Pembatal-Pembatal Wudhu

January 27th 2009 by Abu Muawiah |

Pembatal-Pembatal Wudhu

Telah kita ketahui bersama bahwa hadats adalah suatu keadaan yang mengharuskan seseorang untuk bersuci, baik itu hadats besar maupun hadats kecil. Dan telah dijelaskan bahwa hadats besar adalah hadats yang hanya bisa dihilangkan dengan mandi junub dan yang semacamnya, sementara hadats kecil adalah yang bisa dihilangkan cukup dengan wudhu, walaupun bisa juga dihilangkan dengan mandi. Edisi kali ini kami akan membahas mengenai pembatal wudhu atau hadats kecil dan sedikit menyinggung tentang hadats besar.
Sebelum kami mulai, maka di sini ada satu kaidah yang perlu diperhatikan, yaitu: Asal seseorang yang telah berwudhu adalah wudhunya tetap syah sampai ada dalil shahih yang menyatakan wudhunya batal. Setelah ini dipahami, maka ketahuilah bahwa pembatal wudhu secara umum terbagi menjadi dua jenis:A.Yang disepakati oleh para ulama bahwa dia adalah pembatal wudhu.
1.Tinja dan kencing.
Berdasarkan firman Allah Ta’ala, “Atau salah seorang di antara kalian datang dari buang air atau kalian menyentuh wanita lalu dia tidak menemukan air, maka bertayammumlah kalian dengan tanah yang baik.” (QS. Al-Maidah: 6)
Juga hadits Shafwan bin Assal dia berkata, “Nabi -shallallahu alaihi wasallam- memerintahkan kami kalau kami sedang safar agar kami tidak melepaskan sepatu-sepatu kami selama tiga hari-tiga malam kecuali kalau dalam keadaan junub, akan tetapi kalau buang air besar, kencing dan tidur.” (HR. At-Tirmizi)
Semisal dengannya wadi, dia adalah air yang keluar setelah seseorang melakukan suatu pekerjaan yang melelahkan atau sesaat setelah selesai kencing. Hukumnya sama seperti kencing.

2. Madzi, yaitu cairan yang keluar dari kemaluan ketika sedang melakukan percumbuan dengan istri atau ketika mengkhayalkan hal seperti itu.
Berdasarkan hadits Ali bin Abi Thalib dari Nabi -shallallahu alaihi wasallam- bahwa beliau bersabda tentang seseorang yang mengeluarkan madzi, “Hendaknya dia mencuci kemaluannya dan berwudhu.” (HR. Al-Bukhari dan Muslim)

3. Kentut.
Rasulullah -shallallahu alaihi wasallam- memberi fatwa kepada seseorang yang ragu apakah dia kentut dalam shalat ataukah tidak, “Jangan dia memutuskan shalatnya sampai dia mendengar suara atau mencium bau.” (HR. Al-Bukhari dan Muslim dari Abdullah bin Zaid)

4. Semua hadats besar juga adalah pembatal wudhu, yaitu: Keluarnya mani, jima’, haid, nifas, hilangnya akal dengan pingsan, gila atau mabuk dan murtad. Insya Allah semua ini akan kami bahas pada pembahasan mandi wajib.

B. Yang diperselisihkan oleh para ulama apakah dia pembatal wudhu.
1. Tidur.
Ada dua jenis dalil yang lahiriahnya bertentangan di sini. Yang pertama adalah hadits Shafwan bin Assal yang telah berlalu, yang menunjukkan bahwa tidur adalah pembatal wudhu. Yang kedua adalah dalil-dalil yang menunjukkan bahwa para sahabat pernah lama menunggu Nabi -shallallahu alaihi wasallam- untuk keluar melaksanakan shalat isya, sampai-sampai sebagian di antara mereka tertidur kemudian bangun kemudian tertidur lagi kemudian tertidur lagi, baru setelah itu Nabi keluar untuk mengimami mereka. (HR. Al-Bukhari) Bahkan dalam sebuah riwayat Abu Daud dari Anas disebutkan, “Kemudian mereka mengerjakan shalat dan mereka tidak berwudhu.” Maka hadits ini menujukkan bahwa tidurnya mereka tidak membatalkan wudhu mereka.
Yang benar dalam masalah ini adalah pendapat yang membedakan antara tidur yang nyenyak dengan tidur yang tidak nyenyak atau sekedar terkantuk-kantuk. Yang pertama membatalkan wudhu -dan tidur inilah yang dimaksudkan dalam hadits Shafwan-, sedang tidur yang kedua tidak membatalkan wudhu -dan inilah yang dimaksudkan dalam hadits Anas-, wallahu a’lam. Ini adalah pendapat Malik, Az-Zuhri, Al-Auzai dan yang dikuatkan oleh Ibnu Qudamah, Ibnu Rusyd, Ibnu Abdil Barr, Asy-Syaikh Ibnu Bazz dan Asy-Syaikh Muqbil -rahimahumullah-.
[Lihat An-Nail: 1/190, Syarh Muslim karya An-Nawawi: 4/74 dan Al-Ausath: 1/142]

