Perwujudan Kegembiraan

December 4th 2014 by Abu Muawiah |

Kita sering mendengar dan membaca pada momen dua hari raya yang diberkahi -idul fitri dan idul adha-, orang yang menyeru untuk menampakkan kegembiraan dalam menyambut kedua hari raya ini. Dia menyebut bahwa kemungkaran yang bertentangan dengan syariat yang dilakukan oleh sebagian orang awam pada hari raya merupakan perwujuduan kegembiraan yang dibenarkan dan tidak boleh dilarang. Maka kami katakan: Tidak boleh melakukan dan menyetujui kemungkaran, kapan pun terjadinya. Karena mengingkari kemungkaran merupakan kewajiban, dan meninggalkannya akan mengundang azab dan kemurkaan dari Allah Tabaraka wa Ta’ala. Yang saya ingin katakan adalah: Apa yang terjadi pada kedua hari raya ini berupa adanya para penyanyi serta pagelaran sandiwara dan teater, semua ini tidak sejalan dengan kemuliaan bulan ini. Demikian halnya dengan pertunjukan sulap dari para penyulap, berkumpulnya kaum lelaki dan wanita, begadang di malam hari, dan menelantarkan pelaksanaan shalat dari waktunya bersama jamaah di masjid. Karenanya, jika ada pihak berwenang yang berusaha untuk melarang semua kegiatan ini, maka itu sudah menjadi kewajiban mereka dan itu memang sudah merupakan tugas mereka. Kita wajib membantu dan bekerjasama dengan mereka, bukan justru mengkritisi dan menghina mereka melalui makalah-makalah di surat kabar, atau pada obrolan sehari-hari, serta menyifati mereka sebagai ekstrimis. Karena mereka melarang perwujudan kegembiraan semacam ini yang hakikatnya mengotori kesucian hari raya yang Mubarak dan bertolak belakang dengan tujuan syariat dari pelaksanaan hari raya.

Maka perwujudan kegembiraan itu ada dua bentuk:
Bentuk yang disyariatkan, yaitu bergembira dengan keutamaan Allah pada hari raya idul fitri serta bersyukur kepadaNya atas sempurnanya puasa dan adanya shalat lail di dalam bulan ramadhan. Demikian halnya bergembira dengan sempurnanya semua manasik haji pada idul adha. Allah Ta’ala berfirman:
(قُلْ بِفَضْلِ اللَّهِ وَبِرَحْمَتِهِ فَبِذَلِكَ فَلْيَفْرَحُوا هُوَ خَيْرٌ مِمَّا يَجْمَعُونَ)
“Katakanlah: Dengan keutamaan dan rahmat Allah, dengan itulah sepatutnya mereka bergembira. Itu lebih baik daripada apa yang mereka kumpulkan.”
Tatkala Allah Jalla wa ‘Ala berfirman:
(يَا أَيُّهَا النَّاسُ قَدْ جَاءَتْكُمْ مَوْعِظَةٌ مِنْ رَبِّكُمْ وَشِفَاءٌ لِمَا فِي الصُّدُورِ وَهُدًى وَرَحْمَةٌ لِلْمُؤْمِنِينَ)
“Wahai sekalian manusia, telah datang kepada kalian peringatan dari Rabb kalian dan penawar dari penyakit yang ada di dalam dada, serta petunjuk dan rahmat bagi kaum mukminin.”
Allah berfirman setelahnya, “Katakanlah: Dengan keutamaan dan rahmat Allah, dengan itulah sepatutnya mereka bergembira.” Keutamaan Allah yang dimaksud adalah al Qur`an dan rahmatNya adalah agama dan iman. “Itu lebih baik daripada apa yang mereka kumpulkan,” yakni perhiasan dan kenikmatan dunia yang mereka raih. Kenikmatan dunia akan tetap kekal, sementara kenikmatan dunia akan sirna. Bergembira dengan al Qur`an dan agama merupakan kegembiraan yang terpuji, sementara bergembira dengan dunia yang fana adalah kegembiraan yang tercela. Karena bergembira dengan agama merupakan kegembiraan yang merupakan kesyukuran kepada Allah, sementara bergembira dengan dunia adalah kegembiraan yang merupakan kekufuran dan kesombongan. Allah Ta’ala berfirman:
(وَلا تَفْرَحُوا بِمَا آتَاكُمْ وَاللَّهُ لا يُحِبُّ كُلَّ مُخْتَالٍ فَخُورٍ)
“Dan janganlah kalian berbangga dengan apa yang Dia berikan kepada kalian. Dan Allah tidak mencintai setiap orang yang sombong lagi membanggakan diri.”
Dan Allah Ta’ala berfirman:
(وَفَرِحُوا بِالْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَمَا الْحَيَاةُ الدُّنْيَا فِي الآخِرَةِ إِلاَّ مَتَاعٌ)
“Dan mereka bergembira dengan kehidupan dunia, padahal tidaklah kehidupan dunia dibandingkan akhirat kecuali kesenangan (yang sedikit).”
Ini sama seperti kegembiraan Qarun:
(إِذْ قَالَ لَهُ قَوْمُهُ لا تَفْرَحْ إِنَّ اللَّهَ لا يُحِبُّ الْفَرِحِينَ)
“Tatkala kaumnya berkata kepadanya, “Janganlah kamu berbangga diri, karena sungguh Allah tidak mencintai orang-orang yang membanggakan diri.”
Kegembiraan yang berakhir dengan kebinasaan adalah kegembiraan yang berakhir di neraka, ketika dikatakan kepada para penghuni neraka:
(ذَلِكُمْ بِمَا كُنْتُمْ تَفْرَحُونَ فِي الأَرْضِ بِغَيْرِ الْحَقِّ وَبِمَا كُنْتُمْ تَمْرَحُونَ)
“Yang demikian itu disebabkan karena kalian suka berbangga di muka bumi dengan tidak benar, dan karena kalian selalu bersuka ria (dalam kemaksiatan).”
Kegembiraan dengan kedua hari raya bagi kaum muslimin merupakan kegembiraan yang diiringi dengan kesyukuran dan ibadah kepada Allah. Sebagaimana yang Nabi shallallahu alaihi wasallam sabdakan:
“أيام التشريق أيام أكل وشرب وذكر الله”
“Hari-hari tasyrik adalah hari-hari untuk makan dan minum, serta berzikir kepada Allah.”
Dan berakhirnya bulan ramadhan senantiasa diiringi dengan takbir, zakat fitrah, shalat id, dan berpuasa selama 6 hari di bulan syawal. Juga disertai makan dan minum dengan makanan yang Allah halalkan, dan menampakkan berbuka dengan makanan yang Allah halalkan. Karenanya, Nabi shallallahu alaihi wasallam selalu memakan beberapa butir korma -dalam jumlah yang ganjil- sebelum beliau keluar menuju shalat id. Nabi shallallahu alaihi wasallam bersabda:
“للصائم فرحتان: فرحة عند فطره وفرحة عند لقاء ربه”
“Orang yang berpuasa mempunyai 2 kegembiraan: Kegembiraan ketika berhari raya dan kegembiraan ketika berjumpa dengan Rabbnya.”

