Serba-Serbi Hafalan Perawi

September 27th 2014 by Abu Muawiah |

Telah berlalu penjelasan mengenai jenis-jenis adh dhabthu beserta contohnya. Kemudian, juga perlu diingat oleh setiap orang yang membahas perawi, bahwa ada beberapa permasalahan lain yang juga berkenaan dengan adh dhabthu, yaitu permasalahan yang khusus berkenaan dengan keadaan para perawi yang kuat hafalannya.

Berikut kami bawakan secara ringkas, karena penjabaran permasalahan ini sebenarnya lebih tepat di dalam buku-buku yang lebih lengkap.

Di antaranya:

A. Ada sebagian perawi yang dhabith di satu waktu, namun tidak demikian di waktu yang lain.

Perawi seperti ini diistilahkan dengan nama mukhtalith (yang rusak hafalannya).

Contohnya:
1. Abdurrahman bin Abdillah al Mas’ùdi.
Seorang perawi yang tsiqah. Imam Ahmad berkata tentangnya, “Dia hanya mukhtalith di Bagdad. Karenanya, siapa saja yang mendengar hadits darinya di Kufah dan Basrah, maka haditsnya bagus.” (al ‘Ilal wa Ma’rifah ar Rijàl: 1/325)

2. ‘Àrim Abu an Nu’màn.
al Hafizh Abu Hatim berkata, “Secara umum, siapa saja yang mendengar hadits darinya sebelum tahun 220 H, maka haditsnya bagus.” (al Jarh wa at Ta’dìl: 8/58)
B. Di antara mereka ada yang dhàbith di satu daerah, namun tidak di daerah lainnya.
Contohnya:
Yazìd bin Hàrùn, al Hàfizh yang terkenal.
Saleh bin Ahmad membawakan ucapan ayahnya, Imam Ahmad, “Yazìd bin Hàrùn. Siapa saja yang mendengar hadits darinya di daerah Wàsith, maka itu lebih sahih daripada yang mendengar hadits darinya di Bagdad. Karena ketika di Wàsith, setiap kali ada yang memperbaiki kekeliruan beliau, beliau selalu merujuk ke bukunya.” (Masàil al Imam Ahmad: 3/ no. 1605/181)

 

C. Di antara mereka ada yang dhàbith jika mendengar hadits dari penduduk negeri tertentu, namun tidak demikian jika dia mendengar hadits dari penduduk negeri lainnya.
Contohnya:
Ismàìl bin ‘Ayyàsy al Himshi.
al Hafizh Ibnu Rajab berkata, “Jika dia mendengar hadits dari para perawi yang berasal dari daerah Syam, maka haditsnya dari mereka jayyid (bagus). Dan jika dia mendengar hadits dari selain mereka, maka haditsnya mudhtharib (banyak pertentangan, penj.). Inilah yang ditunjukkan oleh ucapan para imam tentang beliau, di antaranya: Ahmad, Yahya, al Bukhari, dan Abu Zur’ah.” (Syarh ‘Ilal at Tirmizi: 3/773)
D. Di antara mereka ada yang dhàbith jika perawi yang meriwayatkan darinya adalah penduduk daerah tertentu, karena mereka menghafal dengan baik haditsnya. Namun tidak demikian dengan penduduk daerah lainnya, karena mereka tidak menghafal dengan baik haditsnya.
Contoh:
Zuhair bin Muhammad al Khurasàni al Makki. Seorang tsiqah yang terkenal.
al Hafizh Ibnu Rajab berkata tentangnya, “Kesimpulan hukum dari riwayat-riwayatnya adalah: Para perawi dari daerah Iraq meriwayatkan darinya hadits-hadits yang mustaqim (bagus). Dan semua haditsnya yang tersebut dalam kitab ash Shahih, maka itu berasal dari riwayat-riwayat mereka (perawi Iraq, penj.). Sementara para perawi dari daerah Syam meriwayatkan darinya riwayat-riwayat yang mungkar. Imam Ahmad dengan sangat keras telah mengingkari (keabsahan) riwayat-riwayat para perawi Syam darinya.” (Idem: 2/777)
E. Di antara mereka ada yang hanya dhàbith pada guru yang satu, namun tidak pada guru lainnya.

Dalam artian, dia hanya kuat hafalannya terhadap hadits sebagian guru-gurunya, tapi lemah pada hadits guru-gurunya yang lain.

