Najis dan Cara Membersihkannya

November 1st 2008 by Abu Muawiah |

Najis dan Cara Membersihkannya

Pendahuluan
Membersihkan najis dari badan, pakaian dan tempat shalat hukumnya adalah wajib berdasarkan firman Allah Ta’ala, “Dan pakaianmu maka sucikanlah,” (QS. Al-Muddatstsir: 4) dan juga berdasarkan hadits-hadits yang akan datang.
Najis adalah semua benda yang dihukumi kotor oleh syariat, dan dia terbagi dua:
1. Hukmiah: Yaitu benda suci yang terkena najis.
2. Ainiah: Yaitu benda yang merupakan najis.
Perlu diketahui bahwa semua yang najis adalah haram, akan tetapi tidak semua yang haram adalah najis. Karenanya untuk menunjukkan sebuah benda itu najis, tidak cukup berdalil dengan dalil yang menunjukkan haramnya, karena asal segala sesuatu di bumi adalah suci sampai ada dalil yang menyatakan najisnya.
[Lihat: Bidayatul Mujtahid: 1/54-55, 60, Asy-Syarhul Mumti': 1/414-415 dan Subulus Salam: 1/158]

A. Apakah najis hanya bisa dihilangkan dengan air?
Pendapat yang paling kuat dalam masalah ini -dan merupakan pendapat Al-Hanafiah- adalah bahwa yang menjadi patokan dalam masalah ini adalah hilangnya zat najis tersebut. Karenanya kalau zat najisnya sudah hilang maka berarti dia telah suci, walaupun hilangnya najis tidak dengan menggunakan air. Misalnya: Tinja manusia yang mengalami istihalah (perubahan wujud) menjadi tanah maka dia menjadi suci, atau kencing di kain hilang oleh angin dan sinar matahari (tanpa disiram air) maka dia juga sudah dianggap suci, atau sandal yang menginjak najis digosokkan ke tanah. Walaupun tidak diragukan bahwa alat yang paling afdhal  digunakan untuk membersihkan najis adalah air, karena dia lebih menyucikan, wallahu a’lam. Ini yang dikuatkan oleh Syaikh Ibnu Al-Utsaimin dalam Al-Mumti': 1/424-427
(Lihat juga: Al-Bidayah: 1/60-61 dan Nailul Authar: 1/52-53, 56)

B. Cara menghilangkan najis
Cara menyucikan sebuah benda yang terkena najis adalah dengan menghilangkan zat, rasa, bau dan warna dari najis tersebut. Akan tetapi kalau bau atau warnanya susah untuk hilang -misalnya pada darah haid-, maka itu dimaafkan (tidak masalah) selama zat sudah hilang dan benda tersebut sudah dihukumi suci. Ini berdasarkan kisah Khaulah bintu Yasar yang bertanya kepada Nabi tentang darah haid yang mengenai pakaian, maka beliau menjawab, “Cukup kamu siramkan air dan tidak mengapa dengan bekasnya.” HR. Abu Daud
[Lihat: Manarus Sabil: 1/24 dan As-Subul: 1/169]
Akan tetapi diperkecualikan darinya masalah istijmar (bebersih dari tinja dan kencing dengan menggunakan batu atau yang semisalnya). Karena sudah diketahui bersama bahwa tinja tidak akan hilang secara sempurna dengan batu tapi pasti masih tersisa sedikit najis, akan tetapi bersamaan dengan itu syariat memaafkannya. Ini adalah pendapat dari Imam Asy-Syafi’i.
[Lihat Al-Bidayah: 1/59]
Adapun berapa kali mencucinya, maka tidak ada dalil yang menerangkan jumlahnya kecuali pada jilatan anjing, dicuci sebanyak 7 kali atau delapan kali. Maka asalnya kalau disiram satu kali najisnya sudah hilang maka itu sudah cukup.
[Lihat: Al-Mumti': 1/420-423]

