Pembahasan Lengkap Shalat Sunnah Rawatib

February 11th 2010 by Abu Muawiah |

Pembahasan Lengkap Shalat Sunnah Rawatib

Tanya:
Assalaamualaykum warohmatullahi wabarokatuh. Saya baru belajar mendalami agama Allah yg sebenarnya, yg mengikut al-Qur’an dan hadist dan sunnah para sahabat dan imam. Ada yg ingin saya tanyakan? Masalah shalat sunnah dalam menjalankan shalat lima waktu. Ada yg boleh dikerjakan dan tidak. Maksudnya shalat sunnah yang boleh dikerjakan waktu mengerjakan shalat wajib lima waktu: Yg mana boleh di kerjakan dan mana yang tidak?
Tolong diberi penjelasannya …
Fauzan <fauzan@gmail.com>

Jawab:
Waalaikumussalam warahmatullahi wabarakatuh.
Mungkin yang anda maksud adalah shalat sunnah rawatib (yang berada sebelum dan setelah shalat wajib). Ada tiga hadits yang menjelaskan jumlah shalat sunnah rawatib beserta letak-letaknya:
1. Dari Ummu Habibah isteri Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, beliau berkata: Aku mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:
مَا مِنْ عَبْدٍ مُسْلِمٍ يُصَلِّي لِلَّهِ كُلَّ يَوْمٍ ثِنْتَيْ عَشْرَةَ رَكْعَةً تَطَوُّعًا غَيْرَ فَرِيضَةٍ إِلَّا بَنَى اللَّهُ لَهُ بَيْتًا فِي الْجَنَّةِ
“Tidaklah seorang muslim mendirikan shalat sunnah ikhlas karena Allah sebanyak dua belas rakaat selain shalat fardhu, melainkan Allah akan membangunkan baginya sebuah rumah di surga.” (HR. Muslim no. 728)
Dan dalam riwayat At-Tirmizi dan An-Nasai, ditafsirkan ke-12 rakaat tersebut. Beliau bersabda:
مَنْ ثَابَرَ عَلَى ثِنْتَيْ عَشْرَةَ رَكْعَةً مِنْ السُّنَّةِ بَنَى اللَّهُ لَهُ بَيْتًا فِي الْجَنَّةِ أَرْبَعِ رَكَعَاتٍ قَبْلَ الظُّهْرِ وَرَكْعَتَيْنِ بَعْدَهَا وَرَكْعَتَيْنِ بَعْدَ الْمَغْرِبِ وَرَكْعَتَيْنِ بَعْدَ الْعِشَاءِ وَرَكْعَتَيْنِ قَبْلَ الْفَجْرِ
“Barangsiapa menjaga dalam mengerjakan shalat sunnah dua belas rakaat, maka Allah akan membangunkan rumah untuknya di surga, yaitu empat rakaat sebelum zhuhur, dua rakaat setelah zhuhur, dua rakaat setelah maghrib, dua rakaat setelah isya` dan dua rakaat sebelum subuh.” (HR. At-Tirmizi no. 379 dan An-Nasai no. 1772 dari Aisyah)

2. Dari ‘Abdullah bin ‘Umar radliallahu ‘anhu dia berkata:
حَفِظْتُ مِنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَشْرَ رَكَعَاتٍ رَكْعَتَيْنِ قَبْلَ الظُّهْرِ وَرَكْعَتَيْنِ بَعْدَهَا وَرَكْعَتَيْنِ بَعْدَ الْمَغْرِبِ فِي بَيْتِهِ وَرَكْعَتَيْنِ بَعْدَ الْعِشَاءِ فِي بَيْتِهِ وَرَكْعَتَيْنِ قَبْلَ صَلَاةِ الصُّبْحِ
“Aku menghafal sesuatu dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam berupa shalat sunnat sepuluh raka’at yaitu; dua raka’at sebelum shalat zuhur, dua raka’at sesudahnya, dua raka’at sesudah shalat maghrib di rumah beliau, dua raka’at sesudah shalat isya’ di rumah beliau, dan dua raka’at sebelum shalat subuh.” (HR. Al-Bukhari no. 937, 1165, 1173, 1180 dan Muslim no. 729)
Dalam sebuah riwayat keduanya, “Dua rakaat setelah jumat.”
Dalam riwayat Muslim, “Adapun pada shalat maghrib, isya, dan jum’at, maka Nabi r mengerjakan shalat sunnahnya di rumah.”

3. Dari Ibnu Umar dia berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:
رَحِمَ اللَّهُ امْرَأً صَلَّى قَبْلَ الْعَصْرِ أَرْبَعًا
“Semoga Allah merahmati seseorang yang mengerjakan shalat (sunnah) empat raka’at sebelum Ashar.” (HR. Abu Daud no. 1271 dan At-Tirmizi no. 430)

Maka dari sini kita bisa mengetahui bahwa shalat sunnah rawatib adalah:
a. 2 rakaat sebelum subuh, dan sunnahnya dikerjakan di rumah.
b. 2 rakaat sebelum zuhur, dan bisa juga 4 rakaat.
c. 2 rakaat setelah zuhur
d. 4 rakaat sebelum ashar
e. 2 rakaat setelah jumat.
f. 2 rakaat setelah maghrib, dan sunnahnya dikerjakan di rumah.
g. 2 rakaat setelah isya, dan sunnahnya dikerjakan di rumah.

