Sebab-Sebab Munculnya Terorisme (Dasar-Dasar Pokok Manhaj Terselubung Bag-4)

March 4th 2011 by Abu Muawiah |

Sebab-Sebab Munculnya Terorisme (Dasar-Dasar Pokok Manhaj Terselubung Bag-4)

Empat : Mendukung dan memuji aksi-aksi terorisme.

Dasar keempat ini merupakan ciri mereka yang sangat pokok, walaupun sebagian dari mereka kadang tidak menampakkan dukungan tersebut di depan khalayak umum. Namun pembicaraan dan fatwa-fatwa mereka di majelis khusus atau di kalangan mereka sendiri secara lisan maupun tulisan sangat mendukung dan menganjurkan hal tersebut.

Dan setelah kejelasan dari keterangan-keterangan yang telah lalu, kami tegaskan bahwa munculnya aksi-aksi terorisme buah dari pemikiran yang diyakini oleh para pelakunya merupakan bagian dari agama. Dan tiga dasar pokok dari manhaj terselubung yang telah kita sebutkan adalah beberapa tahapan yang membuahkan dasar keempat ini. Sebab berdasarkan penelitian sejarah terhadap berbagai kejadian dan fitnah yang telah terjadi dan apa yang kita saksikan pada masa sekarang ini, ternyata peledakan dan aksi-aksi terorisme tersebut tidak keluar dari tiga tahapan,

Tahapan pertama : Membuat manusia lari dan meninggalkan para ulama dan keluar dari keta’atan kepada penguasa.

Tahapan kedua : Pengkafiran.

Tahapan ketiga : Peledakan dan penghancuran[1].

Berikut ini perhatikan bagaimana para tokoh hizbiyah terselubung ini mendukung dan menyeru untuk melakukan aksi-aksi terorisme.

Dan kepada mereka yang masih tertipu oleh Sayyid Quthub, baca bagaimana rencana dan usaha-usahanya untuk membuat peledakan dan kerusakan di muka bumi. Dalam kitabnya Limâdzâ A’damûnî hal. 48-49, Sayyid Quthub menceritakan sebagian majelisnya berkaitan dengan masalah pelatihan dan persenjataan.

Dan di hal. 50-52, Sayyid menerangkan, “…Dan adapun yang berkaitan dengan masalah persenjataan, pembahasannya terdapat dua sisi,

Pertama : Mereka mengabarkan kepadaku –dan Majdi dialah yang menangani penjelesan tentang masalah ini- bahwa karena melihat sulitnya untuk mendapatkan suatu hal yang semestinya guna melakukan pelatihan, maka mereka telah melakukan berbagai usaha guna membuat sebagian bom-bom lokal. Dan beberapa percobaan telah berhasil dan telah dibuat sebagian bom, namun amatlah butuh untuk diperbaiki dan percobaan-percobaan tetap berlanjut…

Dua : ‘Ali ‘Isymâwy telah mengunjungi saya tanpa perjanjian dan ia mengabarkan kepadaku bahwa semenjak sekitar 2 tahun sebelum kami berjumpa ia telah meminta kepada seseorang yang berada di suatu negara Arab untuk mencari sejumlah persenjataan yang telah ia tentukan. Kemudian ia meninggalkan masalah tersebut pada waktu ini. Dan sekarang datang kepadanya berita bahwa persenjatan-persenjataan tersebut akan dikirim dan ia dalam jumlah yang sangat besar sekitar satu kontainer, ia akan dikirim melalui Sudan dengan perkiraan akan sampai dalam jangka dua bulan.[2]

Demikian keadaan Sayyid Quthub dan global gerakan Ikhwanul Muslimin. Perhatikan bagaimana mereka membuat makar yang sedemikian jahat untuk berbuat kerusakan di tengah kaum muslimin yang telah kafir menurut pandangan mereka. Sungguh ini adalah bahaya yang sangat besar terhadap seluruh kaum muslimin di segenap penjuru alam.

Dan salah seorang kutub dan tiang jama’ah pergerakan hizbiyah ini, yang biasa disebut dengan nama Abu A’lâ Al-Maudûdi, ia menyatakan, “Barangkali telah jelas bagi kalian dari tulisan-tulisan dan risalah-risalah kami, bahwa tujuan utama kami yang paling terakhir yang termaksud dari segala upaya yang kami sedang berjalan di atasnya, hanyalah untuk mengadakan penggulingan kepemimpinan. Dan maksud saya dengan hal tersebut bahwa sungguh yang sepantasnya untuk dicapai dan diraih dalam kehidupan dunia ini adalah meninggikan (baca : mensucikan) bumi dari najis-najis kepemimpinan dan kekuasaan orang-orang fasik dan fajir.[3]

