Puasa Ramadhan dan Keutamaannya

August 7th 2011 by Abu Muawiah |

07 Ramadhan

Puasa Ramadhan dan Keutamaannya

Puasa ramadhan adalah salah satu di antara rukun Islam, dia diwajibkan pada tahun ke II H. Dan sejak diwajibkannya, Nabi shallallahu alaihi wasallam telah berpuasa sebanyak 9 kali.
Puasa ramadhan diwajibkan dengan salah satu dari dua perkara:
•    Rukyat hilal.
•    Atau menggenapkan bulan sya’ban menjadi 30 hari.
Dari Abu Hurairah radhiallahu anhu dia berkata: Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:
صُومُوا لِرُؤْيَتِهِ وَأَفْطِرُوا لِرُؤْيَتِهِ فَإِنْ غُبِّيَ عَلَيْكُمْ فَأَكْمِلُوا عِدَّةَ شَعْبَانَ ثَلَاثِينَ
“Berpuasalah kalian dengan melihatnya (hilal) dan berbukalah dengan melihatnya pula. Apabila kalian terhalang oleh awan maka sempurnakanlah jumlah bilangan hari bulan sya’ban menjadi tiga puluh”. (HR. Al-Bukhari no. 1776)
Allah Azza wa Jalla berfirman:
ياأيها الذين ءامنو كتب عليكم الصيام كما كتب على  الذين من قبلكم لعلكم تتقون
“Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa.” (QS. Al-Baqarah: 183)
Al-Hafizh Ibnu Katsir rahimahullah berkata, “Dalam ayat ini, Allah Ta’ala berfirman berbicara kepada kaum mukminin dan memerintahkan mereka untuk berpuasa, yaitu menahan diri dari makan, minum, dan jima’, dengan niat ikhlas karena wajah Allah Azza wa Jalla. Hal itu karena di dalam puasa terdapat kesucian, kebersihan, dan kemurnian jiwa dari hal-hal yang rendah. Allah Ta’ala menyebutkan bahwa sebagaimana Dia telah mewajibkan puasa kepada mereka, Dia juga telah mewajibkannya kepada orang-orang sebelum mereka, sehingga dalam hal ini mereka sudah mempunyai tauladan yang mendahului mereka. Dan hendaknya mereka (kaum muslimin) harus bersungguh-sungguh dalam menjalankan kewajiban puasa ini dengan kesungguhan yang lebih sempurna dibandingkan orang-orang sebelum mereka. Sebagaimana pada firman Allah Ta’ala:
لكل جعلنا منكم شرعة ومنهاجاً ولوشاء الله لجعلكم أُمة واحدة ولكن ليبلوكم فيما آتاكم فاستبقوا الخيرات
“Untuk tiap-tiap umat di antara kamu, Kami berikan aturan dan jalan yang terang. Sekiranya Allah menghendaki, niscaya kamu dijadikan-Nya satu umat (saja), tetapi Allah hendak menguji kamu terhadap pemberian-Nya kepadamu, maka berlomba-lombalah berbuat kebajikan.” (QS. Al-Maidah: 48)
Karenanya Allah Ta’ala berfirman di sini:
ياأيها الذين ءامنو كتب عليكم الصيام كما كتب على  الذين من قبلكم لعلكم تتقون
“Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa.” (QS. Al-Baqarah: 183)
Karena puasa ini bisa menyehatkan tubuh dan mempersempit jalan-jalan setan. Karenanya telah shahih dari hadits Ibnu Mas’ud radhiallahu anhu bahwa Nabi shallallahu alaihi wasallam bersabda:
يَا مَعْشَرَ الشَّبَابِ مَنْ اسْتَطَاعَ الْبَاءَةَ فَلْيَتَزَوَّجْ فَإِنَّهُ أَغَضُّ لِلْبَصَرِ وَأَحْصَنُ لِلْفَرْجِ وَمَنْ لَمْ يَسْتَطِعْ فَعَلَيْهِ بِالصَّوْمِ فَإِنَّهُ لَهُ وِجَاءٌ
“Wahai sekalian pemuda, siapa di antara kalian telah mempunyai kemampuan, maka hendaklah ia menikah, karena menikah itu dapat menundukkan pandangan, dan juga lebih bisa menjaga kemaluan. Namun, siapa yang belum mampu, hendaklah ia berpuasa, sebab hal itu dapat meredakan nafsunya.” (HR. Al-Bukhari no. 4678 dan Muslim no. 2485)
Kemudian, dari hadits Abu Hurairah radhiallahu anhu, Nabi shallallahu alaihi wasallam bersabda:
كُلُّ عَمَلِ ابْنِ آدَمَ يُضَاعَفُ الْحَسَنَةُ عَشْرُ أَمْثَالِهَا إِلَى سَبْعمِائَة ضِعْفٍ قَالَ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ إِلَّا الصَّوْمَ فَإِنَّهُ لِي وَأَنَا أَجْزِي بِهِ يَدَعُ شَهْوَتَهُ وَطَعَامَهُ مِنْ أَجْلِي لِلصَّائِمِ فَرْحَتَانِ فَرْحَةٌ عِنْدَ فِطْرِهِ وَفَرْحَةٌ عِنْدَ لِقَاءِ رَبِّهِ وَلَخُلُوفُ فِيهِ أَطْيَبُ عِنْدَ اللَّهِ مِنْ رِيحِ الْمِسْكِ
