Pembatal Puasa Yang Diperselisihkan (1)

September 1st 2009 by Abu Muawiah |

Pembatal Puasa Yang Diperselisihkan

1.    Maksiat.
Imam Al-Auzai berpendapat bahwa gibah itu membatalkan puasa, sementara Ibnu Hazm menyatakan bahwa semua maksiat itu sama hukumnya dengan gibah, yaitu membatalkan puasa.
Keduanya berdalil dengan hadits Abu Hurairah bahwa Nabi   bersabda:

مَنْ لَمْ يَدَعْ قَوْلَ اَلزُّورِ وَالْعَمَلَ بِهِ, وَالْجَهْلَ, فَلَيْسَ لِلَّهِ حَاجَةٌ فِي أَنْ يَدَعَ طَعَامَهُ وَشَرَابَهُ

“Barangsiapa yang tidak meninggalkan ucapan dusta dan beramal dengannya serta kejahilan, maka Allah tidak butuh dia meninggalkan makanan dan minumannya.” (HR. Al-Bukhari no. 1903)
Juga hadits Abu Hurairah secara marfu’, “Betapa banyak orang yang berpuasa sedang dia tidak mendapatkan bagian dari puasanya kecuali haus.” (HR. An-Nasai dan Ahmad)
Sementara seluruh ulama lainnya berpandapat bahwa maksiat tidak membatalkan puasa, dan inilah pendapat yang benar. Adapun pendalilan mereka dengan kedua hadits di atas, maka An-Nawawi telah mejawabnya dalam Al-Majmu’ (6/356), “Teman-teman semazhab kami telah menjawab hadits-hadits ini: Bahwa yang dimaksudkan dengan hadits ini adalah bahwa kesempurnaan puasa dan keutamaannya yang dicari, itu hanya bisa didapatkan dengan menjaga lisan dari ucapan sia-sia dan ucapan yang rendah, tidak menunjukkan bahwa puasanya batal.”

2.    Makan dan minum dalam keadaan lupa.
Ada dua pendapat di kalangan ulama dalam masalah ini:
a.    Puasanya syah dan tidak batal. Ini adalah pendapat mayoritas ulama, juga merupakan mazhab Imam Ahmad dan Asy-Syafi’i.
Mereka berdalil dengan hadits Abu Hurairah bahwa Nabi   bersabda:

مَنْ نَسِيَ وَهُوَ صَائِمٌ, فَأَكَلَ أَوْ شَرِبَ, فَلْيُتِمَّ صَوْمَهُ, فَإِنَّمَا أَطْعَمَهُ اَللَّهُ وَسَقَاهُ

“Barangsiapa yang lupa sedang dia tengah berpuasa, lantas dia makan atau minum, maka hendaknya dia menyempurnakan puasanya, karena dia hanya diberi makan dan minum oleh Allah.” (HR. Al-Bukhari no. 1933 dan Muslim no. 1155)
Dalam hadits ini Nabi   menyuruh untuk menyempurnakan puasanya dan tidak memerintahkannya untuk membayar qadha`, ini menunjukkan puasanya syah. Demikian diterangkan oleh Ibnu Taimiah dalam Kitab Ash-Shiyam (1/457-458)
b.    Puasanya batal dan dia wajib membayar qadha. Ini adalah pendapat Malik dan Rabiah, gurunya.
Mereka mengatakan: Karena menahan dari pembatal puasa adalah rukun puasa sementara rukun kalau ditinggalkan maka akan membatalkan ibadah, baik sengaja maupun lupa. Dalam hal ini mereka mengkiaskannya kepada shalat.
Yang kuat adalah pendapat yang pertama. Adapun kias pendapat kedua maka dia adalah kias yang batil karena bertentangan dengan dalil.
Catatan:
Walaupun tidak membatalkan puasanya, akan tetapi siapa yang melihat orang yang sedang berpuasa makan karena lupa, maka hendaknya dia menegurnya dan mengingatkannya, berdasarkan keumuman dalil amar ma’ruf dan nahi mungkar. Lihat kitab Al-Furu’ (3/53)

