Perbedaan Hadats dan Najis

December 31st 2009 by Abu Muawiah |

Perbedaan Hadats dan Najis

Tanya:
jelaskan perbedaan hadast dan najis
“imam” <bass.imam@yahoo.co.id>

Jawab:

Hadats adalah sebuah hukum yang ditujukan pada tubuh seseorang dimana karena hukum tersebut dia tidak boleh mengerjakan shalat.  Dia terbagi menjadi dua: Hadats akbar yaitu hadats yang hanya bisa diangkat dengan mandi junub, dan hadats ashghar yaitu yang cukup diangkat dengan berwudhu atau yang biasa dikenal dengan nama ‘pembatal wudhu’.

Adapun najis maka dia adalah semua perkara yang kotor dari kacamata syariat, karenanya tidak semua hal yang kotor di mata manusia langsung dikatakan najis, karena najis hanyalah yang dianggap kotor oleh syariat. Misalnya tanah atau lumpur itu kotor di mata manusia, akan tetapi dia bukan najis karena tidak dianggap kotor oleh syariat, bahkan tanah merupakan salah satu alat bersuci.

Najis terbagi menjadi tiga:
1.    Najis maknawiah, misalnya kekafiran. Karenanya Allah berfirman, “Orang-orang musyrik itu adalah najis,” yakni bukan tubuhnya yang najis akan tetapi kekafirannya.
2.    Najis ainiah, yaitu semua benda yang asalnya adalah najis. Misalnya: Kotoran dan kencing manusia dan seterusnya.
3.    Najis hukmiah, yaitu benda yang asalnya suci tapi menjadi najis karena dia terkena najis. Misalnya: Sandal yang terkena kotoran manusia, baju yang terkena haid atau kencing bayi, dan seterusnya.

Dari perbedaan di atas kita bisa melihat bahwa hadats adalah sebuah hukum atau keadaan, sementara najis adalah benda atau zat. Misalnya: Buang air besar adalah hadats dan kotoran yang keluar adalah najis, buang air kecil adalah hadats dan kencingnya adalah najis, keluar darah haid adalah hadats dan darah haidnya adalah najis.

Kemudian yang penting untuk diketahui adalah bahwa tidak ada korelasi antara hadats dan najis, dalam artian tidak semua hadats adalah najis demikian pula sebaliknya tidak semua najis adalah hadats.

Contoh hadats yang bukan najis adalah mani dan kentut. Keluarnya mani adalah hadats yang mengharuskan seseorang mandi akan tetapi dia sendiri bukan najis karena Nabi -alaihishshalatu wassalam- pernah shalat dengan memakai pakaian yang terkena mani, sebagaimana disebutkan dalam hadits Aisyah. Demikian pula buang angin adalan hadats yang mengharuskan wudhu akan tetapi anginnya bukanlah najis, karena seandainya dia najis maka tentunya seseorang harus mengganti pakaiannya setiap kali dia buang angin.

Contoh yang najis tapi bukan hadats adalah bangkai. Dia najis tapi tidak membatalkan wudhu ketika menyentuhnya dan tidak pula membatalkan wudhu ketika memakannya, walaupun tentunya memakannya adalah haram.
Jadi, yang membatalkan thaharah hanyalah hadats dan bukan najis.

Karenanya jika seseorang sudah berwudhu lalu dia buang air maka wudhunya batal, akan tetapi jika setelah dia berwudhu lalu menginjak kencing maka tidak membatalkan wudhunya, dia hanya harus mencucinya lalu pergi shalat tanpa perlu mengulangi wudhu, dan demikian seterusnya.

Kemudian di antara perbedaan antara hadats dan najis adalah bahwa hadats membatalkan shalat sementara najis tidak membatalkannya. Hal itu karena bersih dari hadats adalah syarat syah shalat sementara bersih dari najis adalah syarat wajib shalat. Dengan dalil hadits Abu Said Al-Khudri dimana tatkala Nabi -alaihishshalatu wassalam- sedang mengimami shalat, Jibril memberitahu beliau bahwa di bawah sandal beliau adalah najis. Maka beliau segera melepaskan kedua sandalnya -sementara beliau sedang shalat- lalu meneruskan shalatnya. Seandainya najis membatalkan shalat tentunya beliau harus mengulangi dari awal shalat karena rakaat sebelumnya batal. Tapi tatkala beliau melanjutkan shalatnya, itu menunjukkan rakaat sebelumnya tidak batal karena najis yang ada di sandal beliau. Jadi orang yang shalat dengan membawa najis maka shalatnya tidak batal, akan tetapi dia berdoa kalau dia sengaja dan tidak berdosa kalau tidak tahu atau tidak sengaja.