C. Berikut benda-benda yang merupakan najis:
1. Kencing dan tinja manusia.
Ini berdasarkan hadits Abu Said Al-Khudri, “Apabila salah seorang dari kalian datang ke mesjid, maka hendaklah ia membalik sandalnya lalu melihatnya, bila ada kotoran maka hendaknya ia gosokkan ke bumi, lalu ia shalat memakai sandalnya”. (HR. Ahmad dan Abu Daud) Ini pada tinja. Adapun kencing, maka dalilnya adalah hadits Abu Hurairah riwayat Al-Bukhari dan Muslim tentang kisah orang pedalaman yang kencing di masjid, kemudian Rasulullah -shollallahu ‘alaihi wasallam- memerintahkan para shahabat untuk mengambil satu timba besar berisi air lalu menuangkannya di atas kencing tersebut.
Kencing manusia di sini mencakup kencing anak kecil (lelaki dan perempuan) yang belum memakan apa-apa kecuali ASI, berdasarkan keumuman hadits di atas. Hanya saja dalam menyucikannya terdapat perbedaan, dimana Nabi -shallallahu alaihi wasallam- bersabda, “Kencing anak lelaki disirami air dan kencing anak perempuan dicuci.” (HR. At-Tirmidzi dan Ahmad dari Ali).
[An-Nail: 1/55-57, 85, Al-Mumti': 1/437-438 dan As-Subul: 1/165-166]
2. Rautsah (tinja kuda, keledai dan baghal -peranakan dari kuda dan keledai-)
Ini berdasarkan hadits Ibnu Mas’ud, “Sesungguhnya Nabi shollallahu ‘alaihi wa alihi wa sallam mendatangi tempat buang hajat. Maka beliau memerintahkan saya mengambil tiga batu untuknya. Maka saya hanya mendapatkan dua batu dan tidak menemukan yang ketiga. Lalu saya mengambil rautsah, maka beliau mengambil kedua batu tersebut dan melemparkan rautsah dan berkata: “Ini adalah riksun (najis)”. HR. Al-Bukhari
[Lihat An-Nail: 1/65 dan Lisanul Arab: 4/206]
3. Madzi
Dia adalah air yang keluar dari kemaluan lelaki dan perempuan yang sifatnya tipis, putih, keluar ketika adanya syahwat, tidak terpencar sehingga keluarnya kadang tanpa disadari serta tidak merasa lelah setelah keluarnya. Definisi ini disebutkan oleh An-Nawawi dan Ibnu Hajar -rahimahumallah-. Najisnya berdasarkan kisah Al-Miqdad yang bertanya kepada Nabi tentang madzi, maka beliau menjawab, “Hendaknya dia mencuci kemaluannya dan berwudhu.” (HR. Al-Bukhari dan Muslim dari Ali). Perintah mencuci kemaluan menunjukkan najisnya, dan yang dicuci hanyalah bagian kemaluan dan bagian pakaian yang terkena madzi saja.
[Lihat: An-Nail: 1/66-67]
4. Darah haid dan nifas
Nabi -shallallahu alaihi wasallam- bersabda tentang darah haid yang mengenai pakaian, “Hendaknya dia menggosoknya kemucian mengoreknya dengan kuku kemudian menyiramnya dengan air kemudian dia baru boleh shalat dengan pakaian itu.” (HR. Al-Bukhari dan Muslim dari Asma` bintu Abi Bakar) Adapun nifas, maka para ulama telah bersepakat bahwa secara umum semua hukum yang belaku pada haid juga berlaku pada nifas.
[Lihat: An-Nail: 1/51-53 dan As-Subul: 1/167-168]
5. Semua bangkai najis kecuali empat bangkai: Manusia, hewan yang hidup di air, belalang dan hewan yang darahnya tidak mengalir.
Berdasarkan hadits Ibnu Abbas riwayat Muslim secara marfu’, “Kalau kulit bangkai itu telah disamak maka dia telah suci.” Jadi sebelum dia disamak hukumnya adalah najis. Dikecualikannya keempat bangkai di atas karena adanya dalil-dalil sebagai berikut:
Nabi -shallallahu alaihi wasallam- bersabda tentang manusia, “Seorang mukmin tidaklah najis, ketika hidup dan setelah matinya.” (HR. Asy-Syafi’i dari Ibnu Abbas). Beliau juga bersabda tentang laut, “Dia penyuci airnya dan halal bangkainya.” (HR. Imam Empat dari Abu Umamah). Dan Anas bin Malik berkata, “Kami pernah berperang bersama Nabi sebanyak 7 kali dan kami hanya memakan belalang.” (HR. Al-Bukhari) Dan perintah Nabi untuk mencelupkan lalat yang jatuh ke minuman dalam hadits Abu Hurairah riwayat Al-Bukhari, menunjukkan tidak najisnya bangkai lalat dan hewan lain yang darahnya tidak mengalir.
[Lihat: Al-Bidayah: 1/55-56, An-Nail 1/32-33, 71-73, Al-Mumti', 1/447-450]
6. Liur anjing
Dari Abu Hurairah secara marfu’, “Sucinya bejana kalian kalau anjing meminum darinya adalah dengan mencucinya sebanyak tujuh kali, cucian pertamanya dengan tanah.” (HR. Muslim). Sabda Nabi ‘sucinya’ menunjukkan sebelumnya dia adalah najis, maka itu menunjukkan najisnya liur anjing.
Adapun cara mencucinya maka salah satu caranya telah disebutkan dalam hadits di atas. Cara yang kedua tersebut dalam hadits Abdullah bin Mughaffal, “Kalau anjing meminum dari bejana kalian maka cucilah bejananya sebanyak tujuh kali (dengan air) dan pada cucian yang kedelapan campurlah airnya dengan tanah.” HR. Muslim
[Lihat: An-Nail: 1/46-48 dan Al-Mumti': 1/417-418]
Selain dari yang telah kami sebutkan di atas, ada persilangan pendapat di kalangan ulama apakah dia najis atau bukan. Misalnya pada tinja hewan yang haram dimakan, tubuh anjing, orang kafir, darah selain haid, khamar, babi dan selainnya. Dan kami lebih menguatkan pendapat yang menyatakan tidak najisnya, karenanya kami tidak menyebutkannya di sini. Wallahu a’lam bishshawab.

Incoming search terms:

  • Cara membersihkan najis
  • cara menghilangkan najis
  • hadits tentang najis
  • kalau pernah makan lemak babi tidak sengaja apa harus mensucikan
  • menghilangkan najis pada pakaian
Share and Enjoy:
  • Print
  • Digg
  • StumbleUpon
  • del.icio.us
  • Facebook
  • Yahoo! Buzz
  • Twitter
  • Google Bookmarks

This entry was posted on Saturday, November 1st, 2008 at 9:47 pm and is filed under Fiqh. You can follow any responses to this entry through the RSS 2.0 feed. Both comments and pings are currently closed.

