Pembatal Puasa Yang Disepakati

September 1st 2009 by Abu Muawiah |

Pembatal Puasa Yang Disepakati

Sebelumnya perlu diketahui bahwa hukum asal dari seseorang yang telah berniat puasa, maka puasanya tetap syah dan tidak batal sampai ada dalil yang meyakinkan bahwa puasanya batal. Karenanya setiap orang yang mengklaim sesuatu itu pembatal puasa maka dia dituntut untuk mendatangkan dalil atas klaimnya. Jika dalilnya benar maka diterima dan jika tidak ada dalilnya maka klaimnya tertolak.
Juga penting untuk diketahui bahwa semua pembatal puasa yang akan kami sebutkan, baik yang disepakati maupun yang diperselisihkan, dia nanti membatalkan puasa jika yang melakukannya adalah orang yang: Sengaja, atas kehendak sendiri (tidak terpaksa), dan tahu kalau hal itu membatalkan puasa. Karenanya jika ada seseorang yang mengerjakan pembatal puasa, akan tetapi dia tidak sengaja atau karena dipaksa atau karena tidak mengetahui kalau itu pembatal puasa, maka puasanya tetap syah dan tidak ada dosa atasnya, sebagaimana yang akan datang rinciannya, wallahu a’lam. Lihat penjabaran dan penerapan kaidah ini dalam Ithaful Anam hal. 71-75, 101-102
Berikut beberapa pembatal puasa yang disepakati
1.    Makan dan Minum.
Keduanya membatalkan puasa jika dikerjakan dengan sengaja berdasarkan Al-Qur`an, As-Sunnah dan ijma’.
Allah Ta’ala berfirman, “Maka sekarang silakan kalian menyentuh mereka (istri kalian) dan carilah apa yang Allah telah tetapkan untuk kalian. Dan makan dan minumlah kalian hingga nampak benang putih dari benang hitam yaitu fajar.” (QS. Al-Baqarah: 187)
Adapun dari hadits, maka sabda Nabi   dalam hadits qudsi:

يَدَعُ طَعَامَهُ وَشَرَابَهُ وَشَهْوَتَهُ مِنْ أَجْلِيْ

“Dia meninggalkan makanannya, minumannya, dan syahwatnya karena Aku.” (HR. Al-Bukhari dan Muslim dari Abu Hurairah)
Ijma’ akan hal ini telah dinukil oleh sejumlah ulama, di antaranya: Ibnu Hazm dalam Al-Muhalla (733), Ibnul Mundzir dalam Al-Isyraf dan Ibnu Qudamah dalam Al-Mughni (3/14)

2.    Jima’ (melakukan hubungan intim)
Berdasarkan kedua dalil di atas serta ijma’ di kalangan ulama.
Ibnu Qudamah berkata dalam Al-Mughni (3/27), “Tidak ada perbedaan antara kalau kemaluannya itu adalah qubul maupun dubur, dari laki-laki maupun wanita, dan ini adalah pendapat Asy-Syafi’i.” An-Nawawi juga mengatakan dalam Al-Majmu’ (6/341-342), “Ucapan-ucapan Asy-Syafi’i serta teman-teman kami semuanya sepakat bahwa melakukan hubungan intim dengan wanita pada duburnya, liwath dengan anak kecil (sodomi) atau lelaki dewasa (homoseksual), itu hukumnya sama dengan melakukannya dengan wanita di qubulnya.”
An-Nawawi juga berkata dalam Al-Majmu’ (6/341), “Melakukan jima’ dengan zina atau yang semacamnya, atau nikah fasid, atau melakukannya dengan budaknya atau saudarinya atau anaknya, wanita kafir, dan wanita lainnya, semuanya sama dalam hal membatalkan puasa, wajibnya qadha, kaffarah, dan menahan diri pada sisa siangnya. Dan ini tidak ada perbedaan pendapat di dalamnya.”
Kami katakan: Kecuali pada pewajiban qadha`, karena padanya ada perbedaan pendapat sebagaimana yang akan disebutkan, dan yang benarnya itu tidak diwajibkan.

3.    Menelan ludah orang lain.
Imam An-Nawawi berkata dalam Al-Majmu’ (6/318), “Para ulama telah bersepakat bahwa jika seseorang menelan ludah orang lain maka dia telah berbuka.”

4.    Merokok.
Kami memasukkannya ke bagian ini karena kami tidak mengetahui adanya fatwa ulama lain selain dari fatwa Syaikh Ibnu Al-Utsaimin yang menyatakan merokok adalah pembatal puasa. Hal itu karena asapnya akan berubah menjadi cairan lalu melekat pada paru-paru seseorang. Karenanya paru-paru perokok biasanya berwarna hitam karena asap yang masuk.
Lihat Fatawa Ramadhan beliau (2/527-528)
Kami katakan: Dan juga karena rokok bisa memberikan ketahanan dan kekuatan bagi orang yang berpuasa sehingga kadang dia tidak merasakan lapar dan lelah, karenanya dia dihukumi sama dengan makan dan minum.

