Perintah Menjaga dan Menyalurkan Amanah

October 25th 2010 by Abu Muawiah | Kirim via Email

17 Dzulqa’dah

Perintah Menjaga dan Menyalurkan Amanah

Allah Ta’ala berfirman:
إِنَّا عَرَضْنَا الأَمَانَةَ عَلَى السَّمَاوَاتِ وَالأَرْضِ وَالْجِبَالِ فَأَبَيْنَ أَن يَحْمِلْنَهَا وَأَشْفَقْنَ مِنْهَا وَحَمَلَهَا الإِنسَانُ إِنَّهُ كَانَ ظَلُومًا جَهُولاً
“Sesungguhnya kami menawarkan amanah (penyembahan) ini kepada langit-langit, bumi, dan gunung-gunung, akan tetapi mereka semua enggan menerimanya dan merasa berat dengannya. Lalu kemudian amanah ini diterima oleh manusia, sungguh manusia adalah makhluk yang zhalim lagi bodoh.” (QS. Al-Ahzab: 72)
Allah Ta’ala berfirman:
إِنَّ اللّهَ يَأْمُرُكُمْ أَن تُؤدُّواْ الأَمَانَاتِ إِلَى أَهْلِهَا
“Sesungguhnya Allah memerintahkan kalian untuk menyampaikan amanah-amanah itu kepada pemiliknya.” (QS. An-Nisa`: 58)
Allah Ta’ala berfirman:
إِنَّ خَيْرَ مَنِ اسْتَأْجَرْتَ الْقَوِيُّ الأَمِينُ
“Sesungguhnya orang terbaik yang kamu pekerjakan adalah orang yang kuat lagi amanah.” (QS. Al-Qashash: 26)
Allah Ta’ala berfirman:
وَالَّذِينَ هُمْ لأَمَانَاتِهِمْ وَعَهْدِهِمْ رَاعُونَ
“Dan orang-orang yang menjaga amanah dan janji mereka.” (QS. Al-Ma’arij: 32)
Yakni: Ini adalah sifat dari orang-orang yang beriman.
Dari Abu Hurairah radhiallahu anhu dia berkata:
بَيْنَما النبيُّ صلى الله عليه وسلم فِي مَجْلِسٍ يُحَدِّثُ الْقَوْمَ, جَاءَ أَعْرَابِيٌّ فَقالَ: مَتَى السَّاعَةُ؟ فَمَضَى رسولُ اللهِ صلى الله عليه وسلم يحدثُ. حَتَّى إِذا قَضَى حَدِيْثَهُ قال: أَيْنَ السّائِلُ عَنِ الساعةِ؟ قالَ: هَا أَنا يَا رسولَ اللهِ. قالَ: إِذا ضُيِّعَتِ الْأَمَانَةُ فَانْتَظِرِ السّاعَةَ، قال: كَيْفَ إِضاعَتُها؟ قال: إِذا وُسِدَ الْأَمْرُ إِلَى غَيْرِ أَهْلِهِ فَانْتَظِرِ السّاعَةَ
“Ketika Nabi shallallahu alaihi wasallam berada dalam sebuah majelis dan berbicara kepada sekelompok orang, ada seorang Arab badui yang datang lalu bertanya, “Kapan hari kiamat?” Tapi Rasulullah shallallahu alaihi wasallam terus saja berbicara. Setelah beliau selesai berbicara, beliau bertanya, “Dimanakah orang yang bertanya tentang hari kiamat tadi?” Dia menjawab, “Saya di sini wahai Rasulullah.” Beliau bersabda, “Jika amanah telah ditelantarkan maka tunggulah hari kiamat.” Dia kembali bertanya, “Bagaimana amanah ditelantarkan?” Beliau menjawab, “Jika urusan sudah diserahkan kepada selain ahlinya maka tunggulah hari kiamat.” (HR. Al-Bukhari: 1/57)
Dari Anas bin Malik radhiallahu anhu dia berkata: Sangat jarang Rasulullah shallallahu alaihi wasallam berkhutbah di hadapan kami kecuali beliau bersabda di dalamnya:
لا إِيْمانَ لِمَنْ لا أَمانَةَ لَهُ، ولا دِيْنَ لِمَنْ لا عَهْدَ لَهُ
“Tidak ada iman orang yang tidak punya amanah, dan tidak ada agama bagi orang yang tidak menepati janjinya.” (HR. Ahmad no. 12787 dan sanadnya dinyatakan hasan oleh Al-Albani dalam Al-Misykah: 1/17)

