Najis dan Cara Membersihkannya

November 1st 2008 by Abu Muawiah |

Najis dan Cara Membersihkannya

Pendahuluan
Membersihkan najis dari badan, pakaian dan tempat shalat hukumnya adalah wajib berdasarkan firman Allah Ta’ala, “Dan pakaianmu maka sucikanlah,” (QS. Al-Muddatstsir: 4) dan juga berdasarkan hadits-hadits yang akan datang.
Najis adalah semua benda yang dihukumi kotor oleh syariat, dan dia terbagi dua:
1. Hukmiah: Yaitu benda suci yang terkena najis.
2. Ainiah: Yaitu benda yang merupakan najis.
Perlu diketahui bahwa semua yang najis adalah haram, akan tetapi tidak semua yang haram adalah najis. Karenanya untuk menunjukkan sebuah benda itu najis, tidak cukup berdalil dengan dalil yang menunjukkan haramnya, karena asal segala sesuatu di bumi adalah suci sampai ada dalil yang menyatakan najisnya.
[Lihat: Bidayatul Mujtahid: 1/54-55, 60, Asy-Syarhul Mumti’: 1/414-415 dan Subulus Salam: 1/158]

A. Apakah najis hanya bisa dihilangkan dengan air?
Pendapat yang paling kuat dalam masalah ini -dan merupakan pendapat Al-Hanafiah- adalah bahwa yang menjadi patokan dalam masalah ini adalah hilangnya zat najis tersebut. Karenanya kalau zat najisnya sudah hilang maka berarti dia telah suci, walaupun hilangnya najis tidak dengan menggunakan air. Misalnya: Tinja manusia yang mengalami istihalah (perubahan wujud) menjadi tanah maka dia menjadi suci, atau kencing di kain hilang oleh angin dan sinar matahari (tanpa disiram air) maka dia juga sudah dianggap suci, atau sandal yang menginjak najis digosokkan ke tanah. Walaupun tidak diragukan bahwa alat yang paling afdhal  digunakan untuk membersihkan najis adalah air, karena dia lebih menyucikan, wallahu a’lam. Ini yang dikuatkan oleh Syaikh Ibnu Al-Utsaimin dalam Al-Mumti’: 1/424-427
(Lihat juga: Al-Bidayah: 1/60-61 dan Nailul Authar: 1/52-53, 56)

B. Cara menghilangkan najis
Cara menyucikan sebuah benda yang terkena najis adalah dengan menghilangkan zat, rasa, bau dan warna dari najis tersebut. Akan tetapi kalau bau atau warnanya susah untuk hilang -misalnya pada darah haid-, maka itu dimaafkan (tidak masalah) selama zat sudah hilang dan benda tersebut sudah dihukumi suci. Ini berdasarkan kisah Khaulah bintu Yasar yang bertanya kepada Nabi tentang darah haid yang mengenai pakaian, maka beliau menjawab, “Cukup kamu siramkan air dan tidak mengapa dengan bekasnya.” HR. Abu Daud
[Lihat: Manarus Sabil: 1/24 dan As-Subul: 1/169]
Akan tetapi diperkecualikan darinya masalah istijmar (bebersih dari tinja dan kencing dengan menggunakan batu atau yang semisalnya). Karena sudah diketahui bersama bahwa tinja tidak akan hilang secara sempurna dengan batu tapi pasti masih tersisa sedikit najis, akan tetapi bersamaan dengan itu syariat memaafkannya. Ini adalah pendapat dari Imam Asy-Syafi’i.
[Lihat Al-Bidayah: 1/59]
Adapun berapa kali mencucinya, maka tidak ada dalil yang menerangkan jumlahnya kecuali pada jilatan anjing, dicuci sebanyak 7 kali atau delapan kali. Maka asalnya kalau disiram satu kali najisnya sudah hilang maka itu sudah cukup.
[Lihat: Al-Mumti’: 1/420-423]