Hari raya kaum muslimin senantiasa berkaitan dengan ibadah, sementara hari raya non muslim senantiasa berkaitan dengan amalan-amalan yang dibenci, seperti kekacauan, obrolan yang tidak berguna, dan tanpa aturan. Maka harus dibedakan antara hari-hari raya kaum muslimin dengan hari-hari raya umat selain mereka. Karenanya Allah menggantikan untuk kita hari-hari raya jahiliah dengan hari-hari raya syar’i yang senantiasa berkaitan dengan pelaksanaan ibadah, serta mengandung ketaatan, kesyukuran, dan pengagungan kepada Allah. Kaum muslimin bersenang-senang dalam hari raya mereka dengan apa-apa yang Allah halalkan bagi mereka. Mereka bergembira dengan keutamaan dan rahmat dari Allah, dan mereka menggandengkannya dengan kesyukuran dan pengagungan kepada Allah. Mereka bergembira dengan keistimewaan dari Allah untuk mereka berupa nikmat Islam, turunnya al Qur`an, penghalalan semua makanan yang baik untuk mereka, saling menziarahi dan mengucapkan selamat satu sama lain, serta kuatnya hubungan kekeluargaan dan persaudaraan sesama kaum muslimin. Mereka bergembira pada hari-hari raya mereka dengan wujud kegembiraan yang terpuji, bukan dengan kegembiraan yang kelam lagi tercela. Maka ada banyak perbedaan yang mencolok antara hari-hari raya kaum muslimin dengan hari-hari raya umat selain mereka. Karenanya kita dilarang untuk menyerupai umat non muslim dalam pelaksanaan hari-hari raya mereka, agar bisa dibedakan antara kaum muslimin dengan umat selain mereka.
Segala pujian hanya milik Allah atas nikmat Islam. Shalawat Allah senantiasa tercurah kepada Nabi kita Muhammad, keluarga beliau, dan para sahabat beliau.

[sumber: http://www.alfawzan.af.org.sa/node/2296]

Share and Enjoy:
  • Print
  • Digg
  • StumbleUpon
  • del.icio.us
  • Facebook
  • Yahoo! Buzz
  • Twitter
  • Google Bookmarks

This entry was posted on Thursday, December 4th, 2014 at 10:58 am and is filed under Akhlak dan Adab. You can follow any responses to this entry through the RSS 2.0 feed. Both comments and pings are currently closed.

Comments are closed.