Lalu apa hukum shalat sunnah setelah subuh, sebelum jumat, setelah ashar, sebelum maghrib, dan sebelum isya?
Jawab:
Adapun dua rakaat sebelum maghrib dan sebelum isya, maka dia tetap disunnahkan dengan dalil umum:
Dari Abdullah bin Mughaffal Al Muzani dia berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:
بَيْنَ كُلِّ أَذَانَيْنِ صَلَاةٌ قَالَهَا ثَلَاثًا قَالَ فِي الثَّالِثَةِ لِمَنْ شَاءَ
“Di antara setiap dua adzan (azan dan iqamah) itu ada shalat (sunnah).” Beliau mengulanginya hingga tiga kali. Dan pada kali yang ketiga beliau bersabda, “Bagi siapa saja yang mau mengerjakannya.” (HR. Al-Bukhari no. 588 dan Muslim no. 1384)
Adapun setelah subuh dan ashar, maka tidak ada shalat sunnah rawatib saat itu. Bahkan terlarang untuk shalat sunnah mutlak pada waktu itu, karena kedua waktu itu termasuk dari lima waktu terlarang.
Dari Ibnu ‘Abbas dia berkata:
شَهِدَ عِنْدِي رِجَالٌ مَرْضِيُّونَ وَأَرْضَاهُمْ عِنْدِي عُمَرُ أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ نَهَى عَنْ الصَّلَاةِ بَعْدَ الصُّبْحِ حَتَّى تَشْرُقَ الشَّمْسُ وَبَعْدَ الْعَصْرِ حَتَّى تَغْرُبَ
“Orang-orang yang diridlai mempersaksikan kepadaku dan di antara mereka yang paling aku ridhai adalah ‘Umar, (mereka semua mengatakan) bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam melarang shalat setelah Shubuh hingga matahari terbit, dan setelah ‘Ashar sampai matahari terbenam.” (HR. Al-Bukhari no. 547 dan Muslim no. 1367)
Adapun shalat sunnah sebelum jumat, maka pendapat yang rajih adalah tidak disunnahkan. Insya Allah mengenai tidak disyariatkannya shalat sunnah sebelum jumat akan datang pembahasannya tersendiri, wallahu Ta’ala a’lam.

Incoming search terms:

  • shalat sunnah rawatib
  • shalat rawatib
  • sholat rawatib
  • sholat sunnah rawatib
  • shalat sunat rawatib
Share and Enjoy:
  • Print
  • Digg
  • StumbleUpon
  • del.icio.us
  • Facebook
  • Yahoo! Buzz
  • Twitter
  • Google Bookmarks

This entry was posted on Thursday, February 11th, 2010 at 12:11 pm and is filed under Fiqh, Jawaban Pertanyaan. You can follow any responses to this entry through the RSS 2.0 feed. Both comments and pings are currently closed.

185 responses about “Pembahasan Lengkap Shalat Sunnah Rawatib”

  1. Nafisah said:

    Assalamu’alaikum,
    izin copy y

    wa’alaikum salam warahmatullah, iya silahkan. (MT)

  2. ahmad said:

    assalamualaikum wr wb

    bagaimana cara pengerjaan sholat sunnah rawatib qabliyah . apakah sesudah adzan atau sebelum adzan ? minta keterangganya

    Waalaikumussalam.
    Tentunya setelah azan. Karena qabliah subuh -misalnya- mengikuti shalat subuh, karenanya dikerjakan setelah masuknya subuh yang ditandai dengan azan.

  3. imam said:

    Assalamu’alaikum Ustadz.

    apa ada bacaan surat2 pendek saat melaksanakan shalat sunnat rawatib???

    Waalaikumussalam.
    Tidak ada dalil khusus tentang itu, kecuali pada shalat qabliah subuh dan ba’diah magrib. Dimana dalam rakaat pertama Nabi membaca surah alkafirun dan pada rakaat kedua membaca surah alikhlash

  4. alfan said:

    assalamu,alaikum
    saya mau bertanya,
    1. Apabila kita punya waktu shalat sebelum shalat fardhu dimesjid 2 rakaat, manakah yang lebih utama shalat sunat tahiyatul masjid atau shalat sunat qalbiah(sebelum) magrib dan isa (sunat, menurut hadis antara 2 azan) dan qalbiah subuh ,zhuhur, dan ashar.
    2. bolehkah sholat sunat tahiyatul masjid di mushola. kalau tidak boleh, apa klasifikasi sebuah mejid, yang membedakan dengan mushola.
    terimakasih ustaz, assalamu,alaikum.

    Waalaikumussalam.
    1. Digabungkan saja niatnya. Shalat sunnah qabliah 2 rakaat sekaligus itu diniatkan sebagai tahiyatul masjid.
    2. Boleh. Masjid dengan mushalla dalam masalah ini sama, wallahu a’lam.

  5. sara said:

    assalamualaikum wr.wb
    katanya ngga ada shalat sesudah subuh dan ashar karna itu waktu terlarang, tapi kenapa ada shalat dhuha ??? mhon dijelaskan.

    wa’alaikum salam warahmatullah wb.

    wa’alaikum salam warahmatullah wabarakaatuh.

    waktu shalat Dhuha tidak termasuk dalam waktu larangan. (MT)

  6. uci said:

    maf pak, berarti shalat rawatib tidak harus beruntun dengan shalat fardhu karena ada beberapa shalat sunah rawatib yang dilakukan dirumah. mohon penjelasannya. terima kasih

    Ya betul, tidak harus berdekatan waktunya.

  7. abu faqih said:

    assalammu’alaikum ustadz

    ana mau tanya beberapa hal sbb:

    1. terkait pertanyaan nomor 68, apakah ada perbedaan antara bacaan tasyahud awal dgn tasyahud akhir krn setahu ana bacaan tasayahud awal dan akhir itu sama yaitu sampai membaca sholawat kpd nabi hanya saja pd tasyahud akhir sebelum salam ditambah dgn membaca do’a perlindungan dari 4 hal yaitu dari neraka jahanam, azab kubur, fitnah hidup dan mati, serta fitanhnya da’zal?