C. Berikut benda-benda yang merupakan najis:
1. Kencing dan tinja manusia.
Ini berdasarkan hadits Abu Said Al-Khudri, “Apabila salah seorang dari kalian datang ke mesjid, maka hendaklah ia membalik sandalnya lalu melihatnya, bila ada kotoran maka hendaknya ia gosokkan ke bumi, lalu ia shalat memakai sandalnya”. (HR. Ahmad dan Abu Daud) Ini pada tinja. Adapun kencing, maka dalilnya adalah hadits Abu Hurairah riwayat Al-Bukhari dan Muslim tentang kisah orang pedalaman yang kencing di masjid, kemudian Rasulullah -shollallahu ‘alaihi wasallam- memerintahkan para shahabat untuk mengambil satu timba besar berisi air lalu menuangkannya di atas kencing tersebut.
Kencing manusia di sini mencakup kencing anak kecil (lelaki dan perempuan) yang belum memakan apa-apa kecuali ASI, berdasarkan keumuman hadits di atas. Hanya saja dalam menyucikannya terdapat perbedaan, dimana Nabi -shallallahu alaihi wasallam- bersabda, “Kencing anak lelaki disirami air dan kencing anak perempuan dicuci.” (HR. At-Tirmidzi dan Ahmad dari Ali).
[An-Nail: 1/55-57, 85, Al-Mumti’: 1/437-438 dan As-Subul: 1/165-166]
2. Rautsah (tinja kuda, keledai dan baghal -peranakan dari kuda dan keledai-)
Ini berdasarkan hadits Ibnu Mas’ud, “Sesungguhnya Nabi shollallahu ‘alaihi wa alihi wa sallam mendatangi tempat buang hajat. Maka beliau memerintahkan saya mengambil tiga batu untuknya. Maka saya hanya mendapatkan dua batu dan tidak menemukan yang ketiga. Lalu saya mengambil rautsah, maka beliau mengambil kedua batu tersebut dan melemparkan rautsah dan berkata: “Ini adalah riksun (najis)”. HR. Al-Bukhari
[Lihat An-Nail: 1/65 dan Lisanul Arab: 4/206]
3. Madzi
Dia adalah air yang keluar dari kemaluan lelaki dan perempuan yang sifatnya tipis, putih, keluar ketika adanya syahwat, tidak terpencar sehingga keluarnya kadang tanpa disadari serta tidak merasa lelah setelah keluarnya. Definisi ini disebutkan oleh An-Nawawi dan Ibnu Hajar -rahimahumallah-. Najisnya berdasarkan kisah Al-Miqdad yang bertanya kepada Nabi tentang madzi, maka beliau menjawab, “Hendaknya dia mencuci kemaluannya dan berwudhu.” (HR. Al-Bukhari dan Muslim dari Ali). Perintah mencuci kemaluan menunjukkan najisnya, dan yang dicuci hanyalah bagian kemaluan dan bagian pakaian yang terkena madzi saja.
[Lihat: An-Nail: 1/66-67]
4. Darah haid dan nifas
Nabi -shallallahu alaihi wasallam- bersabda tentang darah haid yang mengenai pakaian, “Hendaknya dia menggosoknya kemucian mengoreknya dengan kuku kemudian menyiramnya dengan air kemudian dia baru boleh shalat dengan pakaian itu.” (HR. Al-Bukhari dan Muslim dari Asma` bintu Abi Bakar) Adapun nifas, maka para ulama telah bersepakat bahwa secara umum semua hukum yang belaku pada haid juga berlaku pada nifas.
[Lihat: An-Nail: 1/51-53 dan As-Subul: 1/167-168]
5. Semua bangkai najis kecuali empat bangkai: Manusia, hewan yang hidup di air, belalang dan hewan yang darahnya tidak mengalir.
Berdasarkan hadits Ibnu Abbas riwayat Muslim secara marfu’, “Kalau kulit bangkai itu telah disamak maka dia telah suci.” Jadi sebelum dia disamak hukumnya adalah najis. Dikecualikannya keempat bangkai di atas karena adanya dalil-dalil sebagai berikut:
Nabi -shallallahu alaihi wasallam- bersabda tentang manusia, “Seorang mukmin tidaklah najis, ketika hidup dan setelah matinya.” (HR. Asy-Syafi’i dari Ibnu Abbas). Beliau juga bersabda tentang laut, “Dia penyuci airnya dan halal bangkainya.” (HR. Imam Empat dari Abu Umamah). Dan Anas bin Malik berkata, “Kami pernah berperang bersama Nabi sebanyak 7 kali dan kami hanya memakan belalang.” (HR. Al-Bukhari) Dan perintah Nabi untuk mencelupkan lalat yang jatuh ke minuman dalam hadits Abu Hurairah riwayat Al-Bukhari, menunjukkan tidak najisnya bangkai lalat dan hewan lain yang darahnya tidak mengalir.
[Lihat: Al-Bidayah: 1/55-56, An-Nail 1/32-33, 71-73, Al-Mumti’, 1/447-450]
6. Liur anjing
Dari Abu Hurairah secara marfu’, “Sucinya bejana kalian kalau anjing meminum darinya adalah dengan mencucinya sebanyak tujuh kali, cucian pertamanya dengan tanah.” (HR. Muslim). Sabda Nabi ‘sucinya’ menunjukkan sebelumnya dia adalah najis, maka itu menunjukkan najisnya liur anjing.
Adapun cara mencucinya maka salah satu caranya telah disebutkan dalam hadits di atas. Cara yang kedua tersebut dalam hadits Abdullah bin Mughaffal, “Kalau anjing meminum dari bejana kalian maka cucilah bejananya sebanyak tujuh kali (dengan air) dan pada cucian yang kedelapan campurlah airnya dengan tanah.” HR. Muslim
[Lihat: An-Nail: 1/46-48 dan Al-Mumti’: 1/417-418]
Selain dari yang telah kami sebutkan di atas, ada persilangan pendapat di kalangan ulama apakah dia najis atau bukan. Misalnya pada tinja hewan yang haram dimakan, tubuh anjing, orang kafir, darah selain haid, khamar, babi dan selainnya. Dan kami lebih menguatkan pendapat yang menyatakan tidak najisnya, karenanya kami tidak menyebutkannya di sini. Wallahu a’lam bishshawab.

