Puasa Hari Arafah

November 19th 2009 by Abu Muawiah |

Puasa Hari Arafah

Puasa arafah termasuk dari puasa-puasa sunnah dalam Islam yang mempunyai keutamaan yang besar. Dari Abu Qatadah Al-Anshari -radhiallahu anhu- dia berkata:
وَسُئِلَ عَنْ صَوْمِ يَوْمِ عَرَفَةَ , فَقَالَ: يُكَفِّرُ السَّنَةَ الْمَاضِيَةَ وَالْبَاقِيَةَ
“Dan beliau -alaihishshalatu wassalam- ditanya tentang puasa pada hari arafah, maka beliau menjawab, “Dia menghapuskan (dosa) setahun yang lalu dan setahun yang akan datang.” (HR. Muslim no. 1162)
Hadits ini jelas menunjukkan disunnahkannya berpuasa pada hari arafah, yaitu pada tanggal 9 zulhijjah. Sampai-sampai Asy-Syaikh Abdullah Al-Bassam berkata dalam Taudhih Al-Ahkam (3/210), “Puasa hari arafah adalah puasa sunnah yang paling utama berdasarkan ijma’ para ulama.”
Imam Ash-Shan’ani berkata dalam As-Subul, “Sebagian ulama ada yang mempertanyakan maksud dari dihapuskannya dosa yang belum terjadi, yaitu dosa yang akan terjadi di tahun yang akan datang. Dan hal ini dijawab bahwa yang dimaksudkan di sini adalah orang tersebut akan diberikan taufik untuk setahun yang akan datang agar dia tidak mengerjakan dosa, akan tetapi taufik ini dinamakan sebagai penghapusan dosa untuk menyesuaikannya dengan keutamaan setahun sebelumnya (berupa penghapusan dosa). Ataukah yang dimaksudkan di sini adalah jika dia terjatuh ke dalam dosa pada tahun yang akan datang, maka dia akan diberikan taufik oleh Allah untuk mengamalkan amalan yang bisa menghapuskan dosa tersebut.” Lihat Subul As-Salam (2/339) cet. Daar Al-Kutub Al-Arabi.

Hukum Puasa Arafah Bagi yang Berada di Arafah (Sedang Haji).
Ada tiga pendapat dalam permasalahan ini:
1.    Diharamkan.
Ini adalah pendapat Yahya bin Said Al-Anshari dan ini yang dikuatkan oleh Ash-Shan’ani.
Mereka berdalil dengan hadits Abu Hurairah -radhiallahu anhu- dia berkata, “Nabi -alaihishshalatu wassalam- melarang melakukan puasa arafah di arafah.” (HR. Ahmad, Abu Daud, An-Nasai, dan Ibnu Majah)
Akan tetapi hadits ini lemah karena berasal dari jalan Mahdi Al-Abdi Al-Hajari dari Ikrimah dari Abu Hurairah, sementara Mahdi Al-Hajari ini adalah rawi yang majhul hal. Al-Uqaili berkata, “Tidak ada yang mendukung riwayatnya. Telah diriwayatkan dari beliau -alaihishshalatu wassalam- dengan sanad-sanad yang baik bahwa beliau tidak melakukan puasa arafah di arafah, akan tetapi tidak shahih dari beliau adanya larangan untuk puasa arafah di arafah.”
2.    Disunnahkan untuk berbuka di arafah.
Ini adalah pendapat mayoritas ulama. Mereka berdalil dengan hadits Maimunah bintu Al-Harits dan Ummu Al-Fadhl bintu Al-Harits yang keduanya diriwayatkan oleh Al-Bukhari (no. 1575, 1887, 1888) dan Muslim (no. 1123) bahwa Nabi -alaihishshalatu wassalam- meminum susu pada hari arafah.
3.    Disunnahkan berpuasa di arafah.
Ibnu Az-Zubair, Usamah bin Zaid, dan Aisyah -radhiallahu anhum- berpuasa arafah di arafah. Hal itu membuat kagum Al-Hasan dan dia membawakan pendapat ini juga dari Utsman. Ibnu Al-Mundzir menukil pendapat ini dari Ishak bin Rahawaih, dan merupakan pendapat lama dari Asy-Syafi’i. Al-Khaththabi juga membawakan pendapat ini dari Ahmad dan ini pendapat yang dipilih oleh Al-Ajurri. Hanya saja sebagian di antara ulama di atas ada yang memberikan batasan sunnahnya jika puasa itu tidak membuat badannya lemah untuk melakukan wuquf dan berdoa di arafah.
Mereka berdalil dengan keumuman hadits, “Dia menghapuskan (dosa) setahun yang lalu dan setahun yang akan datang.”
Adapun hadits Maimunah dan Ummu Al-Fadhl, maka Al-Hafizh Ibnu Hajar -rahimahullah- berkata, “Kedua hadits ini dijadikan dalil akan disunnahkannya berbuka (tidak puasa) pada hari arafah di arafah. Hanya saja pendalilan ini kurang tepat, karena perbuatan beliau -alaihishshalatu wassalam- semata tidaklah menafikan disunnahkannya berbuka pada hari itu. Karena terkadang beliau meninggalkan sesuatu yang disunnahkan hanya untuk menunjukkan bolehnya, sehingga dalam keadaan itu lebih utama bagi beliau untuk tidak berpuasa karena adanya maslahat dakwah.” Lihat Fath Al-Bari (4/238)