Penjelasan ringkas:
Amanah adalah sesuatu yang sangat besar lagi sangat berat, karenanya Allah Ta’ala mencela manusia tatkala mereka menerima amanah Allah padahal mereka adalah makhluk yang lemah. Hanya saja tatkala manusia telah menerima amanah, baik amanah dari Allah maupun dari sesama makhluk, maka Dia memerintahkan untuk menjaga dan menyalurkannya kepada pemilik serta memuji siapa saja yang berhasil menyelesaikan amanahnya.
Akan tetapi seiring dengan semakin dekatnya hari kiamat dimana keimanan semakin berkurang, maka demikian pula sifat amanah juga ikut berkurang. Karena amanah dan memenuhi janji itu berbanding lurus dengan keimanan dan agama yang baik. Karenanya Nabi shallallahu alaihi wasallam mengabarkan bahwa di antara tanda dekatnya hari kiamat adalah ketika setiap urusan diserahkan kepada selain ahlinya. Para pencuri diserahi amanah untuk mengumpulkan harta kaum muslimin, orang yang zhalim diserahi amanah menjaga dan melindungi kaum muslimin, para pelawak dan artis diserahi tugas mengajarkan agama kepada kaum muslimin melalui lawakan dan aktingnya, dan orang yang jahil terhadap agama ditempatkan di posisi pemberi fatwa, dan seterusnya, wal ‘iyadzu billah.

Share and Enjoy:
  • Print
  • Digg
  • StumbleUpon
  • del.icio.us
  • Facebook
  • Yahoo! Buzz
  • Twitter
  • Google Bookmarks

This entry was posted on Monday, October 25th, 2010 at 9:10 am and is filed under Akhlak dan Adab, Quote of the Day. You can follow any responses to this entry through the RSS 2.0 feed. Both comments and pings are currently closed.

2 responses about “Perintah Menjaga dan Menyalurkan Amanah”

  1. hamba Allah said:

    ustadz, ana ada pertanyaan yg sama sekali tidak ada kaitannya dgn tema di atas krn sbnrnya ana ingin bertanya kpd antum tp ana sgt sulit sekali mencari link yg cocok dgn pertanyaan ana di situs ini,,mohon dijwb ustadz

    begini ustadz..saya sedang mengalami mslh yg sgt berat bagi saya, saya sering sekali dihadapkan oleh suatu mslh dan saya belum tahu dalil utk menghukumi mslh tersebut dan seketika itu pula saya hrs berijtihad, dan kemudian timbul pikiran di hati saya klo ijtihad yg saya lakukan adalah ikut hawa nafsu saya atau krn ada kepentingan shg perbuatan saya sama saja menghalalkan apa yg diharamkan Allah,,saya sangat stres sekali ustadz,,jujur saja ustadz ana sangat khawatir ana telah terjerumus dlm kekafiran,,apa yg hrs saya lakukan ustadz? lantas bgmnkah caranya berijtihad tanpa hawa nafsu dan dipengaruhi oleh kepentingan2? krn saya sgt ingin semata2 dgn niat yg ikhlas dan benar?

    Orang yang tidak mempunyai ilmu diharamkan untuk berijtihad, karenanya walaupun hukum yang dia pilih itu benar maka dia tetap berdosa karena telah beramal tanpa ilmu. Solusinya sangat mudah, apalagi di zaman ini: Setiap kali ada permasalahan, tinggal angkap HP trus nelpon kepada alim yang anda percayai keilmuannya. Jangan lewat sms karena biasanya jawabannya tidak akan maksimal. Sungguh, mengorbankan pulsa itu jauh lebih baik daripada terjerumus kepada kejahilan dan kemaksiatan.

  2. ali said:

    assalamu alaikum..ustadz ,ana mau nanya apakah kalau kita bekerja kemudian kita tidur dalam pekerjaan tersebut,apakah kita terkena hukum dan hadist tersebut diatas?jazakallohi khairon katsiron

    Waalaikumussalam.
    Jika hal itu dia lakukan dengan sengaja padahal dia bisa untuk tidak tidur, maka tidak diragukan dia telah melalaikan amanah. Kecuali jika ada izin atau dimaklumi oleh atasannya.