59 responses about “Najis dan Cara Membersihkannya”

  1. Apakah Termasuk NAJIS : Kencing dan Tinja Manusia, Tinja Kuda, Madzi, Bangkai serta Air Liur Anjing « ‎ ‎طبيب الطب النبوي | Dokter Pengobatan Nabawi | said:

    [...] http://al-atsariyyah.com/?p=346 [...]

  2. Mawardi said:

    Bolehkah menghilangkan najis air kencing orang dewasa yang terkena kasur, bantal, atau guling dengan cara dijemur atau diangin-anginkan saja?
    Kalo dicuci, kayaknya bentuk kasur, bantal, atau gulingnya bakalan rusak.
    Bagaimana pula jika tangan atau kaki saya yg dalam kondisi basah bersentuhan dengan bekas air kencing orang dewasa yg sudah kering tadi? Apakah saya harus mencuci kembali tangan atau kaki saya?

    Itu tidak akan menghilangkan najis kencing, hanya saja jika dia kering maka tidak akan bisa melekat pada pakaian atau tubuh yang menyentuhnya. Karenanya kapan tangan atau pakaian yang basah menyentuh kencing yang sekedar dianginkan tadi maka bisa jadi kencing tersebut melekat pada tangan atau pakaian tersebut.

  3. joe said:

    bolehkan mengambil materi yang dimuat di al atsariyyah.com untuk dicopy, dimuat ulang dalam majalah lokal, dan disebar luaskan. jazakumullah khairan

    Maksud majalah lokal? Mungkin sebaiknya kami butuh mengetahui dulu nama dan sifat majalahnya. Jazakallahu khairan atas atensinya.

  4. hary said:

    bagai mana cara menghilangkan najis yang dari jenis makanan ,seperti daging babi dan sejenisnya, makanan yang tercampur dengan daging2 babi…? dan makanan itu sudah hampir setahun di sentuh..

    Kami tidak paham maksud pertanyaannya.

  5. LENA AMAT said:

    Bagaimana caranya membersihkan diri sekiranya terpegang khinzir dan anjing secara tidak sengaja. Apakah niatnya dan bagaimana caranya?

    wassalam

    Yang dibersihkan hanya kalau terkena liur anjing. Adapun sekedar tersentuh tubuhnya tanpa terkena liurnya, maka tidak wajib untuk disucikan.

  6. mahdiyah said:

    bismillah.
    assalamu’alaykum wararohmatulloh
    ustd,an punya anak yang masih ngompol. Kadang ana tdk tahu jika anak telah ngompol,ana bru tau stlh meraba cd anak yg basah/lembab,padahal anak an sdh bmain di seluruh bgn rumah. Apakh ana hrus mengepel seluruh lantai yang kira2 dilaluinya meski tidak ada sisa kencing anak/lantai tidak tlihat basah?
    Saat bngun tdur tkadang pampers anak kpenuhan shgga clana ank lmbab/agak basah,apakah seprai yg dpakai tidur oleh anak jd najis,meski ana tdk melihat bekas kencing?

    Waalaikumussalam warahmatullah.
    Yang dibersihkan hanyalah yang dipastikan ada zat najis (kencing) di situ. Yang tidak jelas atau masih diragukan, tidak wajib membersihkannya.

  7. fajar said:

    Bagaimana cara membersihkan pakaian yang terjilat/terkena liur anjing ? apakah juga harus dengan tanah ? apakah pakaian tersebut bisa di gunakan sholat ?

    Ya, dicuci 8 kali dan yang ke-8nya dicampur dengan tanah. Pakaiannya boleh dipakai shalat.

  8. tri widodo said:

    aslmualaikum ustd..
    Saya ingin tau bagaimana cara mmbesihkan diri jika kita ter kena air kencing kita sndiri???
    Terimakasih..
    wasalam..

    Waalaikumussalam.
    Cukup disiramkan air pada semua yang terkena kencing.

  9. lala said:

    maaf , niat / doa sebelum menghilangkan najis bagaimana ?

    Niat tidak perlu dilafalkan, dan tidak diperlukan niat untuk keabsahan penyucian najis.

  10. sumardiyanto said:

    bagai mnacara membersihkan najis jika kita tanpa sengaja makan daging babi

    Ada perbedaan pendapat mengenai hukum babi, dan yang benarnya dia tidak najis karena tidak ada satupun dalil shahih yang menyatakan najisnya sementara hukum asal segala sesuatu adalah suci. Jadi, dia haram tapi bukan najis.

  11. janni said:

    Ass.
    Saya mau bertanya ustadz, kemarin saya mencuci pakaian dan tanpa saya sadari didlm Cd masih ada bekas keputihan dan saya mengetahuinya setelah semua pakaian saya kering, namun Cd tersebut sudah saya basuh lebih dr 3x di air yg mengalir. apakah hukumnya masih najis? dan apakah semua baju yg saya cuci terkena najis semuanya? Tk.

    Insya Allah tidak ada masalah, semuanya sudah suci.

  12. lind said:

    ass, saya mau tanya uztad, tadi saya makan mie yang ternyata pangsitnya mengandung babi, saat saya makan saya belum tau itu mengandung babi, tapi memang sudah curiga karena rasanya beda. pas browsing di internet ternyata memang kedai tempat makan saya itu tidak diperuntukan untuk muslim alias ga berlabel halal, apa yang saya harus lakukan untuk menghilangkan najisnya ya? jujur saat ini saya merasa mulut dan perut saya kotor karena udah makan babi.