3.    Melakukan jima’ bukan pada kemaluan.
Maksudnya dia menyentuhkan kemaluannya pada bagian tubuh istrinya (selain kemaluan) -misalnya di antara dua pahanya-, maninya keluar maupun tidak.
Ada tiga pendapat dalam masalah ini:
1.    Itu membatalkan puasanya dan dia wajib membayar kaffarah.
Ini adalah pendapat Malik, Atha`, Al-Hasan, Ibnul Mubarak, Ishaq, dan salah satu riwayat dari Ahmad.
2.    Itu membatalkan puasanya akan tetapi tidak ada kewajiban kaffarah.
Ini adalah pendapat Asy-Syafi’i, Abu Hanifah, dan riwayat lain dari Ahmad.
Mereka mengatakan: Karena ini bukanlah jima’ yang sempurna sehingga dikiaskan dengan mencium, dan tidak ada dalil akan wajibnya kaffarah. Ini yang dikuatkan oleh Ibnu Qudamah.
3.    Tidak membatalkan puasanya walaupun maninya keluar. Ibnu Muflih menyebutkan kemungkinan pendapat ini dalam Al-Furu’ dan kelihatannya beliau condong kepada pendapat ini.
Telah berlalu bahwa ini adalah pendapat Ibnu Hazm.
Yang rajih adalah pendapat ketiga, ini yang dirajihkan oleh Ash-Shan’ani dan Syaikh Al-Albani.
Hal itu karena tidak ada dalil yang menyatakan perbuatan ini adalah pembatal puasa. Adapun mengkiaskannya dengan jima’, maka kias ini kurang detail, karena adanya perbedaan antara jima’ dengan kasus di atas.
Adapun sekedar karena keluarnya mani, maka para ulama sepakat bahwa melakukan jima’ itu membatalkan puasa walaupun tidak ada mani yang keluar. Maka ini menunjukkan patokan pembatal puasa adalah perbuatan jima’, bukan keluarnya mani.
Adapun sekedar karena adanya syahwat, maka kita katakan adanya syahwat tidak cukup untuk menghukumi batalnya puasa seseorang, sebagaimana yang akan datang bahwa orang yang mencium istrinya karena syahwat tidaklah membatalkan puasanya.
Jadi, yang benar pada kasus di atas puasanya tidak batal, akan tetapi puasanya makruh bahkan dikhawatirkan dia kehilangan pahala puasanya -walaupun puasanya syah-, wallahu a’lam.
[Al-Mughni: 3/26, Al-Inshaf: 3/284, Syarh Kitab Ash-Shiyamk: 1/302, dan Al-Majmu’: 6/342]

4.    Sisa makanan pada gigi atau yang ikut pada ludah.
Dalam hal ini ada dua keadaan:
Jika dia tidak bisa untuk mengeluarkannya atau tanpa sengaja menelannya maka para ulama sepakat bahwa hal itu tidak mengapa, sebagaimana yang dinukil oleh Ibnul Mundzir. Lihat Al-Majmu’ (6/320)
Jika dia bisa mengeluarkannya tapi dia menelannya, maka mayoritas ulama berpendapat bahwa itu membatalkan puasanya karena itu dianggap memakan makanan. Sementara Abu Hanifah berpendapat hal itu tidak membatalkan puasa, dan ucapannya ini tidak berlandaskan dalil.

5.    Menelan dahak atau ingus dan semacamnya.
Dalam hal ini ada dua keadaan:
a.    Jika dia tidak keluar ke mulut, akan tetapi dari otak atau hidung langsung ke lambung maka hal itu tidak membatalkan puasa, sebagaimana yang dikatakan oleh An-Nawawi.
b.    Jika dia keluar ke mulut lalu sengaja tertelan, maka ada dua pendapat di kalangan ulama:
1.    Membatalkan puasanya. Ini yang masyhur dalam mazhab Al-Hanabilah dan merupakan mazhab Asy-Syafi’iyah. Mereka mengatakan karena apa yang ada dalam mulut dihukumi sama seperti apa yang datang dari luar. Ini adalah pendapat yang dikuatkan oleh Syaikh Ibnu Baz -rahimahullah-.
2.    Tidak membatalkan puasanya. Ini adalah salah satu riwayat dari Ahmad. Mereka mengatakan karena dia tidak keluar dari mulut sehingga tidak bisa dikatakan makan dan minum. Ini adalah pendapat yang dikuatkan oleh Syaikh Muqbil dan Syaikh Ibnu Al-Utsaimin -rahimahumallah-.
Kami katakan: Untuk keluar dari khilaf, hendaknya dia membuangnya dan tidak sengaja menelannya, wallahu a’lam.