Kesimpulan:
Dari uraian di atas kita bisa memetik beberapa perbedaan antara hadats dan najis di kalangan fuqaha` yaitu:
1.    Hadats adalah hukum atau keadaan, sementara najis adalah zat atau benda.
2.    Hadats membatalkan wudhu sementara najis tidak.
3.    Hadats membatalkan shalat sementara najis tidak.
4.    Hadats diangkat dengan bersuci (wudhu, mandi, tayammum), sementara najis dihilangkan cukup dengan dicuci sampai hilang zatnya.
Wallahu Ta’ala a’la wa a’lam.

Incoming search terms:

  • hadats
  • hadats dan najis
  • perbedaan hadats dan najis
  • perbedaan hadast dan najis
  • Perbedaan hadas dan najis
Share and Enjoy:
  • Print
  • Digg
  • StumbleUpon
  • del.icio.us
  • Facebook
  • Yahoo! Buzz
  • Twitter
  • Google Bookmarks

This entry was posted on Thursday, December 31st, 2009 at 6:14 am and is filed under Fiqh, Jawaban Pertanyaan. You can follow any responses to this entry through the RSS 2.0 feed. Both comments and pings are currently closed.

22 responses about “Perbedaan Hadats dan Najis”

  1. Jumaidin Kartiko said:

    menurut saya sama karena membatalkan wudlu tapi ada pengecualiannya,,,kalo kita buang hadast tentu najis…tapi najis belum tentu hadast…

    Betul, najis belum tentu hadats dan hadats juga belum tentu najis. Ucapan anda [menurut saya sama karena membatalkan wudlu tapi ada pengecualiannya] itu berarti tidak sama karena ada pengecualiannya.

  2. Miftah Choirul said:

    Afwan_
    Keterangan diatas u/ jenis-2 najis ada 3, yaitu: maknawiah, ainiah, dan hukmiah…
    yg ingin saya tanyakan…
    Kalau mugholadzoh, muthowasitho, dan mukhofafa_ itu termasuk apa ya?…
    Syukron…

    Ini pembagian najis menurut cara penyuciannya, dan ini hanya ada dalam mazhab Asy-Syafi’iyah dan Al-Hanabilah.
    1. Najis mughallazhah (berat) adalah yang butuh dicuci tujuh kali dan salah satunya dicampur tanah, seperti liur anjing (bagi yang berpendapat najisnya)
    2. Mukhaffafah (ringan) adalah yang penyuciannya cukup dituangkan sedikit air padanya tapi tidak sampai air yang dituangkan itu menetes. Misalnya kencing bayi laki-laki yang belum mengonsumsi apa-apa selain ASI.
    3. Mutawassithah adalah yang penyuciannya dengan cara dicuci tapi tidak sampai 7 kali, dan contohnya adalah najis selain di atas.

  3. Rizki Kamo said:

    saya masih kurang jelas, jadi apabila kita sudah berwudhu, lalu tanpa sengaja terkena najis, seperti air kencing manusia, wudhu kita tidak batal dan cukup dibersihkan saja?

    lalu bagaimana dengan air madhi, apakah keluarnya air madhi dapat membatalkan puasa?

    syukron

    Ia, kalau setelah bersuci lalu menginjak najis maka wudhunya tidak batal akan tetapi najisnya cukup dibersihkan.
    Keluarnya madzi tidaklah membatalkan puasa.

  4. Indahnya Ajaran Islam said:

    [...] sumber : http://al-atsariyyah.com/ [...]

  5. eny said:

    jazakillahu khoir
    apakah boleh kita berjabat tangan dengan sesama wanita kafir?

    Ia boleh.

  6. nicke said:

    jika pakaian menyentuh air kencing bayi perempuan yang telah kering di sprei apakah pakaian tersebut masih bisa dipakai untuk sholat? jazakallohu khoiron katsiro…

    Jika memang kencing itu sudah kering dan tidak melekat pada pakaian yang mengenainya maka pakaian itu tetap bisa dipakai shalat.

  7. Adi said:

    Apakah yang mesti saya lakukan jika sewaktu mengikuti sholat berjama’ah, kulit saya terkena darah nyamuk atau kotoran cecak yang masih basah? Apakah saya harus membatalkan sholat saya?
    Karena ketidaktahuan saya akan hukumnya, jadi saya teruskan saja sholat tsb. Apakah saya harus mengulang sholat tsb? Terima kasih atas penjelasannya.

    Teruskan saja shalatnya, karena darah dan kotoran cicak bukanlah najis.

