Nasihat Syaikh Abdurrahman al-Mu’allimi Tentang Hakikat Hawa Nafsu

June 3rd 2015 by Abu Muawiah |

Nasihat Syaikh Abdurrahman al-Mu’allimi
Tentang Hakikat Hawa Nafsu

Seorang muslim haruslah berfikir dan mengintrospeksi diri terhadap hawa nafsunya. Misalkan sampai berita kepadamu bahwa seseorang telah mencaci maki Rasulullah Shallalluhu ‘Alaihi Wa Sallam, kemudian orang lain lagi mencaci maki Nabi Daud alahissalam, sedangkan orang yang ketiga mencaci maki Umar radhiyallahu ‘unhu atau Ali radhiyallahu ’anhu, dan orang yang keempat mencaci maki gurumu, adapun orang yang kelima mencaci maki guru orang lain.

Apakah kemarahan dan usahamu untuk memberikan hukuman dan pelajaran kepada mereka sesuai dengan ketentuan syari’at? Yaitu kemarahanmu kepada orang pertama dan kedua hampir sama, tetapi jika dibandingkan kepada yang lainnya harus lebih keras. Kemarahanmu kepada orang ketiga lebih lunak dari yang awal, akan tetapi harus lebih keras dari yang sesudahnya. Kemarahanmu kepada orang yang keempat dan kelima hampir sama, akan tetapi jauh lebih lunak dibandingkan dengan yang lainnya?

Misalkan pula engkau membaca sebuah ayat, maka nampak bagimu bahwa pemahaman dari ayat tersebut sesuai dengan ucapan Imammu, kemudian engkau membaca ayat yang lain dan nampak olehmu dari ayat tersebut, suatu pemahaman yang menyalahi ucapan lainnya dari Imammu tersebut. Apakah penilaianmu mengenai keduanya sama? Yaitu engkau tidak peduli untuk mencari kejelasan dari dua ayat tersebut dengan mengkajinya secara seksama agar menjadi jelas benar atau tidaknya pemahamanmu tadi dengan Cara membaca sepintas?
Misalkan engkau mendapatkan dua hadits di mana engkau tidak mengetahui shahih atau dhaifnya, yang satu sesuai dengan pendapat imammu, yang satu lagi menyalahinya, apakah pandanganmu terhadap dua hadits itu sama (dengan imammu), tanpa engkau peduli (untuk mengetahui secara ilmiah) apakah kedua hadits tersebut shahih atau dhaif.

Misalkan engkau memperhatikan suatu masalah, dimana Imammu mempunyai suatu pendapat, dan (ulama) yang lain menyalahi pendapat tersebut, apakah hawa nafsumu yang lebih berperan dalam mentarjih salah satu dari dua pendapat tadi, ataukah engkau menelitinya supaya engkau dapat mengetahui mana yang lebih rajih (kuat) dari keduanya sehingga engkau dapat menjelaskan kerajihannya tersebut?”
Misalkan ada seorang yang engkau cintai, dan seorang yang lain engkau membencinya, keduanya berselisih dalam suatu masalah. Kemudian engkau dimintai (oleh orang lain) pendapatmu tentang perselisihan tersebut, padahal engkau tidak mengetahui duduk persoalannya sehingga engkau tidak dapat menghukuminya, dan engkau ingin meneliti permasalahan tersebut, apakah hawa nafsumu yang berperan sehingga engkau memihak orang yang engkau cintai?

Misalkan ada tiga fatwa dari tiga ulama dalam permasalahan yang berbeda. Satu darimu, fatwa yang kedua dari orang yang engkau cintai, dan fatwa yang ketiga dari orang yang engkau tidak sukai, dan setelah engkau teliti kedua fatwa temanmu tersebut, maka engkau nilai keduanya benar pula, kemudian sampai kepadamu berita ada seorang alim lain yang mengkritik salah satu dari ketiga fatwa tersebut, dan mengingkarinya dengan sangat keras, apakah engkau mempunyai sikap yang sama apabila fatwa yang dikritik itu fatwamu, atau fatwa sahabatmu, atau fatwa orang yang engkau tidak sukai?

Misalkan engkau mengetahui seseorang berbuat kemungkaran, dan engkau berhalangan untuk mengingkarinya, kemudian sampai berita kepadamu ada seorang ahli ilmu yang mengingkari orang tersebut dengan kerasnya, maka apakah anggapan baikmu itu sama apabila yang mengingkari itu temanmu atau musuhmu, begitu pula apabila orang yang diingkarinya itu temanmu atau musuhmu?
Periksalah dirimu, engkau dapatkan dirimu sendiri ditimpa musibah dengan perbuatan maksiat atau kekurangan dalam hal dien, dan engkau dapatkan orang yang engkau benci ditimpa musibah dengan melakukan maksiat pula dan kekurangan lainnya dalam syariat yang tidak lebih berat dari musibah yang menimpamu. Maka apakah engkau dapati kebencianmu kepada orang tersebut (disebabkan maksiat atau kekurangan dalam syari’at, pent) sama dengan kebencianmu kepada dirimu sendiri, dan apakah engkau dapatkan marahmu kepada dirimu sendiri sama dengan marahmu kepadanya?