6.    Infus
Jika infusnya dimasukkan melalui urat nadi atau otot maka: Jika infusnya berupa makanan atau sesuatu yang bisa menguatkan fisiknya maka itu membatalkan puasanya. Kalau bukan maka puasanya tetap syah. Ini adalah pendapat yang difatwakan oleh Syaikh Abdul Aziz bin Baz -rahimahullah-.
Lihat Tuhfatul Ikhwan hal 175
Adapun jika infusnya dimasukkan melalui hidung lalu diteruskan ke otak maka dalam hal ini ada tiga mazhab di kalangan ulama:
a.    Jika dia sampai ke otak maka itu membatalkan puasanya. Karena semua yang sampai ke otak pasti akan sampai ke lambung atau ke tenggorokan, mengingat antara otak dan lambung ada saluran yang menyambungkannya.
Ini adalah pendapat Asy-Syafi’iyah, Al-Hanabilah, dan yang dikuatkan oleh Ibnu Taimiah -rahimahullah-.
b.    Tidak membatalkan puasa kecuali diyakini dia masuk ke tenggorokan. Ini adalah pendapat Imam Malik.
c.    Tidak membatalkan puasa secara mutlak. Ini adalah pendapat Ibrahim dan Ibnu Hazm.
Yang dikuatkan oleh Syaikh Ibnu Baz dan Ibnu Al-Utsaimin -rahimahumallah- adalah pendapat yang kedua.

7.    Onani.
Imam Empat dan mayoritas ulama berpendapat bahwa onani membatalkan puasa, karena dia dihukumi tidak meninggalkan syahwatnya. Ini yang dikuatkan oleh Asy-Syaukani, Syaikh Ibnu Baz, dan Syaikh Ibnu Al-Utsaimin.
Sementara Ibnu Hazm berpendapat bahwa itu tidak membatalkan puasa karena tidak adanya dalil yang menunjukkan batalnya. Ini pendapat yang dikuatkan oleh Ash-Shan’ani dan Syaikh Al-Albani -rahimahumullah-.
Wallahu a’lam, pendapat yang lebih tepat adalah pendapat Ibnu Hazm, sebagaimana yang telah dijelaskan di atas sekedar keluarnya mani bukanlah pembatal puasa -walaupun puasanya makruh-. Kembali ke hukum asal, puasa seseorang tidaklah batal kecuali ada dalil tegas yang menyatakannya.

8.    Bermesraan atau mencium atau memandang wanita.
Dalam hal ini ada dua keadaan:
a.    Jika hal itu menyebabkan keluarnya mani atau madzi.
Ada beberapa pendapat dalam masalah ini:
1.    Dia mengqadha kalau keluar maninya bukan karena memandang (yakni karena mencium atau bermesraan). Jika hanya keluar madzi maka tidak ada qadha.
Ini adalah pendapat para ulama Kufah dan Imam Asy-Syafi’i.
2.    Jika yang keluar mani (karena salah satu dari tiga sebab di atas) maka dia mengqadha sekaligus bayar kaffarah. Tapi jika yang keluar madzi maka dia hanya mengqadha.
Ini adalah pendapat Imam Malik dan Ishaq bin Rahawaih. Yang dijadikan dalil bagi pendapat mereka adalah bahwa keluarnya mani merupakan puncak tujuan dari jima’, sementara jima mengharuskan membayar kaffarah.
3.    Tidak ada kewajiban qadha` atasnya dan tidak pula kaffarah.
Ini adalah pendapat Imam Ibnu Hazm dan yang dikuatkan oleh Ash-Shan’ani tatkala beliau mengatakan, ”Yang nampak, tidak ada qadha` dan tidak pula kaffarah kecuali atas orang yang melakukan jima’. Mengikutkan perbuatan selain jima’ kepadanya (jima’) adalah hal yang tidak tepat.”
Pendapat yang kuat adalah pendapat yang terakhir, ini yang dikuatkan oleh Syaikh Al-Albani -rahimahullah-.
Adapun pendapat pertama, mereka tidak mempunyai dalil atas pembedaan hukum yang mereka sebutkan. Sedangkan dalil pendapat kedua terbantahkan dengan kenyataan bahwa orang yang melakukan jima’ tetap wajib membayar kaffarah walaupun tidak ada mani yang keluar, wallahu a’lam.
b.    Jika hal itu tidak menyebabkan keluarnya mani atau madzi.
Dalam masalah ini ada lima pendapat di kalangan ulama:
1.    Boleh.
Pendapat ini dinukil dengan sanad yang shahih dari Abu Hurairah dan Sa’ad bin Abi Waqqash. Diriwayatkan oleh Abdurrazzaq (3/60) dan (4/185) dan dishahihkan oleh Ibnu Hazm. Hanya saja Ibnu Hazm terlalu berlebihan hingga menyatakan sunnahnya.
Mereka berdalil dengan 3 hadits dari: Hafshah, Aisyah, dan Ummu Salamah, dimana dalam ketiga hadits ini disebutkan bahwa Nabi -shallallahu alaihi wasallam- mencium istrinya sedang beliau berpuasa. Hadits Aisyah diriwayatkan oleh Al-Bukhari dan Muslim sedang dua lainnya diriwayatkan oleh Muslim.
2.    Haram.
Bahkan sebagian ulama -seperti Abdullah bin Syubrumah- berpendapat bahwa itu membatalkan puasa. Pendapat ini juga dibawakan dari Said bin Al-Musayyab.
Mereka berdalil dengan firman Allah Ta’ala, ”Maka sekarang (setelah malam), sentuhlah mereka (istri kalian).” (QS. Al-Baqarah: 187)
Mereka menjawab hadits-hadits yang membolehkan bahwa itu hukum itu hanya khusus berlaku untuk Nabi -shallallahu alaihi wasallam-.
3.    Makruh secara mutlak.
Ini adalah pendapat yang masyhur dalam mazhab Al-Malikiah.
Mereka mengatakan karena perbuatan ini merupakan wasilah terjadinya hal yang diharamkan. Adapun hadits-hadits yang membolehkan, mereka juga menjawabnya seperti jawaban pendapat kedua.
4.    Makruh bagi pemuda dan boleh bagi yang sudah tua.
Dalil yang dijadikan pendukung bagi pendapat ini adalah hadits yang diriwayatkan oleh Abu Daud dari Abu Hurairah dia berkata, ”Ada seorang lelaki yang mendatangi Nabi -shallallahu alaihi wasallam- lalu bertanya kepada beliau tentang ’menyentuh’ istri bagi orang yang berpuasa, maka beliau memberikannya keringanan. Dan ada orang lain yang datang kepada beliau dan menanyakan hal yang sama maka beliau melarangnya. Ternyata yang beliau berikan keringan adalah seorang yang tua, sementara yang beliau larang adalah seorang pemuda.”
Sanadnya shahih. Adapun rawi dalam sanadnya yang bernama Abul Anbas Al-Harits bin Ubaid, maka dia telah dinyatakan tsiqah (terpercaya) oleh Ibnu Main sebagaimana dalam Tarikh Ad-Darimi. Karenanya hukum majhul yang dilontarkan sebagian ulama kepadanya tidaklah tepat.
5.    Jika dia bisa menguasai syahwatnya maka boleh, dan jika tidak bisa maka tidak boleh.
Ini adalah pendapat Asy-Syafi’i dan Ats-Tsauri. Mereka berdalilkan hadits Aisyah:

كَانَ رَسُولُ اَللَّهِ  يُقَبِّلُ وَهُوَ صَائِمٌ, وَيُبَاشِرُ وَهُوَ صَائِمٌ, وَلَكِنَّهُ أَمْلَكُكُمْ لِإِرْبِهِ

”Adalah Rasulullah   mencium dalam keadaan berpuasa dan beliau ’menyentuh’ dalam keadaan berpuasa, hanya saja beliau adalah orang yang paling kuat menahan hasratnya di antara kalian.” (HR. Al-Bukhari no. 1927 dan Muslim no. 1106)
Terlarangnya orang yang tidak bisa menguasai dirinya karena hal itu bisa membahayakan puasanya, sebagaimana yang ditunjukkan oleh dalil pendapat keempat.
Yang kuat dalam masalah ini adalah pendapat yang kelima. Dan kalaupun dia melakukannya padahal dia tidak bisa menguasai dirinya maka puasanya tidaklah batal sampai dia melakukan jima’.
Pendapat pertama terbantahkan dengan dalil pendapat keempat dan kelima.
Pendapat kedua dan ketiga terbantahkan dengan dalil pendapat pertama, keempat, dan kelima. Adapun ayat yang mereka pakai berdalil, maka dikatakan: Rasulullah -shallallahu alaihi wasallam- sebagai penjelas Al-Qur`an telah mencium istrinya di siang hari, maka ini menunjukkan bahwa ’menyentuh’ dalam ayat itu bermakna lebih khusus yaitu jima’.
Adapun klaim mereka bahwa hukum boleh itu hanya berlaku untuk Nabi saja, maka terbantahkan dengan hadits Umar bin Abi Salamah bahwa dia bertanya kepada Rasulullah -shallallahu alaihi wasallam-, ”Apakah orang yang berpuasa boleh mencium?” maka beliau menjawab, ”Tanya dia,” maksudnya Ummu Salamah. Maka Ummu Salamah mengabarkan kepadanya bahwa Rasulullah -shallallahu alaihi wasallam- melakukannya. Umar berkata, ”Wahai Rasulullah, Allah telah mengampuni semua dosamu yang terdahulu dan belakangan,” maka beliau menjawab, ”Ketahuilah, demi Allah sungguh saya adalah orang yang paling bertakwa dan paling takut kepada Allah di antara kalian.” (HR. Muslim)
Mirip dengan hadits seorang lelaki dari Al-Anshar mencium istrinya lalu setelah itu dia menyuruh istrinya untuk menanyakan masalah ini kepada Nabi -shallallahu alaihi wasallam-. Setelah bertanya, istrinya mengabarkan bahwa Rasulullah -shallallahu alaihi wasallam- melakukannya. Maka dia berkata, ”Sesungguhnya Nabi telah diberikan keringan pada beberapa perkara maka kembalilah bertanya kepada beliau.” Maka istrinya kembali menanyakannya maka Rasulullah -shallallahu alaihi wasallam- bersabda, ”Saya adalah orang yang paling bertakwa dan yang paling tahu tentang batasan-batasan Allah di antara kalian.” (HR. Ahmad: 5/434 dan dishahihkan oleh Al-Wadi’i dalam Ash-Shahih)
Adapun pendapat keempat maka dijawab: Masalah syahwat adalah bersifat nisbi, tidak ada hubungannya dengan masalah umur. Terkadang ada orang tua yang syahwatnya lebih besar daripada pemuda dan sebaliknya. Juga terbantahkan dengan kisah Umar bin Salamah yang ketika itu beliau seorang pemuda.
[Al-Fath: 1927, As-Subul: 4/128-129, Al-Muhalla masalah no. 753 dan Al-Majmu’: 6/355]