    2. terkait dgn pertanyaan nomor 76, apa benar apabila kita tdk membaca al-fatihah saat sholat yg bacaannya jahar (maghrib, isya, subuh dan jum’at) di belakang imam, harus mengulang rakaatnya setelah imam salam? kalau boleh tahu dalilnya apa ustadz? krn setahu ana pd sholat fardhu yg bacaannya dijaharkan maka makmum boleh atau tdk wajib membaca al-fatiha krn telah diwakilkan oleh imam dan terkait dgn hadits “saat dibacakan ayat-ayat alqu’an maka diamlah”. mohon penjelasannya ustadz.

    3. terkait sholat qobliyah subuh, saya ada kendala kalau dikerjakan di rumah krn di mesjid dekat rumah ana, jarak antara adzan dan iqomah sangat pendek sehingga kalau saya sholat qobliyah di rumah maka kemungkinan besar saya bisa tertinggal 1 rakaat subuh (masbuk), jadi saya mengerjakannya selalu di mesjid. nah yg jadi pertanyaan adalah bagaimana kalau ana tdk sholat qobliyah subuh di rumah tp pas sampai di mesjidpun sdh iqomah. sholat qobliyah subuh saya gimana ustadz?

    syukron. Jazakumullahu katsiron….

    assalammu’alaikum

    Waalaikumussalam.
    1. Mayoritas ulama menyatakan bahwa shalawat hanya dibaca di tahiyat akhir, tidak dibaca di tahiyat awal.
    2. Ini sudah kami buatkan postingan sendiri, silakan disearch.
    3. Khusus qabliah subuh bisa diqodho setelah matahari terbit agak tinggi.

  8. dedi supriyanto said:

    mohon izin copy paste.
    semoga menjadi amal jariah yang barokah. amien

    trim’s

    Iya, silahkan. (MT)

  9. ummu haqqi said:

    assalamualaikum ustad, stiap ana ana kajian jam 9 pagi sampai dzuhur, biasa ana brangkat jam 7pagi dr rmh u/ ke tmp kajian, bagaimana shalat tahiyatul masjid dan dhuhanya bolehkan digabung, ana biasa dhuha 4rakaat ataukan jd 6rakaat (2 u/ tahiyatul masjid + 4rakaat u/ dhuha) jazakallah khairan ustad

    Waalaikumussalam.
    Langsung saja dia lakukan shalat dhuha, dan itu sudah otomatis menjadi shalat tahiyatul masjid baginya.

  10. ummu agit said:

    sholat qobliyah batasnya sampai iqomat bagaimana u akhwat yg dirumah apakah hal itu berlaku, syukron jawabannya ustad

    Tidak berlaku.

  11. ferry said:

    Assalamu’alaikum pak..
    saya kerjanya kelilingan. waktu adzan & iqomah dhuhur sdh lewat tp saya msh di jalan. selepas itu saya sholat di masjid tp dg qobliyah dhuhur lbh dulu (krn tdk ada yg sdg berjamaah saat itu). bolehkah itu?
    pertanyaan kedua, adakalanya ketika sampai masjid, sholat berjamaah sdh dimulai dan saya lgsg ikut jd makmum. bolehkah setelah sholat jamaah, saya sholat ba’diyah dhuhur 2 rokaat, berdzikir sebentar lalu dilanjutkan lg dg melakukan qobliyah dhuhur yg td blm smpat saya lakukan. terima kasih atas jwabannya.

    Waalaikumussalam.
    1. Boleh, bahkan itu yang lebih utama.
    2. Wallahu a’lam, qabliah zuhur sudah lewat waktunya, jadi tidak perlu diqadha.

  12. abdullah said:

    bolehkah sholat sunnah rawatib dilakukan berjamaah?

    Tidak boleh, tidak ada tuntunannya.

  13. umat muslim said:

    assalamualaikum
    pak uz saya mau nanya waktu yag terlarang itu, untuk shalat sunnah saja atau untuk shalat wajib juga,
    sebagai contoh saya ketiduran dan bangun pd waktu jam 5(limaan)sore,apakah saya boleh shalat ashar atau tidak karena kan sudah lewat waktunnya
    mohon penjelasan sejelas-jelasnya. trims
    semoga ilmu ini bermanfaat buat saya
    amin…!!!

    wa’alaikum salam warahmatullah
    Berlaku bagi shalat Sunnah saja, shalat asharnya tetap dikerjakan (MT)

  14. budhi said:

    assalamualaikum
    ada ulama yang melarang sholat sunat setelah sholat ashar namun ada yang memperbolehkannya. Semua berlandaskan dalil. Menurut ustadz dari kedua pendapat ini mana yang paling rajih? syukron atas jawabannya
    wassalamualaikum

    Waalaikumussalam.
    Wallahu a’lam. Saya pribadi belum membahas permasalahan ini, jadi sementara saya masih tawaqquf.

  15. zaky said:

    Assalamu’alaikum pak Ustadz, saya mau bertanya
    Saya qiyamullail di rumah, lalu ketika adzan saya mau berangkat ke mushola, dan ternyata saya mau ke kamar mandi buang air kecil, otomatis saya agak telat ke mushola, lalu saya sholat qobliah shubuh sesampainya di mushola, lalu ada yang iqomat (karna yang iqomat tidak menoleh ke belakang, tidak tau ada yang sholat), lalu saya salam di rakaat pertama, dan berjamaah shubuh bersama jama’ah, setelah sholat shubuh saya zikir sebentar dan langsung sholat sunat qobliah shubuh di belakang, pertanyaannya apakah sholat saya,
    1. yang satu rakaat yang keburu iqomat itu sudah termasuk qobliah shubuh?
    2. karna ingin sholat qobliah, maka saya sholat dua rakaat lagi setelah sholat shubuh dan zikir sebentar, apakah itu boleh atau salah?
    jika salah saya tidak mau mengulanginya lagi..
    terima kasih pak Ustadz…
    Assalamu’alaikum

    Waalaikumussalam.
    1. Belum terhitung qabliah subuh.
    2. Itu sudah benar. Tapi lebih utama kalau anda mengqadhanya setelah matahari agak meninggi.