Incoming search terms:

  • Cara membersihkan najis
  • cara menghilangkan najis
  • hadits tentang najis
  • apa yang harus dilakukan jika ada mimpi basah di teras
  • kalau pernah makan lemak babi tidak sengaja apa harus mensucikan
Share and Enjoy:
  • Print
  • Digg
  • StumbleUpon
  • del.icio.us
  • Facebook
  • Yahoo! Buzz
  • Twitter
  • Google Bookmarks

This entry was posted on Saturday, November 1st, 2008 at 9:47 pm and is filed under Fiqh. You can follow any responses to this entry through the RSS 2.0 feed. Both comments and pings are currently closed.

59 responses about “Najis dan Cara Membersihkannya”

  1. Allie said:

    Assalamualaikum ustad..
    Syukron atas penjelasannya ustad.. Melanjutkan pertanyaan saya no 50 itu,, bagaimana kalau nampak ada bekas najis babi di barang/tempat yg sulit dibersihkan dg air, misalnya brg elektronik. Apa ada pengecualian cara membersihkannya untuk kasus seperti itu, misalnya boleh hanya dengan menggunakan lap / tissue sampai hilang bekas najisnya?

    Waalaikumussalam.
    Ya boleh. Karena dalam masalah najis, intinya bagaimana zat najis itu hilang, bagaimana pun caranya. Air memang pembersih najis yang utama dan pertama, tapi dia bukan satu-satunya pembersih najis yang syah.

  2. dina said:

    assalamu’alaikum
    sy mau bertanya ustad, kalau misal na sy dulu sering bermain anjing saat sy masih mngabaikan sholat,,,
    skarang alhamdhulillah sy sholat 5 wktu tpi sy ingat dulu kalau saya sering bermain anjing,,
    sy lupa bagian mana saja yg sudah terkena air liur anjing truz klau sudah sperti itu apa yg harus sy lakukan untuk mensuci kn diri sya,,,??

    Waalaikumussalam.
    Yang berlalu biarlah berlalu, tidak usah diungkit-ungkit lagi. Lagipula, pasti liur anjingnya sudah hilang.

  3. poetoet said:

    Assalamu’alaykum ustd mau brtanya,
    1. saya dlu sering melihat ajing tdur d teras rumah saya, lalu beberapa minggu kmudian ayah saya membuat kasur d atas teras tersebut,kejadian ini terjadi sdh bertahun2 yg lalu.., bgmna hkumnya ustd,
    2. Saya pernah meliht anjig minum d sebuah bak, nah kejadian itu jg sdh berthun2 yang llu, bgmn hukumnya bak tersebut, mohon maaf ustad, saya selalu was was soalnya..,

    Waalaikumussalam.
    1. Tidak ada hukumnya, tidak usah diungkit lagi, biarkan berlalu.
    2. Sama seperti di atas.
    Anda harus menghilangkan was-was anda dengan cara tidak memperdulikannya. Jika tidak, maka anda bisa terjatuh ke dalam dosa yang besar.

