Pembahasan Seputar Syafaat dan Tawassul

July 8th 2015 by Abu Muawiah |

Pembahasan Seputar Syafaat dan Tawassul

Asy-Syaikh Muhammad bin Abdil Wahhab rahimahullah berkata:

اَلْقَاعِدَةُ الثَّانِيَةُ: أَنَّهُمْ يَقُوْلُوْنَ: مَا دَعَوْنَاهُمْ وَتَوَجَّهْنَا إِلَيْهِمْ إِلاَّ لِطَلَبِ الْقُرْبَةِ وَالشَّفَاعَةِ.

فَدَلِيْلُ الْقُرْبَةِ قَوْلُهُ تَعَالَى ﴿وَالَّذِينَ اتَّخَذُوا مِنْ دُونِهِ أَوْلِيَاءَ مَا نَعْبُدُهُمْ إِلَّا لِيُقَرِّبُونَا إِلَى اللَّهِ زُلْفَى إِنَّ اللَّهَ يَحْكُمُ بَيْنَهُمْ فِي مَا هُمْ فِيهِ يَخْتَلِفُونَ إِنَّ اللَّهَ لَا يَهْدِي مَنْ هُوَ كَاذِبٌ كَفَّارٌ﴾[الزمر:3]. وَدَلِيْلُ الشَّفَاعَةِ قوله تعالى: ﴿وَيَعْبُدُونَ مِنْ دُونِ اللَّهِ مَا لَا يَضُرُّهُمْ وَلَا يَنْفَعُهُمْ وَيَقُولُونَ هَؤُلَاءِ شُفَعَاؤُنَا عِنْدَ اللَّهِ﴾[يونس:18].

وَالشَّفَاعَةُ شَفَاعَتَانِ: شَفَاعَةٌ مَنْفِيَّةٌ وَشفاعة مُثْبَتَةٌ.

فَالشفاعة الْمنفيّة مَا كَانَتْ تُطْلَبُ مِنْ غَيْرِ اللهِ فِيْمَا لاَ يَقْدِرُ عَلَيْهِ إِلاّ اللهُ. وَالدَّلِيْلُ قوله تعالى ﴿يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا أَنفِقُوا مِمَّا رَزَقْنَاكُمْ مِنْ قَبْلِ أَنْ يَأْتِيَ يَوْمٌ لَا بَيْعٌ فِيهِ وَلَا خُلَّةٌ وَلَا شَفَاعَةٌ وَالْكَافِرُونَ هُمْ الظَّالِمُونَ﴾[البقرة:254].

وَالشفاعة الْمُثبَتة هِيَ: اَلَّتِي تُطْلَبُ مِنَ اللهِ. وَالشّاَفِعُ مُكْرَمٌ بِالشفاعة، وَالْمَشْفُوْعُ لَهُ: مَنْ رَضِيَ اللهُ قَوْلَهُ وَعَمَلَهُ بَعْدَ الْإِذْنِ كَمَا قال تعالى: ﴿مَنْ ذَا الَّذِي يَشْفَعُ عِنْدَهُ إِلَّا بِإِذْنِهِ﴾[البقرة:255]

[Terjemah]

Kaidah Kedua: Mereka (kaum musyrikin) berkata: Kami tidak berdoa dan menghadap (baca: berharap) kepada mereka (orang-orang saleh) kecuali karena kami ingin meminta syafaat dan mengharapkan kedekatan dengan mereka.

Dalil (bahwa tujuan mereka untuk) mengharapkan kedekatan adalah firman Allah Ta’ala, “Dan orang-orang yang mengambil pelindung selain Allah (berkata): “Kami tidak menyembah mereka melainkan supaya mereka mendekatkan kami kepada Allah dengan sedekat- dekatnya”. Sesungguhnya Allah akan memutuskan di antara mereka tentang apa yang mereka berselisih padanya. Sesungguhnya Allah tidak menunjuki orang-orang yang pendusta dan sangat ingkar.” (QS. Az-Zumar: 3) Dan dalil (bahwa mereka mengharapkan) syafaat adalah firman Allah Ta’ala, “Dan mereka menyembah selain daripada Allah apa yang tidak dapat mendatangkan kemudharatan kepada mereka dan tidak (pula) kemanfaatan, dan mereka berkata: “Mereka itu adalah pemberi syafa’at kepada kami di sisi Allah.” (QS. Yunus: 18)

Syafaat itu ada dua bentuk: Syafaat yang dinafikan (keberadaannya) dan syafaat yang ditetapkan (keberadaannya).