  16. arif said:

    assalamualaikum wr.wb.
    ustadz, sy mau nanya ,solat sunah yg lebih diutamakan antara solat tahiyatul masjid dan solat rowatib yang mana, mohyon penjelasannya
    syukron.

    Tidak ada, semuanya sama insya Allah.

  17. Deden Rahmatullah said:

    Assalamualaikum ustadz…
    saya mau bertanya tapi di luar tema shalat rawatib..
    saya membaca tentang 1100 hadist pilihan. tetapi saya belum paham tentang maksud hadist:
    “Binasalah orang-orang yang berlebih-lebihan dalam beribadah” (HR Muslim).

    Apa ya maksud hadist tersebut pak ustadz?
    Apakah beribadah berlabihan itu dilarang?
    Terima kasih
    Assalamualaikun…

    Waalaikumussalam.
    Maksudnya berlebihan sampai-sampai dia mengerjakan amalan yang tidak ada tuntunannya dalam Islam.

  18. Muhammad Farhan said:

    assalamualaikum !!

    Apakah boleh mengerjakan semua shalat sunnah rawatib dimasjid ? terimakasih

    Waalaikumussalam.
    Boleh saja, tidak ada larangan.

  19. dewi said:

    Assalamualaikum
    nau tanya, apakah boleh melaksanakan solat sunah qobliyah setelah iqomat yg dari masjid (solatnya diumah)?
    jika tdk boleh, apakah boleh solat qobliyah lalu setelah selasai dzikir kemudian iqomat sendiri lalu baru solat fardu pdhl sudah lwt iqomat yg dr masjid?
    Wassalamualaikum

    Waalaikumussalam.
    Orang yang shalat di rumah tidak terikat dengan iqamat di masjid. Jadi dia masih boleh shalat sunnah qabliah walaupun di masjid sudah selesai shalat sekalipun.

  20. Syaiful rahman said:

    Assallamualaikum wr.wb pa ustadz, saya mau nanya : saya melaksanakan sholat rawatib jmlah’nya 12 rakaat (4 rkaat sblm dzuhur, 2 rkaat ssdh dzuhur, 2 rkaat ssdh magrib, 2 rkaat ssdh isya, 2 rkaat sblm sbuh). Saya mengacu pada (H.R At-Tarmidzi no. 414 dan An-nasa’i no. 1794) menurut pa ustadz boleh ga. ?

    Waalaikumussalam.
    Boleh saja, itu sudah merupakan kebaikan yang besar.

  21. artikel bermanfaat said:

    mantap artikelnya lengkap banget

  22. trio said:

    saya dapat artikel bahwa mengerjakan solat 2 rakaat setelah asyar itu boleh……….memang dalam artikel itu ada sedikit perdebatan tapi perdebatan itu tiba-tiba berhenti setelah sang empunya artikel menunjukan hadist2 yang, menurut saya juga masuk akal, tapi saya tidak mau langsung mengiyakan karena menurut sya solat 2 rakaat setelah asar dan subuh itu tidak boleh. begitu……. isi artikel itu:

    SHALAT SUNNAH 2 RAKAAT BA’DA ASHAR SUNNAH?
    Dikirim oleh abu_muhammad pada 2004/5/11 23:57:57 (313 X dibaca)
    Fiqih 3174

    Artinya : “Adalah beliau –shallallahu ‘alaihi wasallam- tidak pernah meninggalkan 2 raka’at sebelum fajar dan 2 raka’at setelah Ashar .”

    Sumber dari “Silsilah Al-Ahaadiits As-Shohiihah”
    Pengarang : Syaikh Al-Albaaniy –rahimahullah
    Diterjemahkan oleh Abu Hisyaam As-salafiy

    Dikeluarkan oleh Ibnu Abi Syaibah di“ Al- Mushonnaf ” (2 / 352) : Telah menceritakan kepada kami Affaan berkata : Telah mengabarkan kepada kami Abu ‘Awaanah berkata : telah menceritakan kepada kami Ibroohiim bin Muhammad bin Al-Muntasyir dari Bapaknya Bahwasanya beliau biasa melaksanakan sholat 2 raka’at setelah Ashar, maka suatu ketika ditanyakan kepadanya?maka beliau menjawab: kalau seandainya saya tidak melaksanakannya melainkan sesungguhnya saya telah melihat Masruuq melaksanakannya. Dan beliau adalah benar-benar tsiqoh . akan tetapi saya telah bertanya kepada ‘Aa’isyah ? maka beliau (‘Aa’Isyah) berkata : …..Kemudian dia menyebutkannya .(Al-hadits pent ) .

    Saya Katakan : Ini adalah isnad yang shohih menurut syarat dua Syaikh (Al-Bukhoriy dan Muslim), Parowi seluruhnya tsiqoot dan tidak memiliki cacat dan hanya saja saya mengeluarkan hadits ini di karenakan shohih dan tingginya sanadnya. Dan karena padanya terdapat amalan Muhammad bin Al-Muntasyir terhadapnya –Dalam rangka ittiba’ kepada Masruuq seorang tabi’in yang mulia –dan kalau tidak , maka sesungguhnya hadits ini telah dikeluarkan di “Ash-Shohihain” dan yang selain keduanya, sebagaimana telah berlalu isyarat kepada hal itu pada hadits yang sebelumnya .

