Rafidhah Mencela Aisyah Radhiallahu Anha

May 16th 2012 by Abu Muawiah |

Rafidhah Mencela Aisyah Radhiallahu Anha

Di antara kesesatan mereka adalah mereka menuduh (Aisyah) Ash-Shiddiqah -yang suci lagi disucikan dari tuduhan mereka- berbuat keji1 (baca: zina). Dan tuduhan ini sudah tersebar pada zaman ini di antara mereka, sebagaimana yang telah dinukil dari mereka. Padahal Allah Ta’ala berfirman:

إِنَّ الَّذِينَ جَاءُوا بِالْإِفْكِ عُصْبَةٌ مِنْكُمْ ۚ لَا تَحْسَبُوهُ شَرًّا لَكُمْ ۖ بَلْ هُوَ خَيْرٌ لَكُمْ ۚ لِكُلِّ امْرِئٍ مِنْهُمْ مَا اكْتَسَبَ مِنَ الْإِثْمِ ۚ وَالَّذِي تَوَلَّىٰ كِبْرَهُ مِنْهُمْ لَهُ عَذَابٌ عَظِيمٌ. لَوْلَا إِذْ سَمِعْتُمُوهُ ظَنَّ الْمُؤْمِنُونَ وَالْمُؤْمِنَاتُ بِأَنْفُسِهِمْ خَيْرًا وَقَالُوا هَٰذَا إِفْكٌ مُبِينٌ. لَوْلَا جَاءُوا عَلَيْهِ بِأَرْبَعَةِ شُهَدَاءَ ۚ فَإِذْ لَمْ يَأْتُوا بِالشُّهَدَاءِ فَأُولَٰئِكَ عِنْدَ اللَّهِ هُمُ الْكَاذِبُونَ. وَلَوْلَا فَضْلُ اللَّهِ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَتُهُ فِي الدُّنْيَا وَالْآخِرَةِ لَمَسَّكُمْ فِي مَا أَفَضْتُمْ فِيهِ عَذَابٌ عَظِيمٌ. إِذْ تَلَقَّوْنَهُ بِأَلْسِنَتِكُمْ وَتَقُولُونَ بِأَفْوَاهِكُمْ مَا لَيْسَ لَكُمْ بِهِ عِلْمٌ وَتَحْسَبُونَهُ هَيِّنًا وَهُوَ عِنْدَ اللَّهِ عَظِيمٌ. وَلَوْلَا إِذْ سَمِعْتُمُوهُ قُلْتُمْ مَا يَكُونُ لَنَا أَنْ نَتَكَلَّمَ بِهَٰذَا سُبْحَانَكَ هَٰذَا بُهْتَانٌ عَظِيمٌ. يَعِظُكُمُ اللَّهُ أَنْ تَعُودُوا لِمِثْلِهِ أَبَدًا إِنْ كُنْتُمْ مُؤْمِنِينَ. وَيُبَيِّنُ اللَّهُ لَكُمُ الْآيَاتِ ۚ وَاللَّهُ عَلِيمٌ حَكِيمٌ. إِنَّ الَّذِينَ يُحِبُّونَ أَنْ تَشِيعَ الْفَاحِشَةُ فِي الَّذِينَ آمَنُوا لَهُمْ عَذَابٌ أَلِيمٌ فِي الدُّنْيَا وَالْآخِرَةِ ۚ وَاللَّهُ يَعْلَمُ وَأَنْتُمْ لَا تَعْلَمُونَ. وَلَوْلَا فَضْلُ اللَّهِ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَتُهُ وَأَنَّ اللَّهَ رَءُوفٌ رَحِيمٌ. يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تَتَّبِعُوا خُطُوَاتِ الشَّيْطَانِ ۚ وَمَنْ يَتَّبِعْ خُطُوَاتِ الشَّيْطَانِ فَإِنَّهُ يَأْمُرُ بِالْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ ۚ وَلَوْلَا فَضْلُ اللَّهِ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَتُهُ مَا زَكَىٰ مِنْكُمْ مِنْ أَحَدٍ أَبَدًا وَلَٰكِنَّ اللَّهَ يُزَكِّي مَنْ يَشَاءُ ۗ وَاللَّهُ سَمِيعٌ عَلِيمٌ