  8. Muhammad Ari Ihsan said:

    Assalamu’alaikum, ustad
    saya mau bertanya nih…
    kalau misalnya celana yang kita pakai terkena najis,atau percikkan saat kencing, sah kah jika di pakai sholat ? jika tidak,sah kah jika dipakai sholat, tetapi di doble ( ditutup ) pakai sarung ?
    mohon penjelasannya ustad…
    syukron…

    Waalaikumussalam.
    Shalatnya tetap syah pada kedua keadaan di atas, akan tetapi dia berdosa besar. Karena tidak membersihkan najis.

  9. abdullah said:

    ustadz,

    kitab fiqh apa yg bagus untuk bacaaan bagi pemula belajar agama ? dan yg cocok untuk pengangan di dlm rumah tangga ? yg ringan, tapi lengkap bahasannya

    Sebagian ulama menganjurkan Fiqhu As-Sunnah Sayyid Sabiq beserta catatan Asy-Syaikh Al-Albani terhadapnya dalam kitab Tamam Al-Minnah. Wallahu a’lam.

  10. mika said:

    Bagaimana jika kita tidak mengetahui bahwa ada najis yang terkena pakaian yang di pakai sholat?
    apakah juga berdosa, ustad ?

    Semua kesalahan yang dilakukan karena ketidaktahuan insya Allah bukanlah dosa.

  11. mika said:

    Satu lagi nih ustad,
    melihat komentar nomor 8…
    bukannya suci seluruh anggota badan,PAKAIAN,dan tempat merupakan syarat sah shalat….?
    yang jika badan,pakaian,dan tempatnya tidak suci,maka shalatnya tidak sah…
    bukannya begitu ustad…?

    Bukan. Sucinya badan, pakaian, dan tempat shalat bukan merupakan syarat syah shalat, akan tetapi merupakan kewajiban shalat, menurut pendapat yang paling kuat di kalangan ulama. Karenanya dia berdosa namun shalatnya tetap syah.

  12. elfirdausy said:

    ini adalah jawaban dari ustadz utk pertanyaan no 10:

    “Semua kesalahan yang dilakukan karena ketidaktahuan insya Allah bukanlah dosa.”

    bagaimana kalo seseorang yg berpacaran, memakan harta riba, membungakan uang, melakukan amalan bid’ah, tidak mengeluarkan zakat dll? sedangkan dia melakukan semua kesalahan2 itu kerna ketidaktahuannya??

    tolong diperjelas maksud jawaban ustaz diatas, ato luruskan kalo ada pernyataan saya yg salah. terima kasih..

    Ya, saya rasa jelas. Semua kesalahan yang dilakukan karena ketidaktahuan tidaklah berdosa ketika dia melakukan kesalahan tersebut. Karena Allah Ta’ala membalas manusia sesuai dengan ilmu mereka. Hanya saja itu tidak menutup kemungkinan mereka berdosa dari sisi mereka tidak mempelajari semua hal yang diharamkan tersebut.

  13. Lie yong dae said:

    ASSALAMMUA’ALAIKUM WR WB pa ustadz,sy mau brtanya misalkan sarung untk sholat kita itu terkena darah dibersihkan namun tidak mau hilang atau sdah mengering disarung, apakah boleh dipakai sarung itu untk sholat.mhon jwbannya terimakasih.

    Waalaikumussalam.
    Ini darah apa? Kalau darah haid, maka dia najis. Sehingga jika tidak mau hilang dzatnya maka tidak boleh shalat dengannya. Tapi jika dia darah biasa maka syah shalat dengannya, karena darah biasa bukan najis.

  14. dea said:

    Bismillah,

    Ust, katanya najis bukan trmsk syarat sah sholat tp kewajiban, knp di atas [pertanyaan no 13] ust katakan darah biasa sah shalatnya yg berarti sarung/pakaian yg terkena darah haid menjadikan shalat tdk sah krn darah haid kan trmsk najis. Ini bgmn tadz? Afwan, mohon penjelasannya ust. Jazakallahu khair.

    Darah haid kapan dia keluar maka wanita itu berhadats. Sementara tidak syah shalat orang yang berhadats sampai dia suci. Adapun orang yang keluar darah biasa (luka misalnya) maka dia bukanlah orang yang berhadats.

