Penjelasan Rukun Iman

August 10th 2011 by Abu Muawiah |

10 Ramadhan

Penjelasan Rukun Iman

Aqidah Islamiah dibangun di atas rukun iman yang enam, yaitu: Iman kepada Allah, para malaikat-Nya, kitab-kitabNya, para rasul-Nya, hari akhirat, dan iman kepada takdir yang baik dan yang buruk.
Keenam rukun ini telah disebutkan secara jelas dalam Al-Qur`an dan sunnah Rasul-Nya shallallahu alaihi wasallam. Allah Azza wa Jalla berfirman:
ليس البر أن تولوا وجوهكم قبل المشرق والمغرب ولكن البر من ءامن بالله واليوم الآخر والملائكة والكتاب والنبيين
“Bukanlah menghadapkan wajahmu ke arah timur dan barat itu suatu kebajikan, akan tetapi sesungguhnya kebajikan itu ialah beriman kepada Allah, hari kemudian, malaikat-malaikat, kitab-kitab, dan nabi-nabi.” (QS. Al-Baqarah: 177)
Adapun, iman kepada takdir maka disebutkan dalam firman-Nya:
إنا كل شيء خلقناه بقدر
“Sesungguhnya Kami menciptakan segala sesuatu dengan takdir.” (QS. Al-Qamar: 49)
Sementara dari As-Sunnah adalah hadits Umar bin Al-Khaththab yang masyhur tentang kisah datangnya Jibril alaihissalam untuk bertanya kepada Nabi shallallahu alaihi wasallam tentang iman. Maka beliau shallallahu alaihi wasallam bersabda:
أَنْ تُؤْمِنَ بِاللَّهِ وَمَلَائِكَتِهِ وَكُتُبِهِ وَرُسُلِهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ وَتُؤْمِنَ بِالْقَدَرِ خَيْرِهِ وَشَرِّهِ
“Kamu beriman kepada Allah, malaikat-malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, para Rasul-Nya, hari akhir, dan kamu beriman kepada takdir yang baik dan yang buruk.” (HR. Muslim no. 9)

Berikut penjelasan ringkas mengenai keenam rukun iman ini:
1.    Iman kepada Allah.
Tidaklah seseorang dikatakan beriman kepada Allah hingga dia mengimani 4 perkara:
a.    Mengimani adanya Allah Ta’ala.
b.    Mengimani rububiah Allah, bahwa tidak ada yang mencipta, menguasai, dan mengatur alam semesta kecuali Allah.
c.    Mengimani uluhiah Allah, bahwa tidak ada sembahan yang berhak disembah selain Allah dan mengingkari semua sembahan selain Allah Ta’ala.
d.    Mengimani semua nama dan sifat Allah yang Allah telah tetapkan untuk diri-Nya dan yang Nabi-Nya shallallahu alaihi wasallam tetapkan untuk Allah, serta menjauhi ta’thil, tahrif, takyif, dan tamtsil.

2.    Iman kepada para malaikat Allah.
Maksudnya kita wajib membenarkan bahwa para malaikat itu ada wujudnya dimana Allah Ta’ala menciptakan mereka dari cahaya. Mereka adalah makhluk dan hamba Allah yang selalu patuh dan beribadah kepada-Nya. Allah Ta’ala berfirman:
ومن عنده لا يستكبرون عن عبادته ولايستحسرون يسبحون الليل والنهار لايفترون
“Dan malaikat-malaikat yang di sisi-Nya, mereka tiada mempunyai rasa angkuh untuk menyembah-Nya dan tiada (pula) merasa letih. Mereka selalu bertasbih malam dan siang tiada henti-hentinya.” (QS. Al-Anbiya`: 19-20)
Kita wajib mengimani secara rinci setiap malaikat yang kita ketahui namanya seperti Jibril, Mikail, dan Israfil. Adapun yang kita tidak ketahui namanya maka kita mengimani mereka secara global. Di antara bentuk beriman kepada mereka adalah mengimani setiap tugas dan amalan mereka yang tersebut dalam Al-Qur`an dan hadits yang shahih, seperti mengantar wahyu, menurunkan hujan, mencabut nyawa, dan seterusnya.

