Pembodohan Publik Berskala Internasional

October 10th 2013 by Abu Zakariyya |

Pembodohan Publik Berskala Internasional

Berbohong merupakan sifat yang sangat tercela dalam Islam dan pelakunya terancam dengan api neraka, sebaliknya sifat jujur adalah sifat yang dicintai dan dianjurkan dalam Islam serta dijanjikan surga bagi mereka yang bersifat dengannya. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda :

“Wajib atas kalian untuk bersikap jujur, sesungguhnya kejujuran akan mengantarkan kepada kebaikan, sedangkan kebaikan akan  mengantarkan kepada surga. Seorang yang terus menerus jujur dan berusaha untuk selalu jujur hingga ia ditulis di sisi Allah sebagai orang snagat jujur. Dan jauhilah sifat dusta, karena sesungguhnya kedustaan akan mengantarkan (pelakunya) kepada keburukan, sedangkan keburukan akan mengantarkan (pelakunya) menuju neraka. Tidaklah seorang senantiasa berdusta dan berusaha untuk selalu berdusta sehingga ia ditulis di sisi Allah sebagai seorang pendusta.” (HR. Muslim,  No. 6586)

Sudah dimaklumi bersama bahwasanya kebohongan memiliki dampak negatif yang sangat besar dan akan merusak tatanan kehidupan manusia, terlebih lagi jika kebohongan itu mengatasnamakan agama demi kepentingan pribadi atau kelompok tertentu. Beberapa hari lalu ummat Islam Indonesia dibuat gelisah dan kaget dengan sebuah perayaan yang disebut dengan “Hari Raya Ghadir Khum”, banyak dari kaum muslimin tidak mengerti ada apa dibalik perayaan tersebut. Sebenarnya perayaan ini sudah menjadi tradisi agung bagi sebuah kelompok sempalan yang disebut “Syi’ah(Rafidhoh)” yang kini bermarkas induk di Iran. Mereka adalah kelompok yang membenci bahkan mengkafirkan para Shahabat radhiyallahu ‘anhum. Baru akhir-akhir ini kaum Syi’ah(Rafidhoh) berani unjuk gigi setelah sebelumnya mereka menyadari bahwasanya kaum muslimiin Indonesia menolak ajaran mereka, dengan perayaan ini kaum Syi’ah mengusik perhatian ummat Islam Indonesia yang mayoritasnya tidak mengenal dengan sebuah perayaan seperti itu.

Jika kita kembali kepada referensi induk ummat Islam, maka tidak ada satupun keterangan yang menunjukkan bahwasanya Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan para Shahabatnya merayakan “Hari Raya Ghadir Khum”, umumnya kaum muslimin mengenal dua hari raya yang disambut secara meriah setiap tahun yaitu Hari Raya Idul Fitri dan Idul Adha.

Berkata Al-Imam Asy-Syafi’iy rahimahullah: ‘Idul fithri: adalah hari raya Idul fitri itu sendiri, ia (dirayakan) pada hari pertama (bulan) Syawwal. Adapun ‘idul Adha: ia adalah hari kesepuluh dari (bulan) Dzulhijjah, ia merupakan hari setelah hari Arafah.” (Al-Umm karya Al-Imam Asy-Syafi’iy: 1/230)

 

Allah Ta’ala berfirman : “Maka dirikanlah shalat karena Tuhanmu, dan menyembelihlah.” (Al-Kautsar: 2)

Ikrimah, ‘Atho dan Qotadah berkata : ” Maka dirikanlah shalat karena Tuhanmu” (maksudnya) shalat ‘ied pada hari penyembelihan, “dan menyembelihlah” (maksudnya) sembelihanmu.” (Tafsir Al-Baghowiy: 4/534, Tafsir Ibnu Katsir: 5/558-559)

Dalam penafsiran firman Allah Ta’ala: “Sesungguhnya beruntunglah orang yang memsucikan diri dan ia mengingat nama Tuhannya, lalu ia mengerjakan shalat” (Al-A’la : 14-15), yaitu menunaikan zakatul Fithr dan mengerjakan shalat ‘iednya. (Tafsir Al-Baghawiy: 4/476-477).

Dari Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu berkata: Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tiba di Madinah dan mereka(pendudukanya) memiliki dua hari (raya) yang mereka bermain (gembira) didalamnya di masa jahiliyyah, maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

“Sesungguhnya Allah Tabaaraka wa Ta’aala telah menggantikannya dengan (hari) yang lebih baik dari keduanya; (yaitu) hari Fitrh(‘iedul fithr) dan Hari Nahr(‘iedul adha).” (HR Abu Dawud no. 1134, An-Nasaa’iy no. 1556, Al-Baihaqiy dalam Sunan Ash-Shugro 3/277, Al-Hakim dalam Al-Mustadrak 1/294, ia berkata “hadits shahih” dan disepakati oleh Adz-Dzahabiy, demikian pula dikatakan oleh Imam Al-Baghawiy 4/292).

