Nasehat Akhir Tahun

December 2nd 2008 by Abu Muawiah |

Nasehat Akhir Tahun

Sesungguhnya setiap umat mempunyai hari raya tersendiri yang setiap tahun mereka kembali kepadanya, dimana hari raya tersebut mencerminkan aqidah, akhlak dan prinsip kehidupan mereka. Allah Ta’ala berfirman, “Setiap umat, Kami jadikan untuk mereka mansak.” (QS. Al-Hajj: 34) Ibnu Jarir meriwayatkan dari Ibnu Abbas bahwa yang dimaksud dengan mansak adalah hari raya.

Adapun kita wahai umat Islam, maka kita mempunyai dua hari raya tahunann, tidak ada hari raya yang ketiga bagi kita, yaitu: Idul fithr dan idul adhha. Dari Anas bin Malik dia berkata, Rasulullah -alaihishshalatu wassalam- tiba di Madinah sedangkan mereka ketika itu mempunyai dua hari yang mereka bergembira di dalamnya pada masa jahiliah. Maka Rasulullah -alaihishshalatu wassalam- bersbada, “Sungguh Allah telah menggantikan untuk kalian hari raya yang lebih baik daripada keduanya: Hari al-adhha dan hari al-fithr.” (HR. Abu Daud dan An-Nasai)

Wahai hamba Allah. Idhul fithr, demikian pula idul adhha termasuk dari syiar-syiar Islam yang paling besar dan paling nampak. Dia mengandung nilai-nilai yang tinggi lagi mulia serta tujuan-tujuan agung lagi utama. Berikut kami akan sebutkan sebagian di antaranya:
1.    Nilai tauhid kepada Allah, yaitu dengan mengesakan-Nya dalam pelaksanaan semua jenis ibadah yang kita lakukan. Tauhid ini merupakan landasan dan asas agama, yang semua amalan syariat dibangun di atasnya. Dia meupakan realisasi dari syahadat ‘laa ilaha illallah’ dan merupakan perkara terpenting, yang dengan mewujudkan dan menyempurnakannya maka seseorang akan masuk ke dalam surga yang penuh kenikmatan. Dan sebaliknya kalau tauhid ini ditelantarkan maka semua amalan yang baik yang dilakukan seseorang tidak akan memberi manfaat apa-apa bagi dirinya. Nabi -alaihishshalatu wassalam- bersabda, “Barangsiapa yang berjumpa dengan Allah dalam tidak berbuat kesyirikan maka akan masuk surga dan barangsiapa yang berjumpa dengan-Nya dalam keadaan berbuat kesyirikan maka akan masuk neraka.” (HR. Muslim dari Jabir)
2.    Mewujudkan dan menyempurnakan syahadat ‘Muhammad abdullahi warasuluh’. Yaitu dengan melaksanakan semua perintah beliau, menjauhi semua larangan beliau, membenarkan semua penghabaran beliau dan tidak menyembah Allah kecuali dengan tuntunan beliau -alaihishshalatu wassalam-. ini telah kita paparkan pada beberapa edisi yang telah berlalu.