Tarjih:
Yang kuat -wallahu a’lam- adalah pendapat yang dikuatkan oleh Al-Hafizh Ibnu Hajar yaitu pendapat yang ketiga berdasarkan argumen yang beliau sebutkan. Apalagi konteks hadits Maimunah dan Ummu Al-Fadhl menyebutkan bahwa para sahabat berbeda pendapat mengenai apakah Nabi -alaihishshalatu wassalam- berpuasa arafah di arafah ataukah tidak -dan ketika itu beliau tengah berada di arafah-, maka kedua shahabiah ini mengirimkan susu kepada Nabi -alaihishshalatu wassalam- lalu beliau minum sementara beliau berdiri di arafah -dalam sebagian riwayat: di atas tunggangannya- sementara para sahabat melihat beliau minum. Maka yang nampak dari sini adalah beliau minum hanya untuk menunjukkan beliau tidak mewajibkan berpuasa pada hari itu.
Hanya saja hukum sunnah ini tentu saja berlaku jika puasa itu tidak membuat badannya lemah untuk melakukan wuquf dan berdoa di arafah -sebagaimana yang dikatakan oleh sebagian ulama-. Jika puasa tersebut membuatnya lemah sehingga tidak bisa maksimal untuk beribadah di arafah maka lebih afdhal baginya untuk berbuka dan tidak berpuasa. Wallahu a’lam bishshawab.
[Lihat: Al-Majmu’ (6/349-350), Al-Inshaf (3/310), dan Al-Muhalla masalah. 793]

[Rujukan utama: Ithaf Al-Anam bi Ahkam wa Masail Ash-Shiyam hal. 158-160]

Incoming search terms:

  • puasa arafah
  • hari arafah 2010
  • hukum puasa arafah
  • puasa hari arafah
  • puasa arofah
Share and Enjoy:
  • Print
  • Digg
  • StumbleUpon
  • del.icio.us
  • Facebook
  • Yahoo! Buzz
  • Twitter
  • Google Bookmarks

This entry was posted on Thursday, November 19th, 2009 at 11:27 am and is filed under Fiqh. You can follow any responses to this entry through the RSS 2.0 feed. Both comments and pings are currently closed.

11 responses about “Puasa Hari Arafah”

  1. Rizal said:

    Bismillah. Ana mau nanya
    1. Betapa banyak orang yang berpuasa tapi mereka masih suka bermaksiat. Puasa yang bagaimanakah yang dapat menghapus dosa dan tidak punya keinginan lagi untuk mengulanginya.
    2. apakah kalau kita berbuat dosa lagi pada dosa yang sama lalu puasa dan amal ibadah lainnya yang telah kita kerjakan jadi tertolak ? mohon penjelasannya. sekian dulu Ustadz. Jazakumullah khoiron katsiran

    1. Wallahu a’lam, syarat puasa yang menghapuskan dosa adalah seperti syarat yang terdapat pada puasa ramadhan yaitu karena didorong oleh keimanan dan ihtisab (mengharapkan pahala). Dan sudah dimaklumi bahwa manusia pasti setiap hari berbuat dosa, karenanya baiknya puasa tidak mengharuskan dia tidak akan berbuat dosa lagi. Akan tetapi baiknya puasanya mengharuskan dia akan mendapatkan taufik dari Allah untuk segera bertaubat kepada-Nya ketika terjatuh ke dalam dosa.
    2. Tidak ada korelasi di antara keduanya dalam hal yang antum sebutkan. Dosa masalah lain ibadah masalah lain, maka seorang mengulangi dosa tidak menunjukkan ibadahnya tidak diterima, sebagaimana seseorang beribadah dengan baik tidak menunjukkan dia tidak akan lagi berbuat dosa. Dia dapat pahala karena ibadahnya diterima dan dia dapat dosa ketika dia berbuat kesalahan.
    Waiyyakum