Sesungguhnya orang-orang yang membawa berita bohong itu adalah dari golongan kamu juga. Janganlah kamu kira bahwa berita bohong itu buruk bagi kamu bahkan ia adalah baik bagi kamu. Tiap-tiap seseorang dari mereka mendapat balasan dari dosa yang dikerjakannya. Dan siapa di antara mereka yang mengambil bahagian yang terbesar dalam penyiaran berita bohong itu baginya azab yang besar. Mengapa di waktu kamu mendengar berita bohon itu orang-orang mukminin dan mukminat tidak bersangka baik terhadap diri mereka sendiri, dan (mengapa tidak) berkata: “Ini adalah suatu berita bohong yang nyata”. Mengapa mereka (yang menuduh itu) tidak mendatangkan empat orang saksi atas berita bohong itu? Oleh karena mereka tidak mendatangkan saksi-saksi maka mereka itulah pada sisi Allah orang-orang yang dusta. Sekiranya tidak ada kurnia Allah dan rahmat-Nya kepada kamu semua di dunia dan di akhirat, niscaya kamu ditimpa azab yang besar, karena pembicaraan kamu tentang berita bohong itu. (Ingatlah) di waktu kamu menerima berita bohong itu dari mulut ke mulut dan kamu katakan dengan mulutmu apa yang tidak kamu ketahui sedikit juga, dan kamu menganggapnya suatu yang ringan saja. Padahal dia pada sisi Allah adalah besar. Dan mengapa kamu tidak berkata, diwaktu mendengar berita bohong itu: “Sekali-kali tidaklah pantas bagi kita memperkatakan ini, Maha Suci Engkau (Ya Tuhan kami), ini adalah dusta yang besar”. Allah memperingatkan kamu agar (jangan) kembali memperbuat yang seperti itu selama-lamanya, jika kamu orang-orang yang beriman. dan Allah menerangkan ayat-ayat-Nya kepada kamu. Dan Allah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana. Sesungguhnya orang-orang yang ingin agar (berita) perbuatan yang amat keji itu tersiar di kalangan orang-orang yang beriman, bagi mereka azab yang pedih di dunia dan di akhirat. Dan Allah mengetahui, sedang, kamu tidak mengetahui. Dan sekiranya tidaklah karena kurnia Allah dan rahmat-Nya kepada kamu semua, dan Allah Maha Penyantun dan Maha Penyayang, (niscaya kamu akan ditimpa azab yang besar). Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengikuti langkah-langkah syaitan. Barangsiapa yang mengikuti langkah-langkah syaitan, maka sesungguhnya syaitan itu menyuruh mengerjakan perbuatan yang keji dan yang mungkar. Sekiranya tidaklah karena kurnia Allah dan rahmat-Nya kepada kamu sekalian, niscaya tidak seorangpun dari kamu bersih (dari perbuatan-perbuatan keji dan mungkar itu) selama-lamanya, tetapi Allah membersihkan siapa yang dikehendaki-Nya. Dan Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.” (QS. An-Nur: 11-21)

Allah Ta’ala juga berfirman:

إِنَّ الَّذِينَ يَرْمُونَ الْمُحْصَنَاتِ الْغَافِلَاتِ الْمُؤْمِنَاتِ لُعِنُوا فِي الدُّنْيَا وَالْآخِرَةِ وَلَهُمْ عَذَابٌ عَظِيمٌ. يَوْمَ تَشْهَدُ عَلَيْهِمْ أَلْسِنَتُهُمْ وَأَيْدِيهِمْ وَأَرْجُلُهُمْ بِمَا كَانُوا يَعْمَلُونَ. يَوْمَئِذٍ يُوَفِّيهِمُ اللَّهُ دِينَهُمُ الْحَقَّ وَيَعْلَمُونَ أَنَّ اللَّهَ هُوَ الْحَقُّ الْمُبِينُ. الْخَبِيثَاتُ لِلْخَبِيثِينَ وَالْخَبِيثُونَ لِلْخَبِيثَاتِ ۖ وَالطَّيِّبَاتُ لِلطَّيِّبِينَ وَالطَّيِّبُونَ لِلطَّيِّبَاتِ ۚ أُولَٰئِكَ مُبَرَّءُونَ مِمَّا يَقُولُونَ ۖ لَهُمْ مَغْفِرَةٌ وَرِزْقٌ كَرِيمٌ.