Share and Enjoy:
  • Print
  • Digg
  • StumbleUpon
  • del.icio.us
  • Facebook
  • Yahoo! Buzz
  • Twitter
  • Google Bookmarks

This entry was posted on Tuesday, September 1st, 2009 at 10:18 am and is filed under Fiqh. You can follow any responses to this entry through the RSS 2.0 feed. Both comments and pings are currently closed.

6 responses about “Pembatal Puasa Yang Disepakati”

  1. Ifa said:

    Assalamu’alaykum ustad..
    Jika merokok membatalkan puasa seseorang karna menghirup asapnya, lantas apakah para perokok pasif juga batal puasa bila ia menghirup asap rokok?

    Pertanyaan kedua. Apakah menghirup aroma yang mempengaruhi otak akan membatalkan puasa? Cntohnya menghirup aromatherapy yg bisa menstimulasi otak agar merasa semangat,kenyang, dll. Atau menghirup uap teh yg bisa melegakan tenggorokan, dll.

    Jazakallah khoiron atas jawabannya

    Waalaikumussalam warahmatullah.
    Wallahu a’lam, tidak ada perbedaan antara perokok aktif dan pasif, jika memang asap tersebut masuk ke lambungnya, karena itu teranggap sebagai makan dan minum. Hanya saja bagi perokok pasif, jika asap itu masuk ke dalam tubuhnya tanpa dia sengaja atau tanpa kehendak dia dan dia sudah berusaha untuk menghindarinya, maka insya Allah ada uzur baginya karena bisa dikategorikan makan dan minum dalam keadaan lupa. Wallahu a’lam.
    Menghirup aromatherapy atau uap teh tidaklah sama dengan rokok, karena keduanya tidaklah sampai ke lambung sehingga tidak dianggap makan dan minum. Karenanya menghirup keduanya bukanlah pembatal puasa. Wallahu a’lam

  2. habib said:

    Assalaamu’alaykum

    Ust, apakah menangis dapat membatalkan puasa ketika menelan air yang terasa di dalam (mulut/kerongkongan), BUKAN air yang keluar dari mata yang masuk ke mulut?

    Jazaakallohu khoiron atas jawabannya.

    Waalaikumussalam.
    Trus airnya dari mana? Ala kulli hal tidak boleh menelan air dengan sengaja, karena akan membatalkan puasa.

  3. habib said:

    Afwan ustadz, ketika kita menangis terasa ada air mata yang mungkin bercampur dg ludah. Air tsb dari kepala yg melalui saluran di dalam kepala. Bukan air mata yg keluar dari mata kemudian masuk mulut.

    Seperti bila orang memakai obat tetes mata akan terasa pahit di lidah.

    Apakah air yg dimaksud di atas membatalkan shaum? Bukankah di antara shahabat ada yg mudah menangis spt Abu Bakar radhiyallohu ‘anhu. Ataukah ketika/setelah menangis mereka radhiyallohu ‘anhuma meludah dan tidak menelan air tsb meskipun di dalam shalat?

    Jazaakumullohu khoiron atas jawaban ustadz.

    Ini sudah kami sebutkan ketika menyebutkan hukum obat tetes mata, silakan dibaca kembali.

  4. Pencari Ilmu said:

    Assalamu’alaikum.
    Ustadz, dibagian mana saya bisa membaca mengenai hukum obat tetes mata seperti yg ustadz maksud di jawaban no 3 diatas? Terimakasih

    Waalaikumussalam.
    Bisa dibaca dalam artikel ‘pembatal puasa yang diperselisihkan’.

  5. bagus nugro said:

    assalamu’alaikum ustadz
    Bagaimana org yang membayar kafarah puasa krn jima’ disiang hari bulan ramadhan, kondisinya sbb :
    1. apabila dlm perjalanan puasa kafarahnya dia melakukan onani, bagaimana puasanya apakah harus dimuali dari awal lagi?
    2. apabila kondisi no 1. di atas shg batal puasanya tapi karena dia puasanya mendekati ramadhan berikutnya, dan tdk cukup 2 bulan, apakah ramadhan dan idul fitri menjadi pemutus puasa kafarahnya atau tidak? kalo pemutusnya bagaimana kafarahnya krn sdh melewati ramadhan lagi.
    terima kasih ustadz.

    Waalaikumussalam.
    1. Onani tidak membatalkan puasa. Karenanya dia tidak perlu membatalkannya. Kapan dia batalkan, maka dia ulang dari awal.
    2. Bukan pemutus, tapi harus dilanjutkan setelah lebaran.

  6. si fulan said:

    assalamualaikum ustadz.
    mengapa onani tidak membatalkan puasa bukanya itu termasuk perbuatan tercela dan kalaupun perbuatan itu tidak membatalkan puasa berarti si pelaku tidak mesti melakukan kafarah seperti orang yg melaukan jima’..

    Waalaikumussalam.
    Karena tidak ada dalilnya onani itu membatalkan puasa. Dan tidak semua perbuatan tercela itu membatalkan puasa.
    Puasanya tidak batal, kenapa dia mesti membayar kaffarat?!