2.  Darah istihadhah.
Dia adalah darah yang keluar dari kemaluan wanita, bukan pada waktu haidnya dan bukan pula karena melahirkan.
Pendapat yang paling kuat dalam masalah ini adalah bahwa darah istihadhah tidaklah membatalkan wudhu, karena tidak adanya dalil shahih yang menunjukkan hal itu. Dan hukum asal pada wudhu adalah tetap ada sampai ada dalil yang menetapkan batalnya. Asy-Syaukani berkata dalam An-Nail, “Tidak ada satu pun dalil yang bisa dijadikan hujjah, yang mewajibkan wudhu bagi wanita yang mengalami istihadhah.”
Di antara dalil lemah tersebut adalah hadits Aisyah tentang sabda Nabi kepada seorang sahabiah yang terkena istihadhah, “Kemudian berwudhulah kamu setiap kali mau shalat.” Hadits ini adalah hadits yang syadz lagi lemah, dilemahkan oleh Imam Muslim, An-Nasai, Al-Baihaqi, Ibnu Abdil Barr dan selainnya.
[Lihat Al-Fath: 1/409, As-Sail: 1/149 dan As-Subul: 1/99]

3. Menyentuh kemaluan.
Rasulullah -shallallahu alaihi wasallam- pernah ditanya oleh seseorang yang menyentuh kemaluannya, apakah dia wajib berwudhu? Maka beliau menjawab, “Tidak, itu hanyalah bagian dari anggota tubuhmu.” (HR. Imam Lima dari Thalq bin Ali) Maka hadits ini menunjukkan bahwa menyentuh kemaluan tidaklah membatalkan wudhu.
Tapi di sisi lain beliau -shallallahu alaihi wasallam- juga pernah bersabda, “Barangsiapa yang menyentuh kemaluannya maka hendaknya dia berwudhu.” (HR. Imam Lima dari Busrah bintu Shafwan) Dan ini adalah nash tegas yang menunjukkan batalnya wudhu dengan menyentuh kemaluan.
Pendapat yang dikuatkan oleh Syaikhul Islam Ibnu Taimiah dan Asy-Syaikh Ibnu Al-Utsaimin adalah pendapat yang memadukan kedua hadits ini dengan menyatakan: Menyentuh kemaluan tidaklah membatalkan wudhu akan tetapi disunnahkan -tidak diwajibkan- bagi orang yang menyentuh kemaluannya untuk berwudhu kembali. Jadi perintah yang terdapat dalam hadits Busrah bukanlah bermakna wajib tapi hanya menunjukkan hukum sunnah, dengan dalil Nabi -shallallahu alaihi wasallam- tidak mewajibkan wudhu padanya -sebagaimana dalam hadits Thalq-. Wallahu a’lam bishshawab.
[Lihat Al-Ausath: 1/193, A-Mughni: 1/180, An-Nail: 1/301, Asy-Syarh Al-Mumti’: 1/ 278-284 dan As-Subul: 1/149]