Sesungguhnya orang-orang yang menuduh wanita yang baik-baik, yang lengah lagi beriman (berbuat zina), mereka kena laknat di dunia dan akhirat, dan bagi mereka azab yang besar. Ppada hari (ketika), lidah, tangan dan kaki mereka menjadi saksi atas mereka terhadap apa yang dahulu mereka kerjakan. Di hari itu, Allah akan memberi mereka balasan yag setimpal menurut semestinya, dan tahulah mereka bahwa Allah-lah yang Benar, lagi Yang menjelaskan (segala sesutatu menurut hakikat yang sebenarnya). Wanita-wanita yang keji adalah untuk laki-laki yang keji, dan laki-laki yang keji adalah buat wanita-wanita yang keji (pula), dan wanita-wanita yang baik adalah untuk laki-laki yang baik dan laki-laki yang baik adalah untuk wanita-wanita yang baik (pula). Mereka (yang dituduh) itu bersih dari apa yang dituduhkan oleh mereka (yang menuduh itu). Bagi mereka ampunan dan rezeki yang mulia (surga).” (QS. An-Nur: 23-26)

Diriwayatkan oleh Abdurrazzaq, Ahmad, Abdu bin Humaid, Al-Bukhari, Ibnu Jarir, Ibnu Al-Mundzir, Ibnu Abi Hatim, Ibnu Mardawaih, dan Al-Baihaqi dalam Syu’ab Al-Iman dari Aisyah radhiallahu anha bahwa dirinyalah wanita yang dibersihkan namanya, yang dimaksudkan dalam ayat-ayat di atas2.

Said bin Manshur, Ahmad, Al-Bukhari, Ibnu Al-Mundzir, dan Ibnu Mardawaih dari Ummu Ruman radhiallahu anha bahwa Aisyah radhiallahu anha lah yang dibersihkan namanya, yang dimaksudkan dalam ayat-ayat di atas3.

Al-Bazzar dan Ibnu Mardawaih meriwayatkan dengan sanad yang hasan dari Abu Hurairah keterangan yang sesuai dengan apa yang telah lalu4.

Diriwayatkan dari Abdullah bin Az-Zubair keterangan yang sesuai dengan apa yang telah lalu5. Dan diriwayatkan dari Urwah bin Az-Zubair, Said bin Al-Musayyab, Alqamah bin Waqqash, Ubaidullah bin Abdillah bin Utbah bin Mas’ud, Amrah bintu Abdirrahman, Abdullah bin Abi Bakar bin Hazm, Abu Salamah bin Abdurrahman bin Auf, Al-Qasim bin Muhammad bin Abi Bakar, Al-Aswad bin Yazid, Abbad bin Abdillah bin Az-Zubair, Miqsam maula Ibnu Abbas, dan selain mereka dari Aisyah yang semisal dengannya.6

