalam warahmatullah
    pertanyaan serupa pernah ditanyakan juga kepada ust Dzulqornain
    jawabannya bisa di donwload pada link berikut :
    http://www.4shared.com/file/146932570/a728382c/polemik_fajar_shodiq.html

  2. yosi nirmolo jogya austria said:

    hadis tentang nabi shalat wajib di kendaraan ada. sebaiknya ustas jgn suka bilang “tdk ada hadis nabi mengenai ini dan itu” karena pengetahuan ustas tdk mencakup semuanya. jadi hati2. silkan carai hadis mmengenai nabi shalat wajib di kendaraan ada kok.
    tayammum juga nggak perlu turun dari kendaraan untuk ambil wudhu. krn itu menyulitkan. ada kok dasar dalilnya ttg tayamum nabi padahal ada air.

    Maaf sebaiknya anda jangan suka mengada2, kami tidak pernah mengucapkan, “tdk ada hadis nabi mengenai ini dan itu”. Tapi yang kami katakan adalah, “karena dalam hadits riwayat Al-Bukhari dan Muslim disebutkan bahwa Rasulullah -shallallahu alaihi wasallam- tidak pernah mengerjakan shalat wajib di atas kendaraan.”
    Baca baik2 kembali artikelnya. Jadi peniadaan ini kami sandarkan kepada riwayat Al-Bukhari dan Muslim. Hadits ini berasal dari riwayat Ibnu Umar dimana beliau berkata, “Hanya saja beliau (Nabi) tidak pernah shalat wajib di atasnya (kendaraan).”
    Yang menafikan di sini adalah sahabat Nabi sendiri, Ibnu Umar. Lantas apa hubungannya anda dengan Nabi sehingga berani mengatakan Nabi pernah shalat wajib di atas kendaraan?
    Daripada pusing memikirkan hubungan anda dengan Nabi, kenapa tidak langsung saja sebutkan apa haditsnya, jangan hanya berani mengatakan, “hadis tentang nabi shalat wajib di kendaraan ada,” lalu anda suruh orang lain mencarinya. Itu asal bunyi namanya.
    Ala kulli hal, terima kasih atas nasehatnya, insya Allah kami akan berhati-hati setiap kali menukil sesuatu dari Nabi -shallallahu alaihi wasallam-
    Adapun tentang tayammum, kami juga katakan: Jangan hanya bisa mengatakan, “ada kok dasar dalilnya ttg tayamum nabi padahal ada air.” Langsung aja sebutkan, tidak usah muter-muter. Adapun kami, maka kami mempunyai dalil asal dalam masalah ini, “Jika kalian tidak mendapatkan air maka bertayammumlah dengan tanah yang baik.”
    Sebagai balas jasa atas nasehat anda maka kami juga menasehati anda agar jangan kelepasan ngomong dan sembarangan menyandarkan sesuatu kepada Nabi -shallallahu alaihi wasallam- tanpa ada dalil.

  3. islam dan ilmu pengetahuan said:

    makasih penjelasanya….
    bermanfaat sekali, apalagi bagi saya yang bepergian jauh 3 harian.
    saya mau tanya tentang sholat subuh di bus, bagaimana caranya?
    karna biasanya bus tidak berhenti ketika waktu subuh, mohon penjelasanya dikirim ke email saya…

    Dia usahakan untuk menghadap kiblat di awal kali shalat, kalau setelah itu berubah arah, maka sudah tidak bermasalah. Dia shalat sambil duduk dengan menjadikan gerakan sujudnya lebih rendah daripada ruku’nya. Jika dia mampu berwudhu maka dia berwudhu, dan jika tidak ada air maka bertayammum.

  4. Riareey said:

    Assalamualaykum wr wb.
    Ustadz, sy ingin brtanya, bgaimana tatacara shalat dlm kndaraan bagi wanita. Dlm hal ini wanita tsb berbusana dg clana pjg, jaket, dan kerudung saja.
    Saat it tdk ad mukena atau pakaian burka. Apakah shalat nya sah?
    Terimakasih.
    Wassalamualaykum wr wb

    Waalaikumussalam.
    Kalau memang tidak memungkinkan memakai yang lain sebelum habis waktunya maka insya Allah shalatnya syah. Tapi lain kali sebaiknya dia membawa sarung untuk menutupi bagian bawahnya sampai menutupi kaki.

  5. ali usman said:

    Assalamualaikum ww ustaz,saya mau nanya tentang niat sholat dikendaraan apakah sama dg niat solat dimesjid/dirumah. terimakasih

    Waalaikumussalam.
    Ya, sama. Tidak perlu diucapkan tapi cukup dalam hati.

  6. Abu Haafidz said:

    Bismillah
    ‘Afwan ustadz, ana pernah tanya kepada ustadz ??? di Jogja, bahwa sholat wajib harus dalam keadaan berdiri walaupun dalam kendaraan, karena berdiri itu merupakan rukun dalam sholat wajib. Mohon penjelasannya ustadz, jazaakumullahu khoiron.

    Ya kalau mampu. Kalau tidak mampu berdiri, maka Nabi shallallahu alaihi wasallam membolehkan sambil duduk. Dan jika tidak bisa maka dengan berbaring sambil berisyarat. Saya rasa masalahnya jelas.

  7. Atongadi said:

    Assalamu’alaikum Ustadz. Ma’af ya Ustadz, kayaknya komentar seperti tulisan Yosi gak perlu ditampilkan, karena selain sok tau komentarnya juga rada2 gak sopan gitu lho …

  8. anetta said:

    Ass..pak ustad,sy mau tanya apakah kalau kita sholat qobliah dan akan meneruskan sholat wajib nya,kita membaca lagi bacaan iftitah?.Terimakasih atas penjelasan nya.

    Ya, baca lagi.

  9. hilmi said:

    assalamualaikum. ustad.kalau shalat tahajud dalam bis bagaimana? karena saya kadang pergi malam hari hingga tiba di pagi shubuhnya…trims

    Waalaikumussalam.
    Ya, boleh saja.

  10. Yanuardi Hidayat said:

    Assalamu’alaykum.

    Afwan ustadz, diatas tertulis “Karena tayammum HANYA GUGUR ketika tidak ada air atau antum tidak bisa membeli air..”

    Mungkin maksudnya kalimat “hanya gugur” tersebut adalah “hanya boleh dilakukan”.

    Waalaikumussalam.
    Ya betul, itu salah tulis. Jazakallahu khairan atas koreksinya, sudah diralat.

  11. Manusia Sedang belajar said:

    Kita semua belajar dan tidak ada yang sempurna (kesempurnaan hanya milik ALLAH),ke alphaan sesama umat islam harus saling ditutupi oleh saudaranya, terima kasih ustadz atas pencerahannya sangat berguna bagi masyarakat jakarta yang sering terjebak macet (diwaktu pergantian sholat) dan dikejar oleh kesibukan pekerjaan dan tuntutan,ISLAM ITU INdah.