4. Bersentuhan dengan wanita.
Menyentuh wanita -yang mahram maupun yang bukan- tidaklah membatalkan wudhu, berdasarkan hadits Aisyah dia berkata, “Sesungguhnya Nabi -shallallahu alaihi wasallam- pernah mencium sebagian istrinya kemudian beliau keluar mengerjakan shalat dan beliau tidak berwudhu lagi.” (HR. Ahmad, An-Nasai, At-Tirmizi dan Ibnu Majah)
Ini adalah pendapat Daud Azh-Zhahiri dan mayoritas ulama muhaqqiqin, seperti: Ibnu Jarir Ath-Thabari, Syaikhul Islam Ibnu Taimiah, Ibnu Katsir, dan dari kalangan muta`akhkhirin: Asy-Syaikh Ibnu Al-Utsaimin, Asy-Syaikh Muqbil dan selainnya.
Adapun sebagian ulama yang berdalilkan dengan firman Allah Ta’ala, “Atau kalian menyentuh wanita …,” (QS. Al-Maidah: 6) bahwa menyentuh wanita adalah membatalkan wudhu. Maka bisa dijawab dengan dikatakan bahwa kata ‘menyentuh’ dalam ayat ini bukanlah ‘menyentuh’ secara umum, akan tetapi dia adalah ‘menyentuh’ yang sifatnya khusus, yaitu jima’ (hubungan intim). Demikianlah Ibnu Abbas dan Ali bin Abi Thalib -radhiallahu anhuma- menafsirkan bahwa ‘menyentuh’ di sini adalah bermakna jima’. Hal ini sama seperti pada firman Allah Ta’ala tentang ucapan Maryam, “Bagaimana mungkin saya akan mempunyai seorang anak sementara saya belum pernah disentuh oleh seorang manusia pun dan saya bukanlah seorang pezina.” (QS. Maryam: 20) Dan kata ‘disentuh’ di sini tentu saja bermakna jima’ sebagaimana yang bisa dipahami dengan jelas.
Ini juga diperkuat oleh hadits Aisyah riwayat Al-Bukhari dan Muslim bahwa dia pernah tidur terlentang di depan Rasulullah -shallallahu alaihi wasallam- yang sedang shalat. Ketika beliau akan sujud, beliau menyentuh kaki Aisyah agar dia menarik kakinya. Seandainya menyentuh wanita membatalkan wudhu, niscaya beliau -shallallahu alaihi wasallam- akan membatalkan shalatnya ketika menyentuh Aisyah.
[Lihat An-Nail: 1/195, Fathu Al-Qadir: 1/558, Al-Muhalla: 1/244, Al-Ausath: 1/113 dan Asy-Syarh Al-Mumti’: 1/286-291]
Catatan:
Menyentuh wanita -baik yang mahram maupun yang bukan- tidaklah membatalkan wudhu, hanya saja ini bukan berarti boleh menyentuh wanita yang bukan mahram. Karena telah shahih dari Rasulullah -shallallahu alaihi wasallam- bahwa beliau bersabda, “Seseorang di antara kalian betul-betul ditusukkan jarum besi dari atas kepalanya -dalam sebagian riwayat: Sampai tembus ke tulangnya-, maka itu lebih baik bagi dirinya daripada dia menyentuh wanita yang tidak halal baginya.” (HR. Ath-Thabarani dari Ma’qil bin Yasar)

5. Mimisan dan muntah, baik memuntahkan sesuatu yang sudah ada di dalam perut atau yang masih berada di tenggorokan.
Semua ini bukanlah pembatal wudhu karena tidak adanya dalil shahih yang menunjukkan hal tersebut, karenanya kita kembali ke hukum asal yang telah kami sebutkan sebelumnya. Ini adalah pendapat yang dipilih oleh Ibnu Hazm dan Syaikhul Islam Ibnu Taimiah -rahimahumallah-.
Adapun hadits, “Barangsiapa yang muntah (dari perut) atau mimisan atau muntah (dari tenggorokan) atau mengeluarkan madzi maka hendaknya dia pergi dan berwudhu.” (HR. Ibnu Majah dari Aisyah), maka ini adalah hadits yang lemah. Imam Ahmad dan Al-Baihaqi telah melemahkan hadits ini, karena di dalam sanadnya ada Ismail bin Ayyasy dan dia adalah rawi yang lemah.

6. Mengangkat dan memandikan jenazah.
Ada beberapa hadits dalam permasalahan ini, di antaranya adalah hadits Abu Hurairah secara marfu’, “Barangsiapa yang memandikan mayit maka hendaknya dia juga mandi, dan barangsiapa yang mengangkatnya maka hendaknya dia berwudhu.” (HR. Ahmad, An-Nasai dan At-Tirmizi)
Akan tetapi hadits ini telah dilemahkan oleh Imam Az-Zuhri, Abu Hatim, Ahmad, Ali bin Al-Madini dan Al-Bukhari. Adapun hadits-hadits lainnya, maka kami sendiri pernah mentakhrij jalan-jalannya dan kami menemukannya sebagaimana yang dikatakan oleh Imam Ahmad -rahimahullah-, “Tidak ada satu pun hadits shahih yang ada dalam permasalahan ini.”
Ada beberapa pembatal lain yang tidak sempat kami sebutkan karena tempat yang terbatas, wallahul musta’an

Incoming search terms:

  • pembatal wudhu
  • apakah setelah wudhu boleh memakai salep
  • apakah tanah membatalkan wudhu?
  • wudhu saat tidak bisa bergerak
  • bagaimana jika air mengalir nya habis untuk mengganti wudhu
Share and Enjoy:
  • Print
  • Digg
  • StumbleUpon
  • del.icio.us
  • Facebook
  • Yahoo! Buzz
  • Twitter
  • Google Bookmarks

This entry was posted on Tuesday, January 27th, 2009 at 10:17 am and is filed under Fiqh. You can follow any responses to this entry through the RSS 2.0 feed. Both comments and pings are currently closed.

37 responses about “Pembatal-Pembatal Wudhu”

  1. abu aulia said:

    ?????? ????? ? ???? ???? ? ??????

    ana copas ya?

    ???? ?? ???? ???? ??????