    Tidak ada masalah insya Allah kalau tidak tahu. Cukup bertaubat kepada Allah dan semoga makanan haram itu tidak mempengaruhi hati kita.

  13. Helmi said:

    assalamualaikum,
    saya mau bertanya uztad, apakah madzi itu sama dengan air mani? kalau misal sama, bukanx harus mandi besar menyucikannya? apakah cukup hanya berwudhu.

    Waalaikumussalam.
    Silakan baca artikel ‘perbedaan mani, madzi, dan wadi’.

  14. Doni said:

    Saya mau bertanya saya ngekost, lalu suatu malam air seni saya keluar tanpa sengaja, terkena kasur tapi tidak berbekas dan berwarna, tapi saya yakin kalau itu terkena air seni saya. Lalu kalau saya ingin menghilangkan najis saya pada bantal dan kasur menggunakan air mengalir sungguh menyusahkan karena kasurnya saja berat, kalau saya bersihkan dengan tissue basah bagaimana?

    Kalau dia sudah kering, insya Allah sudah tidak mengapa, jika dia ditutupi dengan kain yang kering, lalu digunakan untuk tidur.

  15. rizki said:

    ustad sy seorang wanita yg kdg memakai make up (lipstik, bedak dll) yg mrpkan produk luar negri yg tdk dketahui apakah mengandung babi ato tdk, awalnya setau sy babi najis jd srg ragu klo benar2 ada babiny apakah cukup dg brwudhu saja utk mbersihkan najisny, walopun sy slalu mbersihkan makeup trlebih dahulu sblm brwudhu agar tdk menghalangi wudhu. setelah baca di atas kalo babi tidak najis,,, brarti sy tdk perlu ragu lg ya dgn produk2 tsb? yg trmsk najis berat dan hrs dbersihkan 7x salah satuny dgn tanah hanya air liur anjing saja ya tad?

    Yang dimaksud ‘bukan najis’ adalah ketika dia masih hidup. Adapun setelah mati maka babi adalah najis karena dia tergolong bangkai dan bangkai itu najis.

  16. Yuni said:

    Ustad, rmhku banyak kucing kdg2 berak dan kencing didlm rmh trs bagaimana bila kita br solat kucing itu ketmpt kita solat apakah solat kita sah, trs kl hbs kencing atau berak lgsng kekursi apakah kursinya jg ikut najis

    Kucing bukanlah najis, yang najis hanya kencing dan tinjanya. Jadi di tempat mana saja ada kencing atau tinjanya maka tempat itu harus dibersihkan sampai hilang zat najisnya. Tapi kalau kucing menyentuh kita sementara sedang shalat maka itu tidak ada masalah.

  17. Irsyad said:

    assalam,
    ustad mau tanya nih, dulu di tmpat kosan saya banyak tikus.. Trus saya prnah ninggalin kosan slama sbulan, pas msuk kosan taunya banyak ktoran tkus dan jg ada bau psing d be2rapa titik, kmudian saya bersihkan dengan cara di sapu dlu kmudian d pel dg kain 1 blikan,, apakah lantainya suci, padahal wkt d pel ada kotoran yg kring nempel d kramik lgsg saja saya pel tanpa d brshin kotorannya?

    Ya sudah suci. Bagaimanapun caranya, maka itu syah selama najisnya benar-benar sudah hilang.

  18. jibrin said:

    ustadz apakah sudah suci atau bersih lantai yg terkena kencing yg hanya saya pel dg kain? karena di tempat saya banyak kucing sehingga sering kencing sembarangan

    Ya, insya Allah sudah suci jika disiram lalu dipel.

  19. tami said:

    ustad, saya mau tanya nih, dulu saya prnh k kosan tmen, lalu sya numpang mandi d sna, yg namany ksan biasany g ada bk mndinya kan, cuma pke ember buat nampung air,, nah wkt itukn saya BAK (buang air kcl) smbl brdri, dan sya sngaja Mngarahkn k dinding biar ciprtanny g kna sma ember, yg jd mslh ktk air seninya kna lntai trus psti nyiprat kan tuh, saya jd rgu apakah air d ember itu kna ciprtan ato ngga. Tp sya te2p mandi dg air dr embr tsb.. Pertanyaan nya apkh air d embrnya suci? Sdangkan saya rgu apkh suci ato ngganya . . Trus klo emg g sci, brarti bju, hnduk yg sya pkai stlh mndi jd g suci jg dong ?

    Kalau baru sekedar keraguan maka belum bisa dijadikan sebagai alasan untuk menghukumi air yang suci. Dan kalaupun diyakini ada percikan yang masuk, maka air dalam ember itu tetap tidak najis selama bau, rasa dan warnanya tidak berubah.

  20. ari said:

    assalamualaikum,
    ustd dr pnjlasan d atas, mngenai hdis yg kalo kita mngingjak kotoran dg sandal, mka brshkanlah dg menggosokannya k tanah, nah gmn kalo yg kta injak itu kotoran (maaf) anjing? Apakah cukup dg menggsokannya k tanah? Trimaksh sblmny ustd,
    wassalamualaikum . .