3.    Di antara nilai tersebut adalah adanya at-tawashul (menyambung silaturahmi) dan saling mengunjungi di antara kaum muslimin. Yang mana silaturahmi dan ziarah ini termasuk sebab terbesar dalam menyatukan hati-hati mereka dan menghilangkan kebencian dan kesalah pahaman yang terjadi di antara mereka. Maka kemampuan Islam untuk mengumpulkan mereka seluruhnya pada tempat dan waktu yang sama untuk mengerjakan shalat id, menunjukkan bahwa Islam juga mampu untuk mempersatukan mereka di atas kebenaran serta menyatukan hati-hati mereka di atas ketakwaan. Karena kebenaran dan ketakwaan itu satu sementara hawa nafsu dan kesesatan sangat banyak. Karena tidak ada yang membuat kaum muslimin berpecah belah kecuali karena hawa nafsu dan kesesatan. Nabi -alaihishshalatu wassalam- bersabda, “Perumpamaan kaum mukminin dalam hal kecintaan, rahmat dan perasaan di antara mereka adalah bagian satu jasad. Kalau salah satu bagian darinya merintih kesakitan, maka seluruh bagian jasad akan ikut merasakannya dengan tidak bisa tidur dan demam.” (HR. Al-Bukhari dan Muslim dari An-Nu’man bin Basyir)
Kecintaan dan kasih sayang sesama muslim termasuk dari tujuan terbesar yang menjadi sasaran dala Islam. Nabi -alaihishshalatu wassalam- bersabda, “Bukan termasuk golongan kami, orang yang tidak menyayangi orang yang lebih muda di antara kami dan juga tidak menghormati orang yang lebih tua di antara kami.” Beliau juga bersabda, “Kalian tidak akan masuk surga sampai kalian beriman dan kalian tidaklah beriman sampai kalian mencintai. Inginkah saya kabarkan kepada kalian sesuatu yang kalau kalian melakukannya maka kalian akan saling mencintai? Tebarkanlah salam di antara kalian.” (HR. Muslim dari Abu Hurairah)
4.    Di antara nilai id adalah bahwa dia menghubungkan dengan generasi Islam yang terdahulu, sejak zaman Nabi Adam -alaihissalam- sampai pada zaman Nabi kita Muhammad -alaihishshalatu wassalam-. Karena pada hakikatnya kita semua adalah satu umat sebagaimana dalam firman-Nya, “Sesungguhnya umat kalian ini adalah umat yang satu dan Aku adalah rabb kalian. Karenanya beribadahlah kalian hanya kepada-Ku.” (QS. Al-Anbiya: 92) Di antara hubungan yang paling mencolok -sehubungan dengan idul adhha ini- adalah hubungan kita dengan Khalilullah Ibrahim -alaihissalam-, yang Allah telah berfirman kepada Nabi kita, “Kemudian Kami wahyukan kepadamu (Muhammad): “Ikutilah agama Ibrahim seorang yang hanif,” dan bukanlah dia termasuk orang-orang yang berbuat kesyirikan.” (QS. An-Nahl: 123) Zaid bin Arqam pernah bertanya kepada Rasulullah -alaihishshalatu wassalam- tentang penyembelihan yang beliau lakukan dalam idul adhha. Maka beliau menjawab, “Ini adalah sunnah (tuntunan) dari ayah kalian Ibrahim,” kemudian beliau bersabda, “Kalian mendapatkan satu kebaikan dari setiap helai bulunya (hewan kurban).” (HR. Ibnu Majah)