[Bersambung]

Share and Enjoy:
  • Print
  • Digg
  • StumbleUpon
  • del.icio.us
  • Facebook
  • Yahoo! Buzz
  • Twitter
  • Google Bookmarks

This entry was posted on Tuesday, September 1st, 2009 at 10:31 am and is filed under Fiqh. You can follow any responses to this entry through the RSS 2.0 feed. Both comments and pings are currently closed.

19 responses about “Pembatal Puasa Yang Diperselisihkan (1)”

  1. muhammad reza said:

    Ustadz…af1 ini saya reza mks
    baru sy dpt web ta’…
    minta ijin dishare ustadz..

    Tafadhdhal, barakallahu fikum

  2. dr. Abu Hana said:

    Bismillah

    Ustadz Abu Muawiah yang semoga Allah Ta’ala senantiasa menjagamu. Ana dapat pertanyaan dari salahseorang pengunjung blog ana, mohon penjelasannya.

    Adapun pertanyaannya adalah sebagai berikut :

    1. Dulu, waktu ana ngaji di HT, ana pernah tanya salah satu pengajar tentang “HUKUM wanita memakai Cadar.” Dia menjawab dengan menggunakan ayat diatas, yaitu :
    Firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:

    يَا أَيُّهَا النَّبِيُّ قُل لِّأَزْوَاجِكَ وَبَنَاتِكَ وَنِسَاء الْمُؤْمِنِينَ يُدْنِينَ عَلَيْهِنَّ مِن جَلَابِيبِهِنَّ ذَلِكَ أَدْنَى أَن يُعْرَفْنَ فَلَا يُؤْذَيْنَ وَكَانَ اللَّهُ غَفُوراً رَّحِيماً

    “Hai Nabi, katakanlah kepada istri-istrimu, anak-anak perempuanmu, dan istri-istri orang mukmin: hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka. Yang demikian itu supaya mereka lebih mudah untuk dikenal, karena itu mereka tidak diganggu. Dan Allah adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS. Al-Ahzab: 59)

    Dia mengatakan bahwa perintah diatas agar para wanita mudah dikenal. Kemudian dia mengatakan, bagaimana seorang wanita akan mudah dikenal jika ia memakai “CADAR?!”
    Demikian pernyataan orang HT ini. Mungkin perlu antum jelaskan juga akhi, apakah benar kata orang HT ini, agar kaum muslimin tidak termakan dengan syubhat ini.

    2. Masalah isbal. Apa maksud bagian kain sarung yang dibawah mata kaki tempatnya di neraka? Apakah hanya bagian kakinya saja yang ke neraka, sementara bagian anggota badan yang lainnya tidak ?

    Demikian, atas jawaban antum dan kesediannya untuk meluangkan waktu. ana ucapkan Jazaakumullaahu khairan katsiiran wa Baarokallaahu fiikum..