Syafaat yang dinafikan adalah syafaat yang diminta dari selain Allah, pada perkara yang tidak ada yang sanggup melakukannya selain Allah. Dalilnya adalah firman Allah Ta’ala, “Hai orang-orang yang beriman, belanjakanlah (di jalan Allah) sebagian dari rezki yang telah Kami berikan kepadamu sebelum datang hari yang pada hari itu tidak ada lagi jual beli dan tidak ada lagi syafa’at. Dan orang-orang kafir itulah orang-orang yang zalim.” (QS. Al-Baqarah: 254)

Syafaat yang ditetapkan adalah syafaat yang diminta dari Allah. Dimana hamba yang memberikan syafaat itu dimuliakan oleh Allah dengan (kemampuan memberikan) syafaat. Sementara hamba yang diberikan syafaat adalah hamba yang Allah ridhai ucapan dan amalannya, itupun setelah ada izin (Allah). Sebagaimana pada firman Allah Ta’ala, “Tidak ada yang dapat memberi syafaat di sisi Allah tanpa izin-Nya.” (QS. Al-Baqarah: 255)

 

[Syarh]

Ini adalah kaidah kedua yang menjelaskan keadaan peribadatan dari kaum musyrikin. Yaitu mereka beribadah kepada sembahan-sembahan lain selain Allah Jalla wa Ala, apa yang mereka inginkan dengan ibadah ini? Apakah mereka mengatakan bahwa semua sembahan ini adalah sembahan yang berdiri sendiri? Ataukah semua sembahan ini hanya sekedar sebagai perantara (antara mereka dengan Allah)?

Kaidah ini menjelaskan bahwa mereka tidaklah beribadah kepada sembahan selain Allah Jalla wa Ala kecuali sembahan itu hanya sekedar sebagai perantara atau sekedar ingin mendapatkan kedekatan dengan Allah atau sekedar ingin mendapatkan syafaat dari mereka (sembahan selain Allah). Mereka menyatakan bahwa semua sembahan mereka yang batil ini bisa mendekatkan mereka kepada Allah atau semua sembahan ini bisa mengantar permintaan mereka kepada Allah atau semua sembahan ini bisa memberikan syafaat kepada mereka di sisi Allah Jalla wa Ala. Jadi, kaum musyrikin Arab tidaklah meminta dari sembahan-sembahan ini dalam konteks mereka adalah adalah sembahan yang berdiri sendiri, akan tetapi mereka meminta kepada semua sembahan hanya dari sisi mereka adalah perantara. Dan perantara di sini (berfungsi): Yang pertama untuk mendapatkan kedekatan (dengan Allah) dan yang kedua untuk mendapatkan syafaat.

Sebagaimana yang Asy-Syaikh katakan, “Dalil (bahwa tujuan mereka untuk) mengharapkan kedekatan adalah firman Allah Ta’ala, “Dan orang-orang yang mengambil pelindung selain Allah (berkata): “Kami tidak menyembah mereka melainkan supaya mereka mendekatkan kami kepada Allah dengan sedekat- dekatnya.” (QS. Az-Zumar: 3)