    Waalaikumussalam.
    Ya, sama.

  21. arvan megi said:

    permisi pak ustad,saya mau nanya. Sekitar 3 hari yg lalu tetangga saya meminjam wajan buat masak,nah ternyata tetangga saya minjam wajan itu buat masak babi. Gimana cara menghilangkanya,apakah disiram air 7 kali ato 8 kali yg salah satunya di campur air. Oh iya bolehkah saya meminta nama fb anda untuk menanya yg pertannyaan yg lain?

    Cukup dicuci saja pakai sabun sampai bersih. Alamat FB kami: http://www.facebook.com/alatsariyyah.

  22. yayank said:

    Manakah yg bisa dipakai untuk berwudhu?
    1.air yg trkena kencing anjing
    2.air yg terkena tinja manusia
    3.air yg terkena kotoran sapi
    dan gimana cara membersihkan nya..wassalam dan terima kasih.

    Yang terkena kotoran sapi, karena kotoran sapi bukan najis.

  23. isni said:

    Assalamualaikum..

    pa ustad bagaimana kalau pakaian basah yang sedang dijemur terkena lalat,najis tidak???

    Waalaikumussalam.
    Tidak najis. Lalat bukanlah najis.

  24. reza _ syahrial said:

    Assalamualaikum wr wb Pa ustad saya mau nanya ,, saya ini dlu sering bermasturbasi dan saya tidak pernah membersihkan air mani ,, yg bekas saya masturbasi , saya oleskan air mani itu kepada pakaian mana saja setelah itu saya tidak lupa pakaian yg mana yg saya oleskan apakah itu termaksud najis dan bagaimana cara membersihkannya dan bagaimana jg cara menghilangkan mani yg masih menempel di badan saya ??

    Waalaikumussalam.
    Mani bukan najis, jadi gak ada masalah insya Allah.

  25. Candra said:

    assalamualaikum Wr Wb,
    Ustadz melanjutkan pertanyaan nomor 20. saya punya permasalahan serupa. jadi begini ustadz di gang depan rumah saya kadang banyak (maaf) kotoran anjing, kadang suka terinjak sandal saya walaupun sudah hati2. saya pernah baca kalau untuk membersihkan alas kaki yang menginjak najis cukup dengan menggosokan alas kaki tersebut ke tanah.
    Nah permasalahannya tempat tinggal saya terletak di pemukiman padat (gang), saya sangat sulit untuk mendapatkan tanah untuk men-sucikan sendal saya…pertanyaan saya adalah:

    1.Apakah dengan menggosokan sandal saya ke batu atau peluran semen sudah cukup mensucikan sandal saya yang terkena najis kotoran anjing tadi ?

    2.Sekalian saya minta Tips-nya untuk menghilangkan perasaan Was-was saya dalam ber-thaharah?

    Terima kasih ustadz

    1. Tidak harus dengan tanah. Justru yang lebih utama dibersihkan dengan air.
    2. Silakan baca jawaban kami dalam komentar2 dalam artikel ‘perbedaan mani, madzi, dan kencing’ serta artikel ‘kaifiat mandi junub’. Kami sudah sering menjawab pertanyaan seputar was-was.

  26. zam said:

    apakah najis jika kita terkena benda yang sudah lama djilat anjing.

    Tidak najis.

  27. ArDIKo said:

    jika membersihan air liur anjing dengan air saja tanpa menggunakan tanah jadi tidak sah?? kenapa harus dengan tanah… bukan kah air saja cukup karena paling suci??

    Tidak syah. Karena hadits mengharuskan pakai tanah.

  28. ibang said:

    ustad, apaboleh menghilangkan najis air liur anjing dengan sabun?
    terima kasih..

    Dibersihkan dulu dengan air 7 kali lalu yang kedelapannya dicampur tanah. Baru setelah itu boleh ditambahkan sabun kalau mau.

  29. Ichwan said:

    Assalamualaikum..
    Bagaimanakah jika salah satu tubuh terkena air liur anjing lalu dibersihkan dengan 7X bilasan air lalu kemudian 1X tanah.???

    Terimakasih Ustadz.

    Waalaikumussalam.
    Ya, seperti itu yang wajib dilakukan.

  30. Mayo said:

    Assalamualaikum.
    Apakah akibat dr tidak membersihkan najis di kasur (di diemin ja)bagi kita sndri, misalnya najis di kasur td di bersihkan trs kita pakai buat tdr apakah ketika kita shalat tdk sah pdhl kita sdh wudhu? trs hukumnya pa

    Waalaikumussalam.
    Jika najisnya tidak hilang maka itu bisa saja melekat pada pakaian kita dan tentu saja akan berpengaruh pada hukum shalat jika pakaian yang terkena najis itu dipakai shalat.

  31. irfan said:

    assalamuallaikum
    ustadz saya ingin bertanya…dulu saya pernah makan daging babi tanpa sengaja, terus saya lupa apa sudah disamak atau belum, pertanyaan saya apakah itu najis dan badan saya perlu disamak?

    Waalaikumussalam.
    Daging babi itu haram dan najis, tidak ada hubungannya disamak atau tidak. Lagipula yang disamak itu kulit, bukan daging.
    Kaliatannya anda tidak paham apa itu samak.