    Tafadhdhal wajazakallahu khairan

  2. Pembatal-Pembatal Wudhu « ATH-THAIFAH AL-MANSHURAH said:

    [...] Sumber penukilan: http://al-atsariyyah.com/?p=609 [...]

  3. Pembatal-Pembatal Wudhu 1 « Hidupkan Sunnah HANCURKAN BID’AH said:

    [...] Sumber penukilan: http://al-atsariyyah.com/?p=609 [...]

  4. nandikram said:

    bismillah,
    ustadz, apakah terdapat perbedaan hukum antara menyentuh kemaluan dengan alas ataupun tidak memakai alas, di dalam pembahasan hal – hal yang tidak membatalkan wudhu seperti yang ustadz bawakan di atas?, karena pada sebagian pembahasan tentang masalah ini, hal tersebut dibedakan.

    jazakallahu khoir

    Betul sebagian ulama yang yang merinci dengan rincian seperti itu. Hanya saja yang kuat adalah menyentuh kemaluan tidaklah membatalkan wudhu, baik dengan pelapis maupun tidak, wallahu a’lam.

  5. Abu Khalid At-Tamini said:

    Bismillah,
    Assalamu’alaykum,

    Ustadz, misal seseorang dalam keadaan di infus (mondok di rumah sakit) apa dia harus wudhu kalau mau sholat? pernah ada kasus seorang ibu sakit asma (batu dan sesek nafas). Saat dia diinfus dia pakai pampers sehingga kalau kencing dia cukup di pampers tersebut (tidak harus ke kamar mandi). Ibu itu bisa jalan. Kalau dia mau sholat apakah wajib bagi si ibu yang sedang sakit tersebut untuk melepas pampersnya dan mengganti dengan pampers yang baru setelah sebelumnya bagian yang terkena kencing dia besihkan? dan bagaimana kalau si ibu tersebut tayamum apa diperbolehkan dalam keadaan sakit seperti itu?

    Jazaakumullaahu khairan

    Waalaikumussalam warahmatullah.
    Ala kulli hal, selama sang ibu masih bisa menggunakan air dan tidak berbahaya bagi penyakitnya maka dia tidak boleh bertayammum. Adapun kalau dia tidak bisa banyak bergerak, maka air wudhu bisa dibawa didekatnya agar dia bisa berwudhu.
    Kalau pakaiannya terkena najis maka tentunya dia harus menggantinya sebelum berwudhu dan shalat. Wallahu a’lam.

  6. mez said:

    assalamualaikum.wr.wb….saya mau tanya….habis mandi selesai…kita langsung wudhu..dlm poisi wudhu itu.. samasekali tdk pakai pakean …bagaimana hukum wudhu y ?terimakasih bnyk..wasalamualaikum.wr.wb

    Waalaikumussalam warahmatullah
    Nggak masalah insya Allah, bukan syarat syah wudhu dia harus menutup aurat. Walaupun tentunya yang lebih afdhal dia berpakaian terlebih dahulu, karena bagaimanapun juga wudhu adalah ibadah kepada Allah, karenanya hendaknya seseorang bisa ‘lebih sopan’ kepada Allah dalam beribadah kepada-Nya.

  7. Fahrul said:

    Assalamu ‘alaikum
    Setahu ana semua yang keluar dari dubur dan qubul adalah batal,mengapa darah isthihadah yang keluar dari kemaluan wanita tak membatalkan wudhu dan mohon disertai dalil?
    Jazakallah

    Waalaikumussalam warahmatullah
    Tidak semua akh, apa yang para ulama sebutkan bahwa: ‘Semua yang keluar dari dua jalan adalah pembatal wudhu’ hanyalah hukum kebanyakan. Dengan dua alasan:
    1. Hukum asal orang yang telah berwudhu adalah wudhunya syah dan tidak batal, sampai ada dalil yang menyatakan batalnya. Karenanya yang dituntut untuk membawakan dalil adalah yang menyatakan sesuatu itu (dalam hal ini istihadhah) pembatal wudhu. Sementara yang berpendapat bahwa istihadhah itu bukanlah pembatal wudhu maka dia berpegang kepada hukum asal sehingga tidak dituntut mendatangkan dalil.
    2. Jika seseorang menelan uang -misalnya-, lalu uang tersebut keluar dari duburnya tanpa diikuti oleh najis, maka pendapat yang lebih tepat dalam masalah ini adalah bahwa wudhunya tidak batal karena tidak ada tinja atau kentut yang keluar.
    Khusus tentang istihadhah, maka dalam hadits Aisyah riwayat Al-Bukhari disebutkan, ada sebagian istri Nabi yang pernah shalat dalam keadaan darah istihadhah sedang keluar. Seandainya istihadhah pembatal wudhu tentunya shalatnya juga batal dan akan dilarang oleh Nabi -shallallahu alaihi wasallam-.