“Setiap amal anak Adam dilipatgandakan pahalanya. Satu macam kebaikan diberi pahala sepuluh hingga tujuh ratus kali. Allah ‘azza wajalla berfirman; ‘Selain puasa, karena puasa itu adalah bagi-Ku dan Akulah yang akan memberinya pahala. Sebab, ia telah meninggalkan nafsu syahwat dan nafsu makannya karena-Ku.’ Dan bagi orang yang berpuasa ada dua kebahagiaan. Kebahagiaan ketika ia berbuka, dan kebahagiaan ketika ia bertemu dengan Rabb-Nya. Sesungguhnya bau mulut orang yang berpuasa lebih wangi di sisi Allah daripada wanginya kesturi.” (HR. Muslim no. 1945)
Hadits ini menunjukkan bahwa semua amalan baik akan dilipatgandakan menjadi 10 kali sampai 700 kali lipat. Kecuali puasa, karena pelipatgandaannya tidak terbatas dengan jumlah tertentu, akan tetapi Allah Azza wa Jalla melipatgandakannya dengan pelipatgandaan yang sangat banyak tanpa batas. Hal itu karena puasa merupakan salah satu bentuk kesabaran, sementara Allah Azza wa Jalla telah berfirman:
إنما يوفى الصابرون أجرهم بغير حساب
“Sesungguhnya hanya orang-orang yang bersabarlah yang dicukupkan pahala mereka tanpa batas.” (QS. Az-Zumar: 10)
Dan juga telah shahih dari hadits Abu Said Al-Khudri radhiallahu anhu bahwa Nabi shallallahu alaihi wasallam bersabda:
وَمَنْ يَسْتَعْفِفْ يُعِفَّهُ اللَّهُ وَمَنْ يَسْتَغْنِ يُغْنِهِ اللَّهُ وَمَنْ يَتَصَبَّرْ يُصَبِّرْهُ اللَّهُ وَمَا أُعْطِيَ أَحَدٌ عَطَاءً خَيْرًا وَأَوْسَعَ مِنْ الصَّبْرِ
“Namun barangsiapa yang menahan (menjaga diri dari meminta-minta), maka Allah akan menjaganya dan barangsiapa yang meminta kecukupan maka Allah akan mencukupkannya dan barangsiapa yang mensabar-sabarkan dirinya maka Allah akan memberinya kesabaran. Dan tidak ada suatu pemberian yang diberikan kepada seseorang yang lebih baik dan lebih luas daripada (diberikan) kesabaran.” (HR. Al-Bukhari no. 1376 dan Muslim no. 1745)
Kesabaran itu ada 3 jenis:
•    Sabar dalam menaati Allah. Ini jelas ada dalam puasa, karena puasa itu adalah kesabaran dalam menjalankan perintah Allah.
•    Sabar dalam menjauhi larangan Allah. Ini juga jelas ada dalam puasa, karena orang yang berpuasa bersabar menjauhi hal yang diharamkan bagi mereka ketika berpuasa, padahal sebagian hal itu dihalalkan bagi mereka di luar ramadhan.
•    Sabar menghadapi takdir Allah yang menyakitkan. Ini juga didapatkan oleh orang yang berpuasa jika dia bersabar menahan perihnya lapar dan haus serta lemasnya tubuh.
Dan sudah dimaklumi bahwa semua hal menyakitkan yang menimpa seorang muslim ketika dia sedang beribadah akan dituliskan sebagai pahala. Sebagaimana pada firman Allah Ta’ala tentang para mujahidin:
ذلك بأنهم لا يصيبهم ظمأ ولا نصب ولا مخمصة في سبيل الله ولا يطأ ون موطأ يغيظ الكفار ولا ينالون من عدو نيلا إلا كتب لهم به عمل صالح إن الله لايضيع أجر المحسنين
“Yang demikian itu ialah karena mereka tidak ditimpa kehausan, kepayahan dan kelaparan pada jalan Allah, dan tidak (pula) menginjak suatu tempat yang membangkitkan amarah orang-orang kafir, dan tidak menimpakan sesuatu bencana kepada musuh, melainkan dituliskanlah bagi mereka dengan yang demikian itu suatu amal saleh. Sesungguhnya Allah tidak menyia-nyiakan pahala orang-orang yang berbuat baik.” (QS. At-Taubah: 120)
Dari Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu dia berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:
إِذَا دَخَلَ شَهْرُ رَمَضَانَ فُتِّحَتْ أَبْوَابُ السَّمَاءِ وَغُلِّقَتْ أَبْوَابُ جَهَنَّمَ وَسُلْسِلَتْ الشَّيَاطِينُ
“Apabila bulan Ramadhah datang, maka pintu-pintu langit dibuka sedangkan pintu-pintu jahannam ditutup dan syaitan-syaitan dibelenggu.” (HR. Al-Bukhari no. 1766)
Hal itu karena di dalam bulan ramadhan, semangat untuk berbuat kebaikan dan amalan saleh bertambah yang dengannya pintu-pintu surga akan terbuka. Minat untuk berbuat kejelekan dan maksiat melemah yang dengannya pintu-pintu neraka tertutup. Serta setan-setan dibelenggu sehingga mereka tidak akan bisa menggoda manusia.
Dari Sahl bin Sa’ad radhiallahu ‘anhu dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam beliau bersabda:
إِنَّ فِي الْجَنَّةِ بَابًا يُقَالُ لَهُ الرَّيَّانُ يَدْخُلُ مِنْهُ الصَّائِمُونَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ لَا يَدْخُلُ مِنْهُ أَحَدٌ غَيْرُهُمْ يُقَالُ أَيْنَ الصَّائِمُونَ فَيَقُومُونَ لَا يَدْخُلُ مِنْهُ أَحَدٌ غَيْرُهُمْ فَإِذَا دَخَلُوا أُغْلِقَ فَلَمْ يَدْخُلْ مِنْهُ أَحَدٌ
“Dalam surga ada satu pintu yang disebut dengan Ar-Rayyan, yang pada hari qiyamat tidak akan ada orang yang masuk ke surga melewati pintu itu kecuali para shaimun (orang-orang yang berpuasa). Tidak akan ada seorangpun yang masuk melewati pintu tersebut selain mereka. Lalu dikatakan kepada mereka; Mana para shaimun, maka para shaimun berdiri menghadap. Tidak akan ada seorangpun yang masuk melewati pintu tersebut selain mereka. Apabila mereka telah masuk semuanya, maka pintu itu ditutup dan tidak akan ada seorangpun yang masuk melewati pintu tersebut.” (HR. Al-Bukhari no. 1763 dan Muslim no. 1947)
Dari Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:
مَنْ أَنْفَقَ زَوْجَيْنِ فِي سَبِيلِ اللَّهِ نُودِيَ مِنْ أَبْوَابِ الْجَنَّةِ يَا عَبْدَ اللَّهِ هَذَا خَيْرٌ فَمَنْ كَانَ مِنْ أَهْلِ الصَّلَاةِ دُعِيَ مِنْ بَابِ الصَّلَاةِ وَمَنْ كَانَ مِنْ أَهْلِ الْجِهَادِ دُعِيَ مِنْ بَابِ الْجِهَادِ وَمَنْ كَانَ مِنْ أَهْلِ الصِّيَامِ دُعِيَ مِنْ بَابِ الرَّيَّانِ وَمَنْ كَانَ مِنْ أَهْلِ الصَّدَقَةِ دُعِيَ مِنْ بَابِ الصَّدَقَةِ. فَقَالَ أَبُو بَكْرٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ بِأَبِي أَنْتَ وَأُمِّي يَا رَسُولَ اللَّهِ مَا عَلَى مَنْ دُعِيَ مِنْ تِلْكَ الْأَبْوَابِ مِنْ ضَرُورَةٍ فَهَلْ يُدْعَى أَحَدٌ مِنْ تِلْكَ الْأَبْوَابِ كُلِّهَا قَالَ نَعَمْ وَأَرْجُو أَنْ تَكُونَ مِنْهُمْ
“Barangsiapa yang menginfaqkan dua jenis (berpasangan) dari hartanya di jalan Allah, maka dia akan dipanggil dari pintu-pintu surga; (lalu dikatakan kepadanya): “Wahai ‘Abdullah, inilah kebaikan (dari apa yang kamu amalkan). Maka barangsiapa dari kalangan ahlu shalat dia akan dipanggil dari pintu shalat dan barangsiapa dari kalangan ahlu jihad dia akan dipanggil dari pintu jihad dan barangsiapa dari kalangan ahlu shiyam (puasa) dia akan dipanggil dari pintu ar-Rayyan dan barangsiapa dari kalangan ahlu shadaqah dia akan dipanggil dari pintu shadaqah. Lantas Abu Bakar Ash-Shidiq radliallahu ‘anhu: “Demi bapak dan ibuku (sebagai tebusan) untukmu wahai Rasulullah, demi ayah dan ibuku, jika seseorang dipanggil diantara pintu-pintu yang ada, itu sbeuah kepastian, namun apakah mungkin seseorang akan dipanggil dari semua pintu?”. Beliau shallallahu ‘alaihi wasallam menjawab: “Benar, dan aku berharap kamu termasuk diantara mereka.” (HR. Al-Bukhari no. 1764 dan Muslim no. 1705)
Adapun pintu surga, maka telah shahih dari hadits Abu Hurairah radhiallahu anhu bahwa Nabi shallallahu alaihi wasallam bersabda:
وَالَّذِي نَفْسُ مُحَمَّدٍ بِيَدِهِ إِنَّ مَا بَيْنَ الْمِصْرَاعَيْنِ مِنْ مَصَارِيعِ الْجَنَّةِ لَكَمَا بَيْنَ مَكَّةَ وَهَجَرٍ أَوْ كَمَا بَيْنَ مَكَّةَ وَبُصْرَى
“Demi Dzat yang jiwaku ada ditangan-Nya! Sungguh jarak antara dua pintu (yang ada daun pintunya) dari pintu-pintu surga seperti antara Makkah dengan Hajar, atau seperti antara Makkah dengan Bushra.” (HR. Muslim no. 287)
Dari Hakim bin Muawiah dari ayahnya bahwa Nabi Shalallahu ‘alaihi wasallam bersabda:
أَنْتُمْ تُوفُونَ سَبْعِينَ أُمَّةً أَنْتُمْ آخِرُهَا وَأَكْرَمُهَا عَلَى اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ وَمَا بَيْنَ مِصْرَاعَيْنِ مِنْ مَصَارِيعِ الْجَنَّةِ مَسِيرَةُ أَرْبَعِينَ عَامًا وَلَيَأْتِيَنَّ عَلَيْهِ يَوْمٌ وَإِنَّهُ لَكَظِيظٌ
“Sungguh kalian ini mencukupkan tujuh puluh umat, akan tetapi kalian adalah ummat yang terbaik lagi mulia di antara mereka di hadapan Allah Azza wa Jalla. Jarak antara dua pintu (yang ada daun pintunya) di surga adalah sejauh perjalanan 40 tahun. Dan sungguh akan datang suatu hari dimana pintu itu akan penuh sesak.” (HR. Ahmad no. 19172)

