Seputar Niat Puasa

August 15th 2009 by Abu Muawiah |

Seputar Niat Puasa

Hukum Niat
Niat adalah rukun berpuasa sebagaimana pada seluruh ibadah. Nabi -Shallallahu alaihi wasallam- bersabda, “Sesungguhnya setiap amalan itu (syah atau tidaknya) tergantung dengan niatnya dan setiap orang akan mendapatkan apa yang dia niatkan.” (HR.Al-Bukhari dan Muslim dari Umar bin Al-Khaththab)
Niat dalam ibadah, baik wudhu, shalat, puasa dan selainnya tidak perlu dilafazhkan. Ibnu Taimiah -rahimahullah- berkata, “Mengucapkan niat (secara jahr) tidak diwajibkan dan tidak pula disunnahkan berdasarkan kesepakatan kaum muslimin.” (Majmu’ Al-Fatawa: 22/218-219) Dan dalam (22/236-237) beliau berkata, “Niat adalah maksud dan kehendak, sedangkan maksud dan kehendak tempatnya adalah di hati, bukan di lidah, berdasarkan kesepakatan orang-orang yang berakal. Walaupun dia berniat dengan hatinya (tanpa memantapkannya dengan ucapan, pen.), Maka niatnya syah menurut Imam Empat dan menurut seluruh imam kaum muslimin baik yang terdahulu maupun yang belakangan.” Maka sekedar bangunnya seseorang di akhir malam untuk makan sahur -padahal dia tidak biasa bangun di akhir malam-, itu sudah menunjukkan dia mempunyai maksud dan kehendak -dan itulah niat- untuk berpuasa.

Waktu Berniat
Diriwayatkan dengan sanad yang shahih dari Ibnu Umar dan Hafshah -radhiallahu anhuma- bahwa keduanya berkata:
“Barangsiapa yang tidak memalamkan niatnya sebelum terbitnya fajar maka tidak ada puasa baginya.” (HR. Abu Daud no. 2454, At-Tirmizi no. 730, An-Nasai (4/196), dan Ibnu Majah no. 1700)
Hadits ini disebutkan oleh sejumlah ulama mempunyai hukum marfu’, yakni dihukumi kalau Nabi yang mengucapkannya. Karena isinya merupakan sesuatu yang bukan berasal dari ijtihad dan pendapat pribadi.
Maka dari hadits ini jelas bahwa waktu niat adalah sepanjang malam sampai terbitnya fajar. Hadits ini juga menunjukkan wajibnya berniat dari malam hari dan tidak syahnya puasa orang yang berniat setelah terbitnya fajar. Ini adalah pendapat mayoritas Al-Malikiah, Asy-Syafi’iyah. dan Al-Hanabilah. Dan ini yang dikuatkan oleh Ibnu Qudamah, An-Nawawi, Ibnu Taimiah, Ash-Shan’ani dan Asy-Syaukani.

Catatan:
Kecuali kalau dia baru mendengar kabar hilal ramadhan di pagi hari, maka ketika itu hendaknya dia berpuasa dan puasanya syah, karena tidak mungkin bagi dia untuk kembali berniat di malam hari.
[Al-Mughni: 3/7, Al-Majmu’: 6/289-290, An-Nail: 4/196, dan Al-Muhalla no. 728]

Apakah Syah Berniat Di Awal Ramadhan Untuk Sebulan Penuh?
Pendapat yang menyatakannya syahnya adalah pendapat Zufar, Malik, salah satu riwayat dari Ahmad dan salah satu riwayat dari Ishaq.
Hal itu karena puasa ramadhan adalah satu kesatuan, sama seperti rangkaian ibadah haji yang cukup diniatkan sekali.
Sementara jumhur ulama berpendapat wajibnya berniat setiap malamnya berdalilkan hadits Hafshah dan Ibnu Umar di atas.
Mereka mengatakan: Karena jumlah malam dalam ramadhan adalah 29 atau 30 hari maka wajib untuk memalamkan niat pada tiap malam tersebut.
Yang kuat dalam masalah ini adalah pendapat yang pertama, dan ini adalah pendapat yang dikuatkan oleh Ibnu Taimiah dan Syaikh Ibnu Al-Utsaimin.
Akibat perbedaan pendapat ini nampak pada satu masalah yaitu:
Jika seorang yang wajib berpuasa pingsan atau tidur sebelum terbenamnya matahai dan baru sadar atau bangun setelah terbitnya fajar kedua. Maka menurut pendapat mayoritas ulama, dia tidak boleh berpuasa dan puasanya tidak syah walaupun dia berpuasa, sementara menurut pendapat yang kedua dia boleh berpuasa dan puasanya syah karena telah berniat di awal ramadhan.
Maka dari sini kami berkesimpulan bahwa yang kuat adalah pendapat yang pertama, yakni yang menyatakan bolehnya berniat di awal ramadhan untuk sebulan penuh, wallahu a’lam.
[Al-Mughni: 3/9, Al-Majmu’: 6/302, Kitab Ash-Shiyam: 1/198-199, Asy-Syarhul Mumti’: 6/369, dan At-Taudhih: 3/151]