  8. Fauzia said:

    Assalamu’alaikum, ustadz. Saya sering merasa ragu saat shalat apakah saya kentut atau tidak. Terkadang perut saya terasa tidak enak, tapi saya tidak merasa kentut ‘yang sebenarnya’. Kemudian terkadang tiba2 terasa seperti ada letupan atau desiran di bagian ‘itu’, tapi saya cenderung merasa itu bukan kentut, pokoknya rasanya berbeda dengan kentut yang biasanya. Kalau sudah begitu saya selalu memilih memutuskan shalat saya dan wudlu lagi, lalu shalat lagi. Tapi tidak jarang pada shalat yang kedua itu saya masih merasa hal yang sama. Hal itu membuat saya bingung dan putus asa, apakah saya memang harus shalat berkali2 atau bagaimana? Atau ini hanya perasaan saya saja? Lalu menurut ustadz apa yang seharusnya saya lakukan jika saya kembali mengalami hal tersebut? Terimakasih. Wassalamu’alaikum wr.

    Waalaikumussalam warahmatullah
    Dalam keadaan seperti itu anti tidak perlu memperdulikan was-was dan keraguan yang timbul, selama anti yakin tidak ada yang keluar. Dan satu-satunya cara untuk menghilangkan was-was dan keraguan dalam shalat adalah dengan tidak memperhatikan was-was tersebut (tentunya setelah meminta pertolongan kepada Allah). Jadi anti shalat aja terus dan jangan putuskan shalat, walaupun anti merasa ragu ada sesuatu yang keluar, selama anti tetap yakin kalau tidak ada yang keluar. Wallahul musta’an

  9. taufik said:

    asalamualaikum pak ustadz saya mau bertanya, gimana caranya agar whuduk kita bisa tahaun lama, saya punya masalah kalau sholat perasaan ada aja yang keluar atau kentut kadang sampai 10 kali saya berudhuk untuk sholat ginmana pak ustad solusinya

    Hendaknya dia mengamalkan sabda Nabi yang memerintahkan untuk tidak membatalkan shalatnya sampai dia yakin dia buang angin. Jika itu masih sebatas perasaan atau keraguan-raguan, maka dia dilarang untuk memutuskan shalatnya karena hal itu akan menjadikan dia terkena penyakit yang berbahaya, yaitu penyakit was-was dalam ibadah yang pasti pada akhirnya akan merusak ibadahnya. Sekali lagi, tidak perlu ada perbuatan jaga-jaga atau berhati-hati dalam masalah ini. Kapan dia belum yakin ada yang keluar maka dia tidak boleh membatalkan shalatnya, walaupun dengan alasan untuk jaga-jaga.

  10. cunong said:

    Assalammualaikum Wr, Wbr,

    Ustadz sy mau tanya, batalkah kalo saya lagi mandi besar trus kemaluan sy di pegang istri dengan sengaja ? wkt itu kami sedang mandi bersama. tks

    Waalaikumussalam warahmatullah
    selama tidak ada mani yang keluar maka insya Allah mandinya syah.

  11. nisa said:

    assalamu’alaikum..

    ana ijin kopas artikel2 dari situs ini k blog ana ya..

    al afwu minkum sebelumnya tidak ijin..
    hanya menyantumkan link back saja..

    jazakumullohu khoiron

    Waalaikumussalam warahmatullah
    tafadhdhaly barakallahu fiik. Jazakillahu khairan

  12. kucir said:

    Assalammualaikum Wr, Wbr,
    Ustadz, saya merasa ragu dlm kondisi saya ini.
    Sebulan yg lalu saya menjalani operasi pengangkatan kandung kemih karena kanker,dan diganti memakai usus halus saya.
    persoalannya saya sekarang kalau pipis blm biasa normal alias belum terkontrol kadang keluar dgn sendirinya.karena saya harus sholat kadang sy pakai pempers atau kantong plastik. pada saat sholat sering pipis keluar sendiri.
    Bagaimana Ustadz sholat saya sah atau tidak atau bagaimana jalan keluarnya agar sy bisa melaksanakan sholat dgn baik.
    terimakasih..wasalam.

    Waalaikumussalam warahmatullah
    Kalau memang kencing belum bisa dikontrol dan keluarnya sangat sering (misalnya setiap 5 menit pasti keluar tanpa bisa ditahan), maka insya Allah dia mempunyai uzur. Silakan dia tetap shalat walaupun kencing keluar di tengah-tengah shalatnya. Shalatnya syah, hanya saja dia wajib berwudhu setiap kali mau shalat, baik shalat wajib maupun shalat sunnah.
    Tapi jika jarak keluarnya kencing cukup lama, dalam artian cukup untuk menyelesaikan satu shalat (misalnya 10 menit), maka hendaknya dia shalat di antara itu agar dia bisa shalat dengan sempurna.