Dan keberadaan Aisyah sebagai wanita yang dibersihkan namanya dan yang dimaksudkan dalam ayat-ayat di atas sudah masyhur, bahkan mutawatir. Dan jika ini sudah kamu ketahui maka ketahuilah bahwa siapa saja yang menuduh beliau berbuat keji (baca: zina) padahal dia meyakini bahwa beliau adalah istri Rasulullah shallallahu alaihi wasallam dan bahwa beliau masih menjadi istri Nabi setelah perbuatan keji ini, maka sungguh dia telah mendatangkan kedustaan yang nyata, mendapatkan dosa, pantas mendapatkan siksaan, dan telah berprasangkan buruk kepada kaum mukminin. Dia adalah seorang pendusta yang datang dengan membawa suatu masalah yang menurutnya enteng, padahal masalah ini sangat besar di sisi Allah. Dia telah menuduh para penghuni rumah kenabian dengan kejelekan, dan tuduhan ini melazimkan dia telah melecehkan Nabi shallallahu alaihi wasallam. Padahal siapa saja yang melecehkan beliau, maka seakan-akan dia telah melecehkan Allah. Dan siapa saja yang melecehkan Allah dan Rasul-Nya maka sungguh dia telah kafir. Dengan perbuatannya ini, dia telah keluar dari golongan orang-orang yang keimanan, mengikuti langkah-langkah setan, terlaknat di dunia dan akhirat, dan mendustakan Allah pada firman-Nya Ta’ala:

وَالطَّيِّبَاتُ لِلطَّيِّبِينَ

Dan wanita-wanita yang baik adalah untuk laki-laki yang baik.” (QS. An-Nur: 26)

Dan siapa saja yang mendustakan Allah maka sungguh dia telah kafir.

Sementara siapa yang menuduh Aisyah radhiallahu anha dan dia meyakini bahwa ketika itu dia bukan istri Nabi shallallahu alaihi wasallam atau bukan lagi menjadi istri beliau setelah terjadinya kejadian keji ini, maka jika kita katakan bahwa: Telah pasti bahwa Aisyah lah yang dimaksudkan dalam ayat-ayat di atas -dan inilah yang nampak-, maka tuduhannya itu melazimkan semua keburukan yang telah disebutkan di atas.

Kesimpulannya: Menuduh Aisyah radhiallahu anha bagaimanapun bentuknya, maka itu menunjukkan dia telah menuduh Allah berdusta pada pengabaran-Nya tentang kesucian Aisyah dari tuduhan tersebut. Sebagian muhaqqiq berkata, “Adapun menuduh Aisyah sekarang maka itu adalah kekafiran dan kemurtadan, dan tidak cukup hanya dengan dicambuk. Hal itu karena dia telah mendustakan 17 ayat dalam kitab Allah sebagaimana yang telah lalu, karenanya dia dibunuh sebagai orang yang murtad. Nabi shallallahu alaihi wasallam hanya mencukupkan dengan mencambuk mereka -yakni: orang-orang yang menuduh Aisyah pada zaman beliau- sekali atau dua kali cambukan, karena ketika itu Al-Qur`an belum turun menjelaskan keadaan mereka, sehingga mereka tidak bisa dikatakan mendustakan Al-Qur`an. Adapun sekarang, maka perbuatan itu sudah merupakan pendustaan terhadap Al-Qur`an. Tidakkah kita perhatikan firman Allah Ta’ala:

يَعِظُكُمُ اللَّهُ أَنْ تَعُودُوا لِمِثْلِهِ

Allah memperingatkan kamu agar (jangan) kembali memperbuat yang seperti itu.” (QS. An-Nur: 17) sampai akhir ayat.

Sementara orang yang mendustakan Al-Qur`an kafir, dia tidak mendapatkan hukuman kecuali pedang dan dipenggal lehernya. Selesai7.

Hal ini tidak bertentangan dengan firman-Nya:

ضَرَبَ اللَّهُ مَثَلًا لِلَّذِينَ كَفَرُوا امْرَأَتَ نُوحٍ وَامْرَأَتَ لُوطٍ ۖ كَانَتَا تَحْتَ عَبْدَيْنِ مِنْ عِبَادِنَا صَالِحَيْنِ فَخَانَتَاهُمَا فَلَمْ يُغْنِيَا عَنْهُمَا مِنَ اللَّهِ شَيْئًا

Allah membuat isteri Nuh dan isteri Luth sebagai perumpamaan bagi orang-orang kafir. Keduanya berada di bawah pengawasan dua orang hamba yang saleh di antara hamba-hamba Kami; lalu kedua isteri itu berkhianat kepada suaminya (masing-masing), maka suaminya itu tiada dapat membantu mereka sedikitpun dari (siksa) Allah.” (QS. At-Tahrim: 10)