Kesimpulannya, pintu-pintu hawa nafsu tidak terhitung banyaknya, dan hal ini saya mempunyai pengalaman pribadi ketika saya memperhatikan satu permasalahan yang saya anggap bahwa hawa nafsuku tidak ikut campur dalam masalah ini. Tampak bagiku dalam masalah tersebut satu pengertian, maka saya menetapkannya dengan satu ketetapan yang saya kagumi, kemudian setelah itu tampak bagiku sesuatu yang membuat cacat ketetapan tadi, maka saya dapati diri saya gigih mempertahankan kesalahan tadi dan jiwaku menyuruhku untuk memberikan pembelaan, dan menutup mata, menolak untuk mengadakan penelitian lebih lanjut secara mendalam. Hal ini dikarenakan ketika saya menetapkan pengertian pertama yang saya kagumi, setelah itu hawa nafsu saya condong untuk membenarkannya. Padahal hal ini belum ada satu orang pun yang mengetahuinya, maka bagaimana seandainya hal tersebut sudah saya sebarluaskan ke khalayak ramai, kemudian setelah itu nampak bagiku bahwa pengertian tersebut salah? Maka bagaimana pula apabila kesalahan itu bukan saya sendiri yang mengetahuinya melainkan orang lain yang mengkritikku ? Bagaimana pula jika orang yang mengkritik tersebut adalah orang yang aku benci?
Hal ini bukan berarti seorang alim dituntut untuk tidak mempunyai hawa nafsu, karena ini di luar kemampuannya,tetapi kewajiban seorang alim untuk mengoreksi diri dari hawa nafsunya supaya dia mengetahui kemudian mengekangnya, dan memperhatikan dengan seksama dalam hal kebenaran sebagai suatu kebenaran, apabila jelas baginya bahwa kebenaran itu menyalahi hawa nafsunya, maka dia harus mengutamakan kebenaran daripada mengikuti hawa nafsunya.

Ini -wallahu a’lam- makna hadits yang disebutkan oleh An-Nawawi dalam Al-Arba’in dan beliau menyebutkan sanadnya shahih yaitu, ”Tidaklah seorang di antara kalian beriman (dengan sempurna) sehingga menjadikan hawa nafsunya mengikuti kepada apa-apa yang datang dariku.”

Seorang alim kadang lalai dalam mengawasi hawa nafsunya. Ia bersikap toleran sehingga dirinya condong kepada kebatilan dan membela kebatilan tersebut, dan dia menyangka bahwa dirinya belum menyimpang dari kebenaran dan dia menyangka pula bahwa dirinya tidak sedang memusuhi kebenaran, dan ini hampir tidak ada orang yang selamat dari perbuatan ini, kecuali orang yang dipelihara oleh Allah Ta’ala. Hanya saja para ulama bertingkat-tingkat dalam sikapnya terhadap hawa nafsu, di antara mereka ada yang sering terbawa arus hawa nafsunya sampai kelewatan menjadikan orang yang tidak mengetahui tabiat manusia dan pengaruh hawa nafsu yang demikian besar menyangka bahwa si alim tadi melakukan kesalahan yang fatal dengan sengaja. Di antara ulama juga ada orang yang dapat mengerem hawa nafsunya sehingga sedikit sekali mengikuti hawa nafsunya.

Barangsiapa yang sering membaca buku-buku dari para penulis yang sama sekali tidak menyandarkan ijtihad mereka kepada Al-Qur’an dan As-Sunnah, maka dia akan mendapatkan keajaiban yang banyak. Hal ini susah untuk diketahui, kecuali oleh orang-orang yang hawa nafsunya tidak condong kepada buku-buku tersebut, bahkan condong kepada kebenaran yang bertentangan dengan buku-buku tersebut, karena kalau hawa nafsunya condong kepada buku-buku tersebut dan sudah dikuasai hawa nafsunya, dia menyangka bahwa orang-orang yang sependapat dengan dia itu bersih dari mengikuti hawa nafsu, bahkan orang-orang yang bertentangan dengan dia, merekalah yang mengikuti hawa nafsu.
Orang salaf dahulu ada yang berlebih-lebihan dalam mengerem hawa nafsunya, sampai ia terjerumus dalam kesalahan dari sisi yang lain seperti seorang haklm yang mengadili dua orang yang berselisih orang yang pertama adalah saudara kandungnya dan orang yang kedua adalah musuhnya maka dia berleblih-lebihan dalam mengerem hawa nafsunya Sampai dia menzalimi saudara kandungnya sendiri. Orang seperti ini seperti orang yang berjalan di tebing yang curam kanan kirinya jurang karena dia menghindar dari jurang yang berada di sebelah kanannya dia menjauh darinya tetapi berlebihan. Sampai dia terjatuh ke jurang yang berada di sebelah kirinya.

[Sumber: Majalah Riwayah, ed. 1, 1435 H, h. 25-27]

Share and Enjoy:
  • Print
  • Digg
  • StumbleUpon
  • del.icio.us
  • Facebook
  • Yahoo! Buzz
  • Twitter
  • Google Bookmarks

This entry was posted on Wednesday, June 3rd, 2015 at 10:52 am and is filed under Akhlak dan Adab. You can follow any responses to this entry through the RSS 2.0 feed. Both comments and pings are currently closed.

Comments are closed.