  13. Raka said:

    Ass wr wb…
    Saya mau nanya pak ustadz…
    Setiap kali saya berwudhu untuk mandi wajib, saya selalu merasa kentut,,,tetapi saya ragu iya atau tidak nya pak ustadz…sering kali saya mengulang hingga 10 kali pak ustadz… Tapi tetap saja saya merasa kentut,, saya pernah dengar, ada yang bilang berwudhu untuk mandi wajib itu hukum nya sunnah, yang wajib hanya niat.. Bagaimana menurut pak ustadz?
    Menurut pak ustadz perasaan kentut itu sah apa tidak saya berwudhu untuk mandi wajib?..
    D blz ya pak ustadz^_^

    Silakan baca komentar-komentar yang ada pada artikel ini, jawabannya insya Allah akan saudara dapatkan di sela-sela membaca semua komentar yang ada.

  14. ummu najam said:

    bismillaah,

    Ustadz.. dari pembahasan di atas menyatakan bahwa HAID adalah salah satu pembatal wudhu bagi wanita.

    Saya pernah melihat teman yang mengambil wudhu -secara sempurna- padahal dia dalam keadaan haid.
    Bagaimana hukumnya dia melaksanakan wudhu tersebut, meskipun dia berkata hanya untuk berwudhu, bukan untuk sholat. Dan katanya, yang penting niatnya.
    Mohon penjelasannya, syukron wa jazaakallaahukhairan wa baarakallaahu fiyk

    Kalau masalah apakah boleh wanita haid berwudhu, maka boleh saja dan tidak ada dalil yang melarang, walaupun wudhunya jelas tidak mengangkat hadats besarnya. Wallahu a’lam

  15. anna shanty al-zahra said:

    assalamuallaikum…
    saya mau tanya pak ustad.
    saya mendapat pertanyaan dari seseorang,
    apakah pada saat kita sudah dalam keadaan wudhu lalu kita minum/makan,terus memegang yang bukan mukhrim kita itu dapat membatalkan wudhu kita???dan jika memang benar membatalkan lalu hadistnya apa saja???

    Waalaikumussalam
    Tidak membatalkan wudhu, sebagaimana dalil-dalil yang telah kami sebutkan di atas.

  16. Pembatal Wudhu’ « iqro' bismi robbikalladzi kholaq said:

    [...] Ada beberapa perkara lain yang dibahas oleh para ulama dalam masalah ini seperti: Keluar darah istihadhah, menyentuh wanita, mimisan dan muntah, serta mengangkat dan memandikan jenazah. Apakah keempat perkara ini membatalkan wudhu atau tidak? Silakan baca ulasannya di sini: http://al-atsariyyah.com/?p=609 [...]

  17. nn said:

    assalamu’alaikum
    ustadz,saya pernah mendengar jika habis wudhu usahakan air wudhu yang sudah di basuh ke badan jangan di hapus / di hilangkan / di husap sampai airnya mengering dengan sendirinya(shalatnya selesai). apakah ada hadistnya?
    Terima Kasih
    Wassalamu’alaikum

    Waalaikumussalam
    Bukannya dilarang diusap tapi memang disunnahkan untuk tidak diusap karena setiap tetesan air akan menghapuskan dosa. Karenanya semakin cepat tetesan air wudhu itu habis maka semakin sedikit dosa yang dihapuskan.

  18. emmeryl qurota aini said:

    Assalamu’alaikum.
    Ustadz, saya pernah mendengar di salah satu khutbah bahwa Rosulullah SAW pernah menyuruh mengulangi wudhu seseorang yang kentut beserta orang yang berada disamping orang yang kentut itu. Yang jadi pertanyaan “apakah kena kentut orang lain dapat membatalkan wudhu kita?”
    Wassalamu’alaikum.

    Waalaikumussalam.
    Kami tidak pernah mendengar hadits seperti ini. Tapi yang jelas terkena kentut bukanlah pembatal wudhu sama sekali.

  19. mprad said:

    mau tanya nih,
    klo kita wudhu pake air bak mandi tapi ga ada 1 kullah. sy ngambil air untuk wudhunya pake kaleng plastik bekas cat yang dibolongin bawahnya biar mengalir. itu syah ga ya wudhunya?

    Ia wudhunya syah.

  20. ummu aisyah said:

    Assalamu’alaikum ustadz,
    Afwan sebelumnya, saya sering merasakan keluar angin dari vagina saya. hal ini saya rasakan setelah saya melahirkan kedua anak saya. suara angin tsb spt suara kentut namun tidak berbau..
    saya pernah membaca fatwa syaikh yang mengatakan bahwa hal tsb tidak mengapa, sehingga sampai saat ini saya tidak pernah membatalkan sholat saya ketika merasakan hl tsb. dan saya beranggapan kalau angin ini tidak kelaur dari dubur spt halnya kentut yg keluar dari dubur..Mohon penjelasannya ustadz..apakah hal tsb membatalkan sholat saya?