  32. Zacky said:

    pak ustad,saya mau nanya, Waktu itu saya mimpi basah, Saya gk tau kalo air mani trsbt trkena kasur atau tidak, Dan jika tidur lantas pakaian saya terkena air mani yg sudah mengering itu.. Apakah sholat saya sah jika menggunakan pakaian yang terkena mani yg mengering trsbt,? Dan bagaimana cara membersihkan mani yang tertinggal dikasur saya?

    Air mani itu bukan najis, shalat anda tetap sah jika ada air mani kering pada pakaian anda. (MT)

  33. baihaQi said:

    salam..ustad.. saya ingin membeli ikan hidup sebagai hiasan dari kedai akuarium milik non-muslim… tangannya pernah memegang anjing.. adakah air dari akuarium itu najis jika tangannya terkena air itu..bagaiman cara penyuciannya jika saya t’beli ikan itu..?? terima kaseh… love from Malaysia. . .

    Tidak najis insya Allah. Jadi tidak ada masalah dalam hal ini.

  34. nx7 said:

    ass wr wb…
    ustad bagaimana apabila air seni mengenai celana kita sendiri dan tanpa kita sadari…
    lalu kemudian kita wudhu dan shalat…
    yg saya ketahui shalat harus dalam keadaan suci
    apakah shalat kita diterima atau tidak?

    Insya Allah shalatnya syah, dan dia tidak berdosa karena tidak tahu. Jika dia tahu, maka dia berdosa. Wallahu a’lam.

  35. ahmad said:

    Assalaamu alaikum, ustadz, dulu keluarga kami pernah memasak bangkai, karena tidak tahu, setelah waktu lama kami tahu. apakah yang bisa kami lakukan? karena menurut kami minyak dan kuah masakan tersebut telah tersabar kemana-mana (minyak tidak menguap sprti air). adakah maaf bagi kami atas kejadian trsbut? syukron. wassalaamu alaikum.

    Waalaikumussalam.
    Cukup bertaubat insya Allah.

  36. abdullah said:

    assalamu’alaikum

    ustadz… saya mau tanya kehalalan masakan di restorant yang tempat masaknya bekas memasak daging babi.
    apakah kalu di negri barat kita boleh memakan daging sapi ataupun ayam
    terima kasih

    Waalaikumussalam.
    Saya pikir setelah dipakai memasak babi, pasti tempatnya dicuci sebelum digunakan masak yang lain. Jika demikian, maka tidak mengapa memakan makanan yang halal di negeri ahli kitab.

  37. Astrid Nadya Rizqita said:

    Pak ustad, saya mau nanya.Bagaimana hukumnya jika di kasurku ada bekas darah haid yang sudah kering. Apa saya harus mencuci nya atau dibiarkan saja bekas darahnya karena ditutupi oleh sprei?

    Kalau memang sulit dihilangkan, dan tidak ada kemungkinan darah itu melekat pada tubuh dan pakaian anda, maka insya Allah tidak mengapa membiarkannya.

  38. abdullah said:

    ustadz,bgaimana kalo mencuci pakaian yang terkena air seni hnaya dengan menggunakan mesin cuci, kemudian pakaian td dibilas/direndam (tanpa dialirkan air) dengan air yg ad di ember (kurang 2 kulah)sebanyak 2 kali, apakah pakaian it sdh suci??? jazakallah

    Insya Allah sudah suci.

  39. filda said:

    assalamualaikum wr wb
    saya mau tx, misalnya saya masuk masjid lupa melepaskan alas kaki. apakah masjidnya masih suci(bisa digunakan untuk sholat)?
    terima kasih

    Waalaikumussalam.
    Tentu saja tetap suci.

  40. sarajudin said:

    bagaimana cara menghilangkan najis yang masuk kedalam mulut

    Kumur2, trus dimuntahkan.

  41. nita said:

    assalamualaikum

    pak ustadz saya mau nanya, apakah cukup dengan mengepel saja menghilangkan kencing anak balita yg di lantai rumah kita? katanya menghilangkan najis itu harus dgn air yg mngalir…
    mohon penjelasannya pak ustadz,

    Waalaikumussalam.
    Diguyur air lalu dipel.

  42. saptono said:

    Pak ustad, kalau kita makan direstoran yg jg menyediakan daging kodok, apakah mknan yg lain jg jd haram?..

    Tidak haram.

  43. haris said:

    begini pak ustat saya di kasi makanan oleh org non mislim yg katanya makanan tsbt terbuat dari ikan tuna jd saya makan makanan itu walau ada rasa curiga tp ternyata setelah di selidiki ternyata makanan itu mengandung daging babi bagaimana cara menghilangkan najis tersebut apakah harus di cuci perut saya atau cukup bertobat kepada Allah demikian pertanyaan saya terima kasih…

    Kalau memang demikian, maka anda tidak berdosa sama sekali karena anda tidak tahu sebelum memakannya.

