Nadzar Muqayyad Diharamkan?

November 28th 2011 by Abu Muawiah |

Nadzar Muqayyad Diharamkan?

Nadzar muqayyad adalah seorang hamba mengharuskan dirinya untuk mengerjakan suatu ibadah sebagai balasan dari kebaikan yang Allah berikan kepadanya. Misalnya dia mengatakan: Jika Allah menyembuhkanku maka aku akan bersedekah atau jika saya lulus maka saya akan shalat semalaman atau ucapan semacamnya.
Bernadzar dengan nadzar seperti ini dilarang dalam syariat Islam, dan kepada nadzar jenis inilah diarahkan semua dalil yang melarang dan mencela nadzar. Di antara dalil-dalil yang melarang dan mencela bentuk nadzar muqayyad ini adalah:
Dari Abdullah bin Umar radhiallahu anhuma dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam:
أَنَّهُ نَهَى عَنْ النَّذْرِ وَقَالَ إِنَّهُ لَا يَأْتِي بِخَيْرٍ وَإِنَّمَا يُسْتَخْرَجُ بِهِ مِنْ الْبَخِيلِ
“Bahwa beliau melarang untuk bernadzar dan beliau bersabda, “Sesungguhnya (nadzar) tidak akan mendatangkan suatu kebaikan, dia hanya dilakukan oleh orang yang bakhil.” (HR. Muslim no. 3095)
Larangan dalam hadits ini tentu saja tidak ditujukan kepada nadzar ibadah yang sudah disebutkan di atas, akan tetapi larangan ini ditujukan kepada nadzar muqayyad. Yang menguatkan hal ini adalah adanya beberapa riwayat yang menunjukkan bahwa nadzar yang dilarang ini adalah nadzar yang dilakukan dan dikaitkan dengan adanya suatu kejadian yang Allah Ta’ala takdirkan, dan inilah hakikat dari nadzar muqayyad. Di antara riwayat-riwayat tersebut adalah:
Dari Abdullah bin ‘Umar radhiallahu ‘anhuma dia berkata:
نَهَى النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَنْ النَّذْرِ وَقَالَ إِنَّهُ لَا يَرُدُّ شَيْئًا وَإِنَّمَا يُسْتَخْرَجُ بِهِ مِنْ الْبَخِيلِ
“Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam melarang nadzar dan bersabda, “Sesungguhnya nadzar tidak bisa mencegah apa-apa, dan dia hanya dilakukan oleh orang yang bakhil.” (HR. Al-Bukhari no. 6118 dan Muslim no. 3093)
Beliau radhiallahu ‘anhuma juga berkata: Bukankah mereka dilarang dari nadzar? Sebab Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:
إِنَّ النَّذْرَ لَا يُقَدِّمُ شَيْئًا وَلَا يُؤَخِّرُ وَإِنَّمَا يُسْتَخْرَجُ بِالنَّذْرِ مِنْ الْبَخِيلِ
“Sesungguhnya nadzar tidak bisa menyegerakan sesuatu dan tidak pula bisa menangguhkannya. Nadzar ini hanya dilakukan oleh orang yang bakhil.” (HR. Al-Bukhari no. 6198)
Dan dari Abu Hurairah radhiallahu anhu dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam:
أَنَّهُ نَهَى عَنْ النَّذْرِ وَقَالَ إِنَّهُ لَا يَرُدُّ مِنْ الْقَدَرِ وَإِنَّمَا يُسْتَخْرَجُ بِهِ مِنْ الْبَخِيلِ
“Bahwa beliau melarang seseorang untuk bernadzar dan beliau bersabda, “Hal itu tidak bisa mengubah takdir, dan nadzar itu hanya dilakukan oleh orang yang bakhil.” (HR. Muslim no. 3097)
Maka semua dalil di atas jelas menunjukkan seseorang dilarang untuk bernadzar dengan nadzar muqayyad. Walaupun dalam status larangannya, para ulama masih berbeda pendapat dalam hal ini, ada yang berpendapat makruhnya dan ada yang berpendapat haramnya.