Wahai hamba Allah, jagalah shalat, jagalah shalat, karena dia adalah tiang agama, mencegah dari perbuatan keji dan mungkar, serta dia menjadi jaminan antara seorang hamba dengan Rabbnya. Barangsiapa yang menjaga shalat maka dia telah menjaga agamanya, dan barangsiapa yang melalaikannya maka dia pasti akan lebih melalaikan amalan lainnya. Perkara yang paling pertama ditanyakan pada hari kiamat kelak adalah shalat, jika dia diterima maka akan diterima seluruh amalannya, tapi kalau ditolak maka akan ditolak seluruh amalannya.

Wahai kaum muslimin, tunaikanlah kewajiban yang ada pada harta kalian berupa zakat dan berbuat baik kepada fakir miskin -dengan sukarela dan senang hati-, karena hal itu akan menyucikan jiwa kalian dan akan menjaga harta kalian dari kebinasaan. Berpuasalah di bulan ramadhan dan kerjakanlah haji secepatnya setelah mampu karena keduanya termasuk dari rukun Islam yang terbesar.

Wajib atas kalian untuk berbakti kepada kedua orang tua, menyambung silaturahmi, dan berbuat baik kepada anak yatim. Karena ketiga amalan ini merupakan amalan yang pahalanya Allah segerakan di dunia, di samping pahala yang jauh lebih besar menunggu kita di akhirat. Sebaliknya, perbuatan durhaka, memutuskan silaturahmi, dna tidak berbuat baik adalah termausk amalan yang Allah segerakan siksaannya di dunia, di samping siksaan yang berlipat ganda yang telah menungu pelakunya di akhirat, wal ‘iyadzu billah.
Kaum muslimin sekalian. Jagalah hak-hak tetangga kalian karena sungguh Nabi kalian -alaihishshalatu wassalam- pernah bersabda, “Tidak beriman orang yang tetangganya tidak merasa aman dari kejelekannya.” Perintahkanlah kepada yang makruf dan laranglah dari yang mungkar, serta bersabarlah dalam menjalankannya.

Waspadalah kalian dari semua bentuk kesyirikan yang bisa membatalkan tauhid dan keislaman kalian. Seperti berdoa kepada para nabi, tawaf dan tabarruk di kuburan mereka, mengharapkan syafaat dan kebaikan dari mereka atau berlindung kepada mereka dari bahaya, juga menyembelih kepada selain Allah, serta semua bentuk kesyirikan lainnya. Karena Allah Ta’ala telah menetapkan hukum pasti dengan firman-Nya, “Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni dosa syirik, dan Dia mengampuni segala dosa yang selain dari (syirik) itu, bagi siapa yang dikehendaki-Nya. Barangsiapa yang mempersekutukan Allah, maka sungguh ia telah berbuat dosa yang besar.” (QS. An-Nisa`: 48) dan Dia juga mengancam, “Kalau kamu berbuat kesyirikan niscaya akan terhapuslah seluruh amalanmu dan kamu di akhirat menjadi orang-orang yang merugi.”
Takutlah kalian dari membunuh jiwa yang haram untuk dibunuh atau meneteskan darah tanpa hak, serta takutlah kalian dari semua bentuk perzinahan dan semua wasilahnya. Sungguh Allah telah menggandengkan kedua dosa ini dengan kesyirikan yang mana itu menunjukkan besarnya dosa kedua amalan ini. Allah Ta’ala menyatakan, “Dan orang-orang yang tidak menyembah tuhan yang lain beserta Allah dan tidak membunuh jiwa yang diharamkan Allah (membunuhnya) kecuali dengan (alasan) yang benar, dan tidak berzina, barang siapa yang melakukan yang demikian itu, niscaya dia mendapat (pembalasan) dosa(nya), (yakni) akan dilipat gandakan azab untuknya pada hari kiamat dan dia akan kekal dalam azab itu, dalam keadaan terhina.” (QS. Al-Furqan: 68-69) Atsama bisa bermakna bergelimang dengan dosa dan bisa pula bermakna sumur yang berada di dasar neraka jahannam, wal ‘iyadzu billah.

Janganlah kalian mendekati riba karena dia bisa menghabiskan berkahj harta, menghancurkan usaha, dan mengundang kemurkaan Allah Al-Aziz Al-Qahhar. Dari Al-Barra` bin Azib secara marfu’, “Riba mempunyai 72 pintu, pintu yang paling rendah dosanya adalah seperti dosanya orang yang berzina dengan ibunya sendiri.” (HR. Ath-Thabrani dalam Al-Ausath)
Jagalah tangn-tangan kalian dari mempermainkan harta Allah dan harta kaum muslimin, karena bercampurnya harta kalian yang halal dengan harta yang haram merupakan kebinasaan dan api neraka. Karenanya jangan sekali-kali ada yang melakukan risywah (sogok), korupsi, dan bersumpah atau mendatangkan bukti palsu hanya untuk memperoleh sebuah harta, karena hal tersebut adalah perbuatan menelantarkan hak-hak orang lain dan merupakan dukungan terhadao kebatilan. Dan barangsiapa yang bersama dengan kebatilan maka Allah akan menghalalkan untuknya negeri kehinaan. Sungguh Nabi -alaihishshalatu wassalam- telah melaknat orang yang menyogok dan yang disogok serta telah menggandengkan antara sumpah palsu dan kesyirikan.

