Seputar Shalat Sunnah Fajar

April 5th 2010 by Abu Muawiah | Kirim via Email

20 Rabiul Akhir

Seputar Shalat Sunnah Fajar

Dari Aisyah radhiallahu anha dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, beliau bersabda:
رَكْعَتَا الْفَجْرِ خَيْرٌ مِنْ الدُّنْيَا وَمَا فِيهَا
“Dua rakaat (sebelum shalat) fajar (subuh) lebih baik daripada dunia dan seisinya.” (HR. Muslim no. 725)
Dari Aisyah radhiallahu anha dia berkata:
لَمْ يَكُنْ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَلَى شَيْءٍ مِنْ النَّوَافِلِ أَشَدَّ مِنْهُ تَعَاهُدًا عَلَى رَكْعَتَيْ الْفَجْرِ
” Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam tidak pernah sangat tekun mengerjakan suatu shalat sunnah sebagaimana tekunnya beliau mengerjakan shalat dua raka’at fajar”. (HR. Al-Bukhari no. 1169)
Hafshah Umul Mukminin radhiallahu anha dia berkata:
أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ إِذَا سَكَتَ الْمُؤَذِّنُ مِنْ الْأَذَانِ لِصَلَاةِ الصُّبْحِ وَبَدَا الصُّبْحُ رَكَعَ رَكْعَتَيْنِ خَفِيفَتَيْنِ قَبْلَ أَنْ تُقَامَ الصَّلَاةُ
“Jika muazzin selesai dari adzan shalat shubuh (kedua) dan subuhpun telah nampak, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam melakukan shalat dua rakaat yang ringan sebelum shalat ditegakkan.” (HR. Muslim no. 723)
Dari Qais bin Amr radhiallahu anhu dia berkata;
رَأَى رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلّمَ رَجُلًا يُصَلِّي بَعْدَ صَلَاةِ الصُّبْحِ رَكْعَتَيْنِ فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: صَلَاةُ الصُّبْحِ رَكْعَتَانِ. فَقَالَ الرَّجُلُ: إِنِّي لَمْ أَكُنْ صَلَّيْتُ الرَّكْعَتَيْنِ اللَّتَيْنِ قَبْلَهُمَا فَصَلَّيْتُهُمَا الْآنَ. فَسَكَتَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ
“Suatu ketika Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam pernah melihat seorang laki-laki yang mengerjakan shalat dua rakaat lagi setelah shalat subuh. Maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Shalat subuh itu hanya dua raka’at.” Laki-laki itu menjawab, “Sesungguhnya aku belum mengerjakan shalat (sunnah) dua raka’at yang diseharusnya dikerjakan sebelumnya, karena itu aku mengerjakannya sekarang ini.” Maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam diam.” (HR. Abu Daud no. 1267 dan dinyatakan shahih oleh Al-Albani dalam Al-Misykah: 1/329)
Dan diamnya Nabi shallallahu alaihi wasallam menunjukkan persetujuan beliau terhadapnya.

Penjelasan ringkas:
Selain dari keutamaan shalat sunnah fajar yang tersebut dalam kedua hadits Aisyah di atas, ada beberapa masalah lain yang diisyaratkan dalam dalil-dalil di atas:
1.    Shalat sunnah fajar ini dikerjakan setelah azan kedua dan sebelum iqamah dikumandangkan. Ini ditunjukkan secara tegas oleh hadits Hafshah di atas.
2.    Bolehnya mengqadha’ shalat sunnah sebelum subuh ini setelah dilaksanakannya shalat subuh. Dengan catatan bahwa dia memang tidak punya kesempatan atau ada uzur dia tidak mengerjakannya sebelum subuh. Adapun jika dia tidak punya uzur ketika meninggalkannya, atau dia punya kesempatan mengerjakannya sebelum subuh tapi dia tidak mengerjakannya, maka dia tidak diperbolehkan mengqadha’nya setelah shalat subuh.
3.    Dalam mengqadha’, bisa langsung dikerjakan setelah shalat subuh sebagaimana hadits Qais bin Amr di atas, dan bisa juga dikerjakan setelah berlalunya waktu terlarang shalat, yaitu setelah matahari agak meninggi.
4.    Hendaknya seorang alim, ketika dia melihat ada orang yang mengerjakan amalan yang lahiriahnya keliru atau tidak sesuai dengan apa yang diketahui selama ini, maka hendaknya dia memperjelas terlebih dahulu alasan orang tersebut mengerjakannya, agar dia tidak keliru dalam mengingkari.
6.    Diamnya Nabi shallallahu alaihi wasallam termasuk sunnah beliau yang bisa dijadikan sebagai dasar hukum penetapan syariat.

Share and Enjoy:
  • Print
  • Digg
  • StumbleUpon
  • del.icio.us
  • Facebook
  • Yahoo! Buzz
  • Twitter
  • Google Bookmarks

This entry was posted on Monday, April 5th, 2010 at 5:01 am and is filed under Fadha`il Al-A'mal, Fiqh, Quote of the Day. You can follow any responses to this entry through the RSS 2.0 feed. Both comments and pings are currently closed.

Comments are closed.