  44. ayu said:

    assalamualaikum…..
    ustadz, sy mau tanya…..
    Ibu mertua sy sllu mengompol, tiap mau menuju k kamar mandi pasti ngompol d jalan, jd bercecern kencingnya d lantai, terus cuma dilap dg kain yg itu2 aja, tp stlh plg krja sy/suami sempatkn mengepel lantai tp g bs trs2n juga …..Dlm sehari ibu bs lebih dr 10x ngompolnya tp suruh pake pampers g mau, jd sy sllu ngingetin suami sy utk sllu pake sendal d dlm rumah takut trkena najis, kecuali masuk kmr tidur harus lepas sendal krn sy sholatnya d kmr.
    Sehabis mengompol ibu sy gk sllu ganti baju, kmungkinan bsr bajunya terkena najis. Terus langsung duduk di sofa mana aja. nah yg ingin sy tanyakan, apakah kalo sy duduk d bekas tempat ibu sy duduk tadi baju saya akan terkena najis, dan sholatny jd sah apa gk ustadz??
    Terus solusinya bgmn ustadz? Saya ingin ngasih pengertian k ibu mertua sy, tp takut kl mnyinggung perasaannya….ibu mertua sy sdh sepuh.
    Terima kasih sebelumnya ustadz…..
    Wassalamualaikum…..

    Waalaikumussalam.
    Apa tidak ada pembantu yang bisa mengurus ibu? Biar dia yang menangangi masalah seperti ini.
    Tapi intinya, dimanapun anda duduk dan tidak jelas apakah di situ ada najis atau tidak, maka asalnya tempat duduk itu suci dan tidak mengapa duduk di situ. Jadi pakaian kita hanya bisa dihukumi najis kalau terbukti dengan jelas ada najis pada tempat duduk itu. Jika tidak, maka asalnya semua bagian rumah anda adalah suci. Wallahu a’lam.

  45. sodiq said:

    ustad, apakah kotoran dan daging babi termasuk najis berat sebagimana air liur anjing, bagaimana jika ada sepatu atau sandal dari kulit babi apakah boleh dipakai? syukron

    Kotoran dan daging babi tidak sama dengan liur anjing.
    Boleh saja, jika kulit babi itu sudah disamak. Wallahu a’lam.

  46. Harry said:

    Ustadz, mau nanya kalau menyucikan najis air liur anjing dengan sabun terbuat dari tanah. jadi tidak menggunakan tanah lagi bagaimana…

    Maksudnya?

  47. Ardiani said:

    Assalamualaikum wr wb…
    Pak Ustad sy mw tny….bila kita berwudlu mggunkan ember yg dlubangi untuk mengalirkan air ddlmnya…tpi air itu terkena air sabun (krng dr 2 kulah) apakh wudlu kita syah???????

    Waalaikumussalam.
    Insya Allah tetap syah, jika sabunnya tidak mendominasi dan air yg terkena sabun itu tetap dinamakan air secara urf.

  48. Ardiani said:

    Assalamualaikum wr wb…
    Pak Ustad mw tny lg nih…apakah air keputihan itu najis???
    soal’a ada yg blng najis & ada jg yg blng sebaliknya…:-)

    Waalaikumussalam.
    Silakan baca artikelnya di sini: http://abul-jauzaa.blogspot.com/2009/09/najiskah-lendir-dan-keputihan-yang.html

  49. Ridwan said:

    Pak ustadz, kalau kita tidak sengaja memegang kotoran anjing, bagaimana cara membersihkannya?

    Cukup dicuci biasa sampai najisnya hilang.

  50. Allie said:

    Assalamualaikum Wr Wb..
    Mohon penjelasannya ustad. Bapak saya non-muslim dan ia sering makan daging babi / masakan2 yg mengandung babi.. Yang menjadi kekhawatiran saya sebagai muslim, setalah bapak saya makan masakan babi, tanpa mencuci tangan ia menyentuh berbagai perbotan rumah / kendaran (nyetir mobil). Apakah lantas perabotan rumah / mobil yg dia pakai hukumnya terkena najis? ( walau tidak terlihat fisik najisnya). Dan apakah ketika saya menyentuh perabotan / kendaran tersebut saya terkena najisnya juga? Dan bagaimana membersihkan najis babi di barang yg sulit disiram air (contoh: brg elektronik)?? Mohon penjelasannya ustad, jujur ini masalah yg sangat membebani pikiran saya sebagai muslim yg mempunyai bapak non-muslim.. Syukron Ustad..

    Waalaikumussalam.
    Semua itu hanya was-was. Selama tidak nampak ada bekas daging babi di suatu barang/tempat, maka berarti itu tidak ada. Jadi tidak usah terlalu khawatir.

  51. Allie said:

    Assalamualaikum ustad..
    Syukron atas penjelasannya ustad.. Melanjutkan pertanyaan saya no 50 itu,, bagaimana kalau nampak ada bekas najis babi di barang/tempat yg sulit dibersihkan dg air, misalnya brg elektronik. Apa ada pengecualian cara membersihkannya untuk kasus seperti itu, misalnya boleh hanya dengan menggunakan lap / tissue sampai hilang bekas najisnya?

    Waalaikumussalam.
    Ya boleh. Karena dalam masalah najis, intinya bagaimana zat najis itu hilang, bagaimana pun caranya. Air memang pembersih najis yang utama dan pertama, tapi dia bukan satu-satunya pembersih najis yang syah.

  52. dina said:

    assalamu’alaikum
    sy mau bertanya ustad, kalau misal na sy dulu sering bermain anjing saat sy masih mngabaikan sholat,,,
    skarang alhamdhulillah sy sholat 5 wktu tpi sy ingat dulu kalau saya sering bermain anjing,,
    sy lupa bagian mana saja yg sudah terkena air liur anjing truz klau sudah sperti itu apa yg harus sy lakukan untuk mensuci kn diri sya,,,??