Kami katakan: Pendapat yang menyatakan hukumnya haram ini tidak jauh dari kebenaran karena beberapa alasan:
a.    Nabi shallallahu alaihi wasallam telah melarang nadzar muqayyad, dan hukum asal dari larangan beliau shallallahu alaihi wasallam adalah haram sampai ada dalil yang memalingkannya. Sementara di sini tidak ada dalil yang memalingkannya. Adapun pujian Allah bagi yang memenuhi nadzarnya maka itu ditujukan kepada nadzar ibadah, bukan nadzar muqayyad.
b.    Beliau shallallahu alaihi wasallam menyatakan bahwa nadzar muqayyad ini adalah amalan bakhil, sementara sudah dimaklumi bersama bahwa bakhil adalah amalan yang diharamkan dalam Islam. Dikatakan bakhil karena seandainya apa yang dia harapkan tidak terwujud maka dia tidak akan melakukan ibadah yang dia nadzarkan tadi. Dan siapakah yang lebih bakhil dibandingkan orang yang ‘main hitung-hitungan’ dengan Allah?!
c.    Nadzar muqayyad adalah amalan kaum musyrikin, sehingga melakukannya merupakan tasyabbuh (penyerupaan) kepada mereka. Dan sudah dimaklumi bahwa menyerupai kaum musyrikin adalah haram.
Dari Abdullah bin Umar radhiallahu anhuma secara marfu’:
مَنْ تَشَبَّهَ بِقَوْمٍ فَهُوَ مِنْهُمْ
“Barangsiapa yang menyerupai suatu kaum, maka dia termasuk darinya”. (HR. Abu Daud no. 4031 dan dinyatakan shahih oleh Al-Albani dalam Ash-Shahihah (1/676) dan Al-Irwa` no. 2384)
Syaikhul Islam Ibnu Taimiah -rahimahullah- berkata, “Hukum minimal yang terkandung dalam hadits ini adalah haramnya tasyabbuh kepada mereka (orang-orang kafir), walaupun zhahir hadits menunjukkan kafirnya orang yang tasyabbuh kepada mereka”. Lihat Al-Iqtidha` hal. 83
Di antara dalil yang menunjukkan bahwa nadzar muqayyad ini adalah amalan kaum musyrikin adalah firman Allah Ta’ala, “Dan di antara mereka ada orang yang telah berjanji kepada Allah: “Sesungguhnya jika Allah memberikan sebahagian karunia-Nya kepada kami, pastilah kami akan bersedekah dan pastilah kami termasuk orang-orang yang saleh. Maka setelah Allah memberikan kepada mereka sebahagian dari karunia-Nya, mereka kikir dengan karunia itu, dan berpaling, dan mereka memanglah orang-orang yang selalu membelakangi (kebenaran). Maka Allah menimbulkan kemunafikan pada hati mereka sampai kepada waktu mereka menemui Allah, karena mereka telah memungkiri terhadap Allah apa yang telah mereka ikrarkan kepada-Nya dan juga karena mereka selalu berdusta.” (QS. At-Taubah: 75-77)
Maka lihatlah bagaimana mereka berjanji dan bernadzar untuk bersedekah dan menjadi orang yang saleh tapi dengan syarat setelah Allah Ta’ala memberikan nikmat kepada mereka.
d.    Nadzar muqayyad ini bisa menyeret kepada kemunafikan jika tidak ditunaikan, sebagaimana yang tersebut dalam ayat di atas. Dan kenyataan membuktikan tidak sedikit orang yang bernadzar muqayyad lalu belakangan dia menyesal karena tidak bisa melaksanakan nadzarnya, sehingga diapun melanggar nadzarnya. Dan segala sesuatu yang menjadi wasilah kepada yang haram maka dia juga haram.
e.    Asy-Syaikh Ibnu Al-Utsaimin rahimahullah berkata, “Juga di antara dalil yang mendukung pendapat yang mengharamkan, terkhusus nadzar muqayyad adalah: Bahwa pelaku nadzar ini seakan-akan dia tidak percaya kepada Allah Azza wa Jalla. Seakan-akan dia meyakini bahwa Allah tidak akan memberikan kesembuhan kepadanya kecuali jika dia memberikan (ibadah) sebagai balasannya. Karenanya tatkala mereka sudah putus asa dari mendapatkan kesembuhan, maka mereka akan mulai bernadzar. Dan pada amalan ini terdapat buruk sangka kepada Allah Azza wa Jalla. ” (Al-Qaul Al-Mufid: 1/249)
Kami katakan: Dan tentu saja buruk sangka kepada Allah itu lebih dekat kepada keharaman daripada dikatakan makruh. Dan di antara bentuk buruk sangka kepada Allah dalam nadzar muqayyad ini adalah pelakunya menyangka bahwa berdoa kepada Allah kurang bermanfaat atau kurang cepat dikabulkan dalam hal-hal yang mendesak. Karenanya kita dapati tidak sedikit di antara mereka yang hanya berdoa untuk hal-hal yang dia tidak terlalu butuhkan dalam waktu segera. Adapun jika dia membutuhkan sesuatu dalam waktu cepat maka mereka akan beralih kepada nadzar dan tidak lagi berdoa kepada Allah kecuali sedikit.