    Dan yang marfuu’ dari hadits ini telah diriwayatkan oleh At-Thohaawiy di “ Syarh Al- ma’aaniy” (1/177) dari jalan yang lain, dari Abi ‘Awaanah dengannya (hadits tersebut ).
    Dan Ibnu Abi Syaibah telah meriwayatkan dekat sebelum ini dengan sanad yang shohiih dari ‘Asy’ats bin Abi Sya’tsaa’ berkata : Saya pernah keluar bersama Bapakku (dan namanya Sulaim bin Aswad Al-Muhaaribiy ) dan Amr bin Maimuun dan Al- Aswad bin Yaziid dan Abi Waa’il , maka adalah mereka melaksanakan sholat 2 raka’at setelah Ashar.
    Kemudian beliau meriwayatkan yang serupa dengannya dari sekelompok yang lain dari kalangan salaf , diantara mereka : Az-Zubair bin Al-Awwaam , dan anaknya Abdullaah –radhiallahu ‘anhuma-Dan demikian juga ‘Ali – radhiallahu ‘anhu- ,dan Abi Burdah bin Abi Muusaa.

    Bahkan Ibnu Hibbaan telah meriwayatkan (1568- 1570), dan dua Syaikh dari Al- Aswad
    Dan Masruuq dari ‘Aa‘iisyah ; bahwasanya Nabi – shallallahu ‘alaihi wasallam – dahulu melaksanakannya. Dan dia dikeluarkan di “ shohiih Abi Daawud” (1160).

    Dan Abdurrozzaaq telah meriwayatkan (2/433/377) dengan sanad yang shohiih dari Thoowus: bahwa Aba Ayyuub Al- Anshooriy biasanya melaksanakan sholat 2 raka’at setelah Ashar sebelum masa khilafah Umar, maka tatkala Umar menjadi khalifah beliau meninggalkannya. Maka tatkala Umar wafat beliau melaksanakannya kembali, maka dikatakan kepadanya : Apa ini ? maka beliau menjawab : Sesungguhnya Umar dahulu memukul orang karenanya. Berkata Thoowus : adalah Bapak saya tidak pernah meninggalkan keduanya ( 2 raka’at tsb).

    Saya katakan : Maka termasuk kesalahan yang telah menyebar di kitab-kitab fiqh :larangan (melaksanakan) 2 raka’at (setelah Ashar) ini. dan tidak menyebutkannya di kelompok Sunan Rawaatib bersamaan dengan tetapnya (shohiihnya hadits dalam permasalahan ini),terus-menerusnya beliau –shallallahu‘alaihiwasallam – melaksanakan keduanya . Sebagaimana halnya beliau terus menerus /rutinnya melaksanakan 2 raka’at sebelum fajar , dan tidak ada dalil tentang penashakhannya = penghapusannya, dan tidak pula ada dalil yang menunjukkan bahwa ini merupakan khushushiyyah beliau -shallallahu ‘alaihi wasallam- bagaimana? Sementara orang yang paling mengetahuinya (2 raka’at tersebut ) selalu menjaganya ( 2 raka’at tersebut .Pent ). Yaitu Ummul Mukminin ‘Aa’Isyah – radhiallahu ‘anha- dan orang-orang yang sepakat dengan beliau (‘Aa’Isyah –radhiallahu ‘anha- Pent.) dari kalangan sahabat dan orang-orang salaf sebagaimana yang telah berlalu.

    Dan di gandengkan dengan hal itu bahwa nash-nash yang melarang secara umum dari sholat ba’da Ashar adalah Muqoyyadah = diikat dengan hadits-hadits yang lain yang jelas membolehkan sholat ba’da Ashar sebelum matahari menguning ,dan diantarannya Hadits Ali –radhiallahu ‘anhu- secara marfuu’ dengan lafas :
    ” لا تصلوا بعد العصر : إلا أن تصلوا والشمس مرتفعة ”
    Artinya : “Janganlah kalian sholat setelah Ashar kecuali kalian sholat dalam keadaan matahari masih tinggi “.

    Dan dia adalah Hadits yang shohih dalatng dari banyak jalan . dan sungguh telah berlalu takhrijnya . dengan No: (200 dan 314) dan telah berpendapat disyareatkannya 2 raka’at ini Abu Muhammad bin Hajm di “Al-Muhallaa “ dan beliau membantah orang –orang yang menyelisihi hal ini dalam pembahasan yang luas yang dibawakan di akhir juz ke 3 dan awal juz ke-4 maka siapa yang ingin silahkan untuk merujuknya kembali .
    Dan kembalilah merujuk hadits yang sebelumnya , agar engkau mengerti tentang sebab pemukulan Umar terhadap orang-orang yang melaksanakan 2 raka’at tersebut.

    2920- ( كان لايدع ركعتين قبل الفجر وركعتين بعد العصر )
    Artinya : “Adalah beliau –shallallahu ‘alaihi wasallam – tidak pernah meninggalkan 2 raka’at sebelum fajar , dan 2 raka’at setelah Ashar .”

    Dikeluarkan oleh Ibnu Abi Syaibah di “Al-Mushonnaf “ (2/352) : Telah menceritakan kepada kami Affaan berkata : Telah mengabarkan kepada kami Abu Awaanah berkata : Telah menceritakan kepada kami Ibroohiim bin Muhammad bin Al-Muntasyir dari Bapaknya :
    “Sesungguhnya beliau dahulu melaksanakan 2 raka’at setelah Ashar, maka di katakan kepadanya ? maka dia mengatakan: kalau seandainya saya tidak melaksanakannya melainkan sesungguhnya saya telah melihat Masruuq melaksanakannya , dan beliau adalah benar-benar tsiqoh , akan tetapi saya telah bertanya kepada ‘AaIsyah ? maka beliau (‘AaIsyah) menjawab : maka beliau menyebutkannya (Al- hadits Pent ).

    Saya Katakan : Dan ini adalah isnad yang shohih menurut syarat 2 (dua ) Syaikh dan Abu’Awaanah namanya Al-Wadhdhooh Al- Yusykariy, dan dia adalah “Tsabtun” =
    sebagaimana yang dikatakan Al-Hafidz di “ At-Taqriib”.
    Dan Sungguh Syu’bah telah menyelisihinya pada matannya , maka dia meriwayatkannya dari Ibroohiim dengannya, hanya saja dia mengatakan : “… empat raka’at sebelum Dzhuhur”. Di posisi dua raka’at setelah Ashar .

