Qishash Pada Hari Kiamat

November 27th 2010 by Abu Muawiah |

21 Dzulhijjah

Qishash Pada Hari Kiamat

Allah Ta’ala berfirman:
وَنَضَعُ الْمَوَازِينَ الْقِسْطَ لِيَوْمِ الْقِيَامَةِ فَلا تُظْلَمُ نَفْسٌ شَيْئًا وَإِن كَانَ مِثْقَالَ حَبَّةٍ مِّنْ خَرْدَلٍ أَتَيْنَا بِهَا وَكَفَى بِنَا حَاسِبِينَ
“Kami akan memasang timbangan-timbangan yang adil pada hari kiamat, maka tiadalah dirugikan seseorang barang sedikitpun. Dan jika (amalan itu) hanya seberat biji sawipun pasti Kami mendatangkannya. Dan cukuplah Kami sebagai pembuat perhitungan.” (QS. Al-Anbiya`: 47)
Allah Ta’ala berfirman:
الْيَوْمَ تُجْزَى كُلُّ نَفْسٍ بِمَا كَسَبَتْ لا ظُلْمَ الْيَوْمَ إِنَّ اللَّهَ سَرِيعُ الْحِسَابِ
“Pada hari ini tiap-tiap jiwa diberi balasan dengan apa yang diusahakannya. Tidak ada yang dirugikan pada hari ini. Sesungguhnya Allah amat cepat hisabnya.” (QS. Ghafir: 17)
Dari Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu dia berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:
مَنْ كَانَتْ لَهُ مَظْلَمَةٌ لِأَخِيهِ مِنْ عِرْضِهِ أَوْ شَيْءٍ فَلْيَتَحَلَّلْهُ مِنْهُ الْيَوْمَ قَبْلَ أَنْ لَا يَكُونَ دِينَارٌ وَلَا دِرْهَمٌ إِنْ كَانَ لَهُ عَمَلٌ صَالِحٌ أُخِذَ مِنْهُ بِقَدْرِ مَظْلَمَتِهِ وَإِنْ لَمْ تَكُنْ لَهُ حَسَنَاتٌ أُخِذَ مِنْ سَيِّئَاتِ صَاحِبِهِ فَحُمِلَ عَلَيْهِ
“Siapa yang pernah berbuat aniaya (zhalim) terhadap kehormatan saudaranya atau sesuatu apapun hendaklah dia meminta kehalalannya (maaf) pada hari ini (di dunia) sebelum datang hari yang ketika itu tidak bermanfaat dinar dan dirham. Jika dia tidak lakukan, maka (nanti pada hari kiamat) bila dia memiliki amal shalih akan diambil darinya sebanyak kezholimannya. Apabila dia tidak memiliki kebaikan lagi maka keburukan saudaranya yang dizhaliminya itu akan diambil lalu ditimpakan kepadanya”. (HR. Al-Bukhari no. 2449)
Dari Abu Hurairah radhiallahu anhu bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam pernah bertanya kepada para sahabat:
أَتَدْرُونَ مَا الْمُفْلِسُ قَالُوا الْمُفْلِسُ فِينَا مَنْ لَا دِرْهَمَ لَهُ وَلَا مَتَاعَ فَقَالَ إِنَّ الْمُفْلِسَ مِنْ أُمَّتِي يَأْتِي يَوْمَ الْقِيَامَةِ بِصَلَاةٍ وَصِيَامٍ وَزَكَاةٍ وَيَأْتِي قَدْ شَتَمَ هَذَا وَقَذَفَ هَذَا وَأَكَلَ مَالَ هَذَا وَسَفَكَ دَمَ هَذَا وَضَرَبَ هَذَا فَيُعْطَى هَذَا مِنْ حَسَنَاتِهِ وَهَذَا مِنْ حَسَنَاتِهِ فَإِنْ فَنِيَتْ حَسَنَاتُهُ قَبْلَ أَنْ يُقْضَى مَا عَلَيْهِ أُخِذَ مِنْ خَطَايَاهُمْ فَطُرِحَتْ عَلَيْهِ ثُمَّ طُرِحَ فِي النَّارِ
“Tahukah kalian, siapakah orang yang bangkrut itu?” Para sahabat menjawab, “Menurut kami, orang yang bangkrut di antara kami adalah orang yang tidak memiliki uang dan harta kekayaan.” Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Sesungguhnya umatku yang bangkrut adalah orang yang pada hari kiamat datang dengan membawa (pahala) shalat, puasa, dan zakat, tetapi ia selalu mencaci-maki, menuduh, dan makan harta orang lain serta membunuh dan menyakiti orang lain. Setelah itu, pahalanya diambil untuk diberikan kepada setiap orang dari mereka hingga pahalanya habis, sementara tuntutan mereka banyak yang belum terpenuhi. Selanjutnya, sebagian dosa dari setiap orang dari mereka diambil untuk dibebankan kepada orang tersebut, hingga akhirnya ia dilemparkan ke neraka.” (HR. Muslim no. 2581)