Kemudian, walaupun nadzar muqayyad ini terlarang, akan tetapi kapan keinginannya terwujud maka dia wajib memenuhi nadzarnya jika isinya adalah ketaatan. Berdasarkan keumuman hadits Aisyah radhiallahu anha di atas:
مَنْ نَذَرَ أَنْ يُطِيعَ اللَّهَ فَلْيُطِعْهُ
“Barangsiapa yang bernadzar untuk menaati Allah, maka hendaknya ia menaati-Nya.” (HR. Al-Bukhari no. 6696)

Incoming search terms:

  • hukum nazar al atsyariah
  • nazar yg di larang oelh agama
Share and Enjoy:
  • Print
  • Digg
  • StumbleUpon
  • del.icio.us
  • Facebook
  • Yahoo! Buzz
  • Twitter
  • Google Bookmarks

This entry was posted on Monday, November 28th, 2011 at 8:50 am and is filed under Aqidah. You can follow any responses to this entry through the RSS 2.0 feed. Both comments and pings are currently closed.

15 responses about “Nadzar Muqayyad Diharamkan?”

  1. Abu rangga said:

    Assalamu’alaikum tadz . Bagaimana hukumnya orang mengucapkan cuma dukun yg bisa menebak ramalan.

    Waalaikumussalam.
    Ini adalah ucapan kekafiran, tidak sepatutnya diucapkan oleh seorang muslim.

  2. hamzah satria said:

    assalamu alaikum ustazd. Hukum ini aku baca ketika aku menunaikan puasa nazardku. Puasa ya aku gabungkan dgn puasa yg buln Ramadhan kemarin aku yg tak sengaja muntah2 karna perut yg gembung dan aku yg ketika disiang hari bermimpi basah. Dan aku brpuasa karna naZardku yg thun lalu aku lulus serta dpt menyelesaikan cicilan m0torku. Aku ingin skali tau semua hukum-hukumnya?

    Waalaikumussalam.
    Tolong diperjelas pertanyaannya, karena kami tidak mengerti maksudnya.

  3. abdillah said:

    Assalamualaikum Ustadz,
    mohon di perjelas jika saya pernah bernadzar untuk puasa 2 minggu bila lulus tes, dan Alhamdulillah setelah lulus saya sudah berpuasa selama 2 minggu namun tdk berurut.
    Apakah puasa saya sah atau harus di ulang?

    Terima kasih atas jawabannya.

    Waalaikumussalam.
    Tergantung nadzarnya. Kalau dulu nadzarnya puasa secara berturut2, maka tidak syah. Tapi kalau nadzarnya hanya puasa tanpa ada persyarat harus berturut2, maka sudah syah.

  4. Etty Jasmine said:

    السَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ ,,,, maaf ustadz sy ingin brtanya, lalu nadzar sprti apa Ɣªήğ di perbolehkan? (Bbrp contoh yaa) soalnya sy sering jg bernadzar, dan apakah saat bernadzar hrs ada saksi atau hanya antara sy & allah saja? جَزَاك اللّهُ خَيْرًا uraiannya ​​وَعَلَيْكُمْ سَّلاَمُ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ.
    Waalaikumussalam warahmatullahi wabarakatuh.

    Misalnya dia tanpa ada sebab kejadian sebelumnya atau tanpa mengharapkan sesuatu sebelumnya, dia langsung berucap: Saya bernadzar karena Allah untuk berpuasa sunnah besok atau ibadah sunnah lainnya.
    Tidak perlu ada saksi dalam nadzar.