  15. dymas said:

    Assalamualaikum ustadz,
    1.) Mngenai jwban nmr 13&14, apkh mksd ustadz ttp sah sholatny apbl mnggunakan sarung yg ad bkas noda darah haidz yg msh brbekas wlaupn sdah dbrsihkan? Nmun ia brdosa krna sngaja mmkainy? Bgtu ustadz?!
    2.) sy pny (maaf) ambeyen ustadz…saat sholat kdang sy mrsa sdkit (maaf) BAB ustadz, pas sy check CD sy brsih g bau appun, tp pas sy check (maaf) as*h*le sy pke jari, jari sy bau ustadz…sy sring mngalami ini shg sy jd gmpang dbsiki setan dg rasa was2…apkh sholat sya sah atw btal ustadz
    Terima kasih, assalamualaikum

    Waalaikumussalam.
    1. Ya betul.
    2. Itu adalah was dari setan. Kalau memang pada CD tidak ada cairan, maka berarti tidak ada yang keluar.

  16. maryam said:

    Assalamu’alaikum, ustadz. Ana mau tanya, kalau lantai di rumah sering kena ompol ade, saya perlu nyuci kaki lagi gak setiap mau sholat? Syukron.

    Waalaikumussalam.
    Kalau kencingnya sudah hilang dengan dipel pake air, insya Allah lantainya sudah suci.

  17. mulyo said:

    dalam bahasan fiqh suci badan, pakaian dan tempat menjadi syarat sah shalat. menurut ustadz najis tidak ada korelasi dengan sah tidaknya shalat. apakah thaharah itu hanya berhubungan dengan menghilangkan hadats saja?

    Thaharah berkenaan dengan menghilangkan hadats dan najis. Namun hal ini tidak berhubungan dengan syah tidaknya shalat, karena adanya dalil lain yang berdiri sendiri yang menjelaskan masalah ini.

  18. E.p said:

    Assalamualaikum pak Ustadz.
    Saya mau bertanya ni tadz. Celana sy prn ni di jilat ama anjing lalu sy tdk tau di bgian mnakah yg trjilat anjing tsb. trus sy tidak mencucinya dan seterusnya. Krn alasan tdk tahu bgian mna yg trkn jilatan. Lalu hng kini sy msi mengenakan celana tsb. Apakah itu membatalkan sholat saya. Mohon dijawab yach pak Utadz. Assalamualaikum wr.wb.

    Waalaikumussalam.
    Tidak membatalkan shalat. Tidak mengapa mengenakannya ketika shalat karena itu sudah lama terjadi.

  19. Pencari Ilmu said:

    Assalamu’alaikum.
    Ustadz, apakah bau tidak enak (spt bau kotoran samar2) yg tercium pada CD adalah najis? Padahal tidak nampak ada kotoran yg menempel pad CD tersebut.
    Apakah boleh saya kenakan waktu sholat?
    Sekarang saya sering was2, bila habis mandi sore hari selalu saya cium CD saya, kalo bau tidak saya kenakan lagi. Dan ini merepotkan serta jadi boros cucian karena ganti CD dua kali sehari.
    Terimakasih.

    Waalaikumussalam.
    Belum tentu itu najis.
    Selama tidak nampak adanya najis, maka tetap boleh dipakai shalat.
    Apa yang anda lakukan itu sebenarnya tidak perlu, itu hanya was-was dan anda harus membuang semua was-was sampai anda yakin.

  20. mun said:

    assalamualaikum . tanya, misalkan kita habis BAB atau BAK lalu kita mensucikannya dengan air yang kurang dari syarat buat wudlu (air kurang dari 216 liter). itu boleh atau tidak? terima kasih

    Waalaikumussalam.
    Tidak ada aturan tertentu dalam hal jumlah air yg digunakan. Intinya najisnya hilang, berapa pun jumlah air yg dia gunakan.

  21. Ummu Rafah said:

    ustadz sy pernah mendengar kajian 1.bahwa jika qta sholat kemudian disentuh anak laki2 belum sunat atau anak perempuan memakai diaper yg ada kencingnya,sholat qta menjadi batal.apakah benar?
    2.jika karpet yang buat qta sholat habis terkena kencing anak kmd dibuat sholat diatasnya dengan memberi kain dan sajadah,sahkah sholat qta?

    1. Itu tidak benar.
    2. Insya Allah tetap syah.

  22. aldiyanto said:

    assalamu’alaikum.
    saya mau tnya ni,pas saya shalat berjam’ah trus imam tdk tau klo dirinya menginjak najis(tai cicak) dan imam menyadarinya di saat imam berdzikir imam melihat di kaki dirinya trdapat najis (tai cicak) dan imam brkata untuk mengulangi kembali shalat berjama’ahnya, itu kira” hukumnya dosa apa tdk ya dan shalat prtamanya syah atau tdk. .?

    terimakasih. :)

    Waalaikumussalam.
    Seharusnya shalat tidak perlu diulang karena shalatnya syah. Nabi pernah juga seperti itu -mirip- tapi beliau tidak mengulang shalat beliau.