Allah berfirman, “Dan orang-orang yang mengambil pelindung selain Allah (berkata),” yakni: Sembahan-sembahan (selain Allah). Mereka berkata, “Kami tidak menyembah mereka melainkan,” ini adalah kalimat pembatasan, dan para ulama balaghah menyebutnya dengan istilah hashru al-qalbi idhafi. Mereka berkata, “Kami tidak menyembah mereka melainkan supaya mereka mendekatkan kami kepada Allah dengan sedekat- dekatnya.” Maksudnya: Kami tidaklah menyembah untuk tujuan apapun kecuali untuk mendapatkan kedekatan. Maka mereka membatasi keinginan mereka (dalam menyembah selain Allah) hanya pada kedekatan kepada Allah Jalla wa Ala, mereka menginginkan apa yang ada di sisi Allah Jalla wa Ala. Jadi, tatkala mereka menyembah sembahan-sembahan yang batil ini, sebenarnya mereka menginginkan (dengannya) apa yang ada di sisi Allah. Mereka tidak meminta sesuatu dari sembahan-sembahan ini sebagai sembahan yang berdiri sendiri, akan tetapi mereka hanya menginginkan dengan sembahan-sembahan ini untuk mendapatkan kedekatan kepada Allah Jalla wa Ala. Allah berfirman, “Dan orang-orang yang mengambil pelindung selain Allah (berkata): “Kami tidak menyembah mereka melainkan supaya mereka mendekatkan kami kepada Allah dengan sedekat- dekatnya.” Maka yang mereka inginkan dengannya (penyembahan selain Allah) adalah kedekatan (kepada Allah).

Dalil (bahwa mereka mengharapkan) syafaat adalah firman Allah Ta’ala:

وَيَعْبُدُونَ مِنْ دُونِ اللَّهِ مَا لَا يَضُرُّهُمْ وَلَا يَنْفَعُهُمْ وَيَقُولُونَ هَؤُلَاءِ شُفَعَاؤُنَا عِنْدَ اللَّهِ قُلْ أَتُنَبِّئُونَ اللَّهَ بِمَا لَا يَعْلَمُ

“Dan mereka menyembah selain daripada Allah apa yang tidak dapat mendatangkan kemudharatan kepada mereka dan tidak (pula) kemanfaatan, dan mereka berkata: “Mereka itu adalah pemberi syafa’at kepada kami di sisi Allah”. Katakanlah: “Apakah kamu mengabarkan kepada Allah apa yang tidak diketahui-Nya,” (QS. Yunus: 18) sampai akhir ayat.

Yang dimaksud dengan syafaat adalah mereka meminta kebutuhan-kebutuhan mereka kepada Allah Jalla wa Ala. Karena makna syafaat adalah pemilik kebutuhan menggabungkan kebutuhannya kepada yang akan memintakan (syafaat), lalu orang ini (yang memintakan) akan mengangkatnya (menyodorkannya) kepada orang yang mampu memenuhi kebutuhan tersebut[1]. Inilah makna syafaat. Maka mereka (kaum musyrikin) ini mengatakan, “Mereka (sembahan selain Allah) itu adalah pemberi syafa’at kepada kami di sisi Allah,” yakni: Mereka memintakan (kepada Allah) apa yang kami inginkan untuk kami. (Mereka mengatakan): Allah Jalla wa Ala tidak akan menolak permintaan syafaat mereka (sembahan selain Allah), karena mereka adalah makhluk-makhluk yang didekatkan di sisi-Nya.

Asal kesyirikan alam semesta pada seluruh kelompok dan golongan adalah datang dari salah satu dari dua sisi:

  • Sisi pertama.

Kesyirikan berupa keyakinan terhadap arwah bintang-bintang. Hal ini sebagaimana kesyirikan yang terjadi pada kaum Ibrahim alaihissalam. Karena Ibrahim datang kepada kaumnya yang mereka ini menyembah berhala-berhala yang diwujudkan berupa gambar dari arwah bintang-bintang tertentu yang mereka yakini memberikan pengaruh (baca: mengatur) alam semesta. Mereka menyembah patung-patung atau berhala-berhala itu karena (mereka meyakini bahwa) roh dari bintang-bintang tersebut berada di dalamnya. Padahal setanlah yang ada di dalam patung-patung atau berhala-berhala itu dan berbicara kepada mereka. Terkadang apa yang mereka inginkan betul-betul terwujud, sehingga jadilah mereka berbuat kesyirikan. Dan kesyirikan mereka ini bertambah (besar) dengan keyakinan mereka bahwa bintang-bintang inilah yang berbuat (baca: memberi) dan roh bintang-bintang inilah yang berbicara.