  5. Etty Jasmine said:

    Sebagai contoh nadzar sy adalah (ini nyata), 4thn lalu sy saat hamil anak ke-2 pas periksa kehamilan mnginjak usia 8bln kandungan (saat di usg)kepala bayi sy ktnya ada kelainan, sy nangis di situ, istghfar ga putus2, slama pjalanan plg sy krmh,sy bernadzar di hadapan suami ” jika bayi ini sehat tdk ada kelainan sprti kt Dr mk sy akan memotong 2 kambing (1 aqiqah, 1 tanda syukur bayi sehat) krna hasil usg anak sy prempuan. Apakah dosa nadzar sy itu? Nadzar sdh sy lksanakan,bayi sy اَلْحَمْدُلِلّهِ رَبّ الْعَالَمِيْنَ sehat sampe skrg,malah paling kuat imunnya di antara kakak & adiknya,جَزَاك اللّهُ خَيْرًا

    Nadzar yang anda lakukan itu salah, namun jika dilakukan karena belum tahu hukumnya, insya Allah tidak berdosa. Dan berhubung isi nadzarnya adalah ketaatan, maka wajib untuk dipenuhi dengan memotong 2 ekor kambing itu.

  6. Adi said:

    “Larangan dalam hadits ini tentu saja tidak ditujukan kepada nadzar ibadah yang sudah disebutkan di atas, akan tetapi larangan ini ditujukan kepada nadzar muqayyad.” Afwan, saya kurang faham kalimat ini karena pada contoh nadzar ibadah yang sudah disebutkan di atas adalah: ‘Misalnya dia mengatakan: Jika Allah menyembuhkanku maka aku akan bersedekah atau jika saya lulus maka saya akan shalat semalaman atau ucapan semacamnya.’ Bukankah contoh ini merupakan contoh nadzar muqayyad karena datang setelah pengertian dari nadzar muqayyad?
    Jazakumullahu khairan…

    Kelihatannya anda salah baca. Contoh itu adalah contoh nadzar muqayyad, bukan nadzar ibadah. Silakan dibaca kembali.

  7. Adi said:

    Ada seorang istri bernadzar tapi ia agak ragu antara iya dan tidak, karena dulu ketika ia mau bernadzar oleh suaminya dilarang. Alasan suaminya: “nanti itu malah bikin malu”. Nadzarnya adalah nanti kalau hamil mau memberi pisang ke tetangga-tetangga, tapi suaminya khawatir kalau memberi pisang itu malah membuat malu, nanti orang-orang bicara apa? mungkin kalau barang yang sekiranya pantas tidak masalah. Bagaimana hukumnya ustadz? apa yang harus dilakukan? Dan bagaimana jika sudah diganti dengan barang yang lain?

    Asalnya seorang muslim tidak punya tanggungan kewajiban apa-apa. Karenanya, selama dia masih ragu apakah nadzar itu ada atau tidak, maka asalnya itu tidak ada. Wallahu A’lam.

  8. faizal said:

    assalamualaikum…..
    saya pernah melakukan kesalahan besar diwaktu lalu.yaitu berhubungan badan dengan lawan jenis.kemudian sy menyesal dan merasa ketakutan apabila dia hamil.saya bukan orang yang taat,dan kurang memahami mengenai syariat2 agama, sehingga pada saat itu sy bernadzar untuk berpuasa 3 bulan apabila dia tidak hamil.pertanyaan sy adalah :
    1. apakaha nadzar sy itu salah?
    2. apakah nadzar sy itu wajib untuk dilakukan?karna pada kenyataannya sampai sekarang sy belum sangup melaksanakannya.sy pernah mencobanya, tetapi hanya selama 1 minggu.
    3. apakah bisa sy mengganti nadzar sy tersebut?mohon penjelasannya.
    wassalam…

    Waalaikumussalam.
    1. Ya, itu salah, tapi tetap wajib dilakukan, karena puasa adalah ketaatan.
    2. Ya, wajib dilakukan. Jika anda hanya menadzarkan 3 bulan dan tidak menadzarkan harus berturut-turut, maka 3 bulan berarti 90 hari. Karena anda sudah mengerjakan 7 hari, maka berarti masih tersisa 83 hari lagi. Tetap kerjakan nadzar puasa sampai genap 90 hari, walaupun harinya terpisah-pisah.