Dan Salman Al-‘Audah ketika ditanya tentang masalah berangkat ke Afghanistan, ia menjawab, “Tidak diragukan bahwa berangkat ke Afghanistan untuk berlatih adalah perkara yang bagus pada segala keadaan. Adapun berangkat untuk berjihad, maka tidaklah pantas bagi seorang manusia untuk berangkat kecuali dengan izin orang tuanya. Kalau ia tidak diizinkan maka tidak boleh untuk berangkat.[4]

Para pembaca yang budiman, perhatikan anjuran Salman untuk berangkat ke Afghanistan untuk berlatih pada segala keadaan. Padahal telah banyak dari generasi muda kita yang berangkat ke sana untuk berlatih dan tidak kembali kecuali ia telah memendam sejumlah kebencian kepada ulama dan penguasa mereka, dan telah terjangkiti oleh paham takfiry, atau paling mendingnya, ia tidak mempunyainya aqidah dan manhaj yang kokoh. Demikianlah pemikiran yang rusak dan bejat akan senatiasa menghiasi ucapan dan perkataan seseorang tanpa ada rasa takut kepada Allah Rabbul ‘Âlamîn.

Perhatikanlah juga fatwa Salman bahwa berangkat berjihad hanya disyaratkan izin orang tua saja dengan melupakan suatu izin yang lebih wajib dari itu, yaitu izin dari pemerintah muslim di negaranya. Dan demikianlah para penganut paham khawarij yang sama sekali tidak melihat ada keta’atan terhadap penguasa muslim, apalagi meminta izin darinya.

Sungguh Allah telah mepermalukan orang ini, dimana pada kejadian Irak terakhir ini, anak kandungnya ditangkap di perbatasan untuk masuk ke Irak dalam rangka berjihad tanpa izin dari penguasanya dan menyelisihi para ulamanya. Dan Salman sendiri kadang pada sebagian wawancaranya tidak membenarkan hal tersebut. Namun begitulah kebiasaan dan hukuman yang terjadi pada orang-orang yang selalu berubah-rubah warna dalam agama, pasti akan dipermalukan dan tersingkap aibnya.

Safar Al-Hawaly lagi-lagi tidak mau ketinggalan, ia menyerukan untuk memberi maaf secara total bagi para pelaku teror yang merupakan buronan pemerintah yang menyerahkan dirinya dan ia mengakui bahwa kadang ia menerima telpon dari mereka[5].

Adapun Usamah bin Ladin, maka berceritalah sesuka hatimu. Teroris kelas kakap ini betul-betul bencana dan malapetakan terhadap kaum muslimin. Setiap kali ada aksi terorisme pasti ia mensyukurinya dan memuji para pelakunya sampai para teroris yang beroperasi di negeri Haraimain juga ia sanjung dengan penuh penghargaan dan penghormatan.

Demikian sedikit tentang masalah hizbiyah terselubung dan potensinya dalam melahirkan terorisme. Saya sangat berharap kepada para pembaca untuk memperhatikan pembahasan ini, sebab ia termasuk hal yang terpenting dalam masalah ini.


[1] Ceramah “Al-Marâhil Al-Mu`addiyah Ilat Tafjîr” oleh DR. Syaikh Sulaiman Ar-Ruhaily hafizhohullâh.

[2] Baca paham-paham terorisme Sayyid Quthub seperti di atas dalam penjelasan Syaikh Rabi bin Hady Al-Madkhaly dalam makalah beliau “Yabû’ul Fitan wal Ahdâts”.

[3] Al-Usus Al-Akhlâqiyah Lil-Harakitil Islâmiyah hal. 16. Dengan perantara Naz’atut Takfîr hal. 29 karya DR. Falâh Ismâ’il hafizhohullâh.

[4] Dari akhir kasetnya yang berjudul “Alaa Inna Nashrallâhi Qarîb”, dinukil dari kitab Al-Quthbiyah hal. 130-131.

[5] Disiarkan oleh TV Al-Jazerah dalam sebuah acara dengan judul “Tanpa Batasan” pada tanggal 5/11/2003. Baca selengkapnya dalam link http://www.sâhâb.net/sâhâb/shôwthreâd.php?s=15âee0d1695b05f41561cbd1c9ef45f9&threâdîd=305610

[sumber: http://jihadbukankenistaan.com/terorisme/sebab-sebab-munculnya-terorisme-dasar-dasar-pokok-manhaj-terselubung-bag-4.html]

Share and Enjoy:
  • Print
  • Digg
  • StumbleUpon
  • del.icio.us
  • Facebook
  • Yahoo! Buzz
  • Twitter
  • Google Bookmarks

This entry was posted on Friday, March 4th, 2011 at 7:34 am and is filed under Jihad dan Terorisme, Manhaj. You can follow any responses to this entry through the RSS 2.0 feed. Both comments and pings are currently closed.

Comments are closed.