Allah Jalla wa Ala berfirman:

وَكَذَلِكَ نُرِي إِبْرَاهِيمَ مَلَكُوتَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ وَلِيَكُونَ مِنْ الْمُوقِنِينَ. فَلَمَّا جَنَّ عَلَيْهِ اللَّيْلُ رَأَى كَوْكَبًا قَالَ هَذَا رَبِّي

“Dan demikianlah Kami perlihatkan kepada Ibrahim tanda-tanda keagungan (Kami yang terdapat) di langit dan bumi dan (Kami memperlihatkannya) agar dia termasuk orang yang yakin. Ketika malam telah gelap, dia melihat sebuah bintang (lalu) dia berkata: “Inilah Tuhanku.” (QS. Al-An’am: 75-76)

Para ulama berbeda pendapat (mengenai ucapan Ibrahim di atas), apakah dia sedang menunggu (baca: mencari) Tuhan ataukah dia sedang mendebat kaumnya? Yang benarnya dimana pendapat selain ini lemah adalah bahwa Ibrahim alaihissalam sedang mendebat kaumnya dengan ucapannya, “Inilah Tuhanku,” bukannya sedang menunggu[2].

  • Bentuk kedua dari bentuk-bentuk kesyirikan adalah kesyirikan kaum Nuh alaihissalam, yaitu kesyirikan dari sisi keyakinan terhadap arwah orang-orang saleh.

Allah Ta’ala berfirman:

وَقَالُوا لَا تَذَرُنَّ آلِهَتَكُمْ وَلَا تَذَرُنَّ وَدًّا وَلَا سُوَاعًا وَلَا يَغُوثَ وَيَعُوقَ وَنَسْرًا

“Dan mereka berkata: “Jangan sekali-kali kamu meninggalkan (penyembahan) sembahan-sembahan kamu. Dan jangan pula sekali-kali kamu meninggalkan (penyembahan) Wadd, jangan pula Suwa’, jangan pula Yaghuts, Ya’uq dan Nasr.” (QS. Nuh: 23)

Telah shahih dalam Shahih Al-Bukhari dari Atha’ dari Ibnu Abbas bahwa beliau berkata, “Ini adalah nama-nama orang saleh di kaum Nuh.” Dan terjadinya kesyirikan pada diri orang-orang ini[3] dikarenakan mereka adalah orang-orang saleh. Maka orang-orang Arab mewarisi (dari kaum Nuh) kesyirikan dengan (perantara) orang-orang saleh, sehingga merekapun menyembah banyak patung dan berhala yang beraneka ragam.

Mereka menyembah Laata, dan Laata adalah kuburan yang mereka yakini arwah orang saleh itu ada di dalamnya. Mereka lalu mewujudkannya dalam bentuk patung kemudian mereka menyembahnya. Demikian halnya dengan Uzza, dan Uzza ini adalah nama pohon (yang disembah), sementara Manat adalah nama batu (yang disembah). Dulunya di sisi Uzza dan Manat ada orang saleh yang biasa beribadah di situ. Mereka lantas menjadikan arwah orang-orang saleh tersebut sebagai wali-wali, mereka percaya kepadanya, dan mereka menjadikan itu sebagai sebab (baca: perantara) agar arwah orang saleh ini mengangkat (baca: memintakan) kebutuhan kepada Allah Jalla wa Ala.

Jika anda memperhatikan keadaan orang-orang Arab, niscaya anda akan mendapati mereka telah terjatuh ke dalam kesyirikan, sebagaimana yang Asy-Syaikh rahimahullah ingin tegaskan pada kaidah kedua ini. Bahwa kesyirikan terjadi di kaum Arab terhadap orang-orang saleh -sebagaimana yang akan datang penjelasannya-. Atau kesyirikan kepada sembahan-sembahan (selain Allah) terjadi hanya untuk karena mereka (kaum musyrikin) ingin meminta kedekatan dan syafaat. Bukan dikarenakan sembahan-sembahan ini adalah sembahan yang berdiri sendiri, yang mempunyai sifat-sifat rububiah (ketuhanan), atau mempunyai sifat-sifat uluhiah (sembahan) yang berdiri sendiri. Akan tetapi sembahan-sembahan ini hanya mempunyai sifat uluhiah dari sisi mereka sebagai sebab (sarana). Jadi mereka disembah akan tetapi hanya sebagai perantara, bukan sebagai sembahan yang berdiri sendiri. Karenanya Allah Jalla wa Ala berfirman:

أَجَعَلَ الْآلِهَةَ إِلَهًا وَاحِدًا

“Mengapa ia (Muhammad) menjadikan sembahan-sembahan itu menjadi satu sembahan saja (Allah)?” (QS. Shad: 5)

Karena mereka meyakini (sembahan ini) sebagai perantara-perantara untuk mendapatkan kedekatan kepada Allah dan syafaat.