Dari Abdullah bin ‘Amr bin Al-‘Ash radhiyallahu ‘anhuma, bahwasanya Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda : “saya diperintahkan (untuk menjadikan) hari Adha sebagai ‘ied yang Allah Ta’aala menjadikannya untuk ummat ini.” (HR. Abu Dawud no. 2789, An-Nasaa’iy 7/212-213, Sunan Ad-Daruquthniy 4/282, Mustadrak Al-Hakim 4/223-224, ia berkata “hadits shahihul isnaad” dan Adz-Dzahabiy menyepakatinya).

Demikianlah dua hari raya yang disyariatkan dalam agama Islam untuk dirayakan, hal ini tentunya berbeda dengan “Hari Raya Ghadir” yang diada-adakan oleh kaum Syi’ah(Rafidhoh). Lantas dari mana asal muasal perayaan Hari Raya Ghadir Khum ini? Benarkah ia  bagian dari ajaran Islam? Ataukah sebuah pembodohan publik berskala Internasional yang diimpor dari luar Islam? Simak penjelasannya berikut ini:

Al-Imam Ibnu Katsir rahimahullah berkata tentang kejadian tahun 352 Hijriyyah: “pada tanggal 10 dzulhijjah-nya, Mu’izzud Daulah bin Buuyah memerintahkan untuk menampakkan perhiasan di Baghdad, dan agar pasar-pasar (tetap) dibuka pada waktu malam sebagaimana dalam hari perayaan, dimainkan gendang dan terompet, lampu-lampu dinyalakan di pintu-pintu penguasa dan rakyat jelata, sebagai bentuk kegembiraan pada Hari Raya Ghadir Khum, waktu itu sangat aneh dan disaksikan, dan bid’ah keji yang sangat jelas kemungkarannya.” (Al-Bidayah wa An-Nihayah: 11/272)

Seorang ulama besar dan pakar sejarah Islam yang bernama Al-Imam Muhammad bin Ahmad Adz-Dzahabiy rahimahullah (wafat 748 Hijriyyah) berkata:

“pada kejadian tahun 352 Hijriyah tanggal 18 Dzulhijjah kaum (Syi’ah) Rafidhah melakukan hari raya Ghadir Khum, mereka shalat ‘ied di (lapangan) padang pasir.” (Al-‘Ibar fi Khobari Man Ghobar : 2/90, Al-Bidayah wa An-Nihayah: 11/272)

Juga seorang ulama pakar sejarah Islam bernama Ahmad bin Ali Al-Maqriiziy rahimahullah (wafat  tahun 845 Hijriyyah) berkata:

“ketahuilah, sesungguhnya hari raya Ghadir bukanlah hari raya yang disyariatkan (dalam Islam) dan tidak pernah pula diamalkan oleh pendahulu dan panutan ummat ini, dan (perayaan) ini pertama kalinya dikenal di Iraq pada masa (pemerintahan) Mu’izzud Daulah Ali bin Buuyah. Perayaan ini dimunculkan pada tahun 352 Hijriyyah, kemudian (kaum) Syi’ah(Rafidhoh) menjadikannya sebagai hari raya.” (Al-Mawaa’idz wa Al-I’tibaar bi Dzikri Al-Khuthoth wa Al-Atsaar: 1/388)

Dari tiga keterangan ulama besar di atas kita bisa mengambil pelajaran yang sangat berharga; bahwasanya perayaan yang disebut dengan “Hari Raya Ghadir Khum” tidak pernah ada di zaman Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bahkan baru muncul pada tahun 352 Hijriyyah dari  kaum Syi’ah(Rafidhoh). Jika Kaum Syi’ah(Rafidhah) ditanya tentang keabsahan “Hari Raya Ghadir Khum” ini, niscaya mereka akan terdiam seribu bahasa dan tidak mampu mendatangkan bukti bahwasanya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan para Shahabatnya merayakannya. Jika demikian adanya, masihkah ummat Islam Indonesia mau dibodohi-bodohi oleh kaum “pembenci shahabat” ini? Jawabannya ada di tangan anda….

 

Universitas Islam Madinah, Al-Madinah Al-Munawwarah,

1 Muharram 1435 Hijriyyah/ 3 November 2013

Share and Enjoy:
  • Print
  • Digg
  • StumbleUpon
  • del.icio.us
  • Facebook
  • Yahoo! Buzz
  • Twitter
  • Google Bookmarks

This entry was posted on Thursday, October 10th, 2013 at 10:30 pm and is filed under Manhaj. You can follow any responses to this entry through the RSS 2.0 feed. Both comments and pings are currently closed.

Comments are closed.