Hal itu karena Abdurrazzaw, Al-Firyabi, Said bin Manshur, Abdu bin Humaid, Ibnu Abi Ad-Dun-ya dalam Ash-Shumt, Ibnu Jarir, Ibnu Al-Mundzir, Ibnu Abi Hatim, Al-Hakim -dan dishahihkan olehnya- dari beberapa jalan dari Ibnu Abbas radhiallahu anhuma tentang firman Allah Ta’ala, “Lalu kedua isteri itu berkhianat kepada suaminya (masing-masing).”, “Adapun bentuk pengkhianatan istri Nuh adalah karena dia mengatakan kepada orang-orang kalau Nabi Nuh adalah gila. Sementara bentuk pengkhianatan istri Luth adalah dia memberitahu orang-orang akan kedatangan tamu suaminya. Inilah bentuk pengkhianatan mereka berdua8. Dan Ibnu Jarir meriwayatkan dari Mujahid, “Tidak pantas seorang wanita yang menjadi istri seorang nabi untuk berbuat kekejian.9” Maka siapa saja yang menuduh sang wanita suci lagi baik, ibu kaum mukminin, istri dari Rasulnya Rabbul alamin shallallahu alaihi wasallam di dunia dan akhirat -sebagaimana yang telah shahih dari beliau10-, maka dia sama dengan Abdullah bin Ubay bin Salul, pimpinan kaum munafik. Sementara keadaan Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda, “Wahai kaum muslimin, siapa yang membela saya dari orang yang mengganggu saya dengan mengganggu keluargaku?!11

إِنَّ الَّذِينَ يُؤْذُونَ اللَّهَ وَرَسُولَهُ لَعَنَهُمُ اللَّهُ فِي الدُّنْيَا وَالْآخِرَةِ وَأَعَدَّ لَهُمْ عَذَابًا مُهِينًا. وَالَّذِينَ يُؤْذُونَ الْمُؤْمِنِينَ وَالْمُؤْمِنَاتِ بِغَيْرِ مَا اكْتَسَبُوا فَقَدِ احْتَمَلُوا بُهْتَانًا وَإِثْمًا مُبِينًا.

Sesungguhnya orang-orang yang menyakiti Allah dan Rasul-Nya. Allah akan melaknatinya di dunia dan di akhirat, dan menyediakan baginya siksa yang menghinakan. Dan orang-orang yang menyakiti orang-orang yang mukmin dan mukminat tanpa kesalahan yang mereka perbuat, maka sesungguhnya mereka telah memikul kebohongan dan dosa yang nyata.” (QS. Al-Ahzab: 57-58)

Maka dimanakah para penolong agama beliau yang berani meneriakkan, “Kami akan membelamu wahai Rasulullah.” Lalu mereka berdiri seraya menyandang pedang-pedang mereka menuju orang-orang celaka tersebut, yang telah mendustakan Allah dan Rasul-Nya, serta mengganggu keduanya dan kaum mukminin, lalu mereka membinasakan mereka. Dengan amalan ini mereka ingin dekat kepada Rasulullah shallallahu alaihi wasallam dan mendapatkan syafaat beliau. Ya Allah, sesungguhnya kami berlepas diri kepada-Mu dari ucapan mereka yang dijauhkan tersebut.

1Rijal Al-Kisysyi hal. 55-57 dan Al-Ihtijaj karya Ath-Thibrisi hal. 82 cet. Iran via As-Sunnah wa Asy-Syi’ah hal. 41. Serta Haqq Al-Yaqin karya Muhammad Baqir Al-Majlisi via Buthlan ‘Aqa`id Asy-Syi’ah karya Al-Allamah At-Tannusi hal. 54

2HR. Al-Bukhari no. 2661, Muslim no. 2770, dan selainnya.

3HR. Al-Bukhari no. 3388 dan Ahmad no. 26949

4HR. Al-Bazzar no. 2663 -sebagaimana dalam Kasyfu Al-Astar- dan Ath-Thabrani no. 165.