Syafaat yang tersebut dalam (nash-nash) Al-Kitab dan As-Sunnah ada dua bentuk: Syafaat yang dinafikan (keberadaannya) dan syafaat yang ditetapkan (keberadaannya).

  • Syafaat yang dinafikan -sebagaimana yang Asy-Syaikh rahimahullah sebutkan- adalah syafaat yang diminta dari selain Allah, pada perkara yang tidak ada yang sanggup melakukannya selain Allah Jalla wa Ala. Atau syafaat di akhirat (yang diminta) dari yang tidak memilikinya. Syafaat maknanya minta didoakan. Seseorang meminta syafaat artinya dia meminta, jadi syafaat hakikatnya adalah sebuah permintaan.

Sementara orang yang dimintai syafaat, ada yang hidup dan hadir (mendengar ucapan kita, pent), dan ada juga yang sudah meninggal. Adapun yang masih hidup dan hadir, baik di dunia maupun di pelataran kiamat (padang mahsyar), maka telah ada banyak dalil yang menunjukkan bolehnya meminta syafaat darinya. Sebagaimana yang tersebut dalam nash yang sangat banyak. Adapun orang yang meninggal, maka dia tidak berada pada posisi yang bisa diharapkan, dia tidak berada pada posisi yang bisa dimintai, dan di sisi Allah dia tidak berada pada posisi dimana jika dia meminta maka Allah akan memberikan permintaannya. Karenanya hendaknya syafaat itu diminta dari Allah Jalla wa Ala.

Jadi, syafaat yang dinafikan keberadaannya adalah syafaat yang Allah Jalla wa Ala nafikan keberadaannya dalam Al-Kitab. Sebagaimana pada firman Allah Jalla wa Ala:

مَا لِلظَّالِمِينَ مِنْ حَمِيمٍ وَلَا شَفِيعٍ يُطَاعُ

“Orang-orang yang zalim tidak mempunyai teman setia seorangpun dan tidak (pula) mempunyai seorang pemberi syafa’at yang diterima syafa’atnya.” (QS. Ghafir: 18)

Juga pada firman-Nya:

وَلَا شَفَاعَةٌ وَالْكَافِرُونَ هُمُ الظَّالِمُونَ

“Dan tidak ada lagi syafa’at. Dan orang-orang kafir itulah orang-orang yang zalim.” (QS. Al-Baqarah: 254)

Juga pada firman Allah Jalla wa Ala:

لَيْسَ لَهُمْ مِنْ دُونِهِ وَلِيٌّ وَلَا شَفِيعٌ

“Sedang bagi mereka tidak ada seorang pelindung dan pemberi syafa’atpun selain daripada Allah.” (QS. Al-An’am: 51)

Dan ayat-ayat lain semisalnya yang menafikan adanya syafaat. Syafaat yang ternafikan ini adalah syafaat yang tidak memiliki izin dan keridhaan dari Allah, dan syafaat ini diminta dari yang tidak diberikan kemampuan (oleh Allah) untuk memberikannya. Semisal memintanya dari orang yang meninggal bagaimanapun tingginya derajat orang tersebut, karena orang yang meninggal tidak diberikan kemampuan untuk memberikan syafaat.

  • Karenanya syafaat itu hanya diminta dari Allah Jalla wa Inilah bentuk syafaat yang bermanfaat dan syafaat yang ditetapkan keberadaannya. Berikut ini adalah pemaparan ringkas dari Asy-Syaikh rahimahullah dalam menjelaskan syafaat yang benar, sekaligus sebagai sanggahan kepada mereka yang berharap kepada syafaat yang batil. berikut adalah penjelasan ringkas, sementara perinciannya sudah ma’ruf pada tempatnya dalam Kitab At-Tauhid, dan ini adalah salah satu kitab ahlussunnah dalam masalah syafaat.