    Telah meriwayatkannya juga Al-Bukhoriy dan yang selainnya, dan dia di keluarkan (ditakhriij) di “ Shohiih sunan Abi Daawud” no : (1139) .
    Dan yang tampak bagi saya – wallahu a’lam – bahwa kedua riwayat tersebut sama-sama terjaga dikarenakan tsiqoh dan hafalnya para perowi keduanya. Dan karena (hadits)dua raka’at tersebut memiliki banyak jalan dari ‘Aa’isyah , akan datang penyebutan sebagiannya dengan idzin Allah ta’ala.

    Dan sungguh At-Thohaawiy telah mengeluarkannya di “syarh Al- Ma’aaniy “ (1/177)
    Dari jalan Hilaal bin Yahya berkata : Telah menceritakan kepada kami Abu ‘Awaanah dengannya (hadits tsb Pent) hanya saja beliau memasukkan Masruuq diantara Muhammad bin Al- Muntasyir dan ‘Aa’Isyah .

    Dan Hilaal ini dho’iif .Berkata Ibnu Hibban di “ Adh –dhu’afaa’ “ (3/88): “Beliau (Hilaal) selalu salah bersamaan dengan sedikitnya riwayatnya”.
    Ya, bagi hadits Masruuq ada dasar yang shohiih dengan riwayat yang lain , maka sepertinya dia (riwayat yang shohih Pent) tercampur atas beliau dengan riwayat ini (yang dhoif Pent ), maka berkata Al-Imaam Ahmad (6/241): Telah menceritakan kepada kami Ishaaq bin Yuusuf berkata: Telah menceritakan kepada kami Musa’ar dari Amr bin Murroh dari Abi Adhu-Dhuhaa. Dari Masruuq berkata : Telah menceritakan kepadaku Ash-Shiddiqoh bintu Ash-shiddiq. Kekasih dari Habiibullaah yang disucikan: Bahwasanya Rasulullah –shallallahu ‘alaihi wasallam- dahulu mengerjakan sholat dua raka’at setelah Ashar .

    Dan ini juga Isnad Shohiih sesuai menurut syarat dua Syaikh , Dan sungguh mereka berdua telah mengeluarkannya dari jalan yang lain dari Masruuq bergandengan dengan Al-Aswad , dengan lafas :
    (“مامن يوم يأتي على النبي صلى الله عليه وسلم إلا صلى بعد العصر ركعتين “)
    Artinya : Tidak satu haripun yang datang kepada Nabi –shallallahu ‘alaihi wasallam- melainkan beliau mengerjakan sholat 2 raka’at setelah Ashar .”

    Dan dalam satu riwayat dengan lafas :
    ” ركعتان لم يكن رسول الله صلى الله عليه وسلم يدعهما سرا ولاعلانية : ركعتان قبل صلاة الصبح وركعتان بعد العصر ” ))

    Artinya : “Dua raka’at yang Rasulullah –shallallahu ‘alaihi wasallam- belum pernah meninggalkannya baik ketika tersembunyi maupun terang-terangan : 2 raka’at sebelum sholat subuh dan 2 raka’at setelah Ashar.”

    Dan dia (hadits ini Pent) di keluarkan di“Al-Irwaa’(2/188-189), dan yang sebelumnya di “Shohiih Abi Daawud” (1160) .
    Dan sungguh Ishaaq bin Yuusuf – dan dia adalah Al- Azroq- telah mengikuti Ja’far bin”Aun (dalam meriwayatkan hadits tersebut Pent), hanya saja beliau (Ishaaq) menyelisihi (Ja’far) dalam sanadnya, maka beliau (Ishaaq ) mengatakan : “ Dari Musa’ar dari Habiib bin Abi Tsaabit dari Abidh -Dhuhaa’ ,dengannya.

    Telah mengeluarkannya (juga Pent) Ibnu Abi Syaibah (2/353) dan Abul ‘Abbaar As-Sirooj di“Musnadnya” ( ق /132/1).
    Dan Ja’far bin Aun adalah “Shoduuq” (jujur )dan termasuk diantara perowi 2 orang Syaikh (Bukhoriy dan Muslim).maka kalau beliau menjaganya berarti Musa’ar dalam hal ini memiliki 2 orang syaikh /Guru , dan Jika tidak maka riwayat Al-Azroq lebih shohiih .
    Ini dan sungguh Abi Syaibah telah meriwayatkan dari sekelompok salaf bahwasanya mereka dahulu mengerjakan sholat 2 raka’at ini setelah Ashar, diantara mereka adalah : Abu Burdah bin Abi Muusaa dan al-Aswad bin Yaziid dan Waa’il . beliau (Ibnu Abi Syaibah .Pent) meriwayatkan dari mereka dengan sanad yang shohiih . dan diantara mereka , Muhammad bin Al-Muntasyir dan Masruuq sebagaimana yang telah berlalu tadi.

    Dan adapun (permasalahan) pemukulan ‘Umar terhadap orang-orang yang
    melaksanakannya (2 raka’at ba’da Ashar tersebut Pent) maka itu adalah merupakan ijtihad beliau yang di bangun diatas bab “Saddudz dzari’ah “ ,Sebagaimana yang demikian ini dapat dirasakan /diketahui melalui 2 riwayat yang disebut kan Al-Haafidz di “ Al- Fath “ (2/65).
    Salah satunya di “Mushonnaf Abdir Rozzaq” (2/431-432) , dan “Musnad Ahmad “ (4/155) dan Thabrooniy (5/260) , dan di hasankan oleh Al- Haitsamiy (2/223).
    Dan yang lainnya: disisi Ahmad juga (4/102) dan Thabrooniy di “ Al-Mu’jamul Kabir” (2/58-59) dan, “Al-Aushath” (8848- dengan nomor dari saya ).