5Al-Bukhari meriwayatkannya setelah hadits Aisyah yang panjang tentang kisah al-ifk (tuduhan zina) no. 2661 secara marfu’. Dari jalan Fulaih dari Hisyam bin Urwah dari Urwah dari Aisyah dan Abdullah bin Az-Zubair dengan lafazh yang semisal dengannya. Namun dia tidak membawakan lafazhnya.

6Asy-Syaikh rahimahullah mengisyaratkan kepada hadits al-ifk yang panjang dan kepada para perawi yang meriwayatkan hadits tersebut dari Aisyah radhiallahu anha.

7Ibnu Katsir berkata, “Para ulama seluruhnya telah bersepakat bahwa siapa saja yang mencela beliau -maksudnya Aisyah- dan menuduhnya dengan tuduhan tersebut setelah apa yang tersebut dalam ayat ini maka dia telah kafir, karena dia telah menentang Al-Qur`an.” Lihat Tafsir surah An-Nur ayat: 24

8HR. Al-Hakim no. 3890, Ath-Thabari dalam Tafsirnya no. 34461, Ibnu Abi Hatim dalam Tafsirnya no. 8927, dan Ibnu Abi Ad-Dun-ya dalam Ash-Shumt no. 271. Dan ini hadits yang shahih.

9Ini diisyaratkan Ibnu Katsir dalam tafsir surah Hud pada firman Allah Ta’ala, “Dan Nuh menyeru anaknya.” (QS. Hud: 42). Ibnu Katsir berkata, “Sebagian ulama mengatakan: Tidak ada seorang pun wanita yang menjadi istri seorang nabi yang berbuat kekejian.” Demikian diriwayatkan juga dari Mujahid.” As-Suyuthi menyebutkannya dalam Ad-Durr Al-Mantsur dalam tafsir surah At-Tahrim dari Ibnu Juraij, dan dia menyandarkan periwayatannya kepada Ibnu Al-Mundzir.

10Al-Bukhari meriwayatkan dalam Shahihnya no. 3772 dari Abu Wa`il dia berkata, “Tatkala Ali mengutus Ammar dan Hasan ke Kufah untuk menyuruh mereka berperang, Ammar berkhutbah seraya berkata, “Sesungguhnya saya yakin bahwa Aisyah adalah istri Nabi di dunia dan akhirat. Akan tetapi Allah menguji kalian dengannya, apakah kalian mengikuti Nabi atau mengikuti istrinya.”

11Ini adalah potongan dari hadits al-ifk. Diriwayatkan oleh Al-Bukhari no. 4750 dan Muslim no. 2770

[Risalah fi Ar-Radd ala Ar-Rafidhah hal. 66-72 dengan menghilangkan riwayat-riwayat yang lemah dan meringkas pada footnotenya]

Share and Enjoy:
  • Print
  • Digg
  • StumbleUpon
  • del.icio.us
  • Facebook
  • Yahoo! Buzz
  • Twitter
  • Google Bookmarks

This entry was posted on Wednesday, May 16th, 2012 at 10:20 pm and is filed under Mengenal Syi'ah Rafidhah. You can follow any responses to this entry through the RSS 2.0 feed. Both comments and pings are currently closed.

2 responses about “Rafidhah Mencela Aisyah Radhiallahu Anha”

  1. Ade Malsasa Akbar said:

    Wahai ustadz, sesungguhnya saya minta biografi Ali bin Ashim. Saya dengar beliau ulama yang sekali mengajar menghadap 30000 (tiga puluh ribu) murid. saya sangat tertarik dengan beliau, Ustadz. Bantulah saya yang fakir ini karena saya telah mencari di Google tapi tidak ketemu. Bantulah saya karena Allah.

    Terima kasih, Ustadz.

    Ali bin Ashim siapa nih?

  2. Allomboki said:

    mudah2an Allah menjaga lidah kita dari mencaci para sahabat dan shohabiyah Rasullullah shalallahu’alaihi wassalam dan memberikan petunjuk kepada orang yang sudah sgt jauh ketergelincirannya dalam agama ini