Penjelasan ringkas:
Di antara keadilan Allah Ta’ala kepada para hamba-hambaNya adalah Dia menetapkan adanya timbangan-timbangan dan juga qishash pada hari kiamat, dimana hamba-hambaNya yang terzhalimi akan mendapatkan keadilan atas kezhaliman yang diperbuat terhadap mereka dan tidak akan tersisa seorangpun yang menzhalimi siapapun kecuali Allah akan menyelesaikan urusan di antara mereka berdua. Karenanya Nabi shallallahu alaihi wasallam memerintahkan bagi setiap orang untuk meminta maaf atas kezhalimannya sebelum terjadinya qishash pada hari kiamat.
Adapun bentuk qishashnya, maka tatkala harta tidak bermanfaat pada hari kiamat, maka pelaku kezhaliman akan menebus semua kezhalimannya dengan amalan-amalan baiknya. Jika dia tidak mempunyai kebaikan, maka dosa-dosa orang yang dia zhalimi akan dipindahkan kepadanya sehingga dosanya bertambah banyak.
Dari sisi yang lain hendaknya orang yang dizhalimi bisa bersabar, karena kezhaliman itu akan menghasilkan pahala tambahan baginya pada hari kiamat atau akan mengurangi dosa-dosanya pada hari kiamat.

Share and Enjoy:
  • Print
  • Digg
  • StumbleUpon
  • del.icio.us
  • Facebook
  • Yahoo! Buzz
  • Twitter
  • Google Bookmarks

This entry was posted on Saturday, November 27th, 2010 at 11:14 am and is filed under Quote of the Day. You can follow any responses to this entry through the RSS 2.0 feed. Both comments and pings are currently closed.

5 responses about “Qishash Pada Hari Kiamat”

  1. Rachmat said:

    Assalamu’alaikum Ustadz,

    Apakah qishas di akhirat itu berlaku untuk semua umat manusia (muslim dan kafir)?

    Waalaikumussalam.
    Ya, berlaku untuk muslim dan kafir.

  2. Ach. Mura'ie said:

    Berdasarkan konteks hadis di atas, bagaimana korelasinya dengan firman Allah”walaa taziru waaziratun wizro ukhro”(seseorang tidak akan pernah memikul dosa orang lain)?

    Tidak bertentangan. Karena kezhaliman itu ibarat hutang yang harus dibayar. Karena di hari kiamat, harta tidak bermanfaat maka yang dipakai membayar ‘hutangnya’ adalah amalannya. Demikian halnya pelimpahan dosa kepadanya termasuk dari bentuk pembayaran hutangnya. Wallahu Alam.

  3. Achmad said:

    Bismillah,

    Jika kita punya salah dengan orang lain, bolehkah kita berkata dan melakukan “jika engkau memaafkan saya, maka saya akan berikan kamu sejumlah uang”.

    Dan bagaimana jika orang tersebut hanya berpura-pura saja dalam memaafkannya, hanya bertujuan untuk mendapatkan uangnya saja?

    Darimana antum tahu kalau dia berpura-pura? Yang jelas, jika lahiriahnya dia sudah memaafkan maka antum harus memenuhi janji. Wallahu a’lam

  4. Achmad said:

    Memperjelas pertanyaan sebelumnya, maksud ana jika orang yg di mintai maaaf hanya berpura-pura saja, apakah kita yang meminta maaf (setelah memberikan uangnya), tetap termaafkan, sehingga insya Allah terhindar dari qishosh di hari kiamat?

    Kalau masalah hari kiamat, tidak ada seorang pun yang bisa memastikan kalau taubat kita sudah diterima atau tidak. Hanya saja kita bisa berharap dan menjadikan tanda-tanda zhahir sebagai indikasi. Wallahu a’lam.

  5. Athia said:

    Ustadz,apakah benar kalau tidak bertegur sapa selama tiga hari dia akan terhalang masuk surga? Tapi semisal ada amalan yang Allah tidak akan memasukkan dia ke neraka? Itu bagaimana ustadz? Saya takut. Saya bingung.

    Wallahu a’lam, semuanya dikembalikan kepada Allah. Yang jelas, jauhi semua amalan yang menyebabkan dia bisa terhalangi masuk surga.