    Dan saya telah menemukan riwayat yang ke tiga yang mempertegas (2 riwayat tersebut) yaitu dari riwayat Isroo’iil dari Miqdaam bin Syuraih dari Bapaknya, berkata : Saya telah bertanya kepada ‘Aa’Isyah tentang sholat Rasulullah –shallallahu ‘alaihi wasallam- bagaimana biasanya beliau sholat ? berkata beliau (‘Aa”Isyah) :“Biasanya beliau –shallallahu ‘alaihi wasallam- sholat dzuhur kemudian setelahnya mengerjakan sholat 2 raka’at , kemudian beliau melaksanakan sholat Ashar , kemudian setelahnya beliau sholat 2 raka’at , maka saya katakan (Bapak Syuraih Pent ) : sungguh dahulu (Umar) memukul karenanya dan melarang dari mengerjakannya (2 raka’at setelah Ashar Pent) ? maka beliau (‘AaIsyah) menjawab : Sesungguhnya ‘Umar dahulu melaksanakannya. Dan sungguh beliau telah tau bahwa Rasulullah –shallallahu ‘alaihi wasalam- mengerjakannya (sholat 2 raka’at tersebut Pent). Akan tetapi kaum kamu Ahluddien adalah kaum yang bodoh .yaitu mereka melaksanakan sholat dzuhur , kemudian melaksanakan sholat diantara Dzuhur dan Ashar,dan kemudian mereka sholat Ashar , kemudian sholat diantara Ashar dan Maghrib , maka ‘Umar pun memukul mereka . Dan sungguh beliau telah berbuat baik. .”
    Dikeluarkan oleh Abul ‘Abbaas As-sirooj di “musnadnya” (ق /132 /1) . Saya Katakan : Dan sanadnya shohiih , dan dia adalah merupakan saksi = syaahid yang kuat bagi 2 (dua ) atsar yang di isyaratkan tadi, dan dia adalah merupakan nash yang jelas bahwa larangan Umar –radhiallahu ‘anhu- terhadap 2 raka’at tersebut bukanlah kepada dzatnya ( bukan kepada sholat itu sendiri Pent) Sebagaimana yang dianggap oleh kebanyakan orang, hanya saja larangan itu dikarenakan khawatir akan berlanjutnya sholat, Setelah 2 raka’at tersebut(hingga waktu terlarang Pent) , atau khawatir terjadi pengunduran 2 raka’at tersebut sampai waktu yang terlarang /makruuh. Yaitu ketika menguningnya matahari .dan waktu inilah yang di maksudkan dilarang sholat padanya setelah Ashar yang telah benar /shohiih didalam beberapa hadits sebagaimana yang telah berlalu penjelasannya dibawah 2 hadits yang telah lalu dengan no : (200 dan 314) .

    Dan tersimpulkanlah dari apa yang telah lalu bahwa 2 raka’at setelah Ashar adalah merupakan sunnah apabila sholat Ashar dikerjakan bersamanya sebelum menguningnya matahari. Dan sesungguhnya pemukulan ‘Umar atas keduanya ( 2 raka’at tersebut Pent) hanyalah merupakan ijtihad dari beliau , yang disetujui sebagian sahabat dan diselisihi oleh yang lain ,dan yang paling terdepan diantara mereka (yang menyelisihi)adalah Ummul Mukminin-radhiallahu ‘anha- dan bagi masing-masing kelompok ada yang menyetujui , maka wajib untuk rujuk/kembali kepada sunnah dan 2 raka’at ini tetap di dalam sunnah. . dengan riwayat Ummul Mukminin, tanpa ada satu dalilpun yang menyelisihinya,kecuali hadits umum yang dikhususkan dengan hadits Ali dan Anas yang di isyaratkan kepada nomornya tadi. Dan tampaknya ini adalah madzhab Ibnu Umar juga . sungguh Al- Bukhoriy telah meriwayatkan (589) darinya (Ibnu ‘Umar) berkata : “Saya sholat sebagaimana saya melihat teman-teman saya sholat , saya tidak melarang sesorang untuk sholat di malam hari dan tidak pula disiang hari sekehendaknya, selain mereka mengerjakannya ketika terbitnya matahari dan ketika tenggelamnya .” dan ini adalah madzhab Abi Ayyub Al- Anshooriy juga. Sungguh Abdurrazzaaq telah meriwayatkannya darinya (2/433) dengan sanad yang shohiih dari Ibnu……. dari Bapaknya :

    Bahwasanya Abu Ayyuub Al- Anshoriy dahulu biasa sholat 2 raka’at sesudah Ashar sebelum kekhilafan Umar . maka tatkala Umar menjadi Kholifah beliau meninggalkannya (2 raka’at tersebut ) dan tatkala Umar telah wafat beliau mengerjakannya lagi , maka di tanyakan kepada beliau : Apa ini ? maka beliau menjawab : Sesungguhnya ‘Umar memukul orang yang mengerjakannya , berkata Ibnu Thoowuus : Dan adalah bapakku tidak pernah meninggalkannya.

    Dan disini kami perlu mengingatkan Ahlus Sunnah yang semangat untuk menghidupkan sunnah–sunnah dan mematikan bid’ah-bid’ah hendaklah mereka mengerjakan 2 raka’at ini, disetiap mereka melaksanakan sholat Ashar tepat pada waktu yang disyare’atkan, karena perkataan – shallallahu ‘alaihi wasalam – :“ Barang siapa yang mencontohkan di dalam Islam satu contoh yang baik …..” dan hanya dengan Allahlah taufiq tersebut . sumber http://binimam.multiply.com

  23. MF said:

    ASSALAMUALAIKUM
    saya mau tanya, pada saat saya sedang sholat sunnah rawatib, tiba2 ada yang menepuk pundak saya meminta menjadi makmum, mungkin dia mengira saya sedang sholat fardu. bagaimana hukumny? terimakasih.