Contoh:
1. Ja’far bin Burqàn al Jazari, seorang tsiqah yang masyhur.
Imam Ahmad berkata, “Ja’far bin Burqàn hanya dhàbith dalam hadits Maimun dan hadits Yazìd al A’sham. Sementara haditsnya dari az Zuhri mudhtharib (saling bertentangan) dan sering menyelisihi perawi lain.” (Idem: 2/791)

2. Muhammad bin Khàzim adh Dharìr Abu Muawiah, seorang tsiqah yang masyhur.
al Hafizh Ibnu Rajab berkata, “Abu Muawiah bukanlah perawi yang hafizh lagi mutqin (sangat kuat hafalannya, penj.) pada hadits Hisyàm bin Urwah. Dia hanya mutqin pada hadits al A’masy.” (Fath al Bari: 3/29 karya beliau)

Termasuk dalam kategori ini: Perawi yang asalnya dhabith dari guru-gurunya jika dia meriwayatkan dari mereka per individu. Namun jika dia menggabungkan 2 orang atau lebih gurunya dalam 1 sanad, maka dia adalah perawi yang dhaif.
Contoh:
1. Atha’ bin as Sa’ib, seorang perawi tsiqah lagi masyhur.
Imam Syu’bah berkata kepada Ibnu Ulayyah, “Jika Atha’ bin as Sa’ib membawakan kepadamu hadits dari 1 orang gurunya, maka dia tsiqah. Namun jika dia menggabungkan guru-gurunya, semisal mengatakan: “Zadzan, Maisarah, dan Abu al Bukhtari (menceritakan kepadaku),” maka jauhilah haditsnya, karena dia adalah orang tua yang sudah rusak hafalannya.” (Syarh ‘Ilal at Tirmizi: 2/813)

2. Laits bin Abi Sulaim.
al Hafizh ad Daraquthni berkata, “Orang yang komitmen dengan as sunnah, diriwayatkan hadits-haditsnya. Mereka hanya mengingkari haditsnya jika dia menggabungkan Atha’, Thawus, dan Mujahid.” (Idem: 2/814)
F. Sebagian mereka ada yang dhàbith hanya dalam disiplin ilmu tertentu, namum tidak pada disiplin ilmu lainnya.
Contoh:
1. Shadaqah bin Sahl.
Ibnu Abi Syaibah berkata, “Aku bertanya kepada Yahya bin Àdam tentang Shadaqah bin Sahl,” maka beliau menjawab, “Beliau adalah pakar dalam ilmu qiraat, namun bukan termasuk ahli hadits.”
(Masail Ibni Abi Syaibah no. 64/122)

2. Abu Bakr bin Ayyàsy al Kufi, seorang ahli hadits dan pakar qiraat.
al Hàfizh adz Dzahabi berkata setelah beliau mengutip ucapan sebagian ulama akan dhaifnya hadits Abu Bakr dari sebagian gurunya, seperti al A’masy.
Beliau berkata, “Aku berkata: Adapun keadaan dia dalam hal qiraat, maka dia sangat mapan dalam qiraat Ashim. Dia diselisihi oleh Hafsh dalam 500 huruf lebih dalam al Quran. Hafsh juga hujjah dalam qiraat, namun lemah dalam hadits.”
(Siyar A’làm an Nubalà’: 8/497)
Adapun kedua syarat salbi, yaitu tidak syadz dan tidak adanya illat (cacat tersembunyi, penj.), maka akan datang penjelasan mengenai keduanya dalam pembahasan ‘Syadz dan Mu’allal’.

Ucapan al Baiquni: (Dari perawi yang seperti itu pula)
Maksudnya: Seperti itu dalam hal ‘adalah dan sempurnanya dhabthu.

Ucapan beliau: (yang hafalan dan periwayatannya bisa dijadikan sebagai sandaran)
Ini adalah sifat perawinya. Dan hal ini diharuskan ada pada semua tabaqat (tingkatan) sanad, dari awal hingga akhirnya.

Kemudian, hadits shahih terbagi menjadi dua: Shahih li dzàtihi dan shahih li ghairihi.
Dan semua penjelasan sebelumnya adalah tentang shahih li dzàtihi.

Adapun shahih li ghairihi, maka dia adalah hadits hasan yang jumlah sanadnya berbilang.
al Hafizh Ibnu Hajar berkata dalam an Nukhbah (hal. 33), “Jika dhabtu perawinya ringan (tidak sempurna, penj.), maka itu adalah hadits hasan li dzàtihi. Dan jika jumlah sanadnya berbilang, maka haditsnya bisa dinyatakan shahih (li ghairihi).”

Share and Enjoy:
  • Print
  • Digg
  • StumbleUpon
  • del.icio.us
  • Facebook
  • Yahoo! Buzz
  • Twitter
  • Google Bookmarks

This entry was posted on Saturday, September 27th, 2014 at 1:35 pm and is filed under al Manzhumah al Baiquniah, Terjemah Kitab. You can follow any responses to this entry through the RSS 2.0 feed. Both comments and pings are currently closed.

Comments are closed.