    Waalaikumussalam.
    Yang kami ketahui juga seperti itu, yakni hal itu tidak membatalkan wudhu karena tidak ada dalil tegas yang menyatakannya sebagai pembatal wudhu. Wallahu A’lam

  21. Abdullah said:

    saya sudah mengerti bahwa keraguan itu datangnya dari setan untuk merusak ibadah kita. sampai sekarangpun saya tidak membatalkan shalat saya jika saya ragu kentut atau tidak. tapi bagaimana jika itu memang kentut? dan saya tidak membatalkan shalat saya karena saya masih ragu. saya takut shalat saya selama ini tidak diterima. Jazakallah

    Kalau memang masih ragu dia kentut atau tidak maka yang asalnya adalah tidak, karenanya dia tetap melanjutkan shalatnya dan jangan dia hentikan karena itu hanya akan memperparah penyakit ragu-ragunya.

  22. telo said:

    assalam akhi Ada juga hadits lain yang diriwayatkan oleh Abdullah bin Umar dari ayahnya:

    قبلة الرجل امرأته وجسه بيده من الملامسة فمن قبل امرأته أوجسها بيده فعليه الوضوء (رواه مالك فى الموطأ والشافعى )

    Sentuhan tanagn seorang laki-laki terhadap istrinya dan kecupannya termasuk pada bersentuhan (mulamasah). Maka barangsiapa mencium istrinya atau menyentuhnya dengan tangan, wajiblah atasnya berwudhu (HR. Malik dalam Muwattha’ dan as-Syafi’i)
    Hadits ini jelas menerangkan bahwa bersentuhan dengan istri itu membatalkan wudhu seperti halnya batalnya wudhu karena mencium istri sendiri.

    Seperti yang ditekankan dalam salah satu riwayat Ibnu Haitam, bahwa Abdullah bin Mas’ud berkata:

    اللمس ما دون الجماع

    Yang dimaksud dengan sentuh (allamsu) adalah selain jima’.

    Ini berarti bersentuhan dengan istri tanpa penghalang baik sengaja atapun tidak membatalkan wudhu. Lebih jelas lagi riwayat atThabrani:

    يتوضأ الرجل من المباشرة ومن اللمس بيده ومن القبلة
    Berwudhulah lelaki karena berlekatan, bersentuhan dengan tangan dan karena ciuman.

    mohon penjelasan dengan semua ini ustad

    Yang nampak dari pemaparan di atas, riwayat-riwayat di atas adalah mauquf dari ucapan sahabat dan bukanlah sabda Nabi shallallahu alaihi wasallam.
    Kalau memang demikian, maka itu hanyalah pendapat sahabat yang tidak bisa dijadikan dalil dalam masalah yang ijtihadiah seperti ini. Apalagi pendapat sahabat ini telah diselisihi oleh sahabat lainnya. Wallahu A’lam

  23. Abul Harits said:

    Bismillah..

    Afwan Ustadz,

    Ana mau tanya (agak sedikit keluar dari tema)..

    Apa hukum nya seorang wanita ikut memandikan mayat ayah nya….

    Apakah di bolehkan, atau tidak…
    Mohon kiranya jika memungkinkan, disertakan dalilnya…(ana butuh banget)..

    Jazaakumullahu khairan..
    Wa Baarokallahufiikum

    Boleh saja selama dia tidak melihat/menyentuh auratnya dan tidak terjadi ikhtilat dengan lawan jenis.

  24. abdurahman said:

    ustadz -hafidzakallah-
    apakah makan makanan atau minum minuman yang dimasak dengan api membatalkan wudhu ??
    soalnya ana habis baca buku syarah ushulus sunnah karya syaikh Rabi’ -hafidzahullah- bahwa beliau menyebutkan dalam buku tersebut sebuah riwayat tentang -batalnya wudhu orang yang menyantap malanan yang dimasak dg api -.
    bagaimana kedudukan riwayat tersebut? dan bagaimana pemahaman yang benar.
    jazakallohu khoiron, baarokallahu fiik.

    Maksudnya di sini makanan yang langsung bersentuhan dengan api, bukan sekedar dimasak dengan api tapi melalui panci dan semacamnya. Yang benar dalam permasalahan -wallahu a’lam-, tidak membatalkan wudhu.

  25. Dini Alvateha said:

    Ustadz, apakah kentut yang keluar dari alat kelamin perempuan tapi, kentutnya seperti gelembung, apakah hal tersebut dapat membatalkan wudhu’?

    Wallahu a’lam. Insya Allah tidak membatalkan wudhu karena bukan keluar dari dubur.

