Pemerintah dan Ulama

February 7th 2009 by Abu Muawiah |

Pemerintah dan Ulama

صِنْفَانِ مِنْ أُمَّتِي إِذَا صَلَحَا, صَلَحَ سَائِرُ النَّاسِ: الأُمَرَاءُ وَالْعُلَمَاءُ

“Ada dua golongan dari umatku, kalau keduanya baik maka akan baiklah seluruh manusia: Para pemerintah dan para ulama.”

As-Syaikh Nashir Al-Albani -rahimahullah- berkata dalam Adh-Dhaifah (1/70/no. 16):
Hadits ini diriwayatkan oleh Tammam dalam Al-Fawaid (1/238), Abu Nuaim dalam Al-Hilyah (4/96) dan Ibnu Abdil Barr dalam Jami’ Bayan Al-Ilmi (1/184) dari jalann Muhammad bin Ziyad Al-Yasykuri dari Maimun bin Mihran dari Ibnu Abbas secara marfu’.
Ini adalah sanad yang palsu.
Ahmad berkomentar tentang Muhammad bin Ziyad ini, “Seorang pendusta yang rusak matanya, dia membuat hadits-hadits palsu.” Ibnu Main dan Ad-Daraquthni berkata, “Seorang pendusta,” dan Abu Zur’ah serta selainnya juga menghukumi dia sebagai pendusta.
Hadits ini termasuk dari hadits-hadits yang dibawakan oleh As-Suyuthi dalam Al-Jami’ padahal hadits ini bertentangan dengan pensyaratannya dalam kitab itu. Al-Ghazali juga membawakan hadits ini dalam Al-Ihya` (1/6) dengan memastikan penisbatannya kepada Nabi -shallallahu alaihi wasallam-. Dan Al-Hafizh Al-Iraqi -pentakhrij kitabnya- berkata -setelah menisbatkan periwayatan hadits ini kepada Ibnu Abdil Barr dan Abu Nuaim-, “Sanadnya lemah.”

Share and Enjoy:
  • Print
  • Digg
  • StumbleUpon
  • del.icio.us
  • Facebook
  • Yahoo! Buzz
  • Twitter
  • Google Bookmarks

This entry was posted on Saturday, February 7th, 2009 at 5:10 am and is filed under Ensiklopedia Hadits Lemah. You can follow any responses to this entry through the RSS 2.0 feed. Both comments and pings are currently closed.

2 responses about “Pemerintah dan Ulama”

  1. Rizal said:

    Assalamu’alaikum, Apakah ada Ulama di Indonesia, Siapakah HAMKA?

    Waalaikumussalam warahmatullah
    Afwan, kami belum pantas menjawab pertanyaan seperti ini. Yang bisa menilai seorang itu ulama hanyalah yang ulama itu sendiri. Karenanya dari dahulu para ulama saling merekomendasikan antara satu sama lain.
    Adapun tentang Buya Prof. Dr. Hamka, maka kami tidak mengetahui banyak tentang beliau. Wallahu a’lam

  2. Roni said:

    Assalamu’alaikum. ustadz tolong dibuktikan bahwa hadits ini memiliki derajat yang lemah. seperti pembuktian hadits “kefakiran dekat dengan kekafiran” ternyata haditsnya lemah. pembuktiannya : shahabat nabi ada yang miskin tapi tidak menjadi kafir.
    setau ana kalau Pemerintah dan ulamanya baik maka umat pun ikut baik. mohon pencerahannya.

    Waalaikumussalam warahmatullah.
    Di sini perlu dibedakan antara sanad (para perawi) sebuah hadits dan matan (isi/redaksi) haditsnya. Tidak semua hadits yang sanadnya lemah itu matannya salah, maksudnya ada hadits lemah tapi maknanya benar dan sesuai dengan agama dan juga kenyataan.
    Maka hadits di atas kita katakan maknanya benar akan tetapi dia adalah hadits yang lemah dari sisi sanadnya.

    Jika ada yang bertanya: Kalau memang maknanya benar, kenapa kita menyatakan haditsnya lemah?
    Jawab: Masalah hadits itu lemah atau tidak, ini sama saja dengan masalah apakah hadits itu Nabi ucapkan atau tidak. Jika haditsnya/sanadnya lemah maka berarti Nabi tidak mengucapkannya dan jika haditsnya kuat maka berarti Nabi mengucapkannya, dengan menutup pandang pada isinya apakah maknanya benar atau tidak.
    Kalau kita menyatakan shahihnya hadits di atas hanya karena maknanya yang benar (padahal sanadnya lemah), maka berarti kita telah menyatakan bahwa Nabi pernah bersabda seperti itu (padahal tidak). Dan itu berarti kita telah berdusta atas nama Nabi yang merupakan dosa besar dan diancam dengan neraka.
    Jadi yang diancam masuk neraka adalah semua orang yang menyatakan Nabi bersabda seperti ini padahal tidak (berdusta atas nama Nabi), baik kedustaannya itu maknanya benar apalagi kalau salah.