3.    Iman kepada kitab-kitab Allah.
Yaitu kita mengimani bahwa seluruh kitab Allah adalah kalam-Nya, dan kalamullah bukanlah makhluk karena kalam merupakan sifat Allah dan sifat Allah bukanlah makhluk.
Kita juga wajib mengimani secara terperinci semua kitab yang namanya disebutkan dalam Al-Qur`an seperti taurat, injil, zabur, suhuf Ibrahim, dan suhuf Musa. Sementara yang tidak kita ketahui namanya maka kita mengimani secara global bahwa Allah Ta’ala mempunyai kitab lain selain daripada yang diterangkan kepada kita. Secara khusus tentang Al-Qur`an, kita wajib mengimani bahwa dia merupakan penghapus hukum dari semua kitab suci yang turun sebelumnya.

4.    Iman kepada para nabi dan rasul Allah.
Yaitu mengimani bahwa ada di antara laki-laki dari kalangan manusia yang Allah Ta’ala pilih sebagai perantara antara diri-Nya dengan para makhluknya. Akan tetapi mereka semua tetaplah merupakan manusia biasa yang sama sekali tidak mempunyai sifat-sifat dan hak-hak ketuhanan, karenanya menyembah para nabi dan rasul adalah kebatilan yang nyata.
Wajib mengimani bahwa semua wahyu nabi dan rasul itu adalah benar dan bersumber dari Allah Ta’ala. Karenanya siapa saja yang mendustakan kenabian salah seorang di antara mereka maka sama saja dia telah mendustakan seluruh nabi lainnya. Karenanya Allah Ta’ala mengkafirkan Yahudi dan Nashrani tatkala tidak beriman kepada Muhammad shallallahu alaihi wasallam dan Allah mendustakan keimanan mereka kepada Musa dan Isa alaihimassalam, karena mereka tidak beriman kepada Muhammad shallallahu alaihi wasallam.
Juga wajib mengimani secara terperinci setiap nabi dan rasul yang kita ketahui namanya. Sementara yang tidak kita ketahui namanya maka kita wajib mengimaninya secara global. Allah Ta’ala berfirman:
ولقد أرسلنا رسلاً من قبلك منهم من قصصنا عليك ومنهم من لم نقصص عليك
“Dan sesungguhnya telah Kami utus beberapa orang rasul sebelum kamu, di antara mereka ada yang Kami ceritakan kepadamu dan di antara mereka ada (pula) yang tidak Kami ceritakan kepadamu.” (QS. Ghafir: 78)

5.    Iman kepada hari akhir.
Dikatakan hari akhir karena dia adalah hari terakhir bagi dunia ini, tidak ada lagi hari keesokan harinya. Hari akhir adalah hari dimana Allah Ta’ala mewafatkan seluruh makhluk yang masih hidup ketika itu -kecuali yang Allah perkecualikan-, lalu mereka semua dibangkitkan untuk mempertanggung jawabkan amalan mereka. Allah Ta’ala berfirman:
كما بدأنا أول خلق نعيده وعدا علينا إنا كنا فاعلين
“Sebagaimana Kami telah memulai panciptaan pertama begitulah Kami akan mengulanginya, janji dari Kami, sesungguhnya Kami pasti akan melakukannya.” (QS. Al-Anbiya`: 104)
Ini makna hari akhir secara khusus, walaupun sebenarnya beriman kepada akhir itu mencakup 3 perkara, dimana siapa saja yang mengingkari salah satunya maka hakikatnya dia tidak beriman kepada hari akhir. Ketiga perkara itu adalah:
a.    Mengimani semua yang terjadi di alam barzakh -yaitu alam di antara dunia dan akhirat- berupa fitnah kubur oleh 2 malaikat, nikmat kubur bagi yang lulus dari fitnah, dan siksa kubur bagi yang tidak selamat darinya.
b.    Mengimani tanda-tanda hari kiamat, baik tanda-tanda kecil yang jumlahnya puluhan, maupun tanda-tanda besar yang para ulama sebutkan jumlahnya ada 10. Di antaranya: Munculnya Imam Mahdi, keluarnya Dajjal, turunnya Nabi Isa alaihissalam, keluarnya Ya`juj dan Ma`jun, dan seterusnya hingga terbitnya matahari dari sebelah barat.
c.    Mengimani semua yang terjadi setelah kebangkitan. Dan kejadian ini kalau mau diruntut sebagai berikut: Kebangkitan lalu berdiri di padang mahsyar, lalu telaga, lalu hisab (tanya jawab dan pembagian kitab), mizan (penimbangan amalan), sirath, neraka, qintharah (titian kedua setelah shirath), dan terakhir surga.