  9. Mahensi said:

    Assalamu’alaikum . . .
    tolong beri saya contoh nadzar ibadah . . .

    Waalaikumussalam.
    Misalnya tanpa ada keperluan atau kebutuhan, dia langsung berkata, “Saya bernadzar untuk Allah mau puasa besok.”

  10. imanda said:

    Assalamu’alaikum..

    Afwan ya ustadz, saya baru saja lulus tahun ini dan mendaftarkan ke perguruan tinggi, dan saya bernadzar jika diterima akan puasa 3hari. Namun saya terpikir, jika saya diterima saya lakukan jika tidak, tidak saya kerjakan. Jika begitu, berarti saya melakukan perhitungan dgn Allah. Dan sekarang saya baru tahu hukumnya, apakah ini termasuk dosa ? Dan Apa yg harus saya lakukan selepas tetap melaksanakan puasa itu?

    wa’alaikum salam warahmatullah wabarakaatuh.
    Jika anda memang tidak tahu maka insyaAllah tidak mengapa, dan setelah anda mengetahui hukumnya maka wajib untuk tidak mengulanginya. setelah melaksanakan puasa itu tidak ada lagi kewajiban atas anda terkait masalah itu. (MT)

  11. imanda said:

    syukron tadz.

  12. diza said:

    assalamualaikum ustad. Saya prnh brnadzar bhwa bila sy lulus tes, sy akn mnikah tahun ini dgn pacar sy. Ttpi skrg dia sdh jd mntan krn sy dn dia beda manhaj. Brdosakh sy bila tdk dpt mlaksnakn nadzar sy tsb?
    Tpi sy msih brhrap bhwa dia jdoh sy krn sy msih syg ma dia. Sehingga smpai skrg sy sllu brdoa agar kami brjodoh dn dia diberikan hidayah. Krn manhaj yg dia pegang adlah yg msih brkyakinan pd ajarn nenek moyang yg dwrisi oleh kluarga bsrx.
    Apkah doa dn hrapan sy slah ustad?
    Apkh ada harapn bila dia bs brubah dn mningglkn manhaj trsb dgn kekuatan doa?

    Waalaikumussalam.
    Anda harus membayar kaffarat atas nazar tersebut.
    Hidayah di tangan Allah, kita hanya bisa berharap dan berusaha.

  13. Hamba Allah said:

    Assalamualaikum ustadz.

    1. Bagaimana jika saya terlanjur bernadzar Muqayyad? Apakah saya harus bayar nadzar saya?
    2. Saya baru tau tentang hukum ini. Saya juga sering bernadzar akan berpuasa jika mendapatkan sesuatu. Tapi jika tidak, maka saya tidak berpuasa. Bagaimana hukumnya dg hal ini? Apa yg harus saya lakukan? Apa saya tetap harus bayar walau saya tidak mendapat apa yg saya inginkan?

    Waalaikumussalam.
    1. Jika keinginan anda terpenuhi, maka anda tetap wajib memenuhi isi nazar itu.
    2. Jika anda tidak mendapatkan apa yang anda inginkan, maka tidak perlu memenuhi isi nazarnya. Yang jelas hendaknya anda tidak mengulangi lagi nazar seperti ini.

  14. musang said:

    pak ustadz.. sy berniat “nadzar berpuasa 3 hari semoga allah akan sembuhkan sakit org itu”.. adakah itu nazar muqayyad

    Ya, jelas itu nadzar muqayyad.

  15. syifa said:

    pak ustad saya mau tanya soalnya saya bingung sekali:
    1.saya pernah bernadzar kl saya jadi kuliah saya akan puasa.tp saya lupa berapa hari puasanya saya ragu2 2 bln atau 2 tahun.dan puasa senin kamis saja atau puasa full 2 bulan atau full 2 tahun.yg jelas saya lupa.trs bagaimana hukumnya?apa yg hrs saya lakukan?apa yg bisa menggugurkan nadzar saya.timaksh.

    Anda gugurkan saja nazarnya dengan membayar kaffarat.