Tinggalkanlah khamar dan miras dengan semua macam dan bentuknya, narkoba, semacamnya yang bisa mengakibatkan kecanduan. Karena semua itu bisa menyebabkan rusaknya hati, berkurangnya akal, menghancurkan badan, menghilangkan akhlak-akhlak mulia, dan menjadikan Ar-Rabb murka. Dalam hadits Jabir secara marfu’, “Semua yang memabukkan adalah haram. Dan sungguh Allah berjanji kepada setiap peminum khamar akan memberikan kepadanya minuman dari keringat -atau nanah- penghuni neraka.” (HR. Muslim)

Tutuplah mulut-mulut kalian dari mencerca dan adu domba, serta tutulah telinga-telinga kalian dari mendengarkannya, walaupun kejelekan tersebut betul ada pada saudara kalian, karena itulah hakikat dari ghibah. Karena pada hari kiamat, orang yang dighibahi akan mengambil kebaikan dan pahala orang yang mengghibahi dirinya sesuai dengan kadar kezhalimannya. Dan Nabi -alaihishshalatu wassalam- juga telah mengancam, “Tidak akan masuk surge pelaku adu domba.” (HR. Al-Bukhari dan Muslim dari Huzaifah)

Wahai para muslimah, bertakwalah kalian kepada Allah dalam menjalankan semua kewajiban yang telah diberikan kepada kalian. Berbuat baiklah kalian kepada anak-anak kalian dan bersungguh-sungguhlah dalam mendidik mereka dengan pendidikan Islami lagi bermanfaat. Berbuat baik dan berterimakasihlah kalian kepada suami-suami kalian serta jagalah kehormatan mereka, hartanya, dan rumahnya. Karena sungguh Nabi kalian -alaihishshalatu wassalam- telah menjanjikan, “Jika seorang wanita mengerjakan shalat lima waktu, berpuasa pada bulan ramadhan, berhaji ke rumah Rabbnya, menjaga kemaluannya (kehormatannya), dan menaati suaminya, maka akan dikatakan kepadanya: Masuklah kamu ke dalam surge melalui pintu mana saja yang kamu kehendaki.”

Wahai hamba-hamba wanita Allah, wajib atas kalian untuk mensyukuri semua nikmat Pencipta kalian tatkala Dia menjaga -dengan Islam- semua hak-hak kalian secara sempurna, dan janganlah sekali-kali kalian tertipu dan terpengaruh dengan seruan-seruan batil yang mengatasnamakan kebebasan, kesamaan gender (jenis kelamin) atau emansipasi wanita, karena semua seruan tersebut dari luarnya adalah rahmat tapi di dalamnya adalah azab dan siksaan Allah. Dengannya mereka mencoba merenggut kehormatan kalian, mengoyak-ngoyak jilbab yang telah Allah wajibkan atas kalian untuk mengenakannya dan mengeluarkan kalian dari penjagaan Rabb kalian, padahal tidak ada penjagaan yang terbaik kecuali penjagaan-Nya. Ingatlah selalu pada firman Allah, “Hai Nabi, apabila datang kepadamu perempuan-perempuan yang beriman untuk mengadakan janji setia, bahwa mereka tiada akan menyekutukan Allah, tidak akan mencuri, tidak akan berzina, tidak akan membunuh anak-anaknya, tidak akan berbuat dusta yang mereka ada-adakan antara tangan dan kaki mereka dan tidak akan mendurhakaimu dalam urusan yang baik, maka terimalah janji setia mereka dan mohonkanlah ampunan kepada Allah untuk mereka. Sesungguhnya Allah maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS. Al-Mumtahanah: 12)

Demikianlah sedikit nasehat yang bisa kami peruntukkan untuk kami dan segenap kaum muslimin, semoga member manfaat. Allahumma amin.

Share and Enjoy:
  • Print
  • Digg
  • StumbleUpon
  • del.icio.us
  • Facebook
  • Yahoo! Buzz
  • Twitter
  • Google Bookmarks

This entry was posted on Tuesday, December 2nd, 2008 at 10:44 am and is filed under Tanpa Kategori. You can follow any responses to this entry through the RSS 2.0 feed. Both comments and pings are currently closed.

Comments are closed.