    Allahummah amin. Sebelumnya afwan karena di sini ana hanya menjawabnya secara global, insya Allah dua masalah ini akan kami datang pembahasannya.
    1. Maksud dari ayat itu adalah agar mereka lebih mudah dikenali sebagai wanita merdeka dan punya kehormatan sehingga mereka tidak diganggu, bukan seorang budak yang mungkin akan dipandang sebelah mata oleh orang lain sehingga mereka akan diganggu. Hal itu karena hukum asal budak tidak wajib menutup wajahnya, dan itu sebagai pembeda antara mereka dengan wanita-wanita merdeka. Demikian kesimpulan dari penafsiran ayat ini dan ada beberapa pendapat lain yang mungkin antum bisa baca di kitab-kitab yang telah diterjemahkan dalam masalah ini.
    2. Adapun larangan isbal maka dia berlaku umum bagi setiap laki-laki yang telah balig. Penyebutan mata kaki adalah wakil dari semua anggota tubuh, tapi dia yang disebutkan karena dia pelakunya. Sama seperti hadits ketika sebagian sahabat tidak mencuci tumitnya dalam wudhu:
    وَيْلٌ لِلْأَعْقَابِ مِنَ النَّارِ
    “Celakalah bagi tumit-tumit dari api neraka.” (HR. Al-Bukhari dan Muslim dari Abu Hurairah dan Ibnu Amr dan HR. Muslim dari Aisyah)
    Apakah ini menunjukkan bahwa yang disiksa hanya tumitnya? Tentunya tidak, karena dengan hadits ini sebagian ulama berdalil akan adanya siksa kubur dan bahwa yang disiksa adalah rohnya serta jasadnya mengikuti.
    Adapun kata ‘karena sombong’ dalam hadits Abu Bakar, maka butuh dibahas tersendiri karena ada pembahasan dari sisi bahasa arab serta komentar ulama dalam masalah ini. Dan cukuplah kita katakan bahwa perbuatan isbal itu sendiri merupakan kesombongan sehingga tidak tepat kalau dikatakan seseorang itu isbal tapi tidak sombong, wallahu a’lam.

  3. muhammad reza said:

    Bismillah
    sebelumnya sy ucapkan “wa iyyaakum”.

    Ustadz bagaimana dengan hadits riwayat imam Muslim
    “Nabi SAW mengatur shaf laki-laki dewasa di depan shaf anak-anak dan shaf perempuan di belakang shaf anak-anak.”
    ustadz..bagaimana penjelasan hadits itu?,
    bolehkah dia dijadikan hujjah untuk mengumpulkan shaf anak2 kecil (laki-laki) dibelakang jama’ah yang lain?,yang kebanyakan dilakukan di beberapa masjid?
    adakah atsar yang menerangkan bahwa para salaf menyendirikan anak2 kecil mereka dibelakang shaf orang dewasa ataukah sebaliknya(digabung)?
    Sebelumnya jazaakumullaahu khayran atas perhatiannya..

    Wallahu a’lam, hadits itu tidak menunjukkan bahwa shaf anak-anak harus disendirikan. Karena dalam riwayat Al-Bukhari dan Muslim disebutkan bahwa ketika Nabi dan para sahabat sedang shalat, datanglah Ibnu Abbas yang ketika itu belum balig lalu melewati shaf-shaf para shahabat seraya menarik ontanya. Setelah beliau mengikat ontanya, beliau pun bergabung masuk ke dalam shalat. Lahiriah hadits ini menunjukkan Ibnu Abbas langsung berbaur dengan shaf para shahabat, dan tidak disebutkan beliau berdiri sendiri di belakang mereka atau beliau menuju shaf khusus anak-anaka, padahal ketika itu beliau masih kecil.
    Kesimpulannya, anak-anak hendaknya bershaf bersama lelaki dewasa, kecuali pada posisi di belakang imam karena Nabi -shallallahu alaihi wasallam- hanya membolehkan lelaki dewasa yang berada di belakang beliau. Wallahu a’lam.

  4. dr. Abu Hana said:

    Jazaakallaahu khairan ustadz, atas jawabannya..

  5. Rizal said:

    Bismillah, sebagaimana diketahui bahwa dalam sebuah hadits Nabi pernah bersabda : “Sesungguhnya aku keluar untuk memberitahukan kepadamu tentang waktu datangnya Lailatul Qadar, tiba-tiba si Fulan dan si Fulan berbantah-bantahan. Lalu, diangkatlah pengetahuan tentang waktu Lailatul Qadar itu”
    Terkait dengan artikel yang Ustadz publikasikan, apa dampak perselisihan ulama terhadap lailatul qadar?

    Ana nggak paham dengan maksud pertanyaan antum, tapi coba antum baca aja artikelnya di: http://al-atsariyyah.com/?p=876#more-876, mungkin bisa menjawab pertanyaan antum.

  6. Rizal said:

    Afwan kalau pertanyaan ana membingungkan Ustadz.
    maksud ana ?
    Dalam Al qur’an, hadits dan atsar ulama salaf diterangkan bahwa berselisih/berdebat merupakan perbuatan tercela. terlebih lagi di sepuluh hari terakhir bulan Romadhon.
    pertanyaan ana,
    1. Kalau perselisihan ulama tentang pembatal puasa itu hukumnya bagaimana ?
    2. Kalau meluruskan kesalahan orang-orang yang membayar zakat fitri dengan uang itu hukumnya bagaimana? sebab ada yang memanfaatkan larangan berdebat untuk menutupi al haq?

