Peran Wanita dan Peran Lelaki

November 30th 2014 by Abu Muawiah |

Allah Subhanahu telah menciptakan jenis lelaki dan wanita dari anak keturunan Adam dan dari semua jenis makhluk hidup. Allah juga menuntun setiap dari mereka menuju peran yang sesuai dengan postur fisik dan perilakunya, agar perannya bisa mendatangkan manfaaat dan mencapai target. Sebagaimana firman Allah Ta’ala melalui lisan Musa dan Harun alaihimassalam, tatkala Fir’aun bertanya kepada mereka berdua:
(قَالَ فَمَنْ رَبُّكُمَا يَا مُوسَى* قَالَ رَبُّنَا الَّذِي أَعْطَى كُلَّ شَيْءٍ خَلْقَهُ ثُمَّ هَدَى)
“Dia bertanya, “Maka siapakah Rabb kalian berdua wahai Musa?” Beliau menjawab, “Rabb kami adalah Yang telah menciptakan segala sesuatu kemudian menuntun mereka.” (QS. Thaha: 49-50)
Maksudnya: Rabb kami adalah Yang menciptakan semua makhluk dan memberikan setiap makhluk postur tubuh yang sesuai. “Kemudian menuntun mereka.” semua makhluk menuju tujuan penciptaannya.
Setiap makhluk berusaha untuk memenuhi tujuan penciptaan mereka, berupa meraih manfaat untuk dirinya dan mencegah terjadinya mudharat dari dirinya. Dan di antara makhluk-makhluk itu adalah manusia. Kaum lelaki mempunyai postur tubuh tersendiri dan perilaku kejantanan tersendiri, dan kaum wanita juga mempunyai postur tubuh tersendiri dan perilaku kewanitaan tersendiri. Kapan setiap dari kedua jenis ini mengingkari peran dan perilaku yang khusus baginya, maka keteraturan alam semesta akan terlantar dan berbagai maslahat akan terbengkalai. Karenanya Nabi shallallahu alaihi wasallam bersabda:
“لعن الله المتشبهين من الرجال بالنساء، ولعن الله المتشبهات من النساء بالرجال”
“Allah melaknat kaum lelaki yang menyerupai wanita dan Allah melaknat kaum wanita yang menyerupai lelaki.”

Hal itu karena agama dan fitrah akan menjadi terbalik, dan masyarakat terancam akan kehilangan berbagai maslahat dan terkena berbagai mafsadat.
Di hari-hari ini, ada banyak perbincangan mengenai peran kaum wanita dalam kehidupan. Seakan-akan Islam menelantarkan kaum wanita dan tidak memberikannya peran kepada mereka dalam masyarakat. Karenanya mereka menyatakan: ‘Setengah bagian masyarakat sedang terbengkalai.’ Maka kami bertanya kepada mereka: “Peran wanita yang bagaimana yang kalian maksudkan?”

Apakah kalian menginginkan agar mereka juga bisa mengerjakan pekerjaan lelaki?! Ini jelas akan menimbulkan kerusakan daru dua sisi:
Sisi pertama: Kaum lelaki akan menganggur jika peran mereka diambil alih.
Sisi kedua: Kaum wanita tetap tidak akan mampu mengerjakan pekerjaan kaum lelaki, sehingga seluruh aktifitas masyarakat akan akan terbengkalai atau lumpuh.