6.    Beriman kepada takdir yang baik dan yang buruk.
Maksudnya kita wajib mengimani bahwa semua yang Allah takdirkan, apakah kejadian yang baik maupun yang buruk, semua itu berasal dari Allah Ta’ala. Beriman kepada takdir Allah tidak teranggap sempurna hingga mengimani 4 perkara:
a.    Mengimani bahwa Allah Ta’ala mengimani segala sesuatu kejadian, yang baik maupun yang buruk. Bahwa Allah mengetahui semua kejadian yang telah berlalu, yang sedang terjadi, yang belum terjadi, dan semua kejadian yang tidak jadi terjadi seandainya terjadi maka Allah tahu bagaimana terjadinya.
Allah Ta’ala berfirman:
لتعلموا أن الله على كل شيء قدير وأن الله قد أحاط بكل شيء علما
“Agar kamu mengetahui bahwasanya Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu, dan sesungguhnya Allah ilmu-Nya benar-benar meliputi segala sesuatu.” (QS. Ath-Thalaq: 12)
b.    Mengimani bahwa Allah Ta’ala telah menuliskan semua takdir makhluk di lauh al-mahfuzh, 50.000 tahun sebelum Dia menciptakan langit dan bumi.
Dari ‘Abdullah bin ‘Amr bin Al-‘Ash radhiallahu anhuma dia berkata: Saya pernah mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:
كَتَبَ اللَّهُ مَقَادِيرَ الْخَلَائِقِ قَبْلَ أَنْ يَخْلُقَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ بِخَمْسِينَ أَلْفَ سَنَةٍ
“Allah telah menuliskan takdir bagi semua makhluk 50.000 tahun sebelum Allah menciptakan langit dan bumi.” (HR. Muslim no. 4797)
c.    Mengimani bahwa tidak ada satupun gerakan dan diamnya makhluk di langit, di bumi, dan di seluruh alam semesta kecuali semua baru terjadi setelah Allah menghendaki. Tidaklah makhluk bergerak kecuali dengan kehendak dan izin-Nya, sebagaimana tidaklah mereka diam dan tidak bergerak kecuali setelah ada kehendak dan izin dari-Nya.
Allah Ta’ala berfirman yang artinya, “Dan kamu tidak dapat menghendaki (mengerjakan sesuatu) kecuali apabila dikehendaki Allah, Tuhan semesta alam.” (QS. At-Takwir: 29)
d.    Mengimani bahwa seluruh makhluk tanpa terkecuali, zat mereka beserta seluruh sifat dan perbuatan mereka adalah makhluk ciptaan Allah.
Allah Azza wa Jalla berfirman:
الله خالق كل شيء
“Allah menciptakan segala sesuatu.” (QS. Az-Zumar: 62)

Incoming search terms:

  • rukun iman no 6
Share and Enjoy:
  • Print
  • Digg
  • StumbleUpon
  • del.icio.us
  • Facebook
  • Yahoo! Buzz
  • Twitter
  • Google Bookmarks

This entry was posted on Wednesday, August 10th, 2011 at 6:17 pm and is filed under Aqidah, Quote of the Day. You can follow any responses to this entry through the RSS 2.0 feed. Both comments and pings are currently closed.

9 responses about “Penjelasan Rukun Iman”

  1. Handi said:

    saya akan menanyakan dengan no 6.

    kalau memang segalanya telah tertulis ( tentunya tidak bisa di ubah atau berubah ) bagaimana kaitannya dengan doa atau permohonan/permintaan kita pada allah ?

    bukankah kalau sudah tertulis di takdir tersebut segala hal akan terjadi tanpa diminta berkepanjangan.

    saya sering melihat ceramah agama islam di TV, yang saya anggap dongeng atau karangan nya saja, karena tidak logis (menurut saya).

    saya tidak begitu pandai membaca al quran, tapi saya sering hanya membaca tafsir berbahasa indonesia nya saja.

    saya menganggap kekuasaan allah, dan perintahnya absolut, tapi saya melihat banyak yang aneh. perintah shalat sudah ada dalam al quran ( memang tidak jelas berapa kali, dan berapa rakaat), tapi kok ada kisah tawar menawar jumlah salat, ada pemaksaan kehendak ( berdoa berkali kali, saya anggap ini pemaksaan)

    saya lihat belum ada yang komentar, mohon penjelasan , atau link dimana saya bisa baca yang rinci.

    terima kash.