Incoming search terms:

  • boleh tidak niat bayar puasa ramadhan setelah adzan subuh
Share and Enjoy:
  • Print
  • Digg
  • StumbleUpon
  • del.icio.us
  • Facebook
  • Yahoo! Buzz
  • Twitter
  • Google Bookmarks

This entry was posted on Saturday, August 15th, 2009 at 7:36 am and is filed under Fiqh. You can follow any responses to this entry through the RSS 2.0 feed. Both comments and pings are currently closed.

6 responses about “Seputar Niat Puasa”

  1. Abu Sufyan Manokwari said:

    Jazakumullah khair akh, ana dapat ilmu baru…jadi di bolehkan berniat puasa Ramadhan diawal untuk sebulan penuh.
    Namun bila puasanya terputus, misal karena safar atau sakit, apakah kita harus memperbaharui niat kita?

    Ia, kalau puasanya terputus maka dia harus memulai lagi niatnya, wallahu a’lam. Jazakumullahu khairan atas pertanyaannya. Hal ini lupa ditegaskan dalam pembahasan di atas.

  2. apep hilmi alfarizi said:

    saya mendapatkan sebuah keterangan dalam banyak kitab-kitab fikih assafi’iyyah,yang menyatakan bahwa bagi mereka yang lupa niat dalam puasa wajib terutama puasa ramadhan,atau ketiduran sehinggga tidak sempat berniat puasa,maka wajib baginya menahan untuk tidak membatalkan puasanya sampai waktunya/maghrib dan bagi dia wajib pula melaksanakan qodo,itulah keterangan yang saya temukan,bahkan banyak guru-guru saya ahli fikih yang memberikan pernyataan seperti itu….bagai mana menurut anda?….by apep tasikmalaya

    Memang ada perbedaan pendapat di kalangan ulama dalam masalah ini. Akan tetapi pendapat yang lebih tepat adalah dia boleh tidak berpuasa -karena memang dia tidak syah berpuasa-, walaupun tentunya tidak sepatutnya jika dia berbuka di depan orang yang berpuasa.

  3. uzan said:

    saya lupa niat puasa tp pas waktu adzan shubuh saya ingat dan saya langsung niat apa puasa saya batal ato tidak

    Niat itu di dalam hati dan tidak perlu diucapkan. Niat itu adalah kehendak, jadi kapan dia sudah berkehendak mau puasa maka itulah niatnya, dan dia sudah syah berpuasa.

  4. dani said:

    Bagaimana kalo kita lupa berniat puasa dimalam ramadhan, tetapi kita kan memaklumi bahwa selama ramadhan pasti kita berpuasa.
    Contoh riil : Malam kita tidur, sebelumnya pasti kita berniat untuk bangun sahur, tetapi kita ketiduran dan baru terbangun pukul 05.30 (sudah lewat waktu imsyak atau awal subuh), lalu kita berniat puasa ramadhan(tanpa makan sahur). Bagaimana hukumnya puasa kita ini ???
    Waktu imsyak 04.52,,, waktu subuh 05.02,,, waktu syuruk 06.02 >>> yang mana yang disebut waktu terbit fajar itu ?? sebagai batasan meletakkan niat puasa ramadhan..
    Terima kasih.. Wassalam….

    wa’alaikum salam warahmatullah.
    Kalau dari malam hari ia sudah meniatkan untuk berpuasa, maka puasanya sah walaupun ia belum bersahur, jika tidak maka tidak ada puasa baginya.
    waktu awal puasa adalah waktu adzan subuh, jika adzan subuh sudah kedengaran maka tidak boleh lagi untuk bersahur,
    terbit fajar yang dimaksud adalah waktu berkumandangnya adzan subuh(masuk waktu subuh), dan batasan meletakkan niat puasa ramadhan adalah adzan subuh.
    wa’alaikum salam warahmatullah. (MT)

  5. Ali said:

    assalamu’alaikum
    bagaimana dg hkm puasa seorang wanita yg br sadar klw di sudah suci di pg hrnya(genap 7hr), tp ia sdh memprediksikanyna dan menunggu saat sahur tp ktdrn?

    Waalaikumussalam.
    Jika di malam harinya dia berniat, maka insya Allah dia boleh berpuasa hari itu.

  6. maskhur said:

    Assalamualaikum. Saya mau bertanya. Jika pada malam hari kita sudah niat puasa, tetapi setelah niat dia melakukan onani, lalu dia terbangun sesudah sholat subuh dan tidak sahur. Apakah boleh melanjutkan puasa ?
    Wassalamualaikum

    Waalaikumussalam.
    Dia boleh berpuasa.