Penting untuk dipahami bahwa masyarakat itu terdiri dari kumpulan keluarga dan rumah tangga, dan setiap keluarga terdiri dari lelaki dan wanita. Yang wanita mengurusi semua urusan internal rumah tangga seperti: Mengandung, melahirkan, menyusui, mendidik anak-anak, dan mengurus rumah. Semua urusan ini tidak mampu dilakukan oleh kaum lelaki, sehingga mereka terpaksa akan menyewa para wanita yang akan menjadi pembantu dan pelayan di rumah mereka. Namun, berapapun banyak jumlah pembantu, tetap saja mereka tidak akan mampu untuk mengurusi semua urusan internal rumah tangga. Belum lagi budaya dan keyakinan yang mereka miliki yang merusak pendidikan anak-anak. Atau sang ayah akan menyerahkan urusan pengasuhan anak-anaknya kepada para pembantu yang tidak mengetahui bagaimana sebenarnya kasih sayang kedua orang tua kepada anaknya. Yang mereka pentingkan hanyalah menaikkan posisi mereka, yang mana itu bisa membuat anak-anak tidak lagi mengenal kedua orang tuanya, karena keduanya hanya mementingkan bagaimana mereka menempatkan anak-anak mereka dalam situasi ini (diasuh pembantu, penj.) guna melepaskan tanggung jawab.
Sudah dimaklumi akan besarnya kepayahan dan banyaknya bahaya yang menanti kaum wanita jika mereka bekerja di luar rumah mereka. Dan sudah dimaklumi akan kekurangan mereka dalam pekerjaan di luar rumah dibandingkan lelaki, yang mana kekurangan itu menyebabkan tidak terpenuhinya kebutuhan masyarakat.
Dan juga sudah dimaklumi bahwa wanita yang bekerja di luar rumah akan mengisi pekerjaan kaum lelaki. Itu akan menyebabkan banyak pemuda yang memiliki kapabilitan tidak mempunyai pekerjaan, dan akhirnya mereka akan mengeluhkan masalah pengangguran. Sehingga jadilah kaum wanita, tidak dia melakukan perannya yang semestinya di dalam rumah dan tidak juga dia melakukan pekerjaan yang sempurna di luar rumah. Sehingga wanita itu akan menjadi bagaikan gagak yang meninggalkan cara berjalan biasanya agar dia bisa berjalan seperti cara jalan burung puyuh. Namun hasilnya dia tidak mampu berjalan seperti cara jalan burung puyuh, dan dia juga sudah tidak mampu berjalan seperti cara jalan alaminya.

Kami mengajak kalian wahai para dai untuk menggunakan akal-akal kalian dalam permasalahan ini. Jangan sampai kalian terpengaruh oleh perasaan dan goncangan, dan terpengaruh oleh seruan orang-orang barat yang ingin kalian dan masyarakat kalian tergelincir dari petunjuk al Kitab dan as Sunnah dalam mengurusi kaum wanita. Allah Ta’ala berfirman:
(إِنَّ هَذَا الْقُرْآنَ يَهْدِي لِلَّتِي هِيَ أَقْوَمُ)
“Sesungguhnya al Qur`an ini menunjukkan jalan yang paling lurus.” (QS. al Isra`: 9)
Dan Nabi shallallahu alaihi wasallam bersabda:
“إني تارك فيكم ما إن تمسكتم به لن تضلوا بعدي: كتاب الله وسنتي”
“Sungguh aku meninggalkan kalian sesuatu yang jika kalian berpegang teguh dengannya, niscaya kalian tidak akan tersesat sepeninggalku: Kitab Allah dan sunnahku.”

Ada pelajaran berharga bagi kalian pada 2 pemudi dari kota Madyan, tatkala keduanya tidak mampu mengalahkan kaum lelaki dalam memberi minum ternak. Sampai Musa alaihissalam datang dengan sifat kejantanannya lalu memberikan minum untuk ternak keduanya. Kemudian salah satu dari kedua wanita ini menyarankan kepada ayahnya agar menyewa Nabi Musa untuk melakukan pekerjaan itu.
Maka kaum lelaki mempunyai peran di dalam masyarakat yang tidak bisa dilakukan oleh selainnya (kaum wanita). Dan sebaliknya, kaum wanita juga mempunyai peran yang tidak bisa dilakukan oleh selainnya. Jika setiap dari keduanya melakukan perannya masing-masing, maka akan sempurnalah kehidupan masyarakat.
Sebagai penutup, aku meminta kepada kalian wahai lelaki dan wanita yang mempunyai karya tulis dalam masalah wanita, agar kalian selalu berpikiran lurus dan tidak mengikuti perasaan kalian, yang hanya akan melahirkan banyak hal buruk di baliknya.
Aku memohon kepada Allah agar memberikan taufik kepada kita semua menuju kebaikan dan kemaslahatan kita bersama. Shalawat Allah senantiasa tercurah kepada Nabi kita Muhammad.

Ditulis oleh:
Saleh bin Fauzan al Fauzan
Anggota Haiah Kibar al Ulama
2 Rajab 1432 H

[Sumber: http://alfawzan.net/makalah/islam-tidaklah-menelantarkan-peran-wanita]

Share and Enjoy:
  • Print
  • Digg
  • StumbleUpon
  • del.icio.us
  • Facebook
  • Yahoo! Buzz
  • Twitter
  • Google Bookmarks

This entry was posted on Sunday, November 30th, 2014 at 12:16 pm and is filed under Muslimah. You can follow any responses to this entry through the RSS 2.0 feed. Both comments and pings are currently closed.

Comments are closed.