    Betul, takdir secara umum tidaklah berubah. Hanya saja itu bukan perkara yang penting bagi kita, karena takdir kita tidaklah kita ketahui. Apakah kita tahu kalau rezki kita hanya sekian sehingga tidak perlu berdoa untuk ditambah? Apakah kita tahu kalau takdir kita masuk surga sehingga tidak perlu berdoa masuk surga?
    Seperti yang anda katakan, kekuasaan Allah itu absolut dan tidak ada seorangpun makhluk yang bisa mengganggu-Nya dalam hal itu, termasuk takdir. Takdir urusan Allah, kita tidak punya urusan di situ.
    Tapi yang menjadi urusan kita adalah ibadah, shalat, zakat, berdoa, dan seterusnya. Yang jika kita tinggalkan maka dipastikan kita akan masuk neraka dan mendapat siksaan. Maka fokuskan perhatian pada urusan dan kewajiban kita, dan jangan membuang-buang umur dengan memikirkan masalah yang merupakan hak absolut Allah.
    Karenanya Nabi shallallahu alaihi wasallam pernah bersabda, “Jika disebut tentang takdir maka tahanlah lisan-lisan kalian.”
    Keterangan tambahan bisa anda search artikel-artikel tentang ‘iman kepada takdir’ dalam blog ini. Terima kasih.

  2. Dedy said:

    Assalamu’alaikum Ustadz

    Saya ingin tanya apa perbedaan Kitab Taurat dan Suhuf Musa yang semuanya diberikan kepada Musa alaihissalam.

    Waalaikumussalam.
    Ya. Walaupun sebagian ulama ada yang menyamakan keduanya dan ada juga yang membedakannya.

  3. amil said:

    pak ustad aq mau tanya ne
    tpi melenceng dari permasalahan…
    pa hukum a kalau cwo pake gelang tangan???
    please y tad al aq krang lg dalam keraguan

    Wallahu a’lam, selama itu bukan terbuat dari emas dan juga bukan untuk menyerupai gaya orang kafir, maka insya Allah tidak mengapa.

  4. coret said:

    as,,, trmksh peljrn nya mas,,,, sy jdikn sumber buat tgs saya,,,

  5. Nura said:

    aku sering mendengar khotbah yanga menyatakan : “setiap perbuatana manusia akan dicatat Allah taalla.” Apa Allah gak ada kerjaan lalu mgecatat perbuatan baik buruk manusia ???
    pertanyaan saya : benarkah itu ???
    kalau benar berati malaikat pada nganggur doooong

    Yang mencatat itu para malaikat. Tapi dikatakan Allah yang mencatat karena Allah yang menugaskan mereka.

  6. av4tar said:

    ass. wr. wb
    saya ingin mengetahui saja,,,
    saya sndri kurang lancar dalam mbca Al-Qur’an.
    mengenai rukun iman yg ke-5 akan adanya hr akhir…
    jika benar yg dijelaskan adalah hari terakhir bagi dunia ini, maka siapa yg akan dpt meneruskan rukun iman yg ke-6 jika semuanya sudah tidak ada….
    terima ksh sebelumnya
    wassalam

    Allahu yahdiik.
    Rukun iman yang enam itu harus diimani secara bersamaan, bukan secara berurut.

  7. agung prayuda said:

    astagfirullahaladzim ya allah saya sedikit tau tentang iman memang semua orang akan menemui takdirnaya dan semua orang akan menemui ajalnya kecuali allah maha benar allah dengan segala firmanya

  8. andre said:

    apakah menyebut rukun iman harus urut seperti dalam hadits Rasulullah tersebut ?

    Tidak harus.

  9. mirza komera said:

    mengapa dalam list rukun iman, iman kepada nabi dan iman kepada rasul disatukan, padahal ada perbedaan yg tegas antara nabi dengan rasul, dan juga iman kepada nabi tercantum dalam GS 2:177, sedangkan iman kepada rasul tercantum dalam QS 2:285. bukankah seyogyanya iman kepada nabi dan iman kepada rasul di tulis tersendiri seperti iman kepada yg lainnya sesuai dengan firman Allah

    Walaupun ada perbedaan, namun Nabi shallallahu alaihi wasallam menggabungkan keduanya dalam beberapa hadits ketika beliau menyebutkan ttg keimanan. Demikian halnya dalam ayat Al-Qur`an, terkadang hanya disebutkan beriman kepada para nabi, namun itu mencakup keimanan kepada para rasul.