Incoming search terms:

  • terjemah hadits shahih muslim raqam 1763
Share and Enjoy:
  • Print
  • Digg
  • StumbleUpon
  • del.icio.us
  • Facebook
  • Yahoo! Buzz
  • Twitter
  • Google Bookmarks

This entry was posted on Sunday, August 7th, 2011 at 11:40 pm and is filed under Fadha`il Al-A'mal, Quote of the Day. You can follow any responses to this entry through the RSS 2.0 feed. Both comments and pings are currently closed.

4 responses about “Puasa Ramadhan dan Keutamaannya”

  1. wafa said:

    assalamu’alaikum wr wb. an mau tanya, apakah bohong dapat membatalkan puasa?

    Waalaikumussalam
    Tidak membatalkan, tapi bisa menghabiskan pahala puasanya karena berbohong adalah dosa yang sangat besar.

  2. fajar said:

    Bissmillah. Assalamu alaikum

    Ustad mau tanya derajat hadits berikut

    “ Barang siapa yang berdoa di akhir Sujud Shalat Subuh pada Jumat terakhir di akhir Ramadhan , niscaya Allah SWT akan mengabulkan “.

    Waalaikumussalam
    Wallahu a’lam, kami belum pernah mendengar hadits seperti itu.

  3. Anto said:

    Asalamu’alaikum.
    Ustadz,bertahun2 sy tdk mengerjakan puasa,bagaimanakah sy membayarnya ?
    Sy sgt btuh jwbannya…jazzakumulah khairan.

    Waalaikumussalam.
    Tidak perlu dibayar karena memang sudah tidak bisa ditebus, jika memang ditinggalkan dengan sengaja.
    Dia wajib bertaubat kepada Allah sebanyak-banyaknya atas dosanya meninggalkan puasa.

  4. putra said:

    Assalamu’alaikum.
    ustadz, bagaimana kalau berbohong yang dibolehkan dalam Islam, semisal bercanda ke istri (dan istri juga tau kalau itu becanda bohongan saja), apakah termasuk bohong yang mengurangi pahala puasa? di situ kebetulan juga ada orang tua saya yang mendengar becandaan saya, dan sudah tau kalau itu cuma bercanda. bagaimana hukumnya yang demikian itu? jazakallahu khair.

    Waalaikumussalam.
    Ya, itu tetap mengurangi pahala puasa.