    Perdebatan yang tercela adalah perdebatan untuk membela kesalahan, perdebatan yang tidak ada maslahat dan manfaat di baliknya, perdebatan pada masalah-masalah yang sudah jelas hukumnya, dan semacamnya.
    Adapun perdebatan di kalangan ulama dalam suatu hukum fiqhi maka ini bukanlah hal yang tercela berdasarkan kesepakatan para ulama, karena perdebatan mereka dalam rangka mencari dan menjelaskan kebenaran. Demikian pula ketika terjadi suatu amalan yang keliru di tengah masyarakat yang guna menyampaikannya kita terpaksa harus beradu argumen maka itu tidak bermasalah insya Allah, dengan satu syarat mutlak: Kita adalah orang yang mempunyai ilmu dalam masalah yang akan kita terangkan, kalau kita tidak mempunyai ilmu maka perdebatan itu menjadi perdebatan yang tercela. Wallahu a’lam

  7. Ade said:

    Mau tanya,apakah jika seseorang berniat untuk membatalkan puasa,apakah puasanya tetap sah atau batal?

    Jika dia berniat membatalkan puasanya maka puasanya telah batal walaupun dia tidak melakukan pembatal puasa lainnya.

  8. nandikram said:

    bismillah,

    jazakallahu khoir yaa ustadz atas rincian serta tarjih dari setiap masalah yang disampaikan, namun di sini ana cuma sedikit membantu kesalahan tulisan dari artikel di atas,

    pada masalah jima bukan pada pada kemaluan, tertulis pada tarjih dari pendapat para ulama “Yang rajih adalah pendapat ketiga kedua, ini yang dirajihkan oleh Ash-Shan’ani dan Syaikh Al-Albani.”, mungkin yang dimaksud pendapat yang ketiga, lafadz “kedua” mungkin salah ketik.

    semoga Allah jalla wa ‘ala mengkokohkan ustadz di atas jalan kebenaran serta memberikan kepada seluruh kaum muslimin dan para pemimpim kaum muslimin hati yang lapang untuk menerima kebenaran dari manapun kebenaran itu datang

    allahumma amiin…

    Ia yang betul adalah pendapat ketiga, kata ‘kedua’ itu salah ketik, seharusnya tidak ada. Jazakallahu khairan atas perbaikannya.

  9. Ahmed said:

    Ana mo tanya, klo jima’ pada jln belakang (anal) menurut antm ulama ada brp pendpt? Syukran

    Dalam hal ini ada hadits shahih dari Nabi -shallallahu alaihi wasallam- yang mengharamkan, karenanya kalaupun ada ulama yang membolehkannya maka tidak perlu ditoleh pendapatnya, walaupun ulama itu Abu Bakar dan Umar. Karena pendapat yang membolehkan jelas bertentangan dengan sabda Nabi -shallallahu alaihi wasallam-.
    Silakan lihat penjelasannya di: http://darussalaf.org/stories.php?id=1204

  10. Fahrul said:

    Assalamu`alaikum ana minta izin menyalin dan menyebarluaskannya.

    Waalaikumussalam warahmatullah. Tafadhdhal

  11. fahrul said:

    Assalamu’alaikum
    Berdasarkan pendapat di atas bahwa berjima` bukan pada kemaluan tidak batal puasanya,bagaimana bila (maaf) melalui anus,mulut,antara 2 paha tetapi tertutup pakaian,atau semacamnya?

    Waalaikumussalam warahmatullah
    Sama saja, tidak membatalkan puasa walaupun mungkin dia tidak akan mendapatkan pahala apa-apa dari puasanya. Wallahu a’lam

  12. Fahrul said:

    Assalamu’alaikum
    Pak Ustadz,artinya apakah si pelaku tak berbuat zina dan tak dihukumi rajam bagi sudah menikah atau cambukan bagi masih lajang?Jazakallah.

    Waalaikumussalam warahmatullah
    Perbuatan apa yang dia lakukan? Kalau maksudnya oral sex, maka ya dia tidak terkena hukum had di atas, walaupun penguasa bisa memberikan hukuman kepada sesuai dengan ijtihad penguasa agar dia jera dan meninggalkan perbuatannya. Wallahu a’lam

  13. Fahrul said:

    Assalamu`alaikum
    Pak Ustadz,apakah maksud syahwat ini dalam hadits qudsi yaitu
    sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam,

    يَتْرُكُ طَعَامَهُ وَشَرَابَهُ وَشَهْوَتَهُ مِنْ أَجْلِى

    “(Allah Ta’ala berfirman): ketika berpuasa ia meninggalkan makan, minum dan syahwat karena-Ku
    Mohon penjelasan Ustadz.Jazakallah.