    Waalaikumussalam.
    Yang berlalu biarlah berlalu, tidak usah diungkit-ungkit lagi. Lagipula, pasti liur anjingnya sudah hilang.

  53. poetoet said:

    Assalamu’alaykum ustd mau brtanya,
    1. saya dlu sering melihat ajing tdur d teras rumah saya, lalu beberapa minggu kmudian ayah saya membuat kasur d atas teras tersebut,kejadian ini terjadi sdh bertahun2 yg lalu.., bgmna hkumnya ustd,
    2. Saya pernah meliht anjig minum d sebuah bak, nah kejadian itu jg sdh berthun2 yang llu, bgmn hukumnya bak tersebut, mohon maaf ustad, saya selalu was was soalnya..,

    Waalaikumussalam.
    1. Tidak ada hukumnya, tidak usah diungkit lagi, biarkan berlalu.
    2. Sama seperti di atas.
    Anda harus menghilangkan was-was anda dengan cara tidak memperdulikannya. Jika tidak, maka anda bisa terjatuh ke dalam dosa yang besar.

  54. Zeke said:

    Assalamualaikum pak ustad, saya mau tanya. Saya pernah memakan daging babi. Apakah Sholat dan puasa saya diterima oleh Allah? Atau saya harus melakukan pensucian diri dahulu?
    Mohon bantuannya, Terimakasih.

    Waalaikumussalam.
    Makanan haram tidak ada pengaruhnya dgn syah tidaknya ibadah kita. Tidak perlu ada pensucian diri, cukup bertaubat kepada Allah dengan taubat yang nasuha.

  55. imam said:

    Assalamualaikum Wr Wb..
    Mohon penjelasannya ustad. Bila pakaian kotor kami sekeluarga (yg kemungkinan juga ada yang kena najis) di cuci di laundry. Apakah mencuci pakaian di laundry itu najisnya sudah hilang. Kalau belum hilang bagaimana cara kami membersihkan najisnya, karena dalam laundry kan tidak dipisahkan anatara pakaian yng najis dan yang tidak. Terima aksih. Wass. wr. wb

    Waalaikumussalam.
    Insya Allah sudah hilang semua, jangan khawatir.

  56. irfan said:

    Assalamu’alaikum… p.Ustd. Pak Ustd saya kan bekerja di Restauran non Halal dan otomatis saya pegang daging babi,,, trus bagaimana cara menghilangkan najis babi trsbt dan ap hukum.a?// Terima Kasih

    Waalaikumussalam
    Cukup cuci tangan pakai sabun sampai bersih. Tapi saya nasehatkan anda keluar dari restoran itu, karena anda telah membantu orang lain untuk memakan makanan yang haram. Dan bisa jadi dosa mereka juga bisa anda tanggung.

  57. rahmat said:

    assalamu’alaikum wr.rb,
    ustad saya ini seorang pemuda yang masih,maaf(kadang mengompol). dan pada suatu hari saya tertidur di warnet dan mengompol,tetapi pada saat itu saya tidak membersihkan kursi yang terkena air kencing itu. itu sudah terjadi beberapa bulan yg lalu,tetapi saya dirundung rasa kekhawatiran akan najis dari kursi itu tersebar kemana mana. pertanyaan nya,apakah najis di kursi itu masih bisa melekat pada pakaian/tubuh manusia? mohon penjelasanya ustad karena saya selalu terbayang masalah ini

    Waalaikumussalam.
    Saya yakin sekarang najisnya sudah hilang. Jadi insya Allah tidak akan melekat kemana-mana. Wallahu a’lam. Yang jelas anda wajib bertaubat karena telah menzhalimi orang lain.

  58. safiq said:

    Assalamualaikum pa ustad
    Saya mau tanya ni saya itu sudah lama pribadi saya merasakan perasaan was-was dalam keluar madzi atau sisa air kencing tidakny di kemaluan, setiap saya sholat pa ustad saya selalu merasa ada yang keluar di kemaluan saya pa ustad tetapi terasa keluarnya itu ga terasa pak, terus saya berfikir kalau seandainya ada keluar saya itu takut air najis itu mengenai kain atau sarung sholat saya pa ustad mungkin yang kena itu cd pa ustad atau celana yang saya pakai karena saya berfikir air najis itu bisa menembus dari cd ke celana dan lalu ke kain lalu saya sujud pas waktu sholat airnya menenmbus lagi ke sajadah? Saya binggung pa ustad saya jadi parno dan tidak tahu apa2 lagi hati saya sering resah dan gelisah akibat itu tolong pa ustas pencerahanya??

    Waalaikumussalam.
    Semua itu adalah was-was. Jika dia datang, maka anda harus berusaha menolaknya dan tidak memperdulikannya. Kecuali jika anda yakin ada yang keluar, maka silakan batalkan shalat. Tapi selama belum yakin, maka seorang tidak boleh sengaja membatalkan shalatnya karena alasan yang masih meragukan.

  59. aldy said:

    asalaalaikum pa ustad,
    saya mau bertanya . di rumah saya ayah saya memelihara anjing. kalo si anjing pernah menjilat sendal atau barang yang saya pakai tapi saya tidak tahu . itu hukumnya apa pa ustad dan apa yg saya harus lakukan.
    dan pencerahanya.

    Waalaikumussalam.
    Selama tidak jelas ada bekas liur anjing di suatu barang, maka dia dianggap tidak ada. Jadi tidak perlu dicuci.