  4. Zeke said:

    Assalamualaikum pak ustad, saya mau tanya. Saya pernah memakan daging babi. Apakah Sholat dan puasa saya diterima oleh Allah? Atau saya harus melakukan pensucian diri dahulu?
    Mohon bantuannya, Terimakasih.

    Waalaikumussalam.
    Makanan haram tidak ada pengaruhnya dgn syah tidaknya ibadah kita. Tidak perlu ada pensucian diri, cukup bertaubat kepada Allah dengan taubat yang nasuha.

  5. imam said:

    Assalamualaikum Wr Wb..
    Mohon penjelasannya ustad. Bila pakaian kotor kami sekeluarga (yg kemungkinan juga ada yang kena najis) di cuci di laundry. Apakah mencuci pakaian di laundry itu najisnya sudah hilang. Kalau belum hilang bagaimana cara kami membersihkan najisnya, karena dalam laundry kan tidak dipisahkan anatara pakaian yng najis dan yang tidak. Terima aksih. Wass. wr. wb

    Waalaikumussalam.
    Insya Allah sudah hilang semua, jangan khawatir.

  6. irfan said:

    Assalamu’alaikum… p.Ustd. Pak Ustd saya kan bekerja di Restauran non Halal dan otomatis saya pegang daging babi,,, trus bagaimana cara menghilangkan najis babi trsbt dan ap hukum.a?// Terima Kasih

    Waalaikumussalam
    Cukup cuci tangan pakai sabun sampai bersih. Tapi saya nasehatkan anda keluar dari restoran itu, karena anda telah membantu orang lain untuk memakan makanan yang haram. Dan bisa jadi dosa mereka juga bisa anda tanggung.

  7. rahmat said:

    assalamu’alaikum wr.rb,
    ustad saya ini seorang pemuda yang masih,maaf(kadang mengompol). dan pada suatu hari saya tertidur di warnet dan mengompol,tetapi pada saat itu saya tidak membersihkan kursi yang terkena air kencing itu. itu sudah terjadi beberapa bulan yg lalu,tetapi saya dirundung rasa kekhawatiran akan najis dari kursi itu tersebar kemana mana. pertanyaan nya,apakah najis di kursi itu masih bisa melekat pada pakaian/tubuh manusia? mohon penjelasanya ustad karena saya selalu terbayang masalah ini

    Waalaikumussalam.
    Saya yakin sekarang najisnya sudah hilang. Jadi insya Allah tidak akan melekat kemana-mana. Wallahu a’lam. Yang jelas anda wajib bertaubat karena telah menzhalimi orang lain.

  8. safiq said:

    Assalamualaikum pa ustad
    Saya mau tanya ni saya itu sudah lama pribadi saya merasakan perasaan was-was dalam keluar madzi atau sisa air kencing tidakny di kemaluan, setiap saya sholat pa ustad saya selalu merasa ada yang keluar di kemaluan saya pa ustad tetapi terasa keluarnya itu ga terasa pak, terus saya berfikir kalau seandainya ada keluar saya itu takut air najis itu mengenai kain atau sarung sholat saya pa ustad mungkin yang kena itu cd pa ustad atau celana yang saya pakai karena saya berfikir air najis itu bisa menembus dari cd ke celana dan lalu ke kain lalu saya sujud pas waktu sholat airnya menenmbus lagi ke sajadah? Saya binggung pa ustad saya jadi parno dan tidak tahu apa2 lagi hati saya sering resah dan gelisah akibat itu tolong pa ustas pencerahanya??

    Waalaikumussalam.
    Semua itu adalah was-was. Jika dia datang, maka anda harus berusaha menolaknya dan tidak memperdulikannya. Kecuali jika anda yakin ada yang keluar, maka silakan batalkan shalat. Tapi selama belum yakin, maka seorang tidak boleh sengaja membatalkan shalatnya karena alasan yang masih meragukan.

  9. aldy said:

    asalaalaikum pa ustad,
    saya mau bertanya . di rumah saya ayah saya memelihara anjing. kalo si anjing pernah menjilat sendal atau barang yang saya pakai tapi saya tidak tahu . itu hukumnya apa pa ustad dan apa yg saya harus lakukan.
    dan pencerahanya.

    Waalaikumussalam.
    Selama tidak jelas ada bekas liur anjing di suatu barang, maka dia dianggap tidak ada. Jadi tidak perlu dicuci.