  2. Abu Ibrahim said:

    Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda : “Setiap bani Adam berbuat salah dan sebaik-baik orang yang berbuat salah adalah orang-orang yang bertaubat.” (Hasan, dikeluarkan oleh At Tirmidzi di dalam [Shifatul Qiyamah/2499], Ibnu Majah di dalam [Az Zuhd/4251], dan dihasankan oleh Al Albani rahimahullah di dalam Shahihul Jami’ [4515]

  3. widarnoko said:

    lebih …celaka berbuat dosa tidak mendekatkan diri pada Allah…..jangan lupa…selalu dzikir

  4. Puasa Hari Arafah « BlackVeil’s Private Blog said:

    […] Sumber : di sini […]

  5. Puasa Hari Arafah « T.A.U.B.A.T said:

    […] : http://al-atsariyyah.com/?p=1340 Categories: Akhlak dan Adab Tags: Puasa Comments (0) Trackbacks (0) Leave a comment […]

  6. shidah said:

    kenapa ya walaupun kt sentiasa berusaha untuk mendekatkan diri padaNya kt seolah2 semakin jauh drNya,malahan dugaan yg lbh besar jg mendatang.kini,semakin ramai manusia yg beragama islam semakin byk melibatkan dr dlm kemaksiatan.apakah cara untuk kt mengatasi mslh ini?

    Satu-satunya jalan keluar adalah kembali mempelajari ilmu-ilmu agama -terkhusus tauhid dan ibadah- lalu mengamalkannya dengan amalan yang benar. Berdasarkan hadits dari Ibnu Umar dia berkata: Aku mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:
    إِذَا تَبَايَعْتُمْ بِالْعِينَةِ وَأَخَذْتُمْ أَذْنَابَ الْبَقَرِ وَرَضِيتُمْ بِالزَّرْعِ وَتَرَكْتُمْ الْجِهَادَ سَلَّطَ اللَّهُ عَلَيْكُمْ ذُلًّا لَا يَنْزِعُهُ حَتَّى تَرْجِعُوا إِلَى دِينِكُمْ
    “Jika kalian berjual beli secara cara ‘inah, mengikuti ekor sapi, ridla dengan bercocok tanam dan meninggalkan jihad, maka Allah akan menguasakan kehinaan atas kalian. Allah tidak akan mencabutnya dari kalian hingga kalian kembali kepada agama kalian.” (HR. Abu Daud no. 3003 dan selainnya)

  7. Puasa Hari Arafah « Ta'dzhim As-Sunnah said:

    […] Sumber -> http://al-atsariyyah.com […]

  8. abu sufyan said:

    bismillah,
    afwan mau tanya.
    misal terjadi perbedaan penentuan waktu antara Arob dan Indonesia dalam tanggal Hijriyah, untuk puasa arofah gimana? misal idul adha di saudi tgl 16 nop, tapi pemerintah indonesia menetapkan tgl 17 nop, kita harus ikut yang mana? ana pernah dengar ada dalil bahwa haji adalah arofah, apakah hadits ini benar adanya. kalo benar berarti kita harus ikut saudi dong dalam sholat id?
    jazakumullohu khoir

    Lihat pembahasannya dalam artikel ‘Seputar Hilal’ dalam situs ini.
    Haditsnya shahih.

  9. Puasa Hari Arafah – Ustadz Hammad Abu Mu’awiyyah « Al Qiyamah – Moslem Weblog said:

    […] Sumber: http://al-atsariyyah.com […]

  10. Puasa Hari Arafah « Di Antara Jalan Kebaikan said:

    […] Situs Al-Ustadz Abu Muawiah Hammad (http://al-atsariyyah.com/puasa-hari-arafah.html) Like this:SukaBe the first to like this […]

  11. H.Hariyabto Abdulhaq said:

    Puasa Arofah sangat penting untuk disosialisasikan kepada ummat islam yang awam, biar pada mengerti dan mau menjalankan. Dengan manfaat puasa bisa ngerim tawuran dan korupsi, oke