Kesimpulannya bahwa syafaat yang ditetapkan keberadaannya adalah syafaat yang memenuhi semua syarat-syarat yang disyariatkan. Dan syarat yang terbesar dari semua syarat ini adalah adanya izin dan keridhaan Allah. Izin Allah bagi yang akan memberikan syafaat bahwa dia sudah diizinkan, dan keridhaan Allah bagi orang yang akan diberikan syafaat. Allah Jalla wa Ala berfirman:

وَكَمْ مِنْ مَلَكٍ فِي السَّمَاوَاتِ لَا تُغْنِي شَفَاعَتُهُمْ شَيْئًا إِلَّا مِنْ بَعْدِ أَنْ يَأْذَنَ اللَّهُ لِمَنْ يَشَاءُ وَيَرْضَى

“Dan berapa banyaknya malaikat di langit, syafaat mereka sedikitpun tidak berguna, kecuali sesudah Allah mengizinkan bagi orang yang dikehendaki dan diridhai (Nya).” (QS. An-Najm: 26)

Allah Subhanahu berfirman:

مَنْ ذَا الَّذِي يَشْفَعُ عِنْدَهُ إِلَّا بِإِذْنِهِ

“Tiada yang dapat memberi syafa’at di sisi Allah tanpa izin-Nya.” (QS. Al-Baqarah: 255)

Allah Jalla wa Ala berfirman:

وَلَا يَشْفَعُونَ إِلَّا لِمَنْ ارْتَضَى

“Dan mereka tiada memberi syafaat melainkan kepada orang yang diridhai Allah.” (QS. Al-Anbiya`: 28)

Dan Allah berfirman:

إِلَّا مَنْ شَهِدَ بِالْحَقِّ وَهُمْ يَعْلَمُونَ

“Akan tetapi (orang yang dapat memberi syafa’at ialah) orang yang mengakui yang hak (tauhid) dan mereka meyakini(nya).” (QS. Az-Zukhruf: 86)

Jadi, syafaat yang ditetapkan keberadaannya itulah syafaat yang bermanfaat.

Hanya saja syafaat ini hanya bermanfaat jika disertai adanya izin dan keridhaan Allah, baik keridhaan-Nya kepada orang yang akan memberikan syafaat dimana orang tersebut harus tergolong orang yang mengakui yang hak dalam keadaan dia meyakininya, maupun keridhaan-Nya kepada orang yang akan diberikan syafaat dimana dia termasuk dari ahli tauhid. Karenanya telah syah dalam Ash-Shahih bahwa Abu Hurairah radhiallahu anhu bertanya kepada Nabi alaihishshalatu wassalam, “Wahai Rasulullah, siapakah manusia yang paling berhak mendapatkan syafaatmu?” Atau dia berkata, “Siapakah manusia yang paling berbahagia untuk mendapatkan syafaatmu pada hari kiamat?” Maka beliau shallallahu alaihi wasallam menjawab:

لَقَدْ عَلِمْتُ أَنَّهُ لَا يَسْأَلُنِي أَحَدٌ قَبْلَكَ, لِمَا رَأَيْتُ مِنْ حِرْصِكَ عَلَى الْحَدِيثِ. أَسْعَدُ النَّاسِ بِشَفَاعَتِي يَوْمَ الْقِيَامَةِ مَنْ قَالَ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ خَالِصًا مِنْ قَلْبِهِ أَوْ نَفْسِهِ

“Aku telah menduga bahwa tidak ada orang yang mendahuluimu dalam menanyakan masalah ini, karena aku melihat perhatianmu yang besar terhadap hadits. Manusia yang paling berbahagia dengan syafa’atku pada hari kiamat adalah orang yang mengucapkan Laa ilaaha illallah dengan ikhlas dari hatinya atau jiwanya.[4]