  26. nn said:

    Assalamualaikum ustadz
    Apakah keputihan yang biasa dialami oleh wanita itu termasuk wadi, madzi, atau tidak keduanya? najiskah?
    jika keputihan keluar diwaktu shalat, perlukan menghentikan shalat untuk membersikannya lalu berwudhu lagi?
    mohon penjelasannya mengenai ini..

    Waalaikumussalam.
    Keputihan adalah najis, karenanys shalat harus dihentikan lalu dibersihkan najisnya lalu berwudhu dan shalat lagi.

  27. Pembatal Wudhu | Menuntut ilmu syar'i said:

    [...] jenazah. Apakah keempat perkara ini membatalkan wudhu atau tidak? Silakan baca ulasannya di sini: http://al-atsariyyah.com/?p=609 Share this:TwitterFacebookLike this:SukaBe the first to like this post. This entry was posted in [...]

  28. ferry said:

    Assalamualaikum ustadz,

    Apakah Jenazah orang tua boleh dipakai pampers setelah dimandikan itu menurut syariat islam bagaimana??

    Waalaikumussalam.
    Wallahu A’lam, hal itu tidak perlu dilakukan karena tidak ada manfaatnya.

  29. Pujii said:

    Assalamualaikum
    Saya suka sangat kesel kl saya sesudah wudhu pasti ingin sekali kentut
    Apalagi dalam keadaan shalat jamaah
    Ttolong kasih tw bagaimana agar saya tdk gampang kentut..
    Terimakasih
    Dan mohon tlg jawab diemail sya..
    Terimakasih…

    Waalaikumussalam.
    Mungkin masalah ini lebih tepat ditanyakan ke dokter.

  30. dina said:

    bismillaah,
    tadz, kalo seumpama pas sholat lail, kemudian disalah 1 rekaatnya merasa kentut tapi tidak berbau n tidak berbunyi, apakah membatalkan sholat? Lalu dng keadaan spt itu apakah ketika sholat lail pd rekaat ke 2 itu selesai salam dan melanjutkn rekaat brikutnya, apa harus wudhu lagi?

    Kalau dia yakin keluar, yang jelas batal.

  31. ana said:

    Ustadz, afwan…ana baca komentar2 d atas, salah satunya menanyakan hukum keputihan pd wanita. keputihan adalah najis, tapi bagaimana seumpama sdh dibersihkan msh keluar terus menerus atau sering,,kl sibuk dengan membersihkan terus wudhu’ lagi dan lagi sehingga tertinggal shalat d awal waktu, maka apakah keadaan seperti ini bisa d beri rukhshoh? sykrn wa Jazakallah khoir..

    Tidak bisa dijadikan rukhshah. Tidak mengapa dia mengundurkan shalatnya ke akhir waktu sampai dia betul-betul bersih dari najis.

  32. ummu nusaibah said:

    Assalamualaikum
    Maaf ustdz, apa yaa jujjah/dalilnya bhw keputihan mbatalkan wudhilu…..?
    Syukron katsIraa

    wa’alaikum salam warahmatullah.
    Kami belum mengetahui dalil tentang hal itu, hanya ada fatwa dari Syaikh Ibnu Utsaimin rahimahullah yang mengatakan bahwa hal itu membatalkan wudhu. wallahu a’lam. (MT)

  33. Fahrul ardians said:

    Ass. Saya mau tanya apakah menginjak tanah atau bambu membatalkan wudhu ?

    Tidak membatalkan.

  34. Abu sufyan said:

    Afwan ustadz apa bedanya istihadhah dgn keputihan?

    Yang paling jelas tentunya warnanya, karena istihadhah adalah darah yang berwarna merah.

  35. syamsul.hadi said:

    batalkah kalau berjabat tangan dengan orang kafir

    Tidak batal.

  36. wijaya said:

    Ass.wr.wb

    Dari ulasan ustadz bersentuhan kulit dg istri tdk membatalkan wudhu, bagaimana jika istri sedang dlm keadaan Haid, blm mandi Junub atau nifas apakah tetap tidak membatalkan wudhu jika bersentuhan ?

    sykron katsiro

    Sama saja hukumnya, tidak membatalkan wudhu.

  37. Bunga said:

    Assalamualaikum,

    Saya mau bertanya, bila wanita mengalami keputihan yang normal/sedikit sekali dan terkena di pakaian dalam wanita, apa boleh sholat tanpa melepas pakaian dalam tersebut? biasanya kita agak sungkan bila sedang dalam perjalan, atau di tempat umum yang tidak memungkinkan melepas pakaina dalam tersebut. Mohon penjelasannya. Terimakasih. Wassalam

    Waalaikumussalam.
    Tidak boleh. Saya pikir dimana mana ada toilet umum. Cukup bersihkan bagian yang sedikit itu pakai air sampai hilang zatnya, baru setelah itu boleh dipakai shalat.