    Waalaikumussalam.
    Tidak mengapa anda tetap melanjutkan shalat anda dan dia bermakmum kepada Anda. Karena tidak mengapa imam dan makmum berbeda niatnya.

  24. Shafira Dewi Artanti said:

    Assalamualaikum..
    pak uz saya mau bertanya
    banyak yang bilang kalau sholat rawatib dikerjakan sesudah adzan dan sebelum iqomah
    kalau mengerjakannya sesudah adzan dan sesudah iqomah sholatnya sah atau tidak?
    mohon penjelasannya Trimakasih sblumnya
    semoga ilmu ini bermanfaat bagi saya
    aminnn…

    Waalaikumussalam.
    Apa yang mereka katakan itu sudah benar. Karenanya mengerjakannya setelah iqamah adalah dilarang dan pelakunya berdosa.

  25. INSUKRI said:

    ANA MAU NANYA UST.
    1.APAKAH SHOLAT WITIR ITU WAJIB UNTUK DILAKUKAN?
    2.APAKAH SHOLAT SUNNAH SEBELUM SHOLAT SUUH ITU DISEUT SHOLAT QABLIYATAN?

    1. Witir adalah sunnah muakkadah
    2. Ya, itu dinamakan shalat sunnah qabliyah subuh atau shalat sunnah fajar.

  26. umar said:

    Assalamu’alaikum ustad
    shalat sunat rawatib di kerjakan sebelum atau sesudah azan , syukran atas artikel

    Waalaikumussalam.
    Sesudah azan.

  27. indra said:

    saya agak bingung baca surat surat diatas. bukankah sholat rawatib hanya ada 12 rakaat sehari, termasuk yang saya jalani slama ini. tapi kok ada sholat rawatib sebelum azhar 4rakaat, bukannya lalu jadi 16 rakaat? terima kasih

    Tidak ada masalah insya Allah. Anda mau kerjakan yang 12 rakaat itu sudah merupakan kebaikan yang besar, dan ditambah 4 rakaat lagi maka itu tambahan kebaikan dan pahala yang besar. jadi tidak ada yang perlu dibingungkan, cukup mengamalkan salah satunya.

  28. Rizky Agung said:

    Assalamu’alaikum, bagaimana jika kita sedang shalat kemudian iqamah apakah lebih baik di batalkan atau tetap dilanjutkan?
    syukran wassalamu’alaikum

    Waalaikumussalam.
    Shalat sunnahnya harus dibatalkan. Kecuali jika dia sempat salam sebelum imam takbiratul ihram, maka insya Allah dia tidak mengapa meneruskannya sampai selesai.

  29. Aap said:

    Assalamualikum Ustad, mau tanya. Kl orang yg sedang dlm perjalanan terpaksa harus jama (mis isya dan magrib) bagaimana cara melakukan shalat sunnah rwatibnya ya?

    Waalaikumussalam.
    Nabi shallallahu alaihi wasallam tidak pernah shalat sunnah rawatib ketika safar, kecuali shalat sunnah fajar sebelum shalat subuh. Jadi tidak perlu melaksanakan shalat sunnah rawatib.

  30. lukmanulhakim said:

    assalamualaikum
    Ustazt saya ingin menanyakan
    apa yg dimaksud dgn Bid’ah menurut syara’

    Waalaikumussalam.
    Silakan baca di sini: http://al-atsariyyah.com/meluruskan-pemahaman-tentang-bidah.html

  31. pesan jaket online said:

    yg 4 rakaat sebelum dhuhur sekali salam atau 2 kali salam??

    Dua kali salam.

  32. Ahmad said:

    Assalamu ‘alaikum.
    Ustad, saya pernah baca artikel bahwa dalam suatu hadits ada juga desebutkan bahwa rasulullah mengerjakan shalat sunnah rawatib 4 rakaat SETELAH shalat zuhur, begaimana menurut ustad?

    Waalaikumussalam.
    Wallahu a’lam.

  33. adih said:

    Assalamualaikum
    Baik sekali ustad telah meluangkan waktu nya untuk menjawab semua pertanyaan sodara-sodara saya sesama muslim diatas saya

    yang ingin saya tanyakan yaitu boleh g melakukan sholat melaksanakan sholat sunnah rawatib dirumah apabila melaksanakan sholat fardhu nya drmah?

    terima kasih sebelumnya

    Waalaikumussalam.
    Boleh, bahkan memang shalat sunnah itu lebih utama dikerjakan di rumah.

  34. wafi said:

    Salam..ustad saya nak bertanya satu soalan…bolehkah solat sunat rawatib ini dilakukan lewat selepas azan dan iqamah..contoh saya sedang berkerja atau adahal lain..sebelum menunaikan solat fardhu sy menunaikan solat sunat rawatib…

    Boleh, itu bagus.

  35. nisa said:

    assalmualaikum ustad. saya mau tanya, apakah boleh hukumnya sholat sunnah qobliyah subuh di lakukan stelah sholat subuh.? apakah sholat rowatib termasuk sholat sunnah mutlak? lalu apakah sholat sunnah qobliyah subuh termasuk sholat sunnah dzu sabab mutaqodim( yg ada sebab mendahuluinya) sperti sholat tahiyyatul masjid?

    Waalaikumussalam.
    Qabliah subuh itu letaknya sebelum shalat subuh, bukan setelahnya.
    Beda, shalat sunnah rawatib beda dgn shalat sunnah mutlak.
    Beda, shalat qabliah bukanlah shalat yg punya sebab, berbeda halnya dgn tahiyatul masjid.