    Waalaikumussalam
    Yang dimaksud dengan syahwat di sini adalah jima’.

  14. Habib said:

    Assalaamu’alaykum

    Ustadz, apakah menelan ludah/liur yang ada di sudut2 bibir (yang kadang terakumulasi ketika kita membaca Al Qur’an atau berbicara) termasuk pembatal puasa?

    Ana mendapatkan salah satu referensi menyatakan batal berdasarkan kitab Mukholifatu Romadhona yang menukil dari Nailul Authar.

    Jazaakalloh khoir.

    Waalaikumussalam warahmatullah
    Hal itu tidak membatalkan puasa. Silakan baca pada artikel ‘hal-hal yang tidak membatalkan puasa’.

  15. abdullah said:

    bbrp hari lalu saya lihat2 foto di internet yg lumayan membangkitkan syahwat. namun Saya tidak Onani, krn saya komit untuk tidak onani.

    nah, setelah itu saya buang air kecil, di akhir kencing menetes, keluarlah cairan kental putih (tidak memancar dan bukan karena Onani). Cairan apakah itu ? wadi, ato mani ?

    saya khawatir itu mani krn sebelumnya saya terpancing Syahwat, maka dari itu saya anggap puasa saya Batal. Dan saya berencana mengganti (qodho) di hari lain.

    bagaimana ustadz ?

    Itu bukan mani. Mani yang mewajibkan mandi adalah yang keluar dengan terpencar, dalam jumlah banyak, dan selainnya dari ciri-ciri mani.
    Jadi, puasanya tidak batal dan tetap syah. Hanya saja pahalanya berkurang atau bahkan habis karena dia telah berzina dengan matanya dan tidak menjauhi syahwat secara sempurna.

  16. abdullah said:

    ustadz,

    meninjau pendapatnya Ibn Hazm,

    yang jadi illat batalnya puasa bukan keluarnya Mani, melainkan Jima’ (meskipun tidak keluar mani).
    dengan begitu, Onani sampai keluar mani tidak membatalkan puasa.

    Dengan dalil yang sama, lalu saya tarik kesimpulan, bahwa Illat yg membatalkan puasa adalah ‘Junub’ nya (berhadats besar) seseorang, bagaimana ustadz ? Jadi, berjima sampai keluar mani atau tidak, akan berstatus junub. Jadi bisa di Qiyaskan ke Aktivitas Onani. Kalo Onani sampai keluar mani, berarti dia junub (wajib mandi), dan batal lah puasa. Sedangkan kalo sekedar bermain2 dengan farj tidak sampai keluar mani, dia tidak junub, dan tidak batal puasa

    Junub bukan pembatal puasa. Karena Nabi shallallahu alaihi wasallam pernah memasuki subuh hari dalam keadaan beliau junub dan beliau tetap berpuasa. Jadi tidak ada dalilnya kalau junub itu pembatal puasa.

  17. Pencari Ilmu said:

    Assalamu’alaikum.
    Ustadz, Kalau puasanya tidak batal tetapi tidak mendapatkan pahala apapun berarti sama saja puasanya sia2. Kalau begitu untuk apa dia tetap melanjutkan berpuasa bukankah sebaiknya dia membatalkan sekalian puasanya?
    Terimakasih

    Waalaikumussalam.
    Memang dia tidak dapat pahala, tapi dia tidak berdosa. Kalau dia membatalkan puasanya maka dia berdosa besar.

  18. Hamba Allah said:

    Saya pernah menangis saat berpuasa setelah shalat malam. Ketika itu, air mata saya masuk ke mulut. Kemudian saya berkata pada ibu saya, “Apa ini sudah imsak?” beliau menjawab iya. Kemudia saya berbaring sebentar, baru saya ke kamar mandi dan meludah. Apa puasa saya batal?

    Ini sudah kami jawab via FB kan?

  19. budi said:

    Assalamu’alaikum.
    pak ustadz saya mau tanya,hukumnya orang yang sedang berpuasa ramadahan kemudian karena sakit dia ke dokter dan disuntik(maaf di pantat),apakah disuntik juga termasuk membatalkan puasa pak ustadz?
    dan dia masih kuat bisa melanjutkan puasanya pak ustadz
    terima kasih atas jawabannya

    Waalaikumussalam.
    Jika isi suntikan itu bisa menambah daya tahan tubuhnya, maka itu membatalkan puasanya. Hukumnya sama seperti makan dan minum.
    Tapi jika tidak, maka insya Allah dia masih boleh melanjutkan puasanya, dan puasanya tetap syah.