Sabda beliau, “Yang paling berbahagia,” maknanya adalah yang berbahagia. Fi’il at-tafdhil (kata kerja yang menunjukkan paling, pent.) dalam kalimat ini tidak bermakna dengan makna aslinya yaitu perbandingan. Akan tetapi di sini dia hanya bermakna fi’il (kata kerja biasa), sebagaimana pada firman Allah Jalla wa Ala:

أَصْحَابُ الْجَنَّةِ يَوْمَئِذٍ خَيْرٌ مُسْتَقَرًّا وَأَحْسَنُ مَقِيلاً

“Penghuni-penghuni surga pada hari itu paling baik (baca: sangat baik) tempat tinggalnya dan paling indah (baca: sangat indah) tempat istirahatnya.” (QS. Al-Furqan: 24)

Karena di dalam neraka tidak ada tempat istirahat yang baik.

Jadi, syafaat itu hanya bagi orang yang ikhlas. Syafaat Nabi alaihishshalatu wassalam, syafaat para malaikat, syafaat orang-orang saleh, dan syafaat para ulama pada hari kiamat, semuanya itu hanya untuk orang yang ikhlas, sementara orang yang ikhlas hanyalah mereka yang memintanya dari Allah. Karenanya orang yang ikhlas akan berkata (jika dia meminta syafaat), “Ya Allah buatlah Rasul-Mu shallallahu alaihi wasallam memberi syafaat kepadaku pada hari kiamat,” “Ya Allah buatlah para malaikat-Mu memberikan syafaat kepadaku,” “Ya Allah buatlah para para ulama yang saleh memberikan syafaat kepadaku,” “Ya Allah buatlah hamba-hambaMu -yang Engkau cintai dan mereka mencintai-Mu- memberikan syafaat kepadaku,” dan kalimat-kalimat semacamnya.

Karenanya syafaat hanya diminta dari Allah Jalla wa Ala dan syafaat tidak diminta dari makhluk. Kenapa? Karena syafaat adalah permintaan, syafaat adalah permintaan doa. Jika seseorang berkata, “Aku meminta syafaat,” maka artinya aku meminta doa darimu, aku meminta engkau mengantar keperluanku (kepada yang mampu memberinya). Karenanya, jika masalah syafaat ini kembali kepada masalah permintaan maka jadilah syafaat ini merupakan salah satu di antara bentuk-bentuk doa, sementara berdoa kepada selain Allah adalah syirik akbar. Karenanya kita katakan: Meminta syafaat dari selain Allah adalah syirik akbar, semisal dari orang yang meninggal atau yang semacamnya. Itu adalah syirik akbar karena itu adalah doa, sementara dalam berdoa seseorang wajib ikhlas hanya untuk Allah Jalla wa Ala.

 

___________________

[1] Semisal saya membutuhkan pinjaman uang dari orang yang mampu, namun karena saya tidak mengenalnya maka saya meminta bantuan kepada teman saya yang mengenal orang mampu tersebut agar memintakan pinjaman kepadanya. Maka di sini, saya dan kebutuhan saya bergabung dengan teman saya (yang memintakan), lalu dia mengajukannya kepada yang mampu membantu saya. Beginilah bentuk syafaat. (pent.)

[2] Maksudnya: Ibrahim sengaja mengucapkan ucapan itu untuk menunjukkan kepada kaumnya  bahwa sembahan mereka itu tidak pantas disembah. Karena bintang yang terbit itu pada akhirnya akan terbenam juga. Karenanya Ibrahim berkata di akhirnya, “Saya tidak suka kepada yang tenggelam.” Jadi beliau sengaja memperdengarkan hal itu kepada kaumnya agar mereka sadar dari menyembah sesuatu yang akan hilang. (pent.)

[3] Yakni mereka disembah selain Allah sehingga terjadilah kesyirikan. (pent.)

[4] HR. Al-Bukhari no. 97

Share and Enjoy:
  • Print
  • Digg
  • StumbleUpon
  • del.icio.us
  • Facebook
  • Yahoo! Buzz
  • Twitter
  • Google Bookmarks

This entry was posted on Wednesday, July 8th, 2015 at 4:03 pm and is filed under Syarh al-Qawaid al-Arba'. You can follow any responses to this entry through the RSS 2.0 feed. Both comments and pings are currently closed.

Comments are closed.