Riya dan Sum’ah

September 24th 2014 by Abu Muawiah |

Bentuk Kedua: Syirik Ashghar yang Khafi (tersembunyi).

Bentuk ini ada 2 jenis:

Pertama: Riya.

Riya ada 2 hukumnya:
1. Syirik Akbar.
Yaitu riya yang dilakukan oleh kaum munafik. Sebagaimana firman Allah Ta’ala:

إِنَّ الْمُنَافِقِينَ يُخَادِعُونَ اللَّهَ وَهُوَ خَادِعُهُمْ وَإِذَا قَامُوا إِلَى الصَّلَاةِ قَامُوا كُسَالَىٰ يُرَاءُونَ النَّاسَ وَلَا يَذْكُرُونَ اللَّهَ إِلَّا قَلِيلًا

“Sesungguhnya orang-orang munafik itu menipu Allah, dan Allah akan membalas tipuan mereka. Dan apabila mereka berdiri untuk shalat mereka berdiri dengan malas. Mereka bermaksud riya (dengan shalat) di hadapan manusia. Dan tidaklah mereka menyebut Allah kecuali sedikit sekali.” (QS. An Nisa’: 142)

2. Syirik Kecil.
Seperti beribadah karena mengharapkan pujian orang lain, sehingga tujuan dia dalam beribadah adalah selain Allah. Dalam sebuah hadits disebutkan:

أخوفُ ما أخافُ عليكم الشركُ الأصغرُ. فسئل عنه فقال: الرياءُ

“Perkara yang paling saya takutkan menimpa kalian adalah syirik kecil.” Beliau ditanya tentang itu, maka beliau menjawab, “Riya.” (HR. Ahmad: 5/428 dengan sanad yang shahih)

* Adapun hukum ibadah yang bercampur dengan riya, maka ini ada 2 kondisi:
Pertama: Riya sudah ada sejak awal ibadah. Maksudnya: Dia tidak berdiri beribadah kecuali untuk alasan riya. Maka orang yang seperti ini, amalannya batal dan tertolak.

Kedua: Riya muncul di pertengahan ibadah. Maksudnya: Awalnya dia beribadah untuk Allah, tapi kemudian riya muncul belakangan. Orang yang mengalami ini mempunyai 2 keadaan:
1. Melawan riya tersebut. Maka riya itu tidaklah merusak amalannya.
2. Riya terus bersamanya. Maka yang seperti ini amalannya batal.

Hanya saja, apakah batalnya ini sebatas pada bagian ibadah yang dia riya di dalamnya, ataukah ibadahnya batal dari awal hingga akhirnya?

Jawabannya: Perlu diketahui bahwa ibadah dalam keadaan seperti ini ada 2 jenis:
Pertama: Ibadah yang akhirnya berkaitan dengan awalnya, dalam artian awalnya tidak syah jika akhirnya batal. Maka yang seperti ini, batal ibadahnya (dari awal hingga akhir, penj.).
Kedua: Awal ibadah terpisah dari akhirnya, dalam artian awalnya bisa saja syah namun akhirnya bisa jadi tidak syah. Maka yang seperti ini, bagian ibadah sebelum datangnya riya tetap syah, sementara bagian ibadah setelah datangnya riya dihukumi batal.

 

Jenis Kedua: Sum’ah
Semisal seseorang yang beribadah untuk Allah, kemudian orang-orang memuji dan mendengar ibadahnya. Belakangan, dia mengamalkan ibadah berikutnya dengan niat agar orang-orang memuji ibadahnya, sehingga tujuannya dalam beribadah adalah selain Allah.
Dalam sebuah hadits dari Nabi shallallahu alaihi wasallam bahwa beliau bersabda:

من سمع سمع الله به، ومن يرائ يرائ الله به

“Siapa saja yang berbuat sum’ah, maka Allah akan memperdengarkan aibnya. Dan siapa saja yang berbuat riya, maka Allah akan memperlihatkan aibnya.” (HR. al Bukhari dan Muslim)

Share and Enjoy:
  • Print
  • Digg
  • StumbleUpon
  • del.icio.us
  • Facebook
  • Yahoo! Buzz
  • Twitter
  • Google Bookmarks

This entry was posted on Wednesday, September 24th, 2014 at 1:20 pm and is filed under Nawaqidh al Islam, Terjemah Kitab. You can follow any responses to this entry through the RSS 2.0 feed. Both comments and pings are currently closed.

Comments are closed.