Seputar Haji dan Tata Caranya

November 9th 2010 by Abu Muawiah |

03 Dzulhijjah

Seputar Haji dan Tata Caranya

Dari Abdullah bin Abbas radhiallahu anhuma bahwa Nabi shallallahu alaihi wasallam bertemu sekelompok pengendara (yang tengah berhaji) lalu beliau bertanya:
مَنِ الْقَوْمُ؟ قالُوْا: اَلْمُسْلِمُوْنَ، فَقالوا: مَنْ أَنْتَ؟ قالَ: رسولُ اللهِ. فَرَفَعْتْ إِلَيْهِ امْرَأَةٌ صَبِياً فَقالَتْ: أَلِهَذا حَجٌّ؟ قالَ: نَعَمْ وَلَكِ أَجْرٌ
“Siapa kalian?” Mereka menjawab, “Kaum muslimin.” Mereka balik bertanya, “Siapa anda?” Beliau menjawab, “Rasul Allah.” Lalu ada seorang wanita mengangkat anak kecil lalu bertanya, “Apakah anak ini teranggap haji?” Beliau menjawab, “Ia dan untukmu pahala.” (HR. Muslim no. 1336)
Dari Abdullah bin Abbas radhiallahu anhuma dia berkata: Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda:
لاَ يَخْلُوَنَّ رَجُلٌ بِامْرَأَةٍ، وَلاَ تُسافِرِ امْرَأَةٌ إِلاَّ وَمَعَها مَحْرَمٌ. فَقالَ رَجُلٌ: يا رسولَ اللهِ إِنِّي اكْتَتَبْتُ فِي غَزْوَةِ كَذا وَكَذا وَخَرَجَتِ امْرَأَتِي حَاجَّةً؟ فَقالَ: اِذْهَبْ فَاحْجُجْ مَعَ امْرَأَتِكَ
“Jangan sekali-kali seorang lelaki berduaan dengan seorang wanita dan jangan seorang wanita melakukan safar kecuali bersama mahramnya.” Lalu ada seorang lelaki yang bertanya, “Wahai Rasulullah, sesungguhnya saya sudah tercatat untuk mengikuti perang ini dan itu, sementara istriku keluar melakukan haji.” Maka beliau menjawab, “Pergilah lalu berhajilah bersama istrimu.” (HR. Muslim no. 1341)

Penjelasan ringkas:
Haji anak yang belum balig adalah syah dan pahalanya juga didapatkan oleh orang yang menghajikannya. Hanya saja haji anak kecil ini belum menggugurkan kewajibannya setelah dia dewasa. Hal itu karena di antara syarat wajib haji adalah balig sementara anak kecil ini belum balig, sehingga dia belum dianggap melakukan kewajiban haji. Karenanya setelah balig dia masih dituntut untuk mengerjakan haji untuk menggugurkan kewajibannya.

Selain kemampuan ilmu, kesehatan, dan biaya dalam haji, wanita mempunyai satu tambahan lain dalam masalah kemampuan, yaitu adanya mahram yang menemani. Karenanya walaupun ketiga kemampuan pertama telah dia miliki akan tetapi dia tidak mempunyai mahram untuk mengantarnya haji maka dia dianggap belum mampu sehingga dia belum wajib melakukan haji. Kapan dia memaksa haji tanpa mahram maka dia telah melakukan dosa yang sangat besar walaupun hajinya syah tapi dibenci. Karenanya, termasuk kemungkaran di zaman ini adalah berangkatnya jamaah haji wanita tanpa mahram. Dan pihak yang berwenang pun turut andil dalam dosa ini dimana mereka menjadikan mahram sementara/mahram haji bagi wanita yang tidak mempunyai mahram. Padahal sungguh perbuatan mereka ini adalah perbuatan mempermainkan syariat, baik mereka sadari maupun tidak. Dan kalau safar dengan niat ibadah saja dilarang jika wanita itu berangkat tanpa mahram, apalagi kalau hanya untuk tujuan dunia atau untuk tujuan agama yang derajatnya di bawah haji.

Adapun tata cara dan urutan amalan dalam haji, maka bisa didownload di artikel ‘Download Manasik Ringkas Haji dan Umrah’, sementara gambarnya bisa didownload di sini: http://www.ziddu.com/download/14472631/hajj_guide.jpg.html

Share and Enjoy:
  • Print
  • Digg
  • StumbleUpon
  • del.icio.us
  • Facebook
  • Yahoo! Buzz
  • Twitter
  • Google Bookmarks

This entry was posted on Tuesday, November 9th, 2010 at 8:18 am and is filed under Download, Fadha`il Al-A'mal, Fiqh, Muslimah, Quote of the Day, Seputar Anak. You can follow any responses to this entry through the RSS 2.0